3 hari berlalu...

Tapi Hit belum bangun dari tidurnya.

Vados masih setia menemani, selama 3 hari tersebut, sesekali Hit sempat merintih kesakitan, terlihat dari raut wajahnya, namun perlahan tenang kembali.

Dia benar-benar butuh istirahat.

Hit bukan tipe orang yang sering bertarung. Hit hanya seorang yang pembunuh bayaran yang bekerja untuk mendapatkan uang.

Dia sendiri selalu bercerita, Hit tidak peduli siapapun yang ia bunuh, Asalkan dia mendapatkan bayaran tinggi sesuai target. Namanya sudah melegenda, dia paling di takuti kalangan orang tertentu yang kelak akan menjadi target pembunuhan berikutnya.

Tapi...

Vados memandang Hit dari sisi yang berbeda.

Vados tahu, orang seperti Hit sangat unik. Perasaan yang mendorongnya untuk mencintai si Assasin itu adalah, karena ia tahu, Hit butuh teman.

Teman yang kelak akan selalu menjadi teman curhatnya dan pendamping hidup.

Itu yang Hit butuhkan.

Terlalu lama memandanginya, Dia memberinya kecupan kecil ke bibir Assasin dan beranjak meninggalkannya dari kamar...

"Vados.."

"Hit?"

"...".

Sepertinya dia sudah terbangun.

"Hit? Kau masih kesakitan?" Tanya Vados.

"..."

Dia membuka iris merahnya, pandangan nya masih buram dan sebagian sendi tubuhnya terasa nyeri, tapi tidak seburuk kemarin.

"A-apa aku sudah mati?" gumam dia.

Vados tertawa kecil. "Tidak, kau ada didalam kamar"

"ngghh..."

"Kau belum pulih, sebaiknya tidur lagi"

Pertarungannya melawan Vados sangat menguras tenaga. Jika melawan angel nya saja sudah begini, bagaimana dengan Daishinkan?

"Berapa hari aku tidur?" Tanya Hit.

"Itu tidak penting, kau harus tidur la-"

*Grepp!?*

Hit menggenggam tangan si Angel, membuat Vados menatap heran.

"A-aku... sangat takut..."

Apa?

Hit takut?

Apa yang membuatnya ketakutan?

"Kalau... aku... a-aku... kalah, kuharap kau ikhlas..." ucapnya lagi.

"Apa yang kau bicarakan? Kau pasti masih mengantuk" kata Vados.

"Aku lemah" rintihnya. "Aku jadi tidak yakin bisa mengalahkan Daishinkan..."

"Kenapa kau tidak yakin?"

"Aku... terbatas..."

Belum pernah Vados melihat Hit pasrah seperti ini.

Tapi Hit terlihat ketakutan, dia seperti habis mengalami mimpi buruk selama 3 hari.

Dan bayang-bayang sang Pendeta Agung selalu menghantui dirinya.

"nggghh... ughh... a-aku... tidak punya... Kekuatan lagi... aku benar-benar lemah.."

"Kau kuat" Vados berusaha meyakinkan, menatapnya sedih. "Kau belum mencoba, setidaknya, kau harus membangkitkan semangatmu. Kau mencintaiku kan?"

"..."

"Aku tahu, Ayahku memang sangat kuat. Lebih daripada yang kau tidak tahu. Dan mungkin kau takkan bisa mengalahkan dia, tapi..."

Vados tersenyum tipis "Aku percaya padamu Hit"

"B-bagaimana.. kau bisa yakin?" Tanya Hit.

"Cinta itu adalah kekuatan, aku adalah kekuatanmu. jadi aku selalu tahu, kau akan mengusahakan segala cara Yang terbaik untuk yang kau cintai" ucapnya lagi.

Cinta bukan soal romansa

Ini soal kepercayaan hati, kekuatan tumbuh karena adanya semangat untuk melindungi seseorang.

"Aku tidak tahu... apa yang harus ku lakukan nanti"

Hit belum pernah melihat Vados sedih seperti ini. Biasanya dia jahil.

Tapi kali ini berbeda...

"Vados..."

"Jika kau memang sudah tidak mampu..." Vados menjeda kalimatnya sebentar, sulit untuk mengatakan ini.

"Aku... aku akan berusaha untuk tabah. sulit menerima sesuatu yang begitu menyakitkan. setidaknya... Kau harus bisa Hit, ingat.. kita hidup karena kita berpasangan.."

"..." Hit terdiam.

"Jadikan aku sebagai motivasimu"

Benar.

Itu benar...

Selama ini si Assasin hanya memikirkan rasa cemas dan egois. Dia jadi bertanya, apa tujuan hidupnya sekarang.

"Aku tidak ingin melihatmu lenyap untuk kedua kalinya"

"..."

Hit merintih sedih, dia merasakan satu tetes air mata keluar dari sudut iris merah nya.

"Itulah alasan, kenapa aku sangat takut" ucap Hit, agak gemetar.

"Takut adalah perasaan alami"

Keduanya saling memberi kecupan lembut.

"Bisa kau lakukan ini semua, untukku saja, Hit?" Tanya Vados.

Jika Vados adalah motivasi nya, maka Hit bersedia melakukan apa saja. Rasa itu muncul, Hit membutuhkan semangat yang mendorongnya untuk bangkit.

"..akan ku lakukan yang ku bisa..."

Vados tersenyum "Itu sudah cukup bagiku"

Hit melepas nafas ringan.

Dia akan berusaha..

.

.

*Sementara itu, di lain tempat*

"Aku tak menyangka! Daishinkan-sama dan Hit-san akan bertarung!?" Tanya Shin.

Shin membawa Whis dan Goku pergi ke Istana Zeno-sama. Mereka masih melakukan perjalanan dari alam semesta 7 menuju kesana.

"Hit sangat beruntung ya, aku sendiri bahkan tidak sampai bertarung dengan Pendeta Agung" kata Goku, tertawa polos

"Kalau kau bertarung dengan Daishinkan-sama, aku tak menjamin alam semesta akan selamat!" kata Shin.

"Kakakku sedang melindungi Hit-san, jadi ku harap kita bisa mempertimbangkan tantangan dari ayahku" tambah Whis.

Akhirnya, mereka mendarat di halaman istana.

"Kita sudah sampai"

"Yosh! Ayo waktunya berbicara!"

.

.

"Zeno-sama, sepertinya kita ada tamu" kata Daishinkan.

"Sungguh? Siapa tamu nya?" Tanya Zeno.

Dan muncul lah Goku.

"Zen-Chan!"

"WAAH! GOKU!"

Dua Zeno menyambut si Saiyan dengan gembira. Bermain mengitari Goku dan balas memeluknya. Sementara Shin langsung bersujud hormat.

"Zeno-sama! Sangat senang b-bisa b-bbe-bertemu dengan anda lagi" kata Shin, mendadak gugup dan takut.

"Sudah lama kita tidak bertemu ya!" kata Future Zeno.

"iya iya! Sejak terakhir Turnamen!"

"Hehehehe! Aku kesini karena ada sesuatu yang ingin ku bicarakan Zen-Chan!"

"Apa itu? Goku?" Tanya Zeno.

Whis melangkah kedepan, menghadap Daishinkan dan Zeno.

"Kami kesini ingin membicarakan sesuatu" ucapnya. "Ini mengenai Hit-san dan kakak"

Dan aula langsung hening.

Sementara Shin masih menunduk ketakutan, Whis mulai berucap lagi.

"Ayah, apa benar jika Ayah memberi tantangan pada Hit-san?" Tanya Whis.

Daishinkan tersenyum.

"Iya, Kurasa Vados memberi tahu padamu ya?"

"Benar"

"Zen-Chan! Daishinkan-sama! Kami kesini karena kami ingin menolong Hit! Aku memohon keringanan untuk dia karena tidak mungkin Hit bisa bertarung melawan Daishinkan-sama yang terkuat" kata Goku.

"Hit perlu berlatih lagi, dia pasti belum siap menerima tantangan itu, jadi sebaiknya, kalian harus membatalkannya saja"

"Huhhh?" Dua Zeno saling menatap heran.

"Tapi Goku, justru aku mengizinkan Daishinkan untuk bertarung dengan Hit!" kata Future Zeno.

Zeno mengangguk cepat "Iya iya! Pasti akan jadi pertarungan yang seru!"

"Aaaahh?"

Wah, sepertinya Daishinkan sangat pandai merangkai kalimat agar Zeno bisa menyetujui pertarungan di luar nalar ini.

"Hit-san bukan tipe petarung Aktif" Whis menambahkan. "Hit-san hanya akan bertarung kalau disuruh. Sisanya, dia hanya melakukan pekerjaannya sebagai Assasin. Jadi, Hit-san mempunyai keterbatasan kekuatan untuk menghadapi Angel"

"Iya! Lebih baik, biarkan Hit bersama Vados-san! Siapa tahu, Daishinkan-sama bisa jadi calon mertua nya, hehehehe" kata Goku.

"Pssh! Goku-san!" tegur Shin.

Sungguh, Goku tidak punya manner yang baik, bahkan usai turnamen hingga sekarang.

Daishinkan tertawa, dia bisa memahami sifat polos seperti Goku.

"Jangan khawatir Goku-san, ini akan jadi pertarungan yang menarik" kata dia.

Goku berkedip heran. "Apa?"

Daishinkan nampak seperti tenang sejenak, raut muka yang sulit di tebak ekspresinya.

"Karena ini adalah penentu nasib Hit-san"

"Apa?" Goku dan Shin sampai bingung.

"Kalian akan melihatnya sendiri. Jadi, jangan ragu untuk datang ke arena eksibisi Zeno-sama"

"Tunggu dulu! Daishinkan-sama! kau bisa mengubah keputusanmu kan?" sanggah Goku lagi.

"Karena itu lah, aku tak sabar ingin melihat Hit beraksi lagi!" jawab Zeno.

"Zen-Chan! Aku mohon ya batalkan pertarungan Hit dengan Daishinkan-sama, kalau begitu sebagai janjinya, aku akan bermain dengan kalian deh!" Goku memohon.

Whis berucap lagi. "Ayah, sebaiknya di pikirkan lagi, aku hanya tak ingin Kakak merasa tertekan"

Daishinkan diam, tidak menjawab apapun.

"Kakak juga pasti tahu, Hit-san menghargai dia sebagai Angel, dia tidak pernah menganggu pekerjaan Champa-sama dan kakak. Jadi aku minta ayah segera batalkan pertarungan ini" jelas Whis.

"Whis" panggil sang Pendeta, memberinya tatapan halus. "Kau sangat perhatian dengan kakakmu. Bahkan sampai harus datang kesini"

"..."

"Tapi ini atas dasar keputusanku dan izin dari Zeno-sama, mau tak mau Hit-san harus menerima ini"

Ya, sekali di putuskan, maka Daishinkan yang memegang itu semua.

"Jadi, kalian tidak bisa membatalkan pertarungan itu ya?" Tanya Goku.

"Iya, Karena ini hanya di antara aku dan Hit-san saja. Ku harap kalian bisa ikut menerima keputusan ini"

Goku punya ide. "Kalau begitu, biar aku gantikan Hit-san untuk bertarung melawanmu, Daishinkan-sama!"

"Ugghh..! Goku-san!" Shin menegur lagi.

"Ku pikir bisa lain kali" Daishinkan tersenyum. "Sekarang kalian boleh pulang"

Tidak ada lagi yang bisa di lakukan Whis dan Goku, Daishinkan sudah mengantungi izin dari Zeno-sama untuk pertarungan di arena eksibisi.

Mereka tinggal menunggu 4 hari menuju pertarungan..

To be continued