Tap ...
Tap ….
Tap ….
Hup!
"S-siapa kau?!"
Para penjaga yang bertugas di ruangan remang-remang itu bersiaga, mengeluarkan senjata api masing-masing. Namun, tak diduga, sebuah kilatan cahaya muncul. Sadar-sadar, senjata mereka telah terbelah dua.
Kemudian, sosok misterius yang mengganggu waktu bertugas mereka menampakkan dirinya.
"K-KAU!"
Scratch!
"Satu cecunguk disingkirkan." Sosok itu menyeringai lebar melihat darah berceceran dari penjaga yang ia tebas kepalanya. Mata berkilat kemerahan miliknya beralih, tertuju pada satu penjaga yang tersisa. "Satu lagi—"
Melihat rekannya telah merenggang nyawa, penjaga yang tersisa mengertakkan gigi. Pria itu mengeluarkan pisau dari balik jasnya, bergerak lincah menuju sosok misterius itu.
Kratak!
Tuk!
Scratch!
"Huh. Terlalu mudah," dengus sosok misterius itu dengan bosan. Selama beberapa saat, ia menatap lengannya yang berlumuran darah.
Ini belum cukup, pikirnya.
Dia melangkahi dua mayat penjaga itu tanpa jijik. Menghampiri pintu besi di ujung koridor. Tangannya kemudian membuka santai pintu itu, lanjut berjalan masuk tanpa niat membisukan pergerakan.
Mata merahnya berkilau, memantulkan cahaya monitor dan layar hologram ruangan itu. Seringai kembali terukir di wajahnya saat penghuni ruangan tersebut sama sekali tidak menyadari keberadaannya, terlalu sibuk berbicara dengan headphone menempel di kepala.
"… hah? Iya, di sebelah sana. Baguslah kalau begitu, Sasuke. Kita bertemu di—argh!"
"… eh? Suigetsu?! Apa yang terjadi? Hei! Sui—"
"—Ssh! Dia sedang istirahat."
"W-what … ? Siapa kau?! Hei—bzzzt!"
Target telah dilumpuhkan.
… dia benar-benar menyukai warna merah ini.
Fox Shit One
Chic White Proudly Present
Doc 1. 1 Starting Point
"... Sektor pusat berkata, kita tidak perlu khawatir. Pahlawan kebebasan kita—FSO dan kawannya, siap turun tangan lagi. Prof. MN akan kembali ditang—"
"Sialan."
Bug!
"Sialan!"
Bug!
"Sialan!"
Bug!
Uchiha Sasuke, 23 tahun. Anggota tahun keempat di Sektor Keamanan Konoha Bidang Lapangan dan Intelejen. Rekrutan termuda yang dikatakan calon pahlawan bersahaja.
Wajar saja—mereka bilang. Ayahnya adalah Kepala Sektor dan Kakaknya Kepala Sektor Bidang termuda di Konoha. Selama empat tahunan ini, tak ada satu misi pun yang tidak sukses dilaksanakan. Penyergapan, pengintaian, apa pun ia lakukan dengan rapi. Rencananya tak pernah gagal.
Kali ini, pertama kalinya ia gagal.
Semalam, ia menjalankan misi dengan timnya. Misi memang berjalan lancar. Tapi, kunci dari segalanya—rekan teknisinya—diserang, dan kini terbaring kritis di rumah sakit.
Tidak, bukan itu yang membuatnya emosi.
Tapi kenyataan bahwa … penyerangnya adalah antek-antek Prof. MN.
Sasuke tidak habis pikir. Setelah semua penyerangan habis-habisan di masa lampau, bagaimana bisa pria busuk itu mendapat anak buah? Lagi pula, Devil Prison tempatnya dikurung bukan sembarang penjara! Yang punya akses masuk ke sana hanyalah petugas dari Sektor Keamanan! Siapa yang mengkhianati Negara dan membelot pada kriminal itu?
"Taka, jangan lupa menghadap Ketua!" Rekan satu kamar mengingatkan. Sasuke hanya menanggapinya dengan gumaman kecil dan terus menghajar samsak tinju yang ada di hadapannya.
Pukul.
Setelah 10 tahun mendekam di penjara dan kini kabur menciptakan keributan ….
Pukul.
Sebenarnya apa yang kau rencanakan, Brengsek?
Pukul.
Membusuklah di penjara! Bahkan Devil Prison masih terlalu baik untukmu!
Pukul.
Sudah cukup kau ambil ibuku, jangan kau renggut temanku!
Pukul.
"Ha—ah ... " Sasuke menghela napas, menatap datar pada kepalan tangannya yang memar.
Merasa emosinya mulai reda, Sasuke menghempaskan badannya ke sofa, menyeka malas wajahnya yang berkeringat. Melirik ke arah jam dinding, Sasuke mengumpat kecil. Pagi ini dia punya janji menghadap Ketua Sektor perihal laporan misinya semalam.
Mampus! Telat 10 menit!
.
"Maaf saya terlambat, Pak." Sasuke masuk ke ruang kerja Ketua dengan hati dag-dig-dug. Ia segera memberikan laporannya.
"Hm." Ketua Sektor—ya, ayah Sasuke—langsung menerima dan memeriksa dengan seksama. Beberapa menit terfokus pada dokumen itu, ia mengarahkan matanya kembali pada Sasuke. "Kau tidak pernah telat, Taka. Ada apa?"
Dalam hati, Sasuke merengut kecil. Lidahnya gatal berkata sopan dan penuh keformalan pada sosok di depannya. Terkadang ia juga merasa risih saat ayahnya sendiri memanggilnya dengan kode nama. Tapi … ya sudah. Namanya juga pekerjaan, ia harus bisa profesional.
… dan lagi, sekarang posisi ayahnya sedang 'berperan' sebagai Ketua Sektor yang menanyakan pertanggungjawaban bawahannya. Bukan seorang ayah yang khawatir pada anaknya.
Tapi, tetap saja.
"Permisi." Sasuke bersyukur dalam hati. Penyelamat datang! "Pak, ini data yang Anda minta."
"Terima kasih. Kau boleh kembali."
"Baik. Permisi."
Fugaku—Ketua Sektor yang dimaksud—memberikan amplop yang dibawa bawahannya tadi kepada Sasuke. "Berikan itu pada Kakakmu, Sasuke."
Sasuke menerima amplop itu, lalu membungkuk pamit.
"Jangan khawatir soal Suigetsu. Dia akan baik-baik saja." Sasuke hampir tidak mendengar gumaman dari sang Ayah, saking pelannya pria itu bersuara.
"… ya. Aku tahu."
Bukan berarti aku bisa menerimanya.
.
Sudah Sasuke tebak, kabar menggemparkan tadi malam sudah pasti membuat pimpinan Sektor Keamanan Konoha sibuk. Terutama Sektor Bidang Lapangan dan Intelejen yang pasti kerepotan mengirim anggotanya untuk keamanan di daerah-daerah tertentu.
"Hei, Kak!" Sasuke menyapa. Berbeda dengan Sang Ayah, Itachi tidak terlalu suka dengan formalitas. Dia tak peduli jika Sasuke memanggilnya akrab.
Terbukti, ketika kakaknya itu menghampirinya dan menyentil jidatnya dengan dua jari, seperti biasa.
"… hm? Ini dari Ayah?"
Itachi mengambil alih amplop coklat dari tangan Sasuke. Pria itu langsung duduk di kursinya, mengutamakan hal yang baru saja ia terima dan mengabaikan pekerjaan sebelumnya.
Hal ini membuat Sasuke terheran-heran. Apa isi amplop itu?
"Nah, Sasuke."
"Hn?"
"Kau tahu Tailed Beast?" Itachi membuka amplop coklat itu, lalu meletakkan kertas-kertas yang ada di dalamnya ke atas meja. Kertas-kertas itu sengaja ia letakkan terbalik, agar Sasuke bisa membacanya. "Sini!"
Sasuke mengikuti instruksi dari Itachi. Kini, ia berdiri di depan Itachi. Mengamati informasi yang ada di kertas itu.
Mungkinkah ... ?
"Ini adalah data nama anggota Tailed Beast dan posisi terbaru mereka. Temukan dan segera bawa mereka ke markas utama." Itachi berujar lugas. "Lebih cepat, lebih baik. Bawa Juugo dan Karin bersamamu."
Misi baru … ? Kalau bersama Suigetsu—
Sasuke mengangguk paham, mengabaikan pikirannya yang tadi. Benar kata pembimbingnya di akademi. Sulit kalau setelah bertugas seorang agen disatukan dengan teman seperjuangannya di akademi. Kalau ada tragedi atau kecelakaan dalam misi, pengaruhnya pada psikis lebih kentara.
Sasuke memfokuskan diri pada objek misinya kali ini. Dia mulai membaca profil yang tertera di tiap kertas, sekaligus membuat catatan poin utama di kepalanya.
Ichibi
Nama : Gaara
Umur : 23 tahun
Klasifikasi : Teknisi
Keberadaan : Suna
Nibi
Nama : Nii Yugito
Umur : 28 tahun
Klasifikasi : Lapangan
Keberadaan : Kumo
Sanbi
Nama : Yagura
Umur : 26 tahun
Klasifikasi : Medis
Keberadaan : Suna
Yonbi
Nama : Roushi
Umur : 40 tahun
Klasifikasi : Lapangan
Keberadaan : Kumo
Gobi
Nama : Han
Umur : 38 tahun
Klasifikasi : Lapangan
Keberadaan : Kumo
Rokubi
Nama : Utakata
Umur : 27 tahun
Klasifikasi : Medis
Keberadaan : Kumo
Nanabi
Nama : Fuu
Umur : 28 tahun
Klasifikasi : Lapangan
Keberadaan : Kumo
Hachibi
Nama : Killer Bee
Umur : 35 tahun
Klasifikasi : Lapangan
Keberadaan : Kumo
Kyuubi
Nama : Kurama
Umur : 27 tahun
Klasifikasi : Lapangan
Keberadaan : Suna
"Enam di Kumo, tiga di Suna? Kenapa?" Sasuke menyuarakan pikirannya. "Dan lagi … tidak ada profil FSO? Sudah dihubungi?"
Itachi mendengus kecil. "Datangi dulu Tailed Beast. Mereka pasti tahu cara menghubungi FSO."
Maksudnya … orang yang paling dibutuhkan saat ini justru tidak dapat dihubungi? Sasuke mengernyit tidak mengerti. Media mengatakan FSO ada di pihak mereka, 'kan?
"Lalu, apa maksud berita kalau FSO ada di pihak kita?" Sasuke merapikan kertas-kertas profil anggota Tailed Beast dan memasukkannya kembali ke dalam amplop coklat.
"Itu hanya doktrin agar masyarakat tenang. Titel FSO mereka kenali sebagai pahlawan. Faktanya, tidak ada yang tahu dia di mana." Itachi menghela napas.
Sasuke semakin tidak mengerti. "Buat urgent search party bisa kan, Kak? Mengerahkan semua agen? Toh hanya menyisipkan pencarian satu orang di sekitar tempat misi mereka saja," usulnya.
Itachi menggeleng. "Federal Stability Operator, hanya Tailed Beasts dan Kepala Sektor Keamanan sekarang saja yang pernah melihat sosoknya."
Tidak semudah itu?
"Bukankah seharusnya … FSO justru akan menghubungi kita? Dia pasti mendengar pemberitaan kaburnya Prof. MN, 'kan?"
Itachi duduk menyender dan memejamkan matanya sejenak. Ia berujar pahit, "Ayah sudah mencoba. Dia tidak mau."
Sasuke termenung. Masa sih, pahlawan yang sepuluh tahun lalu dielu-elukan The Big Three Center tidak mau membantu? Padahal jelas-jelas penangkapan Prof. MN berhasil karena dia, 'kan? Ada apa gerangan? Kenapa?
Kalau pun sudah masuk masa pensiun, setidaknya bisa menjadi konsultan misi.
"FSO tidak akan bekerja sama dengan Big Three Center lagi, begitu dia bilang. Setelah itu, alat komunikasi khusus sebagai satu-satunya bukti keberadaan FSO terputus dan tidak bisa digunakan. Teknisi yang tersisa sedang mencoba untuk memperbaikinya.
"Kita harus bergerak cepat. Tak ada yang tahu rencana Prof. MN seperti apa ..."
.
.
.
Naruto mengangkat kakinya ke atas meja. Matanya menatap malas pada layar ponsel yang terus dikeroyok pesan masuk dari pagi.
Gaara : Kenapa kau keluar dari grup?
Gaara : Hei.
Gaara : Hei.
Gaara : Hei.
Gaara : HEI!
"Dasar spam." Naruto mendengus kecil, melempar asal ponselnya. Tidak peduli jika benda itu akan mendarat dengan aman ataukah menghantam lantai dan mengalami keretakan layar. Dia menutup matanya, lalu menghitung mundur.
Lima ...
Empat ...
Tiga ...
Dua ...
Satu ...
BRAK!
Naruto menyeringai puas. Insting dan hitungannya tepat.
Pintu apartemen didobrak paksa. Sesosok pemuda sebayanya—dengan ciri-ciri rambut merah dan mata hijau beserta kantung mata menghitam bagaikan mata panda—masuk tanpa permisi.
"WOI! Apa-apaan kau ini? Kau membuat yang lain khawatir dan ... Demi Tuhan, APA YANG KAU LAKUKAN PADA TV KESAYANGANKU?!" Pemuda bernama Gaara itu langsung menerjang Naruto dan mencengkram kerahnya dengan emosi.
"TVnya berisik. Jadi, kupukul dia pakai tongkat baseball. Aku sudah memesan yang baru dan sama persis. Kau tidak berhak marah, aku sudah tanggung jawab." Naruto menjawab enteng.
Gaara menggeram tertahan. "BUKAN ITU MASALAHNYA! Setelah menghancurkan Music Player Jumbo-ku yang langka itu, sekarang kau menjadikan TV korban juga? Hei! Aku beli ini pakai gaji pertamaku!"
"Aku sudah menggantinya. Kenapa kau masih marah?"
"Tak bisakah kau yang menahan dorongan untuk menghancurkan barang!? Aku tidak butuh barangku kau ganti, sialan! "
"Ah, sayang sekali. Haruskah kuberikan pada tetangga sebelah?"
"Berhenti mengalihkan pembicaraan!" Gaara mengangkat tangannya, menunjukkan sebilah pisau yang mengkilap tajam.
"Oh? Kau bawa oleh-oleh yang cantik. Apa aku melakukan kesalahan?"
Tatapan Gaara menajam. Pemuda itu menempelkan pisau tersebut ke leher Naruto. "Apa maksudmu keluar dari grup chat? Kau mau melarikan diri, hah?!"
Melarikan diri ... ?
Naruto menggerakan tangan dan kakinya dengan kuat, menyingkirkan Gaara dari atas tubuhnya. Pemuda itu jatuh menabrak meja kaca di dekat sofa, hanya dapat meringis kecil dan menatap nanar pada perabotan apartemennya yang lagi-lagi tewas mengenaskan.
"Oh, maaf. Kuharap mejamu tidak apa-apa." Naruto memasang ekspresi bersalah yang dibuat-buat. Gadis dengan penampilan urakan itu merogoh sakunya, lalu melempar plastik persegi bergaris hitam pada Gaara. "Kalau sudah memenuhi kerugian, kembalikan saja ATM-ku ke kamar. Dah ... !"
"Tunggu dulu! Aku belum selesai bicara! Apa kau tidak peduli jika human destruction kembali terjadi?!"
Gaara terdiam melihat temannya berjalan santai menuju pintu. Setelah pintu dibuka, Naruto diam sejenak. Gaara tidak dapat memastikan bagaimana ekspresi wajah gadis itu sekarang. Tapi, ia jelas mendengar tawa hambar.
Rasanya menyakitkan.
"Haruskah aku peduli?" Setelah mengatakannya, Naruto lanjut melangkah keluar apartemen.
Gaara menatap nanar pintu apartemen yang dibiarkan terbuka.
Kenapa jadi seperti ini ... ?
Kapan kau akan kembali pada kami, Naruto?
Apa yang harus kami lakukan?
.
Melarikan diri, huh.
Naruto tertawa. Lucu sekali, Gaara sampai menuduhnya melarikan diri begitu. Padahal Naruto tak pernah melakukannya.
Jangankan berlari ... walau sudah sepuluh tahun berlalu, rasanya Naruto masih terjebak di saat-saat itu. Tak dapat bergerak. Tak punya pilihan selain membuka mata lebar-lebar. Menyaksikan segalanya terjadi lagi, lagi, lagi, dan lagi. Bagai lingkaran siksaan tak berujung.
Saat di mana Big Three Center meludahi rencananya.
Menginjak kesepakatan mereka.
Membakar segalanya.
Menghancurkan hidup ribuan orang tak berdosa dan bersuka ria menyatakan kebebasan.
Apa yang mereka harapkan, setelah semua yang terjadi?
Naruto menolak untuk peduli.
Hangus saja kalian, Bangsat!
Bersambung
A/N
Untuk yang bertanya apakah fanfiksi ini masih dilanjutkan, jawabannya adalah tidak. /Digaplok/
Bercanda wkwk. Iya, ini masih dilanjut. Baru saya edit dan tambah-tambah dikit nih. Semoga kalian sabar dan gak lumutan buat nunggu update-nya ya XD
Makasih banyak buat yang masih setia menunggu sampai saat ini! LAPYUUU!
Bandung, 17 Maret 2022
Salam Petok,
Chic White
