CHAPTER 10
Keesokan harinya, Baekhyun terlambat datang ke klinik. Disana terdapat antrian panjang para pasien yang menunggu didepan pintu masuk. Baekhyun menjadi malu dan berusaha menjelaskan bahwa dirinya harus terjaga tadi malam dan tidak mendengar alarm di pagi hari.
Setelah memeriksa semua pasien, Baekhyun sadar bahwa Ia belum melihat Jongin sejak Ia masuk ke klinik.
Apa Ia diganggu? Baekhyun berkata didalam hati.
Baekhyun akhirnya menuju kamar Jongin dan membuka pintu kamar. Seorang pria terbaring di tempat tidur. "Kenapa kau belum bangun?" Baekhyun bingung. Seharusnya Jongin sudah menyelesaikan sarapannya dan pergi mengecek ular-ularnya di jam ini.
"Aku sedang tidak ingin." Jongin menjawab tanpa semangat.
"Sedang tidak ingin?" Baekhyun merasakan gemuruh didadanya. Ia menghampiri Jongin dan duduk disampingnya. Terdapat lingkaran hitam dibawah mata Jongin, Ia bertanya dengan takut-takut, "Kenapa sedang tidak ingin?"
Jongin menatap dinding disebelahnya dengan tatapan kosong, "Aku ingin mati."
Jantung Baekhyun seakan berhenti. Ia menggenggam tangan Jongin dan meremasnya erat. " Dia melakukannya?"
Bibir Jongin bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Lalu...apa kau berdarah?" Mata Baekhyun memerah.
Jongin akhirnya tersadar dari lamunannya dan bertanya spontan, "apa kau juga bisa berdarah jika masturbasi?"
"Masturbasi?" Baekhyun menatap Jongin dengan tatapan tidak mengerti seperti orang idiot.
"Dia masturbasi didepanku kemarin dan memaksaku untuk melihatnya." Jongin ketakutan setelah menyelesaikan kalimatnya, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan meringkuk seperti udang kering.
Baekhyun bernapas lega dan menurunkan selimut yang menutupi Jongin. "Fuck! Aku kira dia melakukannya! Ternyata hanya hal sepele setelah semua keributan yang kau lakukan. Benar-benar membuang emosiku!" Setelah itu, Baekhyun keluar dari kamar Jongin sambil bersiul senang.
Jongin masih belum keluar kamarnya selama beberapa jam. Kali ini, Bekhyun benar-benar khawatir. Si bodoh itu tidak dalam masalah kan?
Baekhyun kembali masuk kedalam kamar Jongin dan melihat Jongin menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Baekhyun menyingkirkan selimutnya dan melihat muka Jongin memerah, badannya panas dan dipenuhi oleh keringat.
"Jangan seperti ini... Jongin, jangan terlalu dipikirkan. Dia masturbasi didepanmu? Anggap saja kau sedang menonton porno." Baekhyun menenangkan Jongin.
Sadar akan kesunyian yang Ia dapat, Baekhyun duduk di kasur dan terus menenangkan Jongin, "Hei muridku! Kejadian ini sangat sering terjadi disaat seperti ini. Kau tidak bisa berpikir dari sudut yang normal. Ia melakukannya didepanmu tapi bukan berarti Ia ingin menghinamu. Itu karena Ia punya perasaan lebih kepadamu."
Ucapan Baekhyun sudah terlambat. Mungkin akan bekerja jika Ia mengatakannya saat awal masuk ke kamar Jongin tadi.
"Atau...Kita harus menghentikannya sekarang juga!" Walaupun Baekhyun tau ini sia-sia tapi Ia tidak tahan melihat Jongin terpuruk, "Kau benar-benar tidak cocok acting sebagai gay dengan mentalmu. Fokus sajalah pada usaha ularmu itu! Jual ularnya saat harga pasaran naik, buka toko baru dan buatlah bisnis kecil-kecilan. Aku yakin akan banyak wanita yang mengantri untukmu."
Jongin bangun dan menopang tubuhnya didinding. "Tidak akan ada kata 'menyerah' di kamusku."
Baekhyun menatapnya pasrah, "dedikasimu membuatku ingin menangis."
Jongin bangun dan pergi ke pintu dengan kaki yang lemas.
"Kau ingin kemana?"
"Pulang ke rumah untuk memulihkan diri beberapa hari."
"Kau tidak boleh kemana-mana, kau masih demam." Baekhyun menghalangi Jongin.
Jongin menatap Baekhyun, "Ini sakit hati. Suntikan dan obat tidak akan menyembuhkannya. Ini akan sembuh dengan kegigihanku."
"Kalau begitu kau harus membawa membawa beberapa obat, okay?"
"Tidak perlu." Jongin mengambil teleponnya dan memberikannya ke Baekhyun, "Aku tidak mau melihatnya. Bantu aku ketika Ia datang mencariku atau meneleponku."
"Kau bisa istirahat dengan tenang. Aku akan mengurus masalahnya disini."
Jongin mengangguk dan pergi hingga hilang dari penglihatan Baekhyun.
.
.
.
Di siang hari, Sehun memasukkan telepon ke sakunya dan pergi dari kantornya.
"Hei, Sehun!"
Sehun menoleh dan melihat seorang polisi wanita berdiri disampingnya. "Ada apa?"
Polisi itu membawa sebuah laporan dan menatap Sehun, "kapan kau akan memasukkan laporanmu? Yang lain dari timmu sudah memasukkannya, hanya kau yang belum!"
Sehun tidak menjawab dan pergi begitu saja.
"Sial! Pria seperti apa dia itu? Ia akan kesusahan saat waktu pengumpulan laporan dan pada akhirnya aku yang akan mengerjakannya." Polisi itu kesal.
Sehun berkeliling menggunakan mobil polisi. Akhir-akhir ini Ia merasa gelisah. Selalu memeriksa teleponnya seperti remaja yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ia berpikir bahwa Jongin itu istimewa. Di awal, Ia menunjukkan sisinya yang licik seperti rubah lalu secara tiba-tiba sisi idiotnya muncul. Walaupun seperti itu, benar-benar tidak dipungkiri untuk tidak menyukainya.
Sehun menyadari bahwa jantungnya sudah menggila tanpa sebab. Ia tidak merasakan apa-apa ketika bertemu satu sama lain tapi akan selalu berpikir tentang Jongin jika tidak bertemu.
Sehun ingat pipi menggembung milik Jongin saat meniup permen.
Sehun ingat Jongin menatap satu paragraf lebih dari sepuluh menit saat duduk berhadapan dengannya di toko teh.
Sehun ingat bokong sintal Jongin yang bergoncang saat bermain bola basket.
Sehun ingat jawaban Jongin, "Aku tidak tahu apa aku suka pria atau tidak tapi aku tahu bahwa aku suka kau."
.
.
.
Sehun akhirnya menelepon Jongin. Telepon itu cepat diangkat tapi Jongin tidak mengatakan apa-apa.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Sehun memulai percakapan.
"Jalan-jalan." Baekhyun menirukan suara Jongin.
"Jalan-jalan?" Sehun mengerutkan dahinya, "jalan-jalan kemana?"
"Jeju."
"Itu jauh," Sehun menjawab.
Baekhyun terkejut bahwa Ia tidak ketahuan dan ingin memperpanjang percakapan itu, sehingga Ia bisa tahu detail kejadian tadi malam.
"Kemarin malam..." Baekhyun bergumam ragu-ragu.
"I'm really satisfied."
Baekhyun berdeham, "Seberapa puas kau?"
"Lain kali, aku akan membawamu ketika kami bermain sehingga kau tahu jawabannya."
Baekhyun tertegun. Sial. Ia tahu bahwa ini aku? Ia mengetahuinya tapi tetap melanjutkan percakapan?! Pria ini benar-benar setan.
Setelah beberapa jam, Sehun menuju klinik. Setiap saat Baekhyun melihat Sehun masuk ke kliniknya, Ia melihat sekumpulan aura gelap yang memenuhi ruangan.
"Dimana dia?" Sehun bertanya langsung.
Baekhyun menjawab tanpa mengangkat wajahnya, "Sudah kubilang bahwa Ia jalan-jalan."
Sehun tahu bahwa Baekhyun berbohong. Itu hal yang normal Jongin menghilang beberapa hari. Sehun tidak ingin bertanya lagi dan langsung menuju kamar Jongin kemudian mengambil kotak kayu berisi semua permen karakter milik Jongin.
Baekhyun mengingatkan Sehun, "Jika kau mengambil barang-barangnya, Ia akan sangat terganggu ketika Ia kembali."
Sehun tidak peduli, "let him be worried then."
.
.
.
Sehun kembali ke kantornya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu Sehun kembali kemejanya dan mengambil lotion yang ada dilacinya. Sehun dengan hati-hati menggunakannya di muka. Polisi wanita yang tadi menegur Sehun melihatnya dan berkata, "Hei, aku melihat banyak pria yang memakai lotion ini?"
Polisi wanita itu mengambil lotion dan mengambilnya dibawah hidung dan menciumnya, "ini sangat wangi. Apakah benar-benar bagus?"
Sehun dengan santai menjawab, "not bad."
"Kalau begitu biarkan aku mencobanya." Lalu Ia mengambil lotion itu dan mengaplikasikannya diwajah, memberikan pijatan-pijatan lembut di pipinya beberapa kali. "Wah! Ini benar-benar melembabkan mukaku, lebih baik dari krim yang kubeli dengan harga 20.000 won."
Tiba-tiba, sesosok muncul dibelakang polisi wanita itu.
Krystal muncul dan melihat adegan dimana polisi wanita itu mengambil lotion dari Sehun sampai selesai mengaplikasikan lotion itu diwajahnya. Krystal dan Sehun sedang berperang dingin sejak perdebatan tentang pertemuannya dengan orang tua Sehun. Krystal merendahkan harga dirinya dan berinisiatif mengunjungi Sehun. Ternyata, Ia melihat sesosok yang dibencinya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Polisi wanita itu kemudian pergi.
Krystal menatap kepergian polisi wanita itu yang kemudian menatap matanya dan tersenyum seperti selingkuhan yang jahat. Polisi wanita itu tidak menyangka hal ini terjadi dan hanya bisa tersenyum sopan.
.
.
.
Hari selanjutnya adalah akhir pekan, Krystal menemani Sehun seharian.
Setelah melewati perang dingin, Krystal menyadari bahwa hubungan itu bukan hanya nafsu untuk melakukan seks satu sama lain, tapi juga butuh bumbu-bumbu cinta. Terkhusus laki-laki seperti Sehun yang memiliki sifat cuek dan kasar, tidak akan bisa untuk mengikatnya tapi harus dengan kemampuan yang lebih.
Di siang hari mereka pergi berbelanja bersama. dalam perjalanan menuju mall, Sehun mendapatkan telepon dari Suho. "Sesuatu terjadi pada Joy..."
Joy adalah polisi wanita yang diam-diam menyukai Sehun. Suho memberikan detail bahwa Joy ditangkap dalam perjalanan pulang dan disekap selama empat jam dan kemudian dibebaskan. Ia masih syok dan dibawa ke rumah sakit.
Sehun menjawab dengan tenang, "Alright, got it."
Krystal mendekatkan tubuhnya saat Sehun sudah selesai telepon, "siapa yang telepon?"
"Rekan kerjaku."
Krystal kemudian menatap Sehun dengan menggoda. Melihat Sehun yang tidak merespon, Krystal meraba paha Sehun dan merogoh saku Sehun kemudian mengambil telepon Sehun. "Apa kau menungguku untuk berinisiatif meneleponmu seharian kemarin?"
Sehun mengacuhkan pertanyaan itu dan berkata, "Aku akan membawamu ke rumah."
Krystal terkejut, "rumah?"
"Ya, rumahku."
Sore harinya, Sehun membawa Krystal untuk bertemu orangtuanya. Karena persiapan yang matang, Krystal membawa wibawa didepan keluarga Sehun. Semua hal baik ia tunjukkan. Ketika makan malam, Ia memperhatikan setiap detail dalam tata krama, berbicara dengan sopan saat Ia berbicara dan akan mendengarkan dan tidak akan berbicara jika bukan saatnya bicara.
Orang tua Sehun sangat ramah. Mereka tidak pernah bertanya tentang kualitas dan background keluarga. Mereka hanya berbicara tentang hubungannya dengan Sehun dan tidak pernah berbicara tentang status keluarganya yang tinggi.
Sangat jelas bahwa ibu Sehun menyukai Krystal. Dilihat dari sikap ibunya yang terus menggenggam tangan Krystal saat makan malam tadi.
"Bibi, aku mendengar dari Sehun bahwa Bibi memiliki kulit berminyak, skincare ini sangat bagus dan cocok untuk orang disekitar umurmu." Krystal memilih brand yang bagus tapi tidak terlalu mahal dan Ibu Sehun memaklumi hal ini.
Sebelum Sehun dan Krystal meninggalkan rumah orang tua Sehun, Ibu Sehun menggenggam tangan Sehun.
"Perempuan itu tidak terlalu buruk, perlakukanlah dengan baik."
Sehun tidak mengatakan apa-apa dan pergi begitu saja.
Krystal begitu bahagia. Sehun mengantar Krystal sampai kedepan gerbang rumah orangtuanya.
"Jadi, kapan kau akan mengunjungi mertuamu?" Tanya Krystal.
"Kau bertanya satu dari tiga hal yang membuat pria sepertiku akan membuang perempuan sepertimu." Sehun menjawab dengan tenang.
Senyum Krystal perlahan memudar, "Apa...Apa katamu? Buang... Membuangku?"
"Jika kau bertanya hal ini lagi, akan kupastikan untuk membuangmu." Sehun berkata sembari membenarkan helaian rambut Krystal yang jatuh di dahinya. "Antar dia sampai ke rumahnya," ujar Sehun pada Suho.
Krystal masuk ke mobil tanpa membantah perkataan Sehun lagi.
Setelah beberapa waktu, Suho kembali dan menemani Sehun yang sedang berkutat dengan Tao. "Baby, apa yang kau lakukan akhir-akhir ini?" Sehun mengangkat Tao ditangannya.
"Dia kehilangan nafsu makan dan seperti kehilangan semangat," jawab Suho mewakili Tao.
"Apa aku tidak memperlakukanmu dengan baik?" Sehun kembali bertanya ke Tao.
Tao memutar tubuhnya dan menunjukkan perutnya yang putih seperti menolak melihat wajah Sehun.
"Mungkin dia memikirkan ular yang lainnya," Suho berbicara tanpa berpikir.
Raut wajah Sehun berubah seketika dan Suho sadar dirinya telah melakukan kesalahan. "Apa aku begitu menakutkan?" Sehun bertanya spontan.
Suho terheran, "kenapa tiba-tiba bertanya itu?"
"Jika seseorang menyukaiku dan aku ingin melakukan hal yang intim, tapi Ia begitu ketakutan sampai ingin melukai dirinya untuk menghindariku. Apa alasannya? Aku tidak pernah menunjukkan keinginan untuk melakukan kekerasan terhadapnya."
"Apa Krystal tidak membiarkanmu untuk menyentuhnya?"
Sehun tertawa lepas. Krystal? Selalu sukarela membuka kedua pahanya untuk melakukan seks setiap kali kita bertemu. "Itu tidak ada hubungannya dengan Krystal."
Suho bingung, "ternyata kau juga punya masalah seperti ini? Tidak bisakah kau menggunakan caramu seperti biasa?"
Sehun melirik Suho dengan tatapan terganggu. Jika aku bisa memaksanya menggunakan caraku, aku tidak akan mungkin minta pendapatmu.
Suho tidak berani mengucapkan hal yang tidak berarti lagi. "Kalau begitu, maka hanya ada dua kemungkinan. Pertama, orang itu terlalu lugu dan naif, dan yang kedua orang itu memiliki motif tersembunyi."
.
.
.
Selama satu minggu Sehun tidak bertemu dengan Jongin.
Di akhir minggu, banyak yang datang ke klinik untuk periksa kesehatan. Baekhyun bangun pagi dan langsung bekerja. Ia sibuk sampai siang dan bahkan tidak sempat untuk minum, hanya bisa menelan air liurnya sendiri. Ruang perawatan bukanlah ruang yang besar dan disana duduklah satu sosok yang tidak mau pergi. Sosok itu tidak pergi untuk periksa ke dokter dan tidak bicara. Sosok itu hanya diam dan melihat Baekhyun seharian.
Kemeja Baekhyun sudah basah, Ia tidak tahu apakah ini karena panas atau karena takut.
Setelah selesai memeriksa pasien terakhir, hanya ada Baekhyun dan Sehun dalam ruang perawatan.
"Tidak ada gunanya kau menunggu disini. Aku tidak tahu kemana Ia pergi."
Sehun melihat jam yang menggantung di dinding. "Pukul 12 siang..."
Baekhyun menaikkan alisnya, sudah siap untuk pergi?
"Kau pikir jika aku mulai melakukan seks denganmu sekarang, apa akan selesai sampai Jongin datang?" Suara sabuk yang dibuka pun mengiringi suara Sehun.
"Ia pulang ke rumah." Baekhyun mangatupkan giginya.
Sehun menggenggam sabuk celananya dan pergi keluar tanpa suara.
.
.
.
Selama di rumah, Jongin mengurung diri di kamar dan menonton berbagai film secara maraton.
Ia membawa komputer milik Baekhyun ke rumah, yang mana memiliki banyak film gay dari berbagai genre. Di awal, Jongin menonton film dengan bobot yang ringan. Ia mengepalkan tangannya selama menonton. Apa yang mereka pikirkan? Aku bahkan tidak mau makan nasi dan trauma hanya melihat ini.
Setelah menonton beberapa film, Jongin merasa bosan. Ia bahkan menonton film hardcore seperti permainan lilin dan double penetration. Ia mimpi buruk setelah menonton itu. Seorang pemuda berteriak kesakitan, yang mana adalah dirinya sendiri. Ia lalu bangun dengan keadaan basah di celananya. Untuk menghilangkan rasa tidak nyamannya, Ia menonton lebih banyak film. Kemudian rasa itu perlahan menghilang, dan bahkan terkadang Ia berkomentar, "Cambukan itu tidak terlalu kejam, seharusnya diwarnai dengan percikan-percikan darah."
Setelah beberapa hari, film hardcore itu mulai membosankan. Jongin kemudian mulai memutar film dengan genre lain.
Seorang pemuda dan keledai muncul. Jongin menunggu dengan antusias pada pemuda itu. Dan pada akhirnya Ia melihat bahwa pemuda itu akan melakukan seks dengan keledai. Jongin refleks menekan mouse-nya untuk menghentikan film itu dan butuh waktu lama hingga Ia sadar dan menekan tombol x pada pinggir film untuk keluar. Lalu ia kembali memutar film softcore dan merasa bahwa Ia mulai menikmatinya.
"Permisi. Apakah Jongin tinggal disini?"
Suara yang familiar terdengar dari luar, jantung Jongin mulai bergemuruh. Bagaimana Ia tahu kalau aku disini? Jongin menyingkarkan komputer lalu buru-buru tiduran di kasurnya dan menutupnya dengan selimut.
Ibu Jongin tersenyum dan berkata, "Kim Jongin adalah anakku. Kau..."
Sehun masuk ke area rumah Jongin dan membawa barang-barangnya, "Saya adalah rekannya."
"Ohh," Ibu Jongin dengan sopan berkata, "Kalau begitu silahkan masuk, duduklah dan buat dirimu merasa nyaman."
Rumah Jongin adalah rumah tua yang sempit. Sehun harus menundukkan badannya saat masuk ke rumah untuk tidak membentur pintu. Didalam terdapat empat ruang yang tidak terlalu besar tapi bersih. Jongin hanya bisa tiduran dan mendengarkan percakapan itu dengan seksama.
"Dinikmati dulu minumnya, aku akan membangunkan Jongin." Ibu Jongin berkata dengan ramah. "Anak itu telah sakit beberapa hari ini, Ia terus berbaring seharian dan tidak keluar kamar."
"Tidak perlu dibangunkan," Sehun berkata. "Aku akan masuk dan melihatnya sebentar."
Jongin mendengar suara langkah kaki dan dengan cepat meraba dahinya. Setelah melakukan gosokan yang kasar di dahinya, tubuh Jongin mulai memanas.
Jongin jelas telah menantikan untuk bertemu dengan Sehun tapi Ia terus mengelak, "ada apa kau datang?"
"Aku datang untuk melihatmu." Sehun duduk disebelah kasur Jongin dan melihat Jongin.
Arah mata Jongin tepat pada selangkangan Sehun dan spontan berpikir dalam hati, jika benda itu masuk kedalam anus bukankah akan sampai pada pusar?!
"Bagaimana kau bisa sakit?" Sehun bertanya.
Jongin menjawab dalam hati, aku ketakutan karena bendamu yang sangat besar!
"Ibumu berkata bahwa kau telah tiduran seharian penuh, biar aku cek apa kau bau atau tidak." Kemudian Sehun merendahkan tubuhnya, membuka selimut Jongin dan mendekatkan kepalanya pada ceruk leher Jongin, "so smelly."
"Tidak mungkin." Jongin bangun dan mencium bajunya, "Aku mandi setiap hari."
Sehun menyandarkan dagunya dipundak Jongin dan tidak bisa menahan ketawa melihat muka serius Jongin.
Itu adalah pertama kalinya Ia mendapat senyuman cerah dari Sehun. Jongin belum bisa beradaptasi dengan itu dan tersadar bahwa seorang Sehun tidak perlu melakukan sesuatu untuk membuat orang-orang patuh padanya.
.
.
.
Jongin akhirnya bangun dari tempat tidur, mengganti pakaiannya dan pergi keluar.
"Ini adalah ladang keluargaku, kami menanam jagung sekarang dan akan matang dalam beberapa hari." Jongin kemudian memetik salah satu jagung, mengupas kulitnya lalu membelah menjadi dua. "Ini mungkin belum terlalu matang, tapi kau bisa mencobanya. Ini sangatlah manis." Lalu Jongin membawa potongan jagung itu mendekat ke mulut Sehun.
Sehun tidak memegang jagung itu, melainkan langsung memakannya dan terkejut bahwa jagung itu benar-benar manis. Sehun kemudian maju lagi dan menggigit tangan Jongin, "tanganmu tidak terasa manis." Sehun melakukan senyuman mengejek.
Jongin membanting potongan jagung itu, melihat arah lain dan pergi meninggalkan Sehun.
Sehun merangkul Jongin dari belakang dan mengarahkan kepala Jongin menghadapnya kemudian mengecup bibir Jongin dengan lembut. Jongin kemudian menghindar dari Sehun.
Sehun mendekatkan bibirnya ke telinga dan berbisik, "Ibumu tidak tahu bahwa kau berhenti bekerja?"
Jongin menatap Sehun dengan menantang, "Try it if you dare!"
Sehun menempelkan dahinya di dahi Jongin.
"Jika kau berani menghindari ciumanku, maka aku akan mengekspos rahasiamu!"
Jongin menelan ludah dengan gugup dan tidak mengatakan apapun.
Sehun mencium Jongin dengan brutal. Rasa jagung mendominasi ciuman itu. Aroma yang lembut membuat ciuman itu terasa romantis. Sehun membawa tangannya untuk meraba punggung Jongin. Membuat Jongin merasakan aliran darah yang berdesir di punggungnya.
Jongin tidak tahu apakah ini karena Ia telah menonton banyak film gay, tapi Ia merasa bahwa ciuman ini tidak perlu untuk dihindari.
Tangan Sehun kemudian mendarat di kedua bokong Jongin. Jongin berusaha untuk mendorong Sehun, ini adalah refleks yang dimiliki Jongin. Tapi tidak dipungkiri bahwa Jongin juga menerima ciuman itu.
.
.
.
TBC
.
.
.
Shtpnk's memo:
Halo halo :) Sudah bertahun-tahun cerita ini shtpnk tinggalkan. Karena mulai nganggur jadi shtpnk lanjutin aja. Mungkin ada banyak typo dan perbedaan arti dari novelnya mohon maklum karena mengartikan ke bahasa Indonesia juga cukup sulit untuk shtpnk. Banyak cerita yang berbeda juga karena jujur shtpnk udh lupa cerita-cerita di awal hehe
Tolong dukung shtpnk di cerita terbaru shtpnk yaa. Judulnya Kiss Me, Kill Me :)
