The Bastard King
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And the other cast
School Life, Romance, Drama
Warning :
Genderswitch
Humor garing
Banyaknya kata hinaan
P.s :
Tolong scroll ke bawah dulu dan baca author notes paragraf 1. Ini penting
supaya kalian ngerti jalan ceritanya.
The story is mine, but the cast are not mine.
Happy Reading!
.
.
.
.
.
Chapter 1 ㅡ The First Meeting
Seorang gadis bersurai cokelat caramel terlihat tengah mengayuh sepeda kesayangannya sambil bersenandung riang di sepanjang jalan yang ia lewati. Earphone yang menempel ditelinganya membuat ia semakin bersemangat untuk memulai hari ini. Terlebih ketika suara idolanya muncul menyanyikan lagu kesukaannya.
Sebut saja Baekhyun itu aneh dan fans hardcore. Diumurnya yang ke 18 ia bahkan masih suka saja mengidolakan boyband beranggotakan lima orang yang tampan itu. Teman-temannya di Mapo selalu mengejeknya dengan mengatakan 'Hei byun, mau sampai kapan kau menghabiskan waktumu hanya untuk menjeritkan nama si kunci jelek itu? Pengawal tidak butuh idol' katanya. Dan setelah temannya itu mengejek Baekhyun habis-habisan, Baekhyun akan langsung menendang bokongnya kuat-kuat.
Apa peduli Baekhyun? Bagus kalau si kunyuk itu langsung dikirim ke pemakaman besok. Bukan urusannya jika Baekhyun suka Shinee! Bukan haknya untuk melarang Baekhyun tidak boleh menyukai Key. Itu pasti karena si kunyukㅡdibaca Jonghyunㅡ telah patah hati karena Baekhyun menolaknya dan lebih memilih mencintai Key oppanya ketimbang si kunyuk Jonghyun. Oh betapa mirisnya hidupmu Jonghyun.
Saat ini Baekhyun tengah memasuki sebuah gerbang sekolah yang cukup mewah. Ia mengayuh sepedanya lebih pelanㅡmencari sebuah tempat dimana banyak kendaraan disimpanㅡparkiran. Setelah menemukan tempat yang kosong, Baekhyun segera memarkirkan sepedanya sambil melepaskan earphonenya; menyimpannya.
.
.
.
.
.
Bel sekolah itu berbunyi menandakan bahwa sekarang telah tiba saatnya bagi para murid di Hanyang untuk memulai pelajaran. Sebuah mobil lamborghini hitam terlihat meluncur memasuki parkiran Hanyang. Si pengendara lamborghini memarkirkan mobilnya asal-asalan hingga membuat sebuah sepeda yang telah lebih dulu diparkir di depannya terguling ke sebelah kanan.
"Oh sial!" Umpat seorang gadis yang sedang berjongkok mengikat tali sepatunya di sisi sebelah kiri sepeda itu.
Gadis berambut cokelat caramel itu segera berdiri, bersiap-siap memaki si pengendara kurang ajar yang memarkirkan mobilnya sembaranganㅡwell, sebenarnya Baekhyun adalah gadis yang sangat menjunjung etika. Tetapi pengendara ini perlu diperingati, pikirnya.
Detik selanjutnya Baekhyun hanya bisa melongo ketika melihat siapa pengendara kurang ajar ituㅡDemi Tuhan! Itu Park Chanyeol. Matanya tidak mungkin salah lihat, kan? Semalaman ia mencari tahu segala sesuatu tentang Park Chanyeol yang akan ia awasi dan kini orang itu berdiri di hadapannyaㅡmemandangnya dengan sorot tajam, mengintimidasi, dan merendahkan.
Chanyeol memiringkan kepalanya ke sebelah kanan, menunggu reaksi selanjutnya dari gadis di hadapannya. Chanyeol pikir gadis ini cukup menarik karena apa yang ia dapat dari gadis ini jauh berbeda dengan ekspektasinya. Biasanya siapapun perempuan yang berhasil mendapatkan eye contact dari Chanyeol akan memberinya sebuah tatapan memuja. Chanyeol bahkan dapat membaca raut wajah mereka yang seolah mengatakan 'telanjangi aku sekarang, tolong' atau 'setubuhi aku dengan keras, kumohon'. Oke itu sangat menjijikkan tetapi memang begitulah adanya.
Setelah menyadari dirinya hanya diam dan melongo, Baekhyun spontan menggelengkan kepalanya, berusaha tampak senormal mungkin di hadapan Chanyeol. Ia kemudian teringat apa yang membuatnya bertatapan seperti ini dengan Chanyeol. Baekhyun langsung memberikan tatapan sengit kepada Chanyeol lewat ujung matanya. Ia segera berlalu dari aksi saling-tatap-mentap; mengambil sepedanya yang terjatuh dan membawanya pergiㅡmencari tempat parkir di daerah lain. Meninggalkan Chanyeol, berpura-pura tidak melihatnya.
Ketika Baekhyun sudah pergi Chanyeol hanya mengangkat bahunya ringan; berusaha tidak peduli walaupun pada kenyataannya ia heran mengapa Baekhyun berani menatapnya begituㅡtidak pernah ada yang berani mentap Chanyeol dengan tatapan seperti itu sebelumnya. Chanyeol selalu dihormati dan dikagumi. Dan ini adalah pertama kalinya Chanyeol bertemu dengan orang semacam Baekhyun.
.
.
.
.
.
The Bastard King
Baekhyun sedang berjalan di koridor sekolah sambil menggerutu. Dia masih kesal karena kejadian tadi.
"Pantas saja! Tidak ada parkiran khusus sepeda disini. Sialan." Lagi, Baekhyun melanjutkan ocehannyaㅡtentu saja dengan volume kecil jadi tidak ada siapapun yang bisa mendengar selain dirinya.
Chanyeol itu seorang putra mahkota. Walaupun Chanyeol bersalah, Baekhyun tetap harus menghormatinya karena disinilah kasta berbicara. Baekhyun masih saja menggerutu sampai-sampai ia menabrak seorang anak lelakiㅡtidak! Lebih tepatnya mungkin bertabrakan. Ayolah, ini seperti didrama saja. Jika didrama-drama kau mungkin akan bertabrakan dengan senior mu di sekolah yang tampannya diluar kewarasan, maka sekarang yang terjadi pada Baekhyun justru kebalikannya.
Baekhyun bertabrakan dengan seorang dinosaurus! Baekhyun menyebutnya begitu karena wajah anak lelaki ini berbentuk kotak, lehernya panjang, dan jangan lupakan kaca mata bulatnya yang tebal!ㅡugh. Mereka bertabrakan tetapi tidak sampai terjatuh. Baekhyun hanya terhuyung ke belakang dan banyak buku berserakkan di sekitar mereka.
"Uhm.. maafkan aku. Aku terlalu terburu-buru tadi hingga aku menabrak mu."
Itu suara Baekhyun. Baekhyun merasa dia memang harus meminta maaf karena anak ini pasti tidak melihatnya tadi. Sebelum bertabrakan dengan Baekhyun anak ini membawa begitu banyak buku tebal ditangannya; bertumpuk hingga menutupi wajahnya sendiri. Baekhyun berjongkok
mengambil buku-buku itu satu persatu ditangannya, merapikan keadaan yang kacau ini.
"Bukan masalah. Aku mengerti." Si dinosaurus menyahut Baekhyun dengan cengiran riangnya kemudian ikut berjongkok di samping Baekhyun untuk mengambil buku-bukunya yang lain. Baekhyun menyerahkan buku yang ada ditangannya pada lelaki itu lalu mereka berdiri kembali.
"Kauㅡ" Baekhyun menatap anak itu sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya
"Apa kau tahu jalan menuju kantor kepala sekolah?" Baekhyun memutuskan untuk bertanya pada lelaki ini. Karena jujur saja, jika Baekhyun harus mencari sendiri kantor kepala sekolah, itu akan menghabiskan banyak waktu. Sekolah ini terlalu besar.
"Kau murid baru, ya?" Baekhyun hanya menanggapi pertanyaan anak itu dengan sebuah anggukan.
"Kau sudah salah jalan. Jalan kesana menuju ke kantin. Kantor kepala sekolah ada di sebelah sini." Jelas anak itu sambil menunjuk-nunjuk koridor.
"Ayo ikut aku." Anak itu menyahut kembali dan mengambil langkah di depan Baekhyun.
"Apa kau mau berbagi buku-buku itu dengan ku? Kau terlihat kesusahan."
"Tidak usah. Ini tidak berat."
"Kau mau pergi ke kantor kepala sekolah juga?"
"Tidak. Aku akan pergi ke ruang guru, ruang guru bersebelahan dengan kantor kepala sekolah."
Baekhyun hanya mengangguk-angguk kecil mendengarkan penjelasan anak itu. Mereka masih berjalan menyusuri koridor. Perjalanan ini terasa jauh, pikir Baekhyun. Tadinya Baekhyun sudah sangat senang bisa bersekolah di Hanyang. Akhirnya Baekhyun bisa berbaur dengan banyak orang disini. Pelajaran yang akan Baekhyun terima bukan hanya tentang Bela Diri, Olahraga, Bahasa, dan Etika saja. Membayangkan dirinya bisa belajar Matematika bersama teman-temannya yang lain di sekolah membuat Baekhyun semakin bersemangat. Selama ini Baekhyun belajar Ilmu Pengetahuan Umum secara diam-diam. Tidak ada satupun dari teman-temannya di asrama yang tahu kebiasaan Baekhyun. Ayahnya sekalipun tidak. Baekhyun sangat suka Matematikaㅡaneh bukan?
Setelah bertemu dengan Chanyeol di parkiran tadi, Baekhyun tersadar bahwa dirinya kesini bukan hanya untuk sekedar belajar dan mencari teman. Tapi juga untuk menjadi mata-mata. Ini menyebalkan sekali. Itulah sebabnya kenapa Baekhyun segera mencari Kepala Sekolah. Baekhyun ingin cepat-cepat mengurusi kepindahannya dan mulai berpura-pura. Memulai penyamaran sebagai murid baru di Hanyang kemudian menjadi penguntit setia si gigantisme.
"Oh ya, nama ku Kim Jongdae. Siapa nama mu?" Tanya anak itu sumringahㅡmemecah lamunan panjang Baekhyun
"Eh? Baekhyun. Byun Baekhyun." Baekhyun membalasnya dengan respon yang terlambat.
"Nah Baekhyun, kau tinggal belok ke kanan saja ya. Pintu berwarna cokelat muda itu adalah ruang kepala sekolah. Aku akan ke ruang guru. Ruang guru ada di sebelah sini." Jelas Jongdae sambil menunjuk arah yang berlawanan dengan tempat tujuan Baekhyun.
"Ah ya terima kasih Jongdae."
.
.
.
.
.
The Bastard King
"Aku sudah membaca berkas-berkas mu yang dikirim oleh asrama mu di Mapo kemarin. Kau sangat berbakat di bidang olahraga berkuda. Sungguh sebuah kehormatan untuk menerima mu di Hanyang. Kami baru-baru ini mengadakan ekstrakurikuler untuk olahraga berkuda. Kau bisa mengikutinya nona Byun. Kami bisa mendaftarkan mu ke perlombaan internasional jika kau mauㅡ"
"Pak akuㅡ"
"Tidak sulit bagi Hanyang untuk mengembangkan bakat mu yang luar biasa ituㅡ"
Baekhyun sudah duduk diam di ruangan ini terhitung 15 menit lamanya dan kepala sekolah botak tambun ini terus-terusan mengulangi ucapannya yang samaㅡmemuji-muji bakat Baekhyun tentang kemampuan berkudanya, hapkido, Bahasa Inggris dan Mandarin Baekhyun, dan hal lainnya yang menurut Baekhyun sama sekali tidak penting. Baekhyun memang sering mendapatkan pujian karena ia cerdas dan berbakat. Tetapi untuk kali ini Baekhyun sudah terlalu malas mendengarnya. Baekhyun ingin segera masuk ke dalam kelas dan belajar!
"Pak bukankah sebaiknya sekarang saya mulai ikut kegiatan belajar di dalam kelas?" Baekhyun bertanya dalam satu kali tarikan nafasㅡmenyela.
"Oh ya. Tentu saja bisa nona Byun."
"Lalu aku harus bagaimana?" Baekhyun mulai jengah. Kepala sekolah tambun ini sama sekali tidak membantu.
"Apanya yang bagaimana?"
Dasar kau botak!ㅡumpat Baekhyun untuk kepala sekolah gendut ini. Di dalam hati tentu saja.
"Aku tidak tahu yang mana ruangan kelas ku. Siapa wali kelas ku."
"Ah itu..." si kepala-botak-sekolah menyahut.
"Pergilah ke ruang guru dan temui guru Kim Tae Hee. Dia yang akan menjadi wali kelas mu, nona Byun. Mintalah bantuan padanya."
"Baiklah Pak. Terima kasih."
.
.
.
.
.
The Bastard King
"So class, let's start our lesson." Seorang guru lelaki berdarah Koreaㅡsebut saja guru Leeㅡterlihat tengah mengajar di dalam kelas 2A
Guru Lee memang orang Korea, tetapi karena ia mengajar Bahasa Inggris maka ia berkomunikasi dengan murid-muridnya menggunakan Bahasa Inggris.
"What I've told to you last week?" Tanyanya, memecah keheningan.
"We have a quiz today, sir" Nam Joohyukㅡketua murid kelas 2A itu menyahut.
"Okay, tidy up your book." Ujar guru itu memerintah
"Put your test paper on the table. Waitㅡwhere's Chanyeol Park and Jongin Kim?" Tanya si guru sambil melihat ke arah dua kursi kosong yang terletak di paling belakang.
Semua guru di Hanyang tidak ada yang memperlakukan Chanyeol berbeda. Disini Chanyeol diperlakukan layaknya murid-murid lain pada umumnya. Ini adalah permintaan raja. Itu sebabnya guru Lee menyebut nama Chanyeol tanpa embel-embel kehormatannya.
"I've seen him in parking area, sir. But now i dunno where he was"ㅡlagi, Nam Joohyuk si ketua kelas menyahut.
Mendengar jawaban Joohyuk yang sudah terlampau sering ia dapat, guru Lee hanya menghela nafasnya.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu seorang guru cantik dengan badan yang langsing tengah berjalan di sepanjang lorong koridor menuju kelas 3A. Hak sepatu tingginya beradu dengan lantai marmer putih membuat bunyi langkahnya bergema di sepanjang jalannya. Baekhyun yang mengekor di belakang guru itu berusaha menyamakan ritme berjalan guru cantik ini. Ketika mereka sudah sampai di depan pintu kelas 3A, guru itu masuk ke dalam kelas terlebih dahulu. Meninggalkan Baekhyun berdiam diri di luar kelas.
"Selamat pagi." Sapanya dengan senyuman menawan.
"Selamat pagi, Miss." Murid-murid di kelas itu. Membalas sapaan guru ini.
Walaupun nyatanya Kim Tae Hee hanya seorang guru etika tetapi mereka memanggilnya dengan sebutan 'Miss'. Ayolah, dia masih terlalu muda dan cantik untuk dipanggil 'ibu' bukan? Miss lebih cocok. Karena dia lebih terlihat seperti seorang Miss Korea ketimbang seorang guru.
"Hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Segala sesuatu disini adalah baru untuknya. Ku harap kalian mau membantunya."
Guru Kim melihat keluar pintu; dimana tempat Baekhyun berdiri kemudian ia mengedikkan kepalanya ke sampingㅡsebuah perintah halus penuh makna yang mengandung arti 'silakan masuk nona Byun' setelahnya Baekhyun pun melangkah masuk ke dalam kelas itu. Berjalan lurus dengan langkah hati-hatiㅡbelum melihat keadaan kelas barunya.
Ketika Baekhyun sudah berdiri di tengah, ia kemudian mengarahkan tubuhnya untuk menatap seluruh siswa yang ada di sana. Membungkuk sedikit tanda formalitas kemudian berucap mantap,
"Halo nama ku Byun Baekhyun." Diakhiri senyuman manis dan mata bulan sabitnya.
Baekhyun adalah tipe orang yang bisa berubah kapan saja sesuai moodnya. Sebut saja Baekhyun moody-an. Tadi saat bertemu Jongdae, Baekhyun tidak tersenyum seceria iniㅡtentu saja tadi ia kesal setelah bertemu Chanyeol. Tetapi sekarang nampaknya mood Baekhyun sudah berubah lagi.
Murid-murid di kelas itu tampak memandang Baekhyun penuh minat. Beberapa lagi terlihat berbisik kepada teman-temannya yang lain entah itu memuji Baekhyun atau apa.
"Baekhyun murid pindahan dari Mapo. Apakah kalian punya sesuatu untuk ditanyakan padanya?" Tanya guru Kim
Satu tangan mengacung tinggi. Walaupun ia duduk di tempat paling belakang, tetapi Baekhyun tetap dapat melihat wajahnya. Dia sangat tinggi. Tampan dan berwajah seperti pria bule. Atau mungkin dia memang pria bule?
"Baiklah Yifan, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Miss, bolehkah aku meminta izinmu? Aku ingin ke toilet sekarang."
Damn man! Pria ini sama saja dengan Chanyeol. Sama-sama menjengkelkan. Dia boleh tinggi seperti tiang listrik. Tetapi dimana otaknya? Tunggu sebentar, sama dengan Chanyeol? Oh ya, Baekhyun lupa akan hal ini. Si idiot Park itu punya tiga orang teman yang sama-sama idiot dan mereka bertiga adalah grup geng brandalan yang hanya memanfaatkan wajah 'rupawan' mereka.
Wu Yifan ternyata sekelas dengan Baekhyunㅡkelas 3A. Park Chanyeol dan Kim Jongin di kelas 2A dan yang terakhir ada di kelas 1A kalau tidak salah namanya OhㅡOh lupakan saja! Mereka pikir mereka siapa? Geng F4 dari Meteor Garden, begitu? Dan si idiot telinga peri itu berpikir dia Dao Mingshi nya, begitu? Tolong siapkan kantung muntah untuk Baekhyun.
Kembali ke situasi di kelas 3A, Baekhyun yang sedang berdiri di tengah kelas, guru Kim yang berdiri di sisinya, dan tiang listrik bernama Yifan yang ingin pergi ke toilet. Tidak ada yang mengeluarkan satu patah kata pun. Baekhyun memandang sengit Kris, tapi Kris bahkan tidak melirik Baekhyun sama sekali.
"Ya kau boleh pergi Yifan." Guru Kim menjawab pertanyaan Kris setelah sempat terdiam. Mungkin shock karena ia pikir Kris akan bertanya sesuatu pada Baekhyun, nyatanya tidak.
.
.
.
.
.
The Bastard King
Sekarang adalah jam makan siang. Baekhyun mengambil tempat duduk di sudut kantin dekat jendelaㅡmenikmati makan siangnya hari ini sendirian. Menu makan siang hari ini tampak menyehatkanㅡsemuanya serba berwarna hijau. Kantin Hanyang dipenuhi oleh banyak sekali murid.
Semua berlalu lalang kesana kemari mencari meja kosong dan beberapa diantaranya terlihat mengantri untuk mengambil makanan. Salah satu fasilitas Hanyang adalah menyiapkan makan siang untuk murid-muridnya. Dan ini cukup berkelas. Menu makan siang disini sangat mewah bila dibandingkan dengan menu makan Baekhyun di Mapo dulu.
Baekhyun baru saja akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sebelum kantin yang tadinya berisik ini berubah menjadi hening. Baekhyun menolehkan kepalanya kesana kemari mencari sumber alasan kenapa keheningan ini terjadi. Dan pertanyaannya terjawab sudah. Ini terjadi karena geng F4 idiot itu muncul dari pintu utama kantin dengan si telinga peri Chanyeol yang berjalan paling depanㅡseolah memimpin.
Semua murid yang tadinya sibuk mengantri makanan perlahan menyingkirㅡmemberi ruang bagi mereka untuk lewat. Yang benar saja! Mereka mengalah begitu saja pada empat-kunyuk-idiot ini? Baekhyun rasanya ingin memaki mereka sekarang juga. Hei Byun, ingat tugas mu! Batin Baekhyun memperingati.
Chanyeol mengambil tempat duduk di dekat pintu belakang kantin. Ketiga temannya mengekori Chanyeol dan ikut duduk di meja yang Chanyeol tempati.
Sementara itu Baekhyun segera mengeluarkan ponselnyaㅡberniat mengambil gambar Chanyeol diam-diam. Tempat Baekhyun duduk cukup dekat dari Chanyeol dan ini menguntungkan bagi Baekhyun. Ia berpura-pura sedang memainkan ponselnya padahal Baekhyun sedang membidik gambar Chanyeol dan ketiga temannya. Kemudian ia juga menyempatkan membidik gambar keadaan sekitar yang tampak ketakutan karena kedatangan Chanyeol.
Seorang siswi lugu terlihat mendekati meja Chanyeol dan teman-temannya. Ia terlihat kesusahan membawa empat nampan sekaligus. Setelah sampai di meja Chanyeol siswi itu memberikan nampan itu satu persatu pada mereka. Dimulai dari ketiga teman Chanyeol kemudian yang terakhir untuk Chanyeol. Gadis itu baru saja akan menyimpan nampan berisi makanan untuk Chanyeol sebelum Chanyeol tiba-tiba saja menampar tangan anak ituㅡsetelahnya hanya terdengar bunyi peralatan makan dari stainless steel yang beradu dengan lantai cukup keras, air yang tumpah, dan tarikan nafas murid-murid yang lainㅡshock.
"Kenapa kau biarkan dia yang mengantar makanannya, hyung?" Itu suara Chanyeol. Matanya menatap marah pada Kris.
"Aku tidak tahu, Chanyeol. Ku pikir aku sudah menyuruh Jongdae tadi." Kris berujar santai.
"Lalu sekarang dimana dia?" Chanyeol beralih menatap siswi lugu ituㅡmeminta penjelasan darinya secara paksa.
Baekhyun yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu melebarkan matanya; terkejut. Chanyeol memang brandalan. Kini Baekhyun menyaksikannya sendiri. Wow. Sayangnya disaat seperti ini Baekhyun malah sibuk mengambil beberapa gambarㅡterlihat seperti paparazzi saja. Menyedihkan.
Sebentar, Siapa tadi yang mereka sebut? Jongdae? Apa Jongdae yang mereka maksud itu si dinosaurus yang bertabrakan dengan Baekhyun tadi pagi? Jika iya, maka Chanyeol tidak pantas menindasnya. Yah walaupun Baekhyun akui Jongdae cocok dijadikan sasaran korban pembullyan.
Tetapi ini sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang Chanyeol yang notabenenya adalah Pangeran negeri ini. Baekhyun spontan meremat ponselnya sendiri. Merasa kesal, jengkel, marah, dan tidak habis pikir dengan kelakuan Chanyeol.
Siswi lugu yang sedang Chanyeol tatap tajam itu hanya menundukkan kepalanyaㅡtidak berani menatap Chanyeol sama sekali. Disaat seperti ini Chanyeol rasanya ingin meledak-ledak saja. Tetapi ini di tempat umum dan meledak-ledak hanya karena si dungu Jongdae tidak ada sungguh
tidak elite rasanya. Chanyeol menoleh kesana kemari, mencari objek yang bisa ia jadikan kambing hitam.
Tatapan Chanyeol berhenti pada seorang gadis yang tengah duduk sendirian di sudut ruangan dekat jendela. Gadis itu adalah gadis yang menatapnya sengit di parkiran tadi. Ia sedang mengotak-atik ponselnya. Jika siswa-siswi yang lain menampakkan raut keterkejutan dan ketakutan, maka gadis ini justru menampakkan raut santaiㅡseolah tidak mempedulikan apapun.
"Kau!" Chanyeol mengarahkan telunjuknya pada Baekhyun
"Yak! Kau yang sedang memainkan ponselmu!" Seketika seluruh pasang mata yang ada disana menoleh menuju arah yang Chanyeol maksud. Dan yang paling sial adalah kenapa hanya Baekhyun seorang saja yang sedang memainkan ponsel disini?!
"Cepat kemari!" Oh si idiot telinga peri memerintah.
Baekhyun awalnya terkejut tetapi kemudian ia segera mengendalikan ekspresinya. Ia berjalan santai ke arah Chanyeol sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku blazernya. Saat hampir sampai di dekat meja Chanyeol, ia memberikan sebuah tatapan kepada siswi lugu yang masih berdiam diri di depan Chanyeol. Tatapan dalam diam yang mengartikan 'pergilah, aku yang akan menggantikanmu'. Dan siswi lugu itupun menurut. Perlahan namun pasti meninggalkan meja Chanyeol.
"Ambilkan makanan ku yang baru!"
Baekhyun hanya mengangguk patuh kemudian pergi menuju counter makanan. Semua orang yang memerhatikan kejadian ini seketika menyingkirㅡmemberi jalan untuk Baekhyun. Baekhyun kemudian tersenyum miris pada mereka. Semenakutkan itukah Park Chanyeol?
Baekhyun dilatih untuk tidak punya rasa takut, untuk tidak lemah terhadap apapun, untuk selalu mempercayai dirinya sendiri. Itu sebabnya Baekhyun menjadi wanita yang kuat. 'Para pengawal harus punya keberanian. Berani untuk berdarah, terluka, dan terbunuh. Berani untuk melindungi Kerajaan ini dan Korea Selatan' kata-kata itu yang selalu dikatakan oleh pelatihnya di Mapo dulu. Itu sebabnya ia merasa begitu kasihan pada mereka semua. Mereka terlalu lemah.
Ketika sudah sampai, Baekhyun mengambil sumpit dan makanan untuk Chanyeol. Tiba-tiba saja sebuah ide hebat muncul dalam kepala Baekhyun ketika ia melihat menu makanan ini.
"Apa yang kalian lihat? Pergi sana." Jongin mengusir siswa-siswi yang masih saja diam mematung memerhatikan merekaㅡJongin merasa risih sendiri.
"Bukannya kau senang diperhatikan hyung?" Sehun bertanya asal pada Jongin
"Ya. Tetapi bukan dengan tatapan ketakutan semacam itu. Aku lebih senang ditatapi sambil dikagumi."
"Cih. Percaya diri sekali kau hitam." Kris ikut menimpali
"Yak hyung!" Jongin memberenggut dan Sehun malah tertawa.
Baekhyun datang membawa nampan untuk Chanyeol. Ia meletakkan nampan itu hati-hati. Baekhyun melakukannya perlahanㅡmenunggu Chanyeol mengatakan sesuatu tetapi Chanyeol hanya diam saja. Akhirnya Baekhyun pun melangkahkan kakinya keluar dari kantin. Ia malas terlalu lama berada di ruangan yang sama dengan Chanyeol. Ketika sampai di pintu keluar Baekhyun tersenyum menyeringai.
Chanyeol mengambil sumpitnya, memakan satu persatu makanan yang tersaji. Chanyeol masih mengunyah makanan ituㅡberusaha menikmati makan siangnya. Sampai tiba-tiba kunyahannya terhenti. Matanya melebar dan berair, wajahnya memerah sampai ke telinga, buru-buru ia mengambil air minum, meminum airnya sekali tegukㅡberusaha melarutkan makanannya tanpa mengunyahnya. Sehun yang menyadari sesuatu yang aneh terjadi pada Chanyeol segera membantunya. Ia memberikan jus lemonnya pada Chanyeol.
"Kau kenapa hyung?"
Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya. Ia terlihat sangat berantakkan; nafasnya terengah-engah, dahinya berkeringat, dan wajahnya masih memerah. Chanyeol segera menyambar jus lemon yang sehun berikan.
'Sial! Kenapa pedas sekali?' Chanyeol membatin. Tangannya mengepal kuat-kuat.
.
.
.
.
.
Day 1
Baekhyun vs Chanyeol
1-0
Well, pertemuan pertama yang manis bukan? Ah mungkin maksudnya manis pedas.
Sementara itu Baekhyun terlihat sedang tertawa terbahak-bahak di lorong koridor yang sepi.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Author notes :
Jadi gini, aku mau klarifikasi *ciyelah* disini itu ceritanya KorSel itu bentuknya bukan Republik tapi Monarki dan disini bukan kisah purba jaman dinasti Joseon, tapi latar ceritanya tuh di masa kini (modern).
Tolong bayangin kalo KorSel itu macem Inggris *peace* di prologue aku bilang "KorSel diperintah dan dipimpin oleh raja" padahal kalo Monarki itu dipimpinnya sama Perdana Menteri (Raja dan Ratu cuma simbol
negara) tapi disini gaada Perdana Menteri okay, tolong bayangkan Sistem Pemerintahan KorSel yang aku coba buat disini.
Gigantisme : nama penyakit. ketika masih anak-anak, kalau kelebihan Growth Hormone akan menjadikan gigantisme (giant) maaf pake istilah ini. cuma supaya enak aja gitu/?
Chanyeol tuh bener-bener sekolah di umum kaya orang biasa pada umumnya. Alasannya? Coba baca di prologue, bapaknya Chanyeol pengen dia berbaur.
Di prologue ada typo nyempil. Kedepannya aku bakal berusaha buat jadi lebih baik lagi. Ohiya, maafkan aku nistain Jongdae disini ㅠㅠ padahal kamu aslinya ganteng kok bang ㅠㅅㅠ
Maaf ya aku updatenya lama. Aku bakal usahain sebisa mungkin cepat. Tapi cepatnya versi aku ya? Hahaha.
Chapter ini udah cukup panjang belom? Aku udah berusaha semax yang aku bisa/?
Ada konflik ga? Kita lihat aja ya kedepannya.. Untuk awal-awal masih manis kok. Hahahaha
Adain Kaisoo Hunhan Taoris ga? Okay saran bagus. Tapi mungkin mereka muncul cuma sekilas aja ya. Di chapter ini mereka belom muncul. Tunggu aja kalau ada kesempatan. Wkwkwk
Anyway aku udah baca review kalian satu persatu. Jadi senyam senyum
sendiri. Hahaha. Thanks buat yang udah review, yang udah baca, yang ngefav, yang ngefollow TBK.
Review lagi ya guys, mau panjang, pendek, atau cuma 'next' ga masalah.
Yang penting aku senang, kalian senang, dan fanfic ini cepat di update
:v
#BelieveInChanbaek
#JanganLupaReviewGuys
#KomenFFIniBolehAsalSopan
Regards,
Jerys Jung.
