*malam hari kemudian*
.
.
.
"Selamat makan!"
Mereka makan ikan hasil tangkapan di laut usai berlatih. Tak hanya ikan biasa, gurita dan setengah badan hiu pun mereka masak bersama.
"Akhirnya! Makan lagi!"
Champa dan Caulifla paling lahap.
Sejak tadi, Hit sibuk memutar ikan tersebut di atas perapian, dia sebenarnya tidak butuh makan, tapi karena Vados menyuruhnya, mau tak mau Hit harus bergabung dengan mereka.
"Sejak kapan kau suka makan?" Tanya Hit.
"Semenjak Whis menawarkanku makanan bumi dari alam semesta 7" jawab Vados.
"Begitu ya.." gumam Hit.
"Kau tidak pernah makan seumur hidupmu?" Tanya Vados.
"Aku tidak ingat kapan terakhir kali pernah makan, masa hidupku sangat lama" ucap Hit, mata merahnya tetap memandang api.
"Ini bagianku!" teriak Champa, tangan nya berebut tusuk ikan dengan Caulifla.
Tapi Caulifla membalas tatapan si Hakaishin. "Heei! Ini punyaku, masak sendiri ikanmu!"
"GGGGgggGggRRRR..!"
"Kakak, sudahlah..." Kale berusaha menegur, tapi nampaknya Caulifla ingin bertarung lagi.
Cabba mulai panik. "Hei! Su-sudah hentikan! Kalian berdua!"
Ribut lagi, Ribut lagi...
Hit hanya menghela nafas berat dan membiarkan ikannya gosong sekalian. Vados menepuk bahu si Assasin, tersenyum santai.
"Tidak apa-apa, ini lah yang disebut Kebersamaan" kata Vados.
Senyumannya itu menular, Hit sedikit tersipu.
...
*Malam semakin larut.
Air pantai terlihat tenang, deru ombak tidak terlalu besar, dan malam ini adalah bulan Purnama.
Yang lain sudah tidur nyenyak, besok mereka akan kembali ke Planet Champa.
Hit berdiri tegap sembari megantungi kedua tangan ke saku jas Assasin nya. Sepasang iris merah nya memandangi langit malam yang penuh dengan milyaran bintang tata surya.
Ternyata, Bumi di malam hari indah juga.
"Kau belum tidur, Hit?" Tanya Vados.
Hit tidak menoleh, tapi dia tahu Angel nya sedang berada di belakangnya.
"Belum, aku hanya melihat-lihat saja" jawab Hit.
Sepertinya Vados tahu apa yang sedang di pikirkan Hit.
Si Assasin itu memang mencintai Vados. tapi masalahnya, ada satu keraguan yang membuatnya masih mengendalikan diri untuk sadar, bahwa Hit dan Vados
adalah makhluk yang berbeda.
Mortal dan Angel
Vados memeluknya dari belakang, menenggelamkan wajahnya ke punggung si Assasin.
"Aku dan kau memang berbeda, tapi bukan berarti aku tidak boleh mencintaimu" gumam nya.
Hit diam, dia membiarkan Vados memeluknya. hawa rasa kasih sayang dan takut akan kehilangan, itulah yang Hit rasakan dari Vados.
"Aku sangat mencintaimu" Hit berbisik, nyaris tak bersuara. "Aku tak peduli kau adalah Angel, aku tetap memandangmu sebagai seseorang yang mampu membuka hatiku"
Vados tak menjawab, dia tetap memeluk Hit.
"Aku tidak bisa membayangkan seandainya Zeno melenyapkan ku karena dia tahu, aku mencintaimu. aku akan hilang dari dunia, dan takkan bisa mengingat dirimu lagi"
"Aku bisa mengembalikan dirimu dengan Super Dragon Ball. Dengan begitu, kita akan terus bersama" gumam Vados.
Hit terdiam.
"Kau punya harapan?" Tanya Hit.
Vados mengangguk pelan. "Aku punya"
" Apa itu?"
Mereka berdua hening, Vados masih terus memeluk si Assasin dari belakang, semakin erat.
"Aku... Ingin kita menjadi pasangan hidup. Sebagai Suami dan istri" gumam Vados.
Suami dan istri?
Hit agak terkejut dengan jawaban Angel nya. Tapi dia berusaha memahami. Vados cuma menginginkan seseorang yang ingin mendampinginya, meskipun hanya mortal.
Dan mortal itu adalah Hit.
"Aku belum pernah berpikir sampai sejauh itu, Vados"
"..."
Dan mereka pun sama-sama hening.
Membayangkan sang Assasin memasang cincin ke jari sang Angel Semesta 6...
Apa yang akan Hit lakukan kalau sudah menjadi suaminya Vados? Apa dia akan naik derajatnya dari Mortal menjadi Angel?
Sepertinya tidak.
Tidak sama sekali. Tapi jika mereka memulai hubungan serius, maka Hit mau tak mau harus berhadapan dengan Daishinkan.
"Kau ingin menjadi istriku?" Tanya Hit.
Vados mengangguk pelan, ini adalah jawaban tanpa mengucapkan sebuah kalimat.
"Tapi, tidak sekarang" jawab Hit, dia lepas dari pelukan Vados dan langsung berbalik menghadapnya. Dia mengambil tangan si Angel dan menggenggam nya erat-erat.
"Ingat, kau ini Angel alam semesta 6. Tugas utamamu adalah mendampingi Hakaishin. aku perlu waktu untuk memikirkan nya, karena ini terlalu cepat. ada sesuatu yang membuatku belum siap" ucap Hit.
Kalimat si Assasin tersebut bukan berarti 'menolak'. Hit tahu resiko yang akan mengincar nya begitu dia dan Vados menjadi pasangan resmi.
Atau tepatnya...
Masalah baru akan tiba. Alam semesta 6 menjadi gosip semesta lain. Nama Champa akan jadi bahan bully Hakaishin lain, dan tentunya, ini akan meruntuhkan citra bijak sang angel, Vados.
Hit menundukkan kepalanya. "Maaf Vados, aku... tidak tahu apa yang ku pikirkan.."
"Sudahlah, aku mengerti" kata Vados.
"Apa?"
Vados tersenyum tulus "Aku memahami mu. Aku mengerti, posisi kita sekarang sangat tidak memungkinkan. Aku juga butuh waktu, sampai ribuan tahun menunggu, aku masih ingin bersamamu"
"Aku belum tentu bisa hidup lebih lama lagi" gumam Hit.
"Tentu kau bisa, kau ini seperti abadi, Hit. untuk itulah kenapa aku ingin terus bersamamu"
"Apa yang membuatmu yakin jika aku bisa menjadi suamimu?"
Vados langsung memberi kecupan ke bibir Hit.
"Karena aku percaya padamu"
Jika sebuah kepercayaan mampu memperkuat ikatan cinta, maka Vados yakin akan prinsip itu. Dia tahu, Hit sangat membutuhkan seseorang yang bisa menuntunnya menuju hidup lebih baik.
Dan akhirnya, Hit tersenyum.
"Kau benar" gumam nya.
"Kau tidak tidur?' tanya Vados.
"Tidak, aku yang berjaga. Sebaiknya kau yang tidur" jawab Hit.
"Aku memang sudah pernah tidur, tapi bukan berarti aku meninggalkanmu berjaga sendirian. Bagaimana kalau bersama-sama?"
"hmmm.."
Bukan ide yang buruk.
Mereka berdua duduk di atas pasir pantai dan bersama memandangi bintang cerah di langit malam.
Mereka sadar, akan banyak masalah yang di hadapi.
To be continued
