CHAPTER 8

Sehun kembali ke klinik bersama Jongin. Baekhyun pergi seperti sengaja memberikan waktu berdua untuk mereka.

Sehun mengikutinya dari belakang. Jongin sudah kembali menjadi dingin. Ruangan kamar Jongin seketika menjadi pengap, membuat Jongin sulit bernapas. Akhirnya, ia melonggarkan dasinya, ketika seseorang mencoba melepaskan celananya.

Seolah mendapatkan sengatan listrik, matanya menatap nyalang ke arah tangan Sehun yang melingkar di pinggangnya. Dengan cekatan Jongin memegang erat sabuknya. "Tunjukkanlah rasa hormatmu!" Peringatan itu terdengar tegas.

Sehun menunjukkan wajah polosnya, "Siapa yang tidak menghormatimu?"

Jongin mengalihkan wajahnya kesamping, "Lalu kenapa kau menarik celanaku?"

"Aku hanya ingin melihat apakah kau memakai celana dalam yang kuberikan kepadamu."

Jongin malu, "Ada begitu celana dalam, bagaimana kau tahu apakah itu salah satu yang kau berikan?"

Sehun bersandar di meja dan meniupkan nafasnya tepat di telinga Jongin. Dia memincingkan matanya dan memandang geli Jongin. "Semua celanamu dipilih olehku satu-persatu. Merek, ukuran, dan jenis kain diperiksa dengan teiliti olehku. Apakah kau pikir aku membelinya grosiran?"

Jantung Jongin berdegub kencang. Matanya bergerak gelisah. Sehun melihat permen gula di meja kayu dan berkata, "Buatkan aku permen gula lagi."

Jongin menjawab dengan ketus, "Tidak mau."

"Terakhir kali aku membawanya pulang, kekasihku benar-benar menyukainya. Buatkan satu untuknya…"

"Kekasihmu?" Jongin bertanya dengan dengki, "Krystal?"

"Huh?" Sehun terkejut, "Bagaimana kau tahu?"

Bertindak bodoh lagi? Bukan karena dia yang bilang padamu? Ucap Jongin dalam hati.

Sehun melihat Jongin yang diam dan lesu, tiba-tiba hatinya meghangat. "Aku memberikannya pada kekasihku, kau marah?"

Nonsense! That fucker was my ex-girlfriend. Kau memberikan hasil pekerjaanku padanya. Bagaimana aku tidak marah? Maki Jongin dalam hati.

Dia tetap diam.

Sehun tiba-tiba merasa biasa-biasa saja. Jongin adalah orang yang menarik. Dia ingin melihat lebih banyak aksi Jongin dengan matanya sendiri. "Hei, jadilah anak yang baik. Buatkan satu untukku."

Pada akhirnya, Jongin benar-benar membuatkannya satu. Ia membentuk kotoran, dan menyerahkannya pada Sehun. "Ambillah dan segera pulang!" Jongin mendorong Sehun menuju pintu.

Muka Sehun selalu terkontrol dan dia kebal akan isyarat apa pun. Ia tidak mengindahkan perintah Jongin, ia malah pergi ke apotek. Sehun melihat-lihat dalam persediaan obat-obatan dan mendapatkan obat oles yang ia cari.

"Jangan menyentuh barang-barang milik orang lain!" Jongin dengan tegas berucap.

Obat oles itu di keluarkan. Dengan cekatan menarik celana Jongin kearahnya, membuat Jongin yang tidak siap menubruk tubuhnya. Dia mengarahkan tubuh Jongin ke bawah sehingga jatuh ke kursi. Ia mengeluarkan obat oles itu dan meratakannya di dahi Jongin, menggosoknya dengan kasar.

Jongin mendorong tubuh Sehun kasar, "Apa yang kau lakukan?"

Sehun mendecah, "Behave!" Sehun tiba-tiba meraung marah. Seperti petir yang membelah angkasa. "Ada banyak kulit mati di dahimu, itu akan menjadi lebih buruk jika tidak diobati!"

Jongin tahu alasan di balik kebaikan Sehun, dan itu membuatnya tidak nyaman. "Kenapa kau begitu baik kepadaku?"

"Menurutmu?" Sehun kembali bertanya.

Jongin menjadi kaku, "Aku tidak tahu."

Sehun memutar kayu kecil di tangannya, matanya mengarah pada permen gula itu, dia tahu bahwa Krystal akan menyukainya. Dia akan meminta maaf dengan permen gula ini, dan kesalahannya akan termaafkan dalam sekejab.

.

.

.

Pagi berikutnya, Baekhyun memasuki klinik dan tidak sabar untuk melihat Jongin. "Dia telah pergi?"

Tangan Jongin yang memegang sikat gigi di mulutnya terhenti seketika, "Sudah lama pergi!"

Baekhyun menyipitkan matanya dan melihat Jongin dengan hati-hati, "Apa saat melakukan ia meninggalkanmu?"

"Tidak ingat." Jongin membuang air di dalam mulutnya dan berkata santai, "Sekitar pukul 9 aku mandi setelah ia pergi dan selesai tepat pukul 10."

Bibir Bakehyun berkedut, "Ia tidak tinggal?"

"Tinggal?" Mata Jongin menggelap, "Kenapa aku harus membiarkannya tinggal?"

Baekhyun mengerutkan dahinya, "Kalian berdua tidak melakukan apa-apa semalam?"

"Membuat permen gula."

"Membuat permen gula?" Vena di dahi Baekhyun muncul keluar, "Apa ada hal lain yang kau lakukan?"

"Kau pikir aku ingin membuatnya? Dia yang memintaku!" Jongin merasa kesal mengingat kejadian semalam. "Untuk menangkapnya, bagaimana mungkin aku membantahnya?"

"Kau tidak bisa selalu melakukan itu! Kau harus menjual tubuhmu!"

Jongin membelalakkan matanya, "Apa yang kau katakan…?"

"Tidak ada…" Baekhyun menurunkan nada bicaranya, "Ada kesalahpahaman dengan apa yang kumaksud. Aku ingin mengatakan bahwa kita seharusnya tidak hanya melakukan hal-hal seperti itu. Yang menyenangkan sedikit adalah hal yang baik tapi bisa terlalu monoton. Pria itu buas. Yang menyenangkan sedikit tidak akan membuat mereka puas, apa kau suka jika itu kau? Tentu saja, jika pesonamu memancar, dia mungkin bersedia untuk memberikan perlakuan khusus. Tapi kau pikir itu akan berapa lama?"

Jongin menatap dirinya di cermin dan pikirannya kosong.

"Pikirlah! Jika kau benar-benar akan menunggu selama setahun, Sehun mungkin sudah berubah, ia akan mencari orang lain menjadi pacarnya beberapa kali. Krystal akan tidur dengan lelaki lain. Lalu kau balas dendam untuk siapa? Ini akan terlambat! Sekarang adalah waktu yang tepat."

Jongin keluar dari kamar mandi, tatapannya kosong. Ia masuk ke kamarnya dan duduk di meja kecilnya. Ia memikirkan perkataan Baekhyun. Apakah ia harus mengganti strategi?

Baekhyun yang mengintip di pintu bertanya pada Jongin, "Apa kalian melakukan kontak fisik kemarin?"

Jongin memutar otaknya. Dia mengingat kejadian memuakkan tentang es krim. "Apa ciuman terhitung?"

Seketika Baekhyun menjadi semangat, ia mendekat ke arah Jongin, "Bagaimana kau melakukannya? French kiss? Berapa lama?"

Jongin menceritakan segalanya tentang ciuman itu. Baekhyun sangat gembira. Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dan emosinya, "Itu kesempatan besar! Makan mulutnya! Kenapa kau tidak memagut mulutnya?"

Jongin hanya menjawab dengan empat kata, "Aku benci hal-hal kotor."

Keadaan menjadi hening. Jongin kemudian teringat dengan kejadian telepon. Dia ragu-ragu tapi masih mau memberitahu Baekhyun. Baekhyun menepuk paha Jongin setelah mendengarkan ceritanya dan segera menarik kesimpulan, "Dia benar-benar mencintaimu. Lain kali jika ia ingin bercinta denganmu, langsung respon. Jadikanlah dia milikmu…"

.

.

.

Malam itu, Sehun pergi ke club. Dia sudah lama tidak bersenang-senang dan minum alkohol karena sibuk dengan pekerjaannya. Semakin mabuk dan semakin menahan hasratnya. Dia kemudian menelepon Jongin.

Jongin sedang menyandarkan dagunya di meja, hampir tertidur. Dengan malas mengambil ponselnya yang berdering.

"I want to fuck you." Terdengar suara di seberang saat Jongin mengangkatnya.

Ini adalah kesempatan besar. Seperti di takdirkan. Tuhan memberi Jongin kesempatan lain. Segera merespon dan orang ini akan menjadi milikmu… kata-kata itu terus terngiang di otak Jongin.

Jongin menahan napasnya dan buru-buru mengatakan, "Me too!"

Keadaan hening seketika. "Apa katamu?"

"Aku juga ingin bercinta denganmu!" Keadaan menjadi hening lagi, dan tak lama sambungan telepon terputus.

.

.

.

Keesokkan harinya, ketika Baekhyun mendengar keluhan Jongin, ia segera memukul meja dengan liar dan tertawa keras-keras. "Kau benar-benar mengatakan 'Me too' kepadanya?"

Jongin mengangguk.

Baekhyun tertawa terbahak-bahak lagi.

"Apa yang lucu?" Jongin tampak serius. "Aku melakukan yang kau perintahkan dan juga menanggapinya. Itu tidak mempengaruhi apa-apa dan ini menjadi canggung. Kau terlalu percaya diri tentang hal itu. Sekarang apa?"

Baekhyun mengontrol tawanya, "Kenapa kau menanggapi seperti itu?"

"Lalu aku harus bagaimana?" Jongin mengangkat alisnya, "Haruskah aku berkata 'come and fuck me'? Aku bukan wanita, penisku ada disini untuk suatu alasan. Kenapa aku harus membiarkannya bercinta denganku?"

Sekali lagi Baekhyun tertawa terbahak-bahak.

"Ada apa sampai kau tertawa terbahak-bahak seperti itu?" Tiba-tiba suara berat terdengar diantara mereka.

Baekhyun berhenti tertawa seketika. Dia tersenyum pahit dan Chanyeol melihatnya. Namun Baekhyun tidak peduli. Tangannya di saku jas dokternya, ia tampak santai dan berjalan kembali ke ruang konsultasi.

"Dokter Baekhyun, temanku mengalami menstruasi yang tidak teratur. Lihatlah dia."

Teman-teman Chanyeol selalu datang untuk membantunya. Berpura-pura dengan berbagai macam penyakit yang dengan mudah diketahui Baekhyun tentu saja.

Sesampainya di ruang konsultasi, Baekhyun melihat Chanyeol duduk santai di depan meja sambil menunggu temannya yang sakit. Pintu klinik dibuka, Baekhyun menolah ke arah pintu dan terkejut mendapati Sehun disana. Mendengar suara tercekit Baekhyun, Chanyeol lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu.

Kedua lelaki itu merasakan irama napas masing-masing dan tatapan mereka bertabrakan. "Waktu yang sangat menakjubkan." Chanyeol tersenyum dan mengaitkan lengannya di leher kaku Sehun. Dia berkata pelan sehingga hanya mereka berdua saja yang dapat mendengar, "Kau menyelidiki dengan sangat cepat. Aku masih tidak mengklaim dirinya, belum, tapi kau sudah datang…"

Sehun merasa emosinya membuncah dan menatap Jongin yang baru datang. "Kau menyukainya?"

Chanyeol menepuk-nepuk pipi Sehun dan menoleh ke arah Baekhyun. "Bukan, itu dia."

Kedua lelaki itu sibuk satu sama lain, begitu juga dengan guru dan murid. "Mereka mengenal satu sama lain?" Baekhyun cukup terkejut.

Jongin melihat kedua lelaki itu dan berkata ringan, "Aku pikir, mereka tidak hanya mengenal satu sama lain tapi sepertinya ada perselisihan di antara mereka, latar belakang mereka yang hampir sama, maka jelas mereka saling mengenal. Mungkin… kita akan mendapatkan kejutan besar jika kita bertanya pada Chanyeol."

"Aku pikir, tugasmu sekarang adalah mencari aman. Hanya melihat mata Sehun. Seolah-olah ia ingin membunuhmu." Kata Baekhyun, membuat Jongin melihat ke arah Sehun dan itu benar. Sehun benar-benar mencurigakan.

Jongin pikir ia harus membakar dupa yang berkualitas untuk menyelamatkan bokongnya.

Sehun hanya bisa berpikir tentang Jongin semenjak berbicara lewat telepon tadi malam. Dia ingin buru-buru menuju klinik untuk bercinta dengan bokong Jongin secara kasar. Tapi, ia mendapat telepon dari kakaknya untuk segera pulang ke rumah. Terpendam sudah keinginannya. Tak perlu lama-lama, ketika ia bangun pagi, ia langsung menuju ke klinik. Tak disangka ia akan bertemu dengan Chanyeol.

Akhirnya, Chanyeol menarik Sehun keluar dan membicarakan rencana mereka masing-masing. Saat kembali ke dalam klinik, hasrat itu sudah tidak melingkupi dirinya.

.

.

.

Sekitar pukul delapan malam, Jongin kembali dari lapangan basket dan melihat Baekhyun masih di klinik. "Hei, kenapa kau masih disini?"

Baekhyun menjawab dengan bosan, "Aku takut kau akan mendapatkan masalah."

"Apa yang akan terjadi denganku?" Jongin melepas jaket yang basah oleh keringat dan menggantungnya di dinding, dan berkata dengan santai, "Apa kau takut lelaki itu menggangguku? Jangan khawatir. Aku mempunyai rencana yang baik."

Pikiran Baekhyun sudah melayang-layang. Dia bisa membaca orang lain dan menilai dari tatapan Sehun, ia jelas ingin memakan seseorang.

Jongin tiba-tiba bersandar ke arah Baekhyun. Matanya mengkilat melihatnya dan berkata dengan riang, "Kau selalu mengharapkan dia untuk melecehkanku. Sekarang ia akan datang, kenapa kau tidak lega?"

"Bagaimana itu bisa sama?" Bakehyun mencubit hidung Jongin, "Aku tidak peduli tentang pelukan atau meraba-raba. Tapi kalau dia memaksakan dirinya padamu, kau bisa setengah mati! Kalau aku disini dan kejadian vulgar benar-benar terjadi, aku bisa mencegahnya."

Jongin mengusap kepalanya, dia berkeringat deras. "Apa akan terjadi sesuatu yang buruk?"

Baekhyun menatapnya dalam-dalam, "Aku mengucapkan berdasarkan pengalaman. Ini akan menjadi hal yang buruk."

Jongin tidak mengatakan apa-apa dan berbalik untuk masuk ke kamar tidurnya.

Setengah jam kemudian, Sehun benar-benar datang.

Baekhyun sedang mengemasi barang-barangnya di ruang konsultasi. Dia mendengar langkah kaki dan sarafnya menegang. Dia berbalik dan melihat Sehun dengan tenang. "Mencari Jongin?"

Sehun menatapnya mengancam, ingin merespon.

Baekhyun langsung berkata, "Dia ada di kamarnya."

Sehun berhenti ketika berjalan melewati Baekhyun, "Kalian tinggal bersama?"

"Tidak, aku sedang mengemasi barang-barangku. Aku akan segera pergi."

Sehun mendorong pintu dan masuk ke dalam.

Baekhyun segera meletakkan barang-barangnya dan bergegas untuk menguping melalui celah pintu kamar tidur Jongin.

.

.

.

Di dalam ruangan, Sehun melihat Jongin tertidur dengan kepalanya di atas meja. Hari ini ia fokus untuk bercinta dengan Jongin. Ia melihat ada tumpukan buku tebal di samping kepala Jongin, ia melihat-lihat dan menemukan buku itu buku klasik barat dan sebagian besar buku ekonomi dan politik. Ia melihat sebuah kertas yang terselip disana.

Sehun mengambil kertas itu. Judulnya 'New York University Ilmu Politik Daftar Bacaan Penting'.

Ada hampir empat puluh buku yang tercantum disana. Sehun merasa sedikit tersentuh. Dia tiba-tiba teringat Jongin yang berbicara tentang ideologi politik dengan tatapan serius saat mereka minum teh bersama. Dia ingin lebih pintar dari dirinya pada saat itu. Seorang pria lulusan seni ilmu pengetahuan dan teknologi memaksakan diri untuk membaca buku-buku politik. Ini hal yang rumit, kan? Hari itu, ia tertidur saat menghadiri pertunjukan musik karena ia terjaga sampai larut malam?

Dari pemahaman Sehun, Jonginlah yang mulai menggodanya. Dia telah menggunakan cara-cara bodoh untuk mendekatinya.

Jongin berakting dengan sungguh-sungguh, ia seperti tertidur nyenyak, namun dalam hatinya dia terus menghitung waktu. Tiba-tiba, seseorang membelai dahinya.

Jongin pura-pura terbangun oleh suara dan ia mengusap matanya. Dia tampak tak sadar kalau ada Sehun. Tangan Sehun masih menggenggam kertas.

Jongin menyambar kertas itu dan bertingkah seperti tertangkap tangan melakukan sebuah kesalahan. "Siapa yang memperbolehkanmu untuk menggeledah barang-barangku?"

Sehun menatap Jongin dengan mata penuh nafsu, "Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang orang yang ingin bercinta denganku dan jenis buku apa yang biasa ia baca."

Hati Jongin menciut.

Kau dapat mengatakan bahwa kau ingin bercinta denganku, tapi kau tidak bisa mengatakan bahwa aku juga ingin bercinta denganmu! Dia tenggelam dalam pemikirannya ketika rambutnya ditarik sehingga kepalanya terlempar ke belakang.

Sehun mendekatkan wajahnya dengan Jongin, dan hidung mereka bersentuhan.

"Sejak kapan kau menyukaiku?" Sehun tertawa sinis dan menginterogasinya.

Jongin hanya menatap Sehun, "…"

.

.

.

TBC

.

.

.

Shtpnk memo:

Hai readers, Counterattack mungkin bakal update agak lama. Soalnya dari AnneNoh belum publish lagi yang english trans, jadi aku menunggu beliau update. Mohon kesabarannya yaaa.