Chapter 6

Sejujurnya, Lucy sama sekali tak memerdulikan kegiatannya selama dirumah. Ia memasak dan menyantap makanannya untuk dirinya sendiri –meskipun memiliki beberapa pelayan yang biasanya selalu membuatkannya makanan saat kecil- kemudian membaca buku diruang baca rahasianya, dan pergi tanpa pamit kepada siapapun. Toh, kedua orangtuanya sama sekali tak memerdulikannya. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ia juga takkan mengeluh jika memang Papa Mamanya bahkan tak mengingat jika mereka memiliki seorang anak yang sudah berusia 17 tahun. Selalu pergi di saat pagi buta dan pulang larut malam.

Hidupnya terlalu monoton, kecuali Loke yang bersedia membawanya jalan-jalan di akhir pekan sebagai penebus rasa bersalahnya.

Memang, itulah kehidupannya beberapa tahun belakangan ini. Jujur saja, meski kacamata yang ia kenakan semakin memperburuk penglihatannya, ia menyukainya. Ataupun saat ia lebih memilih tertimbun oleh rentetan buku pelajaran yang menurut orang lain membosankan, ia menyukainya.

Ia sudah melupakan kehidupan lamanya sebagai seorang pembuat masalah dan kini menjadi gadis membosankan juga penggugup.

"Hei, kau akan memakannya atau tidak?" omelan atau lebih tepatnya desisan kecil yang terlontar dari mulut Natsu yang kini mengunyah daging panggang dari atas pemanggang kedai pinggir jalan. Kertas yang sudah tertumpuk beberapa lembar dengan tulisan Natsu yang cukup bagus, membuat pemandangan meja makan mereka tampak mengerikan. Ia tersentak dari lamunannya, mengangguk lalu menyumpit daging-daging lezat hasil traktiran Natsu. Pemuda itu tidak pelit akan keuangan.

"Kenapa pula kau mengajakku makan di pinggir jalan sambil membantumu menyelesaikan tugas tambahan dari Ultear-sensei? Kita bisa melakukannya di rumahmu atau perpustakaan kota." Balas Lucy pelan. Jujur saja, ia masih belum berani melawan Natsu dengan nada tinggi plus urat kesal.

"Aku sedang malas. Dirumah pasti menyebalkan melihat Nii-san bermesraan dengan Mavis-Nee yang membuatku jijik jika mendengarnya menggoda. Kalau diperpustakaan, ah, apa kau tak ingat kalau kita pernah diusir?" Jawabnya jengkel.

Oh, Lucy kembali mengingatnya. Sedikit berdecak kagum akan kepalanya yang tiba-tiba lupa dengan kejadian menghancurkan perpustakaan indah yang ia cintai. Sepertinya namanya sudah di masukkan ke dalam buku hitam sebagai orang yang akan diusir, mengingat bahwa pemilik perpustakaan sangat mengenalnya dengan baik.

Lalu kenapa ia tak menyebutkan rumahnya? alasannya simpel, ia tak suka di goda oleh Virgo karena belajar berdua saja. Itu benar-benar memalukan.

Ia mengerucutkan mulutnya lalu mengunyah kesal pada daging-daging lezat itu. Sembari mengunyah, ia kembali terfokus pada buku hasil meminjam pada Levy lalu mengintip apa yang tengah pemuda itu tulis di kertas putih. "Bukan begitu, Natsu. Kau harusnya memecah ikatannya dengan katalis bukan dengan pelarut. Astaga, itu juga. Kenapa pula nilai atom Cl segitu?!"

Lucy tak punya pilihan. Ia hentikan kegiatan makannya, mematikan api kompor sejenak lalu duduk di samping Natsu yang kini kesusahan membaca selembar kertas dengan banyak nama senyawa kimia. Ia keluarkan kertas dari dalam tas sekolahnya, lalu mulai mencoret sana sini dengan banyak angka yang membuat Natsu menjadi mual.

"Perhatikan. Aku tak mau jika kau malah terdiam saat Ultear-sensei bertanya padamu besok bagaimana cara mengerjakannya." Natsu hanya mengangguk patuh, meski sesekali ia akan mencomot daging panggang diam-diam lalu pura-pura memperhatikan saat Lucy menjelaskan panjang lebar.

"Astaga, hentikan kunyahanmu itu. Aku tahu kau melakukannya daritadi." Ancamnya tanpa menoleh kearah Natsu yang hampir tersedak oleh potongan daging. Oke, lebih baik ia mengikuti perkataan Lucy. Gadis itu akan menjadi monster jika berurusan dengan yang namanya 'belajar'.

Yanke-kun to Yanke-chan?

~Fairy Tail~

Pairing: Natsu x Lucy

Genre: Romance and Humor

Warning: OOC and Typo's bertebaran

Pernahkah jika Natsu menyebut Lucy itu malaikat bertanduk iblis? Dalam hidupnya, hanya ibunya saja yang mampu membuatnya takluk dengan tatapan mengerikannya ataupun saat ia berdiri diambang pintu kamar dengan tangan yang dikepalkan hanya untuk melihat apakah dirinya sudah bangun dari singgasananya atau belum. Dan ia tak ingin menambah daftar para gadis mengerikan dalam hidupnya. Cukup Erza yang selalu mengerling tajam kala ia bertengkar di lorong kelas dengan Gray ataupun ketahuan tertidur di atap sekolah saat inspeksi keliling.

Namun, sepertinya hidup Natsu memang dikelilingi oleh para gadis menyeramkan. Oke, Lucy tidaklah semenyeramkan si Scarlet kebanggaan Fairy Gakuen ataupun Ibunya yang mampu membuat ayahnya pun bertekuk lutut jika sisi menyeramkannya datang. Hanya saja, penggaris mengganggu yang akan selalu memukul punggung tangannya saat salah mengerjakan tugas itu lah yang menyeramkan. Wajahnya terlalu manis untuk ukuran seseorang yang marah, namun celotehan panjang tak berujung mengenai angka-angka dan juga penjelasan tak masuk akal itu benar-benar menjengkelkan.

Ah, tapi itu belum terlalu menjengkelkan karena yang sekarang terjadilah yang lebih menjengkelkan.

"Lucy-senpai, kau mau menjadi pasanganku untuk acara festival sekolah nanti?" hell, kenapa pula acara festival harus berpasangan! Apa dia tak tahu kalau yanke berparas tampan yang kini memberikan tatapan tajam padanya adalah kekasih gadis yang ia ajaki?!

"Lucy, aku tahu kalau kau itu sebenarnya gadis cantik selama ini. Aku selalu memerhatikan wajahmu dibalik kacamata dan mengikutimu pulang hingga ke rumah." Astaga, ia benar-benar ingin meninju wajah stalker gila dari kelas sebelah, Hibiki.

"Kau pasti sudah putus dengan si Dragneel itu, kan? Jadilah kekasihku, Lucy." Kata pemuda berambut orange gelap sambil menyodorkan bunga palsu yang selalu nangkring di meja guru. Tak bermodal.

"Loke, jangan gila. Kau itu sepupuku." Dan Natsu tertawa senang dalam hati. Wajah polos dan penolakan dengan alis bertaut, mengatakan bahwa sosok sepupunya adalah laki-laki paling gila yang pernah ia temui. Terkadang, kecintaannya Loke pada Lucy bisa membuatnya lupa kalau mereka itu sepupu dekat. Loke itu adalah perumpaan antara gila dan gawat darurat. Loke adalah orang terakhir yang berucap seperti itu hingga ia berdiri dari mejanya, merangkul Lucy dengan sedikit erat dan memasang seringaian jahatnya.

Lucy tersentak begitu bahunya di genggam erat oleh tangan besar dan hangat yang terasa familiar. Ia mendapati wajah Natsu yang tersenyum menang sementara ia hanya bisa memanas saat mendengar pemuda berandalan bodoh itu berucap ultimatum. "Lucy itu milik Natsu Dragneel. Kalau kalian mendekatinya lagi, katakan sampai jumpa pada matahari esok."

Natsu langsung mendapatkan rasa sakit di perutnya dan terduduk dengan mulut yang menyumpah serapah pada gadis yang kini berlari keluar dengan wajah memerah total. Sikutan Lucy bukan main sakitnya. Jika ini adalah film action, mungkin mulutnya sudah mengeluarkan darah segar. Benar-benar malaikat bertanduk iblis.

"Apa itu tidak terlalu berlebihan, Dragneel?"

"Tutup mulutmu, playboy lumutan. Kau tak tahu bagaimana sakitnya saat tulang siku Lucy menusuk ulu hatiku. Aku bisa mati kapan saja." Loke tertawa keras mendengarnya. Ia memasang wajah mengejek pada Natsu yang kini mendesis kesakitan.

"Tentu saja aku tak tahu. Lucy terlalu mencintaiku sampai-sampai tak tega melukaiku." Bangganya.

"Heh, dasar gila. Aku merasa sedih dengan otakmu yang harusnya sudah di kremasi." Sinisnya sambil berwajah sok keren. Oke, sepertinya ia harus beranjak dari sana. Memberi sedikit hukuman pada gadis pirang yang kini entah kemana.

"Hei!"


Lucy menghela napas entah keberapa kalinya. Ia usapkan kapas tipis itu lalu menekannya dengan sedikit kuat. Kacamatanya melorot sejenak, memperlihatkan permata madunya yang menatap nyalang pada luka lebam yang mengeluarkan cairan merah khasnya.

"Hoi, pelan sedikit mengobatinya." Lucy memberikan kerutan kesalnya lalu makin menekan kapas yang sudah di tetesi cairan merah. "Sudah kubilang pelan-pelan, Nerd!" ia mendengus pelan lalu menyudahi kegiatannya. Ia buka sebuah plester kecil dan menempelkannya pada pipi Natsu yang terluka.

Yup, siapa lagi yang terluka kalau bukan Natsu. Bahkan belum genap dua minggu, pemuda itu sudah kembali melakukan acara baku hantamnya dengan Grimoire Heart Gakuen. Apasih yang ada di otaknya sampai-sampai membolos masuk sekolah –padahal mereka sudah di depan gerbang sekolah- dan datang seenaknya ke rumahnya dengan wajah penuh luka dimalam hari?!

Beruntung saja rumahnya selalu kosong jika jam belum menunjukkan pukul 1 malam. Hanya beberapa pelayan yang lewat sambil membawakannya peralatan obat dan juga pakaian ganti untuk pemuda itu. Ia bahkan harus memohon pada kepala pelayan untuk tidak memberitahu Mama Papanya tentang Natsu.

Ia tutup kotak obat besar yang seperti koper itu, lalu menyerahkannya pada Virgo yang sedari tadi setia berdiri dibelakang Lucy, menemaninya sambil memperhatikan diam-diam majikannya yang sangat manis itu.

Baru saja ia hendak beranjak dari duduknya, ingin membuat secangkir teh hangat untuk mereka berdua, tangan Natsu menghentikannya. Ia menyerngit sejenak sebelum akhirnya memekik kecil saat tubuhnya limbung dan jatuh dalam dekapan hangat Natsu.

Wajahnya memerah saat tangan Natsu mengelus rambut pirangnya, entah kenapa. Ia masih kaku hingga akhirnya tangannya menggenggam erat kaos hitam milik Natsu. Ia sedikit merinding saat napas Natsu menerpa di sekitar lehernya ataupun rambut pemuda itu yang bergesekan dengan wajahnya.

"Ada apa denganmu?" lirihnya bertanya. Natsu terdiam cukup lama hingga akhirnya ia menghela napas panjang. Ia lepaskan pelukan itu dan memberikan senyum tipisnya pada Lucy. "Aku lapar. Buatkan aku daging, Nerd."

Ctaak!

"D-Dragneel bodoh!" pekik Lucy yang sudah lari menuju dapur, meninggalkan sosok Natsu yang mengaduh kesakitan akibat jitakan keras Lucy dikepalanya. Meskipun keningnya mengkerut tak senang, namun ia tersenyum lega melihat gadis itu mulai terbiasa akan dirinya.

Ia berdiri dari sofa hitam mewah itu, memakai kemeja sekolahnya yang sudah robek –meski tak mengancinginya, memperlihatkan kaos hitam baru pemberian Lucy- lalu menyandang tas sekolahnya. "Hei Luce, aku pulang dulu. Terima kasih atas pertolonganmu." Teriak Natsu agar Lucy mendengar suaranya hingga ke dapur yang berjarak cukup jauh dari ruang tengah.

Gadis itu tiba-tiba berlari kearahnya, memegang spatula dan tubuh yang sudah tertutupi celemek pink, dengan wajah sedikit tidak rela. "A-aku sedang memasakkanmu makanan, Natsu. Makanlah dulu sebelum pulang."

Natsu menggeleng. Sebenarnya ia hanya bercanda mengenai daging. Ia sudah makan tadi siang, sembari menunggu Lucy pulang sekolah –tentunya setelah berkelahi habis-habisan dengan sekolah dari sisi Selatan Magnolia. Ia sudah cukup merepotkan kekasih cupunya –apakah masih pantas ia memanggilnya begitu- dengan mengobati lukanya juga memberinya sedikit energy.

"Sudah larut. Jadikan saja bekal makan siangku besok –ingat jangan memasukkan sayuran hijau- karena ibu pasti akan memenggalku jika pulang terlambat." Lucy sedikit kecewa meski setelah mendengar ucapan Natsu yang semena-mena seolah ia adalah pembantu, ia agak kesal sendiri. Namun ia tetap mengantarkan pemuda itu hingga di depan gerbang mansion.

"Hati-hati pulangnya. Jangan lupa belajar." Ingin Natsu mengumpat. Ada kalimat manis namun setelahnya malah kalimat menyebalkan yang terlontar dari mulut Lucy. Yah, meski ia tak menyalahkannya, bukankah kekasihnya itu adalah gadis abnormal yang mencintai tumpukan buku?

"Hn… besok jangan memakai kacamata dengan rambut digerai seperti sekarang atau aku akan membunuhmu."


"Kenapa kau tetap memasukkan sayur menjijikkan ini ke dalam bekalku?!" Lucy mendengus tak peduli dengan teriakan kesal Natsu. Ia hanya membuka kotak bekalnya lalu mempebaiki kacamatanya yang agak turun. Seharusnya ia bersyukur sudah kubuatkan bekal, umpat Lucy dalam hati.

"Dan, bukannya sudah kubilang jangan memakai kacamata dengan rambut digerai?!" kesalnya dengan rasa frustasi.

"Lensa kontakku hilang. Juga aku tak mau kau hanya memakan daging tanpa sayuran. Itu tak menyehatkan, Dragneel-san." Alasan yang sungguh klasik. Gadis-nya ini adalah penjabaran dari kata bebal dan pemberontak. Apakah gadis ini berniat menggodanya untuk tidak mencuri-curi pandang dan pada akhirnya menghajar beberapa orang yang ikut tergoda dengan penampilannya yang menggemaskan? Hah… ia merasa bahwa ancamannya sudah tidak mempan bagi gadis yang kini melahap bekalnya sambil membaca novel.

Ia mendengus keras, sedikit berterima kasih yang omong-omong hanya ia katakan di dalam hati saja. Tak mungkin ia tiba-tiba berterima kasih padahal tadi sudah mengkomplain kebaikan Lucy.

Kelas tak terlalu ramai mengingat orang-orang lebih memilih kantin ataupun atap sekolah untuk dijadikan tempat berkumpul sambil melahap makanan. Sesekali ia mencomot sosis goreng dari kotak bekal Lucy dan gadis itu mengambil sayuran yang tidak di sentuh oleh Lucy. Orang-orang takjub dengan pasangan yang selalu adu urat tapi malah kompak dan serasi. Mereka benar-benar tenang seolah olah itu adalah hal yang biasa.

Natsu melirik sejenak kearah Lucy. Ia merasa Lucy adalah gadis yang luar biasa, bisa membuatnya lebih sering datang ke sekolah daripada membolos, terjaga di saat belajar –meski yang ia lakukan hanya menatapi wajah Lucy- dan membuatnya bergerak tanpa pikir panjang untuk menghajar siapapun yang berani melukainya walau hanya segores saja.

"Hei Luce, kenapa kau bisa pobia keramaian?" baiklah, kata-kata tadi hanyalah penggambaran hati Natsu, tapi sebenarnya ia penasaran dengan latar belakang Lucy. Gadis pirang aneh yang tiba-tiba membuatnya terperangah dengan kekuatannya yang mengerikan saat menghajar orang, tatapan dinginnya kala terusik, ataupun kegugupannya yang tiba-tiba hingga membuatnya berkeringat saat dikelilingi orang-orang.

Lucy menghentikan gerakan menyumpitnya, mengalihkan pandangannya dari novel. Ia terus menatap Natsu dari balik kacamata tebalnya, kemudian menghela napas panjang. Yah, ia memang tak bisa menyalahkan Natsu yang akhirnya penasaran akan apa yang terjadi pada hidup seorang Lucy Heartfilia.

"Kau benar-benar penasaran?" tanyanya sekali lagi, mencoba meyakinkan. Tanpa anggukan, Lucy mengerti bahwa Natsu sangat penasaran. Itu terlihat di matanya yang memandang lurus padanya.

"Aku pernah mengurung diri di kamar selama tiga bulan. Berkamuflase menjadi seorang kutu buku hingga menjadi anti-sosial. Kau lihat kacamataku ini? Dulu mataku baik-baik saja tapi karena kepura-puraanku menggunakan kacamata dirumah dan membaca buku sepanjang hari, membuat mataku benar-benar rusak. Loke dan Levy lah yang mengajakku kembali keluar, memberontak pada kedua orangtuaku dan menjalani kehidupan lagi." Lucy berhenti. Matanya meredup tanpa diketahui Natsu, lalu berpura-puran memakan bekalnya yang kini terasa hambar.

Natsu mengangkat alisnya. Ia sama sekali belum memahami ucapan Lucy. Kenapa gadis itu sampai mengurung dirinya selama itu dan alasan Loke juga Levy yang ikut andil dalam hidupnya. Namun, tak mendapati Lucy yang bersuara hendak melanjutkan, ia diam saja. Mungkin saja, otaknya terlalu bodoh untuk mengingat rumus-rumus kimia, tapi ia tak bodoh untuk menangkap suara gemetar Lucy.

Hatinya terasa ditembak oleh peluru tak kasat mata.

"Aku… akan menceritakannya padamu lain kali." Lucy tersenyum padanya dan ia hanya mengangguk pelan.


Selama perjalanan pulang, mereka hanya diam. Tak seperti biasa yang diiringi kekesalan Natsu maupun kekehan Lucy kala pemuda pinkish itu berceloteh tentang kesehariannya. Setelah pertanyaan Natsu saat istirahat tadi, ia benar-benar merasa sudah melukai hati gadis cupu kesayangannya.

"Ne Natsu, menurutmu apakah seorang bangsawan tidak boleh melanggar apapun?" Lucy memecah keheningannya dan suaranya benar-benar pelan juga lembut saat bertanya. Natsu mengangkat alisnya sebelah, kemudian menyilangkan kedua tangannya di belakang kepalanya.

"Kenapa kau harus terkekang? Kau juga manusia. Bangsawan sekalipun pasti pernah melanggar tata karma hanya karena merasa sesak. Itu hal yang lumrah dan bisa dimaafkan."

"Meskipun kau menjadi seorang preman hanya karena melindungi orang yang kau sayangi?"

"Orang hanya tak tahu bahwa dibalik sikap kasarnya, ia hanya ingin melindungi hal yang berharga baginya. Ia melakukannya karena ia tak bisa memikirkan hal yang lebih baik selain berubah menjadi preman sekalipun. Bukan untuk menindas yang lemah tapi lebih kearah perlindungan diri." Lucy masih mencerna baik-baik perkataan Natsu. Mereka menghentikan langkah, berdiri di depan gerbang mansion Heartfilia dengan langit yang bersemburat jingga. Ia berdiri menghadap Natsu yang kini tersenyum lembut, menghangatkan hati dan pipinya.

"Aku takkan menjawab asal pertanyaanmu, Luce, karena itulah yang kulakukan kini. Kau sudah menjadi seseorang yang membuatku bergerak tanpa pikir panjang, begitu melihatmu terluka. Karena, aku lebih memilih dibenci dibandingkan tak mampu melindungimu." Tuturnya sambil berjalan mendekat pada Lucy. Meletakkan kedua tangannya pada pipi lembut Lucy lalu menempelkan bibirnya pada dahi Lucy. Menciumnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

"Aku melakukannya karena aku mencintaimu dan itu bukanlah hal yang salah."

TBC


Apa ini? kenapa jadi gini ceritanya?! #teriakgaje

Jujur saja, saya ingin membuat adegan kissu, tapi entah kenapa malah blushing sendiri pas nulisnya, hahahah. Menurut saya, ciuman dikening jauh lebih tulus daripada di bibir, tapi nanti saja kita buat adegan kissu yang sebenarnya. Ini masih tahap Natsu yang mulai dewasa dan mengerti akan wanita :v #ngomonggaje #plak

saya sudah menepati janji saya untuk mempublishnya dalam seminggu. mumpung jadwal kuliah agak melonggar, buahahaha

nah, saya mau balas review minna-san yang belum saya balas sebelumnya :D

Akano Tsuki: hahahah, makasih udah bilang saya manis #plak. maksud saya ceritanya :v sampai segitu reaksinya... saya seneng banget ;D arigatou udh review dan semoga kamu suka dengan chapter lainnya

vicky-chan: hahaha, makasih udh review. ini udh next chap. semoga suka ya~

BoBoiBoy: gomen, saya agak sulit mendeskripsikan pertarungan. Masih bisanya ngebayangin aja hehehe. tapi makasih udah review. semoga kamu suka~

ifa. dragneel92: ini udah lanjut. maaf ya udh buat kamu nunggu hehehe... makasih selalu setia menunggu ff saya ini TT, huee terharu saya... ini saya udh update, semoga kamu suka ya ;D

Dragneel77: hahaha saya tepati janji saya... ini udah update. Gimana? satu sekolah tuh tergiur sama Lucy :v Natsu belum pernah liat Lucy yang gak nerd sebelumnya, kan biasanya dia sering bolos dan cuma tau kalau Lucy itu teman sebangkunya. makasih udah review ya... semoga kamu suka ya dengan chap ini ;)

Fic of Delusion: hahaha suka Lucy yang ganas nih? makasih udah review.. semoga suka ya dengan chap ini

guest1: udah saya taburin nalu-nya dimana-mana nih :D makasih ya udh review... semoga suka ~

Akayuki1479: makasih udah semangatin... hehehe tenang saja, makin banyak kok adegan lovey dovey-nya nalu... makasih udh review, semoga suka~

just reader: kapan ya?~ hahaha mungkin chap depan saya buat mereka nge-date. makasih udh review, semoga kamu suka~

guest2: nih udah kissu, tapi masih di kening hehehe, makasih udh review... semoga suka ya~

dragfilia31:gomen, butuh waktu lama untuk mengembalikan situs ff saya di laptop #plak... ini udah lanjut. semoga suka ya~

guest3: huweee, gomen udh nunggu lama TT ini udah update.. oke sip, saya bakal banyakin romancenya ;) makasih udh review ya, semoga kamu suka chap ini~

Hashimatsu: hehehe makasih, saya jadi tersipu ^/^ makasih udh nikmati ff saya, ini saya udh update, semoga kamu suka ya~~

baiklah, terima kasih juga para reader-san yang setia membaca ff saya ini, arigatou gozaimasu!

sekian dari saya

mind RnR?