Summary:

Naruto, dia seperti orang biasa. Punya mimpi seperti orang lain. Niatnya untuk mengejar mimpi pernah berakhir, tapi sekarang impian itu kembali dia perjuangkan, karena ada dia yang Naruto jadikan penyemangat hidup.

Disclaimer, Naruto milik MK.

--

Sebuah masa di mana orang mencari jati diri.

Remaja, itu yang ku maksud.

Pada masa ini pikiran kita akan mulai memikirkan tentang untuk apa kita hidup, tujuan kita bernafas, atau mengapa kita di ciptakan di dunia ini.

Ya mungkin, karena aku juga baru memasuki masa remaja itu.

Beberapa dari orang bilang bahwa masa remaja yang sebenarnya dimulai saat kau masuk ke SMA.

Aku tidak tahu yang di maksud 'yang sebenarnya' itu. Memangnya ini akan berbeda sekali dengan kehidupanku yang sebelumnya ya? Aku hanya membayangkan bahwa kehidupan SMA itu akan penuh dengan beban pikiran.

Kau tahu bukan? Di SMP saja yang namanya tugas, ulangan, target nilai adalah sesuatu yang sangat membebankan pada kehidupan masa remaja kita. Aku tidak bisa membayangkan betapa repotnya kehidupan SMA-ku yang akan kujalani ini.

Ya walau, asalkan ada dia mungkin aku akan terus semangat dalam menjalani proses melewati masa remajaku ini.

Apakah kalian punya seseorang yang kalian jadikan penyemangat? Penyemangat bukan hanya orang yang kau sukai sebenarnya. Banyak orang yang punya sesuatu untuk di jadikan penyemangat berbeda-beda.

Tapi sayangnya aku tidak perduli dengan itu. Yang kuperdulikan adalah senyuman manis Hanabi. Haha..

--

Berbagai persiapan telah ku siapkan sebelumnya. Belajar bersama Hanabi, melihat materi di internet, dan menerima segenap ilmu dari Kak Sakura-ku yang imut.

Imut di sini dalam artian manis.

Meskipun lebih manis Hanabi. Haha..

Tapi sepertinya persiapan yang kulakukan itu sia-sia. Berbagai soal telah kupelajari, tapi tidak ada satupun yang kupelajari muncul di kertas yang ku pegang saat ini.

Ini pelajaran matematika, padahal baru semalam aku mempelajarinya.

"Aku harus bagaimana."

Tenang Naruto, berpikirlah. Cari peluang yang bisa kau gunakan.

Peluang? Hm, di lembar soalku ini hanya ada soal pilihan ganda saja.

Oke ini kesempatan menggunakan kekuatan keberuntunganku.

--

Dan betapa beruntungnya aku, aku lulus tes. Setelah di tes materi pertama aku menggunakan kekuatanku, materi selanjutnya ternyata mudah semua.

Maaf aku sombong, Haha.

"Halo, Naruto."

"Ah, Hanabi."

Kini aku sedang duduk di bangku taman yang dulu aku kira lapangan sepak bola, luas sekali di sini.

Dan seakan seseorang ingin menunjukan bahwa kisah ini adalah kisah aku dan Hanabi, tiba-tiba Hanabi mendatangiku.

Memanggilku dan tersenyum manis.

Ah, maksudku senyuman yang manis sekali.

Dia lalu mengambil tempat di sampingku.

"Aku lulus tes, Naruto."

Kembali dia tersenyum, tapi kali ini senyumannya memperlihatkan sedikit giginya Hanabi yang putih. Senyuman ceria yang tersirat rasa bangga di sana.

"Selamat kalau begitu."

Aku pun membalas senyumannya. Walau aku tidak tahu apakah senyumanku itu sebanding dengannya, karena kemanisan Hanabi tidak ada yang menandingi. Haha...

"Aku juga lulus tes, dan itu semua berkat dirimu Hanabi."

Sebuah kata pujian yang ku lontarkan ini kumaksudkan untuk membuat Hanabi kembali memberikan senyuman manisnya itu.

Tapi sayangnya ekspetasiku tidak dapat terealisasikan. Hanabi malah menggaruk pipinya dengan telunjuk sambil tersenyum canggung.

Walau itu adalah ekspresi paling imut, manis dan mendebarkan untuk kulihat. Benar-benar Hanabi yang manis. Ah, bila aku mengucapkan apa gambaran dari dirinya, aku akan bilang dia adalah Hanabi yang manis dari manis itu sendiri. Betapa manisnya dirimu Hanabi.

Maaf aku terlalu berlebihan.

"Maafkan aku Naruto, sebenarnya hal yang kita pelajari semalam adalah materi kelas 11. Dan tentu saja tidak akan keluar di tes masuk kita. Maaf ya. Hehe."

"Iya tidak apa-apa."

Eh, tunggu dulu? Hanabi di akhir bilang hehe? Ini, ini sangat...

Ah sudahlah.

"Tapi sepertinya di sekolah ini tidak ada masa pengenalan lingkungan sekolahnya. Para siswa-siswi akan di tentukan kelas dan langsung menjalani pelajaran seperti biasa mulai Senin besok."

"Benarkah?"

"Iya."

Syukurlah, tidak akan ada kegiatan merepotkan sebelum resmi menjadi murid di sini. Aku punya pengalaman buruk tentang masa pengenalan lingkungan sekolah, dan sayangnya aku tidak mau menceritakannya karena aku ingin melupakannya.

"Di sini sepi sekali ya Naruto."

Aku meliriknya, lalu melihat sekitarku.

Memang benar, tidak ada orang yang nampak sejauh mataku memandang. Mungkin dari banyaknya murid baru, hanya aku dan Hanabi saja yang mengetahui tempat ini. Atau mungkin ada yang tahu tapi tidak mau berdiam di sini seperti aku dan Hanabi.

"Padahal di sini tempat yang menyenangkan, luas dan pemandangan di sini juga indah."

Apalagi ada dirimu Hanabi, keindahannya akan berjuta kali lipat.

"Kau benar, mungkin aku akan ke sini setiap hari saat jam istirahat."

"Naruto."

"Iya?"

Hanabi dan aku saling bertatapan, tidak sengaja sebenarnya karena aku dari tadi tanpa sepengatahuan dia terus memperhatikan wajah Hanabi saat dia menatap ke depan. Tapi sepertinya dia tidak terpengaruh.

"Aku juga, ingin ke sini setiap hari saat jam istirahat. Bersamamu."

Tersenyum, lagi-lagi dia tersenyum manis. Aku sempat tertegun melihatnya.

Sekilas aku melihat rona merah di pipinya, tapi itu mungkin karena cuaca hari ini panas.

"Tentu. Hehe."

Aku menggaruk belakang kepalaku. Suatu kebiasaan bila aku sedang malu.

"Terima kasih."

Dia mengeluarkan jenis senyuman yang baru. Tersenyum sambil matanya hampir terpejam.

Walaupun jenisnya berbeda, senyumannya tetap saja.

Manis.

"Kita harus mengecek kelas yang akan kita masuki Naruto."

"Memangnya sekarang?"

Hanabi berdiri lalu dia memegang tanganku dan selanjutnya kamipun berlari sambil Hanabi yang menarik tanganku tersenyum, aku juga tersenyum.

--

Pukul empat sore, aku kini berbaring di sofa ruang tamu kediamanku. Dengan kakakku yang duduk di depanku sedang fokus melihat acara favoritnya di tv.

"Naruto, apa kau yakin masuk jurusan IPA?"

"Tentu. Aku berpikir bahwa IPS akan lebih merepotkan, karena pelajaran sejarah biasanya kebanyakan menghafal. Dan aku tidak mau menghafal satu kisah sejarah pemberontakan negara kita terhadap penjajah."

"Sudah kuduga."

"Hm."

Aku mengetikan sesuatu di ponselku, di situs mesin pencari serba ada. Mencari tentang bagaimana cara mendapat uang secara online dengan cepat.

Aku tidak tahu, tapi sejak aku tahu tentang internet, aku selalu mencari sesuatu dengan kata kunci cara dapat uang gratis, pulsa gratis, atau semacamnya.

Hal ini tidak penting sih.

"Hanabi bilang kalian satu kelas ya, Naruto?"

Kapan dia berinteraksi dengan Hanabi? Apa Kakakku dan Hanabi punya telepati yang hanya dimiliki oleh gadis manis? Hm, harus aku selidiki.

"Iya."

Ngomong-ngomong soal itu, aku bersyukur bahwa aku mendapat kemudahan karena kebetulan aku bisa sekelas dengan Hanabi. Tadinya aku takut bila ternyata aku tidak sekelas dengan dia, tapi ternyata konflik basi ala sinetron dari negara kepulauan itu tidak aku alami. Untungnya.

"Naruto."

"Ada apa, Kak?"

Aku meliriknya, dan dia juga ternyata sedang menatapku sambil tersenyum manis. Karena dia gadis manis.

"Aku senang kita bisa berangkat bersama lagi seperti dulu."

"Hehe, iya."

Dulu, kami saat SMP selalu berangkat bersama berjalan kaki. Dan itu masa-masa manis dan menyenangkan karena aku selalu bergandengan tangan dengan dia, entah kenapa. Walau saat sampai sekolah kami harus melepaskan gandengan tangan kami.

"Kau ingat dulu kita sering bergandeng tangan?"

Ya, baru saja aku menarasikannya.

"Apa boleh aku menggandeng tanganmu lagi seperti dulu, Naruto?"

"Itu."

Mengapa? Padahal seharusnya aku senang dan tanpa ragu mengiyakannya seperti dulu. Tapi kali ini aku merasa ragu.

Tapi tunggu dulu, bergandengan tangan di depan umum kan memang sangat memalukan, apalagi dia kakakku.

"Boleh ya?"

Ah, tidak. Senyuman manis dengan mata indah.

Sangat mematikan.

--

"Ada apa Ayah?"

"Lihat pesan ini."

Aku mengambil ponsel yang Ayah ulurkan padaku.

"Inikan ponselku!"

"Sudahlah cepat baca pesannya."

Memangnya ada apa di kotak masuk pesanku.

Hm, saat aku buka ternyata memang ada sebuah pesan dari.

Hanabi?

"Apa-apaan ini? Ayah, apa kau sehat?"

Ternyata Ayahku membajak ponselku dan dia mengirimkan pesan pada Hanabi.

Isi pesannya, ini membuatku hampir jantungan.

"Hanabi, besok Senin kita berangkat bersama ya?"

"Oke, Naruto. "

"Tapi, boleh tidak kalau kita sambil bergandengan tangan?"

"Itu..."

Tidak, hidupku sudah berakhir.

Ayahku hanya menyeringai dan berjalan pergi meninggalkanku.

Sialan.

--

Terima kasih, Shinra. Sebenarnya cerita ini tidak mau saya tamatkan, hehe.