Disclaimer

Naruto milik MK

.

.

Kenyataan dalam kehidupan.

Kau akan merasa salah saat melakukan sesuatu yang salah. Dan kau tetap akan melakukannya karena tidak ada hal lain lagi yang bisa kau lakukan dengan cara benar. Meskipun ada, kau tetap akan menyangkalnya karena cara salah yang telah kau lakukan lebih mudah untuk kau lakukan.

Seringkali kau mendapatkan kesulitan di hidupmu. Lalu setelah kau mengeluh, akan ada orang yang tiba-tiba bilang padamu.

"Lihatlah dia, dia lebih menderita darimu. Masalahnya lebih berat darimu. Dan dia tidak mengeluh. Harusnya kau bersyukur atas apa yang ada."

Memang benar kita harus bersyukur atas apa yang ada. Tapi, jika kau bilang masalahnya lebih berat dariku, Apakah benar? Memang masalah bisa di bandingkan seperti itu?

Anak yang punya orang tua dan anak yang tidak punya orang tua. Apakah hal-hal sulit yang mereka hadapi akan sama?

Anak yang punya orang tua, dia di perhatikan,di manja, di sayangi orang tuanya dan dia bahagia.

Anak yang tidak punya orang tua, dia melihat orang lain bersama orang tuanya dan dia kesepian.

Anak yang punya orang tua, dia di marahi dan di anggap tidak berguna dan dia sakit hati.

Anak yang tidak punya orang tua, dia spesial di mata orang, mendapat empati lebih, dan dia bahagia.

Meski, siklus itu belum tentu memang benar. Tapi, bisa kau lihat?

Jalan cerita hidup orang berbeda. Masalah yang kau anggap sulit memang akan di anggap mudah oleh orang lain. Tapi karena orang itu tidak tahu bagaimana kita merasakannya.

Mereka hanya memikirkan simpelnya. Kau sangat butuh sebuah buku. Mereka akan bilang "Kau hanya tinggal membelinya." Lalu darimana aku dapat uang? "Kau tinggal bekerja." aku sudah mencari pekerjaan dan tak ada yang kudapatkan. Dan apakah benar jika kau menjawab dengan mudahnya "Benarkah? Aku saja bisa mendapat pekerjaan dengan mudah." itu keberuntungan mu! Itu takdirmu! Kau tak merasakan masalahku!

Dan aku tak akan bilang masalahku lebih berat darimu. Karena kau tak merasakan masalahku. Meski kau mengalaminya, yang kau alami akan berbeda dengan saat ku merasakannya. Jalan takdir kita berbeda.

...

Kebetulan hari ini cerah, tak terlihat awan hitam yang biasanya menandakan hujan. Karena, sudah kubilang hari ini cerah. Dan aku bersyukur hari ini cerah.

Tapi bersyukur sepertinya harus ku tunda sejenak, karena dari tadi aku merasa gelisah. Kau ingin tahu mengapa aku gelisah, di pagi yang cerah ini?.

Jawabannya adalah, seorang gadis membangunkan ku dengan tidak menyenangkan lalu tiba-tiba memintaku-memaksa- untuk mengantarnya jalan jalan hari ini.

Bukan, bukan Hanabi yang dimaksud. Seorang gadis yang membangunkan ku dengan cara yang tidak menyenangkan adalah seorang yang sedarah denganku, serahim denganku, sedunia denganku, Yap. Kakak ku.

Orang yang sama sekali tak diharapakan untuk seenaknya datang lalu mengacaukan pagi seseorang. Tentu yang dimaksud mengacau sangat jelas dilakukannya, tentu kalian ingat kalau aku dan Hanabi sudah ada rencana hari ini, menemaninya ke toko pakaian. Membeli seragam SMA untuk dirinya sendiri. Meskipun terlalu cepat membelinya, belum tentu dia di terima di SMA 1 kan?

Mungkin dia memang punya nilai UN tinggi. Dan bisa menjawab tes dengan benar. Ku tebak mungkin dia jenius.

Awalnya kupikir hari ini akan baik-baik saja. Tapi itu ternyata hanya awalnya saja, yah terjebak di antara dua kegiatan itu menyusahkan. Apalagi, kegiatan yang diadakan secara bersamaan.

Kegiatan yang kubicarakan adalah, mengantar gadis-gadis manis yang tentu saja tak bisa ku tolak.

Dan kini sekarang, terduduk di sofa ruang tamu kediaman rumahku. Tentu ini tentang aku yang tengah gelisah harus menentukan langkah yang ku ambil.

"Hahhh..."

Menghela nafas, agar syaraf otakku tenang saat ini.

Memang berlebihan kalau di lihat aku memikirkan situasi konyol ini. Yang harus ku lakukan adalah, menolak salah satu ajakan dan selesai.

Namun aku bingung mau menolak yang mana. Kalau aku menolak kakakku, aku akan kehilangan kesempatan memperbaiki hubungan setelah sekian lama dia pergi. Ok kepergiannya tidak akan aku bahas saat ini. Dan kalau aku menolak Hanabi, tentu aku takut dia kecewa lalu membenciku dan setelahnya dia memaksa orang tuanya untuk pindah karena dia sakit hati padaku, lalu kita tidak akan pernah bertemu lagi selamanya. Ok mungkin ini berlebihan.

"Hey Naruto. Mengapa kau masih di sini? Ayo cepat mandi!"

"Sebentar kak, aku harus mengumpulkan niat dulu."

Kakak ku, walaupun menyebalkan namun tidak bisa dipungkiri dia adalah orang paling perhatian padaku di keluarga ini.

Di perhatikan oleh gadis manis bisa membuatmu bahagia, tapi bisa juga perhatian itu malah akan menimbulkan bencana. Bencana yang kumaksud tentu bukan bencana alam. Bencananya adalah, kau tak bisa menolak saran dan keinginan gadis manis, apapun yang di katakan nya akan menjadi suatu sugesti yang memaksa untuk di lakukan, dan juga yang paling utama adalah jika kau menolak perhatiannya yang terkadang menjekelkan lalu dia menangis karena kau menolaknya, orang di sekitarmu akan memandangmu seakan kau adalah penjahatnya. Itulah efek samping di perhatikan gadis manis.

Ya meskipun memang bahagia di perhatikan gadis manis.

Kakakku berjalan menuju dapur setelah memberikan tatapan sebal yang manis padaku. Ah, aku rindu tatapan manisnya itu.

"Naruto! Melamun saja kerjaanmu, cepat mandi. Jangan membuat kami menunggu untuk sarapan pagi ini."

Ini yang muak ku dengar, omelan dari Ibuku. Maaf aku menggunakan kata kasar pada orang tua. Tapi memang ini kenyataannya, yang kurasakan memang ini adanya.

Lagipula kalian tidak pernah menungguku untuk makan bersama. Dan saat aku makan Ibu akan menyindirku

"Jadi orang kerjanya hanya makan saja. Tidak tahu betapa lelahnya orang mencari beras."

Benar. Aku tidak tahu, tidak perlu kau memberi beban pikiran pada anak remaja sepertiku. Hal yang kalian punya di konsumsi olehku, mengapa menurut Ibu seakan itu adalah kesia-siaan.

Memikirkan kalau aku masih butuh semua dari mereka membuatku muak. Aku ingin sekali lepas dari ini. Ingin rasanya aku punya semua yang orang tuaku butuhkan dan mereka bergantung padaku dan lalu aku bisa membalikan kata-kata ibuku pada mereka. Tapi entah kapan itu bisa terjadi. Yang kuimpikan memang kejam, tapi bukankah Ibu melakukannya padaku?

Tapi aku masih berharap jika impian itu terwujud. Mudah-mudahan pikiranku saat itu bisa berubah, kekerasan hatiku bisa melunak dan memaafkan mereka.

Tentu bukan karena aku ingin ada yang menganggapku hebat. Aku adalah manusia, aku menyayangi kedua orang tuaku dan aku tidak mau berdosa karena membalas mereka.

"Hah... Pikiranku terlalu jauh."

Di kamar mandi setelah 10 menit melamunkan hal itu lagi, seperti yang seharusnya aku langsung mandi.

Melamun sebelum mandi, itu kebiasaan yang tak bisa aku hilangkan. Alasannya adalah, saat di kamar mandi hawanya akan tenang sehingga jika kau memikirkan sesuatu kau akan sangat fokus memikirkannya dan terjadilah melamun.

Tentu ini adalah kebiasaan buruk, karena aku terlalu lama menghabiskan waktu. Orang-orang di rumahku yang sedang dalam kondisi terburu buru tentu sering tidak sabar dan menggedor pintu kamar mandi jika aku terlalu lama. Tak jarang juga mereka mengancam akan mendobraknya, tentu aku tidak masalah karena aku tidak akan rugi bila pintu kamar mandinya rusak.

Memang masalah jika kamar mandi di rumah hanya ada satu, karena sesuatu seperti menahan panggilan alam akan jadi masalah yang sering terjadi.

Tentu aku tidak perduli dengan hal itu. Yang ku perdulikan adalah senyuman manisnya Hanabi, Haha.

--

Dan sekarang aku bisa bernafas lega, karena tiba-tiba ada orang menyebalkan yang menyarankan untuk kami. Aku,Hanabi dan Kakakku untuk jalan bersama saja.

Kakakku sebenarnya ingin pergi ke toko buku untuk membeli novel kesukaannya. Merepotkan, bukankah di internet ada sangat banyak novel yang bisa dibaca secara gratis. Tapi saat ku tanya pada kakakku dia hanya menjawab 'terserah padaku' ahh.. gadis manis memang punya kekuatan magis, karena aku langsung meng-iyakan saja saat dia bilang begitu.

Hanabi, dia tidak mempermasalahkan kakakku yang ikut 'kencan' -menurutku- ini. Baginya orang yang menemaninya bertambah malah itu bagus, dan dia bilang sekalian ingin ikut membeli novel.

Tentu yang jadi kesal adalah aku. Kalau seperti ini, kenapa tidak mereka berdua saja yang berangkat? Aku tak masalah bila tidak jadi jalan dengan Hanabi, lain waktu bisa ku ajak dia nanti. Kalau aku ikut akan sangat aneh, aku sama sekali tidak punya kepentingan. Tapi kakakku memaksaku untuk ikut, tentu aku menurut, tuntutan gadis manis kau tahu.

Sejak kecil memang -tepatnya sejak aku SMP, menolak permintaannya adalah hal yang tak bisa aku lakukan. Karena pada usia itu aku sudah menyadari ternyata kakakku sangat manis, apalagi jika memakai seragam SMP-nya yang kebesaran nya dulu. Aku tak bisa menahan untuk tiba-tiba memeluknya. Aku memang sejak SMP hanya menunjukkan sifat manjaku pada dia saja. Kakakku tidak marah walau aku sering memeluknya, baginya mungkin adalah hal normal kakak adik berpelukan walau aku sudah kelas 1 SMP.

Setelah lulus SMP dia melanjutkan sekolah SMA-nya di luar kota, itupun hanya satu semester. Dia memutuskan untuk pindah bersekolah di SMA 1 Konoha saja. Alasannya mungkin karena dia bisa tinggal bersama lagi denganku, ini harapanku sih. Dia tidak mengalami masalah untuk bisa pindah ke SMA yang katanya favorit di Konoha ini. Sekolah dia sebelumnya adalah sekolah yang bertaraf internasional, apalagi dia adalah pemegang nilai tes masuk tertinggi di sekolahnya yang sebelumnya. Kepala sekolah Konoha tak perlu ragu lagi menerimanya.

Setelah libur panjang kemarin dia akhirnya pulang. Dia memilih menghabiskan liburannya di Otogakure dengan Paman Yamato. Mungkin kalau aku tidak memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah lagi pasti dia akan berlibur di sini menemaniku. Yah, sekarang itu tidak jadi masalah lagi. Karena sekarang dia ada di sampingku lagi. Dan dia juga senang saat dengar kalau aku ingin masuk ke SMA yang sama dengannya.

Oh ya, aku lupa memperkenalkan kakakku. Nama kakaku adalah Sakura.

"Hanabi apa kau sudah pernah di ajak ke tempat menarik oleh Naruto?"

"Hm. Naruto hanya menunjukan yang dekat dekat saja, juga aku hanya melihat-lihat saja waktu itu. Dan tepatnya dia tidak mengajakku, aku yang ingin di temani"

Ya, kami hanya melihat-lihat saja waktu itu, tapi yang dia bilang tidak sepenuhnya benar. Kemarin saat ku menemaninya berkeliling, dia memaksaku untuk ikut bermain dengan anak-anak yang bermain layangan di lapangan. Jangan memikirkan adegan romantis saat kami sedang bermain. Tidak ada yang romantis saat itu, Hanabi tanpa sengaja melepaskan gulungan tali yang di genggamnya dan membuat anak yang kehilangan layangan itu menangis. Dan coba tebak, aku yang di salahkan anak itu karena mengajak Hanabi mengobrol. Sialan, dasar gadis manis.

"Mungkin kapan-kapan aku dan Naruto akan mengajakmu ke tempat menarik di kota ini. Apa kau mau Hanabi?"

"Tentu aku mau, Kak Sakura."

"Baiklah, sudah di putuskan."

"Hey kakak belum menanyakan pendapatku."

Mereka ini, aku memang tak akan menolak bila di ajak mereka. Tapi yang kumau bila mengajak Hanabi jalan-jalan adalah hanya berdua dengannya.

"Kau harus mau Naruto."

Dan setelah itu kami pun berdebat kecil. Dan hasil akhirnya kekalahan diterima oleh ku. Aku mengalah, karena aku selalu tidak bisa menolak gadis manis. Hanabi hanya tersenyum melihat kami. Ah, aku jadi gemas sendiri ketika dia sedang tersenyum.

Hari ini jalan bersamanya terasa canggung, mungkin karena kakakku ada di sini, ya meskipun kami belum terlalu akrab. Hanabi hanya akan bicara bila kakakku memancingnya. Aku sendiri tidak tahu topik apa yang harus ku bawa dalam pembicaraan antar perempuan gadis manis ini. Jadi aku hanya diam menanggapi.

Kakakku, dia mudah sekali akrab dengan Hanabi. Aku tidak tahu kakakku orangnya seperti apa bila berinteraksi dengan orang lain, mungkin dia orang yang mudah bergaul. Atau mungkin karena kakakku dan Hanabi itu sama-sama gadis manis. Hm, aku kurang tahu.

Yang pasti sekarang setelah kami sampai di halte, ibu-ibu di samping kami yang sepertinya ingin pergi ke pasar naik bus hari ini, memandang kami lalu salah satu dari mereka pun berbisik membicarakan kami, ya walau hanya tebakan tapi insting anti di bicarakan orangku bergejolak. Sudah kuduga bersama gadis manis itu bisa membuat senang sesaat dan susah yang permanen.

Hanya butuh beberapa menit bus yang kami tunggu datang, dengan jurusan bus menuju pusat kota.

Aku segera memposisikan duduk di dekat pintu. Duduk di dekat pintu bisa mengurangi pusing akibat bau bensin, dengan udara segar yang kuhirup ini, mual-mual tak akan aku rasakan. Dan kalau sampai aku muntah hanya karena naik bus dari sini ke pusat kota, Hanabi pasti menganggap aku lemah. Tentu hanya karena kau gampang mabuk tidak akan membuat orang benar benar menganggap mu lemah-atau bisa jadi-, tapi rasanya malu saja bila Hanabi sampai tahu.

Di samping ku, kulihat kakakku menjelaskan pada Hanabi saat bus ini melewati tempat-tempat menarik di Konoha ini. Dan aku, aku hanya bisa diam. Ayolah memangnya apa yang harus kukatakan untuk bisa masuk ke obrolan mereka.

"Nah, kalau yang itu. Itu adalah sebuah tempat orang Konoha biasanya melihat atau mengadakan acara outdoor umum, seperti band lokal yang terkenal atau acara komedi boneka yang sering di sebut wayang golek. Di alun-alun Konoha memang sangat menarik, kapan-kapan kau mau tidak melihat wayang golek di sana?"

"Wah kedengarannya menyenangkan. Tentu aku mau kak."

Rencana bagus kak. Aku yang pertama akan mengajaknya ke alun-alun Konoha.

Mendengarnya membuatku membayangkan menonton band di alun-alun Konoha dengan Hanabi. Suasana romantis yang tercipta dari lagu yang di bawakan di atas panggung. Tangan ku di genggam olehnya. Aku pun menoleh padanya bingung. Lalu tatapan kami bertemu, tanpa sadar wajah kami semakin dekat dan dia menutup matanya seakan mengijinkan. Dan selanjutnya Arggghhh. Aku tak bisa membayangkannya.

"Entah kenapa di panggil kakak olehmu terasa bahagia. Kau sangat manis sekali."

"Ah.. Terimakasih kak. Lepaskan pelukanmu kak, a-aku malu."

Aku tak menyangka kemanisan Hanabi bisa membuat kakakku hilang kendali seperti itu. Sampai-sampai kakakku memeluk Hanabi erat seperti gemas. Dan hentikan itu kak, aku jadi iri!

30 menit selanjutnya kami sudah berada di dalam toko pakaian yang biasa aku dan Ayahku datangi, ya di sini tidak hanya menjual seragam sekolah ada juga pakaian lainnya. Tapi tentu aku tak tertarik membeli pakaian baru, aku di sini hanya untuk mengantar Hanabi. Sebenarnya aku sudah bilang akan tunggu di luar, tapi Hanabi malah menyeretku setelah bilang padaku bahwa aku sudah berjanji menemaninya.

Jangan berpikir aku adalah laki-laki yang beruntung. Beruntungnya kau lihat darimana jika dari tadi aku harus di tatap dan dibicarakan orang-orang di sini. Mungkin mereka berpikir 'seorang pemuda menghipnotis dua gadis manis. Dan sekarang mereka sedang berkencan bertiga'. Tidak normal tentu mereka berpikiran begitu hanya karena aku menemani dua orang gadis berbelanja. Tapi perilaku kedua gadis ini yang bisa menyebabkan orang-orang berpikir seperti itu.

Lihat saja mereka begitu antusias bergerak kesana-kemari setelah melihat pakaian yang menurut mereka menarik. Dan kakakku selalu berbicara dengan nada yang cukup didengar oleh semua orang di sini setiap memilih baju.

"Naruto, apa ini membuat ku cantik? Dan wah, ini akan membuat Hanabi semakin manis kan Naruto."

Aku hanya tersenyum menanggapi kakakku yang seperti orang norak itu. Dan kulihat pilihan kakakku, itu sepertinya memang akan membuat Hanabi terlihat sangat manis!

"Ah Hanabi, itu yang kau cari kan?"

Ah, syukurlah ini akan cepat berakhir.

Dan selanjutnya juga kami meneruskan ke toko buku yang tidak jauh dari toko pakaian sebelumnya. Dan aku lega bisa secepatnya keluar dari sana. Kau tahu kan, aku sangat terganggu oleh tatapan-tatapan orang di toko itu, dan juga si penjaga toko yang juga pemilik toko dia adalah guruku waktu sd. Dan sindiran-sindiran menggoda yang ditujukan padaku karena bersama dua gadis manis tentu membuat ku muak. Aku lebih suka orang lain tidak perduli dengan ku, tentu pengecualian untuk keperdulian selain mengomentari hidupku.

"Naruto, sepertinya kau tidak begitu menikmati perjalanan ini? Apa aku mengganggu kalian, hm?"

Hey, jangan menatap seperti itu padaku kak! Jangan menggodaku di depan orangnya!

"Tidak, aku biasa saja. Memang aku harus bersikap bagaimana?"

"Tentu harusnya kau senang karena bisa berjalan dengan dua gadis manis seperti yang di katakan Pak Iruka tadi."

"Bagaimana aku bisa senang kalau aku yang harus membawa pakaian kalian. Dan juga, untuk apa kau ikut membeli seragam sekolah juga kak?"

Ini sangat merepotkan. Jadi, aku ikut hanya untuk jadi pembawa barang saja?

"Seragam ku yang lama sudah tidak muat kau tahu? Aku juga tidak menyangka pertumbuhan ku secepat ini."

Yah, meskipun kakakku dari ukuran badan tidak ada perubahan yang mencolok. Tapi kupikir memang 'itu'nya kak Sakura memang lebih -ehem- dari yang dulu kulihat.

"Maaf merepotkan mu ya Naruto."

"Tidak apa-apa Hanabi."

Aku tersenyum pada Hanabi. Gadis ini memang tidak menyuruhku membawakan pakaiannya tapi Kak Sakura menyuruhku untuk membawakannya sekalian. Yah, sekalian bersikap manis pada Hanabi kuterima saja. Meskipun ini sangat merepotkan sekali.

Tak perlu berjalan lebih jauh lagi untuk sampai di tempat tujuan kami. Di depanku berdiri sebuah toko buku dengan plang warna merah dan berdesain sederhana, lebih sederhana dari toko sebelumnya.

Ya, aku tak peduli sebenarnya dengan tampilan toko ini, karena ini pertama kali aku kesini. Mengingat meskipun aku suka baca cerita, novel atau segala bentuknya. Aku cukup berselancar ria saja di internet, tak perlu susah-susah pergi ke toko buku.

--

Kulihat matahari sudah bergerak 30 derajat dari tadi pagi. Hah, seharusnya aku sedang bermalas-malasan dan bermain games online sekarang. Merepotkan.

"Kak Sakura, sebenarnya kita mau ke mana?"

"Ya, kebetulan kan kita sedang ada di pusat kota. Sekalian saja kita jalan-jalan ya kan? Hanabi katanya juga ingin melihat-lihat."

Hah.. Sial, apa kau tidak lihat bawaan ku ini kak? Merepotkan.

Jangan berpikir bawaanku sedikit. Baju-baju mereka ada dalam satu kantung. Lalu tadi di toko buku kami masing-masing membeli satu buku, aku membeli komik. Dan setelah itu, Hanabi ternyata ingin membeli peralatan sekolah yang berarti satu kantung lagi bertambah. Dan sekarang jika di teruskan lagi, mungkin aku akan menggendong dua karung penuh barang-barang mereka. Pasti aku akan pingsan saat tiba di rumah.

"Tidak apa-apa kok kak Sakura, mungkin lain waktu saja."

Terimakasih Hanabi kau lah Dewi Fortuna ku.

Aku sangat ingin segera pulang. Orang-orang di sekitarku terlihat menertawakan ku. Karena aku terlihat seperti pesuruhnya dua gadis ini. Hah, sialan.

"Tanganku bisa-bisa keram kak kalau kita harus berjalan jauh lagi."

Bahkan sekarang aku tidak bisa merasakan tanganku.

"Ah maafkan aku Naruto. Sini, pakaian biar aku saja yang bawa."

Hanabi merebut satu kantung berisi pakaian dariku. Ah, Hanabi kau baik sekali. Tapi aku jadi tidak enak karena mengeluh dan menunjukkan kalau aku terbebani. Tapi ya sudahlah, lagipula aku memang butuh pertolongan.

"Eh, terimakasih Hanabi."

Aku tersenyum sambil menggaruk kepalaku. Suatu kebiasaan bila aku sedang malu.

"Ya baiklah. Lain kali saja."

Kakakku terlihat memasang wajah tidak suka. Atau memang perasaanku saja. Mungkin karena tidak jadi jalan-jalan dan melihat kota Konoha yang sudah lama dia tidak lihat. Atau mungkin karena hal lain?

Dan akhirnya hari melelahkan ini segera berakhir. Kami pulang pukul tiga sore. Aku pun tak menyangka, waktu bisa secepat ini berlalu. Perasaanku, tadi kami berangkat pukul sembilan. Mungkin karena aku menikmati hari ini. Apa benar?

Kini aku tengah berbaring malas di kamar ku. Memikirkan kejadian tadi saat Hanabi menolongku dari kemungkinan tanganku keram. Sikapnya membuatku merasa di perhatikan. Senyuman manisnya membuatku tak rela untuk membagi senyuman itu untuk orang lain. Mengingat dia bersikap baik pada semua orang membuatku sakit. Perhatiannya padaku mungkin memang karena dia benar-benar kasihan padaku seperti pada orang lain, tidak ada hal khusus, dia mungkin hanya orang yang baik dan perduli.

"Hah... Sialan."

"Hey."

Tiba-tiba seseorang membuka pintu. Aku langsung memposisikan duduk. Takut bila yang masuk adalah Ibuku.

Setelah dia masuk, aku bisa bernafas lega. Ternyata dia hanya kakakku.

"Ada apa kak?"

Dia mendekat, lalu duduk di sampingku.

"Hm. Aku hanya... Maaf tadi aku menyusahkanmu."

Hey? Tidak pernah rasanya dia meminta maaf setelah melakukan hal yang seenaknya padaku. Dan lagipula itu hanya membawa pakaiannya.

"Kenapa? Kenapa minta maaf?"

Ya meskipun aneh aku menanyakannya. Tapi yang lebih aneh bagiku adalah sikapnya saat ini. Meskipun dia pernah minta maaf. Tapi kali ini hanya hal kecil kan?

"Dia itu. Hm, Hanabi. Bagaimana menurutmu?"

Dia tidak menjawab pertanyaan ku. Lalu dia tiba-tiba menanyakan pendapat ku tentang Hanabi. Argghh...

"Hm. Dia cantik, baik, ramah, ya begitulah. Memangnya kenapa?"

Sekilas aku melihat wajah kakakku seperti tidak suka. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena dia memalingkan wajahnya. Aneh.

"Hm. Jangan terlalu mudah percaya orang lain. Kita tidak tahu sifat dia yang sebenarnya. Kau baru saja bertemu dengannya kan? Jadi hati-hati lah."

Aku bingung menjawabnya. Ya meskipun benar yang dikatakannya. Tapi, kurasa tidak berbahaya jika percaya pada Hanabi.

"Ya baiklah jika kakak bilang begitu."

Pada akhirnya aku meng-iyakan saja. Mungkin dia khawatir padaku, atau cemburu? Hehe. Aku tidak tahu. Lagipula aku tak mau menolak kekhawatirannya. Bisa-bisa dia kecewa.

Dari dulu kami memang sangat dekat. Dia mungkin masih menganggap ku anak kecil yang tak tahu dunia luar.

Betapa senangnya punya kakak sebaik dia.

Dia kemudian menatapku. Terukir di wajahnya senyum tulus.

Gerakannya kemudian yang tak disangka olehku membuatku tertegun.

Dia menciumku di pipi.

"Kau adik yang manis Naruto."

Suara pintu yang menandakan kepergiannya dari kamarku membuatku tersadar. Dan selanjutnya aku merasa senang.

Jangan menganggapku aneh. Di cium oleh gadis manis adalah hal paling membahagiakan kau tahu?.

Dan mimpi indahku malam ini pun tak ku perdulikan. Cukup ciuman kakakku ini saja yang membuatku bahagia.

.

-...-

Waduh maaf gaje.

Terima kasih yang sudah review. Joko Kun kriya ma rindou makasih dukungannya. Dan untuk kriya, maaf ya ga maksud niru sifatmu, hehe.

- Naruto, dia tahu mana yang baik dan yang buruk. Dia tau menyikapi masalah dengan cara dewasa. Tapi, sifat egoisnya dan juga karena tekanan Ibunya menjadikan dia tidak mau merealisasikannya.

Master, apakah cerita ini gaje? Baru belajar.

.

DiRepublish karena kehapus sama orang.