Setelah sampai di sekolah aku dan Hanabi berpisah dengan Kak Sakura. Kami, aku dan Hanabi pergi ke kelas kami untuk menyimpan tas dan setelah itu pergi ke lapang upacara melaksanakan upacara penyambutan.
Jika kalian ingin tahu bagaimana perasaanku saat ini, akan ku beritahu tentu saja.
Di tempat ini ada banyak sekali orang jadi aku merasa canggung tentunya. Aku selalu memikirkan apa yang di pikirkan orang saat mereka menatapku, aku selalu takut jika aku memberi kesan buruk dengan penampilanku.
Meskipun aku dulu bilang tidak peduli dengan hal itu tapi. Manusia itu tidak suka dipandang dengan pandangan buruk bukan? Karena aku manusia jadi tentu saja aku akan melakukan hal yang biasa manusia normal lakukan.
Mengesampingkan tentang perasaanku, hal yang lebih penting bagiku sekarang adalah mencuri pandang melihat wajah Hanabi yang terlihat olehku adalah wajah bahagia dari seorang bidadari loli dari surga. Eh bidadari loli?
"Terima kasih sudah memilih sekolah kami sebagai tempat belajar kalian wahai para murid-murid jenius."
Kini aku sedang berdiri berbaris mendengarkan pidato dari kepala sekolah yang berdiri di panggung di depanku.
Dan, karena bagian berbaris laki-laki dan perempuan itu berbeda. Aku kini terpisah dengan Hanabi, mudah-mudahan tidak selamanya kami berpisah.
"Keberhasilan kalian melewati tes masuk SMA ini membuktikan bahwa kalian adalah murid-murid yang cerdas dan mempunyai otak di atas rata-rata. Jadi selamat datang wahai penerus bangsa!"
Err... Mengapa sekarang aku jadi merasa bersalah hanya karena kemarin saat tes aku mengarang jawaban, dan hampir semua jawaban di mata pelajaran bahasa aku mengarang semuanya. Tentu tidak hanya pelajaran bahasa saja aku mengarang jawaban.
Aku jadi ragu tentang kualitas sekolah ini dari segi akademik. Tes macam apa yang bisa di jawab benar hanya dengan menebak jawaban saja?
Apa ini yang di sebut jenius?
Hah...
--
Setelah upacara selesai barisan pun di bubarkan. Aku langsung memfokuskan diri untuk mencari Hanabi di kerumunan barisan perempuan yang baru saja membubarkan diri.
Namun sampai ke orang terakhir, aku tidak melihat Hanabi.
Dengan kecewa akupun kini berjalan menuju ke kelasku, mungkin Hanabi sudah sampai di sana.
"Naruto! Tunggu aku!"
Ternyata dugaan ku salah.
Hanabi kulihat berlari menghampiriku dari arah tempat sebelumnya barisan laki-laki berada. Dan aku sudah bisa menebak kesalah pahaman kecil yang terjadi di sini.
"Aku mencarimu dan yang kulihat sekarang kau mau meninggalkanku?"
Hah... Tolong bisakah adegan ini di hapus saja.
Meskipun ini memang sedikit romantis tapi karena ini sudah terlalu mainstream jadi terasa agak menggelikan.
Aku mencari Hanabi di barisannya dan ternyata Hanabi mencariku di barisan laki-laki, lalu dengan dramatisnya sebelum aku menyerah mencari dia, Hanabi datang di saat-saat terakhir dengan menunjukan senyuman manisnya yang tiada taranya itu.
"Maaf aku kira kau sudah duluan Hanabi."
Dia hanya mengangguk sambil bilang 'oke' dengan senyuman manis yang selalu ada di wajahnya. Walau sekarang aku ingin berteriak memuji kemanisan Hanabi tapi aku tidak melakukannya karena itu adalah tindakan yang biasa di lakukan oleh orang yang tidak waras.
Kemanisanmu membuatku gila Hanabi!
Lalu, kamipun berjalan bersama menuju kelas kami.
Setelah sampai muncul lagi masalah yang harus kita bahas lagi di sini. Kami sudah ada di kelas, dan yang tinggal kami lakukan adalah duduk di bangku yang telah kami pilih.
Tapi, aku teringat kalau kami ini adalah lawan jenis. Saat Hanabi selesai memilih tempat duduk lalu menepuk tempat di sisinya dan setelahnya mengajakku dengan suara ceria aku jadi merasa bingung.
"Ada apa?"
Ya ampun, sepertinya Hanabi belum menyadarinya. Jika aku menurutinya lalu duduk di sampingnya apa yang akan di pikirkan teman-teman sekelas ku pasti sudah jelas. Mereka pasti akan berpikir buruk tentang aku dan Hanabi, dan aku tidak mau mereka berpikir seperti itu pada Hanabi.
"Anu.. Boleh aku duduk bersamamu?"
Untungnya sebelum aku menolak ajakan Hanabi ada gadis yang menyelamatkanku dari kewajibanku itu.
Dia kulihat langsung duduk saja sebelum sempat Hanabi menjawab. Hanabi menatapku dengan pandangan sedih, dan aku hanya menggaruk kepalaku karena kepolosan Hanabi itu.
Ya sudahlah aku sekarang tinggal mencari tempat duduk yang kosong.
Aku berjalan melewati beberapa bangku yang sudah di duduki. Sampai akhirnya aku berakhir hanya menemukan meja kosong dengan satu kursi di pojok bagian paling belakang kelas ini.
Ya sudahlah mungkin ini memang takdirku.
Aku tidak menyesal juga mendapat tempat duduk di sini. Karena, bisa dengan jelas kulihat Hanabi tersenyum padaku dari sini jika dia melihat ke belakang.
Biar ku jelaskan saja penggambarannya.
Dari arah pintu kelas, meja tempat duduk siswa ada di sebelah kanan. Dan tempat duduk Hanabi ada di depan, persis dekat pintu kelas yang aku jadikan sudut pandang tadi.
Karena dekat dengan pintu kelas berarti dari sudut pandang yang aku gunakan, sudut pandang pintu kelas. Posisi Hanabi ada di kanan depan, dan untuk posisiku ada di bagian ujung kiri dan paling belakang.
Nah, kuharap kalian mengerti meskipun aku juga kebingungan dengan penjelasan ku.
--
Pelajaran pertama adalah, belum ada sih. Oh maksudku, jam pertama di isi oleh perkenalan wali kelas, juga sebaliknya.
Wali kelas kami hanya menyuruh kami semua menulis nama, alamat dan hobi di kertas lalu sesuai urutan satu persatu kami membacanya sambil berdiri di tempat kami sendiri.
Dan urutan di mulai dari posisi Hanabi berada.
"Namaku Hanabi, umurku 16 tahun. Dan a-aku tinggal di..."
Saat bagian ini dia berhenti setelah di ucapan terakhirnya dia terdengar gugup.
Lalu entah kenapa dia malah melihat ke arahku dan memasang wajah seperti menahan tangisan, atau memang dia benar-benar sedang menahan diri untuk tidak menangis.
Aku yang dilihat olehnya pun sedetik kemudian tahu apa masalah yang terjadi saat ini, lalu dengan gerakan lambat aku mengacungkan tangan kananku ke atas.
"Bu, boleh tidak urutannya di mulai dari belakang. Dariku saja."
Semua orang di kelas ini menatapku heran, mungkin tidak semuanya sih. Tapi aku yakin mereka berpikir aneh-aneh tentangku. 'Seorang murid dengan kepercayaan diri yang tinggi sedang meminta semua orang di sini untuk memperhatikan dirinya.'
Hah...
"Baik."
Untung wali kelasku ini tidak merepotkan dan mau menerima permintaan muridnya. Meskipun dia sebelumnya menatap semua murid seakan meminta pendapat, walau tidak ada dari mereka yang mau menolak keinginanku ini setelahnya.
Lalu aku pun membacakan isi dari kertas ku. Tentu isinya namaku, alamat rumahku yang sepertinya Hanabi tidak tahu nama alamatnya ini tadi, lalu hobiku yaitu bermain sepak bola meskipun aku sudah jarang bermain sekarang.
Jam-jam berikutnya pun sama para guru dari pelajaran masing-masing memperkenalkan dirinya lalu kami sebagai murid juga balik memperkenalkan diri kami, sampai jam istirahat tiba tidak ada hal lain lagi selain perkenalan.
--
Saat jam istirahat beberapa dari teman sekelas ku pergi keluar seperti nya pergi ke kantin atau apapun aku tidak tahu.
Aku? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku tidak bisa ke kantin karena aku lupa membawa uang, lalu aku juga tidak bisa pergi ke kamar kecil karena aku sedang tidak ingin membuang apa-apa.
Aku kini hanya duduk sambil mengawasi Hanabi berbicara dengan teman sebangkunya. Walau selanjutnya dia melihat ke arahku dan tersenyum dengan manis.
Kulihat dia berdiri lalu berjalan bersama temannya, mendekatiku.
"Nah ini temanku Naruto. Dan Naruto perkenalkan dia Tenten."
Hanabi dan temannya sudah ada di depanku. Aku pun berdiri, agar sopan.
"Halo, Naruto."
Orang yang baru saja di perkenalkan oleh Hanabi ini tersenyum sambil bilang seperti yang di atas.
Aku hanya mengangguk saja, dan tersenyum canggung.
Teman baru? Kurasa tidak buruk juga.
--
Hari pertama di sekolah ini membosankan di setiap guru berganti hanya ada sapaan perkenalan ataupun yang berhubungan dengannya.
Kalau kalian mengikuti ceritaku di sekolah ini terus, kalian juga pasti akan merasakan perasaan bosan yang sama denganku.
Ok ini tidak penting.
"Yang penting sekarang adalah, Naruto! Ada berapa teman yang kau dapat hari ini?"
Saat ini kami, aku, Hanabi dan Kak Sakura sudah dalam perjalanan pulang. Berjalan bersama menuju halte terdekat.
Dan kakakku Sakura bertanya seperti yang tertera di atas padaku.
Teman? Hm...
"Satu orang Kak."
"Hah.."
Helaan nafas dari kakakku sudah aku duga.
Mungkin sebagai kakakku dia merasa khawatir padaku tentang sejauh mana pergaulan ku. Karena, dari kecil pun aku tidak mempunyai kemampuan interaksi sosial yang baik. Bukan cara bicaraku yang kasar yang kumaksudkan.
Aku sejak SMP pun teman yang ku punya hanya beberapa tetanggaku dan beberapa teman sekelas ku. Semua teman sekelas ku tidak bisa kuanggap teman, sebagian dari mereka entah kenapa tidak pernah menganggapku walau aku selalu berusaha memaksakan bergabung dengan obrolan mereka sekalipun.
Hah.. Kumohon jangan menilai aku adalah pemuda yang malang. Walaupun sepertinya memang begitu.
"Satu orang itu teman sebangkumu?"
"Bukan, itu teman sebangkunya Hanabi. Aku tidak punya teman sebangku."
Saat aku menemukan diriku hanya duduk sendiri saja di pojok kelas tempat duduk ku. Aku mengira kalau orang yang jadi teman sebangkuku itu sedang ijin tidak berangkat atau bagaimana.
Tapi ternyata murid di kelasku itu memang ganjil. Jadi aku tidak akan mendapat teman sebangku sampai kelulusan.
"Biar ku tebak. Pasti teman baru mu itu seorang gadis?"
"Hehe."
Ya tentu saja bukan? Kau tidak perlu memikirkannya secara keraspun pasti akan mudah mendapat jawabannya karena tidak mungkin laki-laki yang menjadi teman sebangkunya Hanabi. Kalau laki-laki sudah aku hajar!
"Hanabi."
Kak Sakura berganti bertanya pada Hanabi.
Hanabi yang dari tadi kulihat menunduk, agak tersentak dengan panggilan Kak Sakura.
"A-aa.. Iya!"
Tunggu dulu! Kak Sakura tidak akan menyalahkan Hanabi bukan?
"Tolong Hanabi. Jaga teman barumu itu. Naruto bisa menyerangnya kapan saja."
"Um."
"Eeeeh?"
Aku tidak terlalu keberatan sebenarnya dengan pernyataan Kak Sakura.
Aku kini sedang terkagum dengan kedua gadis di depanku ini saling melempar senyum manisnya. Hanabi yang tadi nampak tegang langsung terlihat santai seperti biasanya.
Ah manisnya!
--
"Aku memasukanmu ke dalam ekskul olahraga!"
"Apa! Maksudku. Apa? Aku bahkan belum mendapat konfirmasi apapun."
Kak Sakura tertawa cerah.
Ah! Kau pikir senyumanmu yang manis itu bisa meluluhkan ku Kak? Meskipun, kekesalan karena kakakku tidak meminta pendapatku terlebih dahulu langsung hilang sih. Hah..
Kak Sakura berlalu ke kamarnya.
Aku pun mengikutinya ke kamar.
Maksudnya ke kamarku sendiri.
Kami sudah sampai di rumah, setelah perjalanan jauh yang melelahkan. Tapi di satu sisi kuakui, perjalanan ini sangat menyenangkan karena bisa bersama dengan dua gadis manis. Hehe.
Ya seperti di atas. Setelah aku dan kakakku melepaskan sepatu, kakakku tiba-tiba langsung bicara seperti di atas.
Hah.. Ya sudahlah itu juga bentuk perhatiannya padaku.
Hanabi juga sepertinya juga sudah sampai di rumahnya sendiri sekarang.
Aku saat ini sudah di kamarku. Dan aku sedang heran sekaligus gemas.
"Eh?"
Aku sedang memeriksa ponselku, lalu tiba-tiba ada pesan dari Hanabi. Isi pesannya lah yang membuatku ingin tertawa geli.
Hanabi
-Ah iya! Baiklah kalau itu cuma bercanda. Jangan ulangi lagi ya.
Dengan emoticon senyuman lebar di akhir pesannya.
--
Aaaaaa! Sumpah ini cerita apaan sih ya? :v
Nona fergie Kenedy. Oke iya karena Sakura itu manis sekali buat di bikin jadi kakak nya Naruto! Saya juga mungkin ga tahan terus jatuh cinta kalau di genitin kayak Naruto :v
Thanks...
