Chapter 5
Natsu menunggu dengan sabar sambil menggigit roti bakar yang tadi ia bawa dari rumah. Sudah seminggu semenjak kejadian Lucy diculik oleh Phantom High dan kini luka-lukanya sudah sembuh total meski masih meninggalkan bekas goresan tipis.
Selama itu pula ia selalu mengantar dan menjemput Lucy ke sekolah atau kemana pun gadis itu pergi, yah walaupun gadis itu tak meminta sekalipun. Ia hanya tak ingin kejadian seperti seminggu lalu terulang lagi.
Yang lebih parahnya, selama seminggu itu telinganya terasa panas. Bukan hanya ceramahan Laxus-sensei yang seenakjidatnya menuduhnya melakukan hal onar lagi hingga melibatkan salah satu murid kesayangannya, Lucy, tapi juga ancaman dari Levy dan Loke –walaupun lebih banyak Loke yang mengancamnya- agar menjaga sahabat mereka dengan sangat baik.
"Maaf menunggu lama, Natsu." Ia menatap kesamping, kearah Lucy yang akhirnya keluar dari rumahnya. Mata onix-nya langsung membulat dan menatap terkejut kearah kekasihnya itu.
"Kemana kacamatamu, Lucy?" Gadis keturunan Heartfilia itu tersenyum gugup.
"Apa tidak bagus? Aku membeli lensa kontak agar lebih mudah melihat." Natsu mengalihkan pandangannya kesamping dengan pipi memerah. Ia benar-benar terpana dengan kekasihnya. Tak ada kacamata yang menghalangi indahnya permata madu itu untuk menampilkan keindahannya ditambah rambut yang kini terikat ponytail disamping kepalanya, menambah nilai plus dimata Natsu.
Apa gadis ini adalah gadis cupu yang sama? Gadis berkacamata penggugup dengan rambut yang dikepang dua?
Ia lebih menganggap penampilan Lucy saat ini jauh lebih cantik dan riskan daripada sebelumnya. Bisa saja gadisnya direbut oleh orang lain saat melihat dirinya yang tampil cantik bak model.
"Natsu?" suara manis bernada tanya itu berhasil membuat Natsu bergidik dan ia langsung menarik tangan Lucy tanpa menoleh kearah kekasihnya.
"A-ayo, kita akan terlambat."
"Tapi ini masih pukul setengah tujuh."
Tepat seperti perkiraannya, pertama kali mereka melangkahkan kaki di gerbang sekolah, semua mata tertuju pada sosok di sampingnya yang asyik membaca note kecil berisi catatan penting mengenai pelajaran yang akan menjadi bahan kuis nanti. Memang, baru beberapa siswa yang datang karena hari masih terlalu pagi untuk berangkat menuju sekolah yang akan mendentangkan bel masuknya pada pukul delapan tepat. Tapi tetap saja, Natsu tak menyukainya.
Sedangkan Lucy? Dia tampak tenang-tenang saja bahkan hampir tak memerdulikan apapun termasuk Natsu saat ini selain bahan kuis sejarah.
Sedikit jengkel, ia menarik tangan kiri Lucy yang nangkring dengan sedikit perasaan kesal dan mempercepat langkah mereka menuju kelas. Lucy hanya tersentak sedikit saat tangannya di tarik meskipun setelahnya ia langsung kembali fokus membaca.
"Apa serunya membaca kertas seperti itu?" tiba-tiba Natsu memecah keheningan diantara mereka berdua. Koridor lantai dua masih tergolong sepi untuk sebuah sekolah yang dikenal berisik minta ampun hingga decihan Natsu terdengar begitu jelas di gendang telinga gadis yang kini sudah tak fokus akan bacaannya. Lucy melirik sejenak sosok yang kini memasang wajah masam dengan aura yang sedikit mengerikan. Ah, apa pemuda itu kembali dalam mode tusndere-nya?
Ia menutup note kecil itu dan memasukkannya ke dalam tas. "Lalu, apa kau tak ingat kalau hari ini ada kuis?" oke, sepertinya Lucy sudah sangat terbiasa dengan mode menyeramkan Natsu bahkan itu tak membuatnya takut sama sekali karena ia sudah tahu bagaimana lembutnya seorang Natsu Dragneel dibalik wajah menyeramkannya.
"Kau pikir aku bodoh apa?" tanya Natsu agak sengit. Lucy bersweatdrop dengan tawa geli di dalam hati, 'bukannya kau memang seperti itu?' Sungguh, ia benar-benar ingin mengatakannya tepat di wajah pemuda itu.
Namun, baru saja ia hendak melancarkan aksi marah juga tak terima, ia membungkam mulutnya. Mata onixnya bertubrukan dengan madu Lucy yang terlihat begitu jelas, membuatnya merona tipis akibat ketidakbiasaannya dengan gadis yang kini telah bertransformasi menjadi gadis menawan. Gadis yang mampu menghilangkan kata 'nerd' yang selalu terselip dari mulut Natsu jika ia marah. Namun, rona itu tidaklah bertahan lama saat matanya bergerak liar menatap luka-luka diwajah Lucy yang belum menghilang.
Lucy menyadari perubahan ekspresi Natsu. Sinar matanya meredup tatkala menatap wajahnya. Pasti pemuda itu merasa bersalah kembali karena lukanya yang belum kunjung hilang. Ia tahu, semenjak beberapa tahun lalu, tepatnya saat ia mulai mengenakan kacamata dan mengubah gaya rambutnya sebagai penembus kesalahannya, ia menjadi sosok gadis pemalu dan tertutup. Ia juga takut pada dunia luar yang bisa membuatnya kembali membuat orang terkasihnya kecewa. Kekecewaan yang masih belum terobati hingga sekarang meski mereka menutupinya dengan sebuah senyum sayang.
Entah kenapa, sosok disampingnya, malah kini mengkhawatirkannya. Sosok yang dulu sangat ia hindari dan ia takuti karena keliarannya, mampu membuatnya kembali khawatir, memerah, dan kembali menjadi sosok Lucy yang dulu. Dan kini ia tak suka dengan wajah bertekuk Natsu yang penuh khawatir akan dirinya.
Ia menelisik jemari Natsu tanpa peringatan, menautkannya hingga pemuda itu terlonjak kaget dengan sentuhan hangat yang belum pernah ia rasakan. "Jangan mengkhawatirkanku. aku tak menyangka kau akan semelankolis ini, Natsu Dragneel-san." Ucap Lucy tanpa berniat melepaskan genggamannya. Ia sedikit beruntung jika lorong sepi karena setidaknya, siswa lainnya takkan melihat Natsu yang kini salah tingkah. Jika tidak, mungkin tittle preman menyeramkan yang menyangkut pada Natsu akan musnah begitu saja.
Natsu tak habis pikir jika Lucy benar-benar berani menggenggam tangannya dahulu.
Mereka hanya diam sambil menelusuri koridor lantai tiga dan mendapati ruang kelas dengan tangan yang masih terkait erat, hingga akhirnya mereka duduk di kursi masing-masing dan Lucy yang mulai mengeluarkan bukunya. Tepatnya buku kimia yang bisa saja menjadi kuis mendadak selain pelajaran sejarah.
"Nah, sekarang saatnya belajar, Natsu. Aku tak mau nilaimu anjlok dan diberi tugas oleh Ultear-sensei lagi. Kau sudah berjanji padaku kemarin." Oke, sepertinya nyali Natsu langsung ciut melihat tatapan tajam Lucy dengan tangan yang sudah memegang pena. Lucy dalam mode belajar memang mengerikan.
Jam istirahat sudah berbunyi dan memberikan angin segar bagi siswa yang selesai menjalani kuis sejarah. Lucy memasukkan kembali peralatan tulis-menulisnya hingga tiba-tiba saja para siswa laki-laki dan perempuan mengerubunginya seperti semut.
Lucy terdiam dan mode penakutnya kembali menyala begitu menghadapi rentetan pertanyaan teman-temannya mengenai perubahannya yang drastis.
Natsu melihat gadisnya dibalik tubuh-tubuh yang mengelilinginya. Awalnya ia membiarkannya saja karena ia terlanjur lelah dengan kuis tadi –meski ia tidak ada kendala dalam menjawabnya karena ia sudah belajar sebelumnya- dan ingin menelungkupkan kepalanya di atas meja kesayangan untuk tidur hingga akhirnya ia jengah melihat keadaan memburuk dan Lucy mulai berkeringat dingin karenanya.
"Minggir kalian semua." Satu kalimat tegas dan penuh tekanan dari Natsu mampu membuat gerombolan teman sekelasnya plus kelas lain bergidik ngeri dan memilih menyingkir. Dengan cepat dan posesif, ia tarik tangan Lucy dan berjalan keluar begitu saja. Meninggalkan manusia-manusia yang mendesah kecewa.
Yang tak mereka tahu, ada sepasang mata yang sedari tadi menatap mereka dengan sikap jengkel hingga akhirnya tersenyum senang.
Lucy hanya diam ketika Natsu menariknya keluar kelas dan membawanya ke taman belakang sekolah. Ia merasa lega karena Natsu seolah membaca pikirannya meski pemuda itu masih sedikit kasar padanya. ia masih terus mengumpat kesal sebelum akhirnya menyuruh Lucy untuk duduk di kursi kayu dengan pohon peach menjadi tempat teduhannya.
"Kau baik-baik saja?" Lucy hanya menganggukkan kepalanya meski ia merasa pusing karena kejadian tadi. Natsu tiba-tiba berjongkok dihadapannya dan mengecek keningnya yang mengeluarkan keringat.
"Kau dingin sekali." kaget Natsu. Wajah Lucy memucat dan tubuhnya menggigil akibat kejadian tadi. Gadis itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat Natsu hendak membeli sebotol air minum dari mesin minuman di lantai satu.
"Aku hanya pobia." Tuturnya jujur. Natsu beringsut dari posisinya dan kini beralih pada kursi disebelah Lucy yang kosong. "Kau pobia keramaian?"
Lucy tersenyum tipis sambil mengangguk membenarkan. Natsu hanya diam tanpa menggali alasan pobia gadis pirang kesukaannya. Yang kini ia sadari, tangannya mulai mengusap pelan rambut Lucy dan menaruh kepala gadis itu di bahunya.
Oh, ia benar-benar menjadi seorang melankolis sekarang.
Lucy hanya diam menikmati semilir angin yang perlahan membuatnya tenang. Tidak, bukan angin saja melainkan bahu besar dan menenangkan milik Natsu. Ia tak percaya, Natsu akan begitu lembut padanya, membuatnya mau tak mau terkekeh pelan. "Kau benar-benar sudah bukan Dragneel menyeramkan yang kukenal."
"Jangan memulai, Heartfilia. Moodku sudah cukup jelek saat ini." tutur Natsu penuh penekanan. Oke, Lucy memilih diam karena bisa berbahaya jika sisi tsundere-nya yang bercampur dengan sisi sadisnya keluar. Lebih baik ia menenangkan debaran jantungnya yang menggila gara-gara kejadian di kelas tadi.
Ia memejamkan matanya, menikmati ketenangan di taman belakang. Hingga tanpa sadar, ia mulai terlelap dengan warna muka yang mulai membaik.
"Luce…"
"Lucy Heartfilia…"
"Hey, Nerd. Bangunlah." Lucy membuka matanya perlahan dan mendapati posisinya masih sama seperti tadi ia tertidur. Ia langsung terlonjak saat mendapati langit mulai menggelap. Sudah berapa lama ia tertidur?
Natsu yang sedari tadi menjadi sandaran tidur Lucy hanya mengerutkan keningnya melihat tingkah Lucy yang mulai ketakutan. "Sudah jam berapa sekarang, Natsu?"
"Jam 12 siang. Bahuku sudah pegal gara-gara kepalamu, tahu." Decak Natsu. Meski begitu ia tampak tak mempermasalahkan hal itu terlalu mendalam karena ia senang-senang saja menjadi bantal Lucy saat gadis itu membutuhkannya. Meski jangan harap ia akan membaringkan Lucy kursi dan menjadikan pahanya sebagai bantalan. Gadis itu masih menggunakan kontak lensa di matanya.
Lucy hanya menghela napas pelan. Ia kira sudah hampir malam, ternyata hanya langit kelam pertanda hujan. Natsu bangkit dari duduknya sembari merenggangkan otot-ototnya yang kaku dan berjalan mendekati Lucy. Ia taruh telapak tangannya pada kening Lucy lalu kemudian tersenyum tipis. Senyum yang membuat Lucy merona dan menahan napas sejenak.
"Syukurlah. Nah, ayo kembali ke kelas. Tadi kita sudah membolos satu mata pelajaran dan jangan sampai melewatkannya lagi. Perutku juga harus diisi sekarang." Ucapnya tenang. Refleks, tangan Natsu langsung menggenggam tangan mungil Lucy dan membawa gadisnya kembali ke kelas. Sepertinya menggenggam tangan Lucy menjadi hal yang ia senangi mulai sekarang.
"Duduklah dibangkuku untuk beberapa hari ini. Aku akan menjagamu dari para pemangsa itu." Lucy langsung memerah mendengarnya. Ia benar-benar jatuh pada pesona Natsu Dragneel. Seorang yanke-kun ternyata bisa semanis ini. "Ingat, kau ini kekasihku. Aku takkan membiarkan siapapun membuatmu terluka." Ucap Natsu penuh penekanan.
Tidak ada larangan baginya yang seorang kutu buku untuk meleleh akan perlakuan kekasihnya, kan?
TBC
HALLO... HOLLA... I'M BACK! #semangatempatlima
maaf ya reader-san yang udah nungguin author gaje ini sangat lama. gomeeeeennnn! TT
saya benar-benar kesel karena ff punya saya terblock selama ini ditambah tugas kuliah yang benar-benar banyak sampai saya hampir melupakannya. plus jengkel dengan ending FT dimanga. kenapa endingnya menggantung banget ya? #plak.
ngomong-ngomong, menurut reader-san bagaimana chap ini? gomen ya karena bagian kissu seperti yang kalian mau belum bisa terwujud. tapi tenang saja, dalam seminggu ini saya akan mempublishkannya karena takutnya adegannya terlalu terburu-buru.
nah, sekian dari saya...
mind RnR?
