'Apa kau bisa menahan perasaan itu, Vados?'

.

.

.

Menahan perasaan cinta yang sudah mereka akui satu sama lain? Ini sangat sulit.

Itu adalah salah satu syarat dari Pendeta Agung jika Vados tidak ingin Hit di beri Sanksi.

Mereka berdua sama-sama nyaris merusak citra sebagai seorang Mortal dan Angel.

"Bagaimana, Vados? Ini syarat yang ringan. Aku bisa saja menyingkirkan Hit-san agar dia tidak lagi menaruh perasaan padamu" kata Daishinkan.

Hah!?

"Tapi... Kenapa syaratnya terdengar seperti itu.. aku merasa.. Tidak bisa melakukannya" jawab Vados.

"Kenapa?" Tanya Daishinkan lagi.

"Aku dan Hit sudah saling mengakui satu sama lain. Aku tidak bisa berhenti mencintainya"

Aula istana hening.

Whis berusaha berpikir untuk mencari pembelaan, tapi tatapan Daishinkan yang mengarah ke dirinya membuat Whis tidak nyaman.

"Kakak.." Whis bergumam pelan. Dia tahu, pasti Vados sedang kebingungan.

"Kau mengutamakan perintah mutlak Zeno-sama sebagai utusannya atau tetap mencintai Mortal? Kau siap menjadi bahan pembicaraan semesta lain?"

Pertanyaan Daishinkan sangat menakutkan.

Vados tak bersuara, dia pun perlahan berdiri dari posisi menunduknya. Dia mencoba menatap berani ke Daishinkan dan Zeno-sama.

Ini semua demi Hit

Dia sudah mencintai sang Assasin itu, perasaan tidak bisa di bendung lagi.

"Aku..." dia berucap.

Semua angel masih memandang Vados.

"Aku memilih... Tetap mencintai Hit, tapi aku takkan lupa dengan kewajibanku. Apapun yang terjadi, Zeno-sama bisa melenyapkanku secara permanen jika aku membuat kesalahan besar"

"..."

Tidak ada yang bersuara.

Whis agak terkejut. Vados terlalu berani untuk menjawab syarat tersebut.

"Kau yakin?" Tanya Daishinkan.

"Aku yakin, apa ayah tidak keberatan jika salah satu anakmu lenyap hanya karena mencintai Mortal?" Tanya Vados.

Pertanyaan savage!

Vados tahu trik bagaimana dia merangkai sebuah perbincangan. Meski orang yang ia tanya adalah Ayahnya sendiri, seorang Pendeta Agung pelayan Raja Segalanya, Zeno.

"Tidak, aku tidak keberatan" jawab Daishinkan.

Jawaban sang Pendeta sangat menusuk hati. Vados tidak menyangka jika Ayahnya akan membalas dengan jawaban seperti itu.

"Ayah.." Whis berusaha menyanggah perbincangan, tapi tidak di gubris Daishinkan.

"Baiklah, kalau begitu, izinkan aku kembali ke alam semestaku" ucap Vados, memberi tunduk hormat.

"Ingat janji mu, Vados" kata Daishinkan.

Dia pun pergi.

Whis tidak menyangka, Vados mau membuat perjanjian itu. Dan anehnya, Zeno-sama tidak banyak berbicara. Tidak sedikitpun memberi saran, hanya Daishinkan yang bersuara.

Whis merasa, perlu membantu kakaknya sekali lagi.

.

.

.

*Planet Champa*

Hit menunggu.

Dia agak gelisah, Kenapa Vados lama sekali.

Apa yang terjadi?

Hit merasa cemas, jika saja Daishinkan memang sudah tahu hubungan rahasia cinta mereka, maka Hit harus mencari jalan lain..

Perasaan gelisah ini membuat Hit tidak nyaman sepanjang hari. Dia memang mencintai Vados, tapi seperti yang di katakan Champa, Vados adalah Angel Semesta 6 yang bertugas mendampingi Hakaishin. Satu kali mereka berbuat kesalahan, akibatnya fatal.

Sangat Fatal..

"Hit"

Vados pun datang.

"Vados!"

Lega rasanya, Vados akhirnya kembali. Tapi yang Hit temui adalah raut wajah sang Angel yang terlihat tidak senang.

"Vados..."

Sang Angel langsung memeluk nya. Terlalu erat, seolah akan berpisah selamanya. Hit sangat bingung.

"Hei, apa yang terjadi?" Tanya Hit.

"Ayahku sudah tahu, sejak awal" jawab Vados, masih memeluk nya.

Hit terkejut, tenggorokannya seperti terkunci, tidak sanggup mengeluarkan sebuah kalimat. apa yang ia duga sejak tadi memang benar, Vados di panggil ke Istana karena mereka mengetahui segalanya.

Segala tentang perasaan mereka berdua...

"Vados.. a-aku..."

"..."

Kedua nya sama-sama Hening.

"Apa yang mereka katakan?" Tanya Hit.

"Ayahku tadinya ingin menghukummu, tapi aku berusaha menolak. Dia memberi ku syarat utama, yaitu aku tidak bisa mencintai mu lagi" gumam Vados.

'Aku tidak bisa mencintai mu lagi?'

Kalimat itu bukan susunan sembarang huruf yang mengandung makna biasa.

"Aku dan kau sudah di pastikan menjadi bahan omongan semua alam semesta, mereka juga mengetahuinya" ucap nya lagi.

"Vados..."

Nada suara si Assasin agak berat, tapi bercampur aura emosi. Vados bisa merasakannya.

"Apa kau mengatakan sesuatu pada mereka?" Tanya Hit.

Vados agak hening sejenak, dia sedikit melepas pelukannya, dan membiarkan kedua tangan birunya menyentuh pipi sang Assasin, dan memberi tatapan sedih.

"Aku mengatakan pada mereka.. Jika aku membuat kesalahan fatal, Aku lah yang harus tanggung jawab, sampai Zeno-sama melenyapkanku secara permanen" ucap Vados.

Seketika, pasang iris merah Hit melebar terkejut. Dia menatap Vados tak percaya.

"Apa yang kau-..." Hit merasa tersentak.

"Maafkan aku Hit, aku hanya tidak ingin kehilangan dirimu" kata Vados.

Grepp!

Hit langsung menggenggam dengan kasar pergelangan tangan Vados.

"Hit?!"

"Kenapa kau mengatakan itu!? Kau ini Angel kan!? Kenapa keputusanmu konyol!?" Tanya Hit.

Vados belum pernah melihat Hit semarah ini.

"si Bocah bulat itu akan melenyapkanmu? Mustahil! Kau adalah utusannya! Seharusnya kau bisa berpikir luas, Vados!" tambah nya lagi.

Hit merasa urat kepalanya hampir terlihat di permukaan kulit ungunya. Dia marah, dia tidak percaya kalau Vados mendadak bodoh.

Terkadang Cinta dan bodoh itu beda tipis, Angel sekelas Vados pun bisa termakan perasaan.

"Hit..." Vados bergumam sedih.

Hit marah, tapi ini bukan marah karena emosi.

Ini adalah Marah karena rasa khawatir, Vados melihat itu semua dari sepasang mata merah si Assasin. Kegelisahan Hit meledak-ledak hari ini.

"Mau seperti apapun nanti.." Hit langsung merangkap sisi wajah si Angel, menatap lurus ke arah mata violet Vados.

"Aku tidak berhenti menyayangimu. Kita sudah melakukan banyak hal, bahkan sampai tidur bersamamu. Aku yakin, Daishinkan sudah tahu sejak awal. tapi dia seperti menahan diri dan memanggilmu di waktu yang tepat. kalau mereka mengatakan kau tidak bisa mencintaiku lagi, aku akan buktikan.. "

Dan Hit serius dengan kalimat nya.

"Apa yang bisa kau buktikan? Sementara ayahku dan Zeno-sama sudah tahu semuanya?" Tanya Vados.

"Jika suatu hari kau di lenyapkan Zeno, aku juga ingin lenyap bersamamu" ucap Hit.

"...

Kedua nya sama-sama hening.

"Adil kan? Kita lenyap bersama dan mati bersama" gumamnya, sedih.

Bagi Hit, Cinta itu adalah kebersamaan.

Kebersamaan soal berbagi perasaan, ikatan, dan seumur hidup.

Vados memejamkan mata, air mata nyaris keluar.

"Maafkan aku, Hit" bisik nya, Vados merasa tenggorokannya terkunci isakan tangis kecil.

"Aku sudah pernah di lenyapkan waktu turnamen, aku merasakannya. Aku mati bersama tim ku, dan aku tidak mengingat apapun. Aku sangat ketakutan..."

Memori Turnamen itu masuk kembali, Hit menyadari ketika Alam semesta 6 kalah total. Dia menerima semua itu tanpa mengucapkan sepatah kalimat. Gelap dan hambar...

"Aku.. hidup kembali karena tim Semesta 7, sekarang aku mengerti. Kebersamaan itu penting, aku belajar dari itu semua. Terutama dirimu, aku... a-aku bersyukur... Aku memiliki hati untuk menyayangi seseorang..."

Hit menghela nafas berat, dia membiarkan dahi nya menempel ke dahi sang Angel, sedikit pasrah.

Vados mengecup bibir si Assasin, dia ingin Hit tetap tenang.

"Hit, sudah cukup. Kau menyiksa dirimu"

"Aku sudah tersiksa oleh perasaanku sendiri"

Dia bisa melihat setetes air mata jatuh dari iris merah sang Assasin. Hit sangat takut akan kehilangan..

"Kalau begitu, kita seharian terus bersama..." gumam Vados, kembali mengecup bibir Hit.

Hit mengangguk pelan.

Semua orang mengenal Hit karena sikap dingin dan tidak peduli nya. Tapi satu-satunya orang yang melihat air matanya hanya Vados.

Hanya Vados...

...

Satu hari penuh, mereka terus bersama.

Vados sudah menceritakan semuanya pada Champa soal pertemuan tadi di Istana Zeno-sama, dan tentunya Champa sangat syok.

Seluruh Hakaishin pasti mengejeknya.

Tapi Hit meyakinkan Champa, apapun yang terjadi, biar Hit yang membelanya. Hit juga bertanggung jawab atas nama Champa sebagai Hakaishin semesta 6.

Hit tahu, bisa saja Champa meng-Hakai nya sekarang juga, tapi berkat pembelaan Vados, Champa bisa menahan diri. Satu permintaan saja..

Jangan sampai semuanya menjadi korban hanya karena satu perasaan makhluk Mortal dan satu Angel...

***

.

.

Malam hari

.

.

.

Hit membuktikannya.

Lebih dari itu, membagi perasaan dalam satu ranjang dengan suasana sunyi dan damai.

Bagian yang paling Hit sukai adalah membelai rambut putih Vados, sangat lembut, sela-sela jari nya mengikuti alur tiap helaian putih yang panjang.

Vados memiliki rambut yang sangat indah.

Bibir mereka tidak henti saling mengecup. Lengan kekar Assasin protektif memeluknya. Berada di atas si Angel seolah seperti menjadi tamengnya.

Mereka mengatur nafas, tiap dalam beberapa kali ciuman. Sedikit mengeluarkan desahan hanyut dalam nafsu yang besar. Suhu tubuhnya naik, tapi semakin nikmat seiring rasa itu meningkat. Peluh mereka bercampur,
tangan ungunya yang besar mengunci tangan biru sang Angel.

Pasang Iris Violet dan merah saling menatap satu sama lain. membaca emosi cinta dari dalam mata sang Assasin, begitu kuat dan percaya. Si Angel bisa melihat pantulan cermin dirinya dari iris merah milik terkasih.

"Hhhhhhh...Hit" bisik Vados, di antara nafasnya.

"hhh... hhh.. Vados... apa kau lelah.." Hit bergumam pelan, nyaris tak bersuara. Dia mengatur nafas nya lagi.

"Ti-tidak,.. hhh...hhhh... sentuh aku sesukamu, Hit. hhh.. aku adalah milikmu..."

Hit melihat rona merah agak kebiruan dari pipi Vados, ibu jari nya menyentuh rona tersebut, membuat Vados tersipu.

Jiwa gemetar, si Assasin berusaha untuk tenang dan tetap mengendalikan diri.

Vados adalah milik nya seorang.

Hit tidak peduli. Tidak peduli hukuman petinggi semesta, tidak peduli semua omongan Semesta lain, tidak peduli pada resiko yang datang...

Yang bisa menyentuh Vados adalah Hit, cuma Hit, bukan makhluk lain.

"hhhhh... aku mencintaimu" bisik Hit, pelan nyaris tak bersuara.

Vados tersenyum tulus.

'Terimakasih, Hit..'

To be continued