Disclaimer: BoBoiBoy milik Animonsta Studio

Warning: no power, SLASH, BXB, shou-ai, drabble per chap, boys love, Elemental!Siblings, incest, twincest, if you don't like then don't read it, saya tidak menerima flame

Last Word, bolehkah saya meminta review kalian di setiap chapter yang saya update?

Terima kasih! Also, Happy Reading.

.

=o^o=

O – is for the only one i see

Hiruk pikuk keramaian orang tak menghentikan Taufan yang menyeret Halilintar kesana-kemari dengan bersemangat, Halilintar hanya pasrah saja ke mana Taufan akan membawanya—dia memaklumi jikalau Taufan sangat senang lantaran Halilintar mengajaknya pergi ke taman bermain. Mereka jarang sekali menghibur diri ke tempat-tempat seperti itu, tapi kali ini Halilintar bertekad membawa para adiknya menuju taman bermain—dan sialnya adik-adiknya yang lain kini menghilang entah ke mana.

Meninggalkan Halilintar bersama Taufan seorang.

Bukannya Halilintar tak suka, tapi hanya Taufan yang tak bisa dia kendalikan, Blaze saja bisa dia jinakkan tapi Taufan? Tidak, Halilintar tidak bisa. Rasanya jika bersama Taufan, Halilintar menjadi lebih mudah marah, jengkel, dan kesal.

Tapi, juga membuat jantungnya bisa melompat kapan saja melihat senyuman cerah Taufan yang manis.

"Hali?" panggilan Taufan membuat Halilintar mengerjapkan mata agak kaget.

"Ya?" sahut Halilintar singkat, memperbaiki letak topinya yang sudah menyerupai letak topi Ice.

Taufan nyengir seraya menggelengkan kepala, "Tidak apa," balasnya riang, "tapi tadi kau melamun. Aku jadi takut kau mendadak kemasukan sesuatu di siang bolong, di taman bermain lagi!"

Perempatan imajiner muncul di dahi Halilintar, segera saja memukul kepala Taufan. "Tidak lucu," dengus Halilintar melipat tangannya, memalingkan pandangan.

Adiknya merengut seraya menggembungkan pipi, "Ih aku juga tidak bilang itu candaan!"

Halilintar mengabaikan balasan Taufan, dia memandang jauh ke belakang Taufan yang berada di hadapannya. Dan fokus matanya terhenti di sana, terhenti di stan yang menjual es krim. Taufan ikut menoleh ke belakangnya, dia tidak menemukan apa yang ditatap kembarannya—malahan dia melihat seorang gadis manis berbincang pada temannya.

Senyuman lebar Taufan tunjukkan, menyikut Halilintar, "Lihat apa tuh~?" nadanya bermain-main, menyiulkan siulan menggoda.

"Lihat apa?" Halilintar mengulang, bingung sendiri.

"Aah jangan berbohong," Taufan menaik-naikkan kedua alisnya, matanya melirik-lirik gadis yang sama, "kau melihatnya, 'kan~?"

Halilintar berdecak mengetahui maksud Taufan, "Kau salah paham," dia memutar mata bosan, "untuk apa aku melihat gadis itu?"

"Kau me-nyu-kai-nya~!"

"Aku ti-dak."

"Hmm? Masa~?" Taufan masih menggoda Halilintar, tertawa melihat raut kesal Halilintar.

Halilintar langsung menarik Taufan yang tak memiliki persiapan apapun, membuat Taufan gugup seketika lantaran jarak mereka terlalu dekat dan netra delima tajam Halilintar menusuk dalam netra safirnya. "Dengar," bisik Halilintar tepat di telinga Taufan, "aku tak melihat gadis itu, buat apa? Aku tak tertarik. Hanya ada satu orang yang selalu aku lihat selama ini, satu orang yang berhasil menarik hatiku. Kau tahu itu siapa?"

"S-siapa?" tanya Taufan merasakan pipinya memanas hebat waktu Halilintar menekan ujung telunjuk ke dadanya.

"Kau."

Alhasil, wajah Taufan memerah padam mendengarnya, segera mendorong Halilintar dengan kikuk. "A-ahaha hawanya panas sekali ternyata ya," ujar Taufan sangat malu, pura-pura mengipasi dirinya dengan tangan—walau hatinya berbunga mendengar ungkapan kembarannya tadi.

Halilintar membuat senyuman setipis benang di wajahnya, "Kau benar," tanggap Halilintar kalem, "mau es krim—"

Manik Taufan berbinar, "Ma—"

"—sayang?"

Taufan melongo ngeri mendengar Halilintar berkata seperti itu, dia antara ingin ngakak dan malu. "Ih menggelikan tahu!"

Sebelah alis Halilintar tertarik ke atas, "Benarkah?" senyumannya berkembang.

"I-iya!" Balas Taufan menahan mati-matian rasa malunya.

"Tapi, kenapa wajahmu memerah begitu, eh?"

"T-tidak! Kata siapa memerah? Hmp!" Taufan menggembungkan pipi lagi, tidak mau membayangkan merah di wajahnya sepekat merah di jaket Halilintar.

"Ya sudahlah," ujar Halilintar terkekeh pelan, "kalau begitu ayo beli, manis."

Sekali lagi Taufan melongo, darimana Halilintar belajar gombal?

"Aku tidak manis!" Elak Taufan sebal.

"Kau menggemaskan, aku tahu."

"Aku tidaaakkk!"

"Tentu iya."

"Hali bodoh!"

"Ya, aku bodoh karena jatuh cinta padamu."

"U-uhh Halilintar!"

"Ada apa, Love?"

Dan perdebatan mereka masih berlanjut sampai mereka tiba di stan es krim yang dilihat Halilintar, tapi salah tangkap oleh Taufan.

.

.

End