*Planet Champa*
"nyaaammm armnnymm nyam!"
Champa makan banyak, tidak peduli itu makanan diet atau bukan, yang penting perutnya terisi.
"Hit! Kau mau minum kopi? Tanya Vados dari dapur.
"Buatkan saja" jawab Hit, matanya masih membaca selebaran tehnik bela diri.
Nah, Champa mendadak canggung.
TadI pagi dia melihat pasangan itu tidur bersama dan berpelukan. Champa membayangkan sesuatu yang aneh, pasti Hit semalam melakukan sesuatu pada Vados, pasti Mereka melakukan ga- aaahh sudahlah! Pokoknya itulah!
Semenjak Hit tinggal di planetnya, Vados memberi perhatian lebih.
Champa sebenarnya tidak masalah kalau mereka saling mencintai, tapi letak masalah yang sesungguhnya adalah Vados.
Vados mendadak seperti jadi 'Budak Cinta'nya Hit usai turnamen. dan derajat dia sebagai Angel seperti nampak hilang pelan-pelan. Champa memang bodoh dan pemalas, tapi dia melihat fakta. Vados dan Hit adalah dua makhluk kontras yang memaksakan cinta mereka.
Bola tongkat milik Vados menyala kedip menandakan panggilan masuk.
"Oy Vados! Ada panggilan masuk!" teriak Champa.
"Champa-sama! Bisa tolong kau yang terima dulu panggilan nya?" kata Vados, masih di dalam dapur.
"Heehhh baiklah" Champa mengiyakan.
Dan muncul lah Daishinkan yang menghubungi nya.
"DAISHINKAN-SAMAAAA!?"
Hah!?
Champa berteriak histeris, buru-buru dia menunduk hormat dengan tubuh yang mulai gemetar hebat.
Hit terkejut dengan hadirnya Daishinkan.
Sang Pendeta Agung itu memberinya tatapan yang tak bisa ia tebak. Dia nampak tersenyum, namun sulit di artikan maksud tersebut.
"Daishinkan..." Hit bergumam panik.
"Ayah?"
Vados tak menyangka Ayahnya tiba-tiba menghubungi nya langsung kesini.
"..."
"Selamat pagi, senang kalian beraktivitas dengan baik" sapa Sang Pendeta.
"I-IYA DAISHINKAN-SAMA!" teriak Champa. Ohh sial, sekarang tubuh gendutnya pelan-pelan akan langsing saking ketakutan.
"Ada apa menghubungiku?" Tanya Vados.
"Vados, aku tidak memanggilmu ke istana Zeno-sama, aku ingin kita berbicara disini, terutama pada Hit-san" ucap si Pendeta.
Hit diam, dia mencobanya membaca isi pikirkan si Pendeta. baru kali ini Daishinkan mau berbicara langsung padanya.
"..."
Suasana ruang sangat tegang, Hit masih menunggu si Daishinkan yang berbicara.
"Hit-san, ini kedua kali nya aku melihatmu sejak terakhir saat Turnamen. Pertarunganmu melawan Jiren sangat mengesankan bagi Zeno-sama" ucapnya, tersenyum.
Hit masih was-was.
Sesopan apapun si Pendeta, dia yakin pasti akan membicarakan kelanjutan hubungan dirinya dengan Vados.
"Apa yang akan kau bicarakan dengan Hit?" Tanya Vados, langkahnya berjalan menghampiri Hit.
"Vados, jangan khawatir, aku tidak marah pada Hit-san. Sama sekali tidak"
"Lalu?"
"Tapi ini penting, demi kelanjutan hidup Hit-san kedepannya"
Apa?
Demi kelanjutan Hidup?
Hit jadi bertanya-tanya. Apa maksud si Pendeta itu, apa Daishinkan ingin membunuhnya disini? Sekarang juga?
Vados heran, ekspresinya berubah menjadi bingung "Demi kelanjutan Hidup Hit?"
Daishinkan mengangguk pelan. "Iya, benar"
"Kupikir aku juga sama, ini waktu yang tepat untuk berbicara" ucap Hit.
Daishinkan dan Hit saling memandang.
"Baiklah, aku mengerti Hit-san. Aku berbicara atas izin Zeno-sama. aku sudah tahu, apa yang kalian lakukan sejak awal saling menyayangi sampai detik ini.. tapi..."
Dia menyipitkan mata, aura sifat yang mulai berbeda.
"Saat di istana, Vados membuat kesepakatan, jika dia melakukan lebih dari apa yang di perbuat, dia bersedia di lenyapkan secara permanen..-"
"Aku juga, kalau kau melenyapkan nya, aku pun demikian, itu adalah kesepakatanku" ucap Hit, menyanggah.
"Apaaaaa!?" Champa makin syok.
"Sungguh?" Tanya Daishinkan.
"Aku tidak peduli, lagipula aku tak memandangmu sebagai Pendeta Agung. Kau cuma Ayahnya Vados" tambah Hit lagi.
Champa merasa kesal, Apapun yang Hit katakan, itu akan mengancam posisi dirinya sebagai Hakaishin. "HIT! APA YANG KAU KATAKAN PADA DAISHINKAN-SAMA!? Itu tidak sopan tahu!"
"Champa-sama, aku dan Hit-san sedang berbicara, jangan memotong" Peringat si Pendeta.
"AH!? MA-MAAFKAN AKU DAISHINKAN-SAMA!"
"Hit..."
Vados selalu tahu, Hit adalah tipe orang yang tidak peduli dengan omongan dinginnya.
Apa yang dia katakan, itulah yang dia katakan.
Daishinkan tersenyum tipis. "Hit-san, anda benar-benar hebat sekali"
Hit mengepalkan kedua tangannya. Dia berusaha menguatkan diri. Ini semua demi Vados.
Dia akan melakukan berbagai cara untuk membela yang terkasih.
"Aku memang hanya Ayahnya. Dan seorang Ayah berhak mengetahui apa yang di lakukan anaknya. Benar kan, Hit-san?"
Jawaban Daishinkan sukses mengunci mulut Hit untuk balas berbicara.
"cih" Hit mendengus kesal. Kenapa setiap angel mempunyai jawaban yang tepat untuk membalas sebuah kalimat.
"Hit-san, ketika kau mencintai seseorang, kau harus pikirkan, siapa wanita yang menjadi pendampingmu. Seorang Mortal biasa sepertimu bahkan mampu menarik hati seorang angel. Aku yakin, Vados sepertinya bisa menilai bagaimana sifat dirimu"
"Lalu kau ingin apa? Kau ingin aku dan Vados putus? Itu tidak akan ada pernah terjadi!" kata Hit, agak emosi.
"HIT!?" Champa makin ketakutan.
"Bagaimana kau yakin kalau kau dan anakku tidak akan putus?" Tanya Daishinkan.
"Aku sudah buktikan, kau lihat kan? Aku mulai tinggal di planet ini karena Vados. Aku mulai khawatir sejak kau memanggilnya ke istana si dua bocah itu dan mengatakannya pada semua Angel bahwa aku dan Vados sudah menjalin sebuah hubungan. Seharusnya kau menjaga privasi anak perempuanmu" jawab Hit, agak menaikkan sedikit nada suaranya dan memberi tatap menantang ke Sang Pendeta Semesta.
Kali ini Hit, mulai tidak takut. Daishinkan baginya bukan apa-apa.
"Whis juga sudah tahu, tapi dia membela kakaknya"
"Hit" Vados menepuk bahu si Assasin, memberinya raut seolah mengatakan untuk berhenti bicara.
Daishinkan bukan Angel yang di permainkan.
Ekspresi sang Pendeta kini mulai menunjukkan rasa datar, tidak tersenyum.
"Hm, aku kesini tidak mengganggumu Hit-san, tapi nampaknya hari ini kau dalam mood yang sedang tidak baik"
"Memang benar, bahkan sampai kau ada disini" ucap Hit.
"Baiklah, jika kau tidak keberatan. Aku memberi satu pilihan, kau harus menerima"
Eh?
Sudut bibir sang Pendeta menukik ke atas membentuk senyuman lagi. Dia mengacungkan satu telunjuk kanannya ke hadapan Hit.
"Legendary Assasin Hit-san, dari Alam Semesta 6. Apa kau bersedia bertarung melawanku?"
HAAAAAHHHH!?
"APAAAAAAAAAAA!?"
Hit dan Vados terkejut, sementara Champa berteriak panik.
Bertarung?
Dengan Pendeta Agung?
Yang katanya merupakan salah satu dari 5 petarung terkuat sejagat semesta?
Dan.. Dia
Bersedia melawan Hit?
Seorang Mortal biasa dengan level kekuatan yang sangat terbatas.
"Mustahil..." kini giliran Hit yang mulai gemetar
"Kesepakatan nya, Kalau kau menang, kau boleh bersama anakku. Tapi kalau kau kalah, Zeno-sama yang akan melenyapkanmu secara permanen" kata Daishinkan.
Vados semakin terkejut. "Ayah! Tunggu!"
"Pertarungan akan di mulai di arena eksibisi milik Zeno-sama"
"Ta-tapi...!?"
"Ini adalah keputusanku, Zeno-sama juga sudah tahu. Jadi dia menunggu pertarungan yang ku buat khusus untuk Hit-san. Mau kau menjawab Ya atau tidak, artinya kau bersedia menerima kesepakatanku. dan waktu mu hanya satu minggu untuk siap"
Hit merasa dalam situasi yang buruk sekarang.
To be continued.
