CHAPTER 7

Keesokkan harinya, Jongin sedang berusaha untuk memperbaiki penampilannya sendiri, mencukur jenggot tipisnya, dan memakai satu set pakaian baru. V-neck biru langit ditambah jaket biru tua, celana jeans hitam dan sepatu suede. Membuat Jongin terlihat santai tapi masih seksi dan chic.

Baekhyun hendak menyuntik pasien. Dia melirik ke arah Jongin, kagum. Menyebabkan dia memasukkan jarum ke tempat yang salah dan mendapatkan keluhan dari pasien.

.

.

.

Sambil menunggu Sehun, ada seorang wanita cantik berdiri di dekatnya dan menatap Jongin intens. Dia bertahan untuk waktu yang lama dan akhirnya mengerahkan keberanian untuk berjalan mendekat, "Tampan…boleh aku meminta nomormu?" Ucapnya gugup.

Saat itu, Jongin melihat mobil Sehun menepi. "Maaf…" Dia tersenyum lembut.

Wanita itu berjalan meninggalkan Jongin dengan sedih. Jongin melihat kepergian wanita itu dan mendesah. Wanita itu benar-benar cantik…

Sehun keluar dari mobil, matanya langsung tertuju pada tubuh Jongin. Pakaian yang dikenakannya memamerkan tubuhnya yang sensual. Bahu lebar, pinggang ramping, bokong berisi, kaki yang jenjang…

Ketika sampai di depan Jongin, Sehun berkata, "Berpakaian seperti ini…"

Ucapan Sehun membuat Jongin tidak bisa bernapas. Seperti ini? Seperti apa? Kau mau memujiku atau menghinaku?

Pikiran Jongin menjadi kosong seketika, semua aksi yang telah ia siapkan sebelumnya menjadi sia-sia. Alhasil, mereka berdua berjalan dalam diam.

Jongin diam-diam melirik Sehun, tatapannya sangat tenang. Jongin hanya bisa menggertakan giginya kesal. Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk membuatnya berbicara! Maki Jongin dalam hati.

Sehun memang sengaja tidak membuka mulutnya, ia ingin melihat seberapa besar tekad yang dimiliki Jongin. Mengajaknya ke taman yang ramai dikunjungi orang-orang untuk berjalan-jalan santai atau beristirahat sejenak. Dua laki-laki berjalan bersama-sama, seolah-olah mereka sedang berpatroli.

Akhirnya, Jongin bosan. Ia duduk di atas batu besar. Sehun duduk disampingnya. Mereka hanya duduk, tidak mengatakan apa-apa. Membuatnya menjadi canggung. Jongin akhirnya berdehem, "Hari ini, langitnya…benar-benar cerah…"

Setelah mengatakan itu, Jongin ingin sekali menampar dirinya. Apa yang aku katakan? Hanya menahannya! Hanya menempelkan bibir kita bersama-sama! Mengapa kau takut mencium seorang pria? Dia tidak akan menarik diri dari bibirmu dan tidak akan memakimu berengsek…

Jongin mengepalkan tangannya. Ia menoleh dan mendapati Sehun masih tenang. Dibandingkan dengan Jongin yang malu, Sehun malah terkesan. Selama lebih dari dua puluh tahun, tidak pernah ada lelaki yang berbicara tentang langit yang cerah di depannya. Dia telah mendengarkan berbagai macam kata-kata menggoda. Tapi mendengarkan kata-kata basa-basi mendadak menjadi suatu yang langka.

Ketika berdiri, Sehun melihat bahwa celana Jongin ternoda dengan tanah, maka ia menepuk untuk menghilangkan noda itu. Jongin ingin mengucapkan terima kasih, namun, Sehun tidak berhenti menepuk-nepuk bokongnya.

Tiba-tiba, irama tepukan itu meningkat seperti memukul drum. Tak seperti biasanya, tepukan itu diiringi dengan antusiasme. "Ini harus benar-benar bersih…" Jongin hanya menunjukkan muka malasnya.

Sehun menambahkan, "Kau tidak gemuk, tapi bokongmu begitu gemuk…" Setelah mengatakan itu, dia menampar bokong Jongin dengan kekuatan penuh.

Jongin menggertakkan gigi menahan sakit dan mengerutkan keningnya. Ia akan mengeluarkan sumpah serapahnya, namun ia teringat perkataan Baekhyun.

'Jika seseorang menyentuh bokongmu dengan berbagai macam cara, itu menunjukkan bahwa ia tertarik denganmu. Pada saat itu, cobalah untuk memberikan respon.'

Setelah itu, Jongin melihat ada noda tanah di celana Sehun. Dia mengulurkan tangannya, meraih celana Sehun. Sedikit lagi… sedikit lagi… tapi dia akhirnya mundur, kurang berani mengambil tindakan. Bodoh! Itu hanya sepotong kain yang menutupi dua bongkah daging. Itu tidak beracun. Apa yang kau takutkan?

Sehun menyadari perubahan raut wajah Jongin. Pucat pasi, ada keringat di dahinya dan napasnya terengah-engah. "Apa kau terluka?"

Jongin menarik kembali tangannya dari celana Sehun, "Tidak. Hanya sedikit mati rasa." Kata Jongin.

"Apa kau ingin aku menyembuhkan?" Ucap Sehun tiba-tiba.

Jongin juga laki-laki, dia mengerti tatapan Sehun. Pikirannya terus berteriak, mengatakan "Ya!". Ini adalah kesempatan besar!

Mungkin jika ia melakukan ini, hubungan mereka berdua menjadi lebih dekat. Sehun mencapai tangannya di bokong Jongin. Seperti gerakan refleks, Jongin tiba-tiba meraih tangan Sehun. "Terima kasih. Tidak perlu, ini tidak mati rasa lagi."

.

.

.

Dalam perjalanan pulang, Jongin terus mendesak dirinya. Lakukan. Lakukan itu dengan cepat!

Hanya tersisa 300 meter lagi untuk sampai ke gerbang taman. Tidak akan ada kesempatan lagi untuk melakukan ini. 200 meter lagi, usahamu akan sia-sia Jongin! 100 meter lagi, mereka akan menikah jika kau tidak melakukannya!

Sebuah klakson terdengar di belakang mereka, Jongin menggertakkan giginya. "Awas ada mobil!" Dia mengambil kesempatan untuk menarik Sehun dan menariknya ke sisinya. Lima detik kemudian, mobil remote control lewat di sekitar kaki mereka. Seorang anak muda yang sedang memegang remote control mengejar mobil sambil membunyikan klakson.

Keadaan hening seketika. Tangan mereka masih menggenggam erat, tidak ada yang mengambil inisiatif untuk melepaskannya.

Hari sudah gelap, tidak akan ada seorang pun yang melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan. Selama Sehun tidak secara paksa menarik diri darinya. Kalau dipikir-pikir, Jongin benar-benar tidak tahu bagaimana menangani seorang lelaki. Rasanya seperti janda yang berselingkuh dengan iparnya. Itu membuatnya keringat dingin.

Sehun tidak pernah menggenggam tangan siapa pun selama bertahun-tahun dan tidak bisa menahan perasaan tertarik yang telah lama terpendam. Tanpa sadar keringat mengalir keluar dan menembus kedalam kulit, menyusup dan menyumbat pembuluh darah.

Tangan Sehun sangatlah besar dibanding dengan laki-laki kebanyakan. Tangan Jongin hanya sebatas buku-buku jari tangan Sehun. Dan kekuatan tangan Sehun sangatlah luar biasa. Jongin merasa bahwa Sehun sengaja mencengkeram dan meremas jari-jarinya. Ini benar-benar menyakitkan, tetapi Jongin tidak akan melepaskannya, hanya untuk mempermulus rencana.

Mereka berjalan sampai telepon Sehun bordering. Suara Krystal bisa terdengar dengan jelas, "Aku sudah di hotel, kau dimana?"

"Aku akan segera kesana." Sehun menutup telepon.

Jongin bertanya, "Apa kau akan meninggalkanku?"

Sehun mengangguk, "Aku punya kencan makan malam."

Jongin cukup memahami, "Pergilah." Dia mengatakannya dengan nada ceria, tapi tangannya mengepal erat.

Melihat tidak ada pergerakan dari Sehun, Jongin kembali bertanya, "Kenapa masih disini?" Dia mengeluarkan senyuman palsunya, "Jangan biarkan orang lain menunggu."

Sehun dengan tenang menatap Jongin, sesaat kemudian dia mengeluarkan senyuman sinisnya. Dengan kasar mencengkeram tangan Jongin, dan menarik Jongin. Jongin merogoh saku Sehun dengan tangannya yang bebas, kemudian mengeluarkan ponsel Sehun dan mematikannya.

Ini adalah perjalanan yang panjang.

Saat mereka sampai di klinik, itu waktunya untuk berpisah. "Sampai jumpa di lain waktu," ucap Jongin.

Sehun menyentuh dan mengusap dahi Jongin lalu pergi.

.

.

.

Baekhyun tidak langsung pulang ke rumah setelah selesai kerja. Ia menunggu kedatangan Jongin di klinik. Jongin pergi siang tadi dan sampai sekarang belum pulang ke klinik, ini sudah hampir tengah malam. Jongin adalah orang yang polos dan baik. Ia takut Jongin diapa-apakan.

Saat mendengar ada orang yang masuk ke klinik, Baekhyun segera berlari dan meraih tangan Jongin. Dia dapat merasakan tangannya yang dingin dan matanya kabur dengan campuran kesedihan, "Kau melakukannya?" Baekhyun bertanya ragu-ragu.

Jongin mengangguk.

Hati Baekhyun tertohok. "Goes all the way?"

"Somewhat thoroughly…," Jongin mengulurkan tangannya, "do not let go for hours."

Baekhyun terdiam, "Kalian hanya menggunakan tangan? Bukan bagian bawah?"

Bagian bawah? Jongin mengerutkan dahinya bingung.

Baekhyun bertanya lagi, "Datang berapa kali?"

Akhirnya, Jongin mengerti. "Apa yang kau bicarakan? Aku berbicara tentang pegangan tangan." Jongin menggenggam tangan Baekhyun, "Seperti ini…pegangan tangan! Apa kau mengerti?"

"Aku telah menunggumu sejak siang sampai sekarang dan kau hanya memegang tangannya lalu pulang?" Baekhyun bertanya tidak percaya.

"Pegangan tangan tidak cukup?" Jongin menatap Baekhyun dengan mata membulat, "Aku pikir pegangan tangan adalah kemajuan yang pesat! Krystal dan aku hanya beberapa kali pegangan tangan."

Baekhyun menghela napasnya, ia merasa wajib memberitahu Jongin, "Kau harus ingat, hubungan pria dengan pria dan hubungan pria dengan wanita itu berbeda. Kau harus menyingkirkan langkah pegangan tangan. Ciuman penuh semangat dan gairah sampai moral integritasmu runtuh dan berlanjut ke ranjang."

Jongin mengangkat alisnya, "Apa yang harus aku lakukan?"

Baekhyun mengatakan dengan terus terang, "Meraih selangkangannya dan meremasnya."

Jongin melotot, "Aku tidak bisa melakukannya." Pegangan tangan saja sudah melebihi batasnya.

Baekhyun menarik tangan Jongin dan meletakkannya di selangkangannya, kemudian bertanya dengan percaya diri, "Tidak bisa menahannya? Kita semua laki-laki, kau tidak tahan dengan hal semacam ini?"

Jongin bingung. Mengapa ia merasa sulit untuk berpegangan tangan dengan Sehun seolah-olah ia melakukan sesuatu hal yang buruk, tapi kenapa ia tidak merasa jijik dengan Baekhyun? Dia tenggelam dalam pikirannya ketika benda di tangannya mengejang.

"Uhh…" Ekspresi wajah Baekhyun berubah. "Aku tidak tahan."

.

.

.

Sejak kembali dari taman, Jongin belum menghubungi Sehun. Dia mengunci diri di kamar dan membaca sepanjang hari. Setelah kencan pertama, ia akan belajar dari pengalaman. Akan menakutkan jika mereka tidak memiliki kesamaan.

Untuk pertemuan berikutnya, ia tidak akan naif lagi, berbicara tentang langit cerah. Jongin kemudian melanjutkan membacanya.

Baekhyun mengambil sebuah buku, 'The Fatal Conceit: The Errors Of Socialism' dan membolak-balik halaman tanpa minat. Itu tentang kesalahan sosialisme. Dia kemudian mengambil 'Theory Concerning Human Understanding' yang juga di tulis oleh penulis barat. Ini tentang dasar pengetahuan dan pemahaman manusia. "Kenapa kau membaca buku seperti ini?" Baekhyun tidak mengerti.

Jongin menjawab serius, "Untuk meningkatkan pertapaanku."

Baekhyun bertanya penasaran, "Sejak kapan kau memiliki realisasi tersebut?"

"Tidak ada pilihan! Terakhir kali aku bertemu dengannya, kami bersama selama tujuh sampai delapan jam dan mengatakan kurang dari sepuluh kata. Kita tidak memiliki kesamaan. Aku hanya mencari informasi dan menemukan bahwa ia lulus dari New York University jurusan ilmu ekonomi dan politik. Aku mengambil jurusan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan politik bukanlah gayaku. Keluargaku bukan dari kelas atas seperti dia. Apa pun yang terjadi, aku harus memahami tentang pendidikannya!"

Mendengar jawaban Jongin, Baekhyun bingung harus menanggapi apa. "Berapa lama terkhir kali kalian menghubungi satu sama lain?"

"Seminggu…"

"Kau sangat toleran." Baekhyun mengaggumi ketenangan Jongin ini.

Jongin mengambil kelaender meja, dilingkarinya tanggal di kalender itu. "Sekarang adalah sepuluh hari periode dingin. Di periode ini, aku tidak akan berinisiatif untuk menghubunginya."

"Kau yakin?" Baekhyun bertanya geli.

Jongin yakin dengan rencananya. Sebaliknya, ia khawatir dengan Baekhyun. "Chanyeol tidak pernah datang kesini lagi?"

"Jangan bicara tentang dia!" Baekhyun buru-buru berkata, "Manusia itu akan muncul setelah kau berbicara tentangnya!"

"Apa Dokter Baekhyun ada? Temanku kakinya terkilir. Bisakah kau melihatnya?" Terdengar seseorang berteriak di pintu klinik. Itu suara Chanyeol.

Baekhyun hanya menatap Jongin sendu sambil menggelengkan kepalanya. Jongin hanya bisa mengusap-usap dagunya dengan tatapan menggoda.

.

.

.

Suho menemukan bahwa baru-baru ini Sehun selalu memegang ponselnya. Membawanya selama 24 jam, menyalakannya setiap saat dan memandanginya setiap detik. Saat Suho meneleponpun akan diangkat oleh Sehun pada dering pertama.

Hari kesembilan periode dingin, Jongin masih membaca di mejanya saat telepon berdering. "Halo?"

Di seberang tidak menjawab apapun dalam waktu yang lama, hanya terdengar napas memburu dan berat, itu Sehun. "Ada apa?" tanya Jongin.

Di seberang telepon kembali hening, kemudian terdengar Sehun bertanya, "Apa yang kau lakukan?"

Jongin meletakkan bukunya sedikit membanting, "Membaca."

Sehun kembali terdiam, memberikan keheningan yang sangat lama namun telepon masih terhubung.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Jongin penasaran.

Sehun menjawab, "Jerking off…"

Fuck! Jongin dengan cepat menutup telepon dan membantingnya ke kasur. Setelah beberapa saat, Jongin masih berpikir dan tertawa. Masturbasi? Yang ada di pikiran Jongin, Sehun memiliki kekasih, kenapa berakhir masturbasi? Apakah ini tersirat bahwa mereka memiliki masalah? Hanya memikirkan tentang hal itu, Jongin menjadi bersemangat.

Setelah setengah jam, telepon Jongin kembali berdering. "Buku apa yang sedang kau baca?" tanya Sehun langsung setelah Jongin mengangkatnya.

Jongin menjawab dengan serius, "Theory Concerning Human Understanding."

Kemudian, Sehun kembali menutup teleponnya.

Sepuluh menit kemudian, telepon berdering lagi. Jongin tahu, itu pasti Sehun. Jongin mengerutkan dahinya, tidak bisakah Sehun menghabiskan perkataannya baru menutup telepon? Apa yang dia lakukan?

Setelah mengangkat telepon, di seberang telepon tetap diam. "Apa yang kau lakukan, eoh?"

"Masturbasi…"

Jongin kesal, "Kau melakukannya berapa kali?"

"Hanya sekali. I still did not cum."

Fuck, dia membual kepadaku?

"Kepala besi…" Sehun tiba-tiba berkata.

Wajah Jongin sudah menggelap, dia tidak mengatakan apa-apa. "Kkamjong…" Dia kembali memanggil Jongin.

Kali ini Jongin memeluk dirinya sendiri. Sehun tetap tidak mengatakan apa-apa. Jongin bertahan, dan akhirnya bertanya, "Apa kau memiliki sesuatu untuk dikatakan?"

"Ada…"

"Katakanlah!"

"I want to fuck you." Kemudian, dapat terdengar sebuah erangan kepuasan dari seberang telepon. Suara itu rendah dan dalam, penuh dengan kekuatan, seperti geraman harimau yang pergi ke gunung untuk menandai wilayahnya. Hanya dengan mendengarnya, kau bisa membayangkan penis kuat dan gagah.

Jongin dengan kasar membanting telepon, memiringkan kepalanya dan meraung.

"Argghhh!"

.

.

.

Keesokan harinya, Sehun datang ke klinik seperti tidak terjadi apa-apa. Masih menggunakan seragamnya, melangkah mantap memasuki klinik menuju kamar Jongin di belakang. Pasien yang mengantri langsung menatap Sehun penasaran dan terkagum-kagum.

Sehun langsung menemukan Jongin di kamarnya, "Ayo, cari tempat untuk bicara."

Jongin terus membaca, "Aku sibuk."

"Mobil polisi terparkir di depan klinik, pasti akan membuat heboh orang banyak. Lebih baik ikut aku sekarang." Sehun berlalu, lalu membanting pintu kamar Jongin.

Jongin dengan malas bangkit berdiri dan mengganti bajunya, mengikuti Sehun.

.

.

.

Yang keluar dari kamar bukanlah seperti Jongin. Dia mengenakan jas dan dasi, sepatu kulit mengkilap, tas halus, dan mengenakan kacamata yang cocok untuknya. Sempurna!

Sehun hanya menatapnya datar. Jongin menghampiri Sehun, "Ayo pergi!"

Di dalam mobil, Sehun mengendarai dengan tenang. Jongin mengeluarkan buku dan meletakkannya di pahanya, dan dengan santai membaca. "Aku menemukan bahwa membaca buku oleh Hendrik Willem van Loon seperti membaca teka-teki. Kadang ironi, dibesar-besarkan, ejekan, dan sejarah itu benar-benar sesat…"

Sehun hanya duduk disamping Jongin, tidak mengalihkan perhatiannya pada pemuda itu, berbeda dengan Tao, dia menatap Jongin dengan seksama, ekornya bergetar, kemudian tertidur.

Sehun kemudian membuka mulut, "Mau kemana?"

Jongin perlahan menutup bukunya, "Kedai teh."

Mereka pergi ke kedai teh, mencari tempat yang tenang. Jongin mengambil buku lagi, pura-pura membacanya. Dia kemudian menyenggol gelas, seolah-olah ia benar-benar tertarik pada buku. "Katakanlah, sejarah begitu dramatis, jadi kenapa orang masih membaca novel?" Dia menatap Sehun dengan berbinar, Sehun tidak mengindahkan perkataan Jongin sama sekali. "Menurutmu, apakah agama dapat memonopoli kebenaran?" Dilihatnya Sehun sedang mengetuk-ngetukkan jemarinya yang seperti cakar harimau.

Setelah terdiam beberapa saat, Sehun membuka mulutnya, "Sementara kau membicarakan hal ini, kita mungkin juga akan berbicara tentang anatomi anus…"

.

.

.

Setelah minum teh, Jongin diajak Sehun untuk mendatangi pertunjukkan orchestra, dimana orang-orang berkelas menikmati musik. Ini adalah pertama kalinya untuk Jongin datang ke tempat itu.

Suasana di dalam sangatlah nyaman, cukup nyaman untuk membuatnya tertidur dalam waktu kurang dari sepuluh menit acara dimulai. Sehun melirik ke arah Jongin dan melihat kepalanya tertunduk seperti anak kecil sedang merajuk. Dahi yang halus bersinar dalam cahaya gelap. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum, jelas Jongin berpura-pura menjadi orang berkelas.

Ketika ia tenggelam dalam pikirannya, Jongin menjatuhkan kepalanya di pundak Sehun, ia menyamankan posisinya di pundak Sehun. Udara yang dihembuskan keluar dari hidungnya menerpa leher Sehun. Orchestra mencapai di titik klimaks, membuat mabuk para pendengarnya. Namun, Sehun tinggal sendirian. Telinganya diisi oleh irama pernapasan Jongin.

Selama bertahun-tahun, ia tidak berbagi tempat tidur dengan orang lain dan itu sangat menyenangkan saat mendengar irama pernapasan di telinganya. Kepala Jongin meluncur menuruni bahu Sehun. Sehun dengan cekatan menangkap kepala Jongin dan membawanya ke pahanya. Dia tidak sadar mengusap-usap dahi Jongin.

Ada sebuah kedai es krim di luar aula. Sehun berhenti dan berpaling ke arah Jongin, "Rasa apa yang kau inginkan?"

"Aku ingin vanilla…"

"Beri aku dua vanilla," ucap Sehun pada pedagang itu.

Sepanjang perjalanan, mereka asik mencicipi es krim. Sehun menatap tajam es krim Jongin, "Biarkan aku mencoba milikmu."

Jongin tampak kesal, "Bukankah itu sama?"

Sehun dengan tegas menyatakan bahwa ini tidak sama. Jongin dengan acuh menyodorkan kerucut es krim nya pada Sehun. Tanpa di duga, bibir Sehun pergi melewati es krim dan menuju bibir Jongin. Ketika Jongin terkejut, ia dipaksa membuka mulutnya dan membiarkan Sehun mengambil es krim vanilla di mulutnya.

Wajah Jongin merah padam, menahan malu. Merahnya tidak hilang. Sehun melihat lebih dekat dan Jongin segera merubah raut wajahnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Shtpnk memo:

Alohaaa, uuh terharu melihat review para readers yang mendukung shtpnk. Shtpnk akan terus berusaha agar lebih baik lagi hihi terima kasih atas dukungannya, I love you guys