The Bastard King

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

And the other cast

School Life, Romance, Drama

Warning :

Genderswitch - Rated M

The story is mine, but the cast are not mine.

p.s :

Please read author notes below.

Sorry for typo(s)

Happy Reading!

Chapter 5 ㅡ Baekderella

"Mengakulah!" Chanyeol berteriak untuk yang kedua kalinya di cafetaria Hanyang.

Saat ini adalah jam makan siang dan Chanyeol ada di cafetariaㅡdengan gigi bergemeletuk dan mata tajamnya tak lepas memandangi seluruh siswa di cafetaria yang bergetar ketakutan.

"Hyung, kurasa kau harus menghentikan ini." Sehun berbisik di telinga Chanyeol.

Tetapi amarah Chanyeol tidak kunjung mereda.

"Kuulangi sekali lagi, merangkaklah padaku dan meminta ampun sebelum aku menemukanmu!" Chanyeol mengatakannya dengan sangat tegas dan aura kekejaman tersirat didalam nada suaranya.

"Hyung, tidak ada gunanyaㅡ" Sehun mencicit dan masih berusaha membujuk Chanyeol untuk segera menghentikan amarahnya agar mereka segera keluar dari sana.

"Aku tidak peduli! Aku harus menemukan orang itu!" Chanyeol mendesis.

Sehun lagi-lagi hanya dapat menghela napas lelah. Saat ini Jongin dan Yifan entah sedang berada dimana. Hanya ada dia yang menemani Chanyeol di jam makan siang. Dan mengurus Chanyeol yang sedang marah-marah tidak jelas benar-benar merepotkan.

Sudah berlalu seminggu sejak Open House dan Chanyeol terus saja resah. Dia memang selalu marah dan membully beberapa anak. Tetapi kali ini lebih parah dan ini benar-benar bukan gaya seorang Park Chanyeol.

Dihari pertama, setelah Open House berlalu, Yifan, Jongin, dan Sehun adalah saksi bagaimana wajah Chanyeol nampak seperti mayat hidup; pucat, berkantung mata, lunglai, tidak ada gairah, dan tampak seperti orang kerasukkan karena Chanyeol tidak mengucapkan sepatah katapun selama tiga hari.

Jongin adalah orang pertama yang mengusulkan agar mereka membawa Chanyeol pergi ke terapisㅡkarena ia pikir Chanyeol benar-benar harus pergi kesana sebelum ia menjadi gila. Tetapi kemudian, ide brillian seorang Kim Jongin musnah begitu saja karena Chanyeol memberontak.

Entah bagaimana disaat-saat seperti ini Yifan bisa menjadi sosok yang sangat bijaksana dan begitu dewasa. Ia membujuk Chanyeol untuk membagi masalahnya. Ajaibnya, Chanyeol tergerak untuk menceritakan semua masalahnya setelah itu.

Jatuh cinta.

Love at first sight, begitulah cara orang-orang menyebutnya. Konyol memang.

Chanyeol sedang terjebak dalam lautan api yang ia ciptakan sendiri saat ini. Chanyeol belum pernah mengalami ini sebelumnya jadi ia tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap.

Chanyeol mengatakan bahwa ia bertemu dengan gadisnya di malam Open House. Dia adalah gadis pembuka acara Open House.

Mereka berinteraksi malam itu, disaat Chanyeol bersiap untuk bertanya siapa nama gadis itu, seorang siswa Hanyangㅡyang entah siapa dia karena ia memakai topengㅡdatang dan mengganggu mereka. Ia berujuar, "Raja mencarimu Putra Mahkota, kami sungguh khawatir. Kami pikir anda menghilang." Dan perkataannya sukses membuat gadisnya menjadi sangat terkejut; ia membeku untuk beberapa saat.

Chanyeol kebingungan. Beberapa saat setelah anak laki-laki tadi berujar, gadisnya bergerak mundur menjauhi Chanyeol sembari terus menatapnya tidak percaya.

Jika biasanya semua wanita akan mendekati Chanyeol dengan tingkah gila merekaㅡmereka bahkan bertaruh satu sama lain untuk melepaskan celana dalamnya jika itu diperlukan untuk menjadi pendamping Chanyeolㅡnamun tidak dengan pianis ini. Ia bereaksi seakan-akan ia lebih memilih terjun dari balkon itu daripada disentuh oleh Chanyeol.

Chanyeol melangkah maju dan berusaha menggapai wajahnyaㅡyang tertutup oleh topeng dengan ukiran cantikㅡ "Nona..." Sialan. Chanyeol bahkan belum tahu siapa namanya. Gadis itu membalas Chanyeol dengan sebuah gelengan.

Chanyeol berusaha melangkah lebih dekat padanya namun gadis itu mengambil langkah mundur lagi. Gelengan kepalanya semakin cepat, matanya bergerak ragu kesana kemari dan ia bergumam pelanㅡentah apa yang ia katakan tetapi Chanyeol melihat bahasa tubuhnya yang berbicara bahwa ia ketakutan, dan gemetaran.

Semakin banyak Chanyeol berusaha melangkah maju, semakin banyak juga gadis itu melangkah mundur. Chanyeol semakin frustrasi karenanya. Chanyeol berhasil menggenggam tangannya namun gadis itu segera menepisnya. Kali ini gadis itu berbalik memunggungi Chanyeol seraya mengambil langkah untuk melarikan diri.

Sepatu heels yang ia kenakan bahkan tidak mengurangi tempo berlarinya. Ia berbelok di ujung lorong dan Chanyeol masih berusaha mengejarnya di belakang. Gadis itu menemukan tangga di sayap kanan gedung dan ia menuruni tangga itu sambil terus berlari.

Desain tangga ini benar-benar sialan menjengkelkan. Walaupun nampak mewah, ada banyak sekali anak tangga yang harus dilewati untuk mencapai taman belakang Hanyang. Chanyeol mendesis beberapa kali.

Dibelakangnya, Chanyeol sudah hampir berhasil mendapatkan gadis itu. Ia tersandung dan jantung Chanyeol hampir melompat keluar karena melihatnya. Namun keseimbangan tubuh gadis itu patut dipuji, Chanyeol melihat ia kembali berdiri dan berlari lagi. Ia sudah sampai di lantai dasar sekarang dan tubuh lincahnya kembali berbelok ke arah parkiran.

Chanyeol masih berlari mengikutinya ke arah parkiran tetapi tiba-tiba saja para wartawan yang berkumpul disana mengerubunginya. Blitz kamera menyilaukan dimana-mana. Suara bising mulai memenuhi telinga Chanyeol lengkap dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh mereka.

Sialan. Chanyeol tertahan karena mereka disini! Mereka pasti paparazzi sinting yang tidak membawa surat izin resmi untuk memasuki ballroom dan meliput berita. Itu sebabnya mereka terlantar disini. Chanyeol melupakan fakta bahwa hal-hal seperti ini bisa saj terjadi.

Chanyeol mudah dikenali karena ia sangat mencolok walaupun ia memakai topeng. Ditambah, ketika turun dari mobil tadiㅡsaat ia belum memakai topengnyaㅡia masih memakai pakaian yang sama!

Chanyeol mendorong salah satu diantara mereka dengan kesal. Lalu ia kembali mengejar gadis itu. Chanyeol berlari tak tentu arah. Ada terlalu banyak mobil disini dan ia tidak tahu kemana lagi gadis itu pergi. Chanyeol kehilangan jejaknya. Ya, dia kehilangan jejaknya.

Chanyeol berdiri dalam diam. Kepalanya menengok ke kiri dan kanan dengan cepat, "Fuck!" Chanyeol mengumpat dengan keras di tengah-tengah kesunyian arena parkiran sambil menendang udara kosong.

Chanyeol membuka matanya yang sempat terpejam saat memori itu kembali berputar. Suasana hening di cafetaria kembali menusuk. Chanyeol menggertakan giginya sekali lagi lalu mengambil langkah lebar untuk keluar dari sana.

Beberapa hari lalu ketika Chanyeol mulai bisa terbuka, sesuatu dari dalam dirinya memberontak dan mencoba mencari siapa sosok yang pantas ia beri pukulan untuk bertanggung jawab atas masalah ini.

Chanyeol pikir siswa tidak tahu malu itulah yang pantas bertanggung jawab disini. Jika ia tidak datang mencari Chanyeol sambil melontarkan kalimat-kalimat 'Putra Mahkota' maka tentunya gadisnya tidak akan terkejut dan menjadi sangat ketakutan padanya. Setidaknya pasti akan berbeda jika Chanyeol yang memberi tahunya sendiri. Atau mungkin tidak perlu memberitahunya sekalian. Mungkin gadisnya malu berhadapan dengan Chanyeol, atau mungkin ia hanya tidak menyangka orang yang mengajaknya berdansa adalah Putra Mahkota? Ya mungkin begitu.

Dan siswa laki-laki sialan itu pantas mendapatkan setidaknya satu hantaman dihidungnya karena merusak momennya dan gadisnya malam itu. Maka Chanyeol mencari cara agar ia bisa melakukannya. Itu sebabnya ia berada di cafetaria sambil memarahi semua orang. Ia berada disana hanya untuk itu.

Sehun berlarian menyusulnya di belakang, "Hyung! Hyung! Astaga mengapa kau pergi disaat aku sedang mengambil bubbleku? Ya ampun!" Chanyeol bergerak menuruni tangga di depan Sehun tanpa menghiraukannya. Pengaruh gadis itu begitu kuat. Sepertinya Chanyeol benar-benar tergila-gila padanya.

.

.

.

.

The Bastard King

Baekhyun meletakkan kepalanya pada lipatan tangannya dengan malas. Ia memiringkan kepalanya ke samping lalu mulai mengamati lapangan outdoor Hanyang dari jendela.

"Baekhyun?" Kyungsoo memanggilnya pelan lalu mengambil posisi duduk tepat di depannya.

"Hmm?" Baekhyun hanya berdeham tanpa sedikitpun berusaha menatap wajah Kyungsoo.

"Mengapa kau berada disini? Bukankah kau membenci perpustakaan?" Kyungsoo bertanya heran.

Baekhyun menghela napas keras.

"Sudah saatnya makan siang!" Kyungsoo mengingatkan.

"Tidak selera. Pergi temuilah Jongdae. Dia pasti sudah menunggu lama." Baekhyun masih diam di tempatnya sementara Kyungsoo memutar matanya.

"Apa yang terjadi padamu?" Kyungsoo menaikkan alisnya.

"Tidak ada." Baekhyun menjawab singkat.

"Ayolah, katakan saja padaku." Kyungsoo masih berusaha membujuknya.

"Kyung..." Baekhyun memanggil Kyungsoo lemah.

"Ya, Baek?"

"Apakah Cinderella memang ditakdirkan untuk bertemu dengan pangeran?" Baekhyun mulai berbicara aneh. Kyungsoo menatap rambut cokelat karamelnya dalam diam.

"Dia sangat tidak pantas untuk pangeran. Dia miskin, bodoh, dan kampungan. Tidak pantas bersanding dengan pangeran. Aku benar kan?"

"Baekhyun, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"

"Pangeran itu juga bodoh. Dia tertipu oleh penampilan cinderella. Itu semua hanya berkat pertolongan ibu peri untuk satu malam." Baekhyun masih terus meracau.

"Lagipula itu hanya dongeng! Dongeng tolol! Didunia nyata pangeran pasti akan menendang Cinderella ke tanah karena ia bahkan bukan siapa-siapa." Baekhyun mulai terlihat kacau.

"Baekhyun, ada apa denganmu?" Kyungsoo menatapnya khawatir.

"Aku sangat mengantuk. Kyungsoo, biarkan aku tidur ya?" Namun tiba-tiba nada suara Baekhyun berubah menjadi lebih lembut dari sebelumnya. Baekhyun menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya dan mulai memejamkan matanya.

.

.

.

.

The Bastard King

Seseorang menepuk kepala Baekhyun dengan sebuah buku tebal. Mulanya pukulan itu terasa pelan dan itu mengingatkan Baekhyun pada tepukan hangat yang biasanya ia terima sebelum ia tidur di malam hari dari ayahnya.

"Hei, tukang tidur!" Kali ini orang itu memukul kepalanya lebih keras.

"Hentikan itu!" Baekhyun mengangkat kepalanya yang sejak tadi ia benamkan. Tangannya bergerak melindungi kepalanya dari serangan orang itu lagi.

"Sudah bangun huh?"

Baekhyun berusaha memfokuskan matanyaㅡia baru saja bangun dari tidur. Ia butuh waktu untuk membiasakan dirinya.

"Dasar kau brengsek!" Baekhyun mengangkat wajahnya untuk memaki seorang lelaki di hadapannya. Tetapi selanjutnya, ketika Baekhyun mulai mengenali sosok laki-laki di hadapannya, ia menjatuhkan rahangnya.

"Apa?" Chanyeol menatapnya dengan pandangan datar.

Baekhyun hanya diam saja. Lalu ia berubah menjadi lebih kikuk; matanya bergulir kesana kemari dan jemarinya bertautan. Chanyeol menyadari perubahan sikapnya. Ia sedikit heran namun berusaha mengabaikannya.

"Bisakah kita menyelesaikan ini dengan cepat?" Chanyeol melempar selembar kertas pada Baekhyun.

"Apa ini?" Baekhyun berdeham dan menelan ludahnya dengan paksaㅡuntuk mengusir kegugupannya.

"Pak tua itu memberiku tugas perbaikan untuk nilai Matematika. Ia menyuruhku mencari Byun Baekhyun murid kelas tiga yang katanya cerdas."

Sejenak Baekhyun tertegun. Lalu ketika ia melihat lembar berisi soal itu, ia terkikikㅡmenertawakan Chanyeol dengan gaya seorang Baekhyun ketika ia ingin membalas dendam. Chanyeol lagi-lagi menatap Baekhyun dengan datar.

"Bagaimana bisa?" Baekhyun memegangi perutnya. Ia tampak lebih rileks dibanding sebelumnya.

"Hey, berhenti tertawa!" Chanyeol mulai kesal dengan ejekan Baekhyun.

"Ini adalah materi termudah yang pernah ada, dan kau tidak bisa?"

"Kubilang berhenti!" Chanyeol menekan kata-katanya.

Baekhyun masih tertawa dengan kencang.

Chanyeol terlihat mulai jengkel, "Sialan kau!" Lalu ia mengambil posisi berdiri dan berniat melangkah pergi dari sana sebelum sebuah suara menghentikan langkahnya lebih jauh.

"Akkhh..." Baekhyun memegangi perutnya kuat-kuat, kepalanya menunduk dan ia menggigit bibirnya dalam-dalam.

Chanyeol yang telah mencapai daun pintu perpustakaan berbalik dan memandanginya sambil mengangkat alis.

"Sakit, ya Tuhan!" Baekhyun mulai mengerang putus asa. Keringat tiba-tiba bermunculan didahinya.

"Kau baru saja tertawa lancang pada seorang Putra Mahkota. Rasakan itu." Chanyeol mengejek.

Tetapi Baekhyun tidak menggubrisnya. Baekhyun masih mengerang parau dan Chanyeol mulai menatapnya serius. Sepertinya Baekhyun tidak sedang bercanda. Apa yang terjadi tampak serius. Wajahnya pucat, ia terlalu lemah dan terlihat sakit.

Chanyeol berlari ke arahnya secepat yang ia bisa, "Baekhyun, apa yang terjadi?" Chanyeol sudah berdiri di sebelahnya.

"S-sakit.. Chanyeol.." Baekhyun menjerit. Ia hanya terlalu panik.

"Apa yang harus kulakukan padamu?" Chanyeol bertanya lagi padanya. Kali ini lebih panik. Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya.

"Tolong berpegangan pada leherku." Chanyeol memegang punggung dan paha Baekhyun lalu ia mengangkatnya dalam sebuah gendongan. Baekhyun mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol dan ia mulai menangis.

"Tenanglah Baek, kumohon.." Chanyeol berusaha menenangkannya. Suaranya sangat lembut ketika mengucapkan itu. Tanpa sengaja matanya melirik kursi yang Baekhyun duduki tadi. Chanyeol melebarkan matanya. Ia menatap tempat duduk itu ngeri, "Baek, ya Tuhan! Kau berdarah!" Chanyeol berteriak.

Baekhyun melirik kursi itu dengan wajah memerah lalu ia membenamkan wajahnya didada Chanyeol. Ia hanya tidak ingin Chanyeol melihat wajahnya yang sudah terlanjur dipenuhi rasa malu. Chanyeol menegang untuk beberapa saat. Ia kehilangan kata-katanya. Raut wajahnya menampakkan kebingungan.

"Chanyeol, tolong bawa aku berbaring. Ini sakit.." Baekhyun mengeluh sambil terus mengerang.

"Ah y-ya!" Setelahnya Chanyeol berlari sambil menggendong Baekhyun menju ruang kesehatan Hanyang.

.

.

.

.

The Bastard King

"Miss, kita harus membawanya ke rumah sakit!" Chanyeol menatap Guru Kim yang cantik itu.

"Dia akan baik-baik saja, Chanyeol." Guru Kim tersenyum tipis.

"Aku tidak yakin, dia berdarah!"

"Chanyeol, itu wajar. Baekhyun sedang menstruasi." Guru Kim menjawabnya geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Y-ya. Tapi ia tertawa padaku sebelumnya! Lalu ia menangis kesakitan! Apakah itu disebut wajar juga?"

"Ya Chanyeol. Beberapa wanita akan mengalami hal semacam itu. Hormom yang berubah-ubah serta rasa nyeri dibagian perut."

"Tapi tidak semua wanita begitu, Miss!"

"Aku sudah mengatakannya tadi. Kubilang, beberapa wanita. Jadi itu benar, memang tidak semuanya begitu." Guru Kim berusaha memberitahu Chanyeol dengan perlahan.

"O-oh." Chanyeol membalasnya kikuk.

"Baiklah. Aku harus pergi sekarang. Kau akan pergi atau tidak?"

"Aku akan menunggu disini."

Guru Kim tersenyum lembut, "Saat Baekhyun suda bangun, bisakah kau membuat teh hangat untuknya? Ada air panas dan gula disana." Guru Kim menunjuk sebuah meja kecil di sudut ruangan kesehatan itu. Chanyeol mengangguk pelan.

.

.

.

.

The Bastard King

Baekhyun mengerjapkan matanya. Ia mulai memfokuskan pandangannya. Aroma teh hijau yang menenangkan menyeruak memenuhi ruangan dimana ia berbaring. Perlahan-lahan Baekhyun menyandarkan punggungnya pada ranjang itu.

Ruangan kesehatan Hanyang tidak terlihat seperti ruang kesehatan sekolah pada umumnya. Ini terlalu mewah, benar-benar berkelas. Sekilas ruangan ini tampak seperti kamar hotel. Baekhyun belum pernah ke tempat ini sebelumnya.

Baekhyun menyentuh bibirnya yang terasa kering. Kepalanya berdenyut sakit dan ia benar-benar kelelahan. Rasanya semua energi yang ia miliki sudah terkuras habis hingga ia bahkan tidak mampu lagi berdiri.

Baekhyun menoleh dan menemukan secangkir teh hijau pada meja kecil di sampingnya. Uap mengepul dari dalam cangkir itu. Baekhyun meraih gagangnya dan menggenggamnya. Sebuah notes diletakkan persis di bawah cangkir teh itu.

Minum ini. Karenamu air panas itu mengenai punggung tanganku. Kau harus segera sembuh. Aku khawatir tidak memiliki lawan berdebat. Selain itu, tugas Matematikaku juga harus segera diselesaikan. Ah satu lagi, kau harus ingat bahwa sebuah gendongan tidaklah gratis.

PCY

Baekhyun tertegun. PCY? Siapa?

Oh! si fungus itu?

Ia mencebikkan bibirnya kesal tetapi kemudian bibirnya mengembangkan senyum simpul

.

.

.

.

The Bastard King

"Chanyeol!" Jongin menyahut diseberang telepon terlampau bersemangat.

"Yah Jongin! Aku memakai earphone!" Chanyeol menjawab kesal.

"Oh, maafkan aku."

"Ada apa?" Katakan saja."

"Dimana kau sekarang?" Jongin lagi-lagi bersuara dengan semangat.

"Di atap." Chanyeol menjawab singkat.

"Bagus. Turunlah ke taman belakang. Kami menunggumu."

"Apa kau baru saja memerintahku?" Chanyeol mengangkat alisnya.

"Ya. Tapi setelah ini kau akan berterima kasih padaku." Jongin tersenyum disana.

"Jika itu tidak terjadi, aku akan menendang bokongmu." Chanyeol menyeringai.

"Well, kau berhak melakukan apapun, Yang Mulia." Jongin menutup teleponnya sepihak.

Chanyeol menggelengkan kepalanyaㅡtidak percaya ia bisa dekat dan mau menerima perlakuan semacam ini dari Jongin. Well, itu membuktikan bahwa ia benar-benar berteman kan? Pertemanan yang sehat adalah ketika kalian bisa saling memaki dan mengejek.

Dengan langkah malasnya, Chanyeol menyeret tungkainya menuruni tangga-tangga menuju rooftop Hanyang. Tujuannya saat ini adalah taman belakangㅡsesuai yang Jongin minta padanya tadi. Akhir-akhir ini Chanyeol sering menghabiskan waktunya untuk merenung sendirian di rooftop. Ia benar-benar membutuhkan ruang. Ruang dimana hanya dirinya sendiri dan kenangan-kenangan manis yang selalu menghantui kepalanya. Jadi, rooftop Hanyang adalah pilihannya.

Chanyeol berjalan di lorong-lorong sembari terus menatap ke depan. Iapun sampai di ujung lorong kemudian berbelok menuruni tiap anak tangga menuju taman belakang sembari mengingat kenangan ketika ia menuruni tangga-tangga ini seminggu yang lalu.

Ia sudah sampai di taman belakang. Disana ada Jongin, Yifan, dan Sehun sedang berdiri membelakanginya. Mereka belum menyadari kedatangan Chanyeol sampai Chanyeol berdehamㅡterlampau kerasㅡdan itu membuat mereka serempak berbalik padanya.

Ada yang aneh pada teman-temannya. Tidak, mungkin yang paling aneh si hitam Jongin. Ia tersenyum terlampau lebar sekaligus misterius.

"Apa? Ada apa dengan kalian?" Chanyeol bersedekap, menguliti mereka satu persatu dengan tatapannya.

"Jongin semakin tidak waras, hyung." Sehun bersuara.

"Ini masuk akal, kau tahu? Kita bahkan belum mencobanya sama sekali!" Jongin tersenyum lebar lagi.

"Aku tidak mengerti." Chanyeol menatap mereka aneh.

"Jadi begini Chanyeolㅡ" Ucapan Yifan terputus karena Jongin memotongnyaㅡlagi-lagi dengan bersemangat, "Kami menemukan ini! Tidak! Lebih tepatnya aku yang menemukan ini!" Tangan kanan Jongin mengangkat sebuah sepatu Louboutin mengkilap berwarna hitam. Sementara Chanyeol berusaha memahami apa yang ingin teman-temannya sampaikan.

"Aku menemukan ini di samping anak tangga terakhir, ia tersembunyi oleh rerumputan itu." Jongin menunjuk area yang ia maksud.

"Lewat ceritamu, kau bilang bahwa kalian bertemu di ataa balkon sana, bukan? Lalu gadis itu melarikan diri melewati tangga ini, dan kalian berpisah. Bukankah begitu?"

Chanyeol hanya diam saja. Tetapi Jongin kembali melanjutkan perkataannya, "Kau tahu, Chanyeol? Aku pikir kita bisa menggunakan sepatu ini untuk mencari gadismu. Kau bilang ia siswi Hanyang. Kita bisa mencocokkan sepatu ini pada semua gadis di sekolah ini lalu kita akan menemukan dia!"

"Jangan dengarkan dia hyung. Otaknya susah terkontaminasi oleh drama-drama." Sehun lagi-lagi mendebat ucapan Jongin.

"Aku akan mencekikmu Oh Sehun!"

"Lakukan saja."

"Mengapa kalian tidak bisa diam?" Yifan menengahi.

"Yifan hyung, kau percaya padaku tadi." Jongin berusaha mencari sekutu.

"Ya. Aku percaya. Mungkin ini akan berhasil. Setidaknya dengan melakukan ini, kami dapat membantu mengurangi masalahmu itu, Chanyeol." Yifan menatap Chanyeol teduh.

"Apakah kau ingin melakukannya, bung?" Jongin menatapnya juga.

Chanyeol memandangi sebelah sepatu yang tertinggal itu di dalam genggaman Jongin dengan sebuah harapan baru.

.

.

.

.

The Bastard King

"Sial! Mengapa tidak ada seorangpun?" Jongin mendesah keras sambil berjalan kesana kemari.

"Aku sudah mengatakannya tadi. Sialan, tadi itu benar-benar memalukan." Sehun menimpali

"Aku sungguh menyesal, Chanyeol." Yifan menepuk bahu Chanyeol yang duduk tepat di sebelahnya.

Chanyeol mendesah keras. Saat ini ia dan teman-temannya tengah berkumpul di dalam markasnyaㅡruang bawah tanah. Mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan yang sungguh melelahkan; mencari Cinderella.

Jongin tampak paling resah diantara yang lainㅡmungkin ia merasa bersalah, karena semua ini adalah idenya.

Chanyeol menyandarkan punggungnya pada sofa merah marun di ruangan itu. Ia memijit pelipisnya dengan jari-jarinya sendiri. Peristiwa tadi siang di aula benar-benar membuatnya lelah. Bagaimana tidak? Para gadis Hanyang membuat kerusuhan disana. Mereka berteriak, berebut, bertengkar, dan berkelahi hanya untuk mendapat giliran mencoba sepatu itu. Jika saja ini bukan karena gadisnya, Chanyeol tidak akan pernah mau mencoba hal konyol semacam ini.

Chanyeol mendesah frustrasi sambil bangkit berdiri dan mengangkat kotak beludru berisi sepatu cantik itu, "Terima kasih untuk hari ini." Lalu ia membawa tungkainya melangkah keluar.

.

.

.

.

The Bastard King

Chanyeol menyimpan kotak beludru itu di atas tempat tidurnya. Ia mendesah kecewa, untuk yang kesekian kalinya. Dadanya bergemuruh menatap kotak itu.

Chanyeol melangkah keluar kamar dan mendapati Baekhyun sedang melewati lorong sambil menggendong tas MCM-nya. Chanyeol mengangkat alisnya kemudian berseru terlampau bersemangatㅡsejenak melupakan bebannya, "Yach hei!" Ia memanggil Baekhyun dengan senyum sumringah.

Bahu Baekhyun menegang, ia menghentikan langkahnya lalu berdeham untuk menutupi perasaannya yang campur aduk, "Apa? Kepada siapa kau berteriak?" Baekhyun mendengus sebal.

"Kau, Byun." Chanyeol menunjuk ke arah kepala Baekhyunㅡberniat mengejek tinggi badannya.

"Apa lagi sekarang?" Baekhyun melipat tangannya didada.

"Tugas Matematikaku." Chanyeol menjawabnya dengan jahil.

"Itu tugas milikmu. Jadilah anak baik, kerjakan sendiri!" Baekhyun membentaknya.

Chanyeol tampak tidak ketakutan sama sekali, "Hey, jika kau bisa menangkapku, aku tidak akan memaksamu membantuku lagi." Suaranya terdengar misterius.

"Apa yangㅡ" Baekhyun belum sempat menyelesaikan ucapannya. Chanyeol tiba-tiba aaja menarik ikat rambutnya dari belakang. Ia membuat rambut cokelat karamel milik Baekhyun tergerai di sepanjang punggungnya.

"Tangkap aku, pecundang!" Chanyeol sengaja mengejek Baekhyun.

"Sialan kau, keparat!" Baekhyun berteriak sambil berlarian mengejar Chanyeol di depannya yang berlari lebih cepat dan terus menerus tertawa.

"Aku akan menendang bokongmu!" Baekhyun terus berlari mengejarnya.

Chanyeol berlari menuju kebun belakang kerajaan. Kebun itu berisi berbagai macam tanaman hias yang mahal. Baekhyun terpana. Ternyata, lagi-lagi ia telah melewatkan banyak hal. Baekhyun berlari sambil melirik seluruh tatanan kebun cantik itu.

Baekhyun masih terus berlari, sampai tanpa sengaja ia tersandung bebatuan berukuran sedang. Tubuhnya oleh dan Baekhyun tak mampu menjaga keseimbangan di atas kakinya. Baekhyun jatuh terjerembab di atas jalanan setapak buatan itu.

"Akkhh!" Baekhyun menjerit. Lututnya mendarat lebih dulu dan kedua telapak tangannya menggesek permukaan jalanan yang kasar.

Chanyeol merasa dejavu dengan teriakan itu. Jantungnya berdebar tidak karuan. Terakhir kali ia mendapati Baekhyun, ia berteriak seperti itu juga. Dan itu sangat buruk. Ia menoleh secepat yang ia bisa, "Baek?" Lalu matanya melotot melihat Baekhyun yang sangat kacau bersimpuh di jalanan setapak. Beberapa meter di hadapannya. Refleks, Chanyeol segera berlarian menghampirinya.

"Apa? Dimana?" Napasnya memburu. Ia berjongkok di depan Baekhyunㅡtampak kacau, lebih kacau dari Baekhyun.

"S-sakit!" Baekhyun terisak-isak. Baekhyun sadar ia terlalu melebih-lebihkan ini. Baekhyun sudah sering berdarah, terluka, mendapat memar, dan lain sebagainya. Luka semacam ini tergolong ringan dan bukan masalah besar. Tetapi entah mengapa, di hadapan Chanyeol, Baekhyun menujukkan sosok yang berbeda. Rapuh dan lemah. Atau mungkin ini karena perubahan hormonnya? Baekhyun menjadi sangat melankolis akhir-akhir ini.

Demi Tuhan. Mengapa Chanyeol selalu mendapati Baekhyun yang berdarah? Kali ini bahkan lebih banyak.

"Baekhyun, tenanglah, oke? Kumohon bernapas!" Chanyeol mengangkat Baekhyun dengan gendongan kuat, tangannya menopang punggung Baekhyun hati-hati.

Apa yang Chanyeol pikirkan selanjutnya adalah; membaringkan Baekhyun secepatnya agar ia lebih rileks dan tidak mengeluarkan darah lebih banyak lagi. Chanyeol menggendongnya melewati pintu belakang lalu ia bertemu Luhan sedang berkutat di depan kompor lengkap dengan apronnya.

"Apa yang terjadi? Oh Tuhan!" Luhan berteriak panik melihat darah-darah di tubuh Baekhyun.

"Dimana kamar Baekhyun?" Chanyeol bertanya terlampau panik juga.

Luhan tampak kebingungan untuk beberapa saatㅡkarena terlalu panik. Lalu dengan cepat ia mengambil langkah di depan Chanyeol untuk menuntunnya ke kamar Baekhyun.

.

.

.

.

The Bastard King

Baekhyun suda jatuh tertidur dan tampak lebih tenang. Chanyeol duduk tepat di sebelahnya dan Luhan sibuk membereskan kotak obat-obatan miliknya. Chanyeol mengedarkan matanya meneliti kamar Baekhyun yang tidak lebih luas dari kamarnya.

"Apa yang anda pikirkan, Yang Mulia?" Luhan bertanya hati-hati.

"Tidak ada. Hanya saja, kamarnya terkesan menyegarkan." Chanyeol mengomentari dekorasi kamar Baekhyun.

"Baekhyun sangat rajin. Ia tidak bisa diam. Tangannya pasti selalu bergerak untuk mengerjakan sesuatu. Dia sangat kreatif." Luhan memandang lembut Baekhyun.

"Kurasa juga begitu." Chanyeol tersenyum membayangkan betapa aktifnya gadis yang lebih tua setahun darinya.

"Oh? Mengapa ini ada di tempat sampah?" Luhan mengangkat sebuah benda hitam berkilauan yang ia lihat di keranjang sampah Baekhyun.

"Astaga, aku membeli sepatu ini untuk ia pakai!" Luhan mengomel sendirian.

Chanyeol merasa dunianya berhenti berputar. Ia menatap sepatu dalam genggaman Luhan dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Ia merasa telah berhalusinasi. Tapi tidak, sepertinya itu nyata.

Maka Chanyeolpun berlari seperti orang gila ke kamarnya dan menarik kotak beludru itu dari atas ranjangnya. Lalu dengan kecepatanㅡyang entah di dapat darimana ia berlarian kembali menuju kamar Baekhyun.

Luhan sudah tidak ada disana. Tetapi sepatu yang ia genggam tadi berada di lantai. Chanyeol memungutnya lalu membuka kotak yang ia genggam. Ia mencocokkan kedua sepatu itu di depan matanya.

Sepasang.

Itu pasangan sepatu yang Jongin temukan. Apa yang Luhan katakan tadi? Milik Baekhyun? Chanyeol menatap Baekhyun yang tengah tertidur.

Benar, seingatnya Baekhyun tidak muncul di aula tadi siang. Ketika seluruh gadis berdesak-desakkan dan berebut ingin mencoba sepatu itu, Baekhyun tidak ada disana. Dengan hati bergetar, Chanyeol melangkah mendekati ujung ranjang Baekhyun. Ia menyibak selimut Baekhyun, menatap kaki telanjangnya. Chanyeol penasaran. Ia harus membuktikan ini. Chanyeol menyelipkan sebelah sepatu itu pada Baekhyun.

Cocok. Sepatu itu masuk dan tepat untuk ukurannya, sesuai.

Merasa kurang, Chanyeol meraih sepatu yang lain dan memasangkannya lagi.

Kini matanya berair menatap kaki Baekhyun. Ia sudah memakai sepasang sepatu itu. Sepatu itu sangat cocok untuk kaki Baekhyunㅡkakinya tepat mengisi rongga sepatu itu. Baekhyun adalah gadis pemilik sepatu ini. Baekhyun adalah gadis yang ia cari. Baekhyun adalah gadisnya. Gadis Park Chanyeol yang didambakan. Dada Chanyeol bergemuruh dan meletup-letup. Tenggorokkannya menyempit, nafasnya tercekat dan ia tersedak ludahnya sendiri.

"Chan-yeol?" Suara Baekhyun mengalun lembut, menatap Chanyeol kebingungan dan berusaha memfokuskan penglihatannya.

"Mengapa kau melakukan ini padaku, Baekhyun?" Chanyeol menatap Baekhyun tepat dimatanya. Suaranya bergetar.

.

.

.

.

To Be Continued

Author notes :

Halooo! Lama tak jumpa!

First, I wanna say, thanks for all my reader who waiting for these updates! Guys, you're really mean to me! Banyak banget diantara kalian yang ngirim PM dan aku sangat terharu. Thank you so damn much! Dan untuk yang nge-review pake akun, sebisa mungin aku bakal balesin review kalian. So, jangan bosen buat review ya!

Second, sorry lama update. Jadi begini, selama empat bulan ini, aku lagi ngehadapin try out ujian nasional dan well, aku udah ngikutin try out dua kali, belum lagi ujian akhir semester, tugas kelompok, ujian praktik, dan masih banyak lagi halangan lainnya -jadi curhat- Aku tahu update satu chapter aja pasti ga bakalan memuaskan, ga sebanding sama yang pernah aku janjiin kalau aku bakal update setiap bulan. Well, sorry i can't keep my promise. Jadilah, aku memutuskan untuk brkonsentrasi meng-update dua chapter sekaligus.

Third, jangan bilang kalau alurnya kecepetan ya guys, lol. Aku memutuskan akan menyelesaikan fanfic ini sekitar sepuluh chapter -mungkin bisa lebih- oleh karena itu, kalian boleh kasih kritik dan saran, tapi yang baik dan sopan tentunya.

Last, di chapter kemarin idline aku ga muncul ya? hehehe

idline : maureen jsj (ganti spasi dengan titik)

that is all.

#ThankYou

#JanganLupaReviewGuys

#BelieveInChanbaek

Regards,

Jerys Jung