"Pagi."

Entah kenapa.

Secara kebetulan meskipun aku kini sedang bermimpi, tapi suara seseorang yang bilang pagi itu terdengar olehku.

Sudah pagi ya? Ah, aku masih ingin tidur.

Tapi tunggu? Mengapa suaranya begitu dekat dengan wajahku?

"Apa yang.. Aaaa!!"

--

Meskipun seorang laki-laki itu akan merasa senang jika ada gadis manis yang membangunkan tidurnya di pagi hari.

Tapi, tidak ada orang yang senang bila tiba-tiba gadis itu berada tepat di depan wajahmu saat kau masih berusaha membiasakan matamu dengan dunia di pagi hari.

Bukan masalah senang atau tidak sebenarnya, tapi dia melakukan sesuatu hal yang berbahaya. Kalian tahu bukan jika laki-laki dan gadis manis saling berdekatan wajah, itu sudah melanggar aturan!

"Hah... Aku ini laki-laki Kak."

Apa Kak Sakura tidak tahu tentang batasan antara laki-laki dan gadis manis? Hm. Entah kenapa aku terpikir sesuatu yang menarik karenanya.

"Aku tahu, karena itulah aku mau menyusup ke kamarmu. Melihatmu tidur membuatku gemas. Uuu.. "

Sialan, argumen itu itu tidak menenunjukan bahwa kau tahu tentang batasan itu. Gadis 'berpikir' mana yang menyusup ke kamar laki-laki saat dia tertidur.

Tapi tunggu? Dia menyusup ke kamarku!

"Memangnya sudah sejak kapan kau ada di kamarku?"

"Hm.. Sejak pukul 2 pagi?"

Bagaimana bisa, Tidak..

"Apa saja yang kau lakukan padaku Kak!"

"Eeh?"

Jangan memasang ekspresi polos itu! Aku tahu kau pasti menyentuh bagian-bagian tubuhku ini kan! Memainkannya kan!

"A-aku..."

Tidak. Jangan memakai pose malu-malu yang imut itu! Aku jadi semakin khawatir dengan kesucianku ini. Eee.. Maaf ini terdengar menjijikan, tapi laki-laki juga tidak mau mendapat pelecehan!

"Anu.."

Tolonglah Kak Sakura, kau itu terlalu manis untuk bertingkah malu-malu seperti itu! Atau aku peluk saja dia ya?

"A-aku hanya mencium pipimu saja Naruto."

Yah, mengapa hanya segitu?

"Hm. Kakak juga menciumku di bibir?"

Setelah aku mengatakan itu,yang kulihat selanjutnya hanyalah kegelapan, dan di saat akhir aku melihat wajah memerah Kak Sakura yang di tangannya sedang memakai sarung tinju.

--

"Jangan malu-malu seperti itu, Naruto. Hihi.."

"Bukan masalah aku yang malu-malu! Tapi hal yang kita lakukan ini sangat memalukan. Lepaskan Kak!"

"Tenang saja, aku akan menggenggamnya dengan lembut."

Dia mengatakan itu sambil tersenyum aneh.

Apa yang kalian pikirkan saat baru saja Kak Sakura berkata akan menggenggamnya dengan lembut? Kalau aku terpikirkan sesuatu yang... Berbahaya untuk aku katakan.

"Sudahlah lebih baik kita cepat berangkat."

--

Tidak terasa, tiba-tiba saja aku teringat masa sekolah dasarku yang membuatku merinding karena kenangan manisnya. Semuanya seperti hari kemarin aku alami.

Langkahku keluar rumah ini pun terasa berat. Aku merasa aku masih belum siap untuk menjadi anak SMA.

Tidak seperti itu juga sih, ayolah! Aku malas pergi sekolah lagi.

"Naruto!"

Suara itu. Tiba-tiba ada teriakan dari seseorang yang sudah bisa ku tebak dari suaranya yang manis untuk kudengar.

Hatiku terasa bahagia mendengarnya, bagai dalam hati ini semangatku meninggi karenanya.

"Hanabi!"

Ternyata benar itu suara indah milik dia.

Hal luar biasa yang akan ku alami hari ini, berangkat sekolah bersamanya.

Mungkin bila aku sedang di dalam film, akan ada emoticon bergambar hati dan wajah tersenyum di atas kepalaku.

Betapa bahagianya hidup di dunia ini.

"Kenapa kau meneriaki dia juga Naruto?"

"Eh?"

Kenapa ya?

Sepertinya aku baru saja melakukan hal yang memalukan.

"A-aa.. Naruto."

Hm?

Hanabi sudah berdiri di depanku setelah sebelumnya dia berlari dari arah rumahnya.

Tapi apa yang kulihat? Kembali, seorang gadis manis bertingkah malu-malu di depanku.

Dan juga, dia memainkan telunjuknya!

Imutnya.

"Ada apa Hanabi?"

Kakakku yang bertanya itu.

Aku meliriknya, dia juga balik menatapku.

Kenapa suasana menjadi tegang di sini.

"Soal bergandengan tangan, a-aku tidak bisa."

"Apa! Ma-maksudku, apa? Bukannya aku sudah bilang dua hari yang lalu itu hanya bercanda."

"Ee..? Benarkah?"

Tentu saja benar!

Kak Sakura! Berhenti menatap tajam padaku!

"Maaf, aku tidak membuka ponselku lagi sejak hari itu. Ka-karena-"

"Sudahlah Hanabi ayo kita berangkat."

"Tunggu aku Kak!"

Kakakku berjalan lebih dulu di depanku dengan Hanabi.

Kulihat mereka bergandeng tangan. Dan, mereka berbicara tentang aku tidak tahu apa karena terlalu jauh untuk bisa kudengar, selanjutnya mereka tertawa bersama.

Aku tersenyum melihatnya, merasa damai tentunya. Melihat ada dua gadis manis yang aku sayangi terlihat akrab.

Tapi saat aku berada di jarak lebih dekat aku mendengar pembicaraan mereka.

"-ruto itu memang bodoh."

"Hey! Aku mendengarnya!"

"Ma-maaf Naruto."

"Kau kan memang bodoh. Hihi."

Ternyata mereka akrab karena sependapat bahwa aku orang yang bodoh.

Menyenangkan dan juga menyakitkan.

Hah...

--

Shinra. Yang begini rasanya kayak ga ada endingnya :v makasih udh review

Rindou. Makasih gan, emang lucu ya? :v makasih udh review.

Ada satu guest yang review, itu masuk ke emailku tapi pas di cek ffn kagak ada anjay.

Pokoknya.

Terima kasih.