Disclaimer: BoBoiBoy milik Animonsta Studio
Warning: no power, SLASH, BXB, shou-ai, drabble per chap, boys love, Elemental!Siblings, incest, twincest, if you don't like then don't read it, saya tidak menerima flame
Last Word, bolehkah saya meminta review kalian di setiap chapter yang saya update?
Terima kasih! Also, Happy Reading.
.
=o^o=
V – is very, very extraordinary
"Ice! Ayo keluar~!"
Blaze dengan semangat membuka pintu kamar, dia ingin sekali mengajak adiknya yang selalu mengurung diri dalam rumah itu beranjak dari ranjang ataupun sofa dan menginjakkan kaki di tanah berumput yang masih berbekas embun pagi dan menghirup udara segar. Blaze menemukan Ice masih tertidur di tempat tidur, pemuda itu merengut seraya menghampiri Ice.
"Ice bangun," pinta Blaze mengguncang tubuh Ice yang masih berada di bawah selimut, tapi rasanya sia-sia saja melihat Ice sangat terlelap.
Mungkin Blaze lupa kalau dia terlalu pagi untuk membangunkan Ice, waktu pagi bukanlah jam bangun Ice—nanti di atas jam sepuluh baru Ice akan membuka matanya. Tapi yang namanya juga Blaze, dia tak kenal lelah guna mencari cara agar Ice bisa bangun dari tidurnya.
Blaze memandang Ice, ide jail mulai muncul di otaknya. "Ice?" panggil Blaze lagi, tapi dengan lembut. "Ice!" Blaze memanggil jauh lebih keras, dan bertenaga—tetap tak membuahkan hasil, malahan Ice menyamankan dirinya dalam gelungan selimut.
Akhirnya Blaze menyerah—ke mana tadi semua semangatnya?—dia menghela napas lelah, duduk di tepi ranjang seraya menatap Ice yang masih bermimpi. Semakin lama Blaze menatapnya, semakin cepat jantungnya berdetak. Blaze memilih memandang Ice dari dekat, mencari jawaban mengapa detakan jantungnya mendadak cepat tak terkendali.
Dipikirnya, Ice terlihat manis ketika tidur, wajah adiknya begitu damai dan polos di saat bersamaan. Ujung jemari Blaze menyentuh pipi Ice, 'Lembut,' ucapnya dalam hati—terperangah menyadari pipi Ice enak dipencet-pencet, dan Blaze mencubit kedua pipi Ice pelan, tidak ingin membangunkan sang pemilik pipi.
Puas bermain dengan pipi Ice, Blaze kembali menelusuri wajah kembarannya. Dia menyadari kembali bahwa bulu mata Ice lebih lentik, dan kulit Ice yang pucat kontras dengan kulit Blaze sendiri—mungkin karena dia suka bermain di luar sedangkan Ice tidak. Bibir ranum Ice sedikit terbuka, terlihat mudah diserang kapan saja. Entah mengapa ini semua terlihat sangat menarik baginya yang notabene jarang memperhatikan betul orang di sekelilingnya, khususnya pada Ice.
Blaze memberanikan diri menyentuh bibir Ice, "Kenyal," gumam Blaze takjub, saat dirasakan sensasi kenyal di jarinya yang menyentuh permukaan bibir Ice yang semerah kelopak mawar. Blaze segera menjauhkan tangannya karena Ice mulai mengerang, dia agak panik—untunglah Ice kembali terlelap lagi. "Huft, Ice," ujarnya menyebutkan nama adiknya dengan sedikit pasrah, "kenapa kau sangat menarik?" entah pada siapa Blaze bertanya, orang yang sedang bersamanya masih memejamkan mata.
Menghapus lagi jarak antara dia dan Ice, Blaze mendaratkan kecupan dengan hati-hati di dahi Ice seusai dia menyibak poni sang adik, Blaze tersenyum kecil seraya mengelus surai kecokelatan Ice penuh kasih sebelum akhirnya pergi dari kamar.
"Tidurlah dengan nyenyak, Ice," ujar Blaze menoleh terakhir kali ke arah Ice, dan kemudian menutup pintu hati-hati.
Tanpa menyadari bahwa Ice terbangun sejak tadi.
Dengan pipi merona hebat Ice menyembunyikan wajah di balik selimut, menyentuh kening pelan dan debaran kencang dalam relung dada bisa didengarnya.
.
.
End
