Disclaimer : Kubo Tite

AU, OOC, Typo (always and forever)

Pairing : IchiRuki, IchiHime, IchiSenna

Rate : M for save

.

.

.

CH 2

.

.

.

"Cepatlah Rangiku, aku tidak enak kalau terlalu lama datang!" kata Rukia sambil berjalan cepat menuju lift.

"What? Kau yang memohon untuk ditemani dan kau menyuruhku cepat-cepat, tidak sopan sekali kau, Wanita!" gerutu Rangiku, berusaha berjalan cepat sembari mengangkat sedikit bawahan gaun indahnya yang panjang.

Rukia melirik lalu mendecak, "sudah kubilang, ini hanya acara ulang tahun, kau tidak perlu bergaya berlebihan seperti itu…"

Kening Rangiku mengerut dalam. "Ini acara ulang tahun Bos Kurosaki, bukan acara ulang tahun anak SD, tentu saja aku harus berdandan cantik!"

Rukia hanya memutar bola matanya dengan malas menanggapi sahabat cerewetnya. Memang ini acara dari seorang konglomerat besar, tapi ini hanya acara ulang tahun. Membeli baju di butik, melakukan perawatan dan berdandan di salon ternama, bagi Rukia semua itu hanya buang-buang waktu dan percuma dilakukan apalagi sahabatnya itu bukanlah seorang gadis lagi. Jadi, untuk apa dia harus bersusah payah mempercantik diri ke orang lain. Rukia tak mengerti mengapa ia bisa bersahabat dengan orang macam itu.

"Aku tidak akan mau lagi menemanimu di acara-acara seperti ini kalau di sana tidak ada pria tampan!" bisik Rangiku mengancam begitu mereka memasuki lift.

Rukia menoleh dengan sebelah alis terangkat, memandang aneh sahabatnya. Sahabatnya yang telah bersuami dan… sekarang dia berbicara tentang pria tampan? Rukia tak mengerti sebenarnya apa yang ada di dalam otak wanita bertubuh tinggi dan montok dia centil, tapi setidaknya memiliki suami bisa membuatnya tak memikirkan pria lain lagi, kan?

"Tunggu!" seseorang berseru ketika pintu lift bergerak. Dengan cepat Rukia menekan tombok open ketika pintu mulai bergerak. "Terima kasih."

Pria itu berdiri tepat di samping Rukia menghadap pintu. Pandangan para penumpang lift yang semuanya adalah para wanita memandang kagum pada pria itu. Apalagi Rangiku, mulutnya sampai terbuka saking terpesonanya. Sang Pria tidak merasa aneh lagi dengan suasana seperti itu, ini bukan kali pertamanya. Memiliki tubuh tinggi yang atletis dengan setelan jas silver yang mengangumkan dan disertai wajah yang amat rupawan walaupun ia memliki warna rambut yang orange mencolok bak langit senja, bagaimana tidak membuat para wanita terpesona padanya?

Si tampan itu haruslah berbangga diri, tapi mungkin kali ini tidak. Ada satu yang sangat mengganjal di dalam lift itu. Semuanya terlihat biasa dengan tatapan para wanita yang selalu terpukau olehnya, tapi ada satu gadis yang sepertinya tak memperhatikannya dan hal itu cukup mengganggu bagi sang pemilik mata amber. Entahlah, mungkin gadis itu belum melihatnya secara seksama. Tapi, masa iya dia tak merasakan aura ketampannya? Yang benar saja! Hanya orang buta yang tidak bisa mengetahui setampan bagaimana dirinya.

Melirik sekalipun tidak?

Akhirnya lift terbuka, dengan tergesa-gesa pria itu keluar dan berlari. Rangiku menarik tangan Rukia untuk menjauh dari para wanita yang masih terpesona oleh pemandangan punggung sang pria yang telah berlalu.

"Rukia kau lihat tadi? Pria itu tampan sekali…" Rangiku berbisik, masih menatap terpesona pria itu.

"Siapa? Pria yang berlari itu?"

Rangiku menatap gemas Rukia. "Siapa lagi? Kau tidak melihatnya, kah?"

"Entahlah…" sahut Rukia tak tertarik, "aku tak memperhatikannya."

"Astaga…" Rangiku melengos sambil menutup jidatnya dengan telapak tangannya, "Kalau kau seperti ini terus, kau tidak akan bisa menikmati dunia…"

Tiba-tiba Rukia menarik tangan Rangiku. "Daripada mengoceh terus di sini, lebih baik kita cepat-cepat, aku sudah sangat terlambat."

Rukia menyeret Rangiku memasuki ruangan yang sangat luas dan megah dengan hiasan bunga dimana-mana, tak peduli betapa kesulitannya Rangiku menarik gaun panjangnya. Dan begitu memasuki ruangan, ternyata benar saja, nampaknya acaranya telah lama dimulai, bahkan mereka tak sempat melihat bagian potong kue dan sebagainya. Sebagian Tamu bahkan mulai beranjak dari tempat itu.

"Kira-kira si tampan itu ada di sini tidak, ya?" ujar Rangiku celingak-celinguk begitu ia duduk, "aku yakin dia tadi berlari ke arah ruangan ini…"

"Rangiku, kau di sini saja ya. Kalau kau mau makan, silahkan saja, aku harus bertemu dengan Kurosaki-san dulu."

"Oh, iya tentu saja…"

Segera Rukia beranjak dan bergegas menghampiri sang pemilik acara. Beberapa tamu menghampiri wanita paruh baya cantik berambut coklat, tentunya untuk pamit pulang. And well, Rukia merasa sangat sangat tak enak karena ia baru akan mengucapkan selamat ulang tahun pada wanita itu di saat para tamu ingin beranjak dari sana.

Sejujurnya, menghadiri acara itu bukanlah keinginan Rukia, ia sendiri tak mengenal keluarga bermarga Kurosaki itu. Kalau bukan kakaknya yang meminta tolong, ia tidak akan peduli.

Wanita bermarga Kurosaki memandang tanya pada gadis yang baru saja ia lihat. Rukia melemparkan senyum manisnya sebelum ia berkata.

"Selamat Ulang tahun, Kurosaki-san…" kata Rukia, "perkenalkan, aku Rukia Kuchiki, adik Byakuya Kuchiki. Nii-samaku tidak bisa datang, makanya aku yang menggantikan beliau," terangnya.

Ekspresi wanita bermarga Kurosaki itu antara kaget dan terpana. "Kau adik Byakuya Kuchiki?" wanita itu lalu tersenyum ramah, "aku memang tahu kalau Byakuya Kuchiki memiliki adik angkat, tapi aku baru melihatmu, kau sangat cantik ternyata."

"Ibu!" seru seorang pria, ia menghampiri wanita cantik itu. "Maaf aku telat, tadi aku sempat bertemu Ishida di sana, jadi kami berbincang-bincang sebentar."

"Ichigo, coba kau lihat," kata wanita itu sembari menarik lengan atas putra berambut orangenya, memperlihatkan sosok yang kini berdiri anggun di hadapan mereka, "dia adalah adik Byakuya Kuchiki, apa kau pernah bertemu dengannya?"

Mata amber pria itu membulat, bukan lantaran karena gadis yang kini ada di depannya adalah salah satu anggota keluarga ningrat terpandang, tapi ia ingat, gadis itu adalah gadis yang bersamanya di lift, gadis yang tidak terpengaruh sama sekali atas keberadaannya. Namun, setelah tersadar dari keterkejutannya, ia bisa memaklumi sikap gadis itu. Ya, keluarga Kuchiki memang terkenal memiliki personel keluarga yang kerap bersikap dingin.

"Masaki-san kami ingin pamit dulu!"

Tiba-tiba seorang pria paruh baya memotong saja dan karena sepertinya pria itu adalah orang yang begitu dekat, Bos perusahaan Kurosaki tentu saja meladeninya. Rukia berdiri sebentar menunggu mereka berbincang-bincang, tapi sepertinya tak ada tanda-tanda pria itu akan benar-benar beranjak dari sana, mereka malah bernostalgia ria.

Merasa kehadirannya dilupakan, Rukia berbalik untuk bergegas dari sana. Tapi sebuah tangan besar pria menggenggam lengan mungilnya.

"Apa semua orang dari keluarga Kuchiki seperti ini, pergi tanpa pamit?" ujar sang pemilik tangan yang ternyata adalah Kurosaki muda berambut orange.

Kening Rukia refleks mengerut, agak tersinggung dengan sindiran pria senja itu. Menyadari ketidaksenangan si gadis Kuchiki, putra Kurosaki lantas tersenyum. "Kita belum kenalan, kan? Perkenalkan, namaku Ichigo Kurosaki," sembari mengulurkan tangannya.

Rukia menghela napas malas, berkenalan dengan pria adalah hal yang paling ia hindari. Tapi yang ingin berkenalan dengannya adalah putra dari perusahaan Kurosaki, ia belum lupa alasan mengapa kakaknya sangat meminta tolong padanya di saat kakaknya benar-benar tak bisa menghadiri itu. Itu karena perusahaan keluarga mereka sebenarnya memiliki banyak masalah dan mereka sangat mengharapkan bantuan dari perusahaan Kurosaki. Ia harus lebih bersikap baik pada pria itu.

Terpaksa Rukia menyambut tangan milik pria bernama Ichigo itu. "Rukia Kuchiki," sahutnya, lalu cepat-cepat menarik kembali tangannya.

"Um… sebenarnya aku belum lama berada di Karakura, maukah lain waktu kau menemaniku untuk melihat-lihat kota Karakura?" pinta Ichigo, "aku kenal kakakmu, aku bisa memintanya agar dia memberimu i-"

"Maaf, aku tidak bisa," tolak Rukia langsung, "maaf, aku sibuk, mungkin orang lain bisa," lanjutnya dengan intonasi yang lebih rendah.

Lalu gadis mungil bermarga Kuchiki itu berbalik dan berjalan menghampiri sahabatnya yang ternyata sedari tadi memperhatikan mereka. Nampak sahabatnya kegirangan lalu terlihat kesal saat Rukia menariknya untuk pergi dari ruangan itu.

Ichigo terdiam sebentar menatap kepergian gadis itu. Jujur ini kali pertama ia diperlakukan tak peduli oleh seorang gadis. yang benar saja?! Dia yang sering dikejar-kejar oleh para gadis-gadis dan kerap beberapa keluarga terpandang meminta ingin dijodohkan anak gadisnya untuk putra Kurosaki itu?

Ichigo terkekeh geli sambil menggeleng kecil. "Wah… dingin sekali dia…"

.

.

.


"Rukia… sebenarnya kau ini gadis bodoh atau apa sih?" Rangiku bergumam, tubuhnya lemas bersandar di jok mobil karena lelah berkonfrontasi dengan sahabat keras kepalanya itu.

"Maksudmu, kau bilang aku bodoh?" Tanya Rukia, tetap fokus menyetir mobil, tidak begitu peduli dengan omongan Rangiku.

"Kalau aku di posisimu, aku sudah menikah pun aku tetap mau didekatinya… siapa lagi namanya itu? Ah… Ichigo… namanya terlalu manis untuk pria semaco dirinya…"

"Wow, bahaya sekali kau menjadi wanita, aku yakin jika Gin mendengarnya dia pasti langsung menalakmu."

"Lama-lama kau jadi perawan tua betulan nanti…" Rangiku menatap prihatin Rukia.

"Itu lebih baik."

"Rukia… tidak semua laki-laki itu jahat dan hanya bisa menyakiti-"

"No man, no cry!" potong Rukia, terdengar tegas dan ia mulai jengkel oleh perhatian sahabatnya.

"Terserah kamu, ah!" ujar Rangiku sambil melengos, membelakangi Rukia, "kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mencicipi makanan di sana... kau tidak tau kalau aku sangat kelaparan?" gumamnya.

.

.

.


Hilang sudah semua rencana masa depan bagi Hisagi Shuhei semenjak ia menyadari bahwa gadis Kuchiki yang ia kejar tidak akan memberinya kesempatan lagi. Ia tak tahu apa yang salah pada dirinya, memang dahulu ia adalah seorang pria petualang wanita, namun ia sudah menetapkan hatinya ketika bertemu dengan seorang gadis bermarga Kuchiki. Tapi, apa yang ia dapat? Penolakan. Ya, penolakan! Walaupun Rukia Kuchiki tak secara langsung menyampaikannya tapi dari sikapnya yang tak datang tanpa kabar saat malam itu merupakan tanda penolakan baginya. Lebih parah lagi, gadis itu seperti tak memiliki perasaan bersalah sama sekali. Apa dia tak tahu berapa jam lamanya Hisagi menunggunya? Hancur sudah hati Hisagi, ia marah. Well, setidaknya, jika kau tak datang, kau harus memberi kabar. Cukuplah sudah Hisagi mengetahui watak gadis itu, ia tak lagi ingin mengejarnya, bahkan ia sudah cukup emosi pada gadis itu.

Tak banyak yang bisa ia lakukan dalam keadaan galau. Pekerjaan bahkan tak bisa mengalihkan pikirannya dari amarahnya pada Rukia. Dia hanya menghabiskan waktu di café seharian, bertemu dengan beberapa teman-temannya.

"Sudahlah… wanita di dunia ini banyak jumlahnya!" seru Grimjow, "kau tinggal menunjuk mereka, bukan? Hei, bukannya ada seorang model pendatang baru yang tertarik padamu?" godanya sambil tertawa.

"Ck, terlalu gampangan."

Sambil menyandarkan kepalanya, Grimjow menepuk jidatnya. "Yang sulit di dapat kau tak bisa, yang gampangan pun kau tak mau!"

"Diam kau!" tatapan Hisagi tajam ke depan, kembali ia teringat oleh gadis yang akhir-akhir ini mempermainkan emosinya.

Ceklek…

"Hei!" Grimjow berseru ketika melihat gerangan yang memasuki ruangan VIP itu. Pria berkacamata dengan rambut belah samping dengan tubuh jangkungnya, ia tidak sendiri, ia bersama pria yang juga memiliki postur tubuh yang tinggi dengan rambut orangenya yang mencolok.

"Aha! Tumben sekali kalian semua berkumpul di sini," kata pria kacamata itu sambil berjalan menuju sofa.

"Ya, teman kita yang satu ini lagi galau, Teman," sahut Grimjow, "kau membawa teman baru, Ishida?"

"Ya, perkenalkan, dia adalah teman semasa kecilku, dia lama di luar negeri dan baru beberapa hari yang lalu kembali ke Karakura," terang Ishida, "Ichigo, mereka adalah teman-temanku."

Pria berambut orange itu bersalaman dengan akrabnya, khas pria, dengan Hisagi dan Grimjow sembari memperkenalkan diri.

"Apa kau mengerti bahasa sini?" Tanya Grimjow pada Ichigo.

"Iya, tentu saja. Walaupun aku lama di luar negeri aku sering berkomunikasi dengan keluargaku yang berada di sini," kata Ichigo.

"Ngomong-ngomong…" Ishida bersuara sembari menaikkan kacamatanya dengan telunjuknya, "apa yang membuatmu galau Hisagi? Bukannya selama ini kau yang membuat para gadis galau karena kau tidak memberinya kepastian?" dengan sikap kalem dan cool, Ishida bertanya sekaligus menyindir. Grimjow tertawa, sedangkan Hisagi hanya diam mendengus marah lalu meneguk segelas wine langsung.

"Kau ini terlalu sadis, Ishida! Aku mengajakmu ke sini agar kita bisa menghibur teman kita ini!" sahut Grimjow menyeru sembari merangkul Hisagi, "kasihan kan, dia?" lalu ia tertawa.

"Oh…" Ishida menaikkan kacamatanya lagi, "aku jadi penasaran sama gadis itu, siapa dia? Hebat sekali dia hingga membuat Hisagi seperti ini."

"Kau tidak akan menyangka siapa gadis yang didekati Hisagi itu," ujar Grimjow, "dia Kuchiki."

Mendengar nama Kuchiki, membuat Ichigo langsung menoleh ke arah Grimjow. "Kuchiki? Maksudmu, Rukia Kuchiki?"

"Kau mengenalnya, Kurosaki?" Tanya Ishida.

"Em… kenal juga tidak begitu, hanya saja aku tahu dia sewaktu ibuku ulang tahun kemarin," terang Ichigo, "memangnya, apa yang Kuchiki lakukan?" tanyanya pada Hisagi.

Grimjow terlihat sangat semangat untuk menjawab. "Dia menolak Hisagi!" lalu tawanya meledak.

Hisagi menatap tajam Grimjow, heran daritadi temannya itu terlihat sangat senang melihatnya galau. "Puas kau menertawakanku?"

"Kasihan sekali Hisagi ini, padahal dia ingin serius dengan Kuchiki, tapi… apa boleh buat? Kuchiki menolaknya. Kalian tau sendiri, kan, bagaimana dinginnya gadis itu? Aku saja yang lebih tampan ini tidak berani mendekatinya," terang Grimjow.

"Memangnya… Kuchiki orangnya seperti apa?" Ichigo kembali bertanya, pertemuan kemarin ternyata masih menyisakan rasa penasaran tentang gadis Kuchiki.

"Dia dingin, terlalu acuh tak acuh dan sangat sangat misterius, bahkan aku pernah sempat berpikir kalau gadis itu adalah seorang sosiopat, aku sudah memberi tahu Hisagi tapi tetap saja teman kita ini ingin mengejarnya."

"Bisakah kau berhenti berkata hal yang membuatku terlihat menyedihkan sebagai seorang pria?" Hisagi berkata sinis ke Grimjow.

Ichigo mengingat-ingat kembali bagaimana sosok gadis Kuchiki itu. Memang gadis itu terlihat anggun dan memiliki aura yang misterius, dan… sikapnya saat menolak permintaan Ichigo terasa dingin walaupun saat itu gadis itu tak berbicara kasar. Namun, yah… bisa Ichigo rasakan bahwa gadis itu berusaha membangun benteng pemisah darinya.

.

.

.

TBC


hai semua... chap nya udah dipanjangin ya

hehehehe,, maafkan kalau penulisannya benar-benar ga bagus, juzie lagi ujian trus ini dibuat di perpus and dosen juzie yg sering nongkrong d perpus doyan banget duduk di dekat juzie. kemarin duduknya di belakang sekarang di samping #tepok jidat ahahahahaha smoga ada yang suka