"Halo?"
"..."
"Woy!"
"Kau Naruto? Pemegang nilai UN tertinggi ke dua sekonoha? Heh?"
"Ha? Siapa ini?"
"Malaikat mautmu."
Selanjutnya, suara panggilan tertutup dari ponselku membuatku merinding.
--
"Hey! Bangun!"
Sejak kapan suara alarmku berubah jadi suara gadis manis?
Butuh beberapa detik diriku memulihkan kesadaran ku dari istirahat malam yang tidak cukup karena telpon teror yang kudapat semalam.
Namun setelah aku sadar, kusadari ternyata bukan hanya ada suara alarm aneh yang barusan ku dengar.
Tapi juga sekarang aku melihat sesuatu yang seharusnya di bilang aneh saat seusuatu itu menindih tubuhku.
"Kak Sakura! Jangan seenaknya tidur di atas tubuhku!"
--
Pagi yang biasa di kediaman ku, dengan rutinitas kejadian yang juga tidak jauh berbeda dengan pagi hari lainnya yang pernah ku alami.
Berbagai hal normal tentunya.
"Kakak, bisakah kau untuk tidak menyusup ke kamarku sembarangan."
"Aku tidak menyusup."
Raut muka sebal yang manis di perlihatkan oleh kakakku sekarang. Memangnya dia pikir aku akan takut dengan intimidasi manis seperti itu?
"Tadi kakak tidur di atas tubuhku itu kenyataan bukan?"
Apa aku hanya bermimpi?
"I-itu. Aku tadi pagi berniat membangunkanmu. Kau tahu, aku tidak sabar berangkat sekolah bersamamu Naruto. Kemarin saat di sekolah aku terlalu sibuk hingga kita jadi tidak bisa kencan pada jam istirahat kemarin."
"Apa maksudnya kencan? Juga pukul tiga pagi memangnya waktu yang tepat untuk bersiap berangkat sekolah?"
"Hehe."
Dasar kakak aneh. Sialnya aku adalah adiknya.
--
"Kau mau kencan denganku kan Naruto?"
"Bukannya kita itu saudara kandung?"
"A-apa? Kalian akan pergi kencan?"
"Memangnya aku ini saudaramu ya?"
"Hanabi, jangan salah paham. Kak Sakura, akting hilang ingatanmu buruk."
Kak Sakura hanya memasang wajah sebal setelah mendengar perkataan ku.
Saat ini aku bersama Hanabi dan kak Sakura sudah dalam perjalanan untuk pergi sekolah, kami bertiga sedang dalam bus.
Dan dari tadi kak Sakura terus membicarakan soal kencan, entah apa yang merasukinya.
"Hanabi, semalam kau meneleponku? Aku semalam mendapat panggilan dari nomor yang tidak di kenal."
"Tidak. Aku hanya punya satu nomor, dan kau tidak perlu curiga padaku bukan? Bukannya nomorku sudah kau simpan?"
"Hehe. Aku lupa menyimpannya."
Hanabi hanya memasang wajah sebal setelah mendengar perkataan ku.
Aku kira dia yang meneleponku, karena yang ku dengar semalam itu adalah suara dari seorang gadis. Suaranya manis sekali kau tahu.
Ternyata bukan Hanabi. Lalu siapa? Aku tidak pernah menyebar nomorku ke siapapun selama ini, Hanabi tahu nomorku itu juga karena Ayahku.
"Kau seharusnya bertanya padaku dulu bukan Naruto? Aku kan yang paling dekat denganmu."
"Hm. Karena aku tidak bisa mencurigai gadis manis seperti kakakku ini."
Aku sudah ahli dalam hal-hal seperti ini, menangani seorang gadis manis yang marah karena lupa ku perhatikan.
Aku jenius bukan?
"Lalu kenapa aku di curigai?"
Hanabi memalingkan wajahnya pada jendela. Bisa kulihat pantulan wajahnya yang sedang mengembungkan pipinya.
"Itu..."
Wajah sebalnya memang manis. Sayang aku tidak bisa menikmatinya saat ini.
Karena aku sekarang lupa 'cara mengatasi gadis manis yang aku curigai tanpa sengaja'.
--
Aku sekarang sudah sampai di sekolahku.
Berjalan hanya berdua dengan Hanabi menuju ke kelas. Setelah sebelumnya berpisah dengan kakakku.
Dan Hanabi masih belum berbicara.
"Maaf Hanabi. Aku mencurigaimu karena hanya kau yang tahu nomor telepon ku."
"Benarkah?"
Apa tidak terlalu cepat perubahan ekspresinya itu?
"Iya benar."
"Kau tidak perlu minta maaf."
Ya ya ya, itu adalah kalimat basa basi orang orang dari dulu. Kau tidak perlu minta maaf.
"Tapi, kemarin sebenarnya ada yang meminta nomormu padaku."
"Siapa?"
"Dia membuatku bersumpah tidak memberitahu namanya padamu. Maaf aku tidak minta ijin padamu."
Petunjuk pertama telah ku dapatkan. Oke ini jadi semakin jelas di bagian penyebab ada telepon yang menerorku.
"Kau tidak perlu minta maaf. Hanabi."
Aku tersenyum padanya.
Tunggu dulu? Aku merasa aneh dengan perkataanku. Apa ya?
--
Thanks for read.
Terimakasih.
