Chapter 9

Lucy menyandarkan tubuhnya di sofa maroon milik Mavis. Ia terbayang dengan ucapan Natsu beberapa waktu lalu sebelum pemuda itu memilih untuk pulang karena hari sudah larut dan orangtuanya sudah pulang ke rumah.

"Pulanglah ke rumahmu, Luce. Aku akan menemanimu kalau kau tak sanggup. Tapi jangan buat mereka cemas dengan keadaanmu. Seburuk apapun mereka, mereka tetaplah orangtuamu dan kau harus memaafkan mereka."

Itulah yang kekasih pinkish-nya itu katakan padanya. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan ia masih terbangun dengan pikiran yang berkecamuk. Ruang tengahpun tampak gelap namun itu tak membuat Lucy ketakutan. Ia memang lebih nyaman dalam keadaan gelap.

"Kau belum tidur?" tanya Mavis yang tiba-tiba muncul dari balik dapur dengan mata setengah mengantuk. Di hidupkannya saklar lampu ruang tengah dan menggeleng pelan melihat sosok kekasih calon adik iparnya tengah terdiam sambil memegang segelas susu hangat yang masih penuh.

Lucy menggeleng pelan. "Kau masih memikirkan perkataan Natsu?"

Ia langsung terlonjak kaget. "Kau mendengarnya, Mavis-Neesan?" Mavis langsung menyadari kesalahannya dan meringis pelan. Jujur saja sebenarnya ia menguping pembicaraan Natsu dan Lucy saat mereka tampak dalam suasana romantis. Bukan, ia tak menguping bagian pembicaraan masa lalu Lucy –meskipun ia mendengarnya secara tak sengaja, hanya saja telinganya benar-benar gatal untuk mendengar percakapan dua sejoli yang seolah tak ingin dipisahkan saat Natsu hendak pulang.

"Aku mendengarnya sepintas. Tadi aku hendak keluar membeli beberapa lembar kertas untuk pekerjaanku. Sungguh, aku tak menguping." Elak Mavis. Ia merutuki mulutnya yang seenaknya mengeluarkan kata-kata tadi. Seharusnya ia tidur saja tadi dan tak usah lewat ke ruang tengah.

Lucy tersenyum geli. Ia bisa membaca gurat kebohongan Mavis. Panik dan secara spontan mengatakan kebenarannya lewat kata 'tidak'. Tentunya ia tak bisa memarahi Mavis. Toh, ia membiarkan saja Mavis menganggap ia menyetujui perkataannya. "Lalu bagaimana dengan pendapatmu? Menurutku Natsu memang benar." Ucap Mavis.

Lucy menatap gadis bertubuh lebih mungil daripada dirinya itu dengan senyum tipis meski ada rasa berat dan menjanggal disudut matanya. Namun ia bisa menyembunyikannya dengan sangat rapi hingga tak disadari oleh Mavis. "Aku rasa juga begitu. Mungkin besok aku akan kembali ke rumah. Memperbaiki segalanya."

Mavis langsung berbinar senang. Dipeluknya gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu dengan erat. "Lakukan yang terbaik. Apapun yang kau pilih, aku akan selalu mendukungmu, Lucy-chan." Ia balas pelukan Mavis dengan senyum tulusnya. Ia senang jika Mavis tersenyum begini.

"Nah, sebaiknya kita tidur sekarang. Besok aku akan mengantarkanmu ke rumahmu."

"Tak perlu, Nee-san. Aku akan pulang sendiri. Nee-san pasti sibuk besok."

"Kau yakin?"

"Ya."

Yanke-kun to Yanke-chan?

~Fairy Tail~

Pairing: Natsu x Lucy

Genre: Romance and Humor

Warning: OOC and Typo's bertebaran

Ia menatap mansion yang tak ia pijaki selama beberapa hari ini dengan rasa ragu. Ia hembuskan napasnya pelan lalu memperbaiki kacamatanya yang melorot. Di pejamkannya kedua matanya dan dikepalkannya kedua tangannya. Membayangkan wajah Natsu yang tersenyum lembut malam itu agar menyemangatinya.

Setelahnya, dengan mantap ia mulai melangkah masuk. Di bukanya pintu besar itu hingga menimbulkan bunyi derit dan ia langsung mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru mendekatinya.

Grep!

Matanya membulat sempurna. Tubuhnya terasa tercekik hingga ia merasa tubuhnya tak mampu menjaga keseimbangan. Aroma sakura menyerbak di hidungnya, aroma yang ia sukai dan ia rindukan. Setetes air bening langsung turun dari pipinya begitu ia mendengar suara yang sudah lama ia rindukan terdengar di telinganya.

"M-Mama?" suaranya bergetar dengan nada tak yakin. Ia merasa aneh dengan semuanya. Ia merasa sedang bermimpi kala Layla Heartfilia mengeratkan pelukannya dan menangis sejadi-jadinya. Membasahi pakaian Mavis dengan airmatanya.

"Anak bodoh. Kenapa baru pulang sekarang?" Ia menenggelamkan tubuhnya semakin dalam ke pelukan putri satu-satunya. "Maaf, Mama… Mama benar-benar minta maaf padamu, nak."

Dilepaskannya sejenak pelukannya dan ia tatap anaknya yang kini sudah menangis sejadinya. Hatinya merasa terkoyak-koyak saat ini. Untuk pertama kalinya ia merasa kehilangan Lucy setelah putrinya itu lari dari rumah. Untuk pertama kalinya ia sadar dengan kesalahannya yang mengekang Lucy dan untuk pertama kalinya ia sadar bahwa ia sudah merenggut kebahagiaan putrinya hanya karena uang.

Sudah begitu banyak airmata Lucy tumpah selama ini dan ia selalu menutup matanya. Ia terlalu dibutakan oleh kesuksesan perusahaan dan nama baik hingga tak sadar bahwa yang dibutuhkan putrinya bukanlah itu. Ia merasa tertampar sore itu dengan ucapan Lucy dan juga sosok yang mendatanginya dengan wajah penuh luka malam tadi. Bercerita bagaimana menyedihkannya hidup anak yang sudah ia lahirkan ke dunia. Sosok yang dulunya tak ia sukai itu malah membuka hatinya yang tertutup selama ini.

Lucy tak dapat menghentikan tangisnya. Rasa bersalahnya semakin besar begitu melihat kantung mata di wajah Mamanya. Wajahnya mengurus dan terlihat begitu lemah, berbeda dari biasanya.

"Mama hiks…hiks…"

"Maafkan Lucy, ma. Maaf Lucy sudah membuat Mama khawatir. Maaf sudah membuat Mama menangis… hiks…" Layla menggeleng. Ia menggingit bibirnya, mencoba menahan tangisnya meski ia pun tak sanggup melakukannya.

Diusapnya air mata Lucy lembut. "Seharusnya Mama yang minta maaf, sayang. Maafkan Mama. Jangan pergi begitu saja dari Mama." Dipeluknya kembali Lucy dan ia merasakan cengkraman putrinya di punggungnya dan membiarkannya menangis.

"Huwaa Mama!"


Mereka berdua sudah tampak lebih tenang. Kini mereka duduk di ayunan taman belakang rumah dengan sebuah pohon besar dan tua yang menopangnya. Para pelayan yang tadinya penasaran dengan suara tangis sang majikan, kini tersenyum tipis dibalik tembok sambil mengintip ibu anak yang sepertinya sudah berbaikan.

Lucy tak tahu harus berkata apa. Setelah mendengar ucapan maaf Mamanya yang tiba-tiba, ia benar-benar tak bisa mengontrol dirinya untuk menangis pula bahkan sampai membuat kedua matanya membengkak karena tangisnya yang lebih kuat dari nyonya besar Heartfilia itu.

Layla melirik anaknya dan ia usap kepala putrinya dengan sayang. Sudah berapa lama ia tak merasakan perasaan hangat kala mengusap kepala anaknya? Rasanya hatinya tertusuk pelan oleh sesuatu tak kasat mata saat ini.

"Apa rasanya sakit?" tanya Layla. Lucy menatap Mamanya dengan tatapan tak mengerti. Seolah mengerti dengan tatapan bingung anaknya, ia kembali melanjutkan, "Dipukul Papa. Berkelahi dengan para berandalan." Lucy menggeleng. Ia tersenyum miris mendengar pertanyaan Mamanya.

Meskipun ia merasa fisiknya memang sakit karena pukulan Papanya dan juga para berandalan, tapi ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Ia tak peduli dengan luka fisik, tapi hatinya masih merasakan luka yang tergores dulu, begitu menyakitkan. "Kalau hanya pukulan, aku tak merasa sakit, Ma. Hanya saja, Mama dan Papa yang tak memercayaiku lah yang menyakitkan. Bagaimana Mama dan Papa mengabaikanku selama ini sudah cukup membuatku merasakan bedanya ditusuk secara nyata dan kasat mata. Aku tak peduli jika seluruh dunia tak menginginkanku asalkan Papa dan Mama masih mencintaiku. Itu saja sudah cukup bagiku."

Air mata kembali lolos di sudut mata Layla. Ia tak menyangka bahwa tindakan mereka berdua selama ini hanya membuat putrinya terluka begitu dalam hingga rasanya sulit untuk diobati. Lucy melihat Mamanya yang merasa bersalah dan dengan cepat digenggamnya tangan Mamanya. Memberikan rasa nyaman yang cukup untuk membuktikan bahwa dia baik-baik saja. "Aku baik-baik saja, Ma."

Layla langsung menghapus air matanya dan tersenyum tipis pada putrinya. Ia menghirup napas sejenak untuk menenangkan hatinya lalu kembali menatap Lucy. "Ngomong-ngomong, apa anak laki-laki berambut pink itu pacarmu?"

Lucy mendongak menatap Mamanya dengan tatapan kaget. Wajah sedihnya berganti dengan merona hebat dalam persekian detik. Layla tersenyum tipis melihatnya. Ia bisa melihat bahwa putrinya begitu menyukai bocah yang berani berhadapan dengannya dan suaminya. Bahkan tanpa takut, ia menerima ajakan bertarung Jude hingga suaminya itu menyerah.

"Darimana Mama tahu Natsu?"

"Ah, jadi namanya Natsu. Anak yang pemberani dan sedikit bodoh. Sama seperti putriku." Ucap Layla sambil terus tersenyum. Ada rasa tak rela dihatinya, namun ia segera menepisnya saat melihat wajah putrinya yang tampak menyukai, sangat menyukai lelaki berandalan itu. Jujur saja, ia ingin berbicara pada putrinya dengan lebih leluasa dan inilah awal ia belajar. Membuka hatinya sedikit demi sedikit dan merelakan sesuatu demi kebahagiaan Lucy.

"Maksud Mama?"

"Bocah itu, dia datang kemari tadi malam. Mama sudah mengusirnya berkali-kali tapi dia tetap bersikeras untuk masuk dan menemui Papamu. Papamu tentu saja marah besar dan ia mengajak bocah itu bertengkar sebentar –mesi badannya penuh luka dan juga ia tak melawan sama sekali- lalu setelah Jude menyerah, dia akhirnya mengatakan keinginannya. Dialah yang memberitahu kami tentangmu selama ini. Bagaimana perkembanganmu selama ini di sekolah meski dia hanya mengenalmu beberapa minggu." Lucy terdiam. Hatinya merasa tercubit dengan kenyataan yang dibeberkan oleh Mamanya.

Layla pun terdiam hingga akhirnya Lucy langsung bangkit dari ayunan dan berlari menjauh darinya dengan wajah sarat penuh rasa bersalah. "Aku pergi dulu, Ma. Nanti aku kembali lagi!"

Ia hanya bisa menghela napas pelan. Ia memang belum terbiasa dengan sikap tiba-tiba putrinya.


Natsu mengunyah potongan mangga pemberian Grandine, ibunya dengan hikmat. Sesekali ia meringis mendapati asam mangga bersentuhan dengan luka di bibirnya akibat tonjokan dua lapis kemarin. Hari ini ia membolos sekolah karena sudah tak sanggup untuk berjalan dengan benar. Lagipula ia benar-benar malas ke sana dan mendapatkan pelajaran tambahan dari Laxus sepulang sekolah yang akan mengomelinya terus menerus.

Pria tua itu tak pernah bosan memarahinya!

Kemarin, setelah ia pulang dan diinterogasi oleh Igneel, Grandine dan juga Zeref tentang kepulangannya yang sangat telat, melewati jam makan malam juga luka-luka parah yang ia dapatkan, ia malah mendapatkan pujian dari mereka. Berkata bahwa ia sudah menjadi lelaki sejati. Terutama Igneel yang kelihatan sangat senang begitupun Grandine yang tiba-tiba menelpon seluruh kerabatnya untuk mengumumkannya.

Benar-benar memalukan!

Zeref sudah pergi kerja sejak tadi pagi dan ayah ibunya juga sudah berangkat menuju kantor masing-masing. Ibunya menuju rumah sakit sedangkan ayahnya menuju restoran keluarga mereka. Restoran Italia berbintang lima yang sudah sangat terkenal di seluruh Jepang. Kini ia seorang diri di beranda halaman belakang rumahnya. Entahlah, semenjak ia sering menemui Lucy di beranda rumah Mavis, sekarang ia jadi suka duduk-duduk disana menikmati angin sepoi-sepoi.

Ting tong!

Natsu menyerngit heran. Tak biasanya rumahnya mendapatkan tamu di jam 10 begini. Apalagi sekarang bukan hari libur. Sekali lagi, bel pintunya berbunyi, membuatnya bangkit dari rasa malasnya lalu membuka pintu rumahnya.

Dengan mulut yang tengah mengunyah mangga, ia hampir saja tersedak. Sosok Lucy berdiri di hadapannya dengan mata bengkak plus napas yang terengah-engah. Keringat bercucuran di keningnya dan ia menatap Natsu dengan mata yang sedikit berair.

"Beraninya kau makan mangga dengan tenang." Gumam Lucy sembari mengatur pernapasannya dengan tatapan tajam. Ia lelah karena berlari menuju rumah Natsu yang tergolong jauhnya minta ampun.

"Apa yang-"

"Dasar Natsu bodoh!" teriak Lucy sambil menendang tulang kering Natsu. Pemuda itu langsung meringis pelan karena mendapatkan tendangan tiba-tiba dari Lucy. Baru saja ia hendak menyemprot Lucy dengan tatapan tajamnya, ia langsung terkejut dengan Lucy yang cemberut dengan air mata yang sudah menetes keluar.

"Dasar bodoh…" cicitnya pelan.


"Arigatou…" Ucapnya menerima sebotol air minum yang dibeli oleh Natsu. Mereka duduk berdua di taman dekat kompleks perumahan Natsu karena pemuda itulah yang menariknya ke mari dengan tertatih-tatih. Setelah Lucy datang tiba-tiba dan mengatainya bodoh, ia tak tahu harus kemana. Kerumahnya benar-benar bukan pilihan yang tepat. Pikirannya berkecamuk sedari malam tentang Lucy hingga ia takut tak bisa menahan dirinya.

Natsu mendudukkan dirinya di ayunan di samping Lucy dan meneguk air minum miliknya. Kekesalannya menguap begitu saja setelah melihat Lucy menangis –meski ia tak tahu apa penyebabnya.

"Ne, Natsu. Jangan melakukannya lagi." Natsu menaikkan alisnya sebelah. Ia tak mengerti maksud kekasihnya itu. "Maksudmu?"

"Membelaku dihadapan Papa." Ia terdiam. Ia mendengus kasar begitu tahu bahwa rahasianya tadi malam terbongkar sudah. Jika begini jadinya, lebih baik ia tak menemui Lucy hari ini atau membukakan pintunya tadi. Pura-pura saja ia tak ada di rumah.

"Tidak mau. Lagipula memang sudah menjadi urusanku kalau itu tentang dirimu. Ayahmu juga sudah mengerti-"

"Makanya kubilang jangan melakukannya. Aku tak mau kau ikut campur dengan urusanku!" teriak Lucy. Tubuhnya bergetar hebat dan tangannya menggenggam erat besi ayunan. Pemuda bermarga Dragneel itu terdiam mendengarnya. "Kau tak seharusnya ikut campur dengan urusanku. Aku bukan anak kecil lagi yang harus dibantu. Aku masih bisa menyelesaikannya sendiri."

Gadis itu mengangkat tubuhnya dan berdiri memunggungi Natsu. Air matanya menetes dan ia tak ingin pemuda itu tahu dengan tangisnya. "Karena itu kumohon, jangan ikut campur, Natsu. Aku… aku hanya tak mau…" Ia terdiam. Ia tak ingin melanjutkan kata-katanya dan memilih berlari menjauh.

Natsu menatap punggung bergetar itu dengan tatapan nanar. Ia mendesah kasar saat gadis itu berlari meninggalkannya di taman seorang diri. Ia tak sempat untuk menghentikan Lucy –atau lebih tepatnya ia tak mampu menghentikan kekasihnya itu untuk menjauh darinya.

Apa yang salah sekarang ini?


Sudah seminggu mereka tak saling berbicara. Meski Lucy sudah kembali masuk sekolah, namun mereka hanya saling diam. Natsu pun juga. Tiap berada di kelas, ia hanya tidur ataupun membolos ke atap sekolah daripada menemui Lucy. Membuat seisi sekolah bertanya-tanya tentang mereka berdua begitupun Laxus yang kembali memijit keningnya lelah karena kelakuan buruk Natsu yang kembali setelah sekian lama hilang.

Meski ia bersyukur bahwa setelah ia pulang kerumah, Papanya sedikit lebih terbuka dan perhatian. Meski tak terlalu kentara. Papanya masih pulang larut malam dan berangkat pagi buta meski tiap malamnya, kepala keluarga Heartfilia itu akan membawakan buah-buahan kesukaannya dan di letakkannya di atas nakas kamarnya. Begitu pun dengan Mamanya yang pulang sedikit lebih cepat dan mengajaknya bercengkrama diruang tengah meski ia masih terlalu canggung. Bertahun-tahun tak berbicara dengan keduanya membuatnya tak tahu harus menceritakan permasalahannya. Ia masih terbiasa menyimpan semuanya sendiri.

Ia menghela napas pelan. Roti yang berada di tangannya tak terlalu menarik minatnya sekarang. Bahkan buku yang ia sengaja bawa ke kantin tak cukup mengalihkan perhatiannya dari Natsu. Loke merasa sedikit kasihan pada Lucy dan Natsu. Meskipun sepupunya itu tak menceritakan apapun padanya, tapi ia bisa tahu bahwa pasangan sejoli itu tengah dilanda masalah.

"Sebaiknya kau maafkan saja Natsu. Aku tak tahu apa permasalahan kalian, tapi dia berubah menjadi dia yang dulu, Lucy." Ucap Loke yang membuyarkan pikiran Lucy. Gadis berkacamata dengan rambut yang diikat ponytail itu menatap bingung pada Loke. "M-maksudmu?"

Loke menghela napas lelah. Diletakkannya sumpit makanannya lalu menyunggingkan senyumnya. "Dia berubah semenjak bersamamu. Dia bahkan tak pernah membolos apalagi tertidur di kelas. Setiap harinya dia fokus belajar meski kau tak masuk sekolah." Tuturnya.

Lucy menatap sayu rotinya. Ia tahu bahwa Natsu banyak berubah akhir-akhir ini. Bahkan pemuda itu tak ikut baku hantam lagi kecuali malam itu. Ia juga tahu bahwa Natsu lebih memilih mengalah daripada berkelahi –karena ia secara tak sengaja menguping pembicaraan Mavis dan Natsu.

Bukan Natsu yang bersalah disini tapi ia lah yang bersalah. Ia yang sengaja melukai hati pemuda baik itu dengan perkataannya. Ia tak menyangkal bahwa Natsu memang menuruti kata-katanya untuk tidak mencampuri urusannya lagi. Bahkan ia tak bisa menyalahkan kalau sekarang Natsu membencinya.

Tapi, entah kenapa hatinya merasa hampa kini.

Tak ada Natsu yang cerewet soal makanan. Tak ada Natsu yang memandang sinis padanya jika mereka berkelakar, tak ada Natsu yang berada disampingnya. Meski nyatanya ia dan Natsu masih duduk bersebelahan di kelas. Hanya saja ia merindukan sosok Natsu yang tiap pulang selalu meminta tolong padanya untuk membantunya mengerjakan tugas dari para guru atau hanya sekedar menunggunya selesai piket sambil tiduran dimejanya agar bisa pulang bersama.

"Masih ada setengah jam lagi. Kudengar Natsu selalu di atap sekolah akhir-akhir ini." ucap Loke tiba-tiba. Lucy tersentak kaget dan menatap Loke yang kini tersenyum tipis sambil mengedipkan matanya. "Berbaikan saja. Kalian tak cocok saling diam seperti sekarang."

"L-Loke…"

"Pergi sana, gadis bodoh. Pangeranmu menunggumu."


Lucy menghela napas lagi. Saat istirahat makan siang tadi, ia langsung berlari ke atap sekolah setelah mendengar bentakan sayang dari Loke dan tak mendapati sosok Natsu di sana. Hanya beberapa siswa yang memilih menikmati makan siang di atap sekolah bersama teman-teman mereka. Bahkan saat jam belajar dimulai lagi, Natsu sudah tak berada di kursinya padahal tadi pagi pemuda itu hadir ke sekolah.

Mungkin ia membolos lagi. Kabur melewati ruang olahraga lalu memanjat pagar halaman belakang. Mungkin saja.

Ia menendang kerikil tak berdosa dengan tak berdaya. Sekarang sudah jam pulang dan selama seminggu ini ia terus pulang sendirian –seperti dulu. Padahal ia ingat bahwa Natsu berjanji padanya untuk tidak membiarkannya berjalan sendirian

"Oh, hai princess." Lucy hampir saja terlonjak kaget saat melihat sosok pemuda yang sudah lama tak ia jumpai, kini menyapanya. Lebih tepatnya bertemu di depan toko eskrim yang sangat terkenal di daerahnya. Matanya langsung menyipit dan menatap nyalang dibalik kacamata bundarnya pada sosok berambut pirang sepertinya yang kini tersenyum jenaka meski wajahnya tampak pura-pura takut. "Jackal."

"Wow…wow…wow, santai saja princess. Aku sudah tak bertarung lagi. Semenjak kau berhenti, aku jadi bosan sendiri." ia berjalan mendekat Lucy yang malah melangkah mundur. Ia sama sekali tak berniat untuk dekat-dekatan dengan musuh lamanya.

Pemuda itu merogoh kantung belanjaannya lalu mengeluarkan sebatang lollipop dan menyodorkannya pada Lucy. "Mau?"

"Hentikan tingkah sok baikmu, Jackal." Desis Lucy. Jackal terkekeh pelan, cukup membuat Lucy menyerngit heran sekaligus ngeri. Pemuda itu lantas meletakkan permen lollipop tersebut ke tangan Lucy dengan sedikit paksaan. Memberikan senyuman jenakanya pada sosok gadis yang mengubah pandangan hidupnya meski ia membencinya dulu.

Lucy hampir saja menepis permen pemberian Jackal, namun melihat senyum tulus lelaki itu, ia mengurung niatnya. "Kalau kau sedang mencari seseorang, mungkin dia ada di dalam sana. Memakan es krim dengan bocah kecil." Tuturnya sambil menunjuk toko es krim tadi lalu menepuk pelan bahu Lucy.

"Lagipula aku sudah tak punya pekerjaan lagi. Jadi, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, princess." Ia berlalu begitu saja. Berjalan dengan langkah ringan, meninggalkan Lucy yang mematung bingung. Hingga gadis itu berbalik untuk bertanya, hanya jalanan sepi tanpa ada sosok Jackal.

Di tatapnya permen lollipop tersebut sebentar lalu mengikuti perkataan Jackal. Ia tak tahu apa maksud pemuda berperawakan berantakan tersebut. Hanya saja, sekilas melihat mata Jackal yang berbinar tulus itu yang membuatnya tergerak. Sedikit berharap bahwa yang dicarinya memang berada disana.

Didorongnya pintu besi tersebut hingga terdengar bunyi kerincing bel yang nyaring. Di sana, ia melihat sosok yang di carinya sedang memakan es krim bersama seorang bocah kecil. Tertawa pelan sambil mengusap bibir bocah tersebut yang belepotan lalu ikut memakan es krimnya.

"Natsu." Pemuda itu lantas ikut melihat. Mendengar suara lirihnya yang memanggil namanya dan membulatkan matanya pada sosok gadis yang kini termangu di depan pintu toko.

"Luce…"

Lucy tak tahu apakah ia harus berterima kasih pada Jackal atau siapapun. Namun, ia semakin bingung dengan lelaki pirang yang tahu bahwa yang ia cari sebenarnya adalah Natsu. Siapa sebenarnya Jackal itu? Apa benar kalau dia hanya berhenti berkelahi karena bosan?

Begitu banyak pertanyaan bersarang di kepalanya hingga ia tak sadar bahwa meja yang ditempati Natsu sudah kosong dan kini pemuda itu berdiri di hadapannya bersama bocah tadi dengan wajah aneh. Bingung, sedih dan juga rindu.

Hingga sebuah suara menyentak mereka berdua. Suara dengan nada gertak yang khas. "Hei, jangan berdiri di depan pintu tokoku! Kalian menghalangi pelangganku daritadi!"

Oke, cukup adegan dramanya. Ia segera menarik tangan Lucy dan bocah itu untuk keluar toko sebelum di tendang oleh pemilik toko.


Setelahnya tak ada kata-kata yang keluar baik dari mulut Natsu maupun Lucy. Keduanya sibuk dengan isi pemikiran masing-masing dan terus berjalan melewati kompleks perumahan Lucy. Kejadian ditoko eskrim tadi sama sekali tak membantu. Mereka hanya pergi mengantarkan bocah tadi pulang kerumahnya dalam diam –karena Natsu hanya berbicara dengan bocah bernama Romeo tersebut dan terus mengacuhkannya- hingga Natsu berinisiatif duluan untuk mengantarkannya ke rumah karena langit sudah menampakkan semburat kemerahannya lalu tak ada percakapan setelahnya.

Hanya tinggal beberapa langkah menuju kediaman Heartfilia dan Natsu terus diam. Lucy berulang kali menyadarkan dirinya sendiri untuk berbicara namun entah kenapa lidahnya terasa kelu saat ini. Entah kenapa ia merasa menjadi orang bodoh saat ini hanya karena tak sanggup menatap Natsu atau bahkan mengucapkan permintaan maaf.

"Kalau ada yang ingin kau katakan padaku, katakan saja." Suara Natsu terdengar datar dan ia menatap lurus Lucy yang menggigit bibirnya. Jemari gadis itu tak berhenti mencengram erat ujung seragam sekolahnya dan menundukkan kepalanya terus menerus.

Natsu terus menunggu hingga lima menit Lucy tetap tak berkeinginan untuk membuka mulutnya, ia menghela napas pelan. Ditepuknya kepala Lucy dengan lembut dan mengelusnya sekali. "Baiklah, aku takkan memaksa. Kalau begitu aku pulang, Luce."

Ia mengambil langkah menjauh. Memberi satu senyuman tulus –yang sanyangnya tak dilihat Lucy- lalu berjalan meninggalkan gadis pirang tersebut di depan gerbang rumahnya.

"N-Natsu!" teriakan Lucy membuatnya berhenti melangkah secara spontan. Ia berbalik dan matanya melebar sempurna begitu melihat Lucy membungkuk 90 derajat padanya. Angin musim panas berhembus pelan dan entah kenapa tubuhnya merinding sempurna. Kakinya terasa mati rasa saat ini dan hatinya terasa begitu sakit melihat Lucy di hadapannya.

"M-maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Memang tak sepantasnya aku bicara seperti itu padamu padahal kau sudah menolongku begitu banyak. A-aku hanya tak ingin kau mencampuri hidupku yang rusak karena aku takut kau terluka. A-aku hanya tak ingin menyulitkanmu karena ku." Ujarnya terbata-bata. Matanya memanas secara tiba-tiba dan ia kembali mengigit bibirnya dengan kuat.

Ia terlalu takut untuk menatap Natsu saat ini sehingga ia buru-buru menegakkan tubuhnya dan ingin berlari ke dalam rumah. Ia benar-benar pengecut saat ini. Jadi ia memilih mengambil langkah seribu dan masuk ke dalam kamarnya untuk memikirkan cara lainnya agar Natsu mau memaafkannya.

Namun belum sempat ia melangkah, tubuhnya langsung membeku sempurna. Matanya melebar dan jantungnya berdebar dengan kencang. Otaknya tak mampu memproses apa yang terjadi karena ia hanya bisa merasakan dua hal.

Hangat dan lembut.

Karena Natsu Dragneel menciumnya tepat dibibirnya.

TBC


chap.9 update!

gomenne minna-san, kelamaan saya updatenya. Idenya nyangkut mulu jadi gak selesai-selesai nih chap.9 TT

dan kenapa beberapa chap akhir-akhir ini saya malah kebanyakan nulis drama ya? bingung sendiri saya wkwkwkw

finally, akhirnya mereka ciuman. Kenapa susah amat ya buat adegan kissu yang 'ngeh' gitu? saya ampe stress sendiri gara-gara adegan kissu nya ditengah konflik. Awalnya pengen buat kayak di drama-drama gitu, eh malah mikir lebay juga ya kalau dibikin begituan haahahah sehingga jadilah yang beginian XD

saya mau balas review minna-san dulu ya

ifa. dragneel92: ah, kamu kenapa manis banget sih? kan aku jadi terharu TT... makasih loh do'a nya meski aku telat balasnya tapi aku jadi cepat sembuh loh gara-gara baca review kamu *plak... gimana chap ini? semoga kamu puas ya ;D gomen ya lama banget updatenya TT

r dragneel77: wahahaha, kamu neror aku tuh yang bikin aku mikir keras biar gak dilempar ke pluto XD semoga kamu suka ya dengan chap ini dan gomen aku telaaaat banget updatenya TT makasih ya udah reveiw^^

Hashimatsu: hahahah, ketahuan deh idenya lagi sedikit makanya wordnya dikit XP oke sip, saya bakalan selesaiin ni ff ampe END... wah, saya pun gak nyangka loh jackal ama jose muncul padahal pengen chara lain tapi entah kenapa teringat di manga dan saya rasa cocok banget karakter mereka buat nyiksa Lucy hehehe... semoga kamu suka ya chap ini.. makasih udah review ^^

Hrsstja: wah, itu masih rahasia buat reaksi sebenarnya Natsu pas scene jose... tapi saya sudah ngehint dichap ini kok hehehe... dan yup, mungkin kalau mereka ketemu, yang ada bukan jatuh cinta malah saling bertarung hahahah makasih udah review... semoga kamu suka chap ini ^^

syai: unik? wah, makasih loh dibilang unik hehehe... ini udah dilanjutin... semoga kamu suka ya... makaish udah review ^^

makasih juga yang udah ngebaca ff saya.. .arigatou gozaimasu!

baiklah, saya rasa sekian saja dulu

salam hangat with love

IreneReiko-chan

mind RnR?