Chapter 11

Lucy berlari-lari melewati lorong-lorong kelas dengan cepat. orang-orang yang melihatnya hanya terheran-heran pada sosok gadis cupu yang belakangan ini bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Beruntung saja para guru sedang tidak melintas dilorong kelas.

Ia terus berlari hingga kakinya membawa ke taman sekolah. Ia terengah-engah sambil mencari sosok Jackal yang tadi berdiri di bawah pohon yang sama. Tak ada siapapun lagi disana kecuali dirinya sendiri. Apa tadi dia hanya berhalusinasi?

"Mencariku, princess?" Ia langsung membalikkan badannya begitu mendengar suara yang memanggilnya dengan panggilan khasnya. Napasnya masih belum teratur dan ia hanya bisa menunjuk wajah Jackal sambil bertopang lutut.

Jackal tersenyum tipis setelahnya. Ia tarik lengan Lucy untuk duduk di salah satu kursi taman sekolah dan ia pun duduk di samping gadis itu. Lucy semakin yakin bahwa Jackal memang sudah berubah. Ia tak pernah melihat lelaki ini begitu lembut pada seorang wanita sekalipun.

"Kenapa kau kemari?" tanya Lucy tanpa basa-basi. Jackal tertawa pelan mendengarnya. Gadis ini sama sekali tak berubah, kecuali penampilannya saja. Tampak masih menyimpan rasa was-was padanya.

Setelahnya Jackal mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku jaketnya. Diserahkannya amplop tersebut pada Lucy, membuat gadis itu menyerngit heran. "Apa ini?"

"Surat permintaan maafku. Aku juga sudah ke rumahmu mengantarkan surat pengunduran diriku." Jelas Jackal. Kerut didahi Lucy semakin bertambah dengan wajah bingung yang cukup membuat Jackal menahan gemas.

"Apa maksudmu?" tanyanya lagi. Ia sama sekali tak berniat membuka amplop tersebut dan menaruhnya diatas pangkuannya saja. Ia menuntut jawaban pasti dari Jackal langsung daripada sebuah surat.

Jackal menghela napas sejenak. Ini pertama kalinya ia memberanikan diri berbicara serius pada Lucy. Sudah begitu lama mulutnya gatal untuk berbincang dengan gadis yang pernah menghajarnya hingga babak belur dan juga gadis yang membuatnya tertarik akan dunia si gadis pirang ini.

Ia merogoh kantung jaketnya lagi dan mengelurkan beberapa lembar foto. Disuruhnya Lucy untuk melihat isi foto tersebut sebelum ia menjelaskannya. "Kenapa ada fotoku padamu?" tanya Lucy yang semakin bertambah bingung.

Ia memeriksa foto yang berisi saat ia berangkat ke sekolah, belajar di perpustakaan, hang out bersama Loke dan Levy, dan banyak lagi foto tentang kegiatan sehari-harinya.

"Aku yang memataimu selama ini." Ucapnya pelan. Jackal menundukkan kepalanya. Merasa bersalah pada Lucy yang kini melotot tak percaya. "Tuan Jude yang menyewaku. Dia tahu kalau akulah yang menyebabkanmu babak belur saat itu. Awalnya Tuan Jude marah besar padaku, mengancam akan membunuhku karena sudah membuat putrinya mempermalukan nama baik keluarganya tapi Nyonya Layla menyuruhku untuk menjadi pengawal rahasiamu sebagai permintaan maaf."

Lucy hanya diam mendengarkan. Awalnya ia ingin marah pada Jackal. Ingin menyalahkan pemuda itu karena membuatnya bertengkar dengan Papa dan Mamanya. Tapi saat mendengar nama Papanya disebut, ia langsung bungkam.

"Aku sudah memantaumu sejak kau dikurung di rumahmu. Awalnya aku benar-benar membencimu. Kau menghancurkan harga diriku, membuat ayahmu mengancamku untuk melapor pada polisi bahkan mengancamku untuk tidak bisa bersekolah lagi jika aku tak mematuhinya. Tuan Jude benar-benar menyeramkan." Jelasnya.

Ia benar-benar bergidik begitu mengingat kembali saat ia ditarik paksa oleh bodyguard Heartfilia dari rumahnya saat ia masih belum pulih dari hasil perkelahiannya dengan Lucy. Membawanya ke dalam ruang kerja –yang rasanya hampir sama dengan ruang eksekusi- dan membuatnya berlutut meminta maaf setelah ancaman yang bertubi-tubi dari Jude.

"Papa melakukan hal seperti itu padamu?" tanyanya tak percaya. Jackal hanya mengangguk.

"Tapi karena aku melakukan apa yang dia mau, biaya sekolahku di bayar oleh Tuan Jude. Aku juga diberi gaji meski tak terlalu banyak. Tapi bukan itu yang mau kukatakan. Jadi, karena aku masih menyimpan dendam padamu, aku hanya memataimu tanpa ada semangat sama sekali. Aku hanya menjalankan perintah Tuan Jude untuk memotret setiap kegiatanmu –kecuali mandi dan berganti pakaian tentu saja- dan melaporkan semuanya pada Tuan Jude." Pipinya memerah entah kenapa begitu mendegar penuturan Jackal. Entah ia malu karena ketahuan sering mengganti pakaian tanpa mengingat untuk menutup gorden ataupun malu karena pernah berdansa sendirian dengan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya meski ia tak ingat kapan itu.

Jackal melirik kearah Lucy yang menunduk sebentar dan kembali melanjutkan penjelasannya."Dari sanalah semuanya dimulai. Aku pikir, pasti menyenangkan menjadi gadis kaya raya. Menyuruh orang tuamu menyelesaikan masalahmu dan berbuat seenaknya saja. Tapi saat aku melihat tatapan kosongmu selama ini, aku semakin tak yakin. Aku berpikir ulang tentang pemikiranku. Kau seperti boneka di mata keluargamu. Kau tak pernah keluar dari rumah sedikit pun setelah perkelahian kita. Kau bahkan tak merasa sakit saat si guru mesum itu memukulmu seenaknya saja."

Ia mengepalkan tangannya erat. Darahnya kembali berdesir ketika mengingat kejadian memuakkan itu. ia ingin berlari masuk ke dalam rumah Heartfilia, menghajar si guru mesum itu sebelum berbuat sesuatu pada Lucy yang bahkan tak berteriak sedikitpun. Mata dan pikirannya benar-benar kosong seperti boneka tanpa jiwa. Namun ia bukan siapa-siapa. Jude melarangnya menginjakkan kakinya memasuki perkarangan Heartfilia tanpa seizinnya. Saat itu, ia benar-benar berterima kasih pada lelaki berambut jingga gelap yang selalu mengunjungi Lucy itu datang disaat yang tepat dan menghajarnya.

Apalagi, karena lelaki yang menjadi sepupunya Lucy itu si putri terkurung bisa kembali hidup dan melihat matahari setelah sekian lama.

"Aku benar-benar bersyukur saat kau akhirnya bisa keluar dari rumahmu sendiri saat itu. Aku semakin mudah memantaumu saat diluar, semakin tertarik tentangmu. Aku yang baru tahu kalau kau sebenarnya hanya gadis biasa yang juga bisa merasa takut. Apa phobiamu sudah sembuh?" tanya Jackal. Rautnya jelas menggambarkan kekhawatiran yang belum pernah ia perlihatkan.

Lucy tersentak kaget saat Jackal malah bertanya padanya. Ia menggeleng pelan sebagai jawaban. "Aku masih sulit bernapas kalau berada di dekat orang banyak."

"Kau harus belajar mengobatinya. Akhir-akhir ini aku tak mengamatimu lagi setelah kau kabur dari rumah karena hasil jepretanku. Kurasa aku membuatmu terluka lagi. Padahal aku sudah janji pada diriku kalau aku akan melindungimu meskipun diam-diam."

Lucy entah kenapa tersenyum lembut setelahnya. Ia tahu bahwa Jackal tak membohonginya sama sekali. Ia bisa mendengar dengan jelas nada kecewa Jackal.

"Sudahlah. Itu juga salahku. Lagipula, aku tak bisa merahasiakan tentang diriku terus dari keluargaku. Lambat laun pasti mereka tahu, entah itu darimu ataupun dari orang lain." Tutur Lucy. Jackal benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa gadis baik seperti Lucy pernah ia lukai dan ia benci hanya karena masalah sepele. Bahkan Lucy seperti sudah menganggapnya sebagai teman.

"Ngomong-ngomong, terima kasih sudah menjelaskannya padaku. Aku sudah paham garis besarnya dari ceritamu. Jadi kau mengundurkan diri sebagai bodyguard rahasiaku?" tanya Lucy memastikan. Jackal mengangguk membenarkan. "Kau sudah tak butuh perlindungan dariku –meskipun aku tak berbuat banyak untukmu. Kau sudah punya Natsu sekarang."

Lucy tersentak begitu nama Natsu disebut. Ingatannya kembali menampilkan saat Jackal tiba-tiba menyuruhnya masuk ke dalam toko eskrim karena Natsu berada di dalam bersama seorang bocah kecil sedang menikmati eskrim bersama. "Ah ya, bicara tentang Natsu, dari mana kau kenal Natsu?"

"Dia dan Zeref teman masa kecilku." Jawabnya santai sambil tersenyum tipis.

"What!?"

Yanke-kun to Yanke-chan?

~Fairy Tail~

Pairing: Natsu x Lucy

Genre: Romance and Humor

Warning: OOC and Typo's bertebaran

Lucy hanya menatap amplop yang berada ditangannya dengan berbagai macam pikiran. Jackal, Papanya dan Natsu berada di pikirannya. Ia terus berjalan melewati taman dimana tadi ia berbincang dengan Jackal dan mendapatkan sebuah pelukan pertemanan dari pemuda tersebut sebelum akhirnya kabur dari gedung sekolahnya dengan cara melompat dari pagar.

Pantas saja lelaki itu bisa masuk sembarangan tanpa seragam sekolah.

"Obrolan kalian kelihatannya cukup seru." Lucy hampir saja memekik kaget begitu mendengar suara Natsu yang terkesan sinis. Dilihatnya sosok Natsu sedang menyender pada dinding halaman samping sekolah dengan mata memicing.

Benar-benar duo sahabat. Mereka sama-sama suka membuatnya terkejut.

Mata pemuda itu beralih pada amplop putih yang berada ditangan Lucy dan tatapannya semakin mengeras. "Bahkan kau mendapatkan surat cinta dari sahabatku."

Jangan tanya kenapa Natsu bisa tahu kalau Lucy berada di taman belakang sekolah. Ia melihat gadis itu berlari dari lorong ke lorong yang membuatnya mengekor dari belakang dan menyembunyikan diri saat melihat sosok Jackal muncul dari belakang Lucy.

Tentu saja darahnya mendidih begitu melihat Jackal menyentuh tangan Lucy seenaknya dan menarik gadis itu untuk duduk berdua di kursi kayu. Ditambah Lucy tak protes sama sekali saat tangannya dipegang seenaknya oleh Jackal, meskipun pemuda itu sahabatnya sejak kecil.

Ia menarik tangan Lucy dan menyudutkan gadis itu di tempat ia bersandar tadi. Mengurungnya dengan lengannya dan menatap intens sosok Lucy yang terkaget dengan tarikannya yang cukup kasar.

"Lepaskan aku, Natsu." Pinta Lucy sambil memegang lengan Natsu agar pemuda itu melepaskan kurungannya. Bukannya melepaskan, ia malah semakin mendekatkan tubuhnya hingga ia harus menahan tubuh Natsu di dada pemuda itu agar memberi jarak diantara mereka. Jantungnya sudah berdebar kencang karenanya, ditambah ia bisa menghirup aroma jeruk dari Natsu.

Ia sudah tak tahu apa yang merasuki Natsu karena pemuda itu semakin mendekatkan tubuhnya dan kini menatap intens padanya. Wajah Lucy sudah memerah total karena menatap Natsu yang benar-benar tampan dalam jarak dekat seperti ini.

"Kau tahu aku orangnya sangat posesif pada hal yang kusuka." Ucapnya lirih.

Lucy hanya diam sambil meneguk ludahnya saat melihat mata Natsu berkilat kesal padanya. "Jangan mau dipeluk dan dipegang laki-laki lain selain aku. Kau milikku."

Dan Natsu langsung melahap bibir Lucy tanpa aba-aba sedangkan gadis itu membola kaget karena ciuman posesif Natsu. Bukan ciuman seperti kemarin tapi ciuman yang menjelaskan bahwa Lucy adalah miliknya dan hanya dia yang bisa memiliki Lucy. Ciuman yang membuaikan hingga Lucy pun ikut terbawa suasana dan mulai memeluk leher Natsu, memperdalam ciuman yang malah semakin menuntut sementara jemarinya meremas rambut pinkish Natsu.

Natsupun begitu, tangannya yang tadi menjadi penghalang Lucy untuk kabur, kini berpindah ke pinggang Lucy dan memeluknya erat. Tepat saat napas keduanya mulai habis, mereka saling melepaskan dan memburu pasokan udara sebanyak-banyaknya. Tak menghiraukan bel masuk yang sudah berbunyi sedari tadi.

Dilihatnya, Lucy memerah dengan mata sayu menatapnya. Tangannya masih memeluk erat lehernya dan bibirnya memerah basah karena ciuman mereka. Ia tersenyum lembut setelahnya, mengusap bibir Lucy dengan ibu jarinya dan terkekeh sebelum akhirnya melepaskan tangannya dari pinggang ramping Lucy.

Lucy pun yang baru tersadar apa yang sudah terjadi, langsung melepaskan tangannya dari leher Natsu dan menunduk dalam. Wajahnya sudah memerah total dan ia benar-benar ingin menenggelamkan dirinya saat ini ke dalam jurang. Benar-benar memalukan.

Pemuda itu mengusap kepala Lucy lembut, membuat gadis itu mendongak sejenak lalu menatap bersalah pada rambut Natsu yang berantakan karena ulahnya. "Ah, rambutmu…" ucapnya pelan sambil mencoba menyisir rambut Natsu dengan jemarinya. Natsu hanya tersenyum tipis, membiarkan Lucy merapikan rambutnya lalu mengecup pelan bibir gadis itu saat selesai.

Ia menyengir melihat Lucy yang memerah antara malu dan kesal. "Jangan menciumku tiba-tiba, Dragneel-kun. Aku bisa mati muda karenamu." Gerutunya yang malah membuat Natsu tertawa.

"Baiklah, lain kali aku akan meminta izin padamu sebelum menciummu. Asal jangan membuatku cemburu seperti tadi. Aku tak bisa mengontrol emosiku."

Itu dia. Lucy jadi jengkel sendiri karena Natsu menuduhnya seenaknya saja. Padahal belum juga dia sempat menjelaskan situasinya, si kepala merah muda ini seenaknya saja langsung menciumnya. Yah, walaupun ia akui ia juga terbuai.

"Nah, aku tadi mau menjelaskan, kau malah berbuat seenaknya. Ini cuma surat permintaan maaf Jackal untukku dan pelukan tadi hanya pelukan selamat tinggal. Dia sudah tak bekerja lagi sebagai mata-mata Papa." Jelas Lucy. Ia berkacak pinggang menatap Natsu yang hanya nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya. Merasa bersalah.

Hilang sudah pipi memerahnya. Ia benar-benar tak suka jika ada yang menuduhnya yang tidak-tidak.

"Ayolah, aku hanya cemburu. Tak ada salahnya kalau kau cemburu karena pacarmu yang berduaan dengan laki-laki lain bahkan jika itu sahabatku sendiri." Bujuk Natsu. Lucy menghela napas, membenarkan perkataan Natsu yang masuk akal.

"Sudahlah, lebih baik kita masuk ke kelas sekarang sebelum bel bunyi." Ajak Natsu, mencoba mengalihkan pembicaraan. Lucy mengangguk mengiyakan. Sebaiknya mereka cepat-cepat masuk ke kelas sebelum bel masuk berbunyi. Ia tak ingin terlambat saat pelajaran Capricorn-sensei.

Tampaknya keduanya benar-benar tak mendengar bahwa bel sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu.


"Karena kau, kita jadi telat masuk." Gerutu Lucy pada Natsu yang berjalan santai disampingnya. Gadis itu memicing galak pada Natsu yang bersiul ria karena memang ia sudah menjadi pelanggan tetap untuk hukuman berdiri di luar kelas dengan satu kaki sambil memegang telinganya.

Hubungannya dan Lucy memang sudah membaik tapi ia sama sekali tak tahu Lucy akan semarah ini padanya hanya karena dihukum oleh Capricorn-sensei berdiri di depan kelas dan mengerjakan tugas membuat puisi dari lelaki jenggotan tersebut.

Bahkan ciuman tadi siang tampak tak berpengaruh pada Lucy saat ini. Di kepalanya hanya ada rasa malu karena sudah terlambat masuk, meskipun ia pernah membolos. Tapi setidaknya itu karena keinginannya bukan karena si kepala pink yang seenaknya menciumnya dan membuatnya lupa bahwa bel sebenarnya sudah berbunyi sedari Natsu mulai memojokkannya di dinding. Akalnya benar-benar hilang saat itu.

"Sudahlah, Luce. Aku minta maaf. Lagipula kau juga keenakan kucium tadi." Jawabnya santai. Wajah Lucy memerah mendengarnya dan ia langsung menyikut perut Natsu kuat. Menatap kesal pada Natsu sebelum memalingkan wajahnya.

Natsu bukannya biasa saja saat berkata seperti itu, jantungnya sudah berdebar kencang sedari tadi mengingat ia mencium Lucy dengan cukup ehempanasehem. Namun ia sebisa mungkin menutupinya karena ia sudah kepalang malu jika tiba-tiba panic seperti orang idiot di pertengahan kota dengan banyak orang-orang yang berlalu lalang.

Sebenarnya sedari tadi Lucy sudah mengajaknya untuk menemaninya berbelanja sebagai permintaan maaf karena sudah membuat gadis bermarga Heartfilia itu terkena hukuman untuk pertama kalinya. Tapi tetap saja gadis yang berjalan disampingnya ini tak berhentinya menggerutu padanya.

"Kau mau makan apa, Natsu?" tanya Lucy tiba-tiba. Ia masih memalingkan wajahnya dari Natsu meskipun kini ia berbicara pada pemuda yang berada di sampingnya tersebut.

Natsu menaikkan alisnya. Tumben gadis ini yang menanyakan ia ingin makan apa. Biasanya juga dia yang menyuruh Lucy untuk memasakkan sesuatu untuknya.

Lucy menatap Natsu dengan wajah cemberutnya meski rona merah masih bersarang dipipinya. "Papa dan Mama sedang keluar kota. Aku bisa memasak apapun yang kumau malam ini. Anggap saja permintaan maafku untukmu."

Meskipun Natsu tak tahu kenapa kekasihnya meminta maafpadanya, namun ia tak ambil pusing. Toh sudah lama ia tak memakan masakan Lucy dan ini kesempatan emas selagi gadis itu mau memasak untuknya tanpa paksaan garis miring perintah.

"Kau tau apa yang kusuka, Luce." Jawabnya sambil menyengir lebar.

Lucy menghela napas dan tersenyum tipis setelahnya. Ia rasa untuk hari ini ia akan gagal diet.

TBC


Hai, hai, hai...!

maaf ya kalau chapter 11 baru di up sekarang setelah nganggur setahun... gomennasai :'(

kukira dulu ff udah diblokir eh ternyata cuma diblokir sama jaringan tertentu dan aku makai jaringan yang malah ngebuat ff jd diblokir dan nggak bisa up lagi... huhuhuhu

oh iya makasih juga yang udh setia nungguin ini ff update dan juga reviewnya... arigatou gozaimasu

i hope you enjoy this chapter~~~

salam hangat penuh cinta

IreneReiko

mind RnR?