Disclaimer : Kubo Tite
AU, OOC, Typo (always and forever)
Pairing : IchiRuki, IchiHime, IchiSenna
Rate : M for save
.
.
.
CH 3
.
.
.
Semua orang memiliki dunia masing-masing, begitu juga dengan Rukia. Melukis adalah dunianya dan ia sangat tenggelam oleh dunianya, tidak peduli orang-orang mengatakannya bahwa dunianya membuatnya menjadi seseorang yang amat membosankan dan mengidap autis, Rukia hanya ingin melakukan hal yang benar-benar ia sukai. Karena dunianya itu, ia lebih bebas mengekspresikan perasaannya, tak peduli orang-orang mengerti atau tidak maksud lukisan abstrak yang ia buat karena itu tak penting. Melalui warna-warna dan memadukannya untuk menciptakan warna baru, inilah cinta sejati yang Rukia miliki.
Rukia selalu puas melihat hasil kerjanya, dia bisa melihat dirinya di dalam lukisannya. Sisi lain dari dirinya yang tak pernah orang lain ketahui, hanya dia yang tahu.
Well, mungkin sekarang waktunya untuk menikmati kopi. Dengan ceria Rukia berbalik dan… mata lemonnya membulat begitu melihat sosok pria yang kini berdiri tak jauh darinya, sembari melipat tangannya dan menatap mata kekagetan Rukia.
Rukia belum lupa dengan warna rambut pria itu. "Kau?"
"Hai…" balas Ichigo, terdengar santai seakan tak memedulikan keterkejutan gadis yang kini seluruh tubuhnya penuh dengan percikan cat.
"Kenapa kau bisa ada di sini?"
Ichigo menunjuk kea rah pintu. "Pintumu terbuka, jadi aku masuk saja."
"Bukan itu maksudku…" sanggah Rukia, "maksudku… darimana kau tahu tempat ini?"
Ichigo melemparkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu, penuh dengan lukisan abstrak yang sejujurnya, Ichigo tak mengerti dengan semua lukisan itu. Sama seperti gadis itu, tak bisa iamengerti, untuk itulah dia mendatangi gadis bermata sindrom Alexandria genesis itu. "Tidak sulit menemukan informasi tentangmu," sahutnya.
Rukia berpikir, entah apa kesalahan yang ia buat sehingga pria itu malah mencarinya. Rukia yakin, ia sudah memperlihatkan sikap-tidak-bersahabatnya, tapi mengapa pria itu masih saja. Ia lalu berdecak, melepaskan apron hitam yang penuh dengan percikan cat dan membuangnya ke sembarang tempat.
Rukai lalu berjalan menuju meja, menyalakan kompor spiritusnya, mengisi bubuk kopi di ceret dan memasaknya. Ia lalu mengambil satu cangkir dari lemari gantung dan mengisinya satu balok gula batu. "Seperti yang kau lihat, kau tidak mendapatkan apa-apa di sini kan?"
"Oh, ya?"
Rukia berjalan mendekati Ichigo yang masih saja sibuk memeperhatikan ruangan itu. Rukia melipat tangannya ke arah Ichigo, mengangkat dagunya dan melemparkan tatapan permusuhan yang menantang pada wajah tampan priaitu. "Kurasa kau tidak akan menemukan sesuatu hal yang menarik di sini."
Ichigo menoleh, menatap manik ungu yang sangat indah. Sejenak Ichigo mengaguminya, tapi ia tidak boleh lemah, bisa saja ini hanya taktik gadis bermarga Kuchiki itu untuk membuatnya tertarik, seperti yang sudah terjadi pada Hisagi. Dan Ichigo benci berada di pihak yang kalah.
Ichigo melipat tangannya, menatap tak kalah menantangnya. "Siapa bilang aku tidak menemukan sesuatu, aku menemukannya kok," balas Ichigo, "aku menemukanmu."
Rukia terdiam, mungkin sedang berusaha mencerna ucapan Ichigo. Tidak lama kemudian, pelan-pelan keningnya mengerut, ia sama sekali tak menyukai kalimat gombal walaupun tak terdengar seperti gombalan.
"Dan aku menemukan duniamu, bukan?"
Rukia tertawa muak. "Ada-ada saja kau!"
Ia berbalik menuju meja, menghampiri kompor spiritusnya, wangi kopi mulai merebak rupanya. Ia mengangkat ceret dan menuangkan isinya ke dalam cangkir. Langsung saja ia menyeruput kopinya.
"Hei, kau tidak membuatkan untukku?" Ichigo bersuara, "aku tamu, kan? Kurasa keluarga kuchiki tau persis bagaimana melayani seorang tamu, bukan?"
Terpaksa Rukia mengambil satu cangkir lagi. Suara gemericik berisik dari cangkir terdengar saat Rukia menaruhnya si atas meja. Ichigo hanya bisa menahan geli melihat sikap gadis itu, well anggap saja ia berhasil mem-bully-nya.
Ichigo mengambil dua gula balok dan memasukkannya ke dalam cangkirnya. "Sebenarnya… aku tidak pernah suka minum kopi..."
Rukia yang sementara menyeruput kopinya melirik sekilas.
"Tapi karena kau yang membuat…"
"Apa kau sudah selesai?" potong Rukia, ia berjalan cepat mengambil tasnya yang tergantung di dinding, "aku mau sarapan di luar."
Ichigo cepat-cepat menaruh cangkirnya di meja begitu Rukia berjalan cepat untuk keluar. Ichigo mengejar Rukia yang kini melangkah cepat menuju mobilnya, dan begitu Rukia telah masuk ke mobilnya, tiba-tiba Ichigo ikut menaiki mobil itu dan duduk di samping Rukia.
"Hei, apa yang kau lakukan?" seru Rukia.
"Ikut sarapan bersamamu, kan?"
Kening Rukia mengerut dalam, tanda ia benar-benar marah. Ia mendesis, "aku jadi tak ingin makan."
Segera Rukia keluar dari mobilnya dan Ichigo pun mengikutinya. Dengan cepat Ichigo mengejar Rukia yang melangkah begitu cepat, meraih dan menarik tangan gadis itu.
"Hei, jangan menyentuhku!"
"Ups, sorry," sahut Ichigo sambil melepaskan tangannya, "aku hanya ingin ikut denganmu."
"Dengar ya, Kurosaki!" geram Rukia,"Aku ingin makan sendirian, dan keberadaanmu benar-benar mengangguku! Tidak bisakah kau pergi sekarang?"
"Kenapa kau galak sekali? Aku bukan orang asing di keluargamu, aku cukup mengenal baik Byakuya. Jika kau mau, aku bisa menghubunginya," Ichigo lalu mengambil ponselnya dan mulai mencari nama Byakuya Kuchiki di kontak ponselnya.
"Aku tidak peduli," Rukia berbalik dan mulai melangkah.
"Ada apa, Kurosaki?"
Langkah Rukia berhenti dan matanya spontan membesar, ia tahu persis pemilik suara itu walau melalui loundspeaker ponsel. Rukia berbalik dan dengan cepat merebut ponsel Ichigo lalu mematikan panggilan ponsel.
Rukia menatap tak percaya ke arah Ichigo. "Kau ini…"
"Um… Bagaimana? Aku bisa sarapan bersamamu, kan?"
Mata besar berbentuk lemon Rukia tajam menatapIchigo yang kini tersenyum penuh kemenangan. Marah dan kesal, bisa-bisanya pria yang baru mengenalnya itu mempermainkannya. Lebih buruk lagi, si rambut orange itu sengaja menggunakan keluarganya untuk memaksanya. Rukia terdiam sebentar, mulai memikirkan ide untuk bisa menghindari pemuda Kurosaki yang kini berdiri angkuh di depannya.
"Bagaimana?"
Rukia memutar malas bola matanya. "Iya, baiklah," sahutnya terpaksa.
Ichigo terkekeh senang, puas karena telah berhasil membuat si nona'jual mahal' tidak bisa berkutik.
.
.
.
"Aku ingin teh susu hangat, jangan terlalu manis, dan juga omlet sandwich," kata Ichigo pada gadis pelayan café, ia lalu melirik Rukia yang sedaritadi diam sambil memikirkan sesuatu, "kau mau pesan apa, Kuchiki?"
"Kopi," sahut Rukia.
Ichigo mengangkat sebelah alisnya, "kau tidak ingin memakan sesuatu? Bukankah tadi kau bilang ingin sarapan?"
"Aku sudah bilang, kan? Aku jadi tidak ingin makan."
Ichigo menghela napas mengalah, gadis yang kini ia hadapi benar-benar keras kepala. "Oke, secangkir kopi!" ujarnya pada pelayan.
"Tolong gulanya dipisah!" tambah Rukia, segera pelayan itu mencatatnya lalu pergi.
"Jadi…" Ichigo memulai pembicaraan, "apa kegiatanmu saat ini selain menggambar, Kuchiki?"
"Tidak ada."
"Tidak ada?"
"Iya, tidak ada."
"Kau tidak bekerja? Um… maksudku, keluargamu memiliki usaha, apa kau tidak membantunya?"
"Tidak, aku tidak tertarik."
"Oh…" gumam Ichigo. Lalu mereka hanya berdiam-diaman, Ichigo hanya memandang diam Rukia yang nampak sibuk dengan pikirannya. Entahlah, tapi itu yang bisa Ichigo tangkap dari raut wajah mungil yang terlihat sedikit tegang dengan manik emethyst yang terus mengarah ke kanan, pasti dia sedang memikirkan sesuatu. Tidak lama kemudian, pelayan datang membawakan pesanan mereka. Begitu pelayan pergi,Rukia segera memasukkan sebalok gula ke dalam larutan hitam pekat di dalam cangkir, mengaduknya sebentar lalu menyeruputnya.
"Isi perutmu tidak ada dan daritadi kau hanya meminum kopi," ujar Ichigo, "kau tidak takut maag?"
Rukia menatap sinis Ichigo. "Siapa peduli?"
"Tubuh kamu yang peduli," sahut Ichigo santai, "jika kau sakit, tubuhmu yang merasa lemah dan pasti menuntutmu untuk istirahat, dan saat itu kau sulit melakukan apapun yang kau inginkan."
"Tapi sekarang aku baik-baik saja, kan?" sahut Rukia menyepelehkan.
Samar-samar Ichigo menghela. Benar-benar keras kepala nona Kuchiki ini, pastas saja dahulu Hisagi dibuat sakit hati olehnya. Tapi, tak mengapa buat Ichigo, ini merupakan tantangan tersendiri untuknya, jarang-jarang ia menemukan tipe gadis yang begitu keras dengan pertahanannya, bukan karena 'sok jual mahal' tapi sepertinya gadis itu benar-benar tak tertarik padanya. Well, pemilik mata indah itu memang bukan tipe yang mudah menyukai pria.
Kini Ichigo memilih diam, menikmati hidangan sarapannya. Untuk saat ini, berbicara banyak pada gadis bangsawan yang kini terlihat seperti melamun sambil mengaduk-ngaduk kopinya dengan sendok tak akan banyak membantu, terlihat jelas gadis itu sedang tak berselera. Mungkin karena pengaruh kurang tidur untuk menyelesaikan lukisannya, terlihat jelas lingkaran hitam yang tercetak di bawah matanya.
Akhirnya acara sarapan mereka selesai juga, tentu saja Ichigo yang membayar semuanya, lalu mereka meninggalkan café itu.
"Aku antar pulang ya, Kuchiki?" ujar Ichigo sambil berjalan menuju mobilnya.
Rukia yang berada d belakang Ichigo hanya terdiam, melihat-lihat di sekitarnya. Ah, kebetulan di pinggir jalan ada halte dan bus yang sedang mengambil penumpang. Rukia lalu berlari cepat menuju bus itu.
"Aku tahu kok rumahmu," kata Ichigo sambil membukakan pintu mobil untuk Rukia dan saat ia menoleh, Rukia sudah tak ada lagi di belakangnya. "Rukia?" Ichigo melemparkan pandangannya ke segala arah, dilihatnya sosok mungil yang sedari tadi bersamanya sedang menaiki bus cepat-cepat.
"Shit!"
Ichigo menggeram, ia lalu berlari menuju bus itu, namun bus itu sudah berjalan karena Rukia meminta sopir bus untuk segera jalan. Ichigo lalu berusaha mengejar bus itu namun ia tak punya banyak tenaga mengingat ia baru saja sarapan, ia tak mungkin bergerak banyak sementara perutnya sedang mencerna.
"Hosh… hosh…" napas Ichigo tersengal-sengal begitu berhenti berlari, agak merasa konyol juga kenapa ia harus mengejar bus itu. Ia lalu mendongak, melihat ke arah kaca belakang bus, nampak Rukia sedang berdiri menatapnya, tanpa ekspresi.
Ichigo terkekeh, benar-benar merasa bodoh. "Tengil juga dia…"
.
.
.
Sejak kepulangan putra satu-satunya, Nyonya besar keluarga Kurosaki selalu terlihat bahagia. Bagaimana tidak, putranya telah lama meninggalkannya karena memilih menempuh pendidikan di negeri yang jauh sementara dirinya harus tetap sibuk memimpin perusahaan Kurosaki tentunya disamping menjadi seorang istri dan ibu untuk kedua putri kembarnya. Well, memang pendidikan bukanlah alasan satu-satunya keputusan putranya untuk meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama, namun ada masa lalu yang begitu menyakiti hati putranya.
Ichigo Kurosaki, satu-satunya putra keluarga Kurosaki dan menjadi kebanggaan keluarganya dengan sederet prestasi gemilangnya, tidak aneh jika ia adalah satu-satunya pewaris keluarga konglomerat itu. Cerdas dan memiliki ketampanan di atas rata-rata kaum adam, ternyata tidak membuat dirinya terjamin untuk bisa bahagia bersama pujaan hatinya. Beberapa kali sudah ia menjalin hubungan yang cukup serius dengan gadis cantik, namun ada saja kondisi-kondisi yang membuatnya harus berpisah dengan kekasih hatinya. Dia bukanlah tipe playboy, sama sekali bukan, butuh proses yang panjang baginya untuk sembuh dari luka hati yang dalam, namun jika ia menyayangi seorang gadis, ia akan menyayanginya dengan sepenuhnya, mungkin karena itu juga yang membuatnya sulit untuk melepaskan.
Ketika Ichigo pulang kembali ke Karakura, Masaki tak lagi melihat ada luka batin di diri putranya. Itu artinya, putra kesayangannya tak lagi terbayang-bayang oleh percintaan masa lalunya. Mungkin putranya telah siap untuk berkenalan dengan seorang gadis baik-baik untuk saat ini. Dilihat dari usianya memang seharusnya putranya telah menikah, mungkin ia bisa mengundang keluarga baik-baik yang memiliki gadis cantik untuk dikenalkan dengan Ichigo.
"Hhhh…" Masaki menghela napas tiap melihat foto-foto keluarga kecil dengan bayi yang sangat lucu. Rasanya ia sudah sangat ingin memiliki cucu, ya sudah tua memang. Dan Ichigo sudah harus bisa memberikannya.
"Hayo, Kaa-san lagi melamunkan apa?"
Masaki tersentak, tiba-tiba saja seseorang memegang bahunya dari belakang dan mengagetkannya. Ia berbalik dan tampak wajah mempesona putranya yang kini terkekeh geli karena usahanya berhasil mengagetkan ibunya.
"Ichigo… kau mengagetkanku saja…"
Ichigo melompati sandaran sofa dengan tumpuan satu tangannya dan duduk di samping ibunya,menatap ibunya sembari tersenyum. "Apa yang Kaa-san pikirkan? Pasti aku, kan?"ia lalu terkekeh.
Masaki mengerling sebentar sembari tersenyum, ia sangat senang melihat putranya begitu bersemangat. Mungkin kini saatnya ia memberitahu Ichigo akan keinginannya. Ia lalu menyerahkan album kecil kumpulan contoh foto-foto keluarga. Ichigo mengambilnya dan membuka-buka foto-foto itu dengan kening yang mengerut dalam.
"Sepertinya sudah saatnya kamu untuk berkeluarga, Ichigo," terang Masaki ketika mendapati kebingungan di wajah putranya Ichigo.
Ichigo mendongak, menatap mata ibunya. Ah, kini Ichigo mengerti maksud ibunya. "Kaa-san ingin aku segera menikah?"
"Iya, tentu saja. Aku juga ingin menimang bayimu, kan?" Masaki lalu tersenyum, "Ibu mengenal beberapa gadis dari keluarga baik-baik, dia cantik dan tentu saja sangat sopan dan baik, ibu yakin kau pasti suka, Ichigo."
Tiba-tiba Ichigo mengambil posisi berbaring dan menyandarkan kepalanya dengan manja di paha ibunya. "Kaa-san ingin menjodohkanku?"
Dengan penuh sayang, Masaki membelai dahi putra kesayangannya, mengusap-ngusap ubun-ubun Ichigo. Ichigo menutup matanya, meresapi kasih sayang ibunya, satu-satunya wanita yang sangat ia cintai saat ini.
"Ya… kalau kau tidak keberatan sih, ibu juga tidak mau memaksamu."
"Boleh aku request?"
Masaki agak terkejut. Ichigo sedang me-request seorang gadis, Masaki tidak menyangka putranya sudah memiliki seorang gadis yang disukainya, mengingat Ichigo belum lama berada di Karakura.
"Tentu saja," sahut Masaki begitu senang, namun tampak elegan, "apa ibu mengenal gadis itu? Dimana kau mengenalnya?" Masaki tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
Ichigo terkekeh sebentar, "iya, Kaa-san mengenalnya," Ichigo tersenyum kala mengingat pertama kali ia melihat gadis itu, "aku mengenalnya di hari ulang tahun Kaa-san."
Masaki terkejut juga merasa sangat senang. Putranya mengenal gadis itu di hari ulang tahunnya, pastilah gadis itu termasuk gadis dari kalangan baik-baik. Masaki merasa semua tamu yang ia undang adalah kenalan baik, mitra bisnis, teman akrab, pastilah gadis itu salah-satu gadis yang ingin ia jodohkan untuk Ichigo."
"Katakan, Ichigo! Siapa gadis itu?"
Ichigo terkekeh malu. "Um… dia… Kuchiki."
Senyuman yang menghiasi wajah Masaki tiba-tiba saja memudar digantikan oleh kerutan keningnya. Memang keluarga Kuchiki adalah salah-satu kenalan baik dan juga mitra perusahaannya, namun gadis dari keluarga Kuchiki sama sekali tak pernah ia perhitungkan sebagai menantunya. "Kuchiki?"
Ichigo tersenyum lembut menatap kebingungan ibunya. "Iya, Kuchiki… aku langsung menyukainya."
Masaki terdiam, belum bisa menguasai dirinya. Tak pernah ia bayangkan jika harus menjadi satu keluarga dengan keluarga Kuchiki. Akhirnya,ia bisa menguasai dirinya, mencoba berbicara pada putranya. "Ichigo, kau tahu kan, bagaimana sifat keluarga itu? Kau mengenal betul Byakuya, kau tahu persis bagaimana keras kepalanya dia, kau juga tidak begitu cocok dengannya… Bukan cuma Byakuya, ayahnya dan kakeknya… sama keras kepalanya, pasti adik dari Byakuya itu juga tidak kalah keras kepalanya. Kau juga keras, kau cocoknya dengan gadis lemah lembut, Ichigo."
"Kaa-san…" Ichigo berbicara selembut mungkin, "aku sudah tak berangan-angan lagi memiliki pasangan yang lemah lembut dan bisa membuatku jatuh cinta setiap harinya. Untuk sekarang… aku hanya menginginkan seseorang yang bisa bersamaku dan tak mudah tergoda oleh rayuan pria lain sehingga dia tetap bersamaku…"
Masaki menatap sedih Ichigo. Ternyata putranya masih menyimpan luka dibalik sikap cerianya yang ditampakkan. Masaki menbelai lembut rambut Ichigo, berusaha memberi pengertian. "Tapi, kau tidak mencintai Kuchiki, maksudku… tidak mungkin kau jatuh cinta secepat ini dengannya, kan? Ibu juga yakin, Kuchiki tidak mungkin langsung jatuh cinta padamu, dia mungkin menolakmu dan…"
"Aku yakin, jika Kaa-san yang turun tangan, keluarga Kuchiki tak akan keberatan," potong Ichigo, menatap mata ibunya dengan tatapan serius, "soal cinta… itu ada prosesnya, tapi saat ini aku hanya menginginkannya, Kaa-san…"
"Ichigo…" Masaki hanya bisa menatap prihatin putranya. Sebenarnya, ia tak setuju jika Ichigo menikahi gadis Kuchiki itu walaupun secara pribadi tak ada rasa benci pada gadis itu mengingat keluarga kuchiki adalah keluarga yang ia kenal bukan saja sebagai keluarga baik-baik tapi juga keluarga bangsawan. Hanya saja, Masaki tak pernah menyukai sifat keras kepala anggota keluarga itu. Tapi, Ichigo menginginkan gadis itu dan selama ini Masaki tak pernah mengabaikan keinginan putranya. Masaki benar-benar dilema, ia sangat mengidam-idamkan seorang menantu cantik, sopan,lemah lembut dan penuh kasih sayang. Tentu ia ingin putranya kelak diperlakukan dengan baik oleh istrinya sehingga Masaki tak perlu khawatir lagi apakah putranya terurus dengan baik atau tidak.
"Kumohon, Kaa-san… bantu aku mendapatkannya…"
.
.
.
TBC
Sorry ya man temanz, ini update nya lama dikarenakan juzie berada dalam situasi penuh dengan kegalauan asmara huhuhuhu,, ternyata memang sangat menyakitkan ya sampe juzie bener-bener ga berselera ngapa-ngapain. Oke ini curhat ahahaha
Well, gapapa ya kalau updatenya lama, paling tidak jadi lebih panjang kan. ya kan? Ya kan? #plakk
Hehehe… oke ya,moga suka dengan lanjutan ceritanya.
Love you all :*
