The Bastard King
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And the other cast
School Life, Romance, Drama
Warning :
Genderswitch - Rated M
The story is mine, but the cast are not mine.
Sorry for typo(s)
Happy Reading!
Chapter 4 ㅡ Open House
"Mmmhhh"
Baekhyun memelototkan matanya horor. Ia sedang berjalan memasuki toilet wanita Hanyang dan tanpa sengaja mendengar suara sepertiㅡAh bagaimana menjelaskannya? Itu semacam suara desahan atauㅡYa Tuhan, lupakan saja!
Baekhyun yakin suara itu berasal dari bilik toilet paling ujung. Matanya semakin menatap tajam mengitari keseluruhan toilet ini. Ia penasaran tentu saja. Baekhyun melangkah perlahanㅡmenghampiri bilik itu.
Kenapa juga ada yang melakukan hal tidak senonoh di sekolah? Ia pasti sangat tolol dan tidak waras. Baekhyun menggelengkan kepalanya. Matanya kemudian menatap penuh minat saat langkahnya terhenti di depan pintu toilet ujung ruangan itu. Mereka bahkan tidak menutup pintunya! Sialan. Mereka lebih dari tolol. Baekhyun mengernyit jijik.
Awalnya Baekhyun sama sekali tidak berniat menatap merekaㅡsi pelaku tindakan tidak senonoh lebih lama namun ketika Baekhyun berniat segera pergi dari sana, ia merasa ia mengenal sosok laki-laki itu.
Park Chanyeol!
Ya benar, laki-laki yang sedang duduk di atas kloset duduk itu Chanyeol. Walaupun perempuan berambut panjang itu membelakangi Baekhyun dan ia sedikit menghalangi pandangannya, tapi Baekhyun yakin laki-laki itu adalah Chanyeol.
Perempuan itu menduduki paha Chanyeol. Ia terlihat berantakan; roknya tersingkap ke atas, bajunya kusut, dan lengannya merangkul leher Chanyeol dengan mesra. Ia berusaha meraih bibir Chanyeol, tapi sekali lagi, Chanyeol menunjukkan reaksi yang samaㅡseperti saat Jinri berusaha menciumnya di YongsanㅡChanyeol hanya diam dan tidak berusaha membalasnya. Chanyeol malah sibuk mengusap paha perempuan itu; membuat pola acak dan itu berhasil menggoda perempuan itu. Ia mengerangㅡterlihat puas dengan apa yang Chanyeol lakukan.
Baekhyun tidak pernah mengerti kenapa Chanyeol justru tampak tidak menikmati kegiatan panasnya. Chanyeol hanya diam, tidak berusaha membalas, tidak berusaha menjauhkan perempuan ituㅡyang tampak sangat agresif di mata Baekhyun. Jika Chanyeol memang tidak menyukai kegiatannya, lalu apa alasannya hanya diam dan menerima semua perlakuan dari perempuan itu?
Saat Baekhyun sedang sibuk memerhatikan mereka, tiba-tiba saja hazelnya bertubrukan dengan mata kelam Chanyeol. Chanyeol menatap Baekhyun dengan intensㅡmelupakan kehadiran perempuan berambut panjang itu. Entah kenapa, pipi Baekhyun terasa terbakar. Pipinya memerah dan Baekhyun merasa bahwa detik-detik yang berlalu ini terasa seperti berjam-jam.
Chanyeol hanya duduk diam disana, tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia hanya menatapi Baekhyun. Entah apa yang Chanyeol pikirkan yang jelas Baekhyun benar-benar mati kutu dibuatnya.
Baekhyunㅡdengan refleksnya yang lebih lambatㅡdengan terburu-buru mengalihkan pandangannya; kemana saja asal tidak melihat Chanyeol. Ia benar-benar malu. Malu karena tertangkap basah sedang menguntit? Hey seharusnya mereka yang malu! Mereka melakukan tindakan tidak senonoh! Sangat tidak tahu malu! Lalu kalau begitu kenapa Baekhyun harus malu? Apa karena tatapan Chanyeol? Entahlah, Baekhyun tidak bisa memahaminya. Otaknya berjalan lambat dan Baekhyun hanya bisa merutuki dirinya sendiri saat ini.
Dengan mengambil langkah-langkah kecil, perlahan namun pasti, Baekhyun berjalanㅡsetengah berlari menuju pintu keluar toilet itu. Melupakan apa tujuannya pergi ke toilet, Baekhyun hanya terus berlari sambil sesekali mencuri pandang ke belakangㅡia hanya takut Chanyeol mempermalukan dirinya terlebih banyakㅡmengingat Chanyeol sudah mencuri dua skor dari BaekhyunㅡWell, Chanyeol berhasil mengalahkan Baekhyun dengan membullynya di sekolah minggu lalu.
Baekhyun berlari terbirit-birit seperti sedang dikejar hantu. Baekhyun pikir ia hanya butuh mencari toilet lain. Baekhyun terlalu sibuk mengatasi degupan jantungnya sampai ia tidak menyadari seseorang di ujung lorong sana baru saja membuka pintu salah satu ruanganㅡorang itu berniat keluar dari ruangan itu. Ia tidak melihat Baekhyun. Posisinya membelakangi Baekhyun dan ia sedang mengunci pintu.
"Oh!" Baekhyun berjengit kaget dan dengan refleks menutup matanyaㅡterlalu takut untuk menghadapi rasa sakit ketika bokongnya akan mencium dinginnya lantai Hanyang.
"Hati-hati!" Suara seorang lelaki mengalun di telinga Baekhyun.
Jantung Baekhyun berdebum lebih keras lagi.
Baekhyun dapat merasakan sepasang tangan melingkari pinggangnya dengan hati-hati. Laki-laki itu berusaha menahan berat tubuh Baekhyun. Baekhyun sampai merona dibuatnya. Baekhyun menggerakkan bulu matana perlahanㅡmengerjap-ngerjap kecil untuk melihat lelaki ini.
Ya Tuhan. Dia tampan. Bagaimana Baekhyun harus mendeskripsikannya? Sialan, dia luar biasaㅡmenurut penilaian Baekhyun tentunya. Karena jika siswi Hanyang lain yang ditanyai; Siapakah yang paling tampan di Hanyang? Mereka pasti akan menjawab 'Park Chanyeol!' Sambil menjerit-jerit gila. Tapi tunggu, Baekhyun merasa ia mengenali sosok ini. Wajahnya tidak asing.
"Apakah kau baik-baik saja?" Lelaki itu berusaha menyadarkan Baekhyun. Ia masih memeluk pinggang Baekhyun dengan lembut.
Baekhyun menjatuhkan rahangnya.
Demi seluruh koleksi album Shinee bertanda tangan Key oppa yang dia miliki, apakah ia tidak salah lihat?
Ya Tuhan.
Rasanya seperti mimpi.
"Hei..." lelaki itu melambaikan tangannya didepan wajah Baekhyun kemudian ia melepaskan pelukannya dari pinggang Baekhyunㅡmembantu Baekhyun berdiri dengan pelan.
Baekhyun masih saja melongo seperti orang bodoh.
"Astaga. Jawablah aku. Kau membuatku takut." Lelaki itu memandangi Baekhyun khawatir.
"O-one... M-million?" Sialan. Kenapa pula kata itu yang harus Baekhyun lontarkan?
Lelaki itu hanya menanggapi Baekhyun dengan senyuman geli.
"Ah... Aku semakin terkenal saja ya?" Itu adalah pernyataan. Bukan pertanyaan. Lelaki itu mengulurkan tangannya perlahan ke arah Baekhyun, "Halo, aku Kasper. Senang bertemu denganmuㅡ" lelaki itu menghentikan ucapannya, berniat melirik name tag Baekhyun.
Dan Baekhyun menyahutnya secepat yang ia bisa, "Baekhyun!" Baekhyun menyebutnya dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Ah ya. Senang bertemu denganmu, Baekhyun." Kasper memberikan senyum hangatnya. Baekhyun merasa ia akan segera meleleh sekarang juga.
"Maaf untuk yang tadi. Aku tidak melihatmu sungguh." Kasper terlihat sangat menyesal namun Baekhyun malah tersenyum lebar disana.
"Bukan masalah. Aku baik-baik saja!" Lagi, Baekhyun mengatakannya dengan sangat antusias. "Kenapa..." Baekhyun ingin bertanya padanya namun kata-katanya terhenti.
"Kau ingin bertanya mengapa aku ada disini?" Kasper lagi-lagi tersenyum melihat tingkah Baekhyun. Baekhyun mengangguk dengan mata berbinar.
"Aku alumni Hanyang, ngomong-ngomong." Kasper sempat terdiam sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Kau tahukan sebentar lagi perayaan Open House semakin dekat? Mereka memintaku untuk membuat koreografi. Jadi aku kemari dan mengajar beberapa orang." Baekhyun mengangguk-angguk mendengar penjelasan darinya.
Namun keheningan yang tercipta diantara mereka buyar seketika saat geng idiotㅡminus Chanyeolㅡpenguasa Hanyang datang.
"Hei hyung!" Sehun mendekati Kasper sambil melambaikan sebelah tangannya.
"Kenapa kau tidak mengatakan akan kemari?" Jongin mengatakannya sambil tetap menggandeng jemari Kyungsoo disampingnya.
Oh Baekhyun tidak menyadari sebelumnya jika Kyungsoo ada disana. Kyungsoo hanya tersenyum lucu dan mengedipkan sebelah matanya pada Baekhyun.
Ini adalah kedua kalinya Baekhyun menjatuhkan rahangnya hari ini.
Jadi, Kyungsoo adalah kekasih Jongin? Baekhyun hanya terlalu terkejut.
Bagaimana bisa?
"Lama tidak melihatmu, bro!" Itu suara si bule Yifan.
Baekhyun dan Kasper sudah dikelilingi oleh tiga makhluk yang sialnya memiliki tubuh tinggi. Terutama Yifan. Mereka bercanda tawa dan sedikit bernostalgia tentang masa lalu. Baekhyun dan Kyungsoo benar-benar diabaikan oleh mereka. Dasar lelaki.
"Bagaimana kalau kita pergi bermain basket?" Yifan memberi usulan.
"Ah ya. Aku ingin mencoba melawanmu hyung!" Sehun menimpali.
"Baiklah. Kenapa tidak?" Kasper menjawab mereka.
"Baby, aku akanㅡ" Jongin menoleh pada Kyungsoo yang ada disebelahnya tadi. Namun saat ia akan mengatakannya lebih lanjut, ternyata Kyungsoo sudah tidak berdiri di sebelahnya lagi.
"Ya. Pergilah bermain sampai kau puas!" Kyungsoo menggandeng tangan Baekhyun menjauh dari tempat mereka berdiri.
Sepertinya Kyungsoo marah.
Jika Kyungsoo marah, maka itu pasti sangat buruk..
Jongin sudah mulai terlihat frustrasi karenanya.
.
.
.
.
The Bastard King
Yeoreum berjalan mondar-mandir di lorong depan pintu kamar Putra Mahkota sembari meremas ujung apronnya sendiri. Ia terlihat sangat gelisah sampai akhirnya Baekhyun melintasi lorong itu dengan wajah kelelahan.
Tentu saja kelelahan.
Kyungsoo dan Jongdae benar-benar sudah keterlaluan padanya!
Mereka bertiga menghabiskan waktu di perpustakaan Hanyang sepulang sekolah tadi. Ternyata Jongdae dan Kyungsoo sangat suka membaca novel. Baekhyun yang lebih menyukai olahraga dan belajar matematika hanya diam saja menatapi mereka. Lalu Kyungsoo, dengan mata bulatnyaㅡawalnya ia memohon pada Baekhyun untuk mengambilkannya novel-novel di rak tinggi. Namun lama-kelamaan permohonan Kyungsoo dan Jongdae terdengar seperti perintah. Baekhyun hanya menurutinya karena ia juga tidak melakukan apapun selain melamun di perpustakaan itu.
Baekhyun benar-benar menyesali sikapnya yang 'sok dermawan' itu sekarang.
"Oh Yeoreum?" Baekhyun menyapanya.
"Hai eonnie." Yeoreum melemparkan senyum imutnya.
"Kenapa kau disini?"
"Aku... Uhm bagaimana ya?"
Baekhyun melirik sebuah troli yang berada disamping Yeoreum. Bagian atasnya ditutupi oleh kain tipisㅡBaekhyun sangat yakin bahwa isinya adalah makanan.
"Kau akan membawa itu untuknya?" Baekhyun menunjuk troli itu.
"Ya, tetapi akuㅡ"
"Berikan padaku. Aku yang akan mengantar itu untuknya." Baekhyun tersenyum. Kali ini ia benar-benar tersenyum tulus. Baekhyun tahu jika anak ini pasti masih trauma dengan Chanyeol. Baekhyun hanya berniat untuk membantunya. Setelah mengantarkan troli ini Baekhyun akan segera pergi ke paviliun timur. Ia benar-benar butuh istirahat.
Baekhyun meraih pegangan troli itu. Sementara Yeoreum bergumam "Terima kasih eonnie." Sembari melenggang pergi. Baekhyunpun mendorong pintu besar itu; membukanya dengan sebelah tangannya. Dengan mengambil langkah mantap, Baekhyun masuk dan mendekati ranjang besar yang terletak di dekat jendela. Baekhyun dapat melihat Chanyeol tengah berbaring telentang disana; ia tertidur lelap sekali.
"Sampai kapan kau akan menyusahkan orang, huh?" Baekhyun berdecih sembari menatap tidak suka pada Chanyeol yang tengah memejamkan matanya erat.
"Yang Mulia Putra Mahkota, makan malammu telah siap." Baekhyun menaruh kedua tangannya di atas perutnya kemudian membungkuk formal. Percayalah, Baekhyun melakukan ini karena keharusan, bukan karena ia memang ingin.
Tidak ada reaksi apapun dari Chanyeol.
Baekhyun mendekat ke ranjang ituㅡmasih dalam usaha untuk membangunkan Chanyeol. "Yang Mulia!"
Ingatkan Baekhyun bahwa ia seharusnya berlutut meminta ampun sekarang. Itu sangat tidak sopan; bagaimana Baekhyun berteriak hanya untuk membangunkan Chanyeol. Namun Baekhyun bahkan tidak peduli lagi dengan sopan santun sekarang.
Baekhyun memerhatikan Chanyeol lekat-lekat. Ada yang aneh padanya. Chanyeol tertidur bukan karena ia ingin bermalasan seperti yang Baekhyun pikirkan. Dahinya berkerut, matanya tertutup tetapi ia terlihat sangat gelisah di dalam tidurnya. Keringat bercucuran dari dahinya dalam jumlah yang tidak sedikit. Baekhyun bahkan dapat mendengar gigi Chanyeol bergemeletukㅡseperti menggigil.
Lalu tanpa mempertimbangkan apapun lagi, Baekhyun menyentuh dahi Chanyeol lembut.
Ya Tuhan! Benar-benar panas!
Baekhyun bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Chanyeol hingga ia menjadi begini? Kepala Baekhyun tidak bisa memikirkan apapun selain 'menolong anak ini terlebih dahulu'
Baekhyun berlari keluar kamar Chanyeol dengan terburu-buru. Ia berniat mencari apapun yang bisa meringankan Chanyeol yang sedang sakit.
Ini cukup aneh untuk Baekhyun. Seharusnya ia merasa senang saat Chanyeol sakit, bukan?
.
.
.
.
The Bastard King
Baekhyun menaruh handuk kecil yang ia gunakan untuk mengompres di dahi Chanyeol dengan hati-hati. Lalu ia menyibak selimut Chanyeol dan memegang telapak kakinya yang terasa seperti es. Baekhyun meringis setelahnya. Baekhyunpun memasangkan kaus kaki miliknya pada kaki Chanyeol dan menyelimutinya lagi.
Baekhyun mengambil posisi duduk di sebelah Chanyeolㅡtidak tepat di sebelahnya karena ranjang ini benar-benar besar sekali. Baekhyun menghela napasnya. Ia sedikit mengantuk dan ia sangat membutuhkan istirahat. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Baekhyun tidak mengerti mengapa ia sudah merasa sangat lelah dan hanya ingin tidur dari tadi?
Baekhyun sudah berganti pakaian sekarang. Ia memakai piyama biru laut yang sangat lucu dan imutㅡuntuk ukuran remaja seusianya tentu itu terlihat sangat imut dan tidak terkesan dewasa sama sekali. Baekhyun mengedarkan pandangannya mengitari kamar Chanyeol. Kamarnya terkesan seperti ia adalah seorang Astronotㅡbegitulah pemikiran Baekhyun.
Langit-langit kamarnya dihiasi oleh wallpaper bergambar galaksi. Furniture kamarnyapun sangat unik. Kamar Chanyeol menyuguhkan pemandangan artistik yang elegan dan terkesan menenangkan. Baekhyun baru menyadari itu sekarang.
Chanyeol terdengar mendesah di dalam tidurnya. Baekhyun menoleh padanya secepat yang ia bisa. Lalu ia melihat bahwa handuk itu perlu untuk direndam lagiㅡhanduknya sudah tidak basah. Baekhyun dengan cekatan mengganti handuk itu; mengompresnya ulang.
"Cepatlah bangun, makan, lalu minum obatmu. Itu akan meringankanmu." Baekhyun bergumam disela-sela kegiatannya. Baekhyun menopang kepalanya dengan menaruh sikunya pada meja nakas disamping. Ia memerhatikan Chanyeol dalam diam.
"Aku mengantuk sekali." Baekhyun menguap dan perlahan-lahan ia memejamkan matanya. Ia sudah tidak bisa menahan kantuknya lebih lama lagi.
.
.
.
.
The Bastard King
Tengah malam.
Chanyeol mengerjapkan matanya siaga. Ia memerhatikan jam digital besar yang terletak di sebrang ranjangnya. Kepalanya terasa berat dan pandangannya sedikit tidak fokus.
Kenapa ia berakhir begini?
Entahlah Chanyeol lupa.
Seingatnya tadi sore ia sedang bersenang-senang dengan siswi kelas satuㅡyang entahlah siapa namanya di sebuah pusat perbelanjaan. Lalu saat akan pulang, Chanyeol mencampakkan gadis itu ㅡseperti yang biasa ia lakukan pada siapapun. Gadis itu menangis dengan kencangnyaㅡ reaksinya ini diluar ekspektasi Chanyeol.
Lalu sebagai seorang lelaki, dan terlebih sebagai seorang putra mahkota, Chanyeol yang sedang menyamar di tempat umum tentu tidak menginginkan identitasnya diketahui semua orang. Chanyeolpun memutuskan untuk membujuk anak itu sampai ia tenang. Tetapi anak itu tidak kian tenang juga. Ia berlari keluar gedung perbelanjaan itu sambil terus menerus menangis. Gadis itu rupanya benar-benar sudah tidak waras. Ia berlari menembus guyuran hujan lebat di luar sana tanpa berpikir panjang.
Chanyeol sebenarnya tidak peduli dengan anak itu. Toh Chanyeol memang hanya ingin bermain-main. Tetapi masalahnya adalah, Chanyeol teringat gadis itu memegang kunci mobil Chanyeol dan ia baru saja pergi sambil membawa kunci mobil Chanyeol di dalam saku rok mininya. Chanyeol sebenarnya tidak mau ambil pusing dengan itu. Dia bisa saja memanggil orang untuk menjemputnya. Tetapi hari ini ternyata benar-benar hari sialnya. Ponsel Chanyeol mati dan benar-benar mati. Jadi mau tak mau, ia harus menyusul anak ituㅡ ikut menembus hujan deras di luar dan kemudian memohon dengan sangat supaya gadis itu mau memberi kunci mobil milik Chanyeol.
Jika mengingat kejadian sepanjang hari tadi, Chanyeol merasa ia benar-benar konyol. Sangat konyol. Mereka mirip seperti sepasang kekasih di dalam drama picisan yang ibunya kadang-kadang tontonㅡibunya mencuri-curi waktu sehingga hanya Chanyeol yang tahu seorang ratu sepertinya bisa juga menangis hanya karena menonton adegan drama yang begitu menyedihkan.
Jadi inilah akibat dari masalah sore tadi. Chanyeol langsung terserang demam dan tubuhnya kedinginan. Walaupun Chanyeol sudah membersihkan dirinya sebelum tidur, tetapi itu saja masih belum cukup.
Namun entah kenapa saat ia terbangun di tengah malam, Chanyeol merasa tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya. Sudut matanya menangkap seorang perempuan yang tengah tertidur tidak jauh di dekatnyaㅡrambut panjangnya menutupi wajahnya.
Saat Chanyeol bergerak ingin membalikkan badannya, sesuatu terjatuh dari kepalanyaㅡke arah samping dimana ia berbaring. Matanya menangkap sebuah handuk kecil berwarna putih. Chanyeol mengernyit dan matanya bergerak mengitari kamarnya; sebuah troli, baskom berisi air dingin, dan jangan lupakan kaus kaki bergambar stitch yang memeluk kakinya. Ini sangat kekanakkan. Chanyeol menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli.
Chanyeol memegang bahunya dn menarik Baekhyun yang tertidur lebih dekat ke arahnya. Lalu Chanyeol mulai menata bantal-bantal disampingnya dan menaruh kepala Baekhyun untuk bersandar lebih nyaman disana. Mereka berbagi tempat tidur.
Chanyeol membagi selimutnya dan menyelimuti Baekhyun sampai dagunya. Lucu sekali, padahal Baekhyun lebih tua darinya namun ia terlihat seperti anak kecil dengan postur tubuhnya itu.
Baekhyun bergumam kecil dan dahinya sedikit mengerut. Entah apa yang ia katakan, namun Baekhyun terlihat tidak rileks dalam tidurnya. Chanyeol menyadari itu. Baekhyun membalikkan badannya menyamping ke arah Chanyeol dan ia menjadi semakin gelisah.
Chanyeol meraih Baekhyun ke dalam pelukannya. Ia memeluk Baekhyun dengan lembut dan mengusap bahunya perlahanㅡtidak berniat melecehkan ataupun memanfaatkan kelengahan Baekhyun. Chanyeol hanya ingin berterima kasih padanya dan membantu Baekhyun yang tampak kelelahan.
"Shhh.. tenanglah kau tidak perlu bangun." Chanyeol mengusap bahunya dan sedikit memberi pijatan kecil disana. "Rileks Baekhyun. Rileks. Aku baik-baik saja." Chanyeol membisikkannya pada telingan Baekhyun.
Ajaibnya, setelah Chanyeol mengatakan itu, Baekhyun langsung diam dan ia menjadi lebih rileks dibandung sebelumnya. Baekhyun bahkan terdengar mendengkur kecil di dalam pelukan Chanyeol. Lelaki itupun terkekeh. Baekhyun sangat menggemaskan saat ia sedang tidur. Berbeda sekali ketika ia sedang bangun.
Malam itu, mereka berbagi tempat tidur. Chanyeol memeluk Baekhyun sepanjang malam dan Baekhyun menyandarkan kepalanya pada dadanya dengan nyaman.
.
.
.
.
The Bastard King
Terik mentari yang menusuk kelopak mata Baekhyun membuat ia sedikit mengernyit di dalam tidurnya. Baekhyun tidak tahu mengapa, tetapi ia merasa tidak ingin beranjak sedikitpun dari atas tempat tidurnya yang nyaman. Baekhyun bukan tipikal anak yang sulit untuk bangun pagi. Tapi untuk hari ini, rasanya ia hanya ingin tidur sepanjang hari di atas kasur empuk ini. Entahlah rasanya sangat nyaman dan seperti di surga.
Namun dering ponsel di atas meja nakas sana cukup untuk mengganggu tidur Baekhyun. Sangat berisik. Entah kenapa Baekhyun merasa ia membenci ringtone ponselnya sekarang. Padahal ringtone itu adalah ringtone favoritenyaㅡringtone itu adalah lagu baru Shineeㅡbelakangan ini.
"Ugh!" Baekhyun melenguh kesal dan mengambil ponsel ituㅡuntuk ia nonaktifkan secepat yang ia bisa.
Saat Baekhyun memegang ponselnya di depan wajahnya, betapa terkejutnya ia saat melihat itu adalah panggilan masuk dari ayahnya.
"Ya, ayah?" Baekhyun menggeser tombol hijau dan menjawab secepat yang ia bisa.
"Yah! Baekhyun! Ayah sudah meneleponmu sejak tiga jam yang lalu. Kenapa kau tidak mengangkat panggilan ayah?"
"Ugh.. ini masih terlalu pagi, ayah. Aku mengantuk sekali."
"Pagi katamu? Pukul sembilan, Baekhyun!"
Baekhyun memelototkan matanya horor. Matanya langsung bertubrukkan dengan jam digital mewah di hadapan tempat tidurnya. Benar. Pukul sembilan pagi.
Tunggu dulu.
Seingatnya, ia tidak pernah memiliki jam digital sebesar dan semewah itu di dalam kamarnya. Dan kenapa tempat tidurnya menjadi begitu besar?
Baekhyun menjatuhkan rahangnya.
Apakah ia baru saja tertidur di kamar Putra Mahkota?
Ya Tuhan.
Dengan refleks, Baekhyun melompat keluar dari atas kasur itu. Baekhyun menolehkan kepalanya kesana kemari mencari Chanyeol. Ia terlihat seperti seorang pencuri yang sedang ketakutan di kejar massa.
"Hyun.. Baekhyun?" Tapi suara ayahnya yang memanggil-manggil berhasil mengalihkan atensinya.
"Uh.. ya, ayah?" Baekhyun menjawab dan menempelkan kembali ponselnya di telinga.
"Apa yang sedang kau lakukan sekarang?" Ayahnya terdengar menghela nafas disana.
"Aku baru saja bangun tidur." Baekhyun menjawab dengan agak malas. Jujur saja, ia masih ingin tidur sekarang.
"Bersiaplah! Cepat mandi dan jemput kami di bandara Incheon!"
"Apa maksudnya, ayah?"
"Yang Mulia memutuskan untuk pulang hari ini. Kami sedang menunggu pesawat miliknya datang."
"Ayah akan segera pulang dari Shanghai?"
"Ya, Baekhyun."
"Baiklah! Berapa lama waktuku yang tersisa?"
"Sekitar dua jam. Cepatlah bersiap. Cari Luhan dan tanyakan pengawal Kim padanya. Ia akan membantumu untuk mempersiapkan pengawalan bagi Yang Mulia."
"Ya ayah. Aku mengerti." Baekhyun menggangguk disana. Lalu panggilan itupun berakhir.
Baekhyun melirik ke arah tempat tidur dan meringis. Iapun membereskan posisi selimut dan bantal yang sedikit berantakan akibat ulahnya. Ia mengedarkan pandangannya kesana kemari. Dimana Chanyeol? Oh, dan kemana perginya troli dan baskom yang Baekhyun letakkan disana? Baekhyun menggelengkan kepalanya sendiriㅡtidak percaya ia bisa melakukan hal semacam ini.
.
.
.
.
The Bastard King
Hari-hari berlalu dan Baekhyun merasa hidupnya sedikit lebih tenang. Entahlah, tetapi sejak kepulangan raja Junsu, semua berjalan begitu lancar. Bahkan Chanyeol tidak lagi berniat untuk mengerjai Baekhyun. Dan jujur saja, itu terasa agak aneh.
Saat ini seharusnya Baekhyun sudah pulang dari sekolah. Tetapi entah mengapa, Baekhyun ingin berlama-lama melihat Hanyang. Ada terlalu banyak ruangan yang belum ia ketahui dan Baekhyun sangat penasaran akan itu.
Baekhyun melangkahkan kakinya perlahan menyusuri koridor demi koridor yang ada disana. Matanya berbinar dan ia terus melangkah perlahan. Ada sebuah pintu yang terbuka di ujung koridor menuju perpustakaan Hanyang.
Baekhyun berbelik dan sedikit mengintip ke dalam. Matanya membulat kala ia melihat sebuah grand piano berwarna putih disana. Sangat cantik. Baekhyun sangat ingin mencoba memainkannya.
Baekhyun menggigit bibirnya raguㅡApakah tidak masalah jika mencobanya? Setelah perdebatan panjang di dalam batinnya, Baekhyun memutuskan untuk menantang dirinya bermain piano.
Iapun melangkah masuk ke dalam ruangan itu dan mengambil posisi duduk dihadapan piano cantik itu.
Ia menghela nafasnya, memejamkan matanya perlahan dan mulai menekan tuts itu. Ia memainkan sebuah melodi mengagumkan dari seorang maestro piano terkenal yang menjadi idolanya juga.
Lagu ini..
Lagu favorit Baekhyun.
Baekhyun tersenyum sambil terus memainkannya.
.
.
.
.
The Bastard King
Holding you, holding you
it's in you
river flows in you
Slowly more slowly
There is a river flowing inside me
Holding you, holding you
it's in you
river flows in you
Waiting the waiting
Will I be there then?
Baekhyun memainkan nada-nada indah itu sembari bersenandung ringan. Ia bahkan tidak menyadari seseorang tengah memerhatikannya di depan pintu masuk.
Begitu Baekhyun menyelesaikan permainannya, lelaki itu memasuki ruangan sambil bertepuk tangan. Ia memberi apresiasinya untuk Baekhyun. Karena sungguh, permainannya begitu indah dan menyentuh. Ia benar-benar memasukkan emosi sekaligus cintanya di dalam setiap nada yang mengalun.
"Kau luar biasa!" Lelaki itu memberi jempol di depan wajah bingung Baekhyun.
Baekhyun hanya menanggapinya dengan senyum malu-malu, "Ah.. kita bertemu lagi." Baekhyun melemparkan senyuman terbaik yang ia punya.
"Aku tidak tahu kau bisa memainkan permainan piano seindah itu."
"Terima kasih uhmㅡ" Perkataan Baekhyun menggantung dan lelaki itu terus menatapi Baekhyun dengan senyum tampannya.
"Kasper. Ayolah sebut namaku dengan benar, Baekhyun." Kasper berpura-pura terlihat sedih.
"Yeah. Aku baru saja ingin memanggilmu one million lagi." Baekhyun meringis lalu mereka tertawa terbahak-bahak bersama.
"Kau begitu lucu." Kasper memegangi perutnya dan tersenyum.
"Dan kenapa kau selalu bertemu denganku disaat aku tidak siap untuk bertemu? Huh!" Kali ini Baekhyun yang berpura-pura terlihat kesal.
"Mana kutahu?" Kasper mengangkat alisnya.
"Melatih koreografi lagi?" Baekhyun sudah terlihat lebih santai sekarang.
"Ya. Hari ini agak melelahkan. Jongin bergabung dalam tim dan ia membuat anak-anak yang lain merasa canggung." Baekhyun hanya mengangguk menanggapinya.
"Hey!" Kasper mengambil posisi duduk di sebelahnya Baekhyun dan ia mulai berbicara, "Kupikir kau bisa membantu kami?"
"Apa maksudmu?" Baekhyun menoleh padanya dan alisnya berkerut bingung.
"Jadi begini, tim dancer Hanang akan berkolaborasi dengan tim drama musikal. Kudengar, untuk pembukaan, mereka membutuhkan seorang pianis yang bisa memainkan lagu River Flows In You."
Baekhyun terkejut.
"Awalnya sudah ada seorang pianis, tetapi kudengar ia membatalkannya dan akhirnya Joonmyeonpun mencari-cari pianis baru. Kurasa, kau bisa menjadi solusi untuk kami. Bagaimana?"
"Uhm.. aku tidak terlalu yakin."
"Mengapa tidak? Kau baru saja memainkan lagu itu. Kau bisa melakukannya, Baekhyun. Ayolah. Lagipula ini adalah pesta topeng. Tak satu orangpun akan mengenalimu." Kasper berusaha meyakinkannya.
Baekhyun melipat bibirnya, ia tengah berpikir keras.
"Baiklah. Aku akan mencobanya." Baekhyun mengangguk.
"Itu bagus! Aku akan memberitahu Joonmyeon."
.
.
.
.
The Bastard King
"Baek, kudengar besok adalah malam Open House Hanyang?" Luhan bertanya pada Baekhyun.
Luhan saat ini sedang duduk di atas kasur Baekhyun. Ia bertanya dan memerhatikan Baekhyun. Sedangkan Baekhyun malah asyik duduk di depan TVnya dan menonton drama yang dibintangi oleh idolanyaㅡsalah satu anggota Shinee; Onew.
Baekhyun hanya berdeham menjawab pertanyaan Luhan. Mulutnya sibuk mengunyah pancake madu lezat yang Luhan bawa tadi. Matanya tidak teralih sedikitpun dari layar datar di hadapannya.
"Mengapa kau tidak bersiap?"
"Itu hanya pesta topeng, eonnie. Kenapa aku harus bersiap? Lagipula acara itu dimulai besok malam."
"Yah bodoh!" Luhan melempar bantalㅡdengan pelanㅡke arah Baekhyun. "Gadis-gadis lain pasti akan pergi ke spa hari ini. Mereka juga akan membeli gaun baru meskipun mereka tidak tampil di atas panggung!"
Baekhyun menoleh ke belakang dan tampak cemberut.
"Berhenti mengeluarkan aegyo! Kau bilang kau akan menjadi pianis untuk acara pembukaannya? Kenapa kau malah membuang waktumu disini! Setidaknya pergilah mandi lalu mari kita mencari gaun yang pantas bagi si pembuka acara."
Baekhyun membuka mulutnya, siap berargumen dengan Luhan. Tetapi sebelum ia melakukannya, Luhan kembali memotongnya dengan cepat, "Aku tidak mau menerima penolakan darimu!" Luhanpun menyeret Baekhyun menuju pintu kamar mandi.
"Dengar, dumbo kecil yang nakal, kau bersekolah di sekolah ternama di Korea Selatan. Mereka sedang membuat proyek besar dan kau adalah si bintang utama di acara pembuka. Kau pikir itu adalah hal yang sepele? Kau harus membuat semuanya terlihat berkelas. Jika kau membuatnya menjadi buruk, bukan hanya kau yang dipermalukan. Hanyang, bahkan keluarga kerajaan yang hadir disanapun akan dipermalukan!" Luhan mengoceh dan terus mengomeli Baekhyun. Yang diomeli malah tersenyum lebar dan menatapnya geli.
"Baiklah. Baiklah. Aku mengerti!" Baekhyun menanggapi Luhan dan mendengus.
"Cepat mandi! Kita harus memperbaikimu!" Luhan memutar bola matanya.
"Ay ay captain!" Baekhyun membuat gerakan hormat lalu berbalik memasuki kamar mandi. Sementara Luhan mendengus.
.
.
.
.
The Bastard King
Megaproyek yang telah dinanti-nantikan akhirnya datang. Hanyang High School yang mewah itu terlihat lebih mewah lagi dibanding hari-hari biasanya. Taman dibagian depan bahkan ditata ulang, tempat parkiran menjadi sangat berkelas dan rapi, bahkan warna cat gerbangnya juga berubah.
Penjagaan super ketat dimana-mana.
Ada banyak sekali pengawalan disetiap sudut.
Tentu saja, karena ini adalah malam istimewa yang hanya akan dilaksanakan setahun sekali.
Mobil-mobil mewah itu memasuki pintu gerbang dengan begitu percaya diri. Flash kamera dari para wartawanpun ikut meramaikan suasana malam yang tampak meriah ini.
Baekhyun sedang duduk manis di dalam mobil mewah milik Kasper. Ia mengantar Baekhyun.
Tadinya setelah selesai memoleskan dirinya di salon ternama, Baekhyun akan diantar oleh Luhan ke Hanyang. Luhan bersikeras memaksa Baekhyun untuk ikut dengannya saja. Luhan tahu, Baekhyun akan pergi ke Hanyang dengan sepedanya jika ia tidak mengantar Baekhyun.
Yang benar saja!
Baekhyun sudah memakai gaun mewah yang harganya tidak main-mainㅡLuhan yang membelikannya dengan sedikit memaksaㅡgaun itu berwarna biru gelap; seperti warna langit di malam hari dengan taburan permata mahal di bagian dadanya. Gaun itu juga sedikit mengekspos bahu putih Baekhyun. Panjangnya menyentuh lutut Baekhyun.
Luhan juga membelikan Baekhyun Louboutin berwarna hitam untuk menyelimuti kaki mungilnya. Ia juga sudah membayar mahal make up artist untuknya. Hasilnyapun sangat luar biasa memuaskan. Baekhyun tampak begitu manis; seperti bunga yang baru bersemi. Sangat cantik. Bibirnya merah merona dan rambutnya ditata dengan sangat indah. Luhan juga tidak lupa membelikan Baekhyun topeng berwarna hitam dengan pinggirannya yang terdapat banyak ukiran-ukiran seni.
Lalu, setelah semua hal yang begitu mewah dan indah menempel di badannya, Baekhyun akan pergi ke Open House Hanyang dengan menaiki sepedanya? Disaat semua orang berlomba-lomba memamerkan mobil-mobil mewah mereka yang harganya selangit, Baekhyun datang kesana dengan menaiki sepedanya.
Bagus sekali.
Dan lagi, Baekhyun adalah si pianis pembuka acara.
Hanya tinggal menunggu artikel yang akan diterbitkan besok pagi dengan juduk 'Sampah Hanyang yang Mengganggu Suasana' atau 'Gadis Aneh yang Tidak Tahu Cara Menyesuaikan Diri Dengan Pesta Berkelas' Oh tamatlah sudah riwayat Baekhyun jika itu terjadi.
Untunglah di salon mahal itu Luhan dan Baekhyun bertemu dengan Kasper. Ia bilang ia datang kesana karena ingin memperbaiki tatanan rambutnyaㅡia ingin mencoba gaya rambut baru untuk malam ini. Lihat? Bahkan lelaki seperti Kasper saja pergi ke penata rambut! Dan apasih sebenarnya yang terjadi dengan kepala Baekhyun? Luhan tidak habis pikir dengannya.
Baekhyun menghela nafasnya berkali-kali dan melihat keluar jendela. Disana ada banyak sekali wartawan yang berebut mengambil gambarㅡwell, ada banyak orang-orang ternama yang hadir di pesta malam ini. Mengingat Hanyang adalah sekolah berkelas.
"Apakah kau merasa gugup?" Kasper memecah keheningan dan menoleh pada Baekhyun.
Sementara Baekhyun hanya mengangguk dan menggigiti bibirnya.
Kasper tersenyum melihat tingkah Baekhyun. Iapun membelokkan kemudi; mencari ruangan kosong untuk memarkirkan mobilnya.
"Baekㅡ" Kasper menoleh lagi ke arah Baekhyun dan melepas seatbeltnyaㅡmereka sudah selesai memarkirkan mobilnya.
"Baek..." Kasper memanggil Baekhyun sekali lagi.
Baekhyun akhirnya merespon Kasper. Ia sedikit memiringkan kepalanya.
"Maaf?" Baekhyun meringis.
"Apakah aku harus mengantarmu pulang sekarang?" Candanya.
"Oh apa? Tidak.. Tidak.." Baekhyun menggeleng dengan cepat.
"Ekspresi wajahmu terlihat seperti kau akan dieksekusi mati." Kasper terkekeh.
"Ugh. Aku hanya.. hanya terlalu gugup. Aku tidak menyangka mereka akan membuatnya semegah ini." Baekhyun memberikan tatapan ngeri.
"Tenanglah Baekhyun. Semua akan baik-baik saja." Kasper menggerakkan tangannyaㅡberniat mengacak rambut Baekhyun.
"Tidak! Hentikan! Luhan eonnie akan memarahiku." Baekhyun bergerak siaga melindungi kepalanya.
Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.
Yeah, setidaknya ini sedikit berhasil menghilangkan kegugupan Baekhyun.
.
.
.
.
The Bastard King
Chanyeol tengah duduk di barisan paling depan ballroom Hanyang. Ia memakai jas hitam yang dibuat oleh tangan seorang perancang ternama. Rambutnya ditata ke atas memperlihatkan dahinya yang sempurna. Chanyeol sangat tampan hari ini; semua orang yang bertemu dengannya mengatakan itu terus menerus, membuat kupingnya bosan untuk mendengar pujian yang baginya terdengar sangat munafik. Chanyeol tahu mereka sengaja melakukannya agar Chanyeol melirik mereka.
Ruangan raksasa ini disulap menjadi luar biasa. Keluarga kerajaan mempunyai wilayahnya sendiri. Mereka terpisah dari tamu-tamu yang lain. Alasannya karena keamanan. Ayah dan ibunya duduk disampingnya dan mereka sibuk membicarakan masalah-masalah kerajaan bersama Perdana Menteri. Chanyeol hanya menunduk bosan.
Ballroom raksasa itu perlahan semakin dipenuhi oleh banyak orang. Murid-murid Hanyang, beberapa artis ternama, para pejabat, dan banyak orang penting lainnya.
Ayolah, Chanyeol sudah sangat ingin pergi sekarang. Jujur saja, pesta ini sangat menyebalkan bagi Chanyeol. Hal yang menjadi masalah adalah Chanyeol tidak bisa menghampiri ketiga temannya karena para pengawal itu mengatakan Chanyeol harus tetap berkumpul dengan orangtuanya. Pengawalan tidak boleh terpecah belah demi keamanan keluarga kerajaan. Chanyeol memutar bola matanya bosan.
Ruangan ini sudah tidak sehening beberapa saat yang laluㅡmenandakan sudah terisinya ruangan ini. Chanyeol menopang kepalanya dengan kepalan tangannya sambil terus mendesah sesekali.
Tirai berwarna merah marun yang menutupi panggung itupun terbuka diiringi alunan musik orkestra klasik yang menambah aura berkelas malam ini. Kemudian seorang lelaki tampan berjalan menuju tengah-tengah panggung sambil memegang mic ditangan kirinya. Lampu panggungpun bergerak menyorot lelaki itu.
"Selamat malam tuan dan nyonya sekalian." Joonmyeon menyapa seluruh tamu dengan microfon yang ia pegang. Penampilannya sangat menawan dengan jas abu-abunya.
"Pertama, saya sebagai ketua dewan siswa Hanyang periode 2016-2017 merasa sangat terhormat dan sangat berterima kasih kepada keluarga kerajaan Park Junsu yang bersedia menghadiri Hanyang's Open House 2016. Lalu, saya juga ingin berterima kasih kepada kepala sekolah yang sudah membimbing dan membantu dewan siswa untuk menyelenggarakan acara pada malam hari ini. Terima kasih juga kepada seluruh tim yang sudah bekerja keras di belakang panggung. Juga tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir. Dengan ini, saya sebagau ketua panitia acara membuka perayaan malam Open House Hanyang. Terima kasih sekali lagi dan selamat menikmati rangkaian acara."
Tepuk tangan riuh mewarnai berakhirnya kata sambutan dari Joonmyeon. Ini juga menandakan dimulainya acara selama tiga jam kedepan. Chanyeol lagi-lagi mendesah frustrasi.
Acara selanjutnyapun segera dimulai. Drama musikal yang begitu dinantikan oleh semua orang adalah pertunjukkan pertamanya. Drama musikal Hanyang kali ini berkolaborasi dengan berbagai macam ekstrakurikulerㅡmembentuk sebuah tim. Jongin bahkan ikut berpartisipasi disana. Pasti sangat menyenangkan menjadi Jongin saat ini.
Lampu panggung tiba-tiba dimatikan. Panggung itupun menjadi gelap gulita. Tetapi samar-samar terdengar langkah sepatu heels yang beradu dengan lantai panggung. Suaranya menggema ditengah-tengah keheningan.
Orang itu menekan tuts piano sembarang tetapi tetap terdengar menenangkan. Lalu sebuah lampu sorot meneranginya. Tepat ke arahnya saja. Sehingga hanya grand piano putih dan seorang gadis dengan gaun biru gelap lengkap dengan topeng hitamnya saja yang terlihat.
Hening.
Lalu gadis itu mendekatkan bibirnya pada stand mic di depannya. Iapun memulai nyanyian ditengah keheningan yang menusuk. Ia mengalunkan suara merdunya dengan yakin di antara perhatian semua orang untuknya.
Chanyeol terpana dibuatnya.
Ia menatap gadis itu dengan sorot mata kekaguman. Suaranya mampu menggetarkan bagian terdalam dari dirinya. Rasanya seperti tubuh dan jiwa Chanyeol membelah terbagi dua.
Jari-jarinya yang cantik menekan tuts piano dengan lembut dan mantap sembari terus bersenandung. Suaranya menggema di dalam ballroom yang luas itu. Semua orang membeku. Suara gadis itu seperti nyangian dewi-dewi khayangan. Seperti malaikat dari surga.
Ia mencapai nada tinggi dengan sangat mudah. Menyanyikan lagu itu dengan emosi yang sarat oleh kesungguhan. Membuat semua orang ikut terhanyut masuk dan menghayati lagu itu bersamanya.
Semua orang terpana.
Termasuk Chanyeol.
Chanyeol berpikir malam ini akan menjadi sangat membosankan. Tetapi nyatanya tidak begitu. Tiba-tiba saja Chanyeol teringat materi pelajaran fisika yang ia terima dari profesor Albert di ruang pelatihannya minggu lalu tentang gelombang bunyi. Dalam teori fisika, ada gelombang bunyi tertentu yang bisa membuat tubuhmu bereaksi terhadapnya.
Bagi Chanyeol, gelombang bunyi itu adalah suara gadis yang sedang menyanyi di depan panggung sana.
Tubuhnya bereaksi terhadap suara indah itu. Darahnya berdesir. Jantungnya berdetak meletup-letup seakan mau meledak. Chanyeol merasa ia terjatuh. Jatuh kedalam pesona seorang perempuan untuk pertama kalinya.
Chanyeol benci mengakuinya.
Mungkin ia sudah tidak waras sekarang.
Apakah ini yang dimaksud jatuh cinta?
.
.
.
.
The Bastard King
Baekhyun tengah memeluk bahu Kasper. Mereka tertawa pelan diantara pasangan-pasangan lainnya.
Ini adalah acara puncak. Semua undangan dipersilakan untuk turun ke lantai dansa. Mereka berdansa diiringi oleh melodi-melodi romantis. Peraturan terpentingnya adalah, siapapun yang ingin berdansa diwajibkan untuk memakai topeng mereka.
Jadi, disinilah Kasper dan Baekhyun berada. Berdansa diantara lautan pasangan-pasangan yang lain.
"Ugh, maafkan aku." Baekhyun terlihat kecewa dan kesalㅡlebih kepada dirinya sendiri.
"Tidak masalah Baek." Kasper tersenyum memberikan semangat.
"Aku benar-benar pasangan dansa yang buruk." Baekhyun cemberut, "Apakah aku harus melepas sepatu? Kakimu pasti sangat sakit, benarkan?"
"Tidak.. Tidak.. Jangan melepasnya. Aku baik-baik saja."
"Lain kali, ajari aku menari..." Suara Baekhyun mencicit lucu dan Kasper terkekeh.
Sebelah tangan Kasper memegang pinggang Baekhyun lalu tangannya yang lain memegang tangan Baekhyun. Ia menggerakkan tubuhnya pelan sesuai irama yang terdengar. Ia menuntun tubuh Baekhyun untuk ikut bergerak dengannya.
Seorang lelaki bersurai hitam menatap tajam mereka berdua. Matanya berkilat marah dan tangannya mengepal erat. Deru napasnya terdengar memburu.
Cemburu.
Persetan. Chanyeol sudah tidak peduli lagi dengan larangan-larangan konyol yang para pengawal itu berikan. Memangnya siapa mereka?
Chanyeol merogoh topeng emas miliknya dari dalam saku jasnya secepat yang ia bisa lalu ia melompat keluar dari tempat duduknya tanpa diketahui oleh para pengawalnya.
Chanyeol tersenyum masam sambil memasang topengnya kemudian melangkah memasuki area lantai dansa. Dia melihat Yifan tengah meneguk anggurnya di pojok sana sendirian. Yifan terlihat sangat mencolok dimata Chanyeol meskipun ia memakai topeng.
Chanyeol tadinya ingin menuju ke arah Yifan namun tiba-tiba saja lagu yang tadi diputar kini berganti menjadi lagu ballad yang sangat manis dan itu menghentikan langkah Chanyeol. Suasana yang tadinya tenang mendadak menjadi sedikit ricuh karena mereka harus berganti pasangan ketika lagu berganti.
Seorang gadis mungil menabrak dada Chanyeol. Tadi ia sempat berputar dan pastinya belum siap untuk berganti pasangan. Tidak berani menatap Chanyeol, iapun hanya mampu menunduk dalam-dalam.
Chanyeol mengenalinya. Ia si pianis pembuka acara. Ia meraih pinggang gadis itu dengan sebelah tangannya dan meraih tangannya yang lain. Gadis itu cukup terkejut dan dengan segera mendongakkan kepalanya.
Pandangan keduanya bertemu.
Lalu musik yang diputar seolah-olah memaksa mereka untuk mulai menari. Chanyeol melangkahkan kakinya ke kanan dan ke kiri. Pandangan mereka tidak terlepas barang sedetikpun.
Baekhyun menyadari bahwa ia semakin lihai berdansa. Terbukti dari ia yang tidak lagi menginjak kaki pasangan dansanya.
Baekhyun melemparkan senyum hangatnya pada Chanyeol dan Chanyeolㅡyang sangat jarang tersenyumㅡmenatapnya balik dengan senyuman di wajahnya. Chanyeol melihat mata Baekhyun yang berbentuk bulan sabit saat ia tersenyum melalui mata bulatnya.
Lalu ia memujinya, "Matamu seperti bulan. Sangat cantik." Chanyeol menundukkan kepalanyaㅡmembisikkan kalimat itu di telinga Baekhyun. Demi Tuhan. Chanyeol bahkan telah berkali-kali melihat perempuan cantik. Tapi tidak pernah mendapati perempuan yang memiliki mata secantik ini.
Sejenak Baekhyun merasa ia mengenali suara pria dihadapannya. Namun ia menggelengkan kepalanya; mengenyahkan pemikirannya. Chanyeol mengernyit melihatnya.
Lagu berganti lagi dan seluruh pasangan mulai bertukar pasangan seperti sebelumnya. Baekhyun baru saja akan melepaskan diri dari Chanyeol namun pria itu membawanya ke samping lantai dansa dan perlahan menuju ke balkon luar.
Baekhyun ingin mengatakan sesuatu, tetapi lidahnya kelu. Suaranya tidak bisa keluar dan Baekhyun hanga bisa melongo seperti orang bodoh. Bibirnya terbuka kecil dan Chanyeol kembali tersenyum dibuatnya. Chanyeol memberi kecupan kecil tepat di mulut Baekhyun yang terbuka kecil.
Baekhyun mengerjap.
"Aku tidak ingin menukar pasanganku." Lagi, Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun.
"K-kenapa?" Akhirnya Baekhyun bersuara.
"Karena kau milikku."
Seharusnya Baekhyun marah pada lelaki dihadapannya. Seharusnya Baekhyun menampar pria itu kuat-kuat karena sudah merebut ciuman pertamanya. Seharusnya Baekhyun memaki pria ini.
Baekhyun dilatih untuk menghajar seseorang. Baekhyun dilatih untuk mematahkan rahang seseorang atau lebih dari itu, untuk membunuh seseorangㅡjika berbahaya. Dan lagi, laki-laki di hadapannya juga sangat berbahaya. Baekhyun diberi pelatihan semacam itu selama bertahun-tahun. Tapi entah kenapa semua latihan itu bahkan tidak berguna sama sekali untuk malam ini. Mereka menguap begitu saja.
Dia sudah gila.
Chanyeolㅡlelaki di hadapan Baekhyunㅡsudah gila. Bagaimana mungkin dia bisa mengklaim Baekhyun adalah miliknya?
Tetapi tubuh Baekhyun bereaksi lain. Ia hanya tersenyum. Tersenyum dengan sangat lebarㅡ dan itu bisa saja membuat bibirnya sobek. Baekhyun tidak peduli.
Di balkon itu, di bawah cahaya bulan yang bersinar sangat terang, ditemani oleh suara musik yang samar-samar terdengar, mereka kembali berdansa dengan pandangan saling mengagumi satu sama lain. Tanpa tahu siapa pasangan dansanya masing-masing. Tanpa melihat wajah masing-masingㅡkarena topeng yang mereka gunakan. Tanpa tahu bahwa hal ini akan mengubah segalanya.
.
.
.
.
To Be Continued
