Om raynoval. :v pairnya naruhana Om, saya nambahin Sakura buat Jadi pemanis aja Om, sebenernya saya pen punya kakak yang manis Om, jadi ya gini. :v

terima kasih, menyempatkan bertanya.

--

Disclaimer

Naruto milik MK

--

Hidupku itu aku anggap tidak penting, hanya karena aku tidak punya tujuan hidup.

Aku masih bingung, apa yang harus kulakukan jika aku lulus sekolah nanti?

Aku sama sekali tidak punya pengalaman kerja. Kepercayaan dari orang lain aku tidak punya, dan karena inilah pengalamanku sangat minim.

Orang tuaku, mereka bagiku hanya terlihat memaksaku untuk bisa. Bukan sesuatu yang baik alasan mereka dari yang ku analisis.

Alasan mereka memaksaku untuk cepat mandiri, menurutku karena aku hanya jadi beban keluarga ini, lalu mereka sebenarnya ingin secepatnya mendapat balasan kebaikan dariku karena mengurus ku dari dulu.

Tapi, tetap saja. Yang namanya orang tidak berguna, tidak bisa di percaya siapapun. Masa depanku akan runyam.

Meskipun.

Aku sudah terbiasa di pandang tidak berguna dan dibilang tidak bisa apa-apa.

Jangan konyol, keterbiasaan ini tidak bisa membuatku kebal. Aku tetap sakit hati, dan akan selamanya terasa sakit karena aku manusia normal.

Kenapa aku tiba-tiba membicarakan ini?

Sebenarnya, tadi pagi aku di marahi Ibuku lagi. Sialan, aku jadi terdengar seperti anak manja karena sering di marahi ibu.

Ibuku mengataiku tidak berguna lagi. Bagi kalian itu sangat menyakitkan kan? Di anggap tidak berguna oleh keluarga sendiri. Di pikiran kalian mungkin saat di anggap seperti itu oleh keluarga, kalian akan kabur dari rumah.

Aku juga sama, itu sangat menyakitkan, dan kita juga mempunyai pikiran sama.

Ingin sekali aku keluar dari rumah ini. Bahkan tiap malam aku membayangkan rencana kaburku, dan membayangkan juga bagaimana aku menikmati kehidupan tenangku di luar sana.

Tapi sayangnya, aku tahu yang sebenarnya akan terjadi jika aku bersikeras kabur.

Tentu saja aku tahu, banyak sekali film yang menggambarkan tentang masalahku ini.

Sayang sekali aku adalah orang yang selalu memikirkan akibat buruk jika aku kabur dari rumah.

Mungkin kalau aku punya uang banyak itu akan menjadi mudah saat di luar sana.

Tapi, punya uang banyak dan hidup tenang jauh dari sini hanyalah fantasiku yang tidak mungkin terwujud.

Ah, aku jadi ingat saat guruku bilang, generasi paling buruk adalah generasi pemalas.

Sebenarnya kata-kata itu untuk menyindir ku. Meskipun tidak perlu di jelaskan juga orang-orang yang kenal denganku sudah tahu kalau yang dimaksud adalah aku.

Meski aku sudah bisa membuktikan kebolehanku mendapat nilai UN tertinggi, tetap saja aku adalah pemalas, masa depan tetap saja tidak akan cerah bila kau hanya bisa berbaring di rumah saja.

Sebenarnya aku sudah bosan mendengar kalimat 'mendapat nilai UN tertinggi', bagiku itu hanya hal kecil, bahkan pemalas sepertiku bisa mendapatkan itu, meski di posisi kedua.

Seharian aku hanya diam di kamarku. Memikirkan masa depanku yang semakin tidak jelas, bagaimana bisa jelas kalau aku hanya melakukan sesuatu saat mau saja.

"Hah..."

Tidur, sebenarnya ini adalah hal yang sering kulakukan dari dulu. Bahkan temanku bilang aku sudah expert dalam bidang tidur, dia sampai meledekku dengan kalimat.

"Tidur saya sudah mencapai expert, saya ingin menggunakan tidur."

Sial, aku sendiri sampai tertawa mendengarnya.

Jika kalian tidak tahu apa yang lucu dari kalimat itu, maaf saja aku tidak akan menjelaskannya.

"Naruto! Apa aku boleh masuk?"

Jangan, jangan Kakakku lagi.

"Iya, pintunya tidak dikunci. Tidak perlu meminta ijin seperti itu, bukankah biasanya Kakak langsung masuk tanpa permisi."

Entah kenapa aku jadi bosan bertemu Kakakku setiap hari.

Sialnya, aku dan dia serumah.

Walau aku suka sih.

"Kenapa kau hanya berbaring saja?"

Kakakku menatap tajam padaku.

Setelahnya dia duduk di sampingku.

"Aku sedang mengalihkan fokusku dari kehidupan penuh masalah ini."

Hm, kata-kataku bagus juga ternyata.

"Menjijikan."

"Kenapa? Apa ada yang salah?"

Bukannya kata-kataku sangat bermakna ya?

"Tidak, tidak apa-apa."

Aku memposisikan duduk.

"Kak. Apa ada kemungkinan aku dan Hanabi bisa sekelas di SMA?"

Kakakku, memejamkan mata sebal, sepertinya.

"Aku tidak tahu."

Datar, datar sekali dia menjawabnya.

Aku menghela nafas.

Kenapa aku harus memikirkan itu? Sudahlah, memang kenapa kalau aku tidak sekelas dengan Hanabi? Apa hidupku akan berakhir?

Hahahaha, mungkin.

"Kenapa kau ingin sekelas dengan dia? Kalian kan baru saja kenal."

Sebenarnya itu benar, tapi entah kenapa aku tidak rela jika Hanabi tidak sekelas denganku.

"Karena dia gadis yang manis, seperti yang dulu Kakak bilang. Aku itu menyukai gadis manis."

"Kau menyukainya?"

Tidak, sepertinya aku salah kalimat.

Aku menyesal berkata seperti itu, karena sepertinya dari nada bertanya Kakakku, dia langsung sedih. Mungkin.

"Iya aku menyukai gadis manis. Aku menyukai dia karena itu. Seperti dia, Kakak juga gadis manis kan? Jadi aku juga menyukai Kakak."

Kenapa aku pandai bermodus ria ya? Sepertinya bakatku yang ini harus ku perdalam.

Pipi Kakak ku memerah, atau hanya penglihatan ku saja?

Tapi sayangnya, wajahnya sedang marah.

"Dasar bodoh!"

"Aduh! Kenapa harus memukulku dengan bantal lagi? Apa Kakak tidak suka ku anggap manis?"

"Diam!"

Dan selanjutnya, kamarku menjadi tempat latihan tinju profesional.

--

"Naruto, aku ingin belajar di rumahmu."

"Kenapa? Kenapa harus di rumahku?"

"Karena, aku ingin menginap di rumahmu."

Menginap di rumahmu.

Menginap di rumahmu.

Menginap di rumahmu.

"Diam!"

Sial, entah kenapa aku malah berteriak. Padahal pengulangan kata itu dari pikiranku sendiri.

Aku sangat tertekan, karena kalimat itu. Berlebihan sekali bukan?

Baru saja, Hanabi menghubungiku. Dia bilang ingin belajar bersama di rumahku, juga dia ingin menginap di rumahku.

Menginap di rumahku.

Menginap di rumahku.

Sialan, aku tentu saja melarangnya, karena Ayah dan Ibuku akan pergi. Untuk waktu yang lama.

Jangan tanyakan alasan orang tuaku pergi padaku, aku tidak tahu dan tidak akan mencari tahu.

Hanabi tapi masih bersikeras ingin menginap di rumahku. Dia berkata ini masih aman, karena di rumahku masih ada Kak Sakura.

Aku masih menolak tentunya, bagaimana bisa aman kalau dia mengharapkan perlindungan pada Kakakku.

Dari yang kulihat sepertinya Kak Sakura tidak suka dengan Hanabi, dan jika Hanabi berada di ruang lingkup pengawasannya, aku takut dia akan di serang.

Ini berlebihan sih, sebenarnya aku takut jika aku hilang kendali dan melakukan hal tidak bermoral padanya.

"Tidak apa-apa aku setuju. Lagipula testnya kan besok. Jadi jadwal belajarmu harus di tambah sampai malam."

"Tapi Kak."

"Ini juga demi dirimu Naruto. Kau ingin masuk SMA dan berangkat bersama denganku setiap hari kan?"

Er.. Sebenarnya, bukan denganmu tujuanku Kak.

Tapi, boleh juga kalau aku, Hanabi, dan Kak Sakura berangkat bersama. Hehe.

"Dan juga kita bertiga bisa melakukannya bersama."

Kakakku tersenyum manis.

Tunggu melakukannya bersama?

Arrgggh.. Apa yang kupikirkan.

Melakukan apa ya?

--

Pada akhirnya aku mengijinkan Hanabi. Setelah dia berkata dirumahnya tidak ada siapa-siapa, orang tuanya sedang pergi, untuk urusan pekerjaan.

Aku kasihan tentunya, tidak mungkin aku membiarkan dia sendirian di rumah, bagaimana nanti kalau ada pencuri? Jadi karena itu aku mengijinkannya, karena ingin Hanabi selamat, bukan sesuatu yang lain.

Dan sekarang dia sudah ada di rumahku. Duduk di sofa, di hadapanku.

"Ini yang Kakak maksud bisa melakukannya bersama?"

Kakakku ada di sini, dia bilang akan ikut belajar bersama dengan kami.

Hanabi awalnya ragu, tapi setelah kujelaskan bahwa Kakakku adalah pemegang nilai tes tertinggi di sekolahnya yang sebelumnya.

Hanabi setuju dan sempat kagum begitu mendengar nama sekolah Kakakku sebelumnya.

Kakakku, entah kenapa dia malah terus tersenyum bangga sambil mengangguk-anggukan kepala saat aku memberitahukan profilnya pada Hanabi.

"Kita mulai dari mana?"

Setelah aku mengatakan itu, Hanabi memasuki pose berpikir. Tangannya menyentuh dagu, dan dia dengan imutnya menggumamkan.

"Hm..."

Ah! Imutnya!

"Mungkin dari Matematik dulu, aku masih bingung dengan materi Induksi Matematik."

Sayang sekali, aku bahkan sama sekali tidak tahu dengan namanya.

"Baiklah, kebetulan Matematik adalah kegemaranku."

Kakakku memulai penjelasanya setelah dia membuka buku Matematik nya.

Aku? Jangan berpikir aku tidak akan mengerti tentang yang seperti ini.

Jika ada yang menjelaskan ini akan sangat mudah.

Bahkan Matematik adalah kemahiranku, karena pelajaran ini menurutku simpel, kutinggal mengikuti rumus yang di berikan guru, bahkan pernah aku bisa mengerjakan soal sulit hanya dalam beberapa detik.

Tapi aku selalu lupa sehari setelah aku mempelajari suatu materi. Inilah yang membuat nilai UN ku di Matematik agak kurang.

Hah.. Nilai UN lagi.

"Hebat! Hanabi bisa mengerti secepat ini."

Kakakku tersenyum senang sambil memegang kertas jawaban dari Hanabi.

Sesi belajar kami telah memasuki sesi menjawab soal.

Hanabi di puji karena dia dengan cepat bisa menjawab soal lumayan sulit kurasa.

Aku sebenarnya sudah selesai dari tadi.

Tapi aku pura-pura belum selesai. Aku takut hal tadi terulang kembali.

Tadi, saat sesi menjawab soal pertama aku bisa mengalahkan Hanabi. Dan dia nampak kecewa.

Tentu saja dari situ aku belajar untuk tidak membuat dia kecewa lagi.

Lagipula senyuman bahagia Hanabi yang sangat manis enak juga di pandang. Hehe.

"Hey Naruto! Kenapa kau memandang Hanabi seperti itu?"

"Apa? Memangnya aku seperti apa barusan?"

"Tatapanmu seperti seorang pedo yang menemukan mangsanya."

"Kak Sakura!"

Sialan, kenapa dia harus memulai lawakan yang seperti itu saat ada Hanabi.

Tapi, Hanabi.

Dia terlihat tersenyum senang. Lalu selanjutnya ikut tertawa bersama Kakakku.

Entah kenapa selanjutnya aku ikut tertawa bersama mereka.

Dari mereka aku merasakan perasaan hangat yang jarang ku rasakan. Mungkin karena aku lebih sering menyendiri, perasaan kebersamaan yang hangat sudah hampir aku lupakan.

Dan sekarang aku bisa tertawa bersama orang lain, sebelumnya aku hanya sering tertawa sendiri sambil membaca atau melihat sesuatu di ponselku. Ini sangat menyenangkan.

"Sudah malam, ayo kita tidur."

Ah benar, kenapa aku sampai lupa waktu ya?

Kulihat jam, sudah pukul 10.

Hanabi menguap setelah Kak Sakura berkata seperti itu.

Sepertinya baginya ini terlalu malam.

Anak gadis yang manis.

"Kenapa kau memandang Hanabi seperti itu lagi Naruto?"

"Aku tidak, ah sudahlah. Lebih baik kalian segera tidur."

Aku mulai merapikan buku-buku. Kak Sakura dan Hanabi mengikuti ku juga.

"Apa maksudnya kalian? Sudah kubilang kan, ayo kita tidur."

"Ya baiklah. Aku juga akan tidur."

Sebenarnya aku ingin bermain game online dulu setelah ini. Sudah lama aku tidak memainkannya.

Tapi sudahlah, aku sepertinya memang butuh istirahat cukup untuk besok.

"Maksudku saat kubilang kita, itu artinya kita tidur bersama Naruto. Aku akan tidur di kamarmu, sementara Hanabi di kamarku."

Tunggu! Kenapa dia berbicara tenang seakan ini adalah hal yang biasa.

"Kenapa kau tidur denganku Kak?"

"Ya karena kurasa itu tidak apa-apa. Apa kau ingin tidur bersama Hanabi hah?"

Sial tatapan tajam membunuh itu.

"Ba-baiklah."

Ini sebenarnya mudah, aku tinggal menahan diri sampai pagi datang.

Kurasa ini tidak akan menyiksaku.

"Tapi."

"Ada apa Hanabi?"

"Aku takut tidur sendirian. Jadi, apa boleh aku ikut tidur di kamar Naruto?"

"Baik, aku setuju. Kurasa tidak apa-apa karena ada aku di sana."

"Bagaimana itu bisa di bilang tidak apa-apa Kak Sakura! Aku tidak setuju!"

"Kau mau membantahku Naruto?"

"Ba-baiklah."

Aku salah, ini akan sangat menyiksaku.

--

Terima kasih.