CHAPTER 12

Telepon Sehun berbunyi, Jongin mengambilnya dan membanting telepon itu.

Kemudian Jongin mendorong dada Sehun sampai ke pintu dan dengan agresif mencium Sehun. Ini adalah pertama kalinya Jongin melakukan hal gila seperti ini. Jongin sendiri tidak tahu kenapa Ia kehilangan kontrol saat ini.

Melihat kelakuan Jongin, Sehun tahu bahwa Jongin merasa gelisah.

Sehun menghentikan ciuman mereka dan mencubit gemas pipi Jongin. "Kau benar-benar seperti anak keledai."

"Aku seperti keledai?" Jongin tertawa. "Aku tidak berani mencuri panggilanmu."

Sehun menaikkan alisnya. "Kalau begitu katakanlah kenapa aku adalah keledai?"

"Penismu sama seperti penis keledai." Jawab Jongin sangat jujur.

Sehun tertawa. Penis keledai... Sehun kemudian mengambil tangan Jongin dan membawanya tepat pada selangkangan Sehun. Dengan tatapan mengintimidasi, Sehun menatap Jongin.

"Kau bicara tidak masuk akal lagi. Apa kau benar-benar berpikir bahwa aku akan memasukkan benda ini di dalam bokongmu?"

Jongin mengalihkan pandangannya. "Aku lapar."

Sehun menatap meja dan melihat bahwa Ia tidak memiliki makanan apapun. Sehun kemudian menepuk pundak Jongin, "Kau tunggulah disini. Aku akan membeli snack."

Walau sudah kedua kalinya Jongin di rumah Sehun, Jongin tetap merasa bahwa rumah ini aneh. Hanya ada dua kasur dan dinding. Ia mencari jejak Krystal didalamnya tapi tidak menemukan apapun. Rumah ini sangat steril, seperti memiliki aura dingin didalamnya. Tetapi ada kulkas yang menurutnya pasti menyimpan minuman dingin.

Jongin kemudian membuka kulkas dan isinya berhasil membuatnya terpaku.

Didalam tidak ada minuman dingin maupun ice cream, hanya ada satu kotak dengan permen karakter. Diantaranya ada pemberian dari Jongin dan sisanya adalah perampasan paksa dari Jongin. Mungkin Sehun berpikir permen ini akan meleleh diudara yang hangat dan akhirnya memiliki ide untuk membeli kulkas untuk menyimpannya.

Pada akhirnya Sehun tidak memberikan permen itu pada Krystal.

Ular kobra, bentuk kotoran, dan bunga krisan tersimpan juga di kulkas. Semuanya tertata rapih dalam kotak.

Jongin menghitungnya dari belakang dan dari depan, tidak ada satupun yang hilang. Semua masih lengkap. Secara tiba-tiba perasaan yang tidak biasa memenuhi dadanya dan tanpa diketahui Jongin, perasaan itu membuatnya tersenyum.

Sehun berdiri di pintu dan melihat Jongin sedang menghitung permen itu satu persatu dengan serius. Ketika Jongin tahu bahwa tidak ada yang hilang dan kemudian tersenyum. Kemudian Jongin menghitung lagi dari arah yang berbeda. Cara Jongin menghitung dan memberikan kesan puas sangatlah candu bagi Sehun. Siapa yang menyangka Sehun tidak butuh mobil, tidak butuh status, tidak butuh uang, tidak butuh penis yang besar, semua yang Ia butuhkan hanya beberapa permen karakter yang lebih baik disimpan daripada diberikan ke orang lain.

Melihat bayangan Sehun, Jongin tiba-tiba menghilangkan senyumnya dan menggantinya dengan ekspresi yang berbeda 180 derajat.

"Apa kau membeli snack?"

Dibandingkan traktiran Jongin tentang teokkboki yang lalu, Sehun telah memperlakukan Jongin siang dan malam. Seperti halnya akan pergi berkemah, Sehun seperti membeli semua isi supermarket, semua jenis minuman, snack, buah, makanan siap saji, segala makanan yang terbuat dari daging, makanan vegetarian, makanan dari restauran, bahkan makanan mendasar untuk berjaga-jaga kalau Jongin adalah orang yang pemilih soal makanan.

Dada Jongin seperti terbakar, Ia bingung harus mulai dari mana.

"Tahun ini aku ke supermarket untuk ketiga kalinya. Pertama karena aku melihat seseorang dengan lubang di pakaian dalamnya dan kedua saat aku berkunjung ke rumah Ibumu. Yang ketiga adalah sekarang." Sehun berkata tanpa bermaksud untuk pamer bahwa dirinya memiliki orang-orang yang akan mengurus kebutuhannya sehari-hari dan hampir tidak pernah menggunakan uangnya untuk belanja sendiri.

Aku tidak mendengar apapun, tidak dengar apapun... Jongin berusaha menghipnotis dirinya sendiri dan mulai makan makanan yang dibawa Sehun tanpa berkata apapun.

.

.

.

Setelah selesai makan dan minum sampai perutnya hampir meledak, Sehun pergi untuk membersihkan dirinya.

Jongin dengan canggung menunggunya diluar. Jongin kemudian duduk dan melihat kearah pintu, bertanya-tanya dalam hati, haruskah aku pergi? Tepat setelah itu, disebelah tangan Jongin, telepon Sehun berbunyi.

Sangat aneh melihat Sehun tidak memasukkan Krystal didaftar telepon miliknya. Nomor Krystal muncul begitu saja tanpa nama, tapi Jongin bisa mengenali nomor itu hanya dengan sekali lihat. Dengan keinginan entah dari mana, Jongin mengangkat telepon itu.

"Suamiku..."

Dan hanya itu, satu kata sederhana keluar dari mantan pacar tujuh tahunnya.

Dalam tujuh tahun hubungan percintaan itu, Krystal hanya memberikan panggilan 'Jongin Gendut'. Dan sekarang dengan suara manja, muka dua, motif tersembunyi memanggil seorang pria dengan kata-kata 'suami'.

Setelah itu Sehun keluar, telanjang.

"Siapa yang telepon?"

Jongin tertegun, tubuh tinggi dan terbentuk seperti pahatan patung Yunani milik Sehun berdiri tepat didepannya. Dengan tubuh segitiga yang sempurna, otot yang terbentuk dan wajah yang tampan dengan aura maskulin, sangat sempurna. Untuk sesaat yang bisa dipikirkan Jongin hanyalah rasa iri.

Jongin refleks menyentuh perut Sehun, "Bagaimana aku membuat ini?"

Hanya dengan sentuhan itu, Sehun mengunci Jongin di kasur. Tangan Sehun menyentuh seluruh bagian belakang bawah Jongin dan berhasil membuat Jongin merinding.

"Apa kau sensitif disini?" Tanya Sehun.

Jongin dengan percaya diri menjawab, "Tidak. Aku selalu bermain pada bagian itu semenjak aku kecil, jadi aku tidak takut."

Jongin tidak berbohong. Semenjak kecil Ia memang tidak bisa merasakan geli. Anak-anak yang lain akan berguling-guling di atas kasur karena geli, sedangkan Ia bisa berdiam diri seperti patung tanpa efek apapun.

Sehun menganggap itu sebagai tantangan dan mencoba membelai Jongin lagi dengan sentuhan lembut. Tubuh Jongin memberikan respon seperti tersengat listrik. Sentuhan itu membuat bahu Jongin bergetar dan membuatnya kehilangan kata-kata.

Fuck! Bagaimana ini bisa terjadi? Jongin hanya bisa berpikir keras di dalam hati.

Sehun menyentuh semua bagian tubuh yang Jongin pikir tidak penting. Telinga, leher, pinggang, Adam's apple. Semua bagian yang Ia pikir tidak akan memberikan efek apapun terhadapnya. Ada apa dengan sekarang? Hanya dengan tangan, kenapa bisa membuatku menjadi gila?

"Apa kau meracuniku?!" Jongin bertanya ketus.

Sehun tertawa terbahak-bahak. "Jangan membuat alasan terhadap pikiran cabulmu."

"Hei, siapa yang kau panggil cabul? Tunggu sebentar, kita..."

Mulut Sehun mengarah pada telinga Jongin, dengan lembut memberikan gigitan-gigitan kecil dan menghisapnya. Lidahnya mengeksplor setiap bentuk telinga Jongin, lembut dan perlahan. Jongin terkejut, satu-satunya yang bisa Ia lakukan hanya terkejut.

Menakutkan... Bagaimana mungkin aku merasa seperti ini?

Sehun kemudian mencium Jongin. Tangannya meraih baju Jongin dan meraba perut hingga sampai pada kedua puting Jongin.

Tubuh Jongin dipenuhi keringat, semua otot-ototnya menegang. Sehun kemudian menghentikan aksinya.

"Apa yang terjadi?"

Jongin terengah, "Itu sangatlah keren."

Sehun tersenyum, "Seperti ini?"

Sehun membuka baju Jongin kemudian mencium dada kiri Jongin. Dengan perlahan, menggunakan lidahnya memutar di area puting Jongin kemudian memberikan gigitan-gigitan pada putingnya. Dengan irama yang mengalun lembut dari napas-napas terengah milik Jongin, Sehun kemudian mulai memberikan gigitan-gigitan yang lebih dalam. Menghisap puting Jongin.

Kaki Jongin refleks mengunci pinggang Sehun. Dia menahan erangannya.

"Jangan bermain seperti ini denganku."

Sehun tidak mengindahkan Jongin. Setelah selesai pada dada kiri Jongin, Ia kemudian berpindah pada dada sisi lainnya.

Aku ingin mati... Jongin tenggelam dalam nikmat, matanya penuh dengan gairah. Ia frustasi ingin mengeluarkan cairan kenikmatannya.

"Sentuh itu," Jongin tanpa sadar berkata.

Sehun pura-pura tidak tahu, "Dimana?"

"Disitu."

"Dimana?"

"Disitu."

"Dimana?"

"...!"

Tangan Sehun menyentuh celana Jongin, meraba bagian dalam paha Jongin yang menjadi sensitif. Ia tertawa meremehkan dan sekali lagi bertanya, "Dimana?"

Ditengah-tengah nafasnya, Jongin menjawab sekuat tenaga. [1] "Pee pee."

Jongin membiarkan tangan Sehun masuk kedalam celananya, melewati bulu-bulu halus dan kemudian menggenggam penis miliknya. Sehun memberikan pijatan-pijatan halus hingga penis Jongin ereksi dengan sempurna. Sehun kemudian melihat penis Jongin. Ini tidaklah kecil!

Bentuk penis Jongin sangatlah sempurna dengan kepala penis yang memerah, seperti yang diinginkan Sehun. Sehun kemudian menurunkan celana Jongin sehingga bisa melihat dengan bebas area privat Jongin.

Tatapan Sehun membuat Jongin tidak nyaman. Jongin berusaha menutupi area privatnya.

"Apa yang kau lihat?"

Sehun dengan kasar menyingkirkan tangan Jongin dan mengunci di atas kasur. Kemudian membawa tangannya untuk kembali melakukan pijatan-pijatan di penis Jongin. Sehun fokus bermain didaerah kepala penis milik Jongin. Memutarnya dan mengelusnya perlahan. Kemudian turun kearah bola-bola Jongin, seperti yang telah ia pikirkan bahwa bola Jongin memiliki ukuran yang besar. Sehun telah menunggu kesempatan ini sejak lama.

Tubuh Jongin seperti tersengat listrik, Ia belum pernah mendapatkan perlakuan seperti ini sebelumnya. Ia tidak tahu bahwa masturbasi bisa terlihat sangat keren seperti ini.

Dalam lima menit, Jongin menahan tangan Sehun. Ia tidak mau klimaks di depan Sehun.

Dilain sisi, Sehun tidak menerima penolakan. Tangannya terus melakukan pijatan-pijatan di penis Jongin.

Jongin benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Mengatupkan kedua kakinya dan membalikkan tubuhnya. Menyembunyikan penisnya dari Sehun.

Sehun terkejut. Kemudian membalikkan tubuh Jongin agar kembali menghadapnya, segera memijat penis Jongin lagi. Tangan satunya memutar bola-bola milik Jongin. Jongin tanpa sadar membuka kedua kakinya dan memudahkan Sehun untuk melanjutkan aksinya.

"Aku ingin mati..."

Jongin tidak ingin terbawa nikmat, ia berkonsentrasi pada nafasnya. Tangan Sehun membawakan kenikmatan yang tidak bisa ia pungkiri. Gelombang kenikmatan itu terus menggoda Jongin, membuatnya tidak berdaya. Membuat Jongin menggila.

Melihat Jongin frustasi, Sehun memelankan pijatan-pijatanya di penis Jongin. Tanpa sadar, Jongin menggerakan tubuhnya naik turun membuat pijatan-pijatan sendiri pada tangan Sehun. Kesabaran Jongin sudah habis. Sehun mengalihkan fokusnya pada wajah Jongin, Ia ingin Jongin klimaks dengan perlahan dan melihat ekspresi seksi yang diciptakan Jongin.

Tidak lama, cairan putih keluar dari penis Jongin. Leher Jongin menegang, pembuluh darah Jongin terlihat jelas disana dan keringat Jongin membuatnya terlihat sangat seksi.

Sehun tidak melepaskan penis Jongin, Ia malah melanjutkan memberikan pijatan-pijatan. Dengan getaran-getaran di pinggul Jongin, cairan putih itu kembali keluar untuk kedua kalinya.

Untuk yang ketiga kali dan keempat kalinya... Setelah klimaks, tubuh Jongin bergetar penuh dan erangannya berubah menjadi desahan yang sensual.

"Ahhh..."

Pada akhirnya, Sehun menggunakan dua tangannya untuk memberikan kenikmatan pada Jongin. Cairan kenikmatan itu begitu banyak dan mengalir memenuhi kasur dan mengalir turun sampai bokong Jongin.

"Cairanmu begitu banyak." Sehun membawa tangannya dihadapan Jongin.

Jongin dengan tatapan kosongnya melihat tangan Sehun sesaat lalu kembali terkulai lemas. Penisnya berkedut dan masih berdiri dengan sempurna.

Ini diluar ekspektasi Sehun. Dengan senang Sehun meraih leher Jongin dan mengejek, "Okay, ah, a shooting gun is good, but it's even better when it's a machine gun."

Ketika nafsu seorang pria terlepaskan, maka raut wajah puas akan muncul dan berganti dengan nafsu yang lebih liar. Jongin tidak pernah merasakan kenikmatan ini dan memikirkannya terus. Ini benar-benar nafsu dan membuat gairahnya memuncak. Dihadapanya berdiri makhluk yang sempurna dengan otot dan perut terpahat rapih, wajah tampan, aura maskulin, bongkahan bokong yang padat, dan ekspresi yang membuat setiap orang ingin melakukan seks dengannya...

Tangan Jongin meraih Sehun.

"Masih menginginkannya lagi?" Sehun tertawa.

Sehun merasa bokongnya dicubit. Mata Jongin kehilangan fokus diubah menjadi gairah. Sebuah jari yang berani mengeksplor bokong Sehun dan kemudian sampai pada anusnya. Meraba anusnya berulang kali.

Ini pertama kalinya ada orang yang berani meraih anus Sehun.

Kau berani bermain dengan anusku? Apa kau bosan untuk hidup?

"Let me fuck you." Ujar Jongin.

Pupil mata Sehun membesar, tidak percaya dengan pendengarannya. "Apa yang kau katakan?"

"Hanya karena kau sudah meniduri banyak orang hingga kau tidak akan melewatkanku, dan aku belum pernah melakukannya dengan pria. Biarkan aku yang mengambil alih." Suara Jongin terdengar serak.

"Kau – mengambil – alih – denganku?"

Setiap perkatan Sehun terdengar seperti gema di telinga Jongin.

Jongin menjawab tanpa maksud bercanda, "Bokongmu terlihat sangat bagus untukku, jadi seharusnya itu bukan menjadi masalah. Aku katakan yang sejujurnya, kau pria pertama yang sangat kuinginkan untuk melakukan ini. Jangan mengecewakanku."

Setelah mendengar permintaan Jongin, yang terlintas diotak Sehun hanya dua kata – mencari mati.

Jongin bisa melihat perubahan Sehun, seperti ada gumpalan awan hitam sebelum badai terjadi dan membuat Jongin sulit bernapas.

"Kau terlihat tidak senang. Kalau begitu, lupakan." Kata Jongin.

Walaupun Jongin adalah seekor domba yang sedang berada di mulut macan, Ia masih bisa menggerakan mulutnya, hari ini aku dalam mood untuk membiarkanmu pergi. Hanya Jongin yang berani melakukan ini, entah itu bisa dikatakan berani atau bodoh.

Sehun mencengkeram kedua tangan Jongin dan menguncinya di belakang. Tangan besar Sehun, mulai mencengkeram lebih kasar, membuat Jongin sulit bergerak, penuh kekuatan dan paksaan.

Jongin dengan sekuat tenaga menegakkan kepalanya.

Sehun dengan paksa menekan salah satu kaki Jongin hingga tertekuk kebelakang pinggangnya. Tangan satunya meraih laci disebelah kasur dan mengambil sebotol lubricate oil.

Aku tahu ini. Aku tahu ini... Pikiran Jongin membludak seperti bom. Setelah menonton banyak film gay, bagaimana mungkin aku tidak tahu itu! Raut wajah Jongin berubah menjadi gelap seketika. Aku harus berputar, aku harus ambil alih. Aku tidak akan membiarkan dia melakukan ini!

"Ah – aku tidak akan menyerah tanpa perlawanan!" Seru Jongin.

Jongin mencoba berputar dan berhasil berdiri sebelum kemudian kembali dijatuhkan oleh Sehun, berputar lagi dan dijatuhkan lagi, semua terulang secara konstan. Mata Sehun sudah memerah, seperti darah.

"Aku akan membelahmu menjadi dua pada hari ini!"

Jongin menolehkan kepalanya dan teriak, "Jangan mengolesi sesuatu di anusku!"

Kau tidak membutuhkannya? Botol itu terjatuh di lantai dan menumpahkan seluruh isinya. Sesuatu yang keras langsung menusuk anus Jongin, menusuk terus menerus pada dinding yang kering dan Jongin berteriak kesakitan. Tangan Sehun berhenti. Apa dia benar-benar belum melakukannya? Jongin dengan instingnya membebaskan diri dari Sehun.

Jika kau ingin menyentuh, ya sentuhlah. Jika ingin bercinta, bercintalah. Okay! Tapi kita harus tahu kesepakatan diantara kita!

"Jika kau menusukku sekarang, maka dari sekarang kita akan jadi partner seks. Ketika kau merasa menginginkanku, maka kita akan bersama jika aku menginginkannya juga."

Sehun menunjukkan jarinya yang tadi memasuki anus Jongin, "Kau berani bicara tentang keadaan?"

Jongin terpejam, "Jangan terlalu dianggap serius."

Setelah selesai berbicara, tidak lama setelahnya sebuah angin topan menghantam bokong Jongin, telapak tangan terus menghantamnya seperti air hujan yang menetes dengan deras. Kau pikir kau siapa, menunjukkan bokong sintalmu di ranjangku? Kau pikir kau siapa, memberikan aku kimchi seenaknya? Kau melihat beberapa permen karakter yang ada di kulkas, kau pikir kau siapa, berperilaku sangat puas dengan dirimu seperti itu? Bukankah kau hanya mencari masalah? Plak, plak, plak! Bokong Jongin memerah dan mulai membengkak. Hanya ada rasa benci di hatiku.

Jongin meringis kesakitan, "Okay, kau membuatnya jelas, ah! Kenapa kau memukulku, hah?"

Plak! Tamparan lagi.

"Pindahlah ke ranjang lainnya!" Sehun memerintah.

Jongin menurut dan pindah ke ranjang satunya, memahami betul keadaannya sekarang, tapi godaan untuk menambah masalah sangat tinggi.

"Hei, akan menjadi spesial jika kita menjadi seks partner! Kau tetap bisa bercinta dengan pacarmu seperti biasa, dan ketika kau memiliki waktu luang hubungi aku untuk mendatangimu, kemudian kita bisa melakukannya. Keren tidak?"

"..."

Jongin melihat Sehun sekali lagi. "Aku ingin menjadi partner seks mu. Ayolah! Come fuck me, okay?"

Sehun menatap Jongin dengan menyeramkan. "Tidakkah kau takut saat meyakinkanku?"

Jongin terdiam dan kembali mengalihkan pandangannya.

Tidak lama kemudian terdengar bunyi seperti selimut yang dihempaskan.

Jongin mengintip pergerakan Sehun di ranjang sebelahnya. Adegan didepannya mampu membuat Jongin merasa panas. Sehun bersandar pada kepala ranjang. Peluh keringat menghiasi wajah Sehun sampai pada dadanya. Monster yang ada diantara kakinya berdiri dengan tegak, tebal dan keras. Jongin tidak tahu sudah berapa banyak orang yang mengerang, berteriak meminta lebih pada Sehun.

Banyak orang yang datang pada Sehun seperti sepasang sepatu sekali pakai yang mudah untuk diganti-ganti, namun pandangan mereka tetap sama terhadap Sehun, tatapan memuja.

"Alihkan pandanganmu!" Perintah Sehun.

Terakhir kali, Sehun memaksa Jongin untuk melihatnya saat masturbasi dan mengejek Jongin. Sehun takut tidak akan bisa mengontrol dirinya jika Jongin melihatnya lagi. Dalam pikirannya, Sehun membayangkan menusuk Jongin berulang kali, bercinta sampai tidak mengenal hari esok. Pikirannya penuh fantasi.

Sehun tidak mengerti, bagaimana sosok idiot seperti Jongin mampu merusak pikirannya. Menusuk anusnya sampai berdarah, merombak-rombak isi perut Jongin dengan kenikmatan, mengeringkan tenggorokan Jongin karena terus meneriakkan namanya... Bukankah itu yang seharusnya Ia lakukan? Bagaimana bisa Ia merubah kepribadiannya?

Sehun merasa frustasi. Ia menggerakkan tangannya dengan kasar sampai membuatnya ingin klimaks.

Jongin menatap dinding putih dihadapannya, Ia benar-benar menginginkan untuk bersamaku?

Jongin merasa gelisah dan memutar tubuhnya.

"Aku akan membantumu."

"Jangan terlalu naif." Sehun membalasnya.

Jongin sudah duduk di pinggir ranjang.

"Kau tidak perlu khawatir. Aku ingin melakukannya. Aku akan membantumu untuk masturbasi dan tidak akan menjadi partner seksmu."

Sehun bergumam dengan suara berat. Holy shit! Jangan hiraukan aku! Jangan melihatku! Yang aku inginkan hanya bersetubuh denganmu. Dengan kau berada didekatku, apa kau ingin mati?

"Mari jangan bahas tentang seks lagi." Tiba-tiba Jongin bangun dan berbalik membelakangi Sehun.

Yang dilakukan Jongin adalah insting seorang straight. Ia berpikir bahwa penis adalah hal utama dalam kenikmatan, namun Ia secara gamblang memperlihatkan bokongnya pada Sehun yang membuat Sehun menggila.

"Duduk yang benar!" Sehun memperingati.

Jongin menunjukkan jari tengahnya. "Jangan membujukku, aku baik-baik saja!"

Sehun menahan desahannya dan klimaks.

.

.

.

Malam harinya, Jongin terbangun dan pergi ke toilet. Berjalan dalam gelap, lalu menaiki ranjang Sehun.

Jongin benar-benar tidak memiliki maksud apapun. Ia benar-benar kebingungan dan datang ke ranjang yang salah.

Sehun refleks membuka matanya.

Lihatlah bokong besar yang kau arahkan padaku. Kau begitu mengantuk dan melempar badanmu di ranjangku? Tanpa aba-aba, penis Sehun kembali ereksi. Sepanjang Sehun bisa mengontrol detak jantungnya, penisnya akan kembali seperti semula.

Jongin menggumamkan sesuatu namun badannya tidak bergerak.

"Lihatlah ini, Pak!" Sebuah suara keluar dari mulut Jongin kemudian kembali mendengkur keras.

Siapapun tahu bahwa Jongin bermimpi sedang menjual permen karakter buatannya. Jongin tidak tahu bahwa aksinya itu mampu membuat jantung Sehun berdegub lebih kencang.

Malam itu, Sehun menahan penisnya yang mengeras.

Menendangnya dari kasur? Sehun tidak kuat hati melakukannya. Memeluknya? Itu tidak akan mungkin terjadi. Ia tidak akan menyentuh sesuatu yang tidak bisa disentuh dan tidak akan melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat. Pada akhirnya, Sehun hanya bisa melihat Tao didalam kaca yang juga melihatnya dengan mata besarnya.

Ia telah merebut wilayahmu. Kau harus membalas dendam! Bukankah kau master dalam hal bersikap jahat? Lilit dia, lilit dia dengan keras dan paksa dia meninggalkan kasur ini. Cepat, lakukan! Ucap Sehun bertelepati dengan Tao.

Tao hanya bisa menggerakkan ekornya dan berbalik membelakangi Sehun tanpa menggubris telepati Sehun.

.

.

.

TBC

.

.

.

Shtpnk's memo:

[1] Pee pee, disebut saat anak kecil menyebut penis.

Disini Sehun juga memiliki rumah sendiri, semacam apartemen gitu lah.