"Halo Naruto. Namaku Hotaru, orang yang menelponmu semalam."
Dengan senyuman manis dia mengucapkan itu.
--
"Jadi, apa maksudnya dengan kau adalah malaikat mautku?"
Waktu masih pagi, jam pertama telah usai dan jam istirahat pertama pun datang.
Tiba-tiba saat aku membereskan alat tulis ku seseorang menepuk pundakku lalu tersenyum manis.
Orang itu adalah orang yang saat ini sedang aku ajak bicara. Dia duduk di depanku dengan Hanabi dan Tenten berdiri di sampingnya.
Kami saat ini masih di kelas.
"Maaf. Sebenarnya maksudku bukan seperti malaikat maut pada umumnya."
Memangnya ada malaikat maut khusus?
"Maksudku, aku adalah orang yang akan mengakhiri titel mu sebagai pemegang nilai UN ke dua tertinggi di Konoha ini."
Hah.. Entah kenapa sekarang aku jadi menyesal mendapat nilai UN itu. Mengapa hanya hal negatif yang kudapat dari prestasiku itu?
Seperti malaikat maut? Memangnya siapa yang menganggap itu adalah hadiah terajaib yang kau dapat dari hasil kerja keras sendiri?
"Hm. Memangnya untuk apa?"
Untuk apa dia ingin mendapatkan titel itu? Lagipula siapa juga yang seenaknya memberi titel peringkat UN? Seharusnya ini adalah hal yang tidak mungkin di pedulikan oleh sebagian orang. Jadi ini sama saja dengan hal yang tidak penting.
"Aku adalah peringkat ke tiga. Aku ingin menjadi nomor satu, dan untuk mencapai tujuanku aku ingin menantang seorang yang peringkatnya di atasku satu persatu."
Dia ingin menantangku yang peringkat kedua. Lalu setelah itu dia akan menantang peringkat pertama.
Tapi.
"Siapa sebenarnya yang peduli akan hal itu?"
Setelah aku mengatakan itu, wajah Hotaru nampak mengeras. Walau seorang gadis manis yang marah itu wajahnya selalu imut jadi aku malah senang melihatnya.
"Tentu saja aku salah satunya dan jutaan orang di luar sana."
Wah.. Aku pikir jutaan orang di luar sana tidak tahu. Ternyata mereka perduli tentang hal seperti ini.
"Aku sudah susah payah belajar, dan akhirnya aku hanya dapat peringkat ke tiga. Sedangkan Naruto Uzumaki, seorang yang tidak mendapat rangking di kelasnya bisa berada di atasku. Aku tidak terima."
Hotaru hanya ingin memenuhi ambisinya untuk jadi yang terbaik. Mungkin dia tidak suka berada di bawah orang lain.
Hah.. Dasar manusia.
"Sudahlah Naruto, terima saja tantangannya."
Hanabi memohon padaku.
Untuk apa dia sampai memasang muka memohon seperti itu? Ini hanya masalah kecil bukan? Aku rasa juga ini tidak bisa di anggap sebuah masalah.
Tapi Hanabi masih terus menatapku dengan memohon meskipun aku mengalihkan pandanganku. Hanabi, kau terlalu manis untuk bertingkah seperti itu.
Hah.. Hanya ini yang bisa di pilih.
"Apa tantangannya?"
Aku hanya ingin hari-hari sekolahku berjalan normal. Tidak ada hal yang merepotkan setiap harinya.
Berangkat bersama kak Sakura dan Hanabi lalu menjalani hari sekolah seperti anak lain. Untuk itu aku harus cepat menyelesaikan masalahku ini dalam satu hari, aku tidak ingin waktuku untuk menikmati senyuman Hanabi berkurang.
"Tantangannya, kita berdua akan berlomba mendapat hasil ulangan harian sempurna di semua pelajaran."
Asal tidak ada konsekuensi nya aku akan menerima dengan lapang tantangan yang bagiku sangat sulit ini.
Kalah menang siapa yang perduli bukan?
"Kalau kau kalah kau harus jadi pacarku dan kalau aku kalah a-aku! akan jadi pacarmu!"
Wajah Hotaru sendiri memerah setelah mengucapkan kalimat itu.
Apa-apaan ini? Mengapa semua konsekuensinya sama saja? Tapi, bukan masalah itu sebenarnya. Ada angin apa dia menjadikan hal ini sebagai hukuman?
Bukankah ini adalah pernyataan cinta?
Aku agak bingung menanggapinya. Aku sebenarnya mau-mau saja hheh, tapi aku itu hanya menyukai Hanabi. Dan sayangnya aku untuk sekarang tidak tertarik dengan hal-hal berbau percintaan. Ya kecuali jika Hanabi memaksa.
"Maaf bisa ganti saja hukumannya?"
"A-apa kau tidak mau denganku?"
Bukan tentang itu. Kalau di tanya mau atau tidak tentu semua orang akan menjawab mau saat yang menanyakan pertanyaan itu adalah gadis semanis Hotaru.
Masalahnya kami baru bertemu, dia adalah kenalan Hanabi jadi aku mau berbicara dengannya kalau bukan karena itu mungkin aku akan langsung meninggalkannya saat dia bilang kalau dia adalah orang yang menelponku semalam.
"Kita. Um.. Kita baru saja kenal jadi aku tidak bisa."
"Hotaru, dia sama sekali tidak mengingatmu?"
Hanabi duduk di sebelah Hotaru sambil mengatakan itu.
Apa maksudnya Hanabi? Seingatku dari dulu aku tidak pernah punya kenalan yang bernama Hotaru.
Teman saat SD tidak punya, saat SMP hanya 12 orang teman sekelasku yang ada. Kapan aku bertemu dia?
Dari yang aku lihat dia sepertinya bukan gadis lulusan SMP tempatku dulu berasal, jadi kapan kita bertemu?
"Dulu kita sering saling mengirim pesan di sosial media. Nama akunku saat itu K-Kishim-moto."
Sambil mengatakan itu muka Hotaru memerah, kedua tangannya menutupi wajahnya. Sangat imut!
Tunggu? Kishimoto? Seingatku itu adalah akun seorang laki-laki kenalanku di sosial media. Kishimoto adalah partnerku saat bermain game, kita pun sering bertukar pesan membicarakan game yang kita mainkan.
Dulu sebenarnya aku belum sempat menanyakan jenis kelamin kenalanku itu. Tapi saat melihat namanya sudah pasti semua orang juga menduga kalau pemiliknya pasti seorang laki-laki. Ternyata orang pemilik akun itu adalah Hotaru, kalau aku tahu dia gadis manis seperti Hotaru aku tanya nomor ponselnya dari dulu.
"Aku pergi dulu!"
Hotaru berdiri lalu berlari keluar kelas meninggalkan kami yang terbengong melihatnya.
"Ternyata Naruto banyak pengagumnya ya? Aku bingung mereka mengagumi bagian mananya? Hhe.."
"Terimakasih, tapi sepertinya hanya Hotaru seorang yang.. Seperti yang kau bilang tadi. Itu juga belum tentu benar sih."
Memangnya siapa aku? Sehebat apa aku sampai Hotaru mengagumiku?
Mungkin Hotaru itu hanya merasa kenal denganku dan dia hanya menggunakan caranya sendiri untuk kembali berkomunikasi denganku setelah sekian lama.
"Hah... Jadi lelaki tampan memang menyusahkan."
Aku tampan?
"Aku tampan?"
Aku jadi malu di puji Tenten seperti itu.
Tapi Tenten malah tertawa setelahnya. Aku yang bingung hanya menatap dia dengan pandangan mengisyaratkan kalau dia itu menyebalkan.
"Naruto. Apa kau lapar?"
"Hhe. Iya aku lapar, tapi aku tidak bawa uang. Sepertinya hanya Tenten yang bisa menemanimu ke kantin hari ini."
"Tenang saja. A-aku membawa bekal! Untukmu!"
Hanabi berjalan menuju tasnya, mengambil kotak makanan ukuran sedang lalu kembali lagi ke tempatku.
Ini dia, berkah dari Tuhan yang paling indah.
Sebuah bekal dari bidadari terimut Hanabi. Ah, mimpi apa aku semalam ayah.
"Apa aku kebagian?"
"I-itu terserah Naruto."
Ah.. Sangat manis sekali, andai saja dia itu pacarku.
Bekal dari seorang pujaan hati!
"Hm. Kalau begitu kita makan bertiga saja."
Dan selanjutnya kami pun memakan masakan Hanabi. Nasi dengan mi goreng dan telur. Enak!
--
"Naruto! Ayo jajan di kantin!"
"Maaf kak Sakura aku sudah kenyang."
Jam istirahat kedua giliran kak Sakura yang mendatangiku. Semua teman sekelasku menatapku aneh.
Mungkin mereka berpikir tentang berapa banyak pacar yang ku punya setelah tadi ada gadis yang mencari ku sebelumnya.
Hah...
"Bukannya kau belum sarapan?"
"Aku.. Tadi Hanabi memberiku bekal makanannya."
Kak Sakura melipat tangannya di dada. Mukanya menampakkan raut marah yang tertahan.
"Aku harus dapat bagian!"
"Bagian? Maaf kak semua bekalnya sudah habis."
"Ayo kita jalan-jalan ke taman!"
Tanganku di tarik paksa oleh kakakku. Aku hanya menghela nafas lelah.
Terlalu sering menghela nafas aku jadi merasa seperti orang tua yang tua.
--
Taman sekolah, tempat ini aku sudah pernah mengunjunginya dulu. Ingatkan? Yang dulu aku kira lapangan sepak bola, luas sekali di sini.
Pemandangan di sini bagus, tak heran sekolah ini mendapat akreditasi yang tinggi. Dari taman belakangnya saja aura sekolah elite nya sudah terlihat.
Aku dan kakakku berjalan menyusuri taman ini. Aku tidak tahu kakakku terlalu fokus atau bagaimana sampai tangannya mungkin tanpa dia sadari terus memegang tanganku erat.
Kenapa banyak murid laki-laki yang sepertinya seniorku menatapku dengan pandangan tajam seolah ingin menusukku?
"Bagaimana temanmu di kelas? Mereka baik padamu bukan?"
"Ya begitulah.."
Setelah aku mengucapkan itu dengan nada lelah. Kak Sakura menatapku tajam mengintimidasiku dengan imut.
Aku tidak bisa tahu jawabannya, karena teman sekelasku sama sekali belum melakukan apapun padaku. Hanya ada beberapa orang yang pernah menyapa, dan hanya Hanabi dan Tenten yang mengobrol denganku.
Dan setelah hari ini mungkin juga tidak akan ada yang mendekatiku karena aku yakin image ku sudah buruk setelah kenyataan aku dekat dengan beberapa gadis manis dan mengobrol dekat dengan mereka, bahkan ada senior yang menggandeng tanganku dengan paksa di depan mereka.
Sudahlah...
"Tenang saja Naruto ini baru mingu pertama kau bersekolah. Setelah beberapa minggu lagi mungkin aku akan menemukanmu membolos dengan teman-teman barumu."
Apa membolos bersama itu menurutmu sebuah ikatan pertemanan Kak?
Kak Sakura tersenyum sambil mendekap tangan kiri ku ke tubuhnya, dan sedikit lagi mungkin akan menyentuh sesuatu.
"Apa perlu kakak sedekat ini denganku?"
"Kita saudara, jadi jangan khawatir walau kita sedekat ini."
Justru itu membuatku semakin khawatir.
Lama kami berbincang sambil berjalan, sampai ada seorang gadis berparas manis menyapa padaku.
"H-halo. Naruto."
Ah.. Kishimoto.
"Halo Hotaru."
Tiba-tiba tanganku yang di gandeng kak Sakura terasa tercengkram dengan sangat erat.
"Itu pacarmu? Kau sudah punya pacar?"
Hotaru sudah kuduga akan memberikan pertanyaan seperti itu. Tentu dia akan terkejut mengingat pagi tadi dia memberi pernyataan cintanya padaku, walau dengan cara aneh. Sekarang dia melihatku dengan senior manis menggandeng erat tanganku, semua orang pasti mengira dia itu pacarku.
Tapi sayang sekali dia itu hanya.
"Aku kakaknya. Sakura."
Mereka berdua berjabat tangan, Hotaru tersenyum canggung sambil mengatakan
"Jadi seperti itu, maaf ya kak."
"Aku bukan kakakmu!"
Hotaru pun meminta maaf lagi.
Hah.. Bagaimana bisa aku dapat banyak teman kalau sikap kakakku pada temanku seprti ini?
"Oh.. Naruto, bagaimana dengan tantangannya? Kau setuju?"
"Ah itu. Kita bicarakan nanti saja. Kontakku sudah kau simpan bukan?"
"Sudah. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."
Hotaru berjalan pergi melewati kami. Melihat arah yang dia tuju aku jadi penasaran kelas yang dia tempati ada di mana.
"Berapa banyak gadis yang sudah tertipu olehmu Naruto? Yang tadi hanya salah satu dari sekian juta bukan?"
"Apa maksudmu? Soal Hotaru, dia teman lamaku."
"Kenapa aku baru tahu?"
"Dulu kakak kan menjauhiku."
Kak Sakura berwajah muram setelahnya. Aku perlahan melepas tanganku dari gandengannya.
Tapi, dengan cepat tanganku kembali dia genggam erat.
"Maaf, tapi aku sekarang tidak akan menjauhimu lagi."
"Hm."
Tak bisa di pungkiri, meskipun kakakku ini menyebalkan aku tetap tidak bisa benar-benar benci padanya.
Setelah berkeliling cukup lama kamipun kembali ke kelas.
Kak Sakura tidak ikut sampai ke kelas ku, dia di panggil seseorang di tengah jalan, sepertinya teman sekelasnya.
Bunyi bel tanda masuk berbunyi mengiringi langkahku menuju kelas yang di sana ada Hanabi-chan yang sedang menunggu.
Tunggu aku Hanabi-chan!
--
Terimakasih.
