Chapter 7
Lucy memutar kenop pintu kayu berukuran besar itu dengan suasana hati senang. Bebannya seolah terangkat hanya karena Natsu yang menciumi keningnya dengan rasa sayang yang tulus. Padahal ia belum bercerita tentang masa lalunya menyeluruh, tapi ia benar-benar senang. Senang bisa mengenal Natsu dan senang bahwa ia tak salah menaruh hati pada pemuda Dragneel itu.
Begitu ia melangkah melewati ruang keluarga dengan langkah riang, suara deheman dalam dan dingin menghentikan langkahnya. Tiba-tiba otaknya tak mampu memberi perintah untuk melakukan sesuatu dan berdiam diri di sana. Senyumnya memudar dengan cepat. Suara langkah yang terasa berat dan penuh tekanan membuat Lucy merinding seketika. Sudah berapa lama ia tak merasakan aura dingin ini.
"Apa yang selama ini kau lakukan, Lucy?" ia hanya menggigit bibirnya dalam-dalam. Ia tahu sarat suara tak suka yang dimiliki oleh kepala keluarga Heartfilia. Ia tak berani membalikkan tubuhnya, menatap Papanya hingga akhirnya suara itulah yang memerintahnya untuk berbalik. Menjaga sopan dan attitude di hadapan orang tua yang sedang berbicara.
"T-tidak a-ada apa-apa, Papa." Gagapnya. Ingatan masa lalu yang buruk bermunculan dengan cepat seperti hujan meteor, menghantamnya akan trauma masa lalu yang buruk. Sudah cukup lama ia mencoba melupakannya.
Jude mendelik tak suka akan jawaban putrinya. Ia lemparkan foto-foto Lucy yang terluka parah dan digendong oleh Natsu. Tak hanya itu saja, berbagai foto saat ia berkelahi di perpustakaan kotapun tak luput dari tangkapan kamera.
Mata Lucy melebar kaget. Foto yang tergeletak dikakinya membuatnya tak bisa menghindar. "Papa memataiku?" tanyanya pelan. Ia tak tahu apa yang kini ada dipikirannya. Semuanya memburam, bercampur antara amarah, sedih, kaget, dan kecewa. Kehidupannya yang selama ini ia kira akan aman tanpa diketahui apa yang ia lakukan oleh kedua orangtuanya, kini semuanya sia-sia.
"Kau pikir aku tak melakukannya selama ini? Aku harus memastikan tindak-tandukmu selama ini karena kau itu pewaris satu-satunya perusahaan. Kau hanya mencoreng nama baik keluarga ini lagi." Sarkas Jude. Ia tak peduli bahwa yang berhadapan dengannya adalah putri satu-satunya.
Suara langkah lain mengisi ruang yang terasa mengerikan. Lucy menunduk menahan gejolak di hatinya begitupun Jude yang menahan kekesalannya selama dua minggu ini. "Lucy, sebaiknya kau mendengar kata-kata Papamu. Seorang gadis dari keluarga terpandang harus mampu menjaga image dan tutur kata."
Lucy tahu. Mamanya kini berbicara –lebih tepatnya menyinggung- padanya secara halus. Suaranya benar-benar halus hingga hati Lucy merasa tercabik-cabik. Ia angkat wajahnya dan ditatapnya Papa dan Mamanya. Mata dan hatinya memanas hingga ia merasa air matanya sudah turun tanpa pemberitahuan di balik kacamatanya.
"Kenapa kalian melakukannya padaku? Kenapa kalian mengusik kehidupan pribadiku? Kenapa yang kalian pikirkan hanya pekerjaan?!" Napas Lucy tersengal-sengal. Berteriak mengeluarkan seluruh emosinya yang tertahan selama ini.
"Aku sudah menjadi gadis baik yang kalian mau. Aku berhenti berkelahi dan memilih mengurung diri. Kalian bahkan tak bertanya apa permasalahanku. Tak pernah bertanya bagaimana keadaanku. Yang kalian pikirkan hanya uang dan perusahaan. Apa aku ini bukan anak kalian?!"
"Pulang larut malam dan berangkat pagi buta. Aku bahkan ragu kalau kalian masih mengingatku sebagai anak."
Plak!
Matanya melebar. Panas di pipinya menjalar kuat hingga ia merasa mati rasa saat ini. Ia tatap nanar sosok Jude yang menggantungkan tangannya di udara. "Jaga bicaramu, Lucy."
Lucy menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Dengan cepat ia berlari keluar mansion, mengabaikan teriakan Mamanya yang memanggil namanya.
Yanke-kun to Yanke-chan?
~Fairy Tail~
Pairing: Natsu x Lucy
Genre: Romance and Humor
Warning: OOC and Typo's bertebaran
Ia meringkuk di bawah toko kecil yang sudah tutup dengan basah. Tubuhnya menggigil sempurna ditambah angin yang berhembus kencang membawa air hujan yang tak pelan. Disaat ia uring-uringan tak tahu harus kemana, tiba-tiba hujan lebat membasahi bumi. Awalnya ia menikmati rintik hujan, namun lama-kelamaan hujan makin lebat seperti badai dan ia memilih berteduh sejenak di sana.
Kini ia tak tahu harus kemana lagi. Kerumah Loke dan Levy bukanlah ide bagus. Ia tak ingin mereka tahu permasalahannya saat ini. Itu hanya akan menambah beban dihati Lucy karena mengingat kisahnya dulu. Kelam dan penuh kepedihan.
"Lucy?" suara itu. Ia langsung mengangkat wajahnya yang penuh airmata, mengelap kacamatanya yang memburam akibat hujan dan langsung merasa lega melihat sosok yang ia kenal kini tengah berdiri di hadapannya dengan payung besar dan juga kantung belanja. Pakaiannya masih sama seperti setengah jam yang lalu. Tanpa menunggu lama, ia langsung bangun dan memeluk pemuda yang kini terkejut dengan kondisi Lucy.
"Kau kenapa?" tanyanya pada Lucy yang makin mengeratkan pelukannya. Ia bisa merasakan tubuh bergetar Lucy hingga dengan lembut diusapnya mahkota pirang kesukaannya. "Tenanglah. Aku disini."
Tangan Lucy menggenggam erat pakaian Natsu hingga air matanya kembali melesak keluar. "Natsu…"
"Minumlah dulu, Lucy-chan." Lucy menatap sosok pemuda berambut hitam yang sangat ia kenali tengah menyodorkannya secangkir teh panas. Ia menerima cangkir minuman hangat itu dan menggumamkan rasa terima kasih.
Jujur saja, Zeref Dragneel, selaku penanggung jawab dirumah bila orang tua mereka pergi keluar –entah kemana yang ia yakini pastinya berjalan-jalan- terkejut mendapati kekasih adiknya dalam keadaan kacau. Tubuhnya basah kuyup dengan seragam sekolah yang masih melekat disana. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam dan matanya membengkak. Ia bisa menebak kalau Lucy pasti habis menangis. Bahkan ia bisa melihat pakaian Natsu yang basah dibagian perut dan punggung yang ia pastikan berasal dari tubuh Lucy.
Ia sedikit bersyukur bahwa kekasihnya, Mavis Vermilion, sedang mengunjunginya. Ia membawa beberapa baju yang rencananya akan ia buang. Pakaian yang tak laku di tokonya dan ia memiliki tabiat untuk menyuruhnya membuangkannya di tempat yang tak ia ketahui letaknya. Kini, pakaian itu lebih berguna karena Lucy menggunakannya untuk mengganti pakaiannya yang basah.
Ia menatap Natsu dengan tatapan ingin tahu yang hanya dibalas gelengan dan juga isyarat pengusiran. Ia mendecih pelan dan mengajak Mavis menuju beranda rumahnya untuk membiarkan Lucy dan Natsu menyelesaikan masalah mereka.
Natsu menatap heran pada Lucy-nya. Sedari tadi gadis itu hanya menangis di pelukannya dengan tubuh yang basah kuyup. Berjongkok seorang diri di tempat sepi dengan hujan lebat yang menemaninya. Beruntung saja ia tiba-tiba mendapati Lucy –mengenali gadisnya dari rambut dan pakaiannya- setelah berbelanja makanan yang habis karena Zeref. Saat ia bertanya apa ia ingin pulang kerumah, Lucy menggeleng kuat sehingga ia tak punya pilihan selain membawa Lucy ke rumahnya untuk istirahat.
"Apa yang terjadi?" Lucy bungkam. Ia tatap cangkir teh yang belum ia cicipi itu dengan mata yang kembali menangis. Natsu menghela napas pelan. Lucy tampak berbeda dari biasanya. Sepulang sekolah tadi, ia masih baik-baik saja. Bahkan belum sejam semenjak mereka berpisah.
Ia menjongkokkan tubuhnya di hadapan Lucy dan menangkup kedua pipi Lucy dengan lembut. Ia bisa melihat sedikit luka di bibir tipis Lucy dan ia usap air mata yang turun terus menerus dari mata madu kesukaannya. "Nah, tak usah pikirkan apapun hari ini. Istirahatlah sebelum kau demam."
Mata Lucy menatap sedih dan terluka pada Natsu. Begitu menatap Natsu yang ingin beranjak dari sana, ia langsung menahannya dengan cepat. Membuat pemuda pinkish berandalan itu berhenti dan menatapnya dengan bingung. Helaan napas lolos dari bibir Natsu hingga ia menarik kepala Lucy dan memeluk tubuhnya ke dalam pelukan sambil mengusap kepalanya. Mencoba menenangkan.
"Aku tak ingin pulang, Natsu." Pemuda pinkish itu sedikit mengerti. Sepertinya gadis kesayangannya ada masalah dengan keluarganya. "Ya, aku tak memaksamu pulang. Apa kau mau kuantar ke rumah Levy untuk menginap beberapa hari?"
"Jangan. Aku tak ingin Levy-chan dan Loke tahu tentangku." Jawabnya lemah. Natsu menghela napas pelan. Ia lepaskan pelukannya dan menangkup pipi gembil Lucy. "Lalu kau mau tinggal dimana?" tanyanya lembut. Ini pertama kalinya ia berbicara dengan sangat lembut pada seorang gadis.
Lucy hanya diam. Ia sama sekali tak tahu kemana ia akan tinggal untuk sementara waktu. Ia sama sekali tak berminat untuk masuk sekolah beberapa hari hingga hatinya merasa lega. Ketika itu, Mavis masuk ke dalam rumah dan berjalan memasuki dapur yang melewati ruang tengah. Natsu yang melihatnya langsung mendapat ide.
"Mavis-Nee, boleh Lucy menginap dirumahmu sebentar?" Mavis langsung memuncratkan air minumnya ke wajah Natsu dengan wajah kaget. "Apa?!"
"Kumohon. Hanya beberapa hari. Setelah itu aku akan membawanya pulang. sepertinya dia ada masalah dengan keluarganya sampai tak mau pulang."Pinta Natsu dengan wajah memelas. Mavis menatap Natsu yang tak pernah menampakkan wajah memelasnya selama ini dengan wajah bimbang. Ia tatap gadis yang tengah duduk di sofa maroon yang membelakanginya.
Ia menghela napas pasrah. "Baiklah. Tapi besok. Malam ini biarkan aku menginap disini. Hujan badainya tak mau berhenti dari tadi." Natsu langsung mengangguk patuh dan berterima kasih pada Mavis. Setelah itu, gadis itu kembali berjalan ke beranda untuk menemani Zeref yang sibuk menggambar halaman belakang rumah.
Lucy menghela napas pelan. Ia duduk di beranda halaman belakang rumah Mavis seorang diri di sore hari karena gadis itu masih bekerja di butiknya. Sudah dua hari ia berada disini dan setiap hari Natsu datang tiap pulang sekolah hanya untuk memeriksa keadaannya walau ia sama sekali belum berkeinginan untuk bercerita pada Natsu.
"Luce." Suara Natsu yang memanggilnya dengan sedikit ringisan membuatnya berbalik dari dudukya dan matanya membulat melihat Natsu yang masuk tanpa permisi dengan keadaan penuh luka. Ia langsung terlonjak dan berlari kearah Natsu yang berjalan tertatih-tatih sambil bertahan pada dinding rumah.
"Kau berkelahi lagi?" tanya Lucy yang melihat keadaan Natsu. Pipinya lebam dan bibirnya sobek. Pakaiannya kotor dan ada beberapa yang sobek hingga memperlihatkan luka baik di siku maupun di lutut. Pemuda itu memberikan grin khasnya meski kepalanya menggeleng. Dengan cepat, ia papah Natsu menuju ruang tengah dan kebingungan karena tak tahu dimana letak kotak obat-obatan.
"Aku pulang!" suara Mavis yang sedikit tinggi, membuat Lucy merasa senang entah kenapa. Gadis bertubuh mungil itu berjalan menuju ruang tengah dan terkejut mendapati Natsu yang terluka parah. "Kau kenapa, Natsu?!"
"Mavis-Neesan, dimana kau letak kotak P3K?" Mavis langsung memberitahu pada Lucy letaknya kemudian ia berdiri di hadapan Natsu dengan mulut berdecak kesal dan tangan yang berada di pinggang. "Kau ini! sudah berapa kali kubilang jangan berkelahi. Kenapa susah sekali memberitahumu?!" gerutu Mavis. Ia langsung menjitak kepala Natsu yang mendapatkan ringisan sakit.
"Aku tak berkelahi, Mavis-Nee. Seharusnya kau memberiku selamat karena berhasil menahan keinginan untuk menghajar para b*jingan itu." Balasnya tak terima. Tentu saja, tiba-tiba saja tubuhnya di tarik ke gang saat pulang sekolah dan dihajar habis-habisan. Bahkan mereka memberinya ancaman.
Ia sudah bertekad untuk tidak ikut baku hantam semenjak bersama Lucy. Mengingat gadis itu pernah terluka karena dia, ia harus berpikir ulang untuk menambah musuh di berbagai tempat. Tapi entah kenapa, malah mereka yang kini mengincarnya terus menerus. Berdatangan setiap minggunya secara bergerombolan dan akhirnya ia lah yang berhasil menumbangkan mereka.
Mavis mengerutkan dahinya dengan mulut yang berucap 'wow' seolah Natsu baru saja mengatakan hal teraneh. "Ah, ternyata pengaruh Lucy-chan benar-benar pada kehidupanmu. Bukankah dia seperti cahayamu? Menyadarkanmu untuk masuk sekolah tiap hari dan tidak berkelahi lagi. Aku rasa, Zeref dan ayah ibumu akan senang mendengarnya." Goda Mavis.
Natsu yang memerah meski ia langsung menutupnya dengan ringisan kesakitan. Lucy tiba-tiba sudah muncul di samping Mavis dengan sekotak P3K berukuran besar. Mavis langsung beranjak dari sana, tak ingin menjadi obat nyamuk antara calon adik iparnya dan kekasihnya.
Setelah membuka kotak obat, dengan cepat Lucy mengambil kapas dan menetesinya dengan cairan obat merah. Ia tekan-tekan kapas tersebut dengan lembut –berbeda dengan sebelumnya- pada siku dan lutut Natsu yang terluka cukup lebar. Siku tangannya sudah ia tutupi dengan perban.
"Luce." Lucy memandang kearah Natsu yang kini menatapnya intens. Ia letakkan kapas tersebut di mangkuk stainless steel yang memang disediakan di dalam kotak obat dan mengambil perban. "Hn." gumamnya bertanya. Ia lilitkan perban putih itu di lutut Natsu dengan penuh konsentrasi.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Sudah tiga hari kau tak pulang kerumahmu." Lucy mengikat perban tersebut dan menatap Natsu sekilas. Ia bereskan peralatan P3K lalu mendudukkan dirinya di lantai, sedikit mendongak pada Natsu yang duduk di sofa coklat tersebut.
Ia menghembuskan napasnya sejenak lalu tersenyum tipis pada Natsu. Mungkin memang sudah waktunya ia menceritakan pada Natsu mengenai masa lalunya. Natsu berhak tau karena kini Natsu adalah laki-laki yang sangat berarti dalam hidupnya. Merahasiakannya dari Natsu hanya membuat pemuda Dragneel itu sedih.
"Kau kenal dengan Black Heartfilia?" Pemuda itu mengangguk.
"Aku mendengar rumornya dari beberapa orang yang pernah mencari masalah denganku. Tapi sudah lama aku tak mendengar tentangnya lagi."
"Ya, orang yang menjadi Black Heartfilia itu adalah aku. Gadis pirang berambut sebahu yang menghabisi para berandalan tanpa ampun. Gadis berandalan yang menyukai buku." Natsu terkejut mendengarnya. Memang ia pernah mendengar nama itu di sebut saat mereka berkelahi diperpus beberapa minggu yang lalu, tapi ia tak menyangka bahwa gadis berandalan yang ditakuti di kota mereka adalah kekasihnya. Ia tahu Lucy adalah berandalan karena gadis itu yang berkata begitu tapi, kenapa harus Black Heartfilia?!
Lucy tersenyum miris melihat Natsu yang membeku di kursinya. "Kurasa aku akan memulai ceritanya. Bagaimana aku bisa berubah menjadi berandalan dan kenapa orangtuaku tak pernah kau jumpai jika kau berkunjung, Natsu."
Ia menghirup napas sekali lagi. Kali ini lebih dalam karena ia mencoba menggali masa lalu menyedihkannya yang sudah ia kubur dalam-dalam.
Empat tahun yang lalu, aku hanya seorang gadis biasa dengan rambut pirang yang hobi membaca novel. Aku memiliki teman-teman yang selalu berada disampingku. Orang-orang yang tak memandang status keluargaku yang terkenal akan kekayaannya. Dan aku menyukai tentang itu dari mereka.
Levy McGarden, Cana Alberona, Loke Heartfilia –sepupuku-, adalah salah satu orang terdekatku. Aku hanya ingin membuat mereka senang akan keberadaanku. Tapi, semuanya tidak sama seperti sebelumnya.
Tepat beberapa bulan sebelum ujian kenaikan kelas, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa beberapa teman-teman satu sekolahku dipukuli dan dirampas uangnya oleh segerombolan berandalan dari sekolah lain. Awalnya aku hanya mengintip apa yang terjadi. Aku tak suka dengan keributan tapi entah kenapa saat itu kakiku melangkah mendekat hanya sekedar ingin tahu.
Namun saat itu aku tak tahu apa yang akan kulakukan, jadi aku melarikan diri dari mereka, membiarkan teman sekolahku diperlakukan oleh seperti itu. Aku hanya tak ingin membuat masalah untuk keluarga dan sahabat-sahabatku.
Namun aku tak menyadari bahwa mereka melihatku berlari menjauh, menandai rambut dan seragam sekolahku. Karena itulah, kehidupanku mulai berubah.
Tepat tiga hari setelahnya, mereka datang ke sekolahku. Berbondong-bondong mengelilingi sekolahku dengan berbagai macam senjata. Tepat disaat itulah, aku melihatnya. Rambut hitam panjang dan tindik yang tidak sedikit, memandangku dengan seringai dari bawah –halaman sekolah tepatnya. Dengan bodohnya, bukannya aku berlari menjauh, aku malah terdiam memandangi halaman sekolah dari jendela kelas.
Dia yang saat itu menghajar murid sekolah menengahku! Cukup waktu lama bagiku untuk memproses semuanya hingga telingaku menangkap suara jeritan para siswa dan juga guru-guru.
Dari dalam kelas, aku mendengar kericuhan yang terjadi di lorong. Aku melihat dari jendela kelas, orang-orang terlempar jauh dan terluka. Guru-guru kewalahan menangani para berandalan yang membuat kericuhan besar. Dan sekali lagi, aku terdiam.
Apa ini salahku?
Tepat saat itu, pintu kelasku terbuka dengan kasar. Beberapa berandalan datang menguasai kelasku. Aku kembali melihatnya, namun kini dalam jarak yang dekat. Tatapan tajam dan kejam, terlihat jelas dimatanya. Ia menatapku dengan senang, seakan-akan aku adalah hal yang selama ini ia cari.
"Akhirnya ketemu. Aku tak tahu kalau ada seseorang yang berani mengintip kegiatan kami." Suaranya terdengar berat, membuatku meringis pelan. Aku terus terdiam hingga ia melayangkan tinjuannya ke arahku dengan cepat.
Bruuk!
"Cih, meleset." Irisku membulat. Tinjuan itu tidak mengenaiku, melainkan Levy-chan yang berusaha melindungiku. Ia terjatuh dengan darah yang mengucur dari mulutnya. "Lu-chan, pergi dari sini sekarang." Setelah berucap seperti itu, Levy-chan pingsan akibat terbentur dengan dinding kelas. Dia di lempar begitu saja seperti sampah.
Aku tak tahu apa yang aku pikirkan. Pikiranku menggelap dan aku tak mendengar apapun ditelingaku. Mataku hanya terfokus kearah pemuda itu, yang langsung melayangkan tinju selanjutnya. Aku bahkan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Darahku mendidih hingga ke puncak kepalaku. Jantungku rasanya penuh sesak dan berdebar cepat.
Grep!
Aku menangkisnya, mencengkram dengan kuat tinjuan itu. Yang kutahu, aku langsung melayangkan serangan membabi buta padanya. Aku terus meninju, menendang, meninju dan menendang layaknya orang gila. Entah apa yang aku pikirkan saat itu dan hanya emosi yang mendidihkan kepalaku yang menguasai segala tindakanku.
Brak!
Ku lempar tubuh berat itu hingga membentur meja-meja dan kepalanya yang terhantam kuat di ujung meja. Saat sebuah balok hampir melayang kearahku dari belakang, dengan cepat ku tendang pelipisnya dengan kuat. Saat itu, aku sama sekali tak memikirkan apapun. Meskipun banyak yang menghalangiku, aku tetap menghajar orang yang sudah melukai Levy-chan.
Bahkan hingga pemuda itu pingsan, aku terus meninjunya dengan kuat.
"Heartfilia-san, sudah hentikan!" Aku meronta, menulikan telingaku pada sosok guru yang mencoba menghentikan tindakanku. Aku malah melayangkan tinju padanya dengan keras, membuatnya terjerembab kebelakang dengan hidung yang berdarah.
Plak!
"Lucy, hentikan. Sudah cukup." Satu tamparan keras itu menyadarkanku dari emosiku. Pipiku yang terasa panas, melebihi tinjuan berandalan yang terkapar dilantai. Aku menatapnya, Loke yang menatap sedih kearahku. Aku memandang sekitar, semua orang terlihat ketakutan akan diriku dan para berandalan yang telah pergi entah kemana. Berlari ketakutan sambil membawa laki-laki bertindik itu.
Napasku tersengal-sengal. Ada apa dengan semua orang? Bukannya aku melakukan hal yang benar?
Loke terlihat kecewa, Levy-chan pun begitu, bahkan guruku yang selalu membanggakanku, malah terlihat kecewa.
Aku bangkit dari posisiku. Mataku menatap kosong kearah kelasku dan aku langsung berlari meninggalkan kelas yang porak-poranda. Aku benci dengan tatapan itu. Aku tak bersalah. Kenapa mereka menatapku seperti itu?
"Apa salahku?!"
TBC
Hai, minna-san! it's been a long time #sokinggrisansegala
Nah, akhirnya saya update juga. Nah, gimana menurut minna-san? Jujur aja, semingguan ini saya stress berat jd banyak bikin cerita ngawur. Suasana hatipun berubah-ubah. Kadang muncul ogebnya, kadang muncul gilanya, kadang diem, kadang teriak-teriak gaje, kadang nangis tanpa sebab.
pokoknya, ini saya persembahkan untuk minna-san. Maaf ya gk bisa update cepet-cepet kayak kemarin. Ini aja harus diketik trus hapus trus ketik lagi trus hapus lagi gara-gara salah terus idenya. hadeh...
Okelah, semoga kalian suka ya. Untuk dua atau tiga chapter ke depan, ceritanya bakalan fokus ke masa lalu Lucy sebelum ending.
Thank you so much.
saya bales dulu review minna-san
r dragneel7: Gomenne gk bisa update kilat. Idenya numpuk tapi rata-rata gaje semua. oh ya, Lucy bilang bangsawan itu cuma perumpamaan. dia cuma gadis dari kalangan orang kaya yang dihormati. Karena itu makanya dia nyamain dirinya dengan bangsawan karena harus jaga etika banget makasih udah review ;)
ifa. dragneel92: makasih udah nyemangatin. karena kamu aku jadi semangat loh ;) #plak. malah ngegombal. ini udah next chap. hope you like it~
guest: hehehe, makasih udah suka XD hope you like it dengan chap ini ya~
okelah, sekian dari saya
salam hangat penuh cinta dan sayang
IreneReiko-chan
mind RnR?
