Chapter 2

Yanke-kun to Yanke-chan?

~Fairy Tail~

Pairing: Natsu x Lucy

Genre: Romance and Humor

Warning: OOC and Typo's bertebaran

Lucy menghela napas pelan mengingat kejadian pagi tadi yang benar-benar memalukan. Diperbaikinya letak kacamatanya dan melanjutkan mengerjakan tugas dari Makarov-sensei dengan pelan. Saat ia melirik kearah Natsu, ia langsung bersweatdrop melihat pemuda itu asyik memandanginya dengan tatapan aneh.

Ok, sepertinya pemuda itu masih menyimpan dendam karena sudah menjitaknya dengan keras pagi tadi, tapi itukan bukan salah dia!? Kenapa pula harus pakai acara kejar-kejaran sampai sekolah?! Benar-benar memalukan untuk seorang murid kelas tiga yang dianggap oleh semua orang adalah sosok murid rajin dan patuh.

Kejadian dimana ia berlari dari kejaran Natsu yang hendak membalas menjitaknya, mungkin, hingga ia di pandangi selama ia berlari hingga ke sekolah oleh orang-orang yang berlalu-lalang. Sedangkan, pemuda itu malah tak peduli dan terus mengejarnya dan berhenti saat napasnya terengah-engah di depan gerbang masuk sekolah.

"A-Akuh…Su-sudah…Tidak kuat lah-lagi…" Ucap Lucy sambil mengontrol napasnya yang terengah-engah akibat berlari sprint sejauh dua kilometer. Tatanan rambutnya yang semula rapi, kini menjadi berantakan dan kacamatanya sudah melorot.

Begitu pula dengan Natsu. Pemuda dengan rambut pink salmon itu merasa lelah mengejar Lucy. Ia sendiri bingung kenapa mereka malah saling kejar hingga sekolah. Kini, semua orang melihat mereka dengan tatapan aneh dan malah ada yang terkikik riang. Astaga!

"Lucy, ada apa denganmu?" Ucap seseorang dengan nada khawatir yang membuat Natsu dan Lucy sama-sama menoleh kearah sumber suara. Begitu tau siapa itu, tanpa sadar tangan Lucy langsung berpegangan dengan pemuda itu. "Biarkan aku… mengatur napasku, Loke." Ucap Lucy dengan suara yang lumayan keras.

Natsu yang napasnya sudah mulai normal, langsung memasang wajah menyeramkan dan menarik tangan Lucy dari genggaman pemuda berambut orange gelap itu dengan kasar. Lucy dan Loke langsung tersentak kaget akan tindakan Natsu yang tiba-tiba. Ia berikan deathglare pada Loke sambil membawa Lucy ke dalam pelukannya. "Jangan seenaknya menyentuh gadis aneh ini. Dia milikku." Ancam Natsu.

Lucy membeku, Loke ternganga, dan siswa yang sedang berjalan terdiam di tempat memandang Natsu, Lucy dan Loke. Semburat merah tampak jelas di wajah Lucy setelahnya, Loke menahan tawa hingga akhirnya seluruh siswa yang mendengarnya tertawa keras mendengar pernyataan Natsu.

"Hahaha!" tawa menggelegar di depan sekolah. "Kau memang yang terbaik, Dragneel-kun." Teriak salah seorang siswa dengan kencang.

"D-D-Dragneel…" Gumam Lucy dengan gagap. Loke melihat mereka berdua dan tertawa terbahak-bahak. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi pura-pura takut. "Tenang saja, Dragneel, Lucy tidak akan aku ambil. Dia kan sepupuku." Terang Loke dengan santai. Ia kemudian berjalan menuju rak sepatunya dengan tawa keras.

"Sampai kapan kalian akan berpelukan? Sebentar lagi bel masuk berbunyi." Ucap Loke menyadarkan mereka berdua. Lucy langsung menyingkut perut Natsu dengan keras dan berjalan masuk dengan wajah yang memerah malu. Sedangkan Natsu, pemuda itu meringis kesakitan setelah menerima sikutan Lucy yang tergolong keras. Ia bahkan tak menyangka kalau gadis itu lebih kuat daripada penampilannya.


"Hei, pulang sekolah kau akan kemana?" Bisik Natsu pelan di tengah jam pelajaran. Lucy terperanjat dan menghentikan kegiatan membaca bukunya. Ia menoleh kesamping dan melihat Natsu tengah memandangnya dengan tatapan polos, berbeda dari sebelumnya.

Semburat tipis muncul di pipinya dan ia berpura-pura membenarkan kacamatanya. "A-aku akan belanja bahan makan malam untukku, k-kenapa kau bertanya Dragneel?"

"Kalau begitu aku ikut. Sebagai tanda terima kasih karena sudah mengobatiku kemarin." Balas Natsu dengan enteng sambil menunjuk tangannya yang masih terperban. Lucy menganggukkan kepalanya dengan lemah dan memandang bukunya kembali. Ia merasa jantungnya berdebar kencang kali ini dibanding tadi pagi.

Astaga, dia bisa gila saat ini!

Saat ia memandang kearah Natsu lagi, ia langsung bersweatdrop ria. Baru beberapa detik saja ia menoleh kearah lain, pemuda itu sudah tertidur di mejanya dengan lelap. Senyum tipis tiba-tiba tertera diwajah Lucy dan ia melanjutkan kembali kegiatannya.


"Hei, kau tak memasak daging?" Tanya Natsu dengan pandangan polos pada Lucy. Gadis itu terkejut saat melihat tangan Natsu yang di penuhi oleh beberapa daging segar. Ia bersweatdrop ria mengetahui bahwa pemuda ini sangat menginginkan daging. Astaga, ia bahkan bisa melihat bintang-bintang di mata onix-nya.

Mereka sedang berbelanja bahan makan malam Lucy seperti janji Natsu tadi siang saat jam pelajaran. Bukannya bosan seperti lelaki lainnya, pemuda ini malah kesenangan menemaninya berbelanja makanan bahkan selalu memasukkan makanan yang memiliki sangkut pautnya dengan daging. Meski ia meletakkan kembali barang-barang yang sudah Natsu ambil karena memang bukan itu tujuannya yang akhirnya mendapatkan protes manja salamander. Benar-benar, sisi Natsu yang terpendam ini malah membuat Lucy menggelengkan kepalanya.

"A-anu Dragneel, kenapa kau malah menyuruhku membeli daging?" Tanya Lucy. Natsu memandang Lucy dengan tatapan polos dan sedikit memiringkan kepalanya. "Bukannya sudah jelas kalau kau akan memasak makan malam? Tentu saja aku juga harus memilih bahannya untukku makan nanti." Jawabnya dengan polos.

Lucy terbengong dibuatnya. Mulutnya terbuka lebar dan kacamatanya melorot kebawah dengan tidak indahnya. "Kau sungguh yakin akan kuajak makan malam, ya." Desah Lucy lelah. Ia tak menyangka kalau sisi Natsu yang lain adalah rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi dan polos. Tunggu, baru pertama kali ia melihat seorang yanke memiliki wajah polos sepertinya.

"Kenapa? Kau ada masalah dengan itu?" Desis Natsu yang mendengar keluhan Lucy. Lucy menaikkan alisnya sebelah dan menggeleng pelan, mengabaikan amarah Natsu lalu mengambil salah satu daging yang dipegang oleh Natsu.

"Kau harus membayar setengahnya untuk daging ini, Dragneel." Dan dijawab dengan anggukan polosnya.


Lucy memasak makan malam dengan tidak tenang. Pasalnya, pemuda berambut pink salmon itu terus menatapnya dengan tatapan penasaran. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh kepala pinknya itu, yang jelas, kini Lucy tak berkonsentrasi memasak. Bahkan ia hampir saja menggosongkan telur dadar yang ia masak, hanya untuk memikirkan isi kepala Natsu.

"A-ano Dragneel, bi-bisakah kau berhenti me-memandangiku?" pinta Lucy dengan suara pelan. Bulir keringat turun dipelipisnya, mewanti-wanti jawaban Natsu. Memang, orang tuanya kembali lembur kerja hingga meninggalkannya sendiri di rumah bersama para pelayan -yang sudah ia pinta sejak dulu untuk membiarkannya masak jika orangtuanya tidak di rumah.

Natsu menaikkan alisnya sebelah dan melambaikan tangannya pelan dengan wajah tak mengerti. "Lanjutkan saja memasakmu. Lagipula kegiatanku tidak mengganggumu." Ucapnya tenang. Lucy hampir saja melemparkan spatula-nya ke wajah Natsu jika tak mengingat siapa sosok di hadapannya ini.

'Apa dia tak mengerti?!'

Lucy menghela napas pelan dan melanjutkan memasaknya dengan perasaan cemas. Dengan perasaan tak tenang, dengan cepat ia menyelesaikan acara memasaknya dan menghidangkannya di meja makan, dimana Natsu sudah menunggunya, atau lebih tepatnya makanannya, sedari tadi.

Bahkan dia sudah siap sedia dengan garpu dan sendok ditangannya. Benar-benar bocah.

Sekali lagi, Lucy terheran-heran dengan gaya makan Natsu yang berantakan dan penuh nafsu sedangkan ia memakan dengan normal. Ia menghentikan acara makannya dan memandang Natsu dengan raut bingung. Yup, ia teringat akan hal penting yang sangat ingin ia tanyakan kemarin namun ia sangat takut untuk melakukannya, jadi ia hanya diam saja.

"Nee, Dragneel, kenapa kau memintaku menjadi pacarmu?"

'Uhuk…uhuk…'

Natsu langsung tersedak mendengar penuturan Lucy yang tiba-tiba. Ia langsung meneguk air minum di sampingnya hingga tandas, lalu menghembuskan napas lega.

Setelahnya semburat merah tipis nampak diwajahnya seiring dengan palingan wajahnya ke samping. "Apa kau ada masalah dengan itu?" Tanya Natsu membalikkan pertanyaannya. Lucy terdiam sejenak lalu menatap Natsu dengan polos, "Tidak, hanya saja aku bingung, bukannya kau marah karena aku menginjak kakimu padahal kita tak pernah bicara selama dua bulan kita sebangku?"

Natsu tersentak kecil dan memorinya mengingat bagaimana gadis cupu dihadapannya ini mengambil buku yang ia cari untuk referensi tugas dari Ultear-sensei. Guru killer berwajah cantik itu benar-benar tak memberinya ruang untuk bermain.

Dan tugas itu akan dikumpulkan enam hari lagi.

Mengingatnya membuat Natsu mendidih. Ditatapnya Lucy dengan aura membunuh dan dipukulnya meja makan dengan kuat. "Kembalikan buku yang kau ambil itu, Lucy!" Bentaknya.

Namun, entah kenapa gadis berkacamata itu malah tersenyum tipis padanya. Dengan santainya ia menjawab, "Kau bisa memintanya pada Laxus-sensei, karena beliau yang menyuruhku untuk mengambil buku itu."

Natsu mendecih pelan lalu kembali duduk dengan tenang dan bulir keringat yang menetes dipelipisnya. Tentu saja ia tak berani menghadapi guru terkiller di Fairy Gakuen. Lebih baik ia melawan para berandalan tak jelas dari sekolah lain daripada sensei petir itu. Apalagi ditambah ia sering membolos dan tidur pada saat jam pelajarannya. Yang ada ia malah di ceramahi hingga malam.

Lucy melihat Natsu yang ketakutan. Ia tak menyangka kalau yanke satu ini akan memiliki rasa takut akan orang lain. Yah, memang dia tetaplah manusia yang memiliki rasa takut sendiri.

Lucy berjalan menjauh dari meja makan dan mengambil sebuah catatan kecil dari dalam tas sekolahnya. Mata coklat madunya membaca dengan cepat tulisan-tulisan di dalamnya, yang membuat Natsu tak bisa membaca pikiran gadis blonde itu.

"Kapan deadline tugasmu, Dragneel?" Tanya Lucy seolah membaca benak Natsu.

"Enam hari lagi." Tutur Natsu dengan cepat. "Kenapa kau bisa tau kalau aku diberi tugas?"

"Mudah saja, kalau kau sangat membutuhkan buku dan mendesak bahkan merebut buku itu maka hanya ada dua pilihan, yaitu kau sedang membantu guru megambilnya atau kau sedang di beri tugas. Dan aku sangat yakin kau mendapatkan tugas karena kau kan jarang masuk kelas." Jelas Lucy dengan santai.

Natsu mengangguk mengerti. Ia melipat tangannya didada dan menarik napas dalam-dalam lalu menatap Lucy dengan pandangan bingung, "Lalu?"

Lucy hampir saja terjatuh akibat otak Natsu yang terlalu lambat memproses kata-katanya. Ia menghela napas pendek dan menunjukkan catatan kecil miliknya, "Artinya, aku akan membantumu menyelesaikan tugasmu. Dan kalau tidak salah, aku pernah meminjam salah satu buku itu diperpustakaan kota. Bagaimana kalau lusa kita pergi kesana? Hari minggu kau senggang, kan?"

Natsu berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya. "Tak salah aku menjadikanmu pacarku, Lucy." Ucap Natsu dengan cengiran di wajah tampannya. Lucy tersentak dan semburat merah menghiasi wajah putihnya. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang dan bibirnya terasa kelu untuk bicara.

Ia menundukkan kepalanya dan memeluk catatannya dengan erat. Natsu tak menyadari tingkah Lucy yang berubah dan ia malah memasang mode berpikir. Tak lama wajahnya memerah tipis saat kepalanya mengingat apa yang ingin ia katakan dan ia mengalihkan pandangannya tiba-tiba tanpa melihat Lucy yang juga berwajah sama dengannya.

"Kau juga bisa memanggilku dengan Natsu, Lucy."


'Apa dia memang terlihat tampan, ya?' Gumam Lucy pelan sambil memakan roti bakar miliknya. Sudah sehari berlalu dan selama itu pula ia terus merenung mengingat wajah Natsu yang terkesan lebih tampan daripada sebelumnya, bahkan pemuda itu selalu melemparkan senyum padanya yang membuat jantungnya berdebar kencang dan kini ia harus menepati janjinya pada Natsu.

Seperti biasa, Ayah dan Ibunya sudah pergi kerja lebih dahulu dan meninggalkannya sarapan pagi sendirian dengan roti dan selai cokelat, kesukaan Lucy.

Hap…hap…hap…

Ia terus memakan rotinya hingga habis dengan wajah termenung dan wajah yang memerah. Menyadari rotinya telah habis, ia menghentikan acara termenungnya dan langsung meneguk susunya lalu menyampirkan tas merah muda polos yang berada di sampingnya.

Ia menata rambutnya yang diikat ponytail dan kacamatanya dengan gugup, lalu menarik napas pelan. Setelah dirinya tenang, ia berjalan keluar rumah dengan senyum tipis.

"Ganbatte, Lucy!"


Natsu melipat tangannya di depan dada sambil mengetuk-ngetuk jemarinya dengan sabar. Sudah hampir sejam ia menunggu gadis blonde culun itu di depan halte bus. Dengan kemeja orange polos dan ditutupi oleh jaket hitam berhoodie miliknya dan juga celana jeans serta syal kotak-kotak polosnya membuat dirinya menjadi tontonan gratis untuk para gadis yang berlalu lalang. Banyak yang memuji ketampanan dan kesan cool miliknya bahkan sudah ada beberapa yang merayunya dan tak ia gubris sama sekali.

Benar-benar dingin.

"N-Natsu, maaf membuatmu menunggu." Teriak sebuah suara yang sudah dapat Natsu pastikan kalau itu adalah suara Lucy Heartfilia. Ia berdecak kesal dan mengalihkan pandangannya kesamping, kearah Lucy. Baru saja ia ingin memarahi gadis ini, ia langsung membungkam mulutnya dan terpana.

"A-apa apaan bajumu itu, Lucy?!" desis Natsu dengan nada yang sedikit tinggi pada Lucy. Gadis itu tersentak dan menatap bingung dirinya. Ia tak merasa ada yang salah akan pakaiannya karena memang begitulah gayanya jika bepergian keluar bersama Loke. "M-memangnya apa yang s-salah, Natsu?" tanyanya dengan polos.

Natsu menghela napas lelah lalu melepaskan jaket miliknya dan memasangkannya pada Lucy. Gadis itu hanya kebingungan seraya Natsu menarik tangannya dengan kuat dengan rona merah di pipinya. "Kita mau kemana, Natsu?" Tanya Lucy saat menyadari bahwa Natsu menariknya kearah yang berlawanan dari lokasi perpustakaan tujuan mereka.

"Diam dan ikuti saja aku, Nerd." Ucap Natsu dengan nada dingin. Gadis blonde itu hanya berpasrah diri dan mengikuti kemana pemuda ini membawanya. Natsu yang sekarang sangat mengerikan jika dilawan saat ia memanggilnya dengan sebutan 'Nerd'.


"Jadi, apa maksudmu dengan membawaku kemari, Natsu?" Ucap Lucy dengan nada tak senang menatap bangunan minimalis yang berisikan pakaian wanita. Natsu tak menggubrisnya dan terus menarik tangannya untuk masuk ke dalam.

"Ara, Natsu, kau sedang mencari sesuatu?" Sapa seorang wanita dengan rambut bergelombang pirang panjang dan dress panjang berwarna pink pada Natsu. Gadis yang memiliki perawakan kecil namun tampak manis dan anggun, tersenyum tipis saat melihat Natsu tengah menggandeng tangan seorang gadis.

"Ah, Mavis-Nee. Aku sedang mencari baju untuk dia." Ucap Natsu pada gadis bernama Mavis itu. Lucy hanya dapat melihat Natsu berbincang santai dengan gadis bertubuh kecil yang ia panggil kakak itu. Ia bahkan tak sanggup memandang si gadis itu dan terus menundukkan kepalanya sambil mengeratkan pegangannya pada jaket Natsu yang kebesaran ditubuhnya.

Ternyata jaket ini berguna juga, batinnya.

Ia merasa telinganya tak mendengar apapun dan hanya mengikuti Natsu yang sudah menarik tangannya kembali. Pemuda itu menyadari kalau sedari tadi Lucy menjadi pendiam. Tangannya langsung mencubit dengan keras pipi Lucy hingga meninggalkan bekas merah di pipi putihnya.

"Apa-apaan kau, Natsu!" teriak Lucy sambil mengusap pipinya yang terasa panas dan sakit. Ia langsung menyadari kalau dirinya tengah berteriak kearah Naga api yang memiliki temperamen tinggi. Dengan cepat ia membungkam mulutnya dan kembali menundukkan kepalanya dengan keringat yang turun di pelipisnya.

'Hidupku dalam ancaman. Lucy bodoh!'

"Masuklah. Langsung saja kau pakai baju ini." Ucap Natsu yang tak menghiraukan teriakan Lucy barusan. Ia malah memberikan kemeja berlengan panjang berwarna biru gelap dengan corak bunga-bunga di sekelilingnya dan rok lipat selutut berwarna senada pada Lucy atas rekomendasi dari Mavis.

Lucy tentu saja memilih menganggukkan kepalanya meski ia tidak suka jika selera fashionnya di kritik oleh orang. Bahkan, Loke saja pernah ia hajar karena menyuruhnya berpakaian lebih terbuka dari ini. Yah, ia akui, selera pemuda ini tak buruk juga. Langsung saja ia masuk ke dalam ruang ganti dan memakai pakaian yang diberikan oleh Natsu.

Dibukanya tirai fitting room itu dan memperlihatkan pada Natsu. Pemuda itu menganggukkan kepalanya dengan tenang lalu mengacungkan jempolnya pada Mavis. "Berapa harganya, Mavis-Nee?" Tanya Natsu sembari mengeluarkan dompet kulit miliknya. Lucy hampir saja terjerambab akibat terkejut akan ulah Natsu yang seenaknya saja membelikannya pakaian.

Bahkan ia tak mengomen sama sekali gayanya saat ini.

Mavis tersenyum tipis pada Natsu sambil mengedipkan sebelah matanya pada Lucy. "Ambil saja. Anggap kalau ini hadiah dariku untuk pacarmu, Natsu. Oh, katakan pada Zeref kalau aku akan datang nanti malam ke rumah kalian." Natsu menatap bosan Mavis.

"Baiklah, akan kuberitahu dia. Dasar, kau memang tak memberi secara percuma, Mavis-Nee." Cibir Natsu sarkatis. Mavis tertawa terkikik sambil melambaikan tangannya pada mereka.

"Tentu saja, Natsu."


Setelah selesai mengubah gaya Lucy dan Natsu sedikit merasa tenang akan sekitarnya, mereka kembali ke misi awal. Menyelesaikan tugas milik Natsu yang harus berasal dari referensi buku yang telah di berikan oleh Ultear-sensei diperpustakaan kota. Sembari menunggu Lucy mencari buku itu, Natsu hanya menopang dagu di atas meja dan menatap bosan jalanan.

Kenapa berandalan sepertinya berakhir di perpustakaan bersama dengan gadis culun?!

Hanya Tuhan yang tau apa yang tengah ia rasakan saat ini. Karena ia pun tak mengerti sama sekali.

Bruk….

Beberapa buku tebal tampak tergeletak rapi dihadapan Natsu saat ini. Saat ia mendongak, ia melihat gadis berkacamata dengan pakaian yang lebih sopan itu tampak tersenyum menyengir pada Natsu. Sedangkan Natsu, jangan tanya lagi, otaknya benar-benar berhenti bekerja saat ini.

Lucy membuka buku paling atas dan memberikannya pada Natsu. "Jadi, bagian mana yang menjadi tugasmu?" Natsu masih tak merespon. Otaknya tak dapat mencerna apa yang tengah Lucy lakukan. Seumur-umur, ia tak pernah berhadapan dengan tumpukan buku tebal yang hanya merusak matanya.

"Kau masih hidup, kan Natsu?" Pemuda itu langsung sadar dari lamunannya dan menatap sinis kearah Lucy. Gadis itu malah sweatdrop melihat Natsu yang malah menatapnya dengan tatapan membunuh. 'Tsundere, kah?' ia membatin.

"Nah, buku yang kau cari. Karena menurutku tugasmu bakalan banyak, makanya aku mengambil beberapa buku dari pengarang yang berbeda sebagai referensi tambahan. Siapa tau nilaimu bakalan bagus setelahnya." Jelas Lucy pada Natsu. Pemuda itu mengerti dan ia membuka salah satu bab di buku yang telah Lucy berikan. Gadis itu menaikkan alisnya dengan ekspresi bingung.

"Turunan Bezene? Bukannya itu untuk semester dua ya?" Natsu mengedikkan bahunya, pertanda ia tak mengetahui perihal itu. Yang ia tahu, Ultear menyuruhnya untuk membuat pembahasan mengenai bab itu. Sebut saja, ia disuruh membuat makalah dengan tulis tangan sebanyak mungkin.

"Baiklah, aku akan membantumu. Kebetulan aku sudah mempelajarinya saat kelas dua." Seru Lucy dengan semangat. Ia mengeluarkan semua peralatan tulisnya dan mulai meniliti mana saja yang bagus untuk dimasukkan ke dalam tugas Natsu.

Pemuda pinkish salmon itu ikut berkutat dengan buku meski ia tak dapat mencerna sama sekali isi buku itu. Ia melirik Lucy yang berkonsentrasi penuh dengan buku dan gadis itu tengah menulis di catatannya yang sudah terisi hampir setengah halaman.

Braak…

Meja tempat mereka belajar, ditendang dengan keras hingga buku-buku mereka berserakan di lantai disusul dengan suara tawa mengejek.

"Seorang salamander belajar di perpustakaan bersama seorang gadis culun. Benar-benar menggelikan, hahahaha!" Tawanya menggelegar. Para pengguna perpustakaan berlarian akibat ketakutan dengan segerombolan preman yang mengelilingi meja mereka berdua.

"-risik." Gumam Lucy pelan dengan kepala yang menunduk. Natsu yang tak mendengarnya sama sekali, malah melayangkan tinjunya pada salah satu preman yang memiliki rambut hitam panjang. Seorang preman dengan bertubuh tambun mendekati Lucy dan menarik kerah kemeja Lucy hingga ia tak menapakkan kakinya dilantai.

"Apa kau bilang, pirang?" Tanya pemuda itu sambil mendekatkan telinga kemulut Lucy. Gadis itu tetap menunduk. Natsu yang tengah sibuk menghajar preman lainnya, langsung berinsiatif berlari kearah Lucy yang kesusahan menurutnya.

"Kalian benar-benar berisik, sialan!" Pekik Lucy sambil melayangkan tinjunya ke rahang pemuda itu hingga ia terjungkal ke belakang, menabrak rak buku dengan keras. Kacamata Lucy terlepas saat ia menendang preman lain yang menyerangnya dari belakang.

Natsu? Pemuda itu malah membeku melihat Lucy yang tampak lebih mengerikan dibanding yang ia tahu. Seorang kutu buku bertransformasi menjadi monster dengan tatapan dingin yang ia berikan.

Oh, ia benar-benar harus berhati-hati pada gadis itu mulai saat ini.

TBC


Ohayou, Konnichiwa, Konbanwa minna-san~

Akhirnya selesai juga chap 2 nya. Bagaimana menurut minna-san? Jangan macam-macam dengan Lucy loh~ hehehe, dia kan Erza nomor dua XD

Awalnya saya pikir bakalan saya end kan saja di chap pertama, tapi berkat minna-san saya akhirnya melanjutkannya, hehehe~

Saya akan membalas Review minna-san disini saja ya.

92: Makasih, ini udah saya lanjutin~ semoga suka ya

hannah: hahaha ini sudah saya lanjutin. Makasih banget ya sampai pasang puppy eyes ^u^

Dragneel77: Sori ya, ni udah update. Maaf gak bisa kilat untuk chap 2 ini, saya sedang dilanda kesibukan T_T makasih udah review :D

vicky-chan: ini udah update. Makasih ya udah review dan baca ff nya :D

BoBoiBoy Kambing: ini udah lanjut. Hahaha Natsu kan emang udah Tsundere kalau sama Lucy XD meski tampangnya tak menjanjikan :V

dragonfirenatsu90: oke, ini udah next :D

Baiklah, terima kasih juga untuk para readers sekalian yang sudah membaca ff saya. Sekian dari saya #bungkuk-bungkuk

Mind RnR?