2 Hari menuju pertarungan

.

.

.

"APAAAAAAAAA!?"

Caulifla berteriak kaget, Kale sangat terkejut. Apa yang mereka dengar, sulit di percaya.

"A-aku tidak bohong! Sumpah! Daishinkan-sama akan bertarung dengan Hit-san!" kata Cabba.

"Darimana kau dapat info itu!? Pasti hoax!" seru Caulifla.

"Aku tahu ini langsung dari Vados-san! Kemarin, usai dia dan Hit-san selesai berlatih. dia menghubungiku dan bilang padaku bahwa akan ada pertarungan di arena Eksibisi Zeno-sama! Hit-san akan bertarung melawan Daishinkan-sama!" kata Cabba.

Caulifla dan Kale masih heran.

Bukan bermaksud meremehkan, hanya saja ini sudah di luar nalar.

"Huhh! Aku tak percaya! Hit itu bukan tipe petarung! Mana bisa dia mengalahkan pendeta Agung boncel itu!" ketus Caulifla.

"Caulifla-san, jaga bicaramu" Cabba menegur.

"Ngomong-ngomong, Arena Eksibisi Zeno dimana?" Tanya dia lagi.

Cabba berkedip, kemudian berpikir. "Ehhhh... entahlah, aku sendiri tidak tahu. Mungkin Vados-san yang akan mengajak kita kesana"

"Ehmmmm.. a-anoo.. pasti pertarungan mereka akan sangat.. mengerikan" gumam Kale.

"Oy Kale! Kenapa harus takut!?" Tanya Caulifla.

Kale semakin menunduk. "Ka-karena.. lawannya adalah Daishinkan-sama"

"Heh! melawan Daishinkan itu pasti mudah! Kalau aku sudah bisa SSJ3, aku pasti bisa mengalahkan dia!" ketus Caulifla.

Yahhh.. Cabba cuma bisa maklum, Caulifla selalu asal bicara.

"Ku pikir.. kita harus mendukung Hit-san, mau nanti menang atau tidak, yang penting Hit-san sudah berusaha!" kata Cabba.

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Karena... Pasti motivasi Hit-san untuk bertarung dengan Daishinkan-sama, semua demi Vados-san.."

"..."

Semuanya mendadak hening.

"hmm, meski aku tahu Hit dan Vados pacaran, bahkan sampai pernah melihat mereka berciuman di hadapan kita.. aku pun masih ragu" gumam Caulifla.

Cabba mengangkat bahu. "Hit-san sekarang sudah tinggal di Planet Champa. sudah jelas hubungan cinta mereka berdua akan semakin besar"

"Lalu kalau Hit kalah? Apa kita akan lenyap lagi?" Tanya Caulifla.

"Aku tidak tahu" gumam Cabba. "Aku tidak tahu sama sekali, tapi aku percaya pada Hit-san"

Caulifla dan Kale sama-sama menatap Cabba.

"Hit-san pasti punya segala cara untuk melindungi kita kan? Aku yakin, Hit-san setidaknya bisa memenangkan pertarungan itu!" ucap Cabba.

Caulifla mulai acuh. "Ucapan mu itu tidak meyakinkan! Aku tahu kau juga ragu!"

"Ahh? Se-setidak nya, kita harus saling percaya..."

Hit tidak sedingin seperti fisiknya, Cabba tahu, Hit sebenarnya orang yang sangat baik.

Saling percaya adalah kunci kebersamaan kan?

"Nanti ku kabari lagi, kalau begitu aku pergi dulu!"

Cabba langsung terbang menjauh dari markasnya Caulifla.

Caulifla dan Kale hanya berkedip Heran, sepertinya Cabba selalu percaya dengan apa yang di lakukan orang-orang terdekat yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri.

.

.

.

*Di Planet Champa...

Hit dan Vados masih tidur.

Sebenarnya Vados sudah sedikit bangun, namun agak malas untuk bergerak karena lengan kekar Hit sedang melingkari lingkup tubuhnya.

dan...

Vados berkali-kali mengusap perutnya.

Bukan,.. hanya saja, ada sedikit sensasi asing. Vados mulai menduga, mungkin... Mungkin saja, suatu hari nanti.. perut ini akan terisi. Oleh sesuatu yang disebut hasil benih cinta.

Tapi untuk saat ini, Vados jelas tidak akan menentukan itu. belum saatnya, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk dirinya dan juga Hit.

Vados tersenyum, dia pun bangkit dari kasur dan lepas dari jerat peluk si Assasin.


"Hoaaaaammmmm~ oy Vados, kenapa lama sekali?" Tanya Champa. Masih setengah tidur di atas sofa.

"Tenang saja Champa-sama! Sebentar lagi selesai kok!"

Kebetulan pagi ini Champa mau makan nasi goreng yang di taburi beberapa sayuran dan sedikit potongan tomat sebagai menu pembuka.

Hmmm, tumben Hit jam segini belum bangun, mungkin masih lelah karena latihan kemarin.

"Vados!"

"Ya Champa-sama?"

"Ngomong-ngomong, Daishinkan-sama sekuat apa sih?" Tanya Champa.

"Tentunya, dia mempunyai derajat yang tinggi, Champa-sama" kata Vados.

"Sebelum aku jadi Hakaishin, apakah Daishinkan-sama pernah bertarung?"

Vados langsung menaruh sepiring nasi goreng, Champa mulai beranjak dari sofa dan berjalan ke meja makan.

"Hmmm... sepertinya tidak" jawab Vados.

"Oyy! Kau yakin?! Masa anaknya sendiri tidak tahu sih!?" Tanya Champa, malah kesal.

"hahahaha, Champa-sama. Kekuatan Ayahku sulit di jelaskan"

"Heehhh justru itu aku penasaran! Orang seperti Hit saja di tantang langsung oleh Pendeta Agung! untung bukan si Goku itu!"

"Ayah yang terkuat di seluruh alam semesta, dia tidak pernah mengeluarkan sebagian dari kekuatan nya untuk bertarung"

Champa mendadak gemetar.

Meski Daishinkan tidak pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda kekuatanya, tapi aura nya sebagai Pelayan Zeno-sama bukan sesuatu yang main-main.

"Ja-jadi... apa saat ini Daishinkan-sama memang yang terkuat di seluruh alam semesta?" Tanya Champa.

"Iya, dan dia mempunyai pengetahuan Yang sangat luas. tidak heran dia mengetahui segalanya"

"Waduhh Gawaaaat!" Champa mulai panik.

"Kami para Angel sebenarnya di larang bertarung, akibat nya fatal untuk seluruh alam semesta" tambah Vados lagi.

Mata Champa langsung membulat.
"Eehh!? Pa-pantas saja kau tidak pernah bertarung serius!?"

"Tapi kali ini, nampaknya berbeda. Ayahku yang menawarkan langsung pada Hit sebuah tantangan"

"Ka-kalau Hit kalah.. Aku bisa habis! Seluruh alam semesta tidak akan percaya tentang pertarungan dia dan Daishinkan-sama! Mereka semua nanti akan menganggapku gilaaaaaaa!" teriak Champa.

Vados tertawa. "hahahaha! Champa-sama, anda tidak usah panik. perut bulatmu saja nampak tidak khawatir!"

"VADOS!" Champa sangat kesal dengan cara omong yang jahil oleh Vados.

"Tapi, sebagai Hakaishin, tentu kau percaya pada petarungmu kan?"

Champa mendengus kesal. "Heh! Aku cuma ingin Hit menjaga sikapnya! Itu saja!"

"Oh, ngomong-ngomong..." Vados jadi teringat sesuatu.

"Aku sudah bilang pada Cabba dan kawan kawan, mereka mau menonton pertarungan Hit dengan Ayahku ke arena eksibisi, Cabba bilang dia bersedia mendukung Hit"

"APAAAAAAA!?" Champa mulai syok. "Kenapa kau undang bocah seperti mereka!? mereka bertiga itu tidak punya urusan dengan kita, terutama si Caulifla itu! Nanti masalah ku tambah besar karena tingkah asal-asalnya!"

"Hahahaha! Champa-sama kalau marah-marah kok lucu ya" Vados tertawa.

"VADOOOSSSS!"

Menjahili Hakaishin macam Champa memang seru.

"Heehh!" Champa mulai ngambek.

"Champa-sama, tidak biasanya kau menunjukkan ekspresi itu" kata Vados.

"Hehhh, Semenjak Hit tinggal disini, kalian seperti pasangan beneran" jawab Champa, tidak menoleh ke Vados.

"Ah?"

"Maksudku, Kalian seperti Suami istri! aku jadi malas kalau melihatmu bersama Hit terus. soalnya... bukankah kita yang sering bersama selama jutaan tahun lebih?" gumam Champa.

Vados menatap Hakaishin, dia mengerti.

Champa hanya mengeluh, bukannya dia tidak suka Hit tinggal di planet ini. Hanya saja, semenjak si Assasin itu mencintai Vados, perhatian si Angel itu jadi terbagi dua.

Untuk Hit dan untuk Champa.

"Champa-sama, sampai kapanpun, aku tetap pendampingmu. tidak akan ada yang menyingkirkan posisimu selama kau adalah Hakaishin. Hit tidak punya niat seperti itu hanya karena kami saling mencintai" jawab Vados.

"Hit sudah tahu, aku ini sangat penting untukmu. Dia tidak akan ikut campur dengan urusan Angel dan Hakaishin. Hit tetap menghormatimu.. jadi kau tidak perlu khawatir"

"..."

Champa tidak menoleh, tapi sebenarnya dia menerima alasan Vados.

"Hmmph, Yang penting kita tetap bekerja sama, apa yang ku suruh, kau harus patuh"

Vados tersenyum. "Siap! Champa-sama!"

"Huuh, ada lagi yang ingin kau katakan soal Hit?" Tanya Champa.

Vados tersenyum. "Champa-sama mau keponakan, tidak?"

"EHH?"

Pasang mata si Hakaishin tersebut agak melebar.

Keponakan?

Maksudnya Vados apa?

Kemudian, Vados mulai mengusap-usap perutnya. Seketika Champa menyadari apa yang dia maksud.

Jangan-jangan...

"TIDAK MUNGKIINNNNNNNN!"

"Hahahaha! aku hanya bercanda, Champa-sama!"

"VADOS! BERHENTI MENJAHILI KU!

Yap, Teriakan Champa menggema satu planet.

To be continued