Makasih yang sudah review.
Ya, saya memang terinspirasi dari anime romance-humor ringan.
Dan juga, dari beberapa fic favorit saya.
Sebenarnya saya bingung.
Malas ini cerita apa ya?
--
Satu hari setelah kemarin Kak Sakura mengajakku bermain sepak bola dengan anak-anak SD yang sedang bermain. Meski aku sangat lelah, tapi rasa bahagia yang kurasakan saat bermain dengan Kakakku membuat rasa lelahku tak berarti sama sekali.
Jangan bilang kalau aku berlebihan. Ini sesuatu yang normal bila kau sangat senang bermain bersama dengan gadis manis.
Ya, meskipun aku sangat lelah sampai tiba di rumah.
Kelelahan juga membuatku harus bangun siang, yang mana ini adalah hal yang di benci ibuku.
Omelan mautnya bahkan masih terngiang di telingaku sampai sekarang.
Panas sekali telingaku.
--
Hari ini, dua hari sebelum aku menghadapi tes masuk SMA 1 Konoha.
Aku sudah mengatur jadwal ku hari ini dengan 'hanya belajar'.
Seharusnya.
Tapi tiba-tiba rasa malasku kembali menghadang.
Aku kini hanya duduk-duduk saja di bangku halaman depan rumahku.
Bisa kulihat dari sini rumah Hanabi dengan jelas. Tentu saja jelas, karena rumahnya tepat di depan rumahku.
Berharap aku melihat Hanabi keluar dan menghampiriku setelah memberikan senyuman manis tiada taranya.
Ah! Cepatlah keluar Hanabi!
Aku tak tahan lagi! Aku rindu dengan senyuman manismu itu!
"Hey Naruto?"
Eh?
"Ayah, ada apa?"
Kupikir siapa, dasar Ayahku, tidak bisakah satu hari saja tidak mengganggu ketenanganku.
Hal-hal yang kufantasikan baru saja, juga sampai hilang karena Ayah mengagetkanku.
"Aku memperhatikanmu dari tadi."
Ayah lalu duduk di sampingku, merebahkan punggungnya.
"Memperhatikanku?"
"Ya. Aku lihat dari tadi kau tersenyum mesum sambil melihat rumah Hanabi."
"Tidak mungkin!"
Mungkin aku memang tersenyum sambil melihat rumah Hanabi tadi.
Tapi tersenyum mesum? Ah, aku tahu Ayahku hanya menggodaku saja, tapi tetap ini sangat menyebalkan.
"Aku tidak memikirkan hal mesum Ayah! Aku hanya memikirkan yang laki-laki normal pikirkan jika membayangkan gadis manis."
"Hm. Kurasa bagian normal menurut laki-laki itulah yang membuatku curiga."
"Ah sudahlah!"
"Kupikir seharusnya kau belajar. Dua hari lagi tes bukan?"
Aku mengangguk. Akhirnya hal yang dia bicarakan adalah hal normal.
"Tapi, aku malas Ayah. Belajar sendiri membuatku pusing, tidak ada yang menerangkan membuatku harus mengerti konsep-konsep materi sendiri. Berbeda ceritanya jika aku belajar dengan seorang guru."
"Hn. Berarti kau butuh teman belajar."
"Benarkah?"
"Dan, kau tahu kan apa yang Ayah pikirkan tentang siapa yang jadi teman belajarmu itu?"
Siapa? Hanabi kah?
"Salah."
Hey! Apa dia bisa mendengar pikiranku?
"Yang benar teman belajarmu adalah Hanabi."
"Hah..."
Aku menghela nafas.
Sialan, ternyata dia hanya asal menebak jawaban ku saja.
"Dan sekarang kau harus mengajaknya untuk belajar bersama. Ajak dia ke rumah kita Naruto."
"Tunggu. Ayah tidak berniat buruk kan?"
Ayahku hanya menyeringai.
Dasar Ayah aneh. Dan sialnya aku adalah anaknya.
Ayahku tidak mengatakan apapun setelahnya, dia berdiri lalu berjalan masuk menuju rumah.
"Hah. Akhirnya saatnya telah tiba."
Saat-saat seperti ini, peristiwa paling bersejarah buatku.
Apa peristiwa itu? Jawabanya, saat-saat dimana aku mengetikan pesan pertamaku pada Hanabi.
Aku menatap ponsel yang kini ku genggam.
"Kenapa sulit sekali sih?"
Ah sial, kenapa situasiku saat ini mengingatkanku pada film drama dari negara kepulauan yang sering di tonton kakakku.
Saat itu, tokoh utamanya gugup hanya karena ingin mengajak seorang gadis kencan.
Tidak! Kurasa yang ku lakukan tidak seperti tokoh utama itu.
Aku harus tenang, aku hanya tinggal mengetik beberapa kata saja.
Ok, aku mulai.
Aku mengetikan beberapa kata.
Dan selesai!
"Kurasa sudah bagus."
Akhirnya, masterpieceku telah berhasil kubuat.
Aku hanya tinggal mengirimnya saja.
"Ok, sudah terkirim, tinggal menunggu balasan saja."
30 detik berlalu.
"Sebentar lagi."
Lama sekali sih? Cepatlah Hanabi.
Atau aku ke rumahnya saja ya?
"Ah!"
Akhirnya, balasannya telah tiba.
Aku langsung membacanya.
Ah, kira-kira apa jawabanya ya?
Di sana tertulis.
"Baiklah, sebenarnya baru saja aku ingin mengajakmu belajar bersama. Aku tidak bisa ke rumahmu, kau ke rumahku saja ya?"
Ah tidak. Aku belum siap Hanabi.
Menghadap calon mertuaku, aku belum siap!
Kurasa aku berlebihan.
"Hah, sudahlah."
Aku berdiri.
Aku berniat mengambil hal yang diperlukan untuk belajar dan setelah itu pergi menghadap calon mertuaku.
"Aku harus menyiapkan kata-kata untuk meyakinkan mereka, hehe."
--
Aku sangat bersemangat, tadinya.
Aku adalah pemalas, aku tidak suka keramaian, dan hal seperti kecanggungan lah yang membuatku tak suka keramaian.
Tapi, perasaan canggung itu sekarang harus ku hadapi.
Kukira kami akan belajar berdua saja.
Aku tahu apa yang kalian pikirkan, dan pikiran kalian seratus persen benar.
Temannya Hanabi, yang bernama Sara ternyata juga ada di sini.
Jangan berpikir karena dia gadis manis aku akan senang-senang saja di sini.
Sayangnya, aku dari tadi tidak bisa melakukan apapun selain diam, duduk mengawasi mereka dari jauh.
Ya, jauh.
"Hey Naruto, kupikir kau mengajakku belajar bersama kan? Ke sini, mendekatlah, duduk di sampingku."
Aku kaget tentunya, dia mengajakku duduk bersama? Hehe.
"Tu-tunggu, maksudku agak jauh sedikit."
Ah, rona merah di pipinya! Sangat manis sekali!
Tunggu? Dia merona?
"-Ehem-"
Sara, dia tersenyum pada Hanabi, entah maksudnya apa aku tidak tahu.
Mungkin dia menggoda Hanabi? Hanabi berarti suka padaku?
Kurasa tidak mungkin.
Walau aku berharap sih.
"Baiklah."
Aku mendekat, kupikir tidak sopan menolak permintaan tuan rumah.
Aku duduk di samping Hanabi, agak jauh tentunya.
Berapa lama setelahnya, tidak ada yang berbicara.
Ah tidak! Kenapa semakin canggung di sini?
"Hm, Naruto, rumahmu di depan rumah Hanabi ya?"
Sara, dia bertanya padaku.
Kurasa dari pertanyaannya dia hanya berbasa-basi. Kupikir Hanabi sepertinya sudah memberi tahu dia soal aku.
Ah, aku merasa senang dibicarakan gadis manis.
"Iya."
"Wah, pantas saja kalian terlihat sangat dekat."
"Apa?"
Dekat dari mananya yang dia maksud?
Kurasa karena kami rumahnya dekat dan belajar bersama tidak akan membuat kami terlihat sangat dekat kan?
Atau iya ya? Ah, aku pusing!
"Tunggu?"
Aku gugup.
Tentu saja, karena setelah Sara mengatakan itu, dia menatapku tajam, bahkan dia semakin dekat sekarang.
"Kau Naruto!"
"Eh? Iya aku Naruto?"
Ada apa dengan orang ini?
Hey, kenapa harus menunjukku segala?
"Kau adalah pemegang nilai UN tertinggi ke dua di Konoha!"
"Kurasa itu bukan sesuatu yang menakjubkan."
Nilai UN ku memang tertinggi ke dua, tapi tak perlu seheboh itu bila bertemu dengan ku kan?
Lagipula, jika benar ini sesuatu yang menakjubkan, kurasa pemegang nilai UN tertinggi pertama yang seharusnya di tunjuk heboh oleh Sara.
Aku hanya ke dua, tidak ada yang istimewa dari hal itu.
"Memang, ini seharusnya sesuatu yang biasa saja. Tapi, karena dirimu lah ini menjadi sedikit luar biasa."
"Hah? Aku?"
"Iya, kau berasal dari sekolah yang tidak terlalu terkenal akan prestasinya, muridnya juga sedikit."
Bicara tentang sekolahku, memang benar aku bersekolah di SMP yang menurut orang jelek.
Ya, dan muridnya juga sedikit, bahkan karena itu, tiap angkatan hanya punya satu kelas.
Dan yang lebih mengenaskan, angkatanku hanya terdiri dari 15 orang sebagai muridnya.
Aku masuk ke sana sebenarnya karena, nilai-nilai sekolah dasarku yang tidak cukup untuk masuk ke sekolah lain.
Ya, karena saat sekolah dasar aku sering tidak berangkat dan diam di rumah.
Juga, aku kan pemalas, tidak ada masa depan yang coba ku bangun saat itu, jadi aku hanya asal saja masuk sekolah.
"Dan setelah kau mendapat nilai UN itu! Namamu di kalangan para guru jadi terkenal, mereka sering menyebut namamu dan sampai juga di telingaku."
Tidak, sepertinya aku akan menjadi anak yang terkenal lalu menjadi artis.
Dan setelah aku jadi artis, aku akan kembali tenggelam dan tidak di hiraukan.
Karena pekerjaanku hilang karena kukorbankan untuk menjadi artis sebelumnya, akhirnya aku menjadi gelandangan, dan mati mengenaskan loncat dari gedung 3 lantai.
Merepotkan.
"Dan yang lebih mengesankan lagi buatku, meski kau mendapat nilai UN tertinggi."
Sepertinya aku mulai muak dengan kalimat mendapat nilai UN tertinggi.
"Kau tidak mendapat rangking kelas. Bahkan sepuluh besar saja tidak masuk."
"Kurasa itu bukan hal yang mengesankan."
"Tidak! Kau sangat mengesankan buatku Naruto! Namaku Sara, senang berkenalan denganmu!"
Sara tersenyum manis padaku sambil mengulurkan tangan.
Aku menjabat tangannya.
Tunggu! Ini pertama kalinya aku bersentuhan dengan gadis selain kakakku.
Ah, lembut sekali tangannya.
"Sara."
Hanabi, dia menatap Sara dengan wajah sebal yang manis.
Ah, aku sampai lupa kalau dia ada di sini.
"Kurasa kau datang ke sini untuk belajar bersama denganku kan Naruto?"
"Ah, tentu saja."
Aku tersenyum malu padanya, ya aku baru saja hampir melupakan itu.
"Lepaskan dulu tangan kalian."
Ah! Aku baru sadar! Ternyata aku masih menjabat tangan Sara.
Aku melepasnya.
"Ah, maafkan aku Sara."
Aku menggaruk kepalaku, suatu kebiasaan jika aku sedang malu.
"Ma-maaf Naruto."
Eh? Kenapa Sara merona? Kurasa dia juga baru sadar tentang tangannya yang masih di genggam olehku dari tadi.
"Hm."
Entah karena apa, aku merasa jika Hanabi berkata 'Hm' berarti dia sedang marah.
Dan setelahnya, tidak ada yang berbicara.
Hanya sesekali terdengar suara Hanabi yang membuka halaman bukunya di ruangan ini.
Sara, dia hanya memainkan pensilnya dari tadi.
Aku? Kurasa aku sedang menjadi aktor, dengan tokoh yang aku perankan adalah patung liberty.
Aku hanya diam.
"Ah! Hanabi, Naruto. Kurasa aku harus pulang sekarang, siang ini aku ada rencana dengan keluargaku."
Hanabi hanya mengangguk, tidak mengalihkan pandangannya dari buku.
Tapi sepertinya Hanabi tidak serius membaca buku, karena pandangannya terlihat malas.
Aku hanya berkata, hati-hati di jalan setelah Sara tersenyum padaku dan beranjak keluar.
Tinggal aku dan Hanabi di sini.
Di mana orang tuanya ya?
"Naruto, aku punya pertanyaan. Jawablah dengan serius."
Hanabi menutup bukunya, menyimpannya di meja, lalu menatapku.
"Ba-baik."
Aku gugup tentunya, mendengar dia punya pertanyaan yang harus ku jawab dengan serius dan memasang tatapan tajam padaku.
"Kau menurutiku masuk sekolah lagi karena apa? Aku tahu dari Ayahmu, sebenarnya kau tidak ingin sekolah lagi."
"Aku? Aku tidak tahu, tapi sebenarnya itu karena."
Sial, sepertinya jurus mautku harus ku keluarkan sekarang.
"Ka-karena apa?"
Aduh! Kenapa sekarang dia punya kegugupan yang manis sih?
Aku jadi merona melihatnya.
Dan aku semakin gugup juga sekarang.
"Itu karena, aku ingin bersama dengan dirimu Hanabi. Aku ingin melihat senyuman manismu setiap hari, hehe."
Aku tersenyum malu padanya sambil menggaruk kepalaku, suatu kebiasaan jika aku sedang malu.
Dia terlihat terkejut, selanjutnya kedua pipinya merona.
Ah manisnya!
"Oh, se-seperti itu."
Dia menunduk, lalu mengambil buku, membacanya kembali.
Dan lama setelahnya, tidak ada dari kami yang saling berbicara.
Hah.. Mengapa harus hal canggung yang kurasakan jika dekat dengan Hanabi hari ini.
Kurasa lebih baik aku pulang.
"Sepertinya belajarnya besok saja Hanabi. Aku pulang saja."
Aku sudah tidak tahan dengan kecanggungan ini.
Lebih baik aku pulang.
Dan sepertinya kakakku sudah pulang dari urusannya, aku bisa juga belajar dengan dia.
Aku hendak berdiri, tapi Hanabi memegang tanganku sebelum aku berdiri sepenuhnya.
"Tunggu, aku ingin kita belajar sekarang."
Dengan tatapan memohon Hanabi mengatakan itu.
Ah manis sekali!
Tapi selanjutnya, dia melepas genggamannya di tanganku lalu memalingkan wajahnya yang merona.
Akupun duduk kembali, ya jika dia meminta.
"Maksudku, kau yang mengajakku tadi, jadi kau harus bertanggung jawab dan belajar bersamaku sekarang sampai malam. Ma-maksudku sampai selesai."
"Baiklah."
Dan selanjutnya, akhirnya kami benar-benar belajar bersama.
Awalnya Hanabi masih cangggung.
Tapi akhirnya dia bertanya padaku tentang rumus yang dia tidak mengerti.
Ah, untung saja aku ahli soal rumus.
Dia mengangguk mengerti setelahnya.
Aktivitas kami tidak sepenuhnya belajar terus.
Aku bertanya, tentang asal sekolahnya dulu.
Dia bilang dia berasal dari SMP 2 Konoha, katanya dia hanya murid biasa di situ.
Tapi aku tidak merasa dia murid yang biasa-biasa saja.
Karena, sekarang dialah yang paling banyak memberi tahuku soal pelajaran.
Maaf saja, aku bukan penghafal materi, jadi aku dari dulu hanya mengandalkan apa yang aku ingat dari penjelasan guruku di sekolah.
Jarang sekali aku membaca buku.
Tapi Hanabi, keliatannya dia sangat tekun dalam belajar, hal-hal seperti menghafal adalah kebiasaannya.
Hah, aku jadi iri dengan semangat belajarnya.
Dalam momen belajar bersama dengan Hanabi ini, kadang kami saling merona karena tanpa sengaja tangan kami saling bersentuhan karena berniat mengambil buku yang sama.
Ah manis sekali rona merahnya itu!
--
Malam telah datang.
Aku sekarang sedang duduk menonton tv dengan Kakakku.
Sebenarnya aku tidak mau menonton acara ini.
Acara yang kami tonton sekarang adalah film drama dari negara kepulauan yang Kakakku dan Ibuku sukai.
Ibuku dan Ayahku sedang pergi, entah pergi untuk apa aku tidak perduli.
Dan karena tidak ada yang menemaninya untuk menonton, aku di paksa Kakakku untuk menemaninya.
Awalnya aku menolak tentu saja, aku sangat anti dengan drama-drama dari negara kepulauan yang menyebalkan itu.
Tapi, Kakakku memaksaku.
Tentu aku mengalah, apalagi dia mengeluarkan tatapan manis memohonnya itu.
"Hah.. Dia lagi."
Walau aku tidak suka, tapi mau bagaimana lagi, aku tetap menontonnya.
Dan adegan yang paling ku benci tiba.
Terlihat tokoh orang jahat tengah menjalankan rencana jahat untuk menjebak si tokoh utama.
Dan menyebalkannya, setelah itu, tulisan 'bersambung' muncul saat adegan menegangkan.
Menyebalkan! Sial, aku jadi ingin menonton kelanjutannya besok.
"Aku dengar kau belajar bersama dengan Hanabi tadi Naruto?"
Setelah keheningan, akhirnya Kakakku bicara, dengan pertanyaan yang terdengar serius.
Kakakku, dia menatapku tajam.
"I-iya."
Aku yang di tatap tajam olehnya gugup tentunya.
"Dan kudengar dari Ayah, orang tua Hanabi sedang tidak ada?"
"Mu-mungkin?"
Ternyata orang tuanya tidak ada ya?
Hah, bahaya sekali kalau begitu jika aku menuruti Hanabi untuk menemaninya belajar sampai malam.
"Jangan memasang wajah polos seperti itu! Kau pasti melakukan hal-hal tidak bermoral dengan Hanabi kan?"
"Tidak! Jangan salah paham seperti itu!"
Aku ini seorang pemalas. Jadi aku pasti memikirkan akibatnya jika aku benar-benar melakukan apa yang Kak Sakura pikirkan. Bisa-bisa dunia tenangku selama ini akan hancur karena aku berbuat seperti itu dengan Hanabi.
Meskipun aku tak akan sanggup melakukannya, karena naluriku mengatakan bahwa gadis manis dan imut seperti Hanabi harus dilindungi dari berbagai macam hal tidak bermoral.
"Aku tidak melakukan apapun! Kami hanya belajar bersama saja."
"Benarkah?"
"Sebenarnya aku tadi ingin belajar dengan Kakak manisku ini saja, hehe."
Teknik pertama untuk menghindari amukan Kakakku, merayunya!
"Seperti itu."
Sepertinya berhasil.
Tapi kenapa wajahnya tetap datar?
Dan juga, kenapa dia semakin mendekatkan wajahnya padaku?
Apa aku akan di beri ciuman manis lagi seperti waktu itu? Apa kali ini di bibir?
Ah! Lebih baik aku memejamkan mataku.
Lama setelahnya, tidak terjadi hal yang kuinginkan.
"Kenapa kau memejamkan matamu Naruto?"
Aku membuka mataku. Kulihat Kakakku menatap heran padaku.
"Kupikir Kakak akan menciumku lagi seperti waktu itu, dan setelahnya Kakak memujiku adik yang manis."
Kak Sakura, tiba-tiba merona. Mungkin dia malu mengingat dia pernah menciumku di pipi.
"Ta-tapi tidak perlu mejamkan matamu jugakan?"
"Ya, karena kupikir Kakak akan menciumku di bibir kali ini."
Kakakku semakin merona mendengar jawaban ku.
Kurasa aku berhasil merayunya.
Jika seorang gadis manis merona, tandanya dia senang kan?
"Dasar adik nakal!"
Kakakku mengambil bantal dan memukul-mukulkannya padaku.
"Ampun kak!"
Kurasa aku salah.
--
Terima kasih.
