3 hari menuju pertarungan...

.

.

.

Arena yang pernah di pakai saat eksibisi pertarungan semesta akan kembali di gunakan.

Kali ini, antara Mortal vs angel, akan menjadi menarik.

Zeno dan Daishinkan tidak mengundang siapapun, cukup mereka dan orang-orang terdekat saja yang akan menonton pertarungan tak logis ini.

"Aku tak sabar melihat pertarungan nanti segera di mulai!" seru Zeno.

Future Zeno mengangguk cepat. "Iya iya iya! Jadi penasaran, apakah Hit akan semakin kuat setelah Turnamen waktu itu ya?"

"Tapi..."

Zeno berpikir sejenak.

Kalau soal Hit, Zeno tak tahu banyak. Hit juga tidak terlalu terkenal karena dia bukan tipe petarung aktif, plus di bukan orang yang asal sembarang seperti Goku. Hit adalah orang yang suka menyendiri dan terlihat egois mementingkan sesuatu hanya untuk dirinya.

Hit memang sulit ditebak, sehingga membuat Zeno agak bingung.

"Hmmm... apa Hit bisa mengalahkan Daishinkan?" Tanya Zeno.

Future Zeno berkedip heran. "Ahh iya juga ya"

"Waktu itu, dia juga kalah melawan Jiren"

"Hit-san pasti bisa" sambung Daishinkan, langsung datang ke arena. "Aku percaya Hit-san akan memberi pertarungan yang terbaik"

"Apa kau janji pertarungannya akan seru?" Tanya Zeno.

Daishinkan tersenyum. "Jangan khawatir Zeno-sama, semua akan berjalan dengan lancar. Hit-san pasti sedang berlatih, aku yakin pertarungan ini akan sangat menarik untuk di simak" jelasnya.

"Ooooohhhhhhhhh"

"Benar juga! Kalau begitu kita tak boleh melewatkan ini!" seru Future Zeno.

"Iya iya! Pasti asik!"

"hehehehehehe!"

Daishinkan masih tersenyum, namun tersirat dalam aura yang misterius.

Si Pendeta Agung sudah menebak, apa yang akan terjadi pada nasib si Legendary Assasin tersebut. Cukup menunggu waktu saja.

Waktu dimana garis hidupnya di tentukan...

Bagi Pendeta Agung, ini bukan sebuah turnamen besar yang seperti di nantikan dua Raja Zeno, hanya saja... ini berupa tantangan.

Tunggu saja...

Hit...

.

.

.

3 hari lagi...

Hit menghembus nafas ringan, dia mencoba fokus dan tetap rileks sebelum latihan. Hari ini, Vados berniat melatih Hit untuk menghindari serangan titik terlemah tubuh tanpa harus menggunakan Ki untuk merasakan kehadiran lawan.

Di atas meja, ada satu mangkuk besar Eskrim dengan berbagai lapisan rasa, di tambah ada 3 Ceri sebagai pelengkap hidangan penutup.

Ngomong-ngomong, Vados dan Champa membeli eskrim ini dari Bumi semesta 6. (atau tepatnya, Champa yang memalak toko eskrim), jadi mereka mendapat spesial bonus eskrim ukuran jumbo.

"WAHAHAHHA! Akhirnya!" Champa berteriak gembira, lidahnya tak berhenti menjilat sisi mulutnya dan siap menyantap.

"Selamat makan!"

Yap, mereka pun makan.

Tapi Hit hanya memandangi eskrim tersebut dengan Tatapan heran.

"Hit? Kau tidak mau makan?" Tanya Vados.

Hit nampak ragu, dia belum pernah makan enak sebelumnya. Apalagi eskrim seperti ini.

"Aku tidak pernah makan yang dingin-dingin" gumam Hit.

Vados tersenyum, berarti ini kesempatan pertama Hit mencoba memakan hidangan ringan tersebut.

"Kalau begitu, ini pengalaman pertamamu! ayo makan, Eskrimnya tidak langsung membekukan lidahmu kok" kata Vados.

"Aku tidak mau makan, kau saja yang habiskan" jawab Hit.

Vados langsung cemburut, membuat ekspresi antara kasihan dan sangat menyebalkan. "Hit, Aku dan Champa-sama mendapatkan eskrim besar ini untuk bertiga, kau juga harus mau"

Hmmph, kalau Vados sudah memaksa, Hit jadi tidak tega kalau menolak. matanya masih menatap eskrim itu dengan perasaan canggung.

Vados menyendok eskrim vanila, mengangkat nya pelan-pelan ke arah Hit.

"Ayo, buka mulutmu, Hit" ujar Vados.

"Mhhmmph?" Hit masih ragu.

"Ayo buka mulutmu, aaaaaaa~"

Hit menghembus nafas ringan, akhirnya dia membuka mulutnya dan membiarkan Vados menyuapinya.

"Akhirnya! Bagaimana?" Vados tersenyum senang.

Dan sejurus kemudian, Hit merasakan sensasi dingin yang membuat sekujur tubuhnya seperti menggigil.

"Hmhmmhphphphph~~!"

Vados tertawa melihat reaksi Hit.

"Di-dingin! Kenapa eskrimnya dingin!?" Tanya Hit.

"Namanya juga Eskrim, tentu saja ini Krim yang di dinginkan ke dalam kulkas dengan suhu beku" jelas Vados.

"Berikan padaku!"

Hit menyabet sendok dari tangan Vados, dan dia...

Dia memakan eskrimnya!

Vados sampai berkedip heran. Hit mulai ketagihan.

Tapi dia tersenyum manis. Senang rasanya melihat si Assasin merasa terhibur karena eskrim.

"Hit, kau mau makan bagian Cerinya?" Tanya Vados.

"Memangnya itu enak?" Hit bertanya balik.

"Sini, biar ku suapi"

Hit memakan Ceri tersebut dan merasakan sensasi rasa manis di lidahnya.

"Ternyata.. Ini enak juga" gumam Hit.

"Itu lah enaknya makanan bumi" jawab Vados.

"Aku tidak pernah makan mewah seperti ini, di berbagai planet yang sering ku kunjungi, tidak satupun dari mereka yang memiliki sajian enak seperti bumi" gumam Hit.

"Sungguh? Apa yang kau lakukan selama menjalani pekerjaanmu di planet lain?"

Hit jeda sejenak.

"Aku hanya Membunuh target dan di bayar, itu saja"

"Hit..." Vados menepuk pelan bahu si Assasin.

Mereka saling menatap, Vados seperti paham apa yang di maksud Hit. Tentang planet yang sering di kunjungi, penghuninya, kehidupan mereka dan pekerjaannya...

"Aku tahu, kau ingin menolong mereka, ya kan?" kata Vados.

Hit diam, dia langsung menoleh acuh dari hadapan Vados. "Hmph, aku tidak peduli"

Vados tersenyum. "Lain kali, kita akan berkeliling dan menolong mereka semua"

"..."

Dari dasar hati yang terdalam, sang Assasin berharap, para penghuni masing-masing di seluruh planet semesta 6 ini bisa makan enak tanpa mengalami penderitaan lagi.

"Vados" Hit berucap. "Aku ingin tahu, kelemahan ayahmu"

"eehh?

"Kelemahan Daishinkan, apa dia memiliki Itu?"

Vados nampak berpikir.

Ini sebenarnya pertanyaan biasa. Tapi masalahnya, kelemahan? Kelemahan seorang Pendeta Agung?

"Sayang sekali, Ayah tidak punya kelemahan, dia adalah Pendeta yang kuat" jawab Vados.

"Sekuat apa yang bisa kau jelaskan?" Tanya Hit.

"Sulit untuk ku jelaskan. Yang pasti dengan posisinya sebagai Pelayan Zeno-sama sudah cukup membuktikan bahwa ayah bukan mahluk yang sembarangan"

Hit menunduk lesu "Begitu ya.."

"Ayahku tidak pernah mengeluarkan sebagian persen dari kekuatannya"

Hit tetap diam.

Bukankah setiap mahluk mempunyai Kelemahan? Sepertinya tidak semua. Bahkan Zeno yang hanya Raja berwujud anak-anak pun bisa melenyapkan seluruh alam semesta hanya dengan satu tangannya saja.

"Aku tidak bisa menjanjikan menang, tapi aku ingin membuat Daishinkan menyerah dan berlutut di hadapanku, seorang mortal" kata Hit.

"Wow, keras juga kamu" kata Vados.

Hit terkekeh. "Apa kalimat ku terdengar meremehkan?"

"Tidak, kau hanya berani" Vados tersenyum.

Hit langsung beranjak dari kursi dan pergi. "Ayo latihan, aku masih punya 3 hari"

"Baiklah, latihan hari ini kita lebih rileks saja, tidak perlu bertarung sungguhan"

Mereka pun menjauh 10 meter dari jarak dimana Champa masih menghabiskan Eskrim nya.

Hit mulai membentuk kuda-kuda, kali ini tidak perlu drama. Yang dia lakukan saat ini adalah berlatih dan bertarung.

"Kali ini, anggap aku adalah Daishinkan, kau harus sangat serius"

Hit menyeringai sombong. "Heeeh, aku pasti mampu,,

*WUSSHHHHH~~!

Dan mereka memulai latihan.

.

.

.

Meremehkan ya?

Daishinkan tersenyum.

To be continued