CHAPTER 11
Sudah gelap ketika Jongin dan Sehun kembali ke rumah Jongin. Ibu Jongin berkutat di dapur dan tersenyum pada Sehun.
"Makan malam sudah siap. Makanlah sebelum kau kembali."
Jongin tidak bisa membiarkan Sehun makan di rumahnya, Ia mengirim sinyal ke Sehun agar melakukan alasan apapun untuk pergi dari rumahnya. Tapi Sehun menerima undangan makan malam itu tanpa pikir panjang.
Jongin tiba-tiba teringat kejadian tahun lalu ketika Krystal seharusnya datang makan malam di rumahnya. Saat itu rumahnya ditata dengan sangat rapih, namun Krystal tidak datang. Muncul didepan rumahnya pun tidak. Hanya sampai gang dan pergi begitu saja.
"Ada yang bisa aku bantu?" Sehun bertanya pada Ibu Jongin.
Ibu Jongin buru-buru menolak. "Tidak perlu, tidak perlu. Kalian tunggulah di ruang tamu."
Sehun kembali ke ruang tamu dan melihat foto yang tergantung di dinding. Foto yang sudah lama, dominan foto hitam putih. Penglihatan Sehun jatuh tepat di foto yang memperlihatkan seorang bayi. Foto itu adalah Jongin yang berumur 100 hari, dengan mata hitam yang penuh dan melihat ke kamera seperti meminta sesuatu. Tatapan itu sukses membuat setiap orang akan jatuh cinta kepadanya.
"Kau hanya berumur tiga bulan, tapi bolamu sudah begitu besar?"
Jongin tersedak, "bisakah kau melihat yang lain?"
Sehun menjawab, "aku melihat benda besar itu dengan senang hati."
Jongin dipenuhi amarah dan memakan buah pear dengan satu kali gigitan.
Sehun menatap foto lain dari Jongin saat berumur sekitar dua tahun yang mendorong stroller bambu dengan hanya menggunakan celana dalam yang memperlihatkan kedua bokong Jongin dengan jelas. Begitu sintal dan padat, seperti mengundang untuk mencubitnya.
"Sepertinya split pants akan terlihat bagus ketika kau memakainya," goda Sehun.
Bagaimana Jongin tidak mengetahui apa itu split pants ketika Ia sudah melihat begitu banyak film gay. Jongin hanya bisa memaki Sehun. Sehun datang mendekat ke Jongin dan membawa tangannya ke bokong Jongin kemudian menamparnya. Jongin tidak mengira bokongnya akan dilecehkan Sehun.
.
.
.
Ketika makan malam, Ibu Jongin terus menaruh makanan di piring Sehun.
"Bisakan kau makan sayuran? Tidak ada yang bisa kami hidangkan selain sayuran."
Sehun berkata hal yang tidak pernah Ia katakan ke orang lain, "ini sangatlah enak."
Jongin duduk berseberangan dengan Sehun sehingga dapat melihat Sehun dengan jelas ketika Sehun memakan makanannya tanpa pilih-pilih. Jongin hanya bisa berpikir, sebenarnya pria ini tidak terlalu buruk...
"Kenapa kalian tidak makan daging?" Sehun bertanya pada Ibu Jongin.
Ibu Jongin tersenyum, "Aku punya penyakit, sehingga tidak bisa makan daging begitu banyak."
Sehun hanya mengangguk dan tidak mengatakan apa pun.
Setelah makan, Jongin membantu membersihkan meja makan. Ibu Jongin kemudian berkata, "rekanmu begitu baik, datang ke rumah dengan banyak barang-barang. Aku tidak pernah peduli dengan banyaknya vitamin dan hadiah-hadiah itu. Mereka terlalu mahal dan bagus."
Jongin melihat ke bawah dan mengintip. Olive oi, sesame oil, satu kotak telur ayam dan satu kotak telur bebek, buah-buahan, daging, udang, dan lain-lain. Semua barang yang tidak bisa Ibu Jongin beli. Lima tas itu bahkan lebih dari cukup untuk sebulan hidup.
Jika hadiah-hadiah ini diberikan oleh orang lain, Jongin tidak akan berpikir banyak. Tapi ini adalah Sehun. Seorang pria kaya. Provokasi psikologi yang diberikan Sehun terlalu rumit untuk diatasi Jongin.
"Anakku!" Ibu Jongin tiba-tiba mengingatkan, "jangan terlalu sering bergaul dengannya setelah ini."
Jongin terkejut, "kenapa? Bukankah Ibu menyukainya?"
"Tentu saja aku menyukainya," Ibu Jongin mendekati Jongin dan berbisik, "pikirkanlah. Jika kalian pergi bersama, siapa yang akan mempedulikanmu?"
Jongin menatap Ibunya takjub.
.
.
.
Setelah kepulangan Sehun, Jongin kembali ke klinik.
Baekhyun sedang membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang tapi wajahnya dipenuhi keterkejutan saat melihat Jongin baru saja datang. "Bagaimana keadaanmu?"
"Bagaimana menurutmu?" Jongin menjawab dengan gembira.
Tadi siang Sehun datang dan menginterogasi dirinya tentang keberadaan Jongin. Ia takut Sehun menemui Jongin dan membuat masalah dengannya, membuat Jongin kembali dalam keterpurukan yang lebih dalam. Siapa yang akan menyangka bahwa Jongin akan kembali secepat ini dengan kondisi yang membuatnya seperti orang lain?
"Dimana permen-permenku?" Suara Jongin dari dalam kamarnya.
"Pria Besar itu mengambilnya." Baekhyun menjawab dengan jujur.
"Dengan alasan apa dia berani mengambil barang-barangku?" Jongin risih.
Reaksi itu sudah Baekhyun duga, jadi ia membela dirinya. "Aku sudah memperingatinya dan memberitahu bahwa kau akan marah ketika kau kembali. Tapi Ia tidak peduli."
Jongin mengambil teleponnya dan menelepon Sehun.
"Siapa yang memberimu ijin untuk mengambil barangku?"
Suara kunyahan seperti mengunyah timun terdengar diseberang telepon. Jelas bahwa Sehun sedang makan dan terlalu sibuk menjawab Jongin.
"Kau tidak bisa membawa semuanya! Setidaknya sisakan beberapa untukku!"
Terdengar kunyahan lagi. Sehun kemudian menjawab ketika Jongin ingin menutup telepon.
"Pacarku berkata bahwa permen yang kau buat kemarin tidak bagus, jadi aku membawakan semua permen-permenmu untuk dia pilih sendiri."
Jongin dengan kesal menekan tombol merah di teleponnya. Dia meninju meja dihadapannya. "Guru! Berikan aku pakaian yang bagus dan mahal. Besok aku akan menaklukannya dan jika aku tidak berhasil, namaku bukan Kim lagi!" (Jongin masih bermimpi untuk menjadi seme)
.
.
.
Keesokan harinya, Jongin keluar dengan menggunakan pakaian yang bagus dan modis. Ia menggunakan topi baseball, jaket, ripped jeans dan datang ke kantor Sehun.
Jongin melihat Sehun keluar dengan langkah penuh karisma. Tidak disangka, Sehun langsung mengarah padanya dan tiba-tiba menggendong Jongin tepat di bahunya.
"Turunkan aku!"
Walau Jongin merasa marah, tapi tidak bisa dihindarkan bahwa Ia juga puas. Ia benar-benar jatuh dalam pesonaku? Rasa puas itu tidak bertahan lama ketika Jongin merasakan rasa sakit di kedua bolanya karena tertekan oleh pundak Sehun dan refleks memukul punggung Sehun dengan keras.
Sehun melangkah dengan gagah dan lebar.
"Berpakaian seperti ini, bukankah kau berharap aku akan melakukan ini?" Sehun kemudian memukul bokong Jongin tanpa menurunkannya.
Jongin meregangkan badannya dan meronta sekuat tenaga. Tangannya menjambak rambut Sehun. Kekerasan melawan kekerasan, mereka berdua penuh dengan amarah.
"Cobalah untuk memukulku lagi!" Sehun kemudian memukul dan meremas bokong Jongin.
Jongin kemudian menjambak rambut Sehun lagi. Semakin keras jambakan itu, semakin keras juga Sehun meremas bokongnya.
"Do it again!" Raut wajah Sehun berubah gelap. Ia belum pernah melihat seseorang dengan kepala batu seperti Jongin.
Jongin tidak menyerah, walau tangan dan bola-bolanya sakit Ia tetap tidak akan mau meminta kerelaan hati Sehun.
Awalnya Sehun masih ingin meremas bokong Jongin, tapi Ia mendengar Jongin meringis dan hatinya menjadi luluh. Seumur hidupnya, Ia tidak pernah merasakan hatinya yang sakit melihat seseorang tersakiti. Tapi ternyata hal ini terjadi pada seseorang yang Ia gendong dan akhirnya menurunkan Jongin.
"Aku akan cek apakah bolamu masih utuh." Sehun mengarahkan tangannya ke selangkangan Jongin dan refleks ditepis oleh Jongin.
Sehun kemudian membawa Jongin pada dekapannya. "Kenapa kau tidak menurut?" suara rendah Sehun mendominasi pendengaran Jongin. "Bukankah aku sudah memperingatimu?"
Jongin tidak mengatakan apapun, sama seperti tubuhnya yang menegang.
Sehun merebut tas yang dibawa Jongin dan mengeluarkan kimchi yang dibuat langsung oleh Ibu Jongin.
"Apa kau kesini hanya untuk menyerahkan ini padaku?" Sehun bertanya menggoda.
Jongin menjawab dengan malas, "Siapa bilang aku membawanya untukmu? Kembalikan!"
Sehun mengembalikan tas itu dan pergi dengan tempat makan berisi kimchi itu menuju lapangan bola basket di sebelah kantornya.
"Kemarilah atau kau akan mati."
Jongin refleks menggerakan kakinya, tapi masih dengan kemarahan. Ia menyeret kakinya mendekati Sehun.
Keduanya duduk bersebalahan. Dan kemudian telepon Sehun berbunyi. Jongin mendekatkan telinganya ke telepon Sehun dan mengetahui bahwa Krystal lah yang ada di seberang telepon.
"Apa kau lembur hari ini?" Tanya Krystal.
Sehun menjawab, "aku tidak lembur hari ini."
"Kalau begitu aku akan ke kantormu nanti."
"Aku..."
Perkataan Sehun belum selesai ketika Jongin bangun dan berjalan menjauh dari Sehun kemudian berbalik dan berlari ke arah Sehun. Jongin melempar tubuhnya ke arah Sehun kemudian duduk dipangkuan Sehun. Ia melempar telepon Sehun yang masih berada di telinga Sehun dengan dahinya.
"Ouch!" Jongin merasakan sakit didahinya karena terkena ujung telepon yang runcing.
Jongin kemudian bangun dan duduk disebelah Sehun.
Sehun mengambil teleponnya kembali, melihat bahwa layar teleponnya tidak terdapat keretakan dan dapat menyala dengan baik. Sehun kemudian duduk ke tempatnya semula.
Jongin kemudian bangun dan tiba-tiba jatuh. Kepalanya berakhir di lengan Sehun.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kepalaku. Aku merasa pusing. Aduh! Ouch ouch ouch, terlalu pusing, terlalu pusing. Aku tidak bisa melihat dengan jelas..."
Sehun tahu apa yang sedang dilakukan Jongin tapi tetap membiarkan Jongin. Sehun meletakkan teleponnya kemudian memeriksa dahi Jongin. Memberikan pijatan-pijatan lembut.
Saat Sehun memberikan pijatan, Jongin melingkarkan tangannya dan mengaitkan safety pin di celana Sehun yang tersambung dengan punya Jongin.
"Sudah lebih baik!"
Sehun memberikan Jongin pijatan-pijatan kecil sebelum menyudahinya.
Jongin tidak bergerak.
Sehun melihat Jongin tepat dimatanya. Yang bisa kupikirkan sekarang adalah aku ingin merobek bajumu, mengikatmu pada kasur dan bercinta all day, all night. Siapa yang suruh membuat gerakan yang seharusnya tidak kau lakukan? Berapa banyak yang harus kau rasakan saat aku menghukummu nanti?
Sehun kemudian berdiri dan merasa ada yang menarik celananya. Ia melihat ada rantai berwarna silver. Siapa yang berani mengaitkan safety pin di celananya? Tentu saja Jongin.
"Bagaimana melepaskan ini?" Sehun bertanya risih.
"Jangan dipegang!" Jongin menghentikan Sehun. "Celanaku mahal, lebih dari 20.000 won. Kau harus menggantinya jika rusak."
Jongin kemudian berdiri dan melihat celananya dengan khawatir. "Tch... sangat menyusahkan. Ini sangat sulit untuk dilepaskan dan akan meninggalkan robekan yang besar! Bagaimana kalau kita biarkan dulu dan pergi mencari toko baju lalu biarkan ini diurus dengan penjahit profesional?"
Tiba-tiba Sehun merangkul Jongin dan mereka berjalan sambil merangkul satu sama lain.
"Aku lapar." Kata Sehun. "Pacarku ingin..."
"Aku akan mentraktirmu!" Jongin memotong perkataan Sehun.
Sehun tersenyum, "Kau ingin mentraktirku apa?"
"Tokbeokki ekstra pedas?"
.
.
.
Di musim panas ini kebanyakan orang akan makan malam barbeque. Makan tokbeokki ekstra pedas bukanlah ide yang bagus.
Setelah selesai makan, baju Jongin dipenuhi dengan keringat. Ia kemudian mengangkat bajunya sampai ke dada dan mengipas-ngipas badannya sendiri. Perut dengan garis abs tipis terlihat dan menggoda untuk disentuh.
Tenggorokan Sehun serasa terbakar. "Turunkan bajumu." Sehun memperingati Jongin.
Jongin merasa kepanasan dan menghiraukan perintah Sehun.
"Aku bilang turunkan bajumu!" Sehun membentak.
Jongin tidak takut dan berkata, "Aku kepanasan!" Dan membuka bajunya lagi.
"Kau kepanasan?" Kedua mata Sehun tertuju pada Jongin.
Sehun kemudian menarik Jongin masuk ke dalam mobil. Sehun menyalakan AC hingga maksimum dan Jongin merasakan kesejukan menghampiri tubuhnya. Namun atmosfir dalam mobil sungguh berbeda dan mulai memanas. Sehun marah dan membuka baju Jongin dengan paksa. Nafas Sehun memburu.
"Karena kau kepanasan, aku akan menelanjangimu hingga kau merasakan dingin sampai kedalam."
"Don't touch me!" Jongin marah.
Sehun kemudian sadar, dibandingkan dengan nafsu yang menggebu, jantungnya berdegub kencang karena amarah. Jika Ia melakukan apa yang biasanya Ia lakukan di masa lalu, maka ketika Jongin memprovokasi dirinya saat di jalan tadi, harusnya Sehun merasa senang dan menarik Jongin untuk mempermalukan Jongin walau di tempat umum. Sehun marah, sangat marah, karena Jongin tidak peduli dengan image-nya dan memperlihatkan tubuhnya. Hal itu sukses membuat Sehun cemburu.
"Jangan berpakaian seperti ini lain kali. Kau mendengarku?" Sehun menasihati Jongin.
"Apa yang salah dengan ini?" Jongin bertanya tidak peduli.
"Apa yang kau pikir salah dengan pakaianmu? Berpakaian seperti ini saat jalan di tengah keramaian. Kau tidak khawatir orang akan melihatmu? Kau berani berlaku centil di depanku? Kau harus menutup dirimu seluruhnya ketika kita ada diluar!"
Jongin tidak mengerti kelakuan Sehun. Ia hanya mengambil sembarang pakaiannya dan sekarang dikatakan centil? Ia tidak boleh keluar menggunakan ripped jeans?
Sehun melihat Jongin yang masih menatapnya dan mendekat ke arah Jongin. "Siapa yang memberimu ijin menggunakan ripped jeans?"
"Apa yang salah dengan celanaku?" Jongin tidak menyerah. "Aku tidak memperlihatkan apapun."
"Pahamu terlihat dengan jelas dan kau bilang tidak memperlihatkan apapun?" Mata Sehun dipenuhi api membara. "Kau hanya perlu membuka celanamu seluruhnya saat akan bercinta denganku!" Sehun menarik turun celana Jongin.
Jongin marah dan menggenggam tangan Sehun dengan erat.
"Aku peringatkan! Celana ini cukup mahal, harganya beberapa puluh won!"
Tangan Sehun meraih tengkuk belakang Jongin dan mengarahkannya mendekat. Menatap Jongin dengan lekat dan kemudian mencium Jongin dengan intens.
Jongin sudah mulai terbiasa ketika dirinya dicium Sehun.
Jongin berpikir bahwa intim adalah kunci dari hubungan ini, tapi sekarang berbeda. Lidah Sehun sangatlah luar biasa dan mendominasi mulut Jongin dan berhasil membuatnya menjadi gila. Ciuman ini menjadi candu baginya, sangat intens dan membuatnya menginginkan lagi ketika ciuman ini berakhir.
Tangan Sehun turun ke area pinggang hingga paha Jongin dan mengelus-elus lembut di daerah itu.
Jongin menegakkan tubuhnya dan mendorong tangan Sehun.
"Apa kau merasakan sesuatu?" Tanya Sehun.
Jongin menjawab dengan kaku, "aku belum terbiasa dengan ini."
"Lalu apa yang biasanya kau lakukan?" Nafas Sehun memburu di telinga Jongin. "Apa kau biasanya langsung bercinta? Kalau begitu lain kali jangan menggunakan ripped jeans. Gunakan lah split pants, itu akan membuatku mudah!"
Tanpa memberi Jongin persiapan, tangan Sehun tiba-tiba memaksa untuk membuka celana Jongin. Sehun kemudian memasukkan tangannya ke dalam celana Jongin, "berulang kali kau mendatangiku, menggodaku, dan kemudian kau tidak membiarkanku untuk menyentuhmu. Permainan apa yang sedang kau lakukan?"
Untuk sesaat, Jongin tidak bisa mennjawab Sehun. "Kau bukan pacarku. Kenapa aku harus membiarkanmu untuk menyentuhku?"
Untuk sesaat, Jongin berhasil.
Raut wajah Sehun berubah. Ia kemudian mengeluarkan tangannya dari celana Jongin kemudian menatap lekat-lekat mata Jongin.
"Kkamjong."
Jongin dengan enggan menggumam.
"Ikut aku ke rumah," kata Sehun. "Aku sudah lama tidak tidur dengan orang lain."
Jongin memundurkan kepalanya. "I don't want."
Jika kau tidak putus dengan Krystal, aku tidak akan pergi!
"All right," jawab Sehun.
Jongin menggertakkan giginya. Tentu saja, seorang pemarah itu plin-plan. Kau menjadi serakah! Krystal bukanlah satu-satunya yang buta. Kalian berdua sudah buta! Jongin kemudian membuka pintu mobil dan keluar.
Pada akhirnya, keadaan tidak terselesaikan. Sehun mengikuti Jongin dari belakang sampai ke klinik.
"Aku seharusnya bersama pacarku saat bersamamu tadi, jadi Ia akan marah saat aku kembali. Buatkan permen bentuk mawar, jadi aku bisa berdamai dengannya." Kata Sehun.
Jongin menyeringai dan 20 menit kemudian sudah menyelesaikan permen karakternya kemudian menyerahkannya ke Sehun.
"Aku tidak bisa membuat bunga mawar. Kau harus puas dengan bunga krisan ini."
.
.
.
Malamnya, Sehun sedang berbaring di atas kasur. Memikirkan Jongin dan perasaannya. Sedangkan Jongin duduk di kasur membayangkan kejadian di mobil tadi.
Dasar mesum... Jongin tidak habis pikir.
Kemudian orang yang Ia pikirkan muncul dilayar teleponnya.
"Halo?" Jongin menjawab telepon itu.
"Kau sudah tidur?" Tanya Sehun.
Jongin menguap. "Aku bersiap untuk tidur. Kau?"
"Aku bersiap untuk bercinta."
Kepala Jongin seperti terhantam batu besar.
"Kenapa kau meneleponku ketika sedang bersiap untuk bercinta?"
Sehun menghembuskan nafasnya, "Aku ingin kau memberiku dukungan!"
"Okay, no problem." Jongin mengatupkan giginya. "Dengarkan aku wahai perempuan disebelahmu! Pacarmu bukanlah orang yang baik! Ia telah meremas bokong yang indah dan selangkangan laki-laki lain. Ia akan pergi bercinta dengan orang lain ketika selesai bercinta denganmu. Bahkan gangster akan pergi ketika melihatnya..."
Jongin kemudian dengan kasar mematikan teleponnya.
Di lain sisi, Sehun sangat puas akan hal itu dan kemudian tidur.
.
.
.
Keesokan harinya, Krystal datang ke kantor Sehun.
Dalam perjalanan pulang, Krystal memalingkan tubuhnya ke arah Sehun dan bertanya, "Kenapa kau setuju untuk kukunjungi di kantor hari ini?"
Sehun mengendarai mobilnya dengan pelan, ia melihat sosok Jongin dari kaca spion yang semakin lama semakin mengecil kemudian menghilang ketika Sehun harus berbelok di tikungan.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Krystal benar-benar tidak mengerti sikap Sehun. "Kau membolehkan aku untuk datang menemuimu hanya untuk mengantarku pulang?"
Sehun memainkan jarinya di kemudi. "Kau tinggal jauh dari sini. Akhir-akhir ini banyak gangster yang berkeliaran. Aku tidak akan membiarkanmu jalan sendirian."
Hati Krystal berdebar, "gangster akan bersembunyi ketika melihat kau bersamaku."
Sehun menghentikan permainan jarinya dan berbalik menatap Krystal.
Krystal merasa Ia telah melakukan kesalahan dalam perkataanya, kemudian bertanya, "kenapa? Apa aku seharusnya tidak membandingkanmu dengan gangster? Dari semua orang di Korea, dari anak kecil sampai orang tua, tidak akan ada orang yang lebih licik darimu. Terkadang aku berpikir, berapa banyak orang yang telah kau permainkan? Berapa banyak gaya seks yang kau gunakan... Aku merinding hanya dengan membayangkannya."
Sehun membalikkan kepalanya menatap jalan. "Membayangkannya membuatmu horny?"
Krystal merona dan memukul manja tangan Sehun. "Kau nakal!"
Sehun mendengus dan menyalakan rokoknya.
Krystal kemudian membetulkan posisi duduknya menghadap Sehun dengan tatapan menggota ia berkata, "aku tidak ingin pulang ke rumah. Aku ingin ke rumahmu."
"Aku ada kerjaan malam ini."
"Kerjaanmu banyak akhir-akhir ini. Kau tidak punya waktu luang untukku."
Sehun membuka dashboard mobilnya, mengambil sebuah kotak dan menyerahkannya pada Krystal. Didalamnya terdapat sex toys yang selalu Ia bawa untuk melakukan seks di dalam mobil saat Ia ingin.
"Bawa ini dan pakailah dalam beberapa hari," jawab Sehun santai.
Krystal mendengus, "aku bisa ketagihan menggunakan ini dan ketika balik ke kamu tidak akan membuatku puas."
"Denganku kau tidak perlu memikirkannya."
"Baiklah kalau begitu."
Krystal cemberut, tapi di dalam hatinya Ia merasa senang ketika pacarnya mengatakan hal itu.
.
.
.
Seperti yang Sehun duga, Jongin adalah anak yang keras kepala. Setelah melihat Sehun mengantar Krystal pulang kemarin, Jongin tidak lagi main bola basket dan langsung menuju tempat parkir. Dengan berani ia bersandar di mobil Sehun dan merokok.
Melihat Sehun dari kejauhan membuat Jongin membuang rokoknya dan menginjaknya dengan kaki.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sehun.
Jongin mengedarkan pandangannya, "nothing. Hanya melihat mobilmu."
Sehun langsung membuka mobil dan masuk kedalamnya.
Jongin memajukan tubuhnya dan menundukkan tubuhnya mendekat ke kaca Sehun, tatapan mata hitamnya mengunci Sehun.
"Aku akan menjual ular-ularku dan membeli mobil. Kapan kau membeli mobil ini? Berapa harganya?"
"Aku membelinya tahun lalu. Totalnya kurang lebih 60.000.000 won." Sehun mengatakan yang sejujurnya.
Jongin menyentuh setir kemudi Sehun dan perlahan mengelusnya. "Bisakah kau mennjualnya padaku dengan harga 600.000 won?"
Sehun menggenggam tangan Jongin dan berkata, "Aku akan menjualnya jika kau menyerahkan dirimu padaku."
Jongin menaikkan alisnya, "biarkan aku mencobanya."
Jongin sudah menaikki mobil ini sekitar sepuluh kali dan tiba-tiba hari ini ia ingin mencobanya. Bahkan seorang idiot akan tahu bahwa Jongin memiliki motif tersembunyi.
Didalam mobil, Jongin pura-pura memperhatikan interior mobil. Mengamatinya sendiri tidaklah menarik. Ia kemudian bertanya pada Sehun, "Apakah bisa aku mengetes mobil ini?"
"Apapun bisa kau lakukan."
Sebagai hasilnya, Jongin melakukan tes kemudi menuju rumah Sehun.
"Okay. Tidaklah buruk."
Sehun kemudian berkata, "akan kuantar kau pulang."
Jongin buru-buru menolak, "tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri ke rumah."
"Aku mungkin akan bertemu pacarku saat mengantarmu pulang. Naiklah."
Pria ini benar-benar! Jongin berdeham, "aku sedikit haus. Bagaimana kalau kita masuk dan minum sebelum kita pergi?"
Sehun tidak menjawab dan hanya menatap Jongin.
Jongin kemudian menatap tepat kearah Sehun.
Setelah beberapa saat, Sehun menarik Jongin menjauh dari mobil.
.
.
.
TBC
.
.
.
