The Bastard King
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And the other cast
School Life, Romance, Drama
Warning :
Genderswitch - Rated M
The story is mine, but the cast are not mine.
Sorry for typo(s)
Happy Reading!
Chapter 7 ㅡ A Surprise
"Selamat pagi, Yeoreum!" Baekhyun melemparkan senyum pada Yeoreum yang tengah berjalan menyusuri koridor menuju dapur.
"Eonnie?" Yeoreum justru melemparkan tatapan bingungnya.
"Ada yang aneh?" Baekhyun mengernyit melihat ekspresinya.
"Maaf.. Tapi aku melihat kamarmu kosong kemarin." Yeoreum tersenyum gugup.
"Ahh itu. Tadinya aku akan pergi." Baekhyun meringis, menggigit pipi dalamnya.
"Pergi? Apa yang terjadi?" Yeoreum memandanginya dengan mata yang memancarkan perasaan ia kecewa.
"Ada sedikit masalah. Tapi kurasa aku tidak bisa pergi begitu saja. Masalah itu harus dihadapi bukan? Itulah cara mengatasi masalah dengan benar." Baekhyun terkekeh dengan penuturannya sendiri.
"Jadi eonnie tidak akan pergi?" Yeoreum berusaha bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Tidak." Baekhyun tersenyum, menoleh menatap jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya, "Ah aku harus segera berangkat ke sekolah! Sampai jumpa Yeoreum." Baekhyun melambaikan tangan padanya kemudian bergegas keluar dari area dapur. Ia menyusuri lorong demi lorong, berniat menuju parkiran untuk menyiapkan sepedanya kemudian berangkat menuju Hanyang.
.
.
Chanyeol melangkah keluar dari dalam kamarnya dengan wajah berbinar-binar, ia baru saja keluar dari sana sambil memakai seragam kebanggaan Hanyang yang begitu mahal, sepatu mahalnya, dan jangan lupakan penampilan sempurnanya. Lalu matanya menangkap seseorang melangkah di lorong, semakin mendekatinya.
"Morning, Juliet." Chanyeol tersenyum melihat Baekhyun berdiri di depannya sambil menggendong tas MCM miliknya.
Ia menaikkan alisnya saat Baekhyun berpura-pura tidak melihatnya dan mengambil jalan lain. Chanyeol tidak menyerah, ia menghadang langkah kaki Baekhyun di lorong itu.
"Mau kemana? Setidaknya balas sapaanku dulu." Chanyeol masih mempertahankan nada lembutnya.
"Sekolah. Kau tidak lihat sudah jam berapa sekarang? Minggir!" Baekhyun mengucapkannya dengan begitu garang.
"Tidak mau." Chanyeol masih tetap dengan pendiriannya. Jika Baekhyun mengambil langkah ke kiri, ia akan menutup jalannya. Jika Baekhyun mengambil langkah ke kanan, ia akan menutupnya juga. Jadi Baekhyun tidak bisa melewati lorong itu begitu saja.
"Apa yang terjadi padamu, Juliet? Kau begitu manis tadi malam." Chanyeol tersenyum menggoda Baekhyun. Baekhyun terlihat memerah, entah karena ia marah atau tersipu.
"Namaku Baekhyun, idiot!" Baekhyun masih berdebat dengan Chanyeol, memintanya untuk bergeser dan memberi ruang lebih untuknya tetapi Chanyeol tidak juga menyerah.
"Ahh! Apa itu?!" Baekhyun menjerit sambil menunjuk langit-langit di lorong, matanya bersinar ketakutan, dan tubuhnya sedikit bergetar. Chanyeol mengikuti arah pandang Baekhyun, melihat ke langit-langit dan mencari-cari apa yang membuat Baekhyun menjerit ketakutan seperti itu.
Tetapi tidak ada apapun di atas langit-langit itu. Tidak ada satupun hal yang aneh. Semuanya tampak normal.
"AHH!" Chanyeol berteriak kesakitan, refleks karena Baekhyun menginjak kakinya.
Sialan ternyata itu hanya tipuan.
Baekhyun berlari saat Chanyeol memegangi kakinya yang diinjak. Chanyeol bersandar pada dinding sambil terus mengumpat. Itu sangat sakit, Baekhyun tidak main-main.
Baekhyun tertawa di sepanjang jalannya melewati lorong-lorong. Chanyeol memperhatikannya sambil terus mengeluh betapa ia sangat kesakitan, betapa mengerikannya kekuatan Baekhyun. Tapi tentu saja ia takkan menyerah. Chanyeol merogoh ponselnya dari dalam mantel yang ia gunakan, mengaktifkan ponselnya lalu mencoba menghubungi seseorang.
Hanya butuh beberapa detik lalu panggilannya diangkat oleh orang di seberang sana. Chanyeol menempelkan ponsel itu di telinganya, kemudian bergumam, "Paman, kunci gerbangnya dan jangan biarkan siapapun lewat kecuali aku, oke?" Chanyeol memutus sambungan setelah ia menyelesaikan ucapannya.
.
.
"Aku akan terlambat, ya Tuhan! Buka gerbang sialan ini. Aku harus pergi!" Baekhyun menendang-nendang pintu gerbang megah yang ditutup rapat itu.
Biasanya pintu itu dibuka di jam-jam pagi. Namun mengapa sekarang gerbangnya ditutup? Baekhyun tidak tahu pada siapa ia harus berteriak. Pintu gerbang ini terbuka dan tertutup dengan otomatis. Seseorang di dalam sana yang mengendalikannya lewat pantauan cctv. Tetapi Baekhyun sudah menunggu hampir sepuluh menit dan pintu gerbang itu bahkan tidak mau terbuka sedikitpun untuknya.
Sepedanya tergeletak di samping, di tanah. Ia sudah tidak peduli. Yang terpenting untuk saat ini adalah, datang secepatnya ke Hanyang untuk memastikan bahwa ia masih menjadi murid Hanyang. Baekhyun tidak tahu apakah Junsu sudah mengurus surat kepindahannya atau belum. Jika tidak, maka Baekhyun sedang beruntung. Tapi jika ya, Baekhyun harus segera mengurus pembatalannya. Atau menempuh prosedur-prosedur yang harus dilalui.
Dan ini semua tidak membantu. Ditambah Chanyeol menghadangnya tadi. Waktunya semakin berkurang saja. Baekhyun sudah benar-benar sampai diambang batas kesabarannya. Apakah ini hari sialnya? Baekhyun memijit keningnya yang berdenyut, kepalanya pening sekali. Ini masih terlalu pagi untuk merasa stres.
.
.
Mercedes-Benz AMG G65 itu meluncur memasuki area halaman depan istana. Lalu mobil mewah itu membunyikan klaksonnya, memekakkan telinga. Si pengemudi membunyikan klakson berulang-ulang. Membuat Baekhyun menoleh ke belakang, melemparkan tatapan kesalnya.
"Apalagi sekarang?" Baekhyun mendesah frustrasi. Ia menghampiri pengemudi gila itu. Sadar, si pengemudipun menurunkan kacanya, menatap Baekhyun dengan pandangan geli.
"Juliet, mengapa kau berdiri disana? Kau bisa tertabrak."
"Dasar sinting." Baekhyun pura-pura mual melihatnya.
"Naiklah. Kau mau ke sekolah, bukan?"
"Chanyeol, apa ini bagian dari rencanamu?" Baekhyun memelototinya.
"Tidak." Chanyeol menggeleng setelah ia pura-pura berpikir keras.
"Mengapa pintunya tidak mau terbuka?" Baekhyun masih terlihat kesal.
"Mungkin dia akan terbuka jika mobil ini yang melewatinya." Chanyeol mengatakannya dengan nada misterius.
"Sial. Sial. Sial." Baekhyun mengutuk dan mengumpat kesana-kemari.
"Ayolah, Juliet. Kita bisa pergi bersama. Apa susahnya hm?"
"Tidak. Sudah cukup untuk berlutut di depan sasaengmu." Baekhyun merenggut.
"Kau menangis?" Chanyeol menatap Baekhyun khawatir saat melihat matanya berkaca-kaca.
"Aku lelah. Mengapa semua berjalan begitu sulit?" Baekhyun masih terlihat ingin menangis.
Chanyeol melompat turun dari mobilnya, menghampiri Baekhyun dan segera membawanya ke dalam pelukannya. "Astaga, maafkan aku. Aku hanya ingin menggodamu. Jangan menangis."
"Aku membencimu." Baekhyun bergumam.
"Aku juga mencintaimu, Juliet." Chanyeol mencium rambut cokelat caramel milik Baekhyun. "Pergi ke sekolah bersamaku, ya?"
"Dasar pemaksa!" Baekhyun mendorong dada Chanyeol, menghentak-hentakkan kakinya kemudian melompat naik ke kursi penumpangㅡtepat di samping pengemudi sambil terus mempertahankan ekspresi jengkelnya, kemudian membanting pintu mobil itu agar tertutup.
Chanyeol bergidik ngeri. Tapi tidak masalah selagi itu Baekhyun.
Baekhyun memang punya caranya sendiri untuk menunjukkan bagaimana dia mencintai Chanyeol. Agak aneh tapi Chanyeol menyukainya.
"Ehm a-aku, u-uh a-aku harus... Aduh! dimana tasku?" Baekhyun susah payah mengucapkan kalimat itu, tergagap parah karena terlampau gugup.
Matanya bahkan tidak mampu menatap dada Chanyeol. Ia terlalu malu dan takut. Mereka baru saja berciuman panas dan Baekhyun memerah luar biasa. Ia hanya menatap lantai terus menerus.
"Tas dan kopermu sudah ada di dalam kamarmu." Chanyeol memandangi Baekhyun yang menunduk.
"Begitu. Aku.. Aku.. Harus pergi! Selamat tinggal!" Setelahnya Baekhyun lari terbirit-birit meninggalkan kamar Chanyeol. Ia begitu menggemaskan disaat seperti itu, membuat Chanyeol menarik sudut bibirnya, tidak mampu untuk tidak tersenyum.
.
.
"Turunkan aku disana!" Baekhyun bergerak-gerak di dalam mobil, terlampau frustrasi karena Chanyeol tampaknya tidak ingin mendengar Baekhyun sama sekali.
"Di depan sana! Turunkan aku disana." Baekhyun masih bersikeras menunjuk-nunjuk tapi Chanyeol seolah tuli dan buta.
"Chanyeol!" Baekhyun merengek, setengah mati merasa jengkel juga.
"Romeo dan Juliet selalu bersama. Bahkan hingga maut menjemput, mereka selalu bersama." Chanyeol menjawab Baekhyun main-main.
"Idiot! Aku bukan Juliet! Hentikan dongeng omong kosong ini." Baekhyun mendesah keras.
"Jadi, kau ingin kupanggil apa sayang? Cinderella? Atau Belle? Atau Aurora?"
"Panggil saja Shrek." Baekhyun menyembur Chanyeol, dengan nada marahnya.
Chanyeol meledak dalam tawa, "Tidak.. Tidak.. Itu tidak cocok untukmu. Juliet yang terbaik."
"Demi Tuhan!" Baekhyun memegangi kepalanya. "Tidak bisakah yang satu ini dipenuhi? Turunkan aku disana, please." Baekhyun menatap Chanyeol dengan imutㅡberusaha berakting, merayunya. Biasanya ini akan berhasil. Baekhyun punya aegyo yang bagus.
Bibir Chanyeol mengejang, itu terlalu manis dan Chanyeol hampir luluh karena itu, tetapi kemudian ia menggeleng, "Apapun yang terjadi, kita harus masuk bersama kesana, Juliet." Chanyeol tersenyum lebar.
.
.
.
The Bastard King
Pelajaran matematika.
Beberapa anak di dalam kelas 3A tengah menguap lebar-lebar. Beberapa lagi tengah menahan kantuk dengan sangat. Atmosfir yang tercipta di dalam kelas juga tidak membantu sama sekali. Benar-benar membosankan.
Hening, benar-benar hening. Hanya suara guru Song saja yang menggema di dalam ruangan mewah milik Hanyang itu. Guru song itu cantik, tapi tidak lebih cantik dari Miss Kimㅡdia yang tercantik, luar ataupun dalam. Tak menampik itu sebabnya guru Song yang hampir menginjak kepala empat itu belum bersuami juga. Dia benar-benar galak. Hell, jangan coba-coba membuat mejamu berderit di dalam kelasnya. Tatap matanya, jangan melihat ke arah lain, apalagi pintu kelas. Jika sedetik saja matamu menatap pintu kelas, dia akan menendang pantatmu keluar kelas. Dia tidak akan pernah mau mendengar alasan apapun. Dia mutlak, mendominasi dan mengerikan. Itulah sebabnya ruangan kelas itu lebih mirip seperti kuburan. Ini membuat beberapa anak menjadi lesu, tidak bersemangat, lelah, jenuh, dan frustrasi.
Tapi itu tidak berlaku untuk Baekhyun.
Baekhyun menatap setiap goresan yang guru Song bubuhkan di atas papan tulis putih itu dengan penuh minat. Ia tampak santai, menikmati detik-detik yang berlalu dalam pelajaran itu. Jemarinya memutar-mutar pena yang ia pegang. Sesekali, dengan tanggap, Baekhyun akan mencatat sesuatu di dalam bukunya, sesuatu yang ia pikir memang perlu ia ingat, menulis beberapa contoh. Bagaimana cara cepat untuk menyelesaikan tipe soal semacam ini dan itu. Baekhyun mungkin satu-satunya anak yang mencintai pelajaran matematika di kelas itu.
Baekhyun tengah asik mencerna setiap informasi baru yang ia tangkap, ia menggigit ujung penanya, keningnya berkerut saat ia mendapati sesuatu yang agak sulit. Baekhyun berusaha membangun konsentrasinya, menggali materi yang sudah ia pelajari sebelumnya, lalu ia hubungkan dengan materi terbaru yang ia dapat hari ini sampaiㅡ
Sebuah pesawat kertas kecil mendarat di kepalanya dan kemudian tersangkut di rambut panang milik Baekhyun. Pesawat itu meluncur dari arah belakang, tepatnya dari arah tempat duduk Yifan. Yifan duduk tepat di belakang Baekhyun.
Baekhyun menggeram. Konsentrasinya, pikirannya, semua menguap karena ulah anak sialan ini. Dia menghancurkan mood belajar Baekhyun. Apa sih yang dia pikirkan?
Baekhyun berbalik, hendak memelototi Yifan. Ia benar benar kesal. Sungguh.
Apa yang terjadi selanjutnya, Baekhyun justru melebarkan pupil matanyaㅡterkejut. Baekhyun benar-benar terkejut, ia hampir saja berteriak. Hampir.
Chanyeol meletakkan telunjuknya di atas bibirnya. Memberi isyarat agar Baekhyun diam, tidak berteriak, tidak membuat gesture berlebihan karena itu akan menarik perhatian semua orang, dan tentunya guru Song.
Sialan. Apa yang Chanyeol pikirkan? Mengapa ia menyusup ke dalam kelas Baekhyun? Dan dimana si bodoh Yifan? Mengapa justru Chanyeol yang duduk disana?
Ada banyak sekali pertanyaan yang Baekhyun ingin tanyakan, tetapi mulutnya bahkan tidak bergerak sedikitpun. Chanyeol tersenyum, ia memberi gesture agar Baekhyun menghadap ke arah semula, memerhatikan guru Song. Ia juga memerintahkan Baekhyun mengambil pesawat buatan yang ia lempar.
Baekhyun menurut, gerakannya terlampau kaku. Otaknya bergerak lambat. Baekhyun menunduk dan mengambil pesawat yang Chanyeol lempar tadi. Ia mengambilnya, meletakkannya di atas meja, menutupinya agar tidak terlihat oleh guru Song di depan sana.
Lalu Baekhyun mulai mengurai lipatan pesawat itu, ia mendapati sebuah tulisan di dalamnya. Tulisan Chanyeol.
Juliet, mengapa kau begitu serius? ㅡpcy
Baekhyun mengambil penanya, dengan cepat menulis sebuah balasan untuk anak itu.
Aku harus belajar. Ini tingkat akhir. ㅡB
Baekhyun meremas pesawat mainan buatan Chanyeol hingga tak berbentukㅡia melakukannya tanpa perasaan. Lalu Baekhyun melemparkan gulungan kertas bekas remasannya ke arah Chanyeol. Beruntung Chanyeol berhasil menangkapnya.
Sebuah lemparan lagi,
Kau tidak harus belajar. Kau pintar. ㅡpcy
Yah kau yang seharusnya banyak belajar. Jangan ganggu aku. Dasar penyusup! ㅡB
Aku melakukannya karena ingin melihatmu. ㅡpcy
Dasar gila! ㅡB
Aku mencintaimu juga, Juliet. ㅡpcy
Baekhyun tersenyum membaca pesan Chanyeol yang terakhir. Pipinya bersemu, memerah tanpa alasan yang pasti.
"Byun. Baekhyun. Maju. Ke. Depan!" Guru Song berteriak, membuat semua murid di ruangan itu mengangkat kepala, terkaget sekaligus ketakutan disaat yang sama.
Uh apa katanya tadi? Siapa yang dia panggil?
"Yah Byun Baekhyun! Kau dengar tidak?!" Guru Song berteriak lagi. Ia sangat marah, suaranya menggelegar. Terdengar menyebalkan juga sangat mengganggu.
Baekhyun mengangkat kepalanya dengan berat, meneguk liurnya dengan paksa. Lalu matanya menatap horor pada pemandangan di depan. Ini mengerikan. Oh Tuhan.
Baekhyun bangkit dengan sangat perlahan dari atas bangkunya. Ia melangkah ke depan dengan hati-hati. Kepalanya terus menunduk di sepanjang jalannya menuju papan tulis kematian itu.
"Kerjakan soal ini." Guru Song berujar, masih terdengar marah.
Baekhyun menatap soal yang ditulis oleh guru Song. Cukup rumit. Tapi Baekhyun mengingatnya, ini materi minggu lalu, materi dasarnya sudah lebih dulu dipelajari, dan yang tersaji di depannya adalah soal kombinasinya.
Baekhyun mengambil sebuah spidol hitam dan memulai doanya, di dalam hati, berharap surga di atas sana memberinya hikmat untuk menuntaskan soal ini dengan benar. Jika tidak, oh Baekhyun tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Baekhyun memulainya. Ia mengerjakan soal itu dengan langkah-langkah yang pernah dia baca di sebuah buku dan tentunya dengan langkah yang guru Song tuntun juga.
Baekhyun menulis dan menulis hingga akhirnya ia menemukan jawabannya. Jawaban dari soal itu bernilai empat.
Baekhyun meletakkan spidolnya, menatap guru Song takut-takut.
"Kau boleh duduk." Guru Song menatap hasil pekerjaan Baekhyun.
Itu membuktikan bahwa jawaban Baekhyun benar.
Baekhyun melangkah ke tempat duduknya kembali. Lalu guru Song memulai celotehan nasihatnya, "Walaupun kau pintar, kau tetap harus menghargai jam pelajaran yang tengah berlangsung. Jika tidak, kau bisa keluar dari kelasku." Baekhyun merinding mendengar ocehan guru Song. Untunglah dia bisa menjawab soal itu, jika tidak, ia akan menjadi bulan-bulanan guru kejam ini.
Sementara itu, di belakang sana, Chanyeol menatap geram guru Song. Ia ingin marah, ingin menghancurkan meja yang ada di depannya. Kemudian membuat keributan atau mungkin merusak kelas guru Song. Tapi Chanyeol tahu itu tidak akan bisa membalas apa yang guru Song lakukan pada pacarnya. Ia memang tidak menyakiti Baekhyun. Tapi guru Song cukup mempermalukan Baekhyun dan itu melukai harga diri Chanyeol. Chanyeol tidak akan membiarkan wanita ini lepas begitu saja. Ia menatap guru Song dalam-dalam, seolah-olah guru Song adalah target berbentuk boneka yang biasa ia pakai untuk latihan menembak jika pelatihan bela diri datang. Jika saja bisa, Chanyeol akan melubangi kepala guru sombong itu.
.
.
.
The Bastard King
Baekhyun, Kyungsoo, dan Jongdae sedang tertawa terpingkal-pingkal karena lelucon yang Kyungsoo lemparkan. Mereka tenggelam dalam suasana kantin Hanyang yang begitu ramai. Jongdae bahkan sesekali menimpali ucapan konyol Kyungsoo. Dan Baekhyun tidak tahu apa yang harus ia ucapkan, ia merasa begitu bersyukur memiliki mereka. Mengapa dulu ia sempat berpikir sependek itu ㅡuntuk pergi ke Mapo begitu saja.
Baekhyun menyeruput jus stroberi miliknya, Kyungsoo melahap cheesecake dihadapannya dalam suapan besar-besar.
"Kau tidak takut gendut?" Itu suara Jongdae. Dia sudah menunjukkan kemajuan. Ia sudah mulai banyak bicara.
"Persetan! Aku cinta makanan ini." Kyungsoo mendelik padanya.
Baekhyun menggelengkan kepalanya, tersenyum geli. Baekhyun mengambil posisi bersandar pada kursinya, bersikap santai. Tiba-tiba saja kantin yang tadinya ramai ini berubah menjadi lebih tenang, itu yang membuat Baekhyun penasaran dengan apa yang terjadi. Biasanya jika seperti ini makaㅡ
Mereka datang. Chanyeol dan teman-temannya datang.
Chanyeol berada paling depan diantara mereka, ia memimpin seperti biasanya. Ketika ia memasuki kantin, ia terlihat mencari-cari seseorang. Chanyeol mengedarkan matanya ke seluruh penjuru, dan matanya menangkap keberadaan Baekhyun, pacarnya.
Chanyeol tersenyum begitu manis pada Baekhyun, alis matanya terangkat, dan matanya memuja Baekhyun begitu dalam.
Baekhyun baru saja ingin membalas senyumannya, namun apa yang terjadi selanjutnya sungguh menggangu mata Baekhyun. Bukan hanya mata, tapi Baekhyun merasa hatinya diremat.
Krystal menghampiri Chanyeol, tersenyum menggoda, dan Chanyeol menoleh padanya, memberikan perhatian yang begitu besar untuknya. Baekhyun melihatnya dari tempat ia duduk. Di depan sana Chanyeol menoleh untuk Krystal. Disaat Baekhyun ingin memberi senyum terbaiknya untuk Chanyeol.
Semua murid memekik. Well, itu karena mereka adalah murid paling populer disini. Kyungsoo yang mengatakannya, baru saja.
"Aku membutuhkan bantuanmu." Chanyeol berbisik, hanya kepada Krystal. Tidak ada seorangpun yang dapat mendengar percakapan mereka.
"Uh? apapun untukmu, Yang Mulia." Krystal membalasnya dengan berbisik juga. Membuat semua orang di ruangan itu yang menonton mereka merasa semakin penasaran dengan apa yang mereka bahas.
"Aku tidak bisa melakukannya dengan tanganku sendiri. Tapi, ada dua hal yang ingin kuminta darimu. Yang pertama, targetnya ada disini. Yang kedua, aku akan memberitahumu lain waktu." Chanyeol menatap Krystal dengan serius.
"Ya. Dan apakah itu?" Krystal menaikkan alisnya.
"Lakukan sesuatu pada Eunseo. Si rambut merah yang membuat pacarku berlutut."
"Jadi, dia benar-benar pacarmu sekarang?" Krystal menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Baekhyun. Ia lalu melayangkan senyum godaannya, membuat Baekhyun semakin diliputi perasaan campur aduk. Apa artinya senyuman si Krystal itu padanya?
"Kau baru saja membaca email itu huh?" Chanyeol tertawa.
"Ya, sasaengmu itu seperti detektif profesional saja. Berhati-hatilah. Mungkin mereka akan mendapatkan foto seksmu dilain waktu." Krystal tertawa.
"Itu tidak akan terjadi." Chanyeol mengerutkan kening, jengkel.
"Baiklah, tunggu disini dan lihat." Krystal mengedipkan matanya pada Chanyeol, kemudian melenggang pergi.
Chanyeol memutar langkah kakinya menuju tempat duduk Baekhyun dan teman-temannya. Ia mengembangkan senyum teramat lebar di pipinya tapi Baekhyun bahkan tidak mau melihat senyuman menjengkelkan itu ㅡsetidaknya untuk sekarang.
Chanyeol sudah berdiri disamping mejanya. Dengan gerakan cepat ia menarik kursi-kursi kosong di sekitar dan bergabung di meja Baekhyun. Jongin juga ada disana. Dia duduk tepat di samping Kyungsoo. Baekhyun dapat melihat pipi Kyungsoo yang baru saja dicium Jongin itu memerah.
Jongdae mengkerut di samping. Sehun dan Yifan menaikkan alis melihat tingkah Jongdae.
"Yach, maafkan aku!" Itu Sehun.
"Benar. Mari kita berteman dengan cara yang layak." Yifan berujar
"Apa ini salah satu trik baru?" Jongdae berujar takut-takut.
"Tentu saja tidak, bung! Sungguh maafkan kami." Sehun berujar lagi.
"Kami serius untuk itu." Chanyeol berujar serius, matanya menatap Jongdae lekat-lekat.
"Uh... Ya, baiklah." Jongdae membenarkan letak kaca matanya.
Baekhyun berdeham, ia mengangkat nampannya sambil berdiri dari tempatnya ㅡberniat untuk segera pergi dari sana.
"Juliet, kau mau kemana hm?" Chanyeol menyusul Baekhyun.
Baekhyun tidak mempedulikannya. Persetan dengan itu. Ia sungguh sangat kesal padanya. "Aku akan menyimpan ini, kau tidak lihat?" Baekhyun berkata ketus membuat Chanyeol tersenyum geli.
Saat Baekhyun hampir mencapai counter untuk menyimpan nampannya, seseorang menabraknya. Tidak, itu bukan tabrakkan yang terjadi karena ketidak sengajaan, itu sungguh disengaja. Dan orang yang melakukannya adalah Krystal. Ia membuat seorang siswi berambut merah terang tersandung saat ingin mengambil langkah berlawanan dari Baekhyun. Siswi itu terjatuh ke lantai, lututnya mendarat lebih dulu.
"O-ops!" Krystal menutup mulutnya dengan gerakan anggun.
Siswi berambut merah terang itu berdiri, siap memaki Krystal. "Apa yang coba kau lakukan, jalang?!"
"Apakah itu kurang jelas bagimu?" Krystal duduk dengan tenang, memainkan jemarinya, mengacuhkan lawan bicaranya.
"Yach kau!" Anak itu berniat menarik rambut Krystal sebelum tangan Chanyeol menahannya diudara.
"Sebelum kau melakukannya. Ada urusan lain yang perlu diselesaikan disini." Chanyeol menatap matanya, penuh kemarahan.
Siswi berambut merah dengan name tag Eunseo itu mengkerut ketakutan. Tiba-tiba saja semua sel tubuhnya melemah, ia menjadi lemas hanya karena tatapan mengintimidasi Chanyeol.
"Kau membuat baju pacarku kotor, dan basah." Chanyeol menghempaskan tangan siswi itu, terlampau keras, kasar. Semua orang di dalam ruangan itu menahan nafas, Chanyeol baru saja mengakui bahwa wanita disampingnya ini adalah pacarnya.
"M-maaf..." Hanya kata-kata itu yang meluncur keluar dari mulut Eunseo.
"Katakan padanya. Mulailah meminta maaf." Chanyeol melipat tangannya.
Baekhyun merasa kepalanya pening. Apakah Chanyeol baru saja bilang bajunya kotor? Ia melirik blazernya, dan benar saja, blazernya kotor terkena tumpahan minuman yang anak ini bawa. Baekhyun bahkan melihat sebuah cup tergeletak di bawah sana. Dan lagi, bukankah siswi ini yang membullynya kemarin di atap sekolah? Ia merasa tidak salah mengenali orang. Siswi ini memiliki rambut yang begitu mencolok. Baekhyun menelan ludahnya. Sebenarnya apa yang Chanyeol rencanakan?
"Baekhyun-ssi, maaf membuat bajumu kotor." Eunseo menunduk dalam-dalam.
Baekhyun masih membeku, seperti orang bodoh.
"Kau tidak mau meminta maaf untuk yang kemarin? Kurasa kau berhutang untuk yang di atap." Chanyeol menyindirnya. Baekhyun melotot. Apa Chanyeol tahu peristiwa di atap itu?
"A-ah. Yang itu juga. Kumohon maafkan aku." Eunseo semakin memerah, ia merasa malu, luar biasa malu. Chanyeol sering membully beberapa siswa di Hanyang, tapi ia tidak pernah berurusan dengan perempuan ㅡkecuali Baekhyun, beberapa kali. Dan kali ini, tampaknya apa yang Eunseo lakukan benar-benar membuat Chanyeol tidak pandang bulu lagi.
"Lakukanlah dengan benar. Mengapa tidak mulai mengambil posisi? Aku melihat di CCTV seseorang membuat gadis cantik berlutut padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun." Chanyeol mengucapkan itu dengan sinis.
Eunseo semakin gelagapan. Ia tidak tahu apalagi yang lebih memalukan dari ini semua. Tapi pada akhirnya, ia tahu siapa yang memiliki kekuasaan disini. Dan ia memang harus melakukannya, maka semua ini akan selesai. Ia hanya harus berlutut, di hadapan Baekhyun.
Eunseo bergerak kaku, seperti robot. Otaknya memaksa untuk tidak melakukan ini, tetapi hati kecilnya menjerit untuk memilih ini. Benar-benar sulit. Ia memulai posisinya, menempatkan lututnya bertemu dengan lantai kantin yang basah karena tumpahan minumannya sendiri. Iapun berlutut, di hadapan Baekhyun.
"Kumohon, maafkan aku." Eunseo sudah tidak sanggup untuk menahan segala macam gejolak emosinya saat ini. Maka dari itu, ia memilih lantai sebagai titik fokusnya.
"Eh? Y-ya..." Baekhyun bingung, tidak tahu harus mengucapkan apa. Tidak tahu harus berbuat bagaimana.
"Oh! Aku tidak tahu kau masih disana! Aku tidak sengaja!" Krystal berceloteh tidak sengaja, membuat ekspresi kaget, padahal jelas-jelas ia tahu. Krystal baru saja menumpahkan sup rumput laut miliknya ke atas kepala Eunseo!
Baekhyun melotot. Apakah sup itu masih panas?
Melihat ekspresi Eunseo yang hanya diam saja dengan bibir gemetaran, Baekhyun tanpa sadar terserang panik luar biasa. Tuhan, apakah dia baik-baik saja?
"Ayo sayang. Kau ingin menyimpan nampanmu, bukan?" Chanyeol menarik pinggang Baekhyun, membuatnya berjalan menjauhi Eunseo yang masih berlutut disana.
Baekhyun mengikuti Chanyeol, dengan langkah kikuknya. Sementara itu, seisi ruangan tampaknya sudah mulai mengalihkan perhatian mereka kembali. Beberapa bahkan berpura-pura tidak melihat apa yang baru saja terjadi. Mereka melanjutkan kembali aktivitas yang sempat tertunda.
Baekhyun mengerutkan keningnya dalam-dalam. Lalu ia mencuri pandang, menoleh ke belakang. Krystal sudah pergi entah kemana. Dan Eunseo masih setia berlutut disana, membelakangi Baekhyun yang kini sedang berjalan semakin mendekati counter.
"Menoleh lagi, dan aku akan menciummu. Disini." Chanyeol menunduk, berbisik mesra pada Baekhyun ㅡhanya untuk menggoda anak itu saja.
Baekhyun menyikut perut Chanyeol.
"Ouch!" Chanyeol hanya berpura-pura kesakitan.
Baekhyun menaruh nampannya di tumpukkan kotor. Namun pikirannya melayang entah kemana. Ia tidak pernah menyangka bahwa Chanyeol mengetahui peristiwa kemarin di atap. Dan Chanyeol baru saja membalas lutut Baekhyun dengan lutut anak itu juga. Baekhyun tidak tahu apakah ia harus senang atau tidak.
.
.
.
The Bastard King
Baekhyun baru saja kembali dari ruang ganti. Saat ini adalah jam olahragaㅡtentang materi renang. Baekhyun sudah mengganti blazernya yang basah; memasukkannya ke dalam kantung plastik dan ia memakai pakaian renang sekarang.
Baekhyun memilih tankini sebagai pakaian renangnyaㅡsemua murid Hanyang diperbolehkan memilih sendiri seragam untuk pakaian renang mereka. Baekhyun melangkah penuh antisipasi ke gedung kolan renang. Saat ia telah mencapai pintu, ia bisa melihat banyak sekali anak-anak perempuan yang memakai bikini. Itu benar-benar menggiurkan. Bikini yang mereka pakai benar-benar mahal, terkadang pelajaran renang mereka pakai untuk ajang pamerㅡbeberapa anak perempuan akan bersaing untuk mendapat predikat "Bikini dari rancangan desainer ternama" atau "Bikini termahal" dan sebagainya. Baekhyun menunduk, memperhatikan tankini berwarna hitam dengan corak biru miliknya. Tankini itu hanya menutupi tubuhnya sebatas bokongㅡbenar-benar pendek, belum lagi tankini itu menjepit tubuh Baekhyun dengan ketat. Ia seksi, tapi tidak seseksi mereka semua. Yeah, setidaknya Baekhyun merasa nyaman dengan pakaian ini.
Baekhyun berjalan gontai, menuju ke tempat dimana anak-anak itu duduk berkumpul di bangku penontonㅡmendengar arahan guru mereka yang berdiri di depan sana.
"Selamat siang. Baiklah, langsung ke intinya saja. Hari ini kelas renang 3A akan saya gabung dengan kelas 2A. Saya melakukan ini karena beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan secara lengkap disini. Yang jelas, kelas kalian akan sama-sama melangsungkan test, dan untuk kelancaran, saya menggabungkan kedua kelas."
Semua murid tampak medengarkan ucapan guru itu dengan serius. Apa katanya tadi? Kelas 2A?
"Apakah ada yang keberatan dengan itu?"
"Tidak." Semua murid menjawab, kompak.
"Baiklah. Terima kasih. Seperti biasanya, kalian akan menunggu urutan untuk dipanggil dan melakukan test." Guru itu melangkah mundur, mempersiapkan semua alat yang dibutuhkan untuk testnya. Ia mulai memasangkan tali lintasan, dibantu oleh beberapa anak laki-laki.
"Apa yang kau pikirkan, babe?" Seseorang bersuara rendah, baru saja berbisik dengan serak di telinga Baekhyun.
"Huh?" Baekhyun menoleh secepat yang ia bisa. Ia baru saja akan melempari anak itu dengan beragam ocehannya.
Chanyeolㅡyang entah sejak kapan sudah mengambil posisi duduk di sebelahnyaㅡcepat-cepat menjawab, "Kau sudah mendengarnya kan? Kelas kita digabung untuk hari ini." Chanyeol tersenyum geli pada Baekhyun.
Baekhyun berdeham; menoleh ke depan, berpura-pura mengabaikan Chanyeol. Padahal sebenarnya bukan karena itu. Ia hanya malu. Demi Tuhan, mata Baekhyun sempat melirik otot perut Chanyeol tadi. Chanyeol tidak memakai atasan, ia hanya memakai speedo di atas lututnya. Oh, betapa seksinya Chanyeol. Baekhyun mulai memikirkan banyak hal aneh di dalam kepalanya. Ia tersiksa. Baekhyun menggigit pipi dalamnya, berusaha terlihat normal di hadapan Chanyeol.
Tapi, Chanyeol bukan tipe anak yang tidak peka. Ia sangat mengerti dengan tingkah Baekhyun yang satu ini. Ini terlalu jelas baginya.
"Menikmati apa yang kau lihat, babe?" Chanyeol mencubit pipinya.
"Lepaskan tanganmu! Menjauhlah!" Baekhyun mendengus. Ia memulai aksi marah-marahnya lagi.
"Aku tidak mau. Aku tidak mau menjauh lagi darimu. Aku bisa mati."
"Kau berlebihan."
"Aku serius, babe."
"Kau terlihat baik-baik saja waktu itu!" Baekhyun membentak Chanyeol. Ia menoleh padanya, matanya memerahㅡdipenuhi oleh beragam perasaan marah dan kecewa.
"Baby.. Baby.. Baekhyun, ada apa sayang? Tidak. Tidak. Jangan menangis lagi hm?" Chanyeol menyentuh pipi Baekhyun.
Suara peluit yang memekakkan telinga terdengar bergema dan memenuhi gedung renang itu.
Baekhyun menoleh ke depan, mulai menyadari situasi bahwa saat ini mereka semua harus sudah berkumpul di bawah; memulai pemanasan di pinggir kolam renang. Baekhyun cepat-cepat melompat keluar dari bangku itu, menghindari Chanyeol dan mengusap matanya kasar. Ia berjalan dengan perasaan kesal teramat sangat; menuju anak-anak yang sudah berkerumun.
Baekhyun berdiri dengan kesal, menunggu gilirannya dipanggil oleh guru itu. Entah apa yang membuat semua ini tampak menyebalkan sekali; Baekhyun masih belum bisa melupakan kejadian dimana ia menemukan Chanyeol berciuman dengan perempuan lain. Terkadang ia berpikir, apakah Chanyeol juga hanya berniat mengganggunya, mengambil apa yang ia mau kemudian pergi begitu saja?
Jika ya, maka Baekhyun sangat menyesali perbuatannyaㅡmengakui di depan Chanyeol bahwa ia mencintainya.
"Byun Baekhyun." Suara guru itu terdengar memecahkan lamunan Baekhyun.
Lalu Baekhyunpun mengambil posisi di pinggir kolam, menaiki sebuah balok, dan kemudian meluncur ke dalam kolam renang. Berenang hingga ke ujung sana dan berputar kembali. Baekhyun tidak membutuhkan waktu yang lama. Berbeda dengan anak-anak perempuan yang lain. Karena Baekhyun sudah terlalu sering berlatih berbagai macam jenis olahraga.
Baekhyun berenang ke pinggir kolam renang, meraih pegangan untuk menaiki tanggaㅡkeluar dari dalam kolam renang yang mulai terasa dingin itu.
Saat Baekhyun sudah menapakkan kakinya di atas permukaan sana, Baekhyun bisa melihat semua anak-anak perempuan berkerumun di pinggir kolam renang. Ini aneh.
Ia menoleh kesana-kemari, mencari penyebab kerusuhan ini terjadi. Dan Baekhyun menemukannya. Jadi, mereka saling berebut tempat paling depan karena ingin menyaksikan Jongin melompat ke dalam kolam renang. Baekhyun mengangkat alisnya. Hey, Kyungsoo pasti akan mencungkil mata semua murid perempuan yang berani menatap pacarnya begitu.
Sial, tunggu dulu.
Seseorang di sebelah Kim Jongin adalah Park Chanyeol. Anak-anak itu ternyata berteriak pada Chanyeol juga. Bukan hanya Jongin yang ada di pinggir sana. Baekhyun mencebikkan bibirnya kesal. Apa yang membuatnya lebih kesal adalah; Krystal ada di samping Chanyeol. Tepat di sebelahnya. Mereka berbicara ini dan itu. Entahlah. Tetapi Chanyeol beberapa kali melemparkan tawanya, memperlihatkan hampir seluruh gigi putihnya. Jika saja guru itu tidak meniup peluitnya lagi, mereka pasti tidak akan berpisah.
Baekhyun semakin jengkel dibuatnya.
Baekhyun segera berjalan keluar gedung itu; menghentak-hentakkan kakinya penuh perasaan kesal luar biasa. Benarkan apa yang Baekhyun pikirkan? Sekali playboy selamanya akan terus begitu. Baekhyun membenci kenyataan bahwa mungkin ia bukan yang terutama di hidup Chanyeol.
.
.
.
The Bastard King
Baekhyun sedang termenung. Entahlah. Ia hanya sedang berkutat dengan isi kepalanya. Ini adalah sesuatu yang rumit. Baekhyun masih tidak mengerti. Dan beberapa hal terus saja mengganggu kepalanya. Baekhyun sedang duduk berkutat di depan sebuah meja, di lorong pojok perpustakaan Hanyang. Jemari lentiknya menggenggam pensil, di depannya ada setumpuk buku-buku pelajaranㅡsemuanya berbau eksak. Ia menatapi seluruh soal yang diberikan gurunya untuk dikerjakan di rumah. Tapi Baekhyun bahkan tidak berniat untuk mengerjakannya di rumah. Jam sudah menunjukkan bahwa ini sudah hampir malam. Langit tampak semakin gelap dan menghitam. Tapi Baekhyun sama sekali tidak peduli.
Baekhyun memutar-mutar pensil yang ada di dalam genggamannya. Buku-buku itu boleh saja menemaninya disana. Tapi pikiran Baekhyun terus berputar kesana kemari. Ia memikirkan hal yang lain. Terus seperti itu. Dahinya mengkerut kala ia tidak bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaannya.
Ia benci perasaan seperti ini.
Jadi, ia dan Chanyeol berkencan?
Baiklah, itu kedengarannya menarik.
Tapi sungguh, pengalaman berkencan Baekhyun adalah nol besar.
Apa yang Baekhyun tahu tentang berkencan adalah; pergi, jalan-jalan, berpegangan tangan, berciumanㅡerr, lalu saling mengungkapkan perasaan dengan mengatakan "aku mencintaimu"
Kurang lebih seperti itu. Baekhyun mempelajarinya dari drama picisan yang ditonton oleh Luhan.
Baekhyun tidak mengerti bagaimana ia harus bersikap di hadapan Chanyeol. Jadi, apakah Chanyeol itu benar-benar miliknya? Baekhyun memilikinya? Apa yang harus Baekhyun lakukan jika bertemu dengan Chanyeol? Dia memang menginginkan Chanyeol mendekat padanya, tapi tidak seagresif itu.
Baekhyun mungkin hanya terlalu malu dan tidak terbiasa dengan hal ini.
Chanyeol itu cassanova. Semua orang memerhatikannya. Jadi jika Baekhyun ada di sekitar Chanyeol, semua orang juga akan memerhatikan Baekhyun. Dan Baekhyun sangat tidak menyukai itu. Bagaimana mereka menghina Baekhyun lewat tatapan matanya, bagaimana orang-orang itu menilai Baekhyun dari ujung rambutnya sampai ujung kakinya, Baekhyun tidak menyukainya. Rasanya sangat aneh dan menyebalkan ketika seseorang memberimu tatapan semacam itu. Dan lagi, ketika di Mapo dulu, tidak ada anak-anak semacam itu disana. Semuanya dilatih hanya untuk fokus pada pelatihan, bukannya fokus pada kasta dan semacamnya.
Ini melelahkan. Hari yang cukup melelahkan. Baekhyun menghela nafasnyaㅡentah untuk yang keberapa kalinya.
Ketika Baekhyun merapikan semua buku yang berserakanㅡbuku itu hampir memenuhi seluruh permukaan mejaㅡSeseorang sudah berdiri di hadapan Baekhyun. Seorang wanita berambut hitam panjang.
"Jadi, sekarang kau adalah kekasihnya Chanyeol?" Suaranya membuat Baekhyun bergidik. Darimana datangnya perempuan ini? Mengapa ia tidak terlihat sebelumnya?
"Err, aku tidak bisa menjelaskannya." Baekhyun mengangkat bahu, tidak ingin terlihat bersikap sombong dihadapan wanita ini karena ia merasa sesuatu yang buruk bisa saja terjadi jika ia berlaku tinggi hati di hadapannya.
"Namamu Byun Baekhyun. Kau murid pindahan 5 bulan yang lalu. Sejak kapan kau mulai mengenalnya?"
"Mengapa kau ingin mengetahuinya?" Baekhyun bertanya hati-hati.
"Aku..." Gadis itu baru saja akan melanjutkan ucapannya sebelum seseorang membuka pintu perpustakaan dengan sebuah tendangan yang kemudian disusul dengan teriakan khawatir.
"BAEKHYUN!" Suaranya lebih berat dari Chanyeol dan bergema di setiap sudut perpustakaan. Orang itu kemudian berlari menghampiri tempat Baekhyun secepat yang ia bisa.
"Sialan kau. Kupikir sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kami semua mencarimu!" Yifan berujar dengan nada kesal yang kentara.
"Apa maksudmu?" Baekhyun menaikkan alisnya.
"Chanyeol akan mencekik kami semua jika kami tidak menemukanmu. Dan ternyata kau bersembunyi disini. Lagipula kenapa kau harus mengunci pintunya?"
Baekhyun menoleh ke arah pintu, "Aku tidak mengunci pintunya, Yifan. Aku memegang kuncinya." Baekhyun menunjukkan kunci perpustakaan yang dipercayakan kepadanya oleh seorang pustakawan.
"Tapi pintunya terkunci! Untunglah aku melihat cctv sekolah, jadi aku bisa menemukanmu. Dengan siapa kau mengobrol?"
Baekhyun menoleh, berusaha mencari si gadis berambut hitam yang tadi berdiri tidak jauh dari sisi mejanya. Tetapi betapa terkejutnya Baekhyun ketika ia tidak melihat siapapun disana. Baekhyun hanya melihat jendela didekatnya sudah terbuka lebar, menandakan bahwa gadis itu baru saja melarikan diri lewat sana. Aneh sekali, kenapa gadis itu harus terburu-buru keluar lewat jendela saat Yifan datang?
Baekhyun mengerutkan keningnya lagi, ada yang tidak wajar. Ia sedikit penasaran, tapi teriakkan Yifan sangat mengusiknya.
"Ayolah! Cepat temui Romeomu itu. Dia sangat cerewet dan seperti orang gila mencari-carimu. Aku sudah muak dan ingin segera pulang!" Yifan berjalan mendahului Baekhyun menuju pintu keluar.
Baekhyun masih terhenyak. Tapi kemudian segera berjalan mengikuti Yifan saat teriakkannya menjadi semakin tidak terkendali.
"Oke oke. Apa kau tidak bisa santai sedikit?" Baekhyun mengambil ranselnya setelah memastikan barang bawaannya sudah ia masukkan kesana.
.
.
.
The Bastard King
"Baek.."
"Baek, sayang?" Chanyeol sedang menggedor-gedor kamar Baekhyun yang ada di paviliun timur istana.
"Baek, oh ayolah." Chanyeol tampak sudah sangat kelelahan. Biar bagaimanapun, sudah hampir satu jam Chanyeol berdiri di depan sana sembari mengetuk-ngetuk pintu.
Chanyeol masih memakai seragam Hanyangㅡsudah tidak berbentuk lagi karena terlalu kusutㅡtas yang dipikul di sebelah bahunya, rambut yang berdiri kesana kemari. Tapi bahkan Chanyeol tetap saja masih terlihat tampan.
Baekhyun merajuk. Sepanjang hari ini. Padahal mereka baru saja memulai hubungan mereka. Chanyeol tidak tahu apa yang salah padanya. Ia kesetanan mencari Baekhyun dan Yifan adalah pria yang menemukannya. Tetapi setelah Yifan membawa Baekhyun padanya, Baekhyun tidak berucap sepatah katapun. Alih-alih pulang bersama dengan mobil Chanyeol yang mahal itu, Baekhyun memilih untuk melarikan diri secepat kilat menaiki bus.
Chanyeol merasa ada yang salah setelah ia melihat tatapan Baekhyun yang sangat tidak bersahabat padanya. Sesuatu pasti telah terjadi dan Chanyeol harus meluruskannya disini.
"Baek..." Chanyeol masih saja berkutat di depan pintu itu, memandanginya lamat-lamat, berharap Baekhyun akan menyerah dan membuka pintunya. Tetapi ternyata Baekhyun tidak kunjung melakukannya.
Chanyeol memandang ke bawah, ke arah sepatunya. Ia mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya pada ubin kemudian tersenyum kecut.
Tak lama kemudian, Chanyeol memutuskan untuk mengambil beberapa langkah menjauhi kamar Baekhyun. Ia melangkah dan berbelok menuju ke koridor lain.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Baekhyun langsung keluar dari kamarnya dan membuka pintunya selebar-lebarnya. Ia sudah berganti pakaian dengan gaun tidur, tampak sangat manis.
Baekhyun menolehkan kepalanya kesana-kemari, mencari Chanyeol. Ketika ia tidak mendapati keberadaannya disana, Baekhyun mengerutkan bibirnya, tampak sangat kesal.
Saat Baekhyun akan memasuki kamarnya lagi, seseorang mendorongnyaㅡsedikit terburu dan kasar, ia mendorong Baekhyun sehingga orang itu ikut masuk ke dalam kamar Baekhyun dengan posisi memeluk tubuh Baekhyun dari belakang.
"Sialan. Chanyeol!" Baekhyun membentak Chanyeol. Tetapi Chanyeol bahkan tidak peduli. Ia sibuk membelakangi Baekhyunㅡia sedang mengunci pintunya.
"Jadi, Juliette, katakan apa yang mengganggumu hmm?" Chanyeol menarik lengan Baekhyun, membawa telapak tangannya untuk menggenggam jemari cantik milik Baekhyun.
"Lepaskan aku!" Baekhyun berusaha menghempaskan tangan Chanyeol.
"Tidak akan." Chanyeol berujar main-main.
"No no! Get away from me!"
"Baek, please. Tenanglah sedikit." Chanyeol memajukan tubuhnya, memeluk Baekhyun. Tetapi Baekhyun terus saja meronta-ronta.
"Aku membencimu."
"Aku mencintaimu juga."
"Dasar player!"
Uh oke, untuk yang satu ini Chanyeol membebaskan Baekhyun. Ia menatap Baekhyun dalam-dalam, tangannya melingkari pinggang Baekhyunㅡmenjaga Baekhyun agar tidak menghindarinya lagi.
"Apa itu yang kau pikirkan tentang aku?"
"Ya. Dasar brengsek." Baekhyun memalingkan wajahnya. "Pacari saja Krystal, jangan aku. Aku tidak punya dada yang besar sepertinya." Pipi Baekhyun merona, iapun segera memalingkan wajahnya ke direksi lain.
Chanyeol menarik dagu Baekhyun, membuatnya saling bersitatap. "Baek, lihat aku."
Baekhyun balas menatapnya, ia menggigiti bibir bagian bawahnya, agak dalam dan keras.
"Jangan lukai bibirmu." Chanyeol mengurai gigitan Baekhyun dengan jari-jarinya.
"Dengar, Baekhyun. Aku tidak akan mengulangi ini. Aku mencitaimu. Kau adalah wanita paling sempurna untukku. Mereka semua tidak menarik bagiku, bahkan jika mereka menggoyangkan pantatnya untukku." Baekhyun merona mendengarnya, Chanyeol menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Baekhyun. Baekhyun terlihat sangat menggemaskan baginya.
"Kau adalah wanita paling spesial untukku. Mungkin itu kedengarannya terlalu berlebihan, tetapi sepanjang hidupku hingga kini, aku hanya menginginkanmu. Dan ya, sebelumnya aku adalah player. Tapi sayang, berikan aku kepercayaanmu. Kali ini, aku mempunyaimu. Aku hanya ingin membagi diriku untukmu."
Chanyeol tampak menghela nafasnya, tampak menyesalㅡentah untuk dirinya yang player atau merutuki kedekatannya dengan Krystal yang membuat Baekhyun menjadi salah paham.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa." Baekhyun akhirnya berujar setelah sekian lama keheningan mengerjapi mereka. "Maafkan aku,
Chanyeol. Aku bodoh."
"Tidak. Kau tidak Baekhyun. Kau adalah wanitaku, kau memiliki aku, kau berhak melalukan apapun padaku."
"Apakah aku terlalu kekanakkan?" Baekhyun mengintip Chanyeol lewat bulu mata lentiknya.
"Oh sayang, tentu tidak. Apa kau mengkhawatirkan itu?" Chanyeol mengusap punggung Baekhyun hati-hati.
"Ya. Aku baru dalam sebuah hubungan. Aku hanya... Hanya tidak tahu bagaimana aku harus bersikap." Baekhyun meremat jemarinya sendiri.
"Jika saja kau tahu, aku juga begitu sayang. Kau adalah yang pertama."
"Kau terlihat memiliki banyak affair sebelumnya." Baekhyun cemberut mengucapkannya. Lalu melanjutkan, "Aku pernah melihatmu mencium banyak wanita cantik, beberapa kali. Mungkin... dua kali?" Mata Baekhyun tampak menyorotkan kesedihanㅡentah untuk apa.
"Baek, lihat aku." Chanyeol mengusap punggung Baekhyun lebih lembut lagi, "Mereka mungkin melakukan kontak fisik denganku, tapi itu karena mereka yang melemparkan diri mereka padaku. Aku hanya memanfaatkan mereka untuk menyalurkan perasaanku yang tersakiti. Tapi mereka tidak pernah menerima cintaku. Tidak. Dan itu hanya kau." Chanyeol mengelus rahang Baekhyun dengan sangat lembut, seolah-olah Baekhyun adalah barang yang sangat rapuh.
Demi Tuhan, lutut Baekhyun terasa gemetaran disana. Ia bahkan tidak mampu berdiri lagi setelah mendengar pengakuan Chanyeol. Itu terdengar begitu tulus, begitu alami. Dan Baekhyun merasa begitu luar biasa mengalami hal-hal menakjubkan ini bersama Chanyeol. Ia tidak pernah tahu bahwa di masa depan mereka akan menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai begitu dalam.
Mata Baekhyun berkaca-kacaㅡterlalu terharu, entahlah. "Aku mencintaimu juga, Chanyeol." Setelahnya Baekhyun berinisiatif untuk menubrukkan bibirnyaㅡmencium Chanyeol, masih terlihat amatiran. Tetapi Chanyeol tersenyum disana. Ia merasa bahagia dan sangat lega. Kedua tangan Chanyeol menarik pinggang Baekhyun untuk ia pelukㅡia membawa kaki-kaki Baekhyun untuk melingkari pinggangnya.
.
.
.
The Bastard King
Chanyeol baru saja akan mencumbu Baekhyun yang berada di atas pangkuannya sebelum ketukan pintu itu semakin mengeras.
"BAEKHYUN!" itu suara Luhan. Dia terdengar sangat panik, marah, dan entahlah.
"Baek buka pintunya! Ini penting! Ayahmuㅡ"
Dan sebelum Luhan menyelesaikan kalimatnya, mata Baekhyun membola. Ia menatap Chanyeol dengan bibir bawahnya yang digigit. Baekhyun menjadi
gusar dan tegang hanya dalam sekejap ketika itu menyangkut ayahnya.
"Sial." Chanyeol menampakkan ekspresi kecewa.
"C-chanyeol.. Aku harus membuka pintunya." Sorot mata Baekhyun seolah
meminta maaf padanya.
"Tentu, sayang." Chanyeol melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Baekhyun.
Baekhyun menuruni kasurnya menuju pintu dengan langkah-langkah yang terkesan terburu. Ia membuka kunci kamarnya lalu memutar kenop pintunya.
Apa yang terjadi selanjutnya adalahㅡ
"SURPRISE!"
Diluar sana berdiri Luhan yang tengah memegang balon-balon nitrogen yang mengembang ke atas. Sehun berada tepat di sampingnya memegang balon berhuruf 'B'. Lalu jangan lupakan senyuman konyol Jongin dan Kyungsooㅡmereka tampak mesra sekali. Yifan juga ada disana. Ia hanya diam sajaㅡtampak canggung sekali. Dan hell! Ada Krystal yang menggandeng tangan Yifan. Apa-apaan itu? Mereka tampak seperti kekasih? Atau apa?
Baekhyun dapat melihat Krystal memegang sebuah paper bag besar di tangan kanannya. Ia tersenyum cantik pada Baekhyun. Terlihat ramah dan bersahabat. Dan oh! Baekhyun melupakan Jongdae. Ia juga berdiri disanaㅡagak ke belakangㅡIa mengenakan kacamata bulatnya yang tebal sembari memegang kue ulang tahun yang ditaburi banyak oreo dan tokoh kartun larva sebagai pernak-perniknya. Hanya ada beberapa lilin dengan bentuk lucu diatasnya.
Baekhyun tidak tahu bagaimana ia harus menjelaskan perasaannya sekarang. Ia hanya merasa begitu tersentuh. Sungguh. Baekhyun mengelap sudut matanya perlahanㅡberusaha tampak baik-baik saja dan menahan emosinya sebaik mungkin.
Saat mereka semua tampak sibuk sekali bernyanyi lagu ulang tahun, Chanyeol tiba-tiba muncul di belakang Baekhyun dan memeluk pinggangnya. Ia menunduk dan membisikkan, "Selamat ulang tahun, Baekhyunee." Lalu memberi kecupan selembut bulu di pipi Baekhyun.
"Nah sekarang, make a wish!" Luhan berteriak heboh. Ia sedikit mendorong-dorong Jongdae ke depan agar Baekhyun bisa meniup lilinnya.
Baekhyunpun mengepalkan kedua tangannya, menutup erat matanya lalu mulai membuat harapan. Ia tersenyum sesaat setelah menyelesaikan harapannya. Baekhyun mengintip lewat bulu matanya, dan bersiap meniup lilin-lilin yang cantik itu.
Baekhyun meniupnya hingga semuanya padam. Beberapa teman-temannya tampak bersorak dan memberi tepuk tangan riuh. Saat Baekhyun baru saja
mengangkat kepalanya, disaat itu juga Jongin dan Kyungsoo menyemprotkan Snow Spray ke arah kepalanya. Mereka melakukannya berulang-ulang hingga Baekhyun merasa kini rambutnya dipenuhi oleh banyak sekali Snow Spray berwarna-warni.
"Happy Birthday, Baekhyun eonnie!" Kyungsoo terkikik dan ia berusaha membuat Baekhyun tidak marah dengan menyebutnya 'eonnie' sedang Jongin tampak ingin segera melarikan diri dari sana saat Chanyeol memberi tatapan mematikan padanya.
"Baekhyun, Happy Birthday! Ini hadiah dariku dan Yifan gege." Krystal menyodorkan paper bag yang tadi ia genggam pada Baekhyun sembari terus tersenyum.
"Oh, terima kasih!"
"Ayo kita pindah ke taman. Aku ingin duduk. Aku lelah sekali berdiri." Itu Luhan, ia tampak mengeluh dan mengusap-usap dahinya yang mulai berkeringat.
"Kemari noona, biar kubantu." Sehun menarik balon-balon yang ada di dalam genggaman Luhan. Kini Sehunlah yang memegang seluruh balon-balonnya.
Mereka semua berjalan perlahan menuju area taman. Baekhyun tampak sibuk membenahi rambutnya yang dipenuhi Snow Spray dan menyimpan hadiah dari Krystal. Chanyeol masih menungguinya. Ia membantu Baekhyun menyimpan kue ulang tahunnya ke dalam kulkas kecil di kamar Baekhyun.
Chanyeol berbalik dan meringis ke arah Baekhyun. "Maaf. Ini pesta kejutan yang mendadak. Kami tidak mempersiapkannya dengan baik." Chanyeol menggaruk tengkuknya.
Baekhyun mengangkat alisnya, "Ini sangat indah. Luar biasa." Ia menggedikkan bahunya.
"Kau tahu Baek? Aku mengetahui ini hari ulang tahunmu karena si kunyuk Jongdae. Andai saja dia tidak memberi tahu kami semua, kami tidak akan membuat pesta semacam ini." Chanyeol terkekeh.
Baekhyun ikut tertawa, "Yaampun. Bagaimana dia bisa tahu?"
"Entahlah. Aku mencurigainya. Sepertinya ia menyukaimu?" Chanyeol tampak menahan kesal.
"Kau cemburu." Baekhyun tersenyum menggoda Chanyeol.
"Yeah." Chanyeol membuang wajahnya.
"Apakah bagian membuatku merajuk juga ada di dalamnya?" Baekhyun menatap Chanyeol penuh tanya.
"Tidak. Itu murni karena kau salah paham. Bukan bagian dari rencana. Tadinya aku yang seharusnya memegang kue ulang tahunmu." Chanyeol tampak kesal.
Baekhyun menggigit bibirnya, "Uh, begitu. Kupikir, kita harus menyusul yang lain?"
"Mengapa kita tidak berada disini saja dan melanjutkan yang tadi?"
"Chanyeol, ayolah. Itu tidak baik." Setelahnya Baekhyun menarik Chanyeol keluar dan menyusul yang lain. Chanyeol terus saja merajuk sedang Baekhyun melebarkan senyumannya.
Ini adalah anugerah bagi Baekhyun. Bagaimana semua ini dapat dilalui dan jangan lupakan pesta kejutan semacam ini! Bagi Baekhyun, ini sangat berharga. Baekhyun memantapkan hatinya. Mulai sekarang, Baekhyun adalah milik Chanyeol begitupula sebaliknya.
.
.
.
To Be Continued
Author notes :
Hi I'M BACKKKKK!
Jadi gini, sebelumnya aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya untuk kalian semua yang udah nunggu kapan updatenya fanfic abal-abal ini.
Kalo kalian memperhatikan, aku sebenernya sering curcol dibagian kolom author notes kalo aku ini siswi kelas XII yang mau ngehadepin ujian akhir a.k.a UNBK dan USBN. Nah jadi, sejak bulan januari - april aku memutuskan untuk fokus ke pelajaran di sekolah dulu karena itu prioritas aku selama 4 bulan belakangan.
Sekarang, berhubung segala ujian udah berhasil aku selesaikan, aku berniat untuk kembali ke dunia perfanfic-kan wkwkwk.
Guys, aku kena writers block. Aku bingung harus mulai darimana lanjutin cerita ini. Sumpah rasanya udah ga ada feel lagi ngerjain fanfic ini. Rasanya kaya semuanya terlalu aku paksain dan sejujurnya aku paling ga suka kalo itu terpaksa. Karena pasti hasilnya ga akan sebagus kalo kita enjoy, ya kan?
Tapi berhubung kalian begitu perhatian sama akuㅡbeberapa ada yang nanya-nanya sampe kirim pm juga kapan ini lanjut. Aku merasa aku bertanggung jawab untuk menuntaskan ini :") *cielah* Semoga TBK bisa aku selesaikan dan kalian ga lelah menunggu update-annya yang ga menentu.
Untuk reader yang pernah nanya;
Author itu laki-laki atau perempuan? Aku perempuan.
Minta id line dong? Coba lihat di bio aku, disana ada medsos aku, tapi itu medsos aku yang real.
And then, cie kalian semua salah paham. di review kemaren pada nyangka chapter ini ada naena-nya. Hahaha.
Tenang aja guys, selow. Fanfic ini rated M, memang bakal ada adegan dewasanya. Tapi sesuai kebutuhan ya. Mana bisa jerys asal masukin partnya gitu aja. Apalagi fanficnya bergenre gini. Jadi please jangan maksa-maksa jerys masukin part naena. Jujur, agak terganggu sama hal itu. Sedikit banyak itu bikin tertekan :( Makanya bersabarlah buat kalian-kalian yang menunggu naenanya chanbaek.
Last, kobam sama momen chanbaek di instagram hari ini gak? WKWKWKWKWK
HAPPY BIRTHDAY TO BABY BAEKHYUNEE! HAPPY 26th BIRTHDAY!
thanks untuk semua readers, followers, favorites, reviewers!
#ThankYou
#JanganLupaReviewGuys
#BelieveInChanbaek
Regards,
Jerys Jung.
