CH 4

.

.

.

Masaki benar-benar dibuat kacau oleh putranya. Bagaimana tidak? Tak pernah sedetik pun ia membayangkan akan menjadi satu keluarga dengan keluarga Kuchiki dan kemarin, dengan seenak jidatnya, putranya meminta untuk mendapatkan gadis dari keluarga bangsawan yang terkenal memiliki hati yang dingin. Sebenarnya, Masaki sendiri yakin jika dia meminta keinginan putranya pada pria yang kini menjadi kepala keluarga Kuchiki, sang kepala keluarga pasti tak enak menolaknya, mengingat kerja sama dalam bidang usaha mereka begitu baik walaupun sepertinya pria dingin itu tak begitu menyukai Ichigo. Satu hal yang membuat Misaki enggan mengikuti keinginan putranya, sekedar berbicara santai saja tak pernah ia lakukan pada kepala keluarga itu karena sikap sang kepala keluarga yang terlalu serius. Oh tidak! Misaki yang sudah berangan-angan memiliki keluarga besan yang bisa ia ajak merumpi dan bercerita sepanjang hari dengan penuh tawa.Hell! Kenyataannya keluarga Kuchiki tidak mungkin diajak seperti itu.

Tapi, ini permohonan putranya dan Masaki tak pernah sekalipun menolak keinginan putranya.

Dan kini, kepala keluarga Kuchiki telah ada di hadapannya. Ia sengaja mengundang kepala keluarga itu makan siang di tempat yang 'mungkin' pria itu sukai, mengingat keluarga itu adalah keluarga yang cukup kolot, sangat jauh dari kata modern. Di restoran tradisional dengan menu tradisional pula, Misaki kini membayangkan, ichigo yang sudah terbiasa dengan menu makanan modern akan dihidangkan makanan tradisional oleh gadis Kuchiki itu jika sudah menikah kelak.

"Apa ada yang ingin anda sampaikan?"

Pertanyaan dari Byakuya menyadarkan Misaki dari lamunan panjangnya. Wanita itu mencoba tersenyum dengan ramahnya, "menurutmu, tempat ini bagus, tidak?"

Byakuya menyambut pertanyaan Misaki dengan tatapan mata keheranan. Tidak mungkin nyonya besar keluarga Kurosaki itu mengundangnya hanya untuk memperlihatkan restoran tradisional yang baru dibuka beberapa minggu yang lalu. Byakuya juga yakin, wanita itu tak pernah tertarik dengan kehidupan tradisional. Tapi, ia belum menemukan alasan sebenarnya mengapa wanita itu mengundangnya. Byakuya mengambil cangkir tanah liat berisi teh dan menyeruputnya.

"Menurutku… tempat ini bagus."

Tiba-tiba Misaki terlihat antusias. "Oh, ya? Aku juga berpikiran sama denganmu." Ia lalu tertawa salah tingkah, membuat Byakuya semakin keheranan. Kemudian wanita itu terdiam, mungkin sedang memikirkan apa yang akan ia sampaikan. "Um… sebenarnya… aku ingin berbicara tentang adikmu."

"Rukia?" Byakuya semakin bingung menatap Misaki, "ada apa dengan adikku?"

Misaki tertawa kecil dengan reaksi Byakuya yang nampaknya sedikit khawatir. Well, tentu kepala kleuarga itu begitu perhatian pada adik satu-satunya.

"Ah, jangan tegang begitu! Dia tidak melakukan hal yang salah, kok," terangnya, "waktu itu dia datang di acara ulang tahunku."

"Maafkan saya, waktu itu saya benar-benar tidak bisa hadir…"

"Bukan,bukan itu maksudku!" seru Misaki menyanggah sembari berusaha tetap sumringah, "aku baru melihat adikmu saat itu dan…"

Byakuya terdiam menunggu kelanjutan cerita Misaki dengan masih melemparkan tatapan penuh tanya. Melihat Byakuya seperti itu membuat Misaki menelan ludah, ia tak yakin ingin menyampaikannya.

Misaki lalu tertawa salah tingkah lagi, "ternyata adikmu cantik ya!"

Dengan kalem Byakuya menunduk lalu mengambil cangkir dan meminum teh. Rasanya aneh sekali nyonya besar itu mengajaknya bicara seperti ini, penuh tawa dan canda, dan sejujurnya hal ini tak disukai oleh Byakuya.

"Terima kasih…" sahut Byakuya begitu kalem.

"Waktu itu…" Misaki ragu-ragu melanjutkan, "Ichigo… berkenalan dengannya."

"Oh…"

Respon byakuya yang kini terlihat biasa saja membuat Misaki semakin ragu untuk menyampaikan maksudnya. Entah ia masih ingin berbasa-basi atau tidak, tapi sepertinya Byakuya tak akan suka jika ia terus berbasa-basi.

"Putraku… menyukai adikmu," terang Misaki, "tu-tunggu dulu, jangan berpikiran buruk!" kata Misaki buru-buru begitu mendapati sorot mata tak senang dari Byakuya, "aku tahu kau memang tidak suka Ichigo, tapi aku mengenal betul putraku, dia bukan tipe laki-laki yang mendekati seorang gadis hanya untuk bersenang-senang, dia punya aku sebagai ibu dan dua adik perempuan, dan… Ichigo benar-benar serius menyukai adikmu, dalam arti… dia bukan sekedar ingin mendekati dan memacarinya," Misaki berusaha meyakinkan Byakuya.

Byakuya menunduk, berpikir sejenak. Memang si sulung Kurosaki itu bukanlah seorang playboy, hanya saja dari dahulu Byakuya tidak menyukainya. Byakuya tak pernah menyukai sifat 'sok' dan itu ada di diri Ichigo. Oh, bukan hanya itu, ternyata pria itu juga manja pada ibunya, terbukti untuk mendapatkan Rukia ia harus melibatkan ibunya. Tapi, apa maksud nyonya besar Kurosaki itu mengatakan demikian? Tapi, sepertinya ini mengarah ke perjodohan. Masaki bisa melihat ada sorot ketidaksetujuan dari ekspresi pria dingin itu.

"Byakuya Kuchiki… yah, aku tahu ini berat untuk kau putuskan, tapi coba lihat dari sisi lain," Misaki berusaha membujuk, "kita sudah saling kenal dengan baik, dan kita sudah lama menjadi partner bisnis yang baik. Kau pasti tahu setidaknya jika adikmu dan putraku menikah, kau tidak perlu khawatir adikmu akan diperlakukan seperti apa, kau kenal betul bagaimana keluargaku, Ichigo tidak akan memperlakukan adikmu dengan buruk."

Byakuya menatap Misaki, dari sorot matanya mulai ada kelunakan hati. Ya, walaupun ia tak menyukai Ichigo tapi keluarga Kurosaki terkenal sebagai keluarga baik-baik. Tak pernah keluarga itu terlibat dalam urusan kriminal dan kejahatan, malah keluarga itu begitu loyal memberikan bantuan. Begitu pun saat keluarga Kuchiki membutuhkan bantuan saat perusahaan keluarga itu hampir mengalami kebangkrutan, orang yang pertama memberikan bantuannya itu dari keluarga Kurosaki dan Byakuya bukanlah orang yang tak bisa membalas kebaikan.

Tapi, bagaimana dengan Rukia nanti? Byakuya tahu, adiknya tidak akan suka dengan perjodohan ini.

"Tolong kau coba pertimbangkan, aku tidak meminta kau harus menjawabnya sekarang. Cobalah bicarakan dulu dengan keluargamu…"


Lagi! Entah sudah berapa kali Rukia mengoyak-ngoyak kertas khusus untuk membuat kaligrafi milik Byakuya lalu membuangnya di sembarang tempat. Ia lalu mengambil selembar kertas lagi lalu mengulasinya dengan kuas bertinta. Tapi apa yang terjadi, baru segaris saja ia merasa sudah melakukan kesalahan. Rukia menghempaskan kuasnya dengan agak kasar di atas kertas, kesal mengapa ia tidak pernah semahir kakaknya dalam membuat kaligrafi, padahal ia sangat senang menggambar. Ia melihat jam, mungkin sebentar lagi Byakuya, kakaknya, akan pulang. Itu artinya ia harus membereskan semuanya karena Byakuya tak akan senang jika mengetahui semua peralatan kaligrafinya tersentuh oleh orang selain dirinya. Padahal ini adalah kesempatan Rukia mencoba membuat kaligrafi, tapi ternyata membuat kaligrafi lebih rumit dari yang ia pikirkan.

"Maaf mengganggu, Rukia-sama," terdengar suara seorang pria di balik pintu geser yang sedikit terbuka.

"Ya, ada apa?" sahut Rukia menyeru.

"Ada yang mencari anda, Rukia-sama?"

"Siapa?"

"Dia tidak ingin menyebut namanya," jawab pria itu, "katanya, dia kenalan baik anda, anda pasti mengenalnya, Rukia-sama."

Kening rukia agak mengerut, sejenak ia berpikir, siapa kenalan baiknya yang tak dikenal oleh orang-orang yang berada di Mansion Kuchiki mengingat ia hanya memiliki sedikit teman. Namun, akhirnya Rukia bergegas, mengenyahkan semua kertas-kertas dan perkakas kaligrafi milik Byakuya. Oh, tentu saja Byakuya tidak akan senang jika barang-barangnya tergeletak begitu saja.

"Apa dia ada di ruang tamu?" Tanya Rukia ketika keluar dari ruangan.

"Tadi dia hanya berdiri di teras saja, Rukia-sama."

"Tidak usah menemaniku! Aku sendiri saja menemuinya," ujar Rukia ketika akan berjalan. Pelayan itu membungkuk lalu berbalik.

Dengan tenang Rukia berjalan menuju rasa sedikit penasaran siapa gerangan yang menemuinya. Sebenarnya, ia tidak banyak memiliki kenalan baik, sahabat saja ia hanya punya satu, Rangiku Matsumoto. Mungkinkah hanya cuma sekedar kenalan biasa. Tiba-tiba Rukia merasa bodoh, mengapa tadi ia tak bertanya, orang itu perempuan kah atau laki-laki? Setidaknya, jika orang itu adalah laki-laki, kemungkinan besar pastilah salah satu kenalannya yang sama sekali tak ingin ia kenal. Laki-laki adalah makhluk yang harus ia hindari.

Tiba-tiba langkah Rukia terhenti begitu sampai di teras depan. Sorot wajahnya menampakkan ketidaksenangan melihat sosok yang 'katanya' adalah kenalan baiknya. 'Kenalan baiknya' itu begitu sibuk menikmati pemandangan bunga-bunga sakura di halaman Mansion Kuchiki hingga tak menyadari keberadaan Rukia.

"Kau…"

Pria itu berbalik begitu mendengar suara Rukia. Ia tertegun sebentar dengan penampilan Rukia yang begitu berbeda. Dress selutut dengan wajah bercahayanya, begitu manis dan feminim, tidak seperti saat gadis itu berada di studionya, dengan baju kaos longgar dan celana jenas serta noda cat yang mengotori wajahnya. Ya, dia terpesona dengan sisi kecantikan lainnya gadis dari marga Kuchiki itu.

Sementara Rukia sama sekali tak suka dengan keberadaan orang yang beberapa hari yang lalu menemuinya di studionya. Apalagi warna rambut yang begitu menyala hingga ia merasa semua warna-warna sakura di halaman rumahnya buyar ingin sekali mengusir si sulung Kurosaki itu, tapi tidak mungkin juga ia mengusirnya secara langsung.

Dengan ekspresi tak bersahabat, Rukia menghampiri Ichigo yang masih terpesona menatapnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Rukia tak ramah.

Kening Ichigo terangkat, tersadar ia bahwa walaupun gadis itu memiliki penampilan yang begitu manis tapi tidak begitu dengan perilakunya. Ia lantas menyeringai,"wah, seperti itu kau bertanya pada tamumu?"

Rukia menghembuskan napasnya dengan berat sembari mengalihkan pandangannya dengan kesal. Rasanya ia tak sabaran lagi agar pria itu segera pergi dari sana, tapi di depannya ternyata adalah pria keras kepala yang begitu keras mendekatinya, padahal jelas-jelas Rukia sudah memperlihatkan betapa ia tak menyukainya.

"Rumahmu sangat bagus ya, kalau tahu begini daridulu aku sering berkunjung ke sini. Um… sepertinya, Byakuya tidak ada ya…"

"Dia sedang pergi," sahut Rukia, "apa kau ke sini cuma mau menanyakan itu?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Ingin melihatmu."

"Kau sudah melihatku, lalu?"

"Aku ingin melihatmu lebih lama lagi…"

"Tidak bisakah kau pergi dari sini sekarang juga?"

Ichigo tertegun, tak menyangka pertanyaan sadis itu keluar dari mulut seorang gadis dari keluarga bangsawan. Tak pernah ichigo diperlakukan seperti demikian oleh seorang gadis, tapi mungkin saja karena kakaknya tak berada di sana sehingga gadis itu bisa bertingkah semaunya. Well, tentu saja ia tak mungkin bersikap sekasar itu jika sang kepala keluarga berada di sana. Walaupun Ichigo tahu, ia tak disukai oleh pria berekspresi dingin dan datar itu, tapi setidaknya pria itu selalu bersikap sopan padanya.

"Kamu ini galak, ya," Ichigo lalu terkekeh, "tidak apa-apa sih karena kamu cantik."

Mata Rukia yang besar memicing ke arah Ichigo, ada perasaan seperti isi perutnya akan keluar semua. Ia Muak, muak mendengar gombalan si rambut jeruk itu. Rasanya ia ingin segera mengusirnya, tapi bagaimana jika laki-laki itu malah melapor ke Byakuya, Rukia pasti akan kena marah. Rukia tahu kalau keluarga Kurosaki memiliki peran andil dalam membantu keluarganya, walau mereka tak menyukainya keluarga Kuchiki harus memperlakukannya dengan baik.

Tiba-tiba terdengar gelak tawa Ichigo. "Nanti juga kau akan terbiasa denganku kalau kita sudah menikah nanti."

"Kau bilang apa?"

"Baiklah, kau sepertinya tidak suka melihatku terlalu lama di sini."

"Memang…" sahut Rukia dalam hati.

"Aku pergi kalau begitu. Jaga kesehatanmu, ya, Kuchiki!"

Sembari tertawa, pria itu berbalik dan melangkah.

"Hei, kau berbicara apa tadi?" Rukia berseru. Ia lalu melongo, menatapi kepergian si kepala jeruk yang terus melangkah sembari bersenandung ria. Rukia menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan penuh kebingungan. "Dia tadi bicara melantur."


"Kurasa… tidak masalah jika Rukia dinikahi oleh putra Masaki Kurosaki…"

"Tapi…"

"Apa yang kau khawatirkan? Bukannya kau tahu sendiri seperti apa anggota keluarga Kurosaki."

"Bukan itu maksudku… aku… hanya khawatir dengan perasaan Rukia…"

"Rukia pasti setuju jika kau yang memintanya, Byakuya…"

"Aku tahu itu, tapi aku tidak mau memaksanya…"

"Kurasa, lebih baik kau kesampingkan perasaan Rukia, pikirkan yang terbaik untuknya! Jika Rukia menikah dengan putra dari keluarga Kurosaki, kau tidak perlu khawatir apakah dia akan diperlakukan dengan baik atau tidak. Kau tahu keluarga itu tidak akan mungkin melakukan hal-hal yang tidak baik pada keluarga kita, lagipula… jika kau menolaknya, bagaimana nanti hubungan kerja sama kita dengan mereka?"

"Tuan, apa tuan baik-baik saja?"

Byakuya tersadar dari lamunannya, ia mendapati kuasnya tak lagi menulis di atas kertas tapi kini mengenai permukaan meja kayunya. Byakuya menghela napas begitu berat, masalah perjodohan adiknya begitu mengusiknya karena ia belum mengatakannya pada Rukia padahal ia sudah membicarakannya pada keluarga Kurosaki. Ia tak berani melukai perasaan adiknya.

"Tolong singkirkan ini semua!"

Seorang pelayan yang sedari tadi bersamanya lalu bergerak membereskan semua peralatan tulis milik Byakuya. Byakuya lalu melirik kearah jam dinding. Sudah agak larut malam rupanya tapi ia belum bisa tidur, tentu saja karena pikirannya tak bisa tenang. "Tolong panggilkan Rukia, aku ingin bicara berdua dengannya!"

"Baik, Tuan." Pelayan itu segera keluar dari kamar Byakuya.

Byakuya lalu merenung, memikirkan apa yang akan ia katakan pada adiknya. Memang apapun yang Byakuya putuskan tak mungkin ditentang oleh adiknya, tapi selama ini Byakuya tak pernah memaksakan keinginannya pada adik satu-satunya itu. Selama ini Byakuya selalu menjaga perasaan adiknya. Walaupun ia tahu, Ichigo Kurosaki adalah pria yang baik dan pasti akan memperlakukan Rukia dengan baik, tapi tetap saja Byakuya tahu persis adiknya sedang tak ingin menjalin hubungan bersama pria, Byakuya tahu persis masalah yang dialami oleh adiknya. Apa Rukia akan marah padanya…?

Tok tok tok

Byakuya tersentak dari lamunannya. "Masuk!"

Ceklek

Pintu terbuka dan tampaklah Rukia yang sedang menatap tanya ke arah Byakuya, "Ni-sama… memanggilku?"

"Ya, masuklah, Rukia!"

Dengan sungkan Rukia memasuki kamar milik kakaknya, dengan pelan ia melangkah. Walaupun mereka adalah saudara, Rukia tetap menjaga sikapnya jika berada di hadapan sang kakak. Tentu saja mengingat Byakuya kini adalah kepala keluarga Kuchiki.

"Duduklah!" kata Byakuya ketika Rukia hanya berdiri saja di depannya.

"Tidak biasanya Nii-sama memanggilku malam-malam begini, apa ada sesuatu yang penting?"

"Ya… ini penting untukmu, Rukia…" Byakuya melirik sejenak adiknya yang menahan ekspresi penasarannya. Byakuya menghela napas begitu halus, membayangkan bagaimana nanti perasaan adiknya tiba-tiba membuatnya ragu.

"Rukia…kurasa… usiamu sekarang, sudah saatnya kau untuk menikah…"

Rukia langsung menganga, merasa aneh karena sebelumnya tak pernah sekalipun kakaknya begitu peduli akan masalah perjodohannya. Ia lalu berpikir, apakah kakaknya telah dipengaruhi oleh keluarga Kuchiki lainnya mengingat Byakuya baru-baru ini menjenguk keluarga besar mereka. Tapi, Byakuya tahu betul apa yang pernah ia alami, ia tahu Rukia tak tertarik sama sekali untuk menjalin hubungan asmara.

"Kurasa tidak, Nii-sama, Nii-sama tahu betul-"

"Aku sudah membicarakannya dengan keluarga kita," potong Byakuya, "juga calon keluarga besan."

Alis Rukia mengerut begitu dalam. "Besan?"

"Aku sudah menetapkan dengan siapa kau akan menikah, Rukia, dan aku sudah memutuskan…" dengan berat hati Byakuya menatap mata Rukia yang Byakuya tahu, adiknya sama sekali tak menyetujuinya, "kau akan menikah dengan Ichigo Kurosaki."

.

.

.

TBC


maaf ya, update nya kelamaan T.T

galau krn akhir bleach kayak gitu T.T