Chapter 4
Natsu mendudukkan pantatnya dikursi kayu itu dengan alis yang berkedut. Ia tak suka, Lucy Heartfilia si Nerd itu tak berada dirumah saat ia menjemput untuk berangkat bersama. Ia pikir jika gadis itu sudah pergi dahulu, meninggalkannya sendiri dalam bingung.
Ia menatap kursi Lucy, belum ada tas gadis itu. Kemana dia? Bukannya sebentar lagi bel masuk berbunyi? Selama yang ia tahu, gadis itu tak pernah membolos sekalipun.
Drrt…drrt…
Ia langsung merogoh celana tasnya dan membuka pesan singkat. Mungkin dari pacar anehnya itu.
'PACARMU BERSAMA KAMI, JIKA INGIN DIA KEMBALI, TEMUI KAMI DI HALAMAN BELAKANG SEKOLAH PHANTOM HIGH ATAU DIA AKAN KAMI SIKSA.'
Mata Natsu melebar. Amarahnya memuncak dan darahnya mendidih melihat foto Lucy yang terbaring dengan luka-luka diwajahnya juga pesan singkat yang sudah ia ketahui dari siapa. Gajeel Redfox, pemuda besi yang benar-benar menjengkelkan. Padahal sudah dihabisi oleh Lucy dan dirinya tapi mereka malah berani menangkap Lucy.
"Kurang ajar!" Desisnya. Dengan cepat, ia mengambil tasnya kembali lalu berjalan keluar. Wajahnya penuh amarah dan sudah pasti ia akan mengambil Lucy dari mereka.
"Tak ada yang boleh menyentuh Nerd-ku kecuali aku."
Yanke-kun to Yanke-chan?
~Fairy Tail~
Pairing: Natsu x Lucy
Genre: Romance and Humor
Warning: OOC and Typo's bertebaran
Lucy mengerang pelan. Ia membuka matanya perlahan dan menatap sekitar dengan bingung. Kepalanya terasa sakit bersamaan dengan tubuhnya yang terasa seolah remuk. Ia juga merasa wajahnya perih namun entah kenapa tangannya tak mampu untuk bergerak.
"Hou, kau sudah bangun, tuan putri?" ia menoleh, menatap ke sampingnya. Pemuda berambut hitam dengan tindik besi yang begitu banyak diwajahnya. Mata Lucy langsung melebar dan menoleh ke atas, mendapati tangannya terikat oleh tali dan digantungkan layaknya tahanan.
"Kau!" Geram Lucy. Ia ingat siapa pemuda ini. Dulu ia pernah menghajarnya saat SMP karena sudah menghajar beberapa teman-teman SMP-nya. Pemuda itu tertawa keras, lalu menendang tubuhnya dengan keras, membuatnya mengeluarkan darah yang banyak dari mulutnya. "Uhuk…uhuk…" ia memicingkan matanya sebelah, menahan sakit yang teramat sangat. Sakit yang sudah lama tak ia rasakan.
Meski ia tak bisa melihat terlalu jelas wajah pemuda itu karena kacamatanya menghilang entah kemana, namun ia sangat yakin kalau dia adalah Gajeel Redfox. Berandalan Phantom High yang terkenal akan kesadisannya.
"Apa yang kau mau?!" Desis Lucy. Sekali lagi, pemuda itu menendang perutnya dengan keras lalu meninjunya dan mengulangnya hingga berkali-kali. Ia tertawa keras dengan wajah senang. Gadis itu terlihat sangat lemah. Tubuhnya bergetar hebat dan ia tak sanggup untuk mengangkat wajahnya.
"Kau akan tahu apa mauku. Tunggu saja hingga pangeranmu datang."
Brak!
Baru saja Gajeel berbicara, pintu besi itu ditendang keras oleh seseorang. Rambut pinkish nya terlihat lemas, bersamaan dengan keringat yang mengucur. Ditangannya terdapat tongkat kayu panjang dan wajahnya penuh luka, namun ekspresinya penuh amarah. Dibalik pintu, murid-murid Phantom High terbujur tak berdaya.
Gajeel tersenyum senang, kemudian menyeringai lebar menatap orang yang sudah ia tunggu.
Begitu mata onix-nya melihat gadis yang ia sayangi terikat lemah di belakang musuhnya, kerutan dikeningnya semakin mendalam dan amarah yang sangat jelas terlihat disana.
"GAJEEL!""
"SALAMANDER!"
Bruuk! Buagh!
Natsu terus melayangkan tinjunya ke wajah Gajeel dengan keras, membuat pemuda itu terjerembab ke belakang. Matanya menggelap dan tanpa segan ia terus membalas tinjuan juga tendangan yang diberikan musuhnya dengan kuat.
Gajeel tersenyum menyeringai. Ia meludahi darah yang mengucur dari mulutnya. Ia sangat senang akan pertarungannya kali ini. Musuhnya yang pernah kalah malam itu, kini menjadi musuh yang setara untuknya. Ditambah ada orang yang berharga yang menjadi alasannya untuk bertambah kuat.
Ia bangkit dan memukul wajah Natsu dengan cepat menggunakan sikunya lalu menendangnya dengan kuat.
Brak!
Tubuh Natsu terlempar, mengenai salah satu meja kayu hingga ambruk dan hancur. Ia merintih pelan. Ia kehilangan fokus saat matanya kembali menatap tubuh Lucy hingga memberikan celah bagi Gajeel untuk menghajarnya. Musuhnya benar-benar kuat. Namun, Gajeel belum seberapa jika dibandingkan dengan Gray, frienemy-nya dan Erza, si wanita monster itu.
"Pukulanmu seperti wanita, muka besi." Desis Natsu sambil bangkit dari jatuhnya. Ia sengaja tak menggunakan senjata apapun begitupun dengan Gajeel, karena mereka tahu bahwa pertarungan antarpria adalah dengan tangan kosong.
Ia menyeka pipinya yang berdarah akibat goresan kayu dengan pelan. Senyum semangat terlihat jelas dimatanya. Ia takkan kalah kali ini. Ia benar-benar akan menyelamatkan Lucy setelah menghabisi pemuda dihadapannya yang kini berwajah sama dengannya.
"Kau takkan terlempar seperti itu jika pukulanku seperti wanita, salamander." Balasnya dengan sengit. Natsu langsung berlari mendekati Gajeel dan melayangkan tinjuannya kembali.
Gajeel menahan tinjuannya, mengunci tangan Natsu dengan cepat. seringai kemenangan terpatri diwajahnya. Namun dengan cepat, Natsu melayangkan tinjuan lain dari tangan kirinya sebelum kepalan Gajeel mengenai perutnya, mengenai pelipis Gajeel. Pemuda itu tersentak dan tiba-tiba dia mendapatkan tendangan keras diperutnya lalu menyusul dengan tendangan ke wajahnya.
"AARRGGH!"
Bruk!
Natsu terengah-engah. Ia berhasil membuat musuhnya tumbang meski butuh waktu yang cukup lama dan tenaga yang cukup banyak. Ia berjalan menuju Lucy, menatap gadis itu dengan wajah bersalah.
"Natsu?" Ucap Lucy dengan lemah. Ia memicingkan matanya, menatap setitik warna pinkish tak asing. Ia kemudian memberikan senyum tipisnya, mengetahui bahwa memang Natsu-nya lah yang datang menyelamatkannya. Ia dapat mendengar suara Natsu saat perkelahian tadi, meski ia tak dapat berbuat apa-apa. Tubuhnya terasa sangat sakit akibat tinjuan dari Gajeel.
Natsu langsung melepaskan ikatan tangan Lucy, menurunkannya lalu memeluknya dengan erat. Pakaian sekolahnya tampak sangat kotor dan penuh sobekan, namun ia tak meperdulikannya. Bahkan lukanya jauh lebih sedikit dibanding Lucy.
Ia terdiam, tak tahu harus melakukan apa. Matanya sangat buram saat ini dan ia hanya bisa merasakan tubuh Natsu yang bergetar dan suara lirih Natsu yang meminta maaf. Dengan pelan, ia mengusap punggung Natsu, menenangkan pemuda itu. Tampaknya ia benar-benar membuat pacarnya itu dalam kekalutan besar.
"Aku tidak apa-apa, Natsu. Seharusnya kau lebih khawatir dengan tubuhmu." Natsu tersontak. Ia tak menyangka kalau Lucy masih sanggup menenangkan dirinya, padahal ia merasa sangat kesakitan. Ia bahkan dapat melihat perut Lucy yang membiru dan juga memar di wajahnya.
Sementara itu, Lucy langsung menjauhkan dirinya dari Natsu sejenak, memuntahkan darah dari mulutnya. Ia rasa, akibat tendangan dan tinjuan itu, kini perutnya terkena masalah. Natsu yang melihatnya lantas membuka seragam sekolahnya, menampilkan kaos putih dan memberikannya pada Lucy. Ia membungkukkan tubuhnya, menghadap ke depan dengan tangan yang siaga dibelakang.
"Naik. Aku akan membawamu pulang."
Lucy memasangkan plester pada wajah Natsu yang terluka lalu membalut luka perut Natsu dengan perban sementara dirinya hanya perlu memasang plester disana-sini, dibagian luka yang tergolong besar.
Natsu hanya diam sambil mengikuti pergerakan Lucy yang mengobati lukanya. Rencananya, ia hanya mengantar Lucy pulang agar gadis itu bisa memulihkan dirinya dan bukan mengobati lukanya sekaligus.
Ia tersenyum saat melihat luka Natsu yang sudah ia obati. Saat ia mengangkat wajahnya, ia dapat melihat Natsu yang terus memandanginya dengan tatapan berbeda. Pandangannya sudah lebih baik, ditambah Virgo langsung menyiapkan kacamata lain untuknya, membuatnya menghela napas pelan.
Plak!
Ditepuknya dengan pelan pipi Natsu, membuat pemuda itu menoleh kearahnya dengan pandangan terkejut. Ia berikan senyum manisnya pada Natsu. Senyum yang tak pernah ia berikan kepada siapapun kecuali orang tersayangnya, dan kini ia bisa menganggap Natsu sebagai salah satunya.
"Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja sekarang berkat dirimu." Tuturnya dengan tulus. Ya, ia sangat tulus mengucapkannya. Ia benar-benar tidak tahu akan berbuat apa jika Natsu tidak datang menyelamatkannya.
Ia tarik wajah Natsu mendekat, lalu menatapnya dengan intens, membuat Natsu tak bergerak. Ia bisa melihat bahwa mata tajam Natsu sebenarnya sangatlah indah. Seorang preman yang sebenarnya hanyalah pemuda biasa yang juga bisa menangis saat orang terkasih terluka karenanya.
Dan Lucy mengerti akan itu semua.
Sedangkan Natsu, bibirnya terasa kelu untuk berbicara. Ia tak ingin Lucy terluka karenanya. Seharusnya ia sadar bahwa dengan berdekatan pada gadis yang berhasil mencuri hatinya saat ia serius belajar, akan membawa hidupnya ke dalam bahaya.
"Terima kasih, Natsu." Dan Natsu dapat merasakan kehangatan dari si pecinta buku itu untuk pertama kalinya.
Virgo datang mendekati nona mudanya sambil membawa beberapa pakaian baru untuk pemuda yang telah membawa majikannya pulang dengan selamat, meski ia sedikit panic saat Lucy pulang dalam keadaan kacau, begitupun pemuda itu.
Namun yang ia tahu kalau pemuda itu telah menyelamatkan Lucy dan sekaligus orang terkasih dari majikannya.
"Terima kasih, Virgo. Oh, kemana Papa dan Mama?" Tanya Lucy yang sedari tadi tak melihat kedua orang tuanya. Biasanya mereka akan menunggu dirinya pulang dan akan berangkat kerja setelah melihat Lucy dihadapan mereka. Padahal ia sudah menghilang semenjak tadi malam dan kini masih pukul sepuluh pagi.
"Tuan Jude dan Nyonya Layla berangkat ke Edolas semenjak kemarin siang. Mereka akan kembali minggu depan, Hime." Lucy mengangguk dan menghela napas lega. "Jangan beritahu Mama Papa tentang ini ya, Virgo. Aku mohon." Perintahnya pada Virgo. Ini pertama kalinya ia memohon pada Virgo untuk menyembunyikan hal yang paling mengerikan dalam hidupnya.
Gadis pelayan itu menganggukkan kepalanya. Ia berdiri dengan setia sambil memperhatikan tingkah kedua muda-mudi yang kini tampak canggung itu. Lucy memberikan pemuda bernama Natsu itu pakaian yang telah ia sediakan lalu menyuruhnya untuk memakainya. Sedangkan pemuda itu malah tampak memerah malu karenanya, membuat majikannya jadi ikut memerah.
Entahlah, Ia tak mengerti kenapa mereka saling malu. Namun ia sangat yakin kalau mereka saling menyayangi.
"Nee, Virgo, kenapa pakaian kami sama?" Tanya Lucy sambil memperhatikan pakaiannya dan Natsu yang memiliki motif yang sama dengan warna yang senada. Baju couple-an tepatnya. Virgo tersenyum manis, "Bukannya itu yang anda inginkan, Hime?"
"Chigaaauu!"
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya." Ucap Natsu sambil menyandang tas sekolahnya. Ia memberikan seringai lebarnya dan menepuk kepala Lucy dengan lembut. Ia sudah merasa baikan karena gadis-nya adalah gadis kuat.
Lucy menganggukkan kepalanya. Ia sangat suka akan sentuhan Natsu kali ini. Terasa lembut dan hangat. "Hati-hati dijalan, Natsu." Balasnya pelan.
Pukul satu siang dan seharusnya kini mereka berada disekolah untuk melanjutkan pelajaran. Namun, sepertinya Lucy akan meminta izin untuk tidak hadir hari ini kepada wali kelasnya, Laxus-sensei, meskipun itu sudah terlambat.
"Besok kau akan ke sekolah, bukan? Jangan kemana-mana tanpaku. Aku akan menjemputmu besok." Sekali lagi Lucy mengangguk pelan. Pipinya memerah akan perlakuan Natsu yang berbeda. Natsu sangat takut kejadian seperti tadi terulang kembali. Ia hanya tak ingin menyesal untuk kedua kalinya.
Natsu mulai beranjak dari sana. Lucy mengginggit bibirnya pelan. Dengan lari kecil, ia menyusul Natsu lalu memeluknya dari belakang. Air matanya menetes perlahan, membuat pemuda itu tersentak kecil lalu memandang ke belakang.
"Kenapa, Lucy?" Ia merasakan gelengan kecil dari Lucy dan ia memilih diam. Membiarkan gadis kutu buku itu melanjutkan apa yang hendak ia katakan maupun lakukan.
"Arigatou, Natsu. Hontou ni arigatou."
TBC
Chapter 4 update!
Uwaah! Maaf ya jika chap ini membosankan. Sangat sulit bagi saya untuk merangkai kata-kata untuk adegan perkelahiannya, maklum saya masih belajar T_T
BTW, gimana nasibnya Natsu sama Gray ya di manga? saya gak mau mereka bertarung satu sama lain dan saling membunuh T_T meski saya senang kalau Juvia masih hidup. Hiro-sensei benar-benar hebat dalam menjungkir balikkan emosi pembaca. Saya benar-benar salut!
Oke, saya akan membalas review dari reader sekalian
Dragneel77: Wkwkwk ide kamu boleh juga. Chapter depan mungkin tidak ada Nerd Lucy untuk sementara XD makasih ya udah review
ifadragneel92: Hahaha ini udah lanjut. Gimana chap ini? makasih udah review ya :D
Fic of Delusion: Hahaha anda benar-benar menebak cara berpikir saya. Yup saya hampir saja ingin membuatnya seperti di OVA 2 tapi saya rubah lagi. Ini udah update, makasih ya undah review :D
vicky-chan: Aih... Iya saya juga sadar kalau adegannya kurang mendebarkan. Maaf kan daku yang masih pemula dalam tulis menulis. Semoga kamu suka dengan chap ini. makasih udah review :D
BoBoiBoy Memang: Yup, benar sekali. Ini udah update, makasih udah review :D
guest: Wkwkwk, makasih ya ini udah update!
hannah: Makasih. Ini udah update :D
reader: Iya, bener banget. Ketahuan aja ya dari cara ketawanya XD... makasih udah review
name: Makasih udah review :D go go Nalu Forever!
Akayuki1479: wkwkwk gak... Kan Gajeel taunya cuma sama Natsu XD Gimana chapnya? NaLu akan selalu berkibar #plak heheh makasih udah review
guest2: Ini udah update... makasih udah review ya! moga kamu suka :D
guest3: Oke ini udah update... makasih udah review! moga suka :D
oke sekian dari saya... Maaf jika saya tidak bisa update kilat karena ide sedang tersumbat entah dimana #apa lagi itu
Salam damai
Mind RnR?
