The Bastard King
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And the other cast
School Life, Romance, Drama
Warning :
Genderswitch - Rated M
The story is mine, but the cast are not mine.
Sorry for typo(s)
Happy Reading!
Chapter 6 ㅡ Stay With Me
Baekhyun bersandar pada kepala ranjangnya. Kepalanya menghadap ke jendela. Matanya memandang sendu ke arah turunnya salju di luar sana. Baekhyun selalu memerhatikan salju turun untuk pertama kali. Mereka seperti keajaiban. Mereka selalu datang, setiap tahun tanpa pernah terlewat. Mereka tampak indah. Dari tempat Baekhyun memandang mereka terlihat seperti kelap-kelip bintang yang berjatuhan. Awal mulanya hanya satu titik kemudian semakin lama semakin bertambah banyak tetapi mereka tidak berhenti sampai disitu saja. Baekhyun yakin udara di luar pasti sudah semakin dingin sekarang. Tapi tetap saja mereka indah dan menawan.
Sejak kecil memerhatikan salju turun adalah kebiasaan Baekhyun. Hingga sekarangpun, kebiasaan itu masih melekat di dalamnya. Baekhyun akan duduk diam di depan jendela sambil menyeruput cokelat panasnya dan mulai mengamati butiran demi butiran salju yang turun. Baekhyun tidak pernah cocok dengan musim dingin karena ia alergi dingin. Baekhyun selalu suka cuaca panas. Tetapi salju adalah pengecualian. Ia selalu senang memerhatikan salju.
Di tengah-tengah pengamatannya pada salju-salju itu, Baekhyun memandang cerminan wajahnya sendiri yang dipantulkan oleh jendela kamarnya. Tiba-tiba memori tempo lalu itu kembali berputar. Baekhyun menghela nafasnya, "Tidak... Tidak... Aku baik-baik saja." Baekhyun bergumam sendirian sambil terus menatap wajahnya sendiri. Matanya tampak berkaca-kaca dan bengkak.
Baekhyun mengusap matanya kasar berkali-kali, "Sialan." Ia mulai memukuli kepalanya sendiri.
"Kau bodoh! Gadis bodoh! Apa yang kau pikirkan?" Baekhyun membenamkan kepalanya pada bantal-bantalnya, menangis terisak-isak dengan hati yang hancur.
Ini sudah berlalu seminggu. Setiap malamnya akan Baekhyun habiskan hanya untuk menangis dan menangis. Ia akan menangis sendirian, menggigit bibirnya kuat-kuat agar isakan sekecil apapun tidak muncul. Ia gadis yang kuatㅡia terus merapalkan kata-kata itu di dalam kepalanya seperti mantra. Terus begitu hingga ia kelelahan dan jatuh tertidur. Ia hanya berharap esok perasaan sakitnya akan menghilang, dia akan baik-baik saja dan selesai sudah semua ini. Semua perasaan tertekan, tersiksa, bersalah dan semua perasaan-perasaan menyakitkan lainnya.
Chanyeol menyentaknya; ia mengguncang bahu Baekhyun dan menariknya untuk duduk di ranjangnya, "Katakan padaku! Kau adalah gadis itu?" Matanya mencari mata Baekhyunㅡberusaha menemukan petunjuk.
Baekhyun terkejut, luar biasa terkejut. Matanya melebar tapi ia segera melempar tatapannya ke arah lain, "Apa maksudmu?" Baekhyun berpura-pura kali ini.
"Kau mengetahuinya, kau jelas tahu!" Chanyeol mencengkram bahunya lebih kuatㅡitu pasti akan menimbulkan bekas.
Baekhyun meringis, "Ya, kau benar. Jadi apa masalahnya?" Baekhyun berucap dingin, berusaha mati-matian menahan getaran dalam setiap kata-kata yang ia lontarkan.
"Apa masalahnya? Kau tahu aku mencarimu seperti orang gila dan kau berpura-pura tidak tahu! Kauㅡ" Chanyeol berteriak marah dengan mata menyala.
"Dengar, itu hakku ingin mengakuinya atau tidak. Lagipula, memangnya kita punya persetujuan untuk itu?" Baekhyun menyelanya.
"Aku sudah mengatakannya, kau adalah milikku!"
"Lucu sekali, Memangnya kau pikir kau siapa? Tidak ada hubungan apapun diantara kita. Kau bukan siapa-siapa! Aku tidak menginginkanmu!" Kini Baekhyun menatap Chanyeol dengan berani.
Chanyeol hanya diam, tidak bergeming. Semua kata-kata Baekhyun begitu mengejutkan. Reaksi semacam ini tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Dan itu menghantam kepalanya begitu kuat. Tapi lebih dari itu, hatinya merasakan suatu perasaan aneh, rasanya seperti berdarah, hanya saja tidak terlihat. Itu begitu menyakitkan. Begitu sulit untuk diterima. Chanyeol tersentak, pegangannya pada bahu Baekhyun mengendur. Kakinya membawa ia melangkah mundur dari ranjang itu.
Lalu seolah Baekhyun belum juga sadar akan semuanya, ia kembali dengan kata-kata yang sanggup membuat orang terluka, hanya kata-kata, "Aku tidak menginginkanmu! Aku tidak pernah berharap itu terjadi! Jika saja aku tahu itu kau, aku tidak akan pernah mau!" Baekhyun terengah-engah. Tidak, lidah sialan. Bukan itu yang ingin ia katakan! Bukan itu!
"Begitu." Chanyeol menatapnya kosong. "Aku begitu bodoh." Chanyeol tersenyum miris. Ia berjalan lunglai menuju pintu kamar Baekhyun tanpa sedikitpun menoleh.
Baekhyun menatap punggungnya dengan perasaan hancur. Rasanya sulit sekali untuk sekedar menarik napas. Sakit, itu yang Baekhyun tahu. Mereka hanya berakhir saling menyakiti.
Baekhyun mengusap wajahnya kasar. Kepalanya menunduk dan ia melihat kaki mungilnya sudah memakai sepatu itu, selimutnya juga tersibak berantakan di sudut ranjang. Dengan tangannya yang gemetaran ia melepaskan sepatu itu, menyentaknya keluar hingga bekas kemerahan muncul disana. Baekhyun melempar sepatu itu sembarang. Ia meyakinkan hatinya sendiri; semua ini benar. Memang itu yang harus ia lakukan. Mereka tidak bisa bersama, apapun alasannya. Jangan konyol, hanya karena satu malam di acara Open House kau bisa jatuh cinta?
Baekhyun menggigit bibirnya, ia tidak boleh merasakan perasaan itu. Tidak pada Chanyeol. Tidak pada playboy super satu itu. Tidak pada putra mahkota. Tidak.
Baekhyun tidak pernah tahu bahwa ia akan menyesali tindakannya mengambil tawaran raja waktu itu. Jika saja ia tahu semua akan menjadi begitu sulit, tentu ia akan memilih zona nyamannya saja. Ini menyebalkan. Dan Baekhyun membenci dirinya sendiri karena ini.
.
.
.
.
The Bastard King
Dentuman musik mengalun keras di telinga. Bau alkohol, keringat, dan aroma-aroma aneh menyergap penciuman Baekhyun. Baekhyun berjalan memasuki bangunan dengan papan bertuliskan 'Doors' di atasnya.
Ia sedikit tidak percaya diri dan kikuk. Terlebih lagi saat ia sudah memasuki bagian dalam, para wanita hanya memakai dress mini, transparan, menonjolkan dada dan paha mereka.
Sedangkan Baekhyun, ia berdiri memakai celana jeans panjangnya, sepatu sneakers, dan kaos croptop tanpa lengan berwarna hitam yang menurutnya sudah cukup cocok untuk dipakai berpergian tetapi nyatanya tidak.
Kyungsoo menyikut lengan Baekhyun. Ia memakai dress pendekㅡpanjangnya hanya mencapai bokongnya, sepatu heels yang tinggi, dan rambutnya digulung ke atas. Ia tampak seksi dan liar. Baekhyun mengernyit. Tidak pernah terpikir olehnya Kyungsoo memiliki sisi seperti itu.
"Apa yang kau pikirkan, Baekhyun?" Kyungsoo mengerutkan dahinya.
"Tidak ada." Baekhyun menggeleng.
"Kita kemari untuk bersenang-senang, ingat itu!" Kyungsoo mencubit pipi Baekhyun yang semakin kurus saja.
Kyungsoo mengajak Baekhyun melepas penatnya di Club Doors. Ia hanya tidak tahan melihat Baekhyun yang tingkahnya begini. Baekhyun selalu bersedih. Tiba-tina saja menangis, menghela napas, melamun, diam membisu, begitu terus selama seminggu.
Kyungsoo memang sering pergi ke club. Club dan orang kaya rasanya memang tidak bisa dipisahkan. Biasanya ia akan pergi dengan Jongin, karena Jongin tidak suka seorangpun melirik Kyungsoo. Tapi kali ini pengecualian. Kyungsoo tidak pergi bersama Jongin karena malam ini adalah malamnya para gadisㅡKyungsoo menyebutnya begitu.
Ngomong-ngomong soal club, Kyungsoo berpergian keluar masuk club karena pengaruh pacarnya sendiri. Tapi ia pikir, itu tidak begitu buruk. Kau bisa minum-minum, memakai baju apapun semaumu, dan tidak akan ada yang berpikiran aneh padamu. Yeah setidaknya umurnya sudah tujuh belas. Jadi biarlah mereka ini menikmati kenikmatan dunia yang sementara.
"Demi Tuhan, Kyungsoo! Aku tidak pernah masuk club!" Baekhyun berteriak di telinga Kyungsoo. Baekhyun sudah masuk lebih dalam dan mereka berdiri di atas lantai dansa. Udara di dalam benar-benar panas. Berbanding terbalik dengan di luar. Mereka menyalakan penghangatnya.
Lampu berkelap-kelip dan lantai dansa ini penuh sesak oleh orang-orang. Peduli apa orang-orang ini dengan musim dingin. Ini terlihat seperti club tidak pernah tidur.
"Nikmati saja!" Kyungsoo balas berteriak. Ia meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama musik sembari tersenyum menggoda pada beberapa orang yang menatapnya. Baekhyun menjatuhkan rahangnya.
"Kyung, aku ingin pergi ke toilet!" Baekhyun berteriak padanya. Kyungsoo hanya mengangguk. Baekhyun nenggeleng lalu melangkah keluar dari area lantai dansa, menyelip diantara himpitan orang-orang.
.
.
.
.
The Bastard King
Baekhyun memasuki toilet wanita setelah ia berkutat kesana kemari mencari dimana toilet itu berada. Ia menghampiri kaca besar disanaㅡingin mengecek bagaimana penampilannya. Baekhyun merapikan rambut panjangnya dan menepuk-nepuk pipinya yang bersemu merah. Sepanjang jalan menuju toilet tadi ia melihat banyak pasangan bercumbu disana-sini dan itu benar-benar sangat intim. Tetapi mereka bahkan tidak peduli. Mereka juga tidak berusaha mencari kamar. Justru Baekhyunlah yang merasa malu melihat itu semua. Baekhyun menggelengkan kepalanya.
Baekhyun baru saja akan keluar dari toilet itu sebelum suara seseorangㅡentahlah bagaimana menjelaskannya? Itu adalah geraman. Terdengar menakutkan dan membuatnya merinding.
Suara seorang pria.
Baekhyun bergidik ngeri.
Tadinya Baekhyun tidak mau peduli dan ambil pusing dengan suara itu. Namun saat kakinya mencapai daun pintu, Baekhyun rasa suara berat itu terlalu familiar.
Baekhyun merasa deja vu.
Ia pernah berada di dalam kamar mandi juga saat itu laluㅡah sudahlah. Tapi mungkinkah itu terulang kembali? Baekhyun menggeleng kuat, entah apa alasannya tapi tolong jangan biarkan itu terjadi.
Baekhyun adalah si pemberaniㅡsemua orang menyebutnya begitu. Tapi kalu ini, Baekhyun berkeringat dan jantungnya berdegup terlampau kencang. Ia melangkahkan kakinya menuju sumber suara. Ia benar-benar harus membuktikan ini sendiri.
Lagi, pintu itu tidak dikunci dan sedikit terbuka. Baekhyun memelankan langkahnya, berusaha mengintip ke dalam tanpa suara. Jika waktu itu Baekhyun merasa malu melihat iniㅡtadi ia juga sempat merasa tersipu melihat pasangan-pasangan gila di sepanjang lorong sana.
Namun saat melihat pria itu yang melakukan ini, Baekhyun merasa dunia berhenti berputar untuk sesaat. Semua terasa semu dan abu-abu. Bagian terdalam dari dirinya terluka. Terlalu dalam, terlalu banyak, terlalu menyakitkan.
Baekhyun merasa ini adalah siksaan terkejam yang pernah ia terima. Ini hukuman terburuk. Baekhyun merasa ia berdarah. Dimana-mana. Berdarah dimana-mana. Tapi luka yang paling sakit ada dihatinya.
Rasanya seperti diremat kuat-kuat lalu dihempaskan begitu saja. Sakit sekali.
Baekhyun benci mengakui ini. Padahal waktu itu ia baik-baik saja melihat ini. Ia baik-baik saja. Tetapi sekarang mengapa saar melihat ini justru Baekhyun merasa...sakit?
Baekhyun membekap mulutnya kuat-kuat, mencegah segala macam hal bodoh yang bisa saja keluar dari sana. Ia mengambil langkah mundur sambil menahan setiap desakan dari matanya. Setiap buliran-buliran kristal yang mendesak berusaha keluar dari kedua kelopaknya.
.
.
.
.
The Bastard King
Chanyeol menampar Nana.
Kuat sekali hingga sudut bibirnya berdarah.
Nana memegangi pipinyaㅡyang baru saja ditampar kemudian menoleh ke arah Chanyeol, memandanginya tidak percaya.
"Apakah aku mengizinkanmu menyentuhnya?" Chanyeol bertanya datar, rautnya tanpa emosi, benar-benar dingin.
"Aku bertanya padamu, jalang!" Chanyeol menarik paksa rambut panjangnya ke belakang sehingga gadis itu memekik. "Apakah aku mengizinkanmu menyentuh milikku? Jawab aku!" Chanyeol membentaknya. Lalu ia menghempaskan tangannya dari rambutnya.
"Kupikir.. Kupikir.. Kau menyukainya." Nana gemetaran di atas pangkuan Chanyeol, "Kau menggeram.." Nana mengucapkan kalimat terakhir dengan hati-hati, terlampau pelan.
"Turunlah." Chanyeol memerintahnya, matanya menatap ke arah lain.
Nana mematuhinya. Chanyeol membuatnya takut. Ia begitu aneh. Chanyeol tidak pernah memperlakukannya begini. Entahlah, kemana perginya Chanyeol yang ia kenal? Ia turun dari pangkuannya dan menyingkir dengan segera.
Chanyeol mendorong pintu itu, ia keluar dan menatap pantulannya sendiri di cermin. Ia mengacak-acak rambut hitamnya sebentar lalu melangkah keluar sambil mengusap pahanyaㅡgerakan tangannya tampak seperti ia ingin membersihkan kotoran yang menempel disana.
Chanyeol tampak rapi, berpakaian lengkap dan tampan. Berbanding terbalik dengan seorang wanita yang telah ia campakkan di dalam sana. Pakaiannya robek di bagian dada, roknya tersingkap ke atas, dan celana dalamnya entah berada dimanaㅡia hampir telanjang. Rambutnya bahkan tidak lebih baik dari sarang burung. Menyedihkan.
.
.
.
.
The Bastard King
Baekhyun memarkirkan sepedanya cukup jauh dari tempat parkiran Hanyang karena tempat itu sudah dipenuhi oleh banyak mobil-mobil mewah. Salah satunya milik Chanyeol. Ia tersenyum kecut.
Baekhyun menyusuri koridor Hanyang dengan tatapan kosong; ia melamun. Sesekali Baekhyun akan menghela nafasnya, menimbulkan asap putih keluar dari mulutnya karena cuaca yang begitu dingin. Baekhyun terus berjalan tanpa menyadari beberapa siswi centil di depan sana akan menjahilinya. Ia tidak memerhatikan keadaan sekitar hingga kakinya menyandung siswi centil itu.
Baekhyun terjatuh, ia benar-benar belum siap. Ia sangat terkejut.
Baekhyun masih berada dalam posisi tengkurapnya ketika anak-anak itu sibuk menertawainya. Sejujurnya jika mood Baekhyun tidak dalam keadaan seperti saat ini, ia akan berusaha untuk melawan. Namun untuk saat ini Baekhyun benar-benar sudah lelah.
Hingga anak-anak itu merasa puas dan melenggang pergi, Baekhyun masih saja diam di posisinya. Kyungsooㅡentah darimana datang berlarian ke arahnya. "Baekhyun!" Ia memekik kencang.
Kyungsoo membantu mendudukkan Baekhyun di salah satu kursi panjang di koridor itu. "Ya ampun! Kau berdarah!" Kyungsoo menatap ngeri pada hidung Baekhyun yang mengeluarkan cairan merah pekat.
Baekhyun menarik sapu tangannya dari dalam saku mantelnya kemudian mengelap bagian bawah hidungnya cepat. "Ayo pergi ke ruang kesehatan!" Kyungsoo menarik Baekhyun untuk berdiri.
"Tidak usah. Aku sudah biasa berdarah." Baekhyun menjawab Kyungsoo datar, tanpa ekspresi. Walaupun sebenarnya Kyungsoo tahu Baekhyun kesakitan di dalam sana. Baekhyun melenggang pergi meninggalkan Kyungsoo. Kyungsoo hanya bisa menghela napasnya menatap punggung Baekhyun. Mau bagaimana lagi? Baekhyun menjadi sangat pendiam akhir-akhir ini. Padahal Kyungsoo sangat ingin membantunya.
.
.
Berita tentang Chanyeol yang sedang mencari Cinderellanya menjadi hot topic di Hanyang beberapa minggu lalu. Namun kini, berita bahwa gadis itu menolak dan mencampakkannya menjadi headline utama di kalangan siswa Hanyang. Seluruh murid tampak memegang ponselnya saat ini. Seorang pengirim tidak dikenalㅡentahlah mungkin dia sasaeng fans. Karena demi Tuhan bagaimana dia bisa tahu hal-hal tentang Chanyeol sedetil itu?
Pengirim tidak dikenal itu mengirim email berisi foto-foto, lengkap dengan penjelasannya mengenai situasi di dalam foto itu. Beberapa siswi memekikㅡentah karena terkejut atau kecewa Chanyeol menemukan Cinderellanya. Para siswa hanya menggeleng tidak percaya.
"Jadi, orang itu adalah Baekhyun si murid pindahan?" Nam Joohyuk sang ketua kelas 2A saja sampai terbawa suasana bergosip dengan yang lain. Suasana ruangan kelas itu tiba-tiba saja menjadi gaduh hanya karena berita itu. Mereka sibuk mengoceh, mengomentari atau membicarakan hal yang semestinya bukan urusan mereka. Seluruh muridㅡyang katanya anak unggulan terus saja bergosip, beberapa anak membuat kegaduhan dengan bernyanyi-nyanyiㅡmungkin ingin menyambut guru yang belum datang Suasana itu terus berlanjut hinggaㅡ
Debuman pintu yang beradu dengan dinding cukup mengalihkan atensi semua orang.
Kim Jongin membuka pintu ruangan itu dengan keras hingga membuat semua anak terkejut. "Hati-hati dengan lidahmu." Jongin berujar, melempar senyum misterius. Ini aneh mengingat Jongin bukanlah tipe anak yang suka serius. Namun kali ini ia berubah menjadi begitu kejam. Jongin sedikit bergeser sehingga seseorang yang berada di balik tubuhnya terlihatㅡhal itu membuat beberapa anak terkejut bukan main.
Chanyeol berdiri tepat di belakang Jongin. Ia kemudian mengambil langkah disampingnya saat Jongin melenggang masuk. Anak-anak yang tadinya berdiri di atas kursi, yang sibuk bergosip, yang sibuk menyanyi-nyanyi, perlahan-lahan mendaratkan pantat mereka di kursinya masing-masing. Seketika suasana berubah menjadi hening dan mencekam.
Chanyeol melempar ranselnya di atas meja, menimbulkan suara debuman keras. Lalu tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya, ia mulai menenggelamkan kepalanya diantara lipatan tangannya, mengabaikan semua tatapan was-was yang tertuju padanya dari banyak pasang mata di ruangan itu.
.
.
.
.
The Bastard King
"The fuck! Apa-apaan kalian?" Baekhyun berujar marah saat beberapa siswi berpakaian rok super miniㅡdan jangan lupakan tatanan rambut rainbownya berusaha menyeretnya ke atap. Baekhyun berusaha menampakkan wajah datar dan sikap tenangnya karena demi Tuhan jika kau tampak ragu atau sedikit saja ketakutan, mereka akan semakin besar kepala.
Dengan tangan yang gemetaran Baekhyun berusaha sekuat tenaga untuk tidak pingsan saat menapaki tangga-tangga menuju kematiannya. Baekhyun belum makan apapun sejak pagi sialan. Mereka menyeret Baekhyun, mendorongnya hingga membuat lututnya bertemu tanah.
Lima orang. Baekhyun menghitung kaki-kaki super kurusㅡsekilas itu mirip ranting pohon di mata Baekhyun. Salah satu diantara mereka merenggut paksa rambut Baekhyun, membuatnya mendongak ke atas dan bertatapan dengan mereka semua.
"Jalang sialan! Jadi kau adalah Cinderellanya?" Gadis berambut merah terang itu menatap Baekhyun garangㅡyang dibuat-buat. Baekhyun hampir muntah melihatnya. Baekhyun hanya diam saja. Ia malah menatap balik gadis itu remeh.
Lalu bagai sebuah kilat, Baekhyun tidak pernah tahu apakah tindakan semacam ini dilegalkan, gadis berambut merah terang itu baru saja menampar Baekhyun. Cukup kuat. Baekhyun bahkan dapat merasakan kuku panjang ber-kuteks miliknya menggores pipi Baekhyun. Perih, tapi yang lebih tersakiti saat ini adalah harga diri Baekhyun. Demi Tuhan tidak pernah ada satupun manusia yang pernah menampar Baekhyun. Mungkin ya jika Baekhyun melakukan kesalahan. Tapi kali ini? Ia bahkan tidak tahu alasan apa yang membuatnya patut diperlakukan begini.
"Jawab, bodoh!" Dan ia berteriak. Baekhyun bisa melihat bola matanya hampir melompat keluar karena melotot.
"Apa yang kalian mau?" Baekhyun bertanya lelah, ia menunduk.
Mereka tertawa cekikikan. Andai saja mencekik seseorang sampai mati dan ia takkan dihukum, Baekhyun akan melakukan itu sekarang juga. "Tidak tahu malu! Menjauhlah dari Chanyeol kami." Temannya yang menyahut sekarang.
"Kalian akan mendapatkan itu." Baekhyun berujar dingin sambil bangkit berdiri, mengibas rok dan lututnya dengan gerakan anggun di depan mata mereka semua. Baekhyun menatap wajah mereka satu persatu, tepat di matanya seolah berusaha menghafal baik-baik bagaimana rupa seorang pecundang gila yang terobsesi pada Chanyeol si fungus brengsek.
Baekhyun melangkah perlahan menuju pintu keluar, menjaga langkah-langkahnya tetap tampak normal. Ia juga harus terlihat kuat disaat seperti ini. Baekhyun tidak mau ditertawakan lebih banyak lagi. Tangannya menggenggam kenop pintu yang menghubungkan atap dengan tangga. Ia memutarnya, kemudian mendorongnya.
Terkunci.
Baekhyun menyeringai, "Aahh!" Baekhyun mendongak, terlihat ceriaㅡhanya aktingㅡsudut bibirnya berdarah, cukup mengkhawatirkan. Baekhyun menangkap keberadaan kamera cctv di atas kepalanya. Baekhyun melambaikan tangannya yang bebas. "Pak! Terima kasih karena sudah menaruh kamera disana. Kau lihat yang tadi?" Baekhyun tersenyum remeh sembari menoleh ke belakang. Baekhyun masih saja mengoceh walaupun ia tahu cctv tidak merekam suara.
Baekhyun melangkah mundur, mengambil sebuah posisi. Lalu setelahnya hanya terdengar debuman yang begitu keras. Baekhyun mendang pintu itu hingga rusak, dan terbuka. Lima siswi itu terlonjak di tempatnya. Tentunya mereka tidak tahu bahwa mereka baru saja menggoda serigala betina dengan kekuatan semacam itu. Ia mampu membuka pintu yang terkunci itu dengan satu tendangan. Mereka menjatuhkan rahang dengan wajahnya yang memerah, gemetaran sekaligus panik disaat yang sama.
.
.
.
.
The Bastard King
Baekhyun menghela nafasnya. Ia melempar koper hitam besarnya ke atas ranjang. Semua barang-barangnya sudah masuk ke dalam koper itu. Ia mengambil posisi duduk di samping koper itu. Baekhyun menatap tembok yang tadinya ia pasangi wallpaper berwarna biru cerah kesukaannya. Kini tembok itu sudah kembali ke keadaan semula, sebelum Baekhyun datang, persis seperti sedia kala. Baekhyun mengedarkan pandangannya mengitari ruangan itu, berusaha merekam kenangan beberapa bulan terakhir saat ia melewati hari-harinya di dalam kamar itu.
Saat ini ayahnya tidak ada di istana. Ayahnya sedang berada di Mapo, melatih para pengawal-pengawal junior. Barkhyun tersenyum lirih. Ia akan datang dan membuat kejutan untuk ayahnya. Entahlah, satu-satunya yang terpikirkan olehnya saat ini adalah; melarikan diri.
Baekhyun masih berkutat dengan isi pikirannya, tidak menyadari seorang wanita melangkah masuk ke dalam kamarnya. "Baekhyun?" Suaranya memanggil, terdengar khawatir.
Baekhyun mendongak, melempar senyum tipis padanya. "Hai eonnie." Matanya bahkan tidak membentuk bulan sabitㅡkarena itu senyum yang terlalu dipaksakan.
"Apakah-uh-kau akan pergi?" Luhan menatap koper dan tas kecil milik Baekhyun dengan perasaan tak menentu. "Mengapa?" Luhan menggigit bibirnya.
Baekhyun mengangguk, "Maafkan aku. Aku tidak bisa berada disini lebih lama lagi. Ini bukan tempatku seharusnya." Baekhyun menunduk, merasa terlalu bersalah padanya.
"Sesuatu terjadi?" Luhan berujar sedih, turut merasakan kepedihan Baekhyun lewat pancaran matanya. "Kau bisa menceritakannya padaku, Baek. Kau selalu memendamnya sendirian." Luhan mengusap pipi Baekhyun lembut.
"Nanti, aku berjanji. Hanya saja untuk saat ini aku ingin tenang, sendirian, eonnie." Baekhyun menghela napasnya berat, mengalihkan tatapannya pada langit-langit kamarnya guna menahan buliran-buliran kristal yang ia tahan sejak tadi. "Aku akan sering mengunjungimu, tapi sebaiknya kau yang mengunjungiku eonnie, aku.. Sepertinya tidak bisa datang kesini lagi." Baekhyun berguman, lagi-lagi mengeluarkan aktingnya, berusaha baik-baik saja padahal tidak sama sekali. Entah sudah berapa banyak Baekhyun berakting hari ini.
.
.
.
.
The Bastard King
Baekhyun menangis.
Baekhyun membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Junsu. "Yang Mulia, saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini lagi. Sebagai gantinya saya bersedia menerima hukuman, apapun itu." Baekhyun menatap Junsu dengan seluruh keyakinannya.
"Dari seluruh pengawal yang pernah kutemui, hanya kau yang pernah melakukan ini, Baekhyun." Junsu menatap balik Baekhyun.
Baekhyun berlutut di lantai. "Yang Mulia, tidak ada sedikitpun niatan saya untuk melawan titah raja. Izinkan saya memohon untuk dipindahkan kembali ke Mapo. Saya akan menerima seluruh konsekuensi yang harus saya terima untuk ini." Baekhyun menaruh tangannya di atas pahanya yang ditekuk. Matanya menatap lantai ruangan kerja raja. Ia mempertaruhkan segalanya untuk ini.
Hening. Untuk beberapa saat ruangan itu hanya didominasi oleh keheningan. Sampai akhirnya, entah apa yang membuat ini semua tampak lucu, Junsu tertawa begitu kencang hingga matanya berair.
"Tidak masalah. Pulanglah Baekhyun. Aku tahu kau pasti tidak nyaman dengan Chanyeol." Junsu tampak mengelap sudut matanya. "Ayahmu juga kewalahan mengawasinya tetapi aku heran mengapa ia tetap mau menjalani tugasnya walaupun ia terlihat begitu kesal." Junsu tersenyum geli. "Jika kau berubah pikiran, aku akan menerimamu kembali, dengan senang hati." Junsu tersenyum tulus.
Baekhyun mendongak, memandangi wajah Junsu untuk yang terakhir kalinya, menghafal semua hal-hal ajaib yang nantinya takkan ia temui lagi. Ia tersenyum dengan perasaan sedih teramat di dalamnya. "Terima kasih, Yang Mulia." Baekhyun berusaha sekuat tenaga mengucapkannya tanpa harus menangis.
Ia menatap jalanan yang sudah beberapa hari ini ia lalui menuju sekolahnya melalui jendela taksi yang ia tumpangi. Baekhyun menatap sendu semua kenangan pendek namun membekas itu. Ia tidak menyangka meninggalkan istana itu akan berdampak seperti ini. Baekhyun mengusap wajahnya sambil meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
Tetapi semakin banyak ia menyangkal, semua itu terasa semakin menyakitkan. Air matanya seolah mengkhianati dirinya sendiri. Mereka terus saja mengalir tanpa bisa dihentikan. Baekhyun tersenyum kecut. Ia memejamkan matanya namun wajah teman-temannya berkeliaran disana. Ia merasa begitu bersalah karena tidak mengabari mereka. Semuanya tergambar jelas. Wajah Kyungsoo dan Jongdae, ketika mereka tertawa, ketika mereka terlalu sibuk membaca buku di perpustakaan, ketika mereka mengambil tempat duduk paling ujung di kantin, dan semua hal-hal manis yang tak mampu Baekhyun gambarkan.
Baekhyun masih terus menangis, menggigit bibirnya kuat-kuat, membuat supir taksi yang mengemudi itu menoleh beberapa kali untuk memeriksa apa yang terjadi pada penumpangnya. Namun saat supir itu menoleh kembali ke jalanan, sesuatu menghadang mereka di depan sana, membuatnya refleks menginjak pedal rem kuat-kuat. Baekhyun di belakang sana terantuk pada kursi di depannya.
"Paman, apa yang terjadi?" Baekhyun mengusap keningnya sesaat mobil sudah berhenti.
Paman itu belum sempat menjawab apapun karena sekelompok pemuda tiba-tiba saja datang menghampiri taksi mereka, lalu membuka pintu penumpang dan menarik paksa Baekhyun keluar. Baekhyun mengernyit, ia ingin menjerit tapi kepalanya masih pusing karena insiden tadi.
Baekhyun bisa melihat dua mobil sport mahal menghadang jalannya taksi yang ia tumpangi ketika ia sudah berada di luar. Entah apalagi yang akan ia hadapi sekarang. Baekhyun menghela nafas lelah dan membiarkan pemuda-pemuda itu menggeretnya.
"Apalagi sekarang? Apa yang kalian inginkan?" Baekhyun bertanya lelah, terlampau frustrasi pada semua hal yang terjadi padanya hari ini.
"Jadi kau yang namanya Byun Baekhyun itu?" Seorang lelaki berpenampilan mencolokㅡsepertinya dia pemimpin merekaㅡmenghampiri Baekhyun.
Baekhyun dengan malas menatap pemuda itu, menaikkan alis dan menunggu apa yang ia inginkan darinya.
"Bos, lihat dia menantangmu" Seorang lelaku di sampingnya menyahut saat menangkap ekspresi Baekhyun. Mereka semua laki-laki, sekitar sepuluh orang laki-laki memenuhi jalanan sepi ini dan Baekhyun satu-satunya perempuan disini.
"Well, intinya saja. Jadi kau pacarnya Chanyeol?" Lelaki mencolok itu bertanya lagi pada Baekhyun.
"Bukan. Kalian salah orang." Baekhyun menatap direksi lain, menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi, mengapa harus Chanyeol?
"Kau pacarnya. Mari kita buktikan." Orang itu menarik pinggang Baekhyun dan memeluknya sambil tersenyum miring.
"Lepaskan aku, brengsek!" Baekhyun bersuara, berusaha menyingkirkan tangan-tangan yang memeluknya.
"Aku suka yang agresif." Lelaki itu mendekatkan bibirnya pada Baekhyun namun Baekhyun menoleh ke arah lain membuatnya hanya bisa menangkap pipinya. Lelaki itu menggeram kesal lalu mencengkram pipi Baekhyun kuat-kuat, membuatnya menghadap padanya lagi. Iapun menekan bibirnya. Baekhyun membulatkan matanya, lalu secara refleks, Baekhyun menampar lelaki itu sekuat tenaga. Lelaki itu terhuyung ke belakang. Ini saat yang tepat, Baekhyun lalu menendangnya, tetapi tidak mengenai titik lemahnya. Baekhyun cukup bagus dalam hapkido.
Lelaki itu jatuh tersungkur saat Baekhyun mengenai lehernya. Sesaat semuanya nampak hening, tak ada yang bersuara hingga anak buah lelaki itu menghampirinya terlampau tergesa-gesa, "Daehyun hyung!" Anak lelaki berambut madu memanggil bosnya.
Uh, jadi dia Daehyun? Tiba-tiba putaran memori di jalanan Yongsan waktu lalu berputar di kepala Baekhyun. Anak yang berduel balapan liar dengan Chanyeol? Pantas saja ia terasa tidak asing.
Namun semua tidak selesai sampai bosnya tersungkur ke tanah. Masih ada sembilan orang lagi, dan mereka semua adalah laki-laki. Baekhyun sangat tahu apa yang harus dia lakukan. Sekuat apapun, Baekhyun hanyalah perempuan. Tidak ada artinya kemampuan hapkido dengan sabuk hitam jika lawanmu adalah sembilan orang laki-laki. Jadi, Baekhyun memutuskan untuk melarikan diri. Ia pelari yang cukup handal.
Baekhyun belum terlalu jauh, tetapi seorang diantara mereka berhasil menangkapnya. Lalu Baekhyun berusaha melawan, tetapi teman-temannya yang lain segera menyusul untuk membantunya. Mereka memegangi tangan Baekhyun, cukup kuat dan menyiksa. Dan yang lebih parah, Baekhyun merasa seseorang baru saja memukul leher bagian belakangnya dengan stun gun. Itu sangat sakit, dan menyengat, entah berapa volt kekuatannya.
Baekhyun merasa kesadarannya hampir hilang, beruntung Baekhyun memakai title neck di dalam mantelnya. Pandangan nya memburam, sialan. Ia tidak bisa pingsan. Ia tahu apa yang akan terjadi jika ia sampai pingsan disini. Ia akan diperkosa oleh mereka semua.
Baekhyun berbalik, ia masih sadar, tetapi pandangannya masih memburam, semua tampak samar. Baekhyun berusaha melawan, menendang, dan merebut stun gun yang dipegang oleh salah satu anak. Baekhyun berusaha, entah sudah berapa lama ia menghadapi mereka, tapi rasanya sudah seperti berjam-jam.
Baekhyun tumbang, akhirnya kehilangan kekuatannya juga. Semua semakin memburam, tapi Baekhyun tahu mereka mulai menghimpitnya di jalanan. Baekhyun tergeletak disana dan si Daehyun brengsek kali ini sudah bangun dan berjalan ke arahnya. Samar-samar ia melihat Daehyun merobek bajunya, dadanya terpampang dihadapan mata mereka semua. Baekhyun mengenakan bra merah muda yang manis dan mereka semua menyaksikannya.
Baekhyun dengan rambut berantakkannya, baju yang sobek, bibir yang kembali terluka karena ditampar lagi olehㅡentah siapa, dan bau menyengat dari belakang kepalanyaㅡmungkin lehernya terbakar karena sengatan stun gun itu.
Mungkin ini akhir hidupnya. Semua berakhir disini. Baekhyun memandang langit yang gelap diatas. Semua memori tentang pertemuannya pertama kali dengan raja Junsu terulang. Baekhyun bertanya-tanya, apakah jika hari itu Baekhyun tidak menerimanya, semua akan berjalan baik-baik saja? Bahkan sekarang Baekhyun merasa telinganya sudah tidak berfungsi, ia tidak bisa mendengar suara tawa mereka. Semuanya samar. Dan hanya kegelapan yang mampu ia lihat.
.
.
Suara tiga mobil sport yang berisik terdengar mendekati jalanan itu, mereka masuk dan memenuhi jalanan yang kini semakin dipenuhi oleh segerombolan orang-orang
"Sebaiknya, kalian segera mengambil posisi berlutut sekarang." Yifan melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya dan menatap sepuluh anak itu dengan pandangan datar.
"Aku bertanya-tanya mengapa para pecundang Hanlim tidak datang ke Yongsan malam ini. Dan ternyata inilah jawabannya." Jongin nampak berdiri dengan tampan, kemudian ia bergabung di samping Yifan.
"Bukankah sandera kalian adalah milik Hanyang? Berikan apa yang menjadi milik kami." Sehun menatap mereka marah, kemarahan Sehun selalu tampak seperti ia sedang bersantai, tetapi sebenarnya sesuatu yang kejam telah berkobar di dalam sana.
"Kembalikan dia." Chanyeol menatap mereka dengan kilatan marah.
Kini semua murid Hanlim, Chanyeol dan teman-temannya sudah berdiri berhadap-hadapan. Saling menatap dengan pandangan mata yang mengobarkan api menyala-nyala. Seperti jika kau lewat di tengah-tengah mereka, kau akan mati karena terpanggang. Persaingan yang benar-benar sengit.
"Aku yang menyanderanya. Jadi sekarang dia milikku." Daehyun maju selangkah, berujar dengan segala kesombongannya.
"Apa kau ingin memulai perang? Kita tahu siapa yang akan menang disini. Lebih baik menyerahlah." Jongin berujar seperti psikopat.
"Kami sepuluh dan kalian empat. Tentunya seseorang harus mengerti dimana posisinya berada." Daehyun menyeringai.
"Siapa peduli dengan jumlah?" Sehun menatap balik dengan pandangan mata yang terlampau tajam.
"Persetan dengan kalian. Kalian sudah mengkhianati peraturan malam ini. Seharusnya kalian berada di Yongsan. Bukan disini." Yifan meludah setelah mengucapkan itu.
"Baekhyun milikku. Dan si tolol Daehyun biar kuurus sendiri. Kalian atur sisanya." Chanyeol bersuara rendah pada teman-temannya, memberi instruksi layaknya seorang jenderal pembunuh berdarah dingin.
Hanya baku hantam yang terdengar, darah dimana-mana, dan suara retakan tulang yang berderak-derak. Berterima kasih pada Tuhan karena wajah tampan milik Yifan, Jongin, dan Sehun bahkan tidak tergores sedikitpun.
Mereka mengangkat badan anak-anak Hanlim seperti mereka adalah permen kapas, lalu mereka membantingnya, memelintir tangannya hingga suara tulang terdengar patah, berderak, dan itu mengerikan. Sehun bahkan meninju seorang anak hingga terkapar di tanah, kemudian ia menginjak perut anak itu, kuat sekali hingga mungkin dia bisa saja memuntahkan ususnya keluar. Begitu menarik karena Sehun bahkan selalu tampak seperti maknae kecil yang imut tapi sebenarnya ia begitu kejam.
Mereka berempat sangat ahli dalam bela diri. Dan tidak ada yang tahu hal itu karena mereka tidak pernah berkelahi di depan umum. Mereka juga tidak pernah kalah. Tidak pernah membawa pulang bentuk wajah yang babak belur atau berdarah. Tidak ada yang tahu bahwa mereka seorang monster. Setidaknya tidak semua orang tahu.
Chanyeol menghampiri Daehyun, memukulnya sekali di hidung dan dia langsung terlempar ke belakang. Daehyun mencoba bangkit, mengambil stun gun yang tergeletak tidak jauh darinya dan mencoba memukul Chanyeol dengan itu, tapi Chanyeol segera memukulnya lagi ketika ia lengah, menendangnya tepat di leher hingga dia jatuh terjerembap, begitu kuat.
Chanyeol mengambil stun gun yang terlempar, kemudian memutar-mutarnya di tangannya. "Dasar pecundang. Kami bahkan berdiri dengan tangan kosong." Chanyeol meludah ke wajahnya. Lalu ia melempar stun gun itu ke wajahnya. Daehyun mengerang, terlampau keras. Itu terdengar seperti singa yang mengaum-ngaum hampir mati karena kesakitan. Stun gun itu baru saja menyengat sebagian wajahnya. Tapi ia bahkan tidak mampu bergerak lagi.
.
.
.
.
The Bastard King
"Haus sekali!" Sehun mengeluh.
"Ambil minummu sendiri, maknae. Kau terbiasa kami manjakan." Yifan berujar santai sambil bersandar pada salah satu pilar di ruang makan megah itu.
"Dengar itu baik-baik." Jongin tersenyum mengejek ke arahnya.
"Ouch!" Luhan yang baru saja memasuki dapur dengan nampan berisi cheesecake diatasnya terlonjak saat melihat tiga anak lelaki berdiri di dapurnya. Matanya langsung menatap siaga.
"Siapa kalian?" Luhan berusaha bersikap biasa-biasa saja.
"Ah noona!" Jongin menyahut semangatㅡentah karena melihat Luhan atau cheesecake di tangannya.
Luhan menaikkan alis, "Apakah kita saling mengenal?"
"Ya tentu saja! Kau melupakanku? Aku Jongin. Aku sudah bersama dengan Chanyeol sejak junior high school! Kau ingat si anak dance?" Jongin tersenyum manis.
"Ah! Jongin yang itu!" Luhan melempar senyum sumringah.
"Mengapa kau berada disini? Dan siapa mereka?" Luhan menaruh nampan itu diatas meja.
"Ini Yifan, dan dia Sehun. Mereka teman Chanyeol juga. Kami sedang bersenang-senang." Jongin berujar. Tak lama, Yifan memukul kepalanya karena dengan santainya Jongin menyebut 'bersenang-senang.'
"Oh begitu." Luhan melihat suasana berubah menjadi tegang. Jadi ia berusaha menghentikan pembicaraannya.
Pembicaraan mereka berlanjut dengan celotehan Jongin yang memohon untuk meminta sepotong dari cheesecake itu. Lalu mereka tertawa karena kekonyoloan Jongin.
Namun disudut sana, Sehun hanya diam mematung seperti orang bodoh melihat wajah Luhan. Mukanya bahkan sedikit memerah hingga telinganya. Ia nampak seperti remaja yang baru saja puber.
.
.
Baekhyun merasa tubuhnya berada dalam dekapan hangat. Badannya terayun-ayun dalam sebuah gendongan lembut tapi terasa kuat disaat yang sama. Baekhyun terlalu takut untuk membuka matanya. Ia takkan sanggup menghadapi kenyataan. Bisa saja saat ini Daehyun yang sedang menggendongnya untuk membuang tubuhnya di sebuah tempat pembuangan sampah. Baekhyun bahkan tak mampu merasakan kakinya sendiri. Semuanya terasa sakit. Sepertinya itu akan menimbulkan memar.
Semakin lama berada dalam gendongannya, Baekhyun merasa aroma yang menyambut hidungnya begitu familiar. Aroma lelaki ini, bercampur dengan aroma ruangan yang ia kenali milik seseorang. Baekyun semakin ingin mati saja rasanya. Ia belum sanggup menghadapi laki-laki ini lagi, setidaknya untuk saat ini.
Chanyeol meletakkan Baekhyun di ranjang kamarnya. Dengan hati-hati mengurai anak rambut yang menghalangi wajah Baekhyun, mengusap keningnya terlampau lembut, dan setelahnya ia mendesah keras-keras. Betapa brengseknya si tolol Daehyun.
Baekhyun memberanikan diri mengerjap, beberapa kedipan kuat hingga pandangannya terhadap objek di sekitarnya menjadi lebih jelas. Pandangan keduanya bertemu, seperti ada sengatan listrik yang mengalir diantara pandangan itu. Bahkan sebuah pandangan mampu berarti cukup dalam, cukup menjelaskan perasaan-perasaan tak terucap.
Chanyeol tidak tahu harus memulai darimana, tidak tahu harus mengatakan apa, lidahnya terasa kelu, mungkin juga kram disaat yang sama.
Chanyeol baru saja bangkit berdiri dari tempat tidur di samping Baekhyun sebelum tangannya digenggam kuat-kuat oleh tangan mungil yang cantik di belakang sana.
Chanyeol menoleh, mendapati Baekhyun dengan mata yang penuh oleh air mata. Demi Tuhan, kenapa tidak ia bunuh saja si Daehyun itu?
"A-apa.. Aku sudah mati?" Baekhyun berujar, ragu dengan kata-katanya sendiri.
Chanyeol menggeleng, "Tidak."
"A-apa kau nyata?"
"Ya."
"Bisakah.. Bisakah kau memelukku?"
Chanyeol menatap Baekhyun. Ia terlihat begitu rapuh. Begitu hancur. Dan itu membuat Chanyeol hancur juga. "Tentu." Chanyeol mendekati Baekhyun, tidur dengan posisi miring disampingnya, memeluknya dari samping, mengitari tubuhnya dengan jari-jarinya, berusaha selembut mungkin memberi ketenangan untuk anak itu.
Baekhyun meledak. Ia meledak dalam tangisan yang begitu kuat, tetapi sebenarnya itu sangat rapuh di dalam sana. Chanyeol bergetar, berusaha membuat dirinya sendiri tenang, memeluk Baekhyun lebih erat lagi. "Aku bersamamu. Aku bersamamu." Hanya itu yang bisa Chanyeol lontarkan dari mulutnya. Hanya itu.
"M-maaf.. Maaf!" Baekhyun terisak-isak, meracau dan berusaha berbicara walau itu nampaknya terlalu sulit.
Chanyeol mengusap kepalanya, gerakannya lambat tapi menenangkan. "Aku akan mengobati lehermu."
Saat Chanyeol melangkah untuk pergi lagi, Baekhyun menarik ujung kemejanya, menggeleng seperti puppy dengan pipi yang dipenuhi tetesan air mata.
"Obatmu ada disamping, di meja itu." Chanyeol menunjuk meja yang berada tepat di sampingnya. Ia kemudian menjulurkan tangannya, membalik tubuh Baekyun; membuatnya tertidur dengan posisi miring. "Buka bajumu Baekhyun." Chanyeol berujar seperti seorang ayah yang tengah membujuk anaknya.
Baekhyun menegang dan Chanyeol melihat itu. "Aku tidak akan menyakitimu." Chanyeol berkata lembut. "Aku janji, aku hanya akan mengoles obat ini saja. Kau memakai terlalu banyak baju." Chanyeol mendesah.
Baekhyun menunduk melihat apa yang Chanyeol katakan. Dan memang benar, kini Baekhyun memakai terlalu banyak baju. Mantel Chanyeol yang begitu besar menutupi seluruh tubuh Baekhyun. Baekhyun kemudian teringat bahwa bajunya sempat disobek oleh Daehyun. Dan mantelnya entah berada dimana. Jadi Chanyeol membantu menutupi tubuh Baekhyun dengan mantelnya sendiri.
Masih dalam posisi berbaringnya Baekhyun melepaskan mantel Chanyeol dan mendorongnya ke lantai. Lalu ia menatap kembali title neck yang ia pakai sudah robek di beberapa bagian. Baju itu sudah tak layak pakai lagi sekarang. Baekhyun menuruti perintah Chanyeol, ia menarik keluar bajunya. Sekarang ia hanya memakai bra merah mudanya saja. Ia bisa melihat ada memar kemerahan bekas anak-anak Hanlim yang menyentuhnya. Dimana-mana. Sepanjang pinggulnya, perutnya, bahkan dadanya. Baekhyun menatapnya sambil gemetaran.
"Baek, tarik rambutmu keatas." Chanyeol menatap punggung putih Baekhyun dari belakang. Ia menuangkan salep oles itu di telunjuknya. Baekhyun menurutinya. Ia memegang rambutnya ke atas sambil menggigit bibirnya, malu.
"Ahh!" Baekhyun menjerit saat obat dingin itu menyentuh lehernya. Chanyeol mengusapnya di sepanjang luka bakar Baekhyun. Beruntung karena itu tidak terlalu panjang dan dalam.
Beberapa olesan dan selesai sudah. "Sudah selesai." Chanyeol menyimpan kembali salep itu kemudian berjalan ke arah lemari, mencari kaos miliknya yang bisa Baekhyun gunakan.
"Pakailah." Chanyeol menyerahkan kaos itu pada Baekhyun tanpa menatap ke arah tubuhnya sekalipun. Membuat Baekhyun bertanya-tanya apakah Chanyeol sangat membencinya?
Baekhyun duduk di ranjang itu, menarik masuk kaos berwarna hitam yang Chanyeol berikan padanya. Lalu hanya keheningan lagi yang melanda mereka.
Chanyeol masih setia berdiri dalam diam, dan Baekhyun masih duduk dengan kebisuannya. Chanyeol akan melangkah pergi lagi, Baekhyun bisa melihat itu. Tapi ia merasa semua berawal darinya. Dan ia harus menyelesaikannya. Setidaknya untuk memastikan perasaannya sendiri.
"Tidak, tunggu." Baekhyun melompat dari tempat tidur, berdiri di hadapan Chanyeol. Memandangnya putus asa, berusaha menahan kepergiannya. Kali ini Baekhyun takkan membiarkannya pergi lagi.
"Aku.. A-aku.. Maaf untuk pertemuan terakhir kali." Baekhyun membuka suara.
Chanyeol diam untuk sesaat. "Untuk apa? Apa yang kau katakan memang benar." Ia masih menatap ke arah lain
"Tidak, maafkan aku. Sungguh." Baekhyun hampir ingin menangis lagi. "Aku bersalah. Aku menyakitimu dengan kata-kataku. Padahal aku juga tersakiti karena itu. Aku harus meyakinkan bahwa apa yang aku rasakan memang benar."
"Apa itu?" Chanyeol mengangkat alis.
"Aku mencintaimu." Baekhyun menatap Chanyeol, di matanya. Menatapnya dengan segala kejujuran dan rasa menyerahnya. "Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu. Aku menyesal. Akuㅡ"
Chanyeol memegang belakang kepala Baekhyun, menabrakkan bibirnya, menekan bibirnya pada bibir Baekhyun yang lembut. Untuk sesaat itu hanya kecupan ringan, tetapi begitu dalam dan sarat oleh maksud yang tersembunyi, maksud yang selama ini tidak bisa mereka utarakan lewat kata-kata.
Chanyeol memegang pipinya, memundurkan wajahnya lalu menatap Baekhyun. Kali ini hanya Baekhyun yang ia lihat, ia melihat jauh ke dalam matanya. "Katakan sekali lagi." Chanyeol menatapnya penuh antisipasi.
"Aku mencintaimu, Chanyeol." Baekhyun mengatakannya tanpa memutuskan pandangannya sedikitpun.
"Aku mencintaimu juga, Baek."
Chanyeol mencium Baekhyun lagi. Kali ini lebih lembut, lebih dalam. Chanyeol meletakkan bibirnya diatas bibir Baekhyun dengan hati-hati. Seolah Baekhyun adalah barang paling mahal, paling langka, dan begitu berharga. Ia meletakkan tangannya di sekitar pinggul Baekhyun. Kemudian bibirnya bergerak, sangat pelan dan lembut. Bibirnya membelai celah bibir Baekhyun dengan lembut, bergerak konstan, memiringkan kepalanya, berusaha meraup Baekhyun sebanyak yang ia bisa tanpa menyakitinya. Baekhyunpun sama, tanpa ragu membalas ciuman itu. Memejamkan mata bersama Chanyeol dan membuat ritme ciuman mereka menjadi lebih manis. Tangan Baekhyun merambat ke leher Chanyeol, berusaha menyeimbangkan perbedaan tinggi mereka juga mencari sebuah pegangan. Jika tidak, Baekhyun akan merosot ke lantai. Ciuman pertama mereka ketika mereka sudah mengakui perasannya masing-masing. Begitu indah dan menakjubkan. Jantung mereka bergerak seirama, berdebar-debar memanggil satu nama yang mereka tahu membuat mereka berdetak lebih keras. Cahaya rembulan bagaikan sorot lampu yang menyinari kamar yang redup itu. Semua seolah buram, samar dan hilang. Hanya ada mereka berdua. Hanya ada mereka untuk dunia ini. Jadi tidak ada satu orangpun yang bisa memisahkan apalagi menghancurkan mereka.
.
.
.
.
To Be Continued
Author notes :
Stun gun :Sebuah senjata yang menggunakan energi listrik (semacam alat kejut listrik). Dapat menimbulkan luka yang cukup serius tergantung berapa dayanya. Namun stun gun adalah senjata yang non-mematikan.
Bye-bye 2016!
HELLO 2017!
Happy New Year 2017 for my dearest reader-nim.
Semoga di tahun ini semua terobosan, rencana, dan harapan yang kita inginkan dapat tercapai. Amen.
Semoga kalian yang sudah menunggu-nunggu fanfic ini merasa terpuaskan dengan updatenya cerita ini. Well, aku pribadi merasa bahagia nulis chapter ini, lmao.
Gimana perasaan kalian Chanbaek Shipper dengan momen tahun baruannya mereka di instagram cy? hahahaha. Mereka tiap pergantian taun so sweet ya. Lah gua sendirian aja mulu -curcol-. Ada yang nanya waktu itu, aku kobam ga sama picture yang di upload di instaramnya oohsehun (ituloh foto semua member exo, disitu Chanyeolnya piggyback/gendong Baekhyun, yang ada Lee Soomannya). Well, pertama kali liat pict itu muncul di timeline, mata ini langsung fokus nyari Baekhyun, dan oops aku terkejut hampir menjerit rempong -lebay oke- ga nyangka aja mereka bakal begitu di depan papa tercinta (read : Sooman).
Gimana dengan chapter ini? Well, ayo kita main tebak-tebakkan. Chapter depan akan ada sesuatu yang mengejutkan. Apa itu? Jawabannya : rahasia. Pokoknya semoga kalian ga kesel dan tetep menikmati TBK untuk chapter depan, lol.
Aku sangat menghargai masukan kalian! Beberapa review sempat aku balas tapi beberapa lagi ngga. I'am really sorry.
Terima kasih banyak untuk para reviewers yang sudah menyemangati sekolah aku. Well, aku bakal kerja keras supaya bisa lulus dan menyelesaikan fanfic ini. I love you I love you I love you I love you! wkwkwkwk
Last, thanks untuk semua readers, followers, favorites, reviewers!
#ThankYou
#JanganLupaReviewGuys
#BudayakanBerkomunikasiDenganJerysLewatKolomReview
#BelieveInChanbaek
Regards,
Jerys Jung.
