Disclaimer: BoBoiBoy milik Animonsta Studio

Warning: no power, SLASH, BXB, shou-ai, drabble per chap, boys love, Elemental!Siblings, incest, twincest, if you don't like then don't read it, saya tidak menerima flame

Last Word, bolehkah saya meminta review kalian di setiap chapter yang saya update?

Terima kasih! Also, Happy Reading.

.

=o^o=

L – is for the way you look at me

Cahaya jingga menyelimuti setengah dari permukaan Bumi, termasuk kebun mereka. Matahari yang akan terbenam penuh tidak membuat Thorn berhenti merawat tanaman-tanaman kesayangannya, melantunkan lantunan pelan nan lembut seraya menyiram bunga matahari, membuat kelopaknya terlihat makin mengkilap dan bersinar lantaran ditimpa sinar sore hari.

"Bunga, oh bunga," gumam Thorn cekikikan sendiri memandang bunga rawatannya terlihat indah dengan bangga.

"Thorn, kau belum selesai?"

Thorn menoleh pada sang pemanggil, menemukan adiknya berdiri di pintu belakang sambil bersandar di kusen pintu kayu dan melipat tangannya depan dada. Thorn nyengir pada Solar, menghampiri pemuda itu dengan riang. "Sebentar lagi!" Jawab Thorn tersenyum lebar.

Solar menganggukan kepala kecil, mengalihkan mata dari Thorn—kini memandang kebun mereka yang nampak sangat sejuk karena kembarannya. "Keren," gumam Solar, dia tak pernah menyangka kebun di rumahnya bisa semenakjubkan ini.

Perlahan dia berjalan, mendekati ke arah pot di mana tertanam bunga yang terakhir Thorn siram. "Bagus, 'kan?" tanya Thorn menoel kelopak bunga matahari yang masih basah, "aku menyukainya," lanjut Thorn berjongkok untuk menatap bunga matahari yang lebih kecil.

Solar tidak menyanggahnya, 'Ini benar-benar bagus,' pikir Solar masih terkagum. "Aku juga," ujarnya kecil, kemudian memfokuskan tatap ke arah Thorn yang melakukan hal yang sama, "aku sangat menyukainya," Solar menampilkan senyum tipis.

Pemuda bertopi hijau tersebut terpana. Entah mengapa, perpaduan antara cahaya jingga matahari yang menubruk Solar terlihat sempurna dengan sweater putih serta jaket sewarna sweater diimbuh corak garis abu-abu dan oranye milik sang adik yang dipakainya, dan senyuman Solar yang jarang diperlihatkan pada orang lain. Dan sorot mata Solar, adalah sorot mata terlembut yang pertama kali ini Thorn lihat.

Dia suka, Thorn suka tatapan yang Solar berikan.

"A-ah syukurlah kau suka," dia tak bisa menanggapi apapun, Solar mengacak surainya seusai melepas topi sang kakak.

"Terima kasih," ungkap Solar mempertahankan senyuman tipis, dibalas raut heran Thorn.

"Untuk apa?"

Si bungsu tertawa kecil, "Sudah membuat taman kita menjadi indah, Thorn," Solar menyamakan tingginya dengan Thorn yang masih jongkok, "hasilnya sangat luar biasa," tambah Solar mengerling ke seluruh kebun, terkekeh geli.

Rona merah hadir di pipi chubby Thorn, merambat sampai telinganya. "Kembali," balas Thorn lebih pelan, "terima kasih kembali, Solar," dia mengangkat wajah memandang Solar tepat di mata, senyuman manis tertampang jelas.

Melihat itu, Solar menanggapinya dengan anggukan, berdiri dan mengulurkan tangan pada Thorn. "Mau masuk ke dalam sekarang?"

Menganggukkan kepala semangat, Thorn segera menerima uluran tangan Solar.

.

.

End