The Bastard King

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

and the other cast

School life, Romance, Drama

Warning :

Genderswitch

Banyaknya makian

The story is mine, but the cast are not mine

Happy Reading!

Chapter 2 ㅡ Saturday Night In Yongsan

Panas matahari begitu menyengat kulit sore ini. Udara musim panas terasa begitu menyenangkan bagi Baekhyun. Baekhyun lebih suka panas daripada dingin.

Hari ini benar-benar panas. Orang-orang mungkin akan merasa gerah dan tidak tahan berdiri lama-lama di bawah sinar matahari yang menantang. Berdiri terlalu lama di bawahnya hanya akan membuat kulit mu berkeringat dan menggelap nantinya.

Tawaran untuk berdiam diri di bawah surya pasti akan ditolak mentah-mentah banyak orang. Tidak ada yang senang melakukannya. Lagipula orang-orang di Korea memiliki ciri khas berkulit putih dan bermata sipit bukan berkulit gelap. Tetapi Baekhyun tidak peduli dengan itu. Baekhyun sangat suka cuaca yang hangat seperti sekarangㅡwell, bagi Baekhyun musim panas itu rasanya hangat dikulit. Hangat dan menenangkan.

Lagi-lagi Baekhyun sedang mengayuh sepedanya. Baekhyun mengayuh sepedanya dengan santai menikmati semilir angin di jalanan yang ia lewati. Angin itu menerpa wajah Baekhyun, dan dengan lembut membelai rambut Baekhyun yang menjuntai melewati bahu dan mencapai pinggangnya. Rambut cokelat caramel Baekhyun tertiup kesana kemari. Ia terlihat sangat cantik. Dengan rambutnya yang seperti itu Baekhyun terlihat seperti model iklan shampo sajaㅡdan kemudian Baekhyun tertawa didalam hati dengan pemikirannya barusan.

Menjadi model iklan shampo sepertinya jauh lebih menyenangkan ketimbang menjadi mata-mata si idiot Chanyeol. Oh ayolah, baru tiga hari ini Baekhyun menjadi mata-mata Chanyeol dan ia sudah merasa begitu bosan.

Hari pertama masuk sekolah ada begitu banyak masalah. Setelah Baekhyun meracuniㅡsebut saja begituㅡmakanan Chanyeol, di lorong koridor menuju
perpustakaan Baekhyun bertemu dengan Jongdae si dinosaurus! Akhirnyaㅡdengan perasaan terpaksa dan setengah hati Baekhyun menarik lengan Jongdae dan mereka berdua bersembunyi di dalam perpustakaan sampai bel sekolah berakhir. Baekhyun melewatkan begitu banyak kelas hari ini karena ingin membantu Jongdae menghindar dari Chanyeol. Well, itu bukan kesalahan Jongdae seluruhnya karena Baekhyun sendiri yang dengan asiknya malah tertidur di pojok perpustakaan.

Hari kedua bersekolah Baekhyun datang dengan keringat ekstra di tubuhnya. Ia bangun terlambat dan karena itu Baekhyun harus mengayuh sepedanya dari Mapo ke Hanyangㅡyang lumayan jauh dan perjalanan itu serasa seperti balapan sepeda marathon solo. Jelas ini solo karena hanya Baekhyun yang datang membawa sepeda ke Hanyang. Ugh ingatkan Baekhyun untuk meminta fasilitas lebih nanti!

Baekhyun seperti baru saja diguyur dengan keringat. Tapi ini tidak seberapa dibanding kabar yang ia dapat. Si idiot-telinga-peri Chanyeol tidak ada di sekolah! Desas desus mengatakan Chanyeol pergi dengan Nana si pirang ke club Doors. Tapi kenyataan yang sebenarnya terjadi adalah Chanyeol terkena diare dan ia sedang tidur di kamar mewahnya. Darimana Baekhyun bisa tahu? Ia melacak ponsel Chanyeol dan ternyata lokasinya merujuk di kediamannya sendiri. Masalah diare, Baekhyun tahu hal itu ketika ia menguping percakapan Yifan dan Jongin di toilet lelakiㅡugh Baekhyun, kenapa kau bisa ada disana saat itu? Entahlah. Karena hal itu Baekhyun menjadi sedikit merasa bersalah pada Chanyeol.

Ingat, sedikit. Sedikit.

Hari ketiga, Hanyang mengumumkan bahwa sekolah akan diliburkan selama dua minggu ke depan dalam rangka libur awal musim panas. Anak-anak yang lain mungkin akan melonjak kegirangan saat mendengar ini atau mereka akan bersorak sambil berteriak 'hore' sekencang-kencangnyaㅡkalau bisa sampai nafas mereka putus. Tapi Baekhyun tidak. Ia baru saja masuk sekolah dan sekarang sudah akan libur lagi? Huh menyebalkan. Chanyeol si idiot sudah masuk sekolah hari ini tapi dia tidak membuat keributan lagi. Sepertinya ia masih sakit. Wajahnya pucat dan ia nampak lesu. Bagaimana bisa si bodoh itu
bisa kalah begitu saja hanya karena cabai? Ayolah ini baru saja permulaan duel mereka. Ini masih pembukaan.

Hari keempat, hari ini sudah mulai liburan musim panas. Baekhyun sedang mengayuh sepedanya menuju kediaman raja. Ia akan menunjukkan pada raja beberapa gambar yang sudah ia dapat. Ini sedikit melelahkanㅡBaekhyun membawa sepedanya dari Mapo ke kediaman raja. Kenapa Baekhyun masih tinggal di Mapo? Alasannya sederhana, ia masih betah berada disana. Pelatihnya pun tidak mempermasalahkan Baekhyun tidur di asrama.

Baekhyun sudah memasuki kediaman raja saat ini. Ada beberapa pengawal yang ia kenal selain ayahnya. Baekhyun membungkuk dan melempar senyum kepada mereka.

.

.

.

.

.

The Bastard King

"Bisa kau jelaskan pada ku foto-foto ini nona Byun?"

"Tentu Yang Mulia"

"Kenapa kau berdiri jauh disana? Kemarilah, berdiri di sebelah ku saja. Aku tidak suka berbicara jauh-jauh. Kau adalah orang kepercayaan ku sekarang sama seperti ayahmu."

Baekhyun saat ini sedang berada di ruang kerja Park Junsu. Ruang kerja raja. Ia gugup setengah mati. Entah kenapa rasa kepercayaan diri Baekhyun menghilang begitu saja. Mungkin karena ini adalah kali pertama Baekhyun bertemu raja sebagai seorang pengawal yang sudah dipercayai untuk bekerja padanya.

"Foto ini ku ambil dihari pertama aku masuk sekolah Yang Mulia. Saat itu sedang makan siang. Ini Chanyeol bersama ketiga temannya." Baekhyun menjelaskan foto yang saat ini dipegang junsu

"Ku pikir Chanyeol tidak punya teman." Junsu meneliti foto keempat orang itu seksama.

"Maaf Yang Mulia?" Baekhyun bertanya heran.

"Chanyeol senang sekali berbuat onar. Jadi ku pikir ia tidak punya teman. Kau hebat Baekhyun, dihari pertama bertemu Chanyeol, kau bahkan bisa langsung tahu siapa teman-temannya." Mendengar itu Baekhyun menggigit pipi dalamnyaㅡberusaha menahan senyumannya.

"Mereka berempat sangat populer di sekolah Yang Mulia."

"Aku bisa melihatnya."

"Yang berkulit paling putih namanya Oh Sehun. Dia murid kelas 1A. Ayahnya seorang produser dan ibunya telah tiada. Yang berambut sedikit pirang namanya Wu Yifan. Beberapa anak memanggilnya Kris. Dia murid kelas 3A. Ayahnya orang Kanada sedangkan ibunya orang China. Keluarganya tinggal di korea baru-baru ini untuk urusan bisnis mereka yaitu hotel laxyㅡ"

"Oh hotel itu milik keluarganya?"

"Ya Yang Mulia. Dan yang terakhir yang berkulit gelap dan duduk disamping Chanyeol namanya Kim Jongin, dia selalu bilang namya Kai bukan Jongin. Sepertinya ia yang paling dekat dengan Chanyeol karena mereka sekelas. Ayahnya adalah Kim Woo Bin dan ibunya Shin Min Ahㅡ"

"Seorang aktor dan aktris terkenal. Oh ya Tuhan! Kenapa kulit anaknya begitu gosong?"

Oh akhirnya Baekhyun tahu ternyata Junsu adalah pribadi yang sangat menyenangkan. Ayolah siapa yang tahan untuk tidak tertawa saat ini? Ucapannya yang spontan tadi membuat tawa Baekhyun pecah begitu saja. Baekhyun bahkan harus mengelap sudut matanya yang berair karena tertawa begitu kencang. Tetapi kelihatannya Junsu tidak marah sama sekali dengan tingkah laku Baekhyun. Ia malah ikut tertawa juga.

"Sejauh ini apakah teman-teman Chanyeol ini membawa pengaruh buruk padanya?"

"Tidak Yang Mulia. Kurasa justru sebaliknya Chanyeol yang mengarahkan mereka. Apapun yang Chanyeol katakan mereka akan menurut."

"Yah setidaknya Chanyeol memiliki jiwa leadership yang bagus."

"Aku suka cara kerja mu Baekhyun. Lengkap dan terperinci mirip seperti ayahmuㅡ" raja terdiam sebentar.

"Oh ya Baekhyun, apa kau tahu kenapa Chanyeol bisa terkena diare? Setahu ku walaupun Chanyeol itu sering berulah tapi ia tidak pernah terserang penyakit karena makanannya selalu kami perhatikan."

Oh Tuhan, kenapa pertanyaan ini muncul? Baekhyun tiba-tiba menjadi gugup bukan main. Sekarang ia benar-benar merasa bersalah. Walaupun Chanyeol berandalan dan ia pantas menerima itu tetapi Baekhyun tidak boleh meracuni putra mahkota. Seharusnya sebagai pengawal, Baekhyunlah orang pertama yang mati jika makanan Chanyeol diracuni. Baekhyun seharusnya melindungi Chanyeol.

Baekhyun menjawab setengah tidak yakin, "Itu karena menu makan hari itu sangat pedas Yang Mulia. Chanyeol memakannya dan ia terkena diare." Well Baekhyun tidak benar-benar berbohong karena memang menu makan hari itu pedas. Tetapi Baekhyun telah berbohong karena tidak menceritakan seluruh kejadiannya.

"Ini aneh. Kantin Hanyang selalu bekerja sama dengan Dapur Istana. Karena Chanyeol ada disana maka semua makanan yang ada pastilah tidak berbahaya."

Wow. Baekhyun tidak pernah tahu ada penjagaan ketat semacam itu untuk Chanyeol disana. Ia baru mengetahuinya sekarang. Baekhyun mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Bingung ingin mengucapkan apa lagi.

"Baekhyun, ku dengar kau masih tinggal di Mapo saat ini?"

"Itu benar Yang Mulia."

"Tinggalah disini. Kau bisa menempati paviliun timur bersama ayah mu. Kurasa akan lebih mudah bagi ku untuk berkomunikasi dengan mu jika kau tinggal dan juga akan lebih mudah bagi mu untuk mengawasi Chanyeol."

Baekhyun terdiamㅡterlalu takjub dengan semua kata-kata raja. Tentu saja Baekhyun sangat ingin tinggal lagi bersama ayahnya ketimbang tinggal di asrama. Rasanya sudah lama sekali Baekhyun tidak tinggal bersama-sama dengan ayahnya tetapi kini Baekhyun mendapat solusi bagaimana caranya agar ia bisa bersama ayahnya lagi. Tanpa pikir panjang Baekhyun segera mengangguk.

"Tentu Yang Mulia, permintaan mu adalah perintah bagi ku."

.

.

.

.

.

The Bastard King

Malam ini adalah malam minggu. Malam dimana semua orang keluar untuk bersenang-senang tak terkecuali dengan Chanyeol. Tetapi karena hari ini adalah minggu pertama, Chanyeol dan ketiga temannya punya 'ritual' tersendiri untuk menghabiskan waktu malam ini.

Jongin terlihat tengah berkaca di depan cermin kamarnya yang besarㅡbesar cermin itu seukuran tubuhnya. Jongin memutar-mutar badannya ke kanan dan ke kiri, menilai penampilannya sendiri. Kemeja hitam lengan panjang, celana jeans yang sobek disana-sini, serta rambutnya yang sengaja ia acak dengan tangannya sendiri. Well malam ini Jongin cukup tampan. Ia tersenyum melihat penampilannya sendiri.

Jongin menuruni tangga rumahnya yang panjang itu dengan sedikit terburu-buru. Ia melirik kesana kemari kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang TV.

"Hi dad! Kau disini." Jongin menyapa seorang lelaki yang tengah duduk membelakanginyaㅡmenonton berita di TV.

"Oh Jongin." AyahnyaㅡKim Woo Bin menoleh ke belakang kemudian melemparkan tatapan penuh tanya pada anak semata wayangnya.

"Kau akan pergi?" Ayahnya bertanya setelah melihat penampilan Jongin yang mendekatinya.

"Ya dad. Bersama Chanyeol."

"Kenapa kau langsung menyebut namanya begitu saja, Jongin? Sudah berapa kali ayah katakan pada muㅡ"

"Dan sudah berapa kali juga aku menjelaskan bahwa kami berteman dan Chanyeol lebih suka aku memperlakukannya sebagai teman ketimbang seperti patung yang disembah-sembah dan dihormati." Jongin mendengus sebal.

"Terserah pada mu. Ayah sudah mengingatkanㅡ"

"Aishh! Sudah ya aku akan pergi." Jongin berlalu di depan ayahnya berniat meninggalkan ruangan itu. Jongin baru saja akan keluar dari pintu itu sebelum ia teringat sesuatu.

"Dad, ku pinjam benz mu yang silver itu ya..." Jongin mencomot kunci mobil yang tergeletak di atas meja sembari tersenyum merayu. Ayahnya hanya mengangguk tanpa melirik Jonginㅡmasih terus menatap TVnya.

"Thanks dad! Akhirnya aku bisa menunjukkan mobil keren itu pada teman-teman ku. Yuhuu~" Jongin berlari sambil berteriak kegirangan. Woo Bin hanya menggeleng pelan dengan sikap Jongin.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Dan kemudian Woo Bin tersadar bahwa ia sudah melakukan kesalahan besar. Ia sudah membiarkan Jongin membawa benz silvernya yang baru. Memikirkan apa yang akan terjadi dengan mobilnya nanti membuat jantungnya serasa mau copot. Terakhir kali ia meminjamkan mobilnya pada anaknya mobil itu berakhir di bengkel selama dua bulan. Semua rusak parah. Bahkan biaya bengkel hampir sama dengan membeli mobil baru.

"Yakk Kim Jongin akan ku potong leher mu kalau kau berbuat ulah lagi dengan mobil ayah!" Pekik Woo Bin.

.

.

.

.

.

The Bastard King

Baekhyun sedang berjalan dari paviliun timur menuju dapur istana. Niat awalnya adalah ingin mencari sesuatu yang bisa ia makan. Baekhyun sangat kelaparan. Baekhyun memasuki ruangan itu dengan takjub. Apakah ini yang disebut dengan dapur? Luasnya sama seperti ballroom hotel. Baekhyun sekarang tampak seperti orang bodoh dengan tatapannya yang linglung.

Dinding ruangan ini dicat dengan warna putih gading, lampunyaㅡya Tuhan apakah lampunya dari berlian sungguhan? Desain lampunya yang begitu
besar dan mewah tampak memenuhi langit-langit ruangan itu. Dapur ini terhubung langsung dengan meja makan keluarga kerajaan. Setahu Baekhyun keluarga kerajaan yang tinggal disini hanya ada tiga orang; Chanyeol, ayahnya, dan ibunya. Tetapi kenapa meja itu begitu panjang? Ada dua belas kursi disana. Oh Baekhyun bahkan dapat menebak bagaimana nyamannya mendaratkan bokongnya di kursi ituㅡpadahal itu hanya kursi di ruang makan.

Beberapa pelayan yang memakai celemek putih berjalan masuk ke dapur diikuti oleh seorang perempuan cantik yang memakai topi chef. Rambutnya sebahuㅡsedikit berwarna keemasan dan ia lebih tinggi sedikit dari Baekhyun. Membuat Baekhyun menjadi iri saja dengan kecantikannya.

"Kau... Baekhyun kan?" Perempuan itu datang menghampiri Baekhyun. Matanya memandangi Baekhyun dengan intens.

"Bagaimanaㅡ" Baekhyun termenung, mengingat-ingat apakah ia pernah bertemu dengan perempuan ini atau tidak.

"Kau sudah lupa pada ku ya?" Perempuan itu memberenggut lucu.

"Ah maafkan aku. Aku benar-benar tidak ingat. Apa kita pernah bertemu?"

"Tentu saja iya anak nakal! Kau dumbo kecil yang nakal!" Perempuan itu menjewer telinga Baekhyun main-main.

Tunggu sebentar,

Hanya Baekhyun dan sahabat kecilnya yang tahu tentang julukan Baekhyun ini. Sahabat seperjuangannya, sahabatnya yang merangkap sebagai sosok saudara juga bagi Baekhyun.

Mungkinkah...dia?

"Luhan eonnie?" Baekhyun melebarkan matanya menatap lekat-lekat wajah perempuan di hadapannya sekarang.

"Kau sudah ingat rupanya." Luhan tersenyum dan melepas tarikannya di telinga Baekhyun.

Ya tentu saja perempuan ini dia. Xi Luhan. Baekhyun dan Luhan adalah teman semasa kecil. Baekhyun ditinggalkan di panti asuhan sejak ia masih bayi. Waktu itu Luhan kecil masih berumur dua tahun. Setiap anak yang sudah bisa mengurus diri sendiri akan diberi kepercayaan untuk menjaga bayi-bayi yang lain. Luhan kecil sangat menyayangi Baekhyun si dumbo. Luhan selalu menjaga box bayi yang berisi Baekhyun di dalamnya karena Luhan tidak mau menjaga bayi yang lain.

Ketika masih bayi, Baekhyun jarang sekali menangis. Tetapi kalau Baekhyun sudah menangis, akan sulit menenangkannya. Ibu panti mereka bahkan sering kewalahan mengurus Baekhyun ketika ia sedang menangis. Tetapi jika Luhan yang menenangkan Baekhyun, anak itu akan langsung tenang. Padahal saat itu hal yang Luhan lakukan cukup sepele; hanya mengelus pipi gembil Baekhyun sambil mengatakan 'Tidak apa-apa Baekhyunee. Kalau Baekhyunee berhenti menangis nanti kita bermain ya.'

Mereka berdua sudah seperti saudara. Terlahir dengan keadaan yang sama-sama tidak diinginkan dan ditinggalkan oleh orangtuanya sendiri ketika masih bayi membuat ikatan diantara mereka menjadi semakin kuat. Sayangnya ketika Luhan berumur delapan tahun, seorang pria dan wanita baik hati datang untuk menjemputnya. 'Apakah kau mau jadi anak kami, sayang?' Baekhyun masih mengingat jelas percakapan dua orang dewasa itu dengan Luhanㅡsaat itu Baekhyun menguping. Baekhyun senang akhirnya Luhan menemukan keluarga barunya. Tetapi Baekhyun juga sedih karena ia harus berpisah dengan Luhan jika Luhan mengiyakan ajakan itu.

Baekhyun kecil hanya mampu tersenyum tipis ketika Luhan datang menceritakan apa yang ia bicarakan dengan dua orang dewasa itu. 'Tidak apa-apa Luhan eonnie. Jangan pikirkan Baekhyunee. Luhan eonnie harus pergi dari sini dan mengejar impian eonnie untuk menjadi chef. Setelah eonnie sukses menjadi chef seperti yang sering kita lihat di TV, eonnie harus memberi ku banyak puding gratis ya!' Dan itulah yang terjadi. Mereka berpisah sejak saat itu. Baekhyun merelakan kepergian Luhan dengan senyum tulusnya. Lalu setelah dua tahun berlalu Baekhyun bertemu dengan ayahnya, kepala Han.

Kembali lagi ke situasi disaat ini, dua orang wanita muda yang saling berpelukan melepas rindu. Mereka berpelukan erat seakan takut mereka bisa saja terpisah kembali. Akhirnya setelah sebelas tahun berlalu, hari yang tidak pernah Baekhyun sangka ini datang. Baekhyun menitikkan air matanyaㅡterlalu bahagia.

.

.

.

.

.

The Bastard King

Chanyeol sedang berdiri di bawah guyuran shower di kamar mandi miliknya. Ia terlihat menikmati air dingin yang menyentuh permukaan kulit kepalanya. Sembari menggosok kulit kepalanya dengan shampo beraroma mint Chanyeol memejamkan matanya. Tiba-tiba saja wajah gadis sipit itu muncul. Si sipit berambut cokelat. Chanyeol tahu gadis itu sudah mengerjai makanannya sampai ia diare. Tetapi entah kenapa Chanyeol malah tersenyum membayangkan wajah gadis yang selalu menatapnya sengit itu. Si gadis cokelat caramel yang entah siapa namanya sangat menarik perhatian Chanyeol. Memikirkan jika mereka akan bertemu kembali membuat Chanyeol menyeringai, apa yang harus Chanyeol lakukan padanya andai mereka bertemu, apa yang akan Chanyeol lakukanㅡAh sepertinya pemuda ini sedang menyusun strategi balas dendam. Chanyeol tersenyum seperti setan saat ini. Well jiwa setannya bangkit karena Baekhyun.

Chanyeol melangkah keluar dari kamar mandi dengan perasaan lebih segar. Handuk putih meliliti pinggangnya; menutupi pahanya sampai lutut. Tetesan air dari rambutnya yang basah meluncur turun begitu saja. Dering ponsel menarik perhatiannya. Ia berjalan mendekati kasurnya dan mengambil ponselnya. Chanyeol mengernyit memerhatikan deretan angka yang terpampang disana. Ia tidak menyimpan nomor ini.

"Halo?" Chanyeol bertanya ragu setelah mengangkat nomor ini takut kalau-kalau orang ini berniat menerornya. Chanyeol sering mendapatkan teror semacam itu padahal dia bukan artis. Demi Tuhan itu meresahkan!

"Hi bung! Kenapa dengan nada suara mu itu?"

"Jongin?!" Chanyeol menjauhkan telinganya dari ponselnya, menatap sebentar layar ponselnyaㅡmemastikan bahwa nomor tadi memang tidak ia simpan.

"Iya ini aku. Kenapa kau tidak membalas pesan ku? Kau akan pergi ke Yongsan hari ini kan Chanyeol? Jangan buat aku menjadi semakin kesal! Kris tidak jadi pergi karena ia akan ikut acara keluarga. Ayahnya pemaksa sekali. Dan sepertinya Sehun tertidur lagi. Ia tidak membalas pesan ku juga." Jongin berceloteh panjang lebar dan Chanyeol hanya mendengarnya malas.

"Aku akan pergi, Jongin. Urusan ku dengan Daehyun belum selesai." Gigi Chanyeol bergemeletuk marah.

"Baguslah. Cepat kesini bung! Ada banyak sekali wanita seksi disini. Oh ya, Jinri menanyai mu."

"Oke." Chanyeol menutup sambungan telepon itu. Kemudian mulai berjalan ke lemari. Chanyeol mengambil kaos putih yang bertuliskan supreme di tengahnya dan memilih celana jeans hitam panjangnya. Ia sudah siap pergi sekarang. Chanyeol baru saja melangkahkan kakinya keluar dari pintu sebelumㅡ

"Yang Mulia, pelatihan kerajaan akan dimulai dua puluh menit lagi. Anda bisa pergi untuk makan malam terlebih dahulu."

Sial. Chanyeol benci ini. Salah seorang pengawal yang biasa mengatur jadwal Chanyeol datang dan mengingatkannya. Apa masih belum cukup bersekolah? Chanyeol sungguh akan mati bosan karena hidupnya hanya dipenuhi oleh belajar, belajar, dan belajar. Chanyeol memang bersekolah di tempat umum. Tapi di rumah ia juga mendapat pelatihan khusus untuk menjadi raja. Pelatihan ini benar-benar rumit dan melelahkan. Chanyeol sudah muak! Chanyeol hanya mengangguk kemudian segera berlalu dari sana.

.

.

.

.

.

The Bastard King

"Yah begitulah, akhirnya sekarang aku berada disini sebagai pengawal rahasia." Baekhyun sedang duduk berbincang-bincang bersama Luhanㅡmasih di dapur istana.

"Pasti tidak menyenangkan mengawasinya." Luhan tertawa kecil sembari tersenyum jahil.

"Ya benar! Berada di sekitaran si fungus itu membuat ku naik pitam!" Cecar Baekhyun berapi-api.

"Fungus?" Luhan bertanya bingung

"Ya dia itu fungus eonnie. Makhluk di film barbie yang sering kita tonton dulu, yang telinganya lebar dan jelek." Baekhyun menjelaskan sambil membuat gesture 'telinga lebar dan jelek' dengan bersemangat

"Bwahahahaha" Dan mereka tertawa bersama setelahnya.

"Kau masih sama seperti dulu Baekhyunee. Kau selalu spontan." Luhan mengelap sudut matanya yang berair karena tertawa kencang tadi.

"Dan kau sudah semakin banyak berubah eonnie. Lihat dirimu sekarang. Kau sudah benar-benar jadi chef ya." Baekhyun memandangi Luhan iri.

"Begitulah." Luhan mengangkat bahunya.

"Oh ya, bagaimana eonnie bisa mengenali ku semudah itu? Maksud ku, aku saja hampir tidak mengenali mu sama sekali."

"Itu karena kepopuleran mu Baekhyun."

"Hah?"

"Aku mendengar para pengawal pria menyebut-nyebut nama Baekhyun. Kemudian aku menanyai mereka soal Baekhyun ini. Dugaan ku ternyata benar, yang mereka maksud adalah Baekhyunee ku."

Tiba-tiba saja suasana dapur berubah menjadi gaduh. Para pelayan berhamburan memasuki ruangan itu. Mereka berlalu lalangㅡterlihat panik.

"Ada apa?" Luhan bertanya pada salah satu pelayan yang melewatinya.

"Pangeran Chanyeol akan makan sekarang."

"Ini aneh. Biasanya ia akan makan nantiㅡ" Luhan melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Oh shit. Karena terlalu banyakmengobrol dengan Baekhyun, Luhan sampai melupakan tugasnya disini. Luhan seharusnya sudah membuat makan malam untuk Chanyeol dari tadi.

"Sebentar Baek, aku akan memasak. Huh merepotkan." Luhan segera berlalu meninggalkan Baekhyun cepat-cepat.

Sementara Baekhyun sedang was-was sekarang. Bagaimana jika ia bertemu dengan Chanyeol? Bagaimana jika ia mulai curiga? Hey, curiga apanya Baekhyun?

Derap langkah kaki Chanyeol menggema dan yang terpikirkan oleh Baekhyun saat ini hanya satu 'bersembunyi dari si idiot-fungus-Chanyeol' sekarang juga. Dengan kalap Baekhyun berjongkok dan bersembunyi di bawah meja makan keluarga raja yang panjang itu. Baekhyun sibuk mengatur nafasnyaㅡtakut kalau-kalau ketahuan. Mengingat terakhir kali mereka bertemu, Baekhyun meracuni makanan Chanyeol dan sekarang Baekhyun sedang berada di daerah kekuasaannya. Chanyeol bisa saja membalas dendam. Uhh tidak. Chanyeol menarik mundur salah satu kursi dan dengan malas duduk diatasnya.

"Jongin sepertinya aku akan datang terlambat."

Baekhyun mengintip Chanyeol yang sedang menelepon seseorang dari bawah meja. Apa katanya? Jongin? Datang terlambat? Oh Chanyeol akan pergi malam ini; Baekhyun menyimpulkan.

Beberapa pelayan menghampiri Chanyeol sambil meletakkan hidangan makan malam untuknya. Wewangian dari makanan itu menguarㅡterasa lezat. Baekhyun bahkan dapat mencium aromanya dengan jelas dari bawah.

Apakah itu lasagna?

Hidangan pasta Italia yang disajikan dengan keju mozzarella, saus tomat, daging, sayuran, bawang, dan oregano? Oh astaga air liur Baekhyun siap untuk menetes sekarang juga. Baekhyun tadinya pergi ke dapur istana untuk mencari kudapan tetapi karena bertemu dengan Luhan, ia melupakannya. Baekhyun masih sibuk menciumi aroma lasagna yang membuatnya kelaparan sampaiㅡ

"Suara apa itu?" Chanyeol berteriak marah sambil menatap para pelayan disekitarnya.

Oh tidak! Apa Chanyeol mendengar bunyi perut Baekhyun yang keroncongan tadi? Baekhyun mulai panik di bawah sana.

PRANGG

Chanyeol membanting garpunya. "Sudahlah aku tidak selera." Chanyeol segera berlalu dari sana setelah mengucapkan itu. Baekhyun menjadi naik pitam dengan kelakuan Chanyeol. Demi Tuhan! Hanya karena suara itu dia menjadi marah dan berlaku kasar? Hanya karena itu? Putra mahkota macam apa dia?

Baekhyun pun segera keluar dari persembunyiannya menyusul Chanyeol yang sudah melesat keluar melewati pintu belakang istana. Hey kenapa si fungus ini memilih lewat belakang? Jadi benar dugaan Baekhyun. Si fungus idiot ini akan pergi. Baekhyun mengikuti Chanyeol dalam diam sampai akhirnya mereka tiba di garasi.

Chanyeol membuka kunci pintu salah satu mobil tetapi sesaat setelahnya ia teringat sesuatu. Chanyeol berbalik arah ke dalam istana dan kesempatan ini Baekhyun gunakan untuk menyelinap ke dalam mobil tadi. Baekhyun membuka pintu belakang mobil itu. Baekhyun menelungkup mencari tempat persembunyian di dalam sana. Beberapa saat kemudian Chanyeol datang kembali. Ia duduk di kursi kemudi dan melesat pergi membawa mobil sport itu tanpa tahu Baekhyun menyelinap disana.

.

.

.

.

.

The Bastard King

Chanyeol memelankan laju mobilnya ketika ia sudah sampai di tempat tujuannyaㅡYongsan. Seorang gadis yang memakai tank top hitam dan hot pants abu-abu terlihat mendekati mobil Chanyeol. Ia tersenyum sambil mengetuk pelan kaca mobil Chanyeol. Chanyeol melepaskan seat beltnya kemudian turun dari mobil. Apa yang terjadi selanjutnya membuat mata Baekhyun melebar terkejutㅡwell Baekhyun sudah mengawasi gadis itu dari awal ia datang.

Gadis berambut hitam panjang itu mendekati Chanyeol sambil berusaha meraba-raba disana-sini. Tangannya membuat gerakan naik turun di dada Chanyeol. Bibirnya berusaha menggapai bibir Chanyeol. Tetapi Chanyeol hanya diam saja memandangi kegiatan gadis ini. Dan kemudian dengan berani gadis itu mencium bibir Chanyeol. Memberi beberapa lumatan menggoda sambil menutup matanya sendiri. Jangan tanya seperti apa respon Chanyeol! Ia hanya diam saja sambil menundukㅡmungkin memandangi belahan dada perempuan itu yang mencuat.

Baekhyun yang menyaksikan kejadian itu secara langsung menjadi gugup sendiriㅡentah malu atau kenapa.

"Demi Tuhan! Dasar idiot tidak tahu diri, tidak tahu tempat. Bisa-bisanya mereka melakukan itu di pinggir jalan! Di depan umum! Oh mata polos ku, Oh tidak! Chanyeol sialan!" Baekhyun sibuk memaki di dalam mobil mewah itu. Well, kacanya cukup gelap dari luar sehingga orang-orang tidak bisa melihat keadaan di dalam mobil sedangkan kaca di dalam mobil tembus pandang keluar.

Drrt... Drrtt..

Ponsel Baekhyun bergetar. Baekhyun tersadar bahwa sekarang adalah kesempatan yang bagus untuk mengambil beberapa foto. Tanpa melihat siapa pengirim pesan tadi, Baekhyun segera membidik beberapa gambar. Ini menjijikkan. Tapi apa boleh buat, Baekhyun harus melakukannya.

"Chanyeol!" Dan panggilan Jongin terdengar di sela-sela pagutan panas merekaㅡatau mungkin pagutan panas gadis itu karena Chanyeol hanya diam saja dan tidak membalas.

"Hei bung! Maaf mengganggu acara kalian tapi sekarang sudah saatnya pertandingan dimulai. Kau sudah sangat terlambat." Jongin lagi-lagi berusaha menginterupsi kegiatan gadis itu. Jinri melepas pagutannya dari bibir Chanyeol dengan merenggut kemudian mencebik kesal ke arah Jongin.

.

.

.

.

.

The Bastard King

Jinri berdiri di antara dua mobil mewah sambil memegang sapu tangan berwarna putih. Ia mengangkat sapu tangan itu tinggi-tinggi.

"Satu..." Jinri mulai menghitung.

Jika kedua mobil itu bisa mengaum kencang, maka sekarang yang terdengar adalah auman singa. Keadaan saat ini benar-benar bising. Terdengar sahutan fans sinting yang menyerukkan "Daehyun! Daehyun! Jung Daehyun!" Bahkan Baekhyun saja yang tanpa diketahui Chanyeol ada di belakangnyaㅡmasih di dalam mobil yang samaㅡdapat mendengar dengan jelas suara teriakan para fangirl sinting itu. Aneh, padahal Daehyun itu tidak pernah muncul di TV tapi kenapa fansnya banyak sekali?

"Dua..."

Jika fans Daehyun itu sinting, entah julukan apa yang akan Baekhyun beri pada fans Chanyeol. Mobil Chanyeol berada di sisi kiri dan Baekhyun dapat melihat keluar dengan jelas kalau fans Daehyun itu kalah jumlah dengan fans Chanyeol. Fans Chanyeol sangat banyak. Mereka bahkan membawa banner panjang nan besar bertuliskan 'PCY FIGHTING!' atau 'PCY ILY'. Teriakan mereka juga tidak kalah kencang. Mereka sesekali akan menjerit, melompat-lompat, atau terkadang menyerukan nama Chanyeol. Mereka sudah sinting tingkat dewa. Itulah julukan Baekhyun pada mereka.

Bagaimana mereka bisa menyukai Chanyeol si idiot brengsek ini? Tingginya saja tidak normal, telinganya apalagi. Key oppa jauh lebih lebih lebih diatas Chanyeol yang tolol iniㅡpikir Baekhyun.

"Tiga!" Jinri menyerukannya kuat-kuat kemudian menurunkan tangannya cepatㅡmenjatuhkan sapu tangan putih yang tadi ia angkat tinggi.

Chanyeol menggeram pelan kemudian segera menginjakkan kakinya pada pedal gas kuat-kuat. Baekhyun yang belum siap di belakang terantuk pada pintu di sisi kirinya. Untunglah keadaan saat ini sedang tegang jadi Chanyeol tidak menyadari ada orang lain disana.

Oh ini balapan liar. Ini melanggar undang-undang. Ini bukan tempat seharusnya untuk melakukan balapan mobil. Meski mobil yang mereka gunakan mobil sport tapi tetap saja ini tidak boleh!

Anehnya, tadi Baekhyun sempat merasa kesal dengan kelakuan Chanyeol. Tetapi saat Chanyeol meraih tikungan lebih dulu dibanding Daehyun dan memimpin balapan, Baekhyun malah merasa kegirangan di belakang sana. Lord, ini menyenangkan! Adrenaline Baekhyun terpacu dan sensasinya benar-benar membuat Baekhyun senang.

Yeah ternyata ada sisi positifnya juga dibalik balapan liar ini. Mungkin jika yang ada di posisi Baekhyun saat ini adalah pengawal yang lain, maka ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, ketakutan setengah mati dengan kecepatan mobil yang tidak waras ini. Kedua, muntah. Tentu saja siapapun akan muntah jika berada di dalam mobil itu. Perut mu akan terasa seperti sedang dikocok dan digoyang-goyangkan dengan kecepatan turbo. Dan Baekhyun sangat bersyukur dia belum makan tadiㅡsetidaknya tidak ada yang bisa ia muntahkan.

Ini menyenangkan. Baekhyun bahkan ingin mencoba mengendarai mobil Chanyeol saat ini juga. Dulu ketika Baekhyun berumur lima belas, Baekhyun pernah ikut balapan mobil jugaㅡBaekhyun mengikuti balapan resmi ngomong-ngomong. Sebelum menjadi atlet di balapan berkuda Baekhyun pernah menjadi pembalap mobil selama setahun. Pembalap mobil termuda. Motivasi Baekhyun menjadi pembalap itu hanya satu 'penasaran bagaimana rasanya, ayah' itu katanya. Dan akhirnya kegiatan sampingan Baekhyun selain menjadi pengawal yang di didik ia mengikuti beberapa ajang balapan juga.

Tetapi Baekhyun berhenti menjadi pembalap mobil karena kecelakaan yang ia alami. Baekhyun pernah hampir mati karena kecelakaan di balapan mobilnya. Ia terjebak di dalam mobilnya. Posisinya saat itu terjepit dan Baekhyun benar-benar tidak bisa keluar dari pintu. Api sudah mulai membakar bagian belakang mobilnya. Dalam hitungan detik mobil itu bisa saja meledak. Coba tebak apa yang Baekhyun lakukan supaya ia bisa keluar?

Saat itu karena Baekhyun benar-benar hanya berpikir 'Bagaimana caranya keluar' maka dengan nekat ia menubrukkan badannya sendiri ke kaca depan mobilnya. Beruntunglah karena itu balapan resmi Baekhyun memakai helm dan baju pembalap jadi lukanya tidak parah walaupun ia keluar dari mobilnya dengan cara yang membuat semua orang jantungan. Sejak saat itulah kepala Han tidak mengizinkan Baekhyun memilih balapan mobil. Baekhyun masih diperbolehkan ikut balapan. Tetapi itu bukan balapan yang menyangkut kendaraan. Maka akhirnya Baekhyun memilih berkuda.

Diperhadapkan pada kegemarannya di masa lalu membuat euphoria Baekhyun menjadi-jadi. Baekhyun bahkan dengan seksama memperhatikan setiap gerakan Chanyeol. Mobil Daehyun pun tak luput dari pengamatan Baekhyun. Ada tikungan yang cukup lebar di ujung jalan. Chanyeol membanting stirnya untuk berbelok tetapi saat berbelok tadi Chanyeol sempat menginjak rem. Karena kelalaiannya ini, mobil Daehyun berhasil menyalip Chanyeol lebih cepat sepersekian detik. Daehyun berbelok di tikungan itu lebih tajamㅡia mungkin tidak menginjak rem sama sekali. Dan sekarang keadaan menjadi terbalik; mobil Daehyun melesat jauh di depan sana.

"Bodoh!" Baekhyun mengumpat keras hingga Chanyeol terlonjak kaget di tempatnya.

Chanyeol segera melirik lewat spionㅡsecepat yang ia bisaㅡdan kemudian matanya beradu pandang dengan mata si sipit yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Tetapi Chanyeol kemudian menatap lurus ke depan lagi sambil terus mempercepat laju mobilnya.

"Apa yang kau lakukan di dalam mobil ku?!" Chanyeol berteriak kencang sambil terus menatap jalanan.

Baekhyun tidak menggubris pertanyaan Chanyeol. Dengan cepat Baekhyun menginjakkan kakinya ke kursi penumpang di sebelah kananㅡdalam posisi membungkuk kemudian berkata dengan nada kesal,

"Minggir!" Lagi-lagi Baekhyun menatap Chanyeol tajam.

"Apa kau bilang?"

"Minggir!"

"Kau gila! Aku akan kalah!"

Baekhyun pikir inilah saatnya untuk menunjukkan pada si fungus itu untuk 'berhenti banyak bergaya dan tunjukkan kemampuan mu dengan benar'. Dengan sigap Baekhyun mengambil posisi duduk di atas pangkuan Chanyeol kemudian memegang stir mobil. Chanyeol mengerutkan dahinya bingung dengan kelakuan gadis ini.

"Lepaskan tangan mu dari stirnya!"

Chanyeol menuruti perintah Baekhyun. Ia pun menjatuhkan tangannya di sisi tubuhnya. Tontonan yang menarik. Ah tidak masalah kalaupun ia tidak menang kali ini. Baekhyun menyeringai setelah berhasil memegang kendali. Kemudian tanpa ragu Baekhyun dengan kaki telanjangnya menginjak pedal gas dalam-dalam.

Oh Baekhyun bahkan tidak sempat untuk memakai sepatu ketika menyelinap ke dalam mobil ini. Baekhyun hanya memakai sandal rumah kelinciㅡyang sekarang ia tinggalkan di belakang sana. Peduli setan dengan penampilan! Balapan ini lebih penting!

Mobil itu melaju cepat sekarang. Posisinya bahkan sudah berada persis di belakang mobil Daehyun. Jika Baekhyun mau ia bisa saja menyalip mobil Daehyun di depan sana. Tapi Baekhyun tidak ingin membuat ini menjadi mudah. Baekhyun menempeli mobil itu. Jaraknya benar-benar dekat. Baekhyun sedang berusaha mengecoh konsentrasi Daehyun dengan posisi mobilnya ini. Daehyun akan mulai berpikir posisi mobil Chanyeol saat ini mengancamnya maka ia akan berusaha menambah kecepatan tanpa berpikir bahwa di depan sana ada pertigaan berbahaya. Salah satu jalannya mengarah ke proyekㅡentahlah. Jalan yang satu itu sedang diperbaiki. Tapi mata Baekhyun itu seperti elang, dari jarak yang lumayan jauh saja ia bisa tahu seperti apa bentuk jalanan di depan sana.

Tepat seperti perkiraan Baekhyun, Daehyun menginjak pedal gasnya kuat-kuatㅡmembuat laju mobilnya menjadi lebih cepat lagi. Walaupun Daehyun menambah kecepatan mobilnya, Baekhyun akan terus menempelinya seperti permen karet. Baekhyun berlaku seolah-olah ia akan menyalip mobil Daehyun saat itu juga.

Jika begini terus maka sekarang Daehyun akan mengubah cara berpikirnya dari 'melaju lebih cepat' menjadi 'bagaimana caranya menutup akses mobil Chanyeol yang ada di belakangnya'.

Dan tepat seperti dugaan Baekhyun, sepertinya Daehyun mulai berpikir begitu. Daehyun mulai terjebak dengan arus permainan yang Baekhyun buat. Ia terus melajukan mobilnya cepat sambil sesekali memblokade akses mobil Chanyeol di belakangnya. Tanpa tahu seharusnya ia bersiap untuk belokan yang lebih tajam dibanding belokan yang sebelumnya.

Satu

Dua

Tiga

Baekhyun membanting stir ke arah kiri sekuat tenaga tapi kakinya tidak lepas sedikitpun dari pedal gasㅡia tetap menginjaknya. Kemudian hanya pekikan Baekhyun dan suara mobil menubruk drum-drum besar yang terdengar.

Tidak

Jangan berpikir dulu mobil Chanyeol yang menabrak drum-drum itu. Mereka sudah melesat jauh. Mereka memimpin pertandingan saat ini.

"Yeah! Great, I did it!" Baekhyun memekik senang sambil terus berkonsentrasi membawa mobil. Chanyeol hanya menatap takjub apa yang sudah Baekhyun lakukan. Menarik. Gadis ini luar biasa menarik. Ia berbeda dengan kebanyakan gadis yang pernah Chanyeol temui. Selama ini Chanyeol sering bertemu dengan gadis yang liar di ranjang. Tetapi ia tidak pernah bertemu dengan gadis yang liar di dalam balapan seperti ini. Ditambah, Baekhyun baru saja melawan laki-laki dalam balapannya.

Wow.

Chanyeol memperhatikan dengan seksama wajah Baekhyun dari samping. Rambutnya panjang terurai, beberapa helai rambut di sisi kanannya ia selipkan ke belakang telinganya, kulitnya putih bersinar, dan peluh sedikit membasahi dahinya.

Seksi. Baekhyun benar-benar seksi tanpa harus memakai pakaian seksi sekalipun. Saat ini Baekhyun hanya memakai kaos longgar berwarna putih dan celana training hitam panjangㅡbenar-benar jenis pakaian yang terbilang layak untuk pergi tidur ketimbang untuk pergi bergaya di arena balapan. Dan hey! Baekhyun juga memakai kaos bertuliskan supreme di tengahnya. Kaos yang sama dengan yang Chanyeol pakai saat ini. Mereka seperti memakai baju couple saja. Couple supreme. Ugh.

Saat ini mereka sudah hampir menyentuh garis finish yang ditetapkan. Banyak sekali orang-orang yang sudah berkerumun memenuhi pinggir jalanㅡmenanti siapa yang akan sampai terlebih dahulu. Dan mobil yang muncul disana adalah mobil Chanyeol. Tentu hanya mobil Chanyeol karena sudah bisa dipastikan mobil Daehyun saat ini sudah rusak parah menabrak drum-drum besar yang keras itu. Tapi Baekhyun tidak memelankan laju mobilnya sama sekali. Ia masih mempertahankan kelajuannya.

Akhirnya pertandingan ini dimenangkan oleh Chanyeol. Well orang-orang diluar sanaㅡfans Chanyeol menjerit dengan keras ketika mobil Chanyeol berhasil melewati garis finish. Mereka tidak pernah tahu bahwa hari itu yang memenangkan pertandingan adalah Baekhyun bukan Chanyeol. Tapi tidak masalah, Baekhyun tidak butuh sanjungan dan penghargaan. Baginya bisa bernostalgia dengan balapan hari ini saja sudah cukup. Baekhyun masih melajukan mobil Chanyeolㅡberusaha menjauh dari kerumunan banyak orang yang berusaha mendekati mobil Chanyeol. Setelah dirasa cukup jauh, Baekhyun menghentikan mobil itu. Kemudian ia mematikan mesin mobil.

"Wow. Kita menang! Yeahh!" Baekhyun bertepuk tangan kegirangan dan sedikit melonjak-lonjak di atas pangkuan Chanyeol.

"Ku akui itu tadi lumayan." Chanyeol mengucapkannya dengan nada datar. Seolah apa yang Baekhyun perbuat adalah hal yang biasa saja.

"Heol! Tentu saja itu lebih dari lumayan! Itu keren!" Baekhyun mendelik tidak suka pada Chanyeol.

"Ahh ini menyenangkan~" Baekhyun mengucapkannya sembari tersenyum cerah.

Senyum yang membentuk matanya menjadi lebih sipit. Senyum yang membuat mata bulan sabitnya muncul. Senyuman yang indah. Sangat cantik ketika Baekhyun tersenyum seperti itu.

Inilah pertama kalinya Chanyeol melihat ekspresi yang berbeda dari Baekhyun. Baekhyun tidak menampilkan tatapan sengit ataupun tajam seperti yang sering ia lihat. Kali ini Baekhyun tersenyum. Dan senyuman Baekhyun saat ini membuat dada Chanyeol berdesir. Luapan-luapan emosi tertampung di dalam dada Chanyeol.

Ia merasa sangat damai hanya karena melihat senyuman Baekhyun. Matanya tidak beralih dari Baekhyun sedikit pun.

Ini adalah pertama kalinya Chanyeol merasa begitu menginginkan selalu berada di sisi orang lain untuk waktu yang lama. Kalau bisa Chanyeol ingin waktu berhenti untuk beberapa saat. Chanyeol masih ingin memandangi senyuman ini lebih lama.

.

.

.

.

.

.

.

.

Well, pertemuan kali ini mungkin bukan duel Baekhyun vs Chanyeol lagi.

Tapi pertemuan kali ini adalah spesial kolaborasi Chanyeol-Baekhyun

Yeah, Chanbaek team vs Daehyun.

1-0

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

Author notes :

Hi! Akhirnya chapter ini berhasil aku post juga. Chapter ini agak lama aku post gara-gara weekend sibuk kesana-sini (sibuk bantuin emak nyapu rumah disana-sini. Lol)

Gimana chapter 2 nya? Chanyeol udah mulai nunjukin kalo dia tertarik sama Baekhyun nohh. Mantap gak? *abaikan* Untuk yang nanya siapakah teman Baekhyun? Jawabannya adalah si bunda chef. Wkwkwk

Aku pribadi masih nyari kesempatan kapan sekiranya pairing lain bisa dimunculin huwaa ㅠㅠ kemaren ada yang request pengen ada sulay. Okay no prob, saran kalian bisa di terima kok tapi aku lagi berusaha buat fokus ke chanbaek dulu. Mereka baru ketemu dan fanfic ini akan berfokus ke chanbaek sampe ending. Mereka akan ada untuk 'pemanis' tapi bukan untuk sekarang.

Well, Happy Eid Mubarak for all of you!ㅡyah walaupun telat.

Oh iya, ketimbang dipanggil 'thor' 'author' aku lebih seneng dipanggil pake pen name aku (jerys). Lebih friendly aja gitu kesannya.

Last,

Thanks buat semua yang udah review. Kalo yang login pake akun udah aku balesin ya wkwk.

Thanks buat semua yang udah follow dan fav fanfic ini.

Jangan bosen buat review lagi ya guys! Karena aku selalu baca review kalian semua. Itung-itung buat referensi, motivasi, penyemangat aku juga. Hahahaha Cerita-cerita tentang pendapat kalian soal fanfic ini boleh juga.

#BelieveInChanbaek
#ChanbaekIsReal
#JanganLupaReviewGuys

Regards,

Jerys Jung.