THE SECREAT OF CAFÉ CANDY

.

.

.

Motto ku:

Selama kalian bahagia aku senang :)

(Light)

.

.

.

Genre: Fantacy, family, friendship,comedy,mistery, ect.

Warning: alur gak jelas, typo mewarnai ff ini, dan masih banyak hal tak terduga dan dapat membuat mata kelilipan dan paru-paru kehabisan pasokan udara saat membaca.

.

.

.

Motto ku:

Selama kalain menjerit untuk ku itu tak masalah…hahaha…

(Dark)

.

.

.

TSOCC

.

.

.

P.S

"Balasan Review menanti dibawah…"

Happy Read

.

.

.

* Earth Magical Problem~

Sudah seminggu lamanya Café Candy buka dan mulai tenar namanya di kota kecil itu. Karena rasa makanan atau pun minuman yang selalu bisa memukau siapa saja yang mencicipi nya. Bahkan Yaya dan teman-temannya sudah menjadi salah satu pelanggan tetap disana. Mereka tak pernah absen sekali pun dan saat hujan cukup lebat mereka juga datang.

Hari ini juga, Yaya dan teman-teman nya kembali mengunjungi Café saat malam tentu nya. Karena katanya mereka memiliki urusan pekerjaan jadi agak jarang masuk sekolah dan muncul di tengah kota saat siang atau paginya (?).

"S'lamat datang ada yang bisa saya catat pesanan anda Nona dan Tuan?" Tanya Gempa yang datang melayani mereka sopan atau lebih tepat nya sangat sopan seperti layak nya dia melayani tamunya dan bukan teman nya sendiri.

"Gempa, kau ini…kan sudah aku bilang…jangan panggil aku Nona lagi dan Kita kan sudah jadi teman sekarang…kau tau itu tak membuat ku tertawa…" Ujar Yaya yang agak gatal dengan gurauan Gempa (benarkah itu gurauan?).

"Ternyata Gempa juga suka bergurau ya…tunggu sebentar ya aku lihat daftar menunya dulu…"ujar Ying senang dan melihat menu yang tersedia diatas meja bersama dengan Gopal dia membicarakan pilihan mereka.

Sementara Itu Yaya terus memperhatikan Gempa yang berusaha mengabaikan tatapan kesalnya dan beralih memberikan rekomendasi untuk Ying dan Gopal.

Tapi tiba-tiba, Taufan dan Api datang menghampiri mereka dan Api langsung mengajak Gempa kembali kedapur, sedang kan Taufan mengambil alih pekerjaan Gempa.

"Ahaha…maaf ya teman-teman tapi biarkan aku yang melayani kalian malam ini…jadi apa yang kalian mau pesan malam ini?" Ujar Taufan yang berusaha Easy going tanpa menghiraukan tatapan heran teman-teman barunya.

"ung…aku ingin minuman hangat dari coco dan juga kue coklat nya ya…" Pesan Yaya bingung karena melihat tingkah Taufan yang kikuk dan Api yang menyeret Gempa kedapur.

"kalau aku Ice coco nya satu ya…" Pesan Ying sambil tersenyum ramah.

"Aku ingin nasi goreng special dan minuman teh hangatnya ditambah hot coco dan kue coklat satu ya…" Kata Gopal sambil menimbang-nimbang uang yang ia punya di sakunya.

"seperti biasa kau makan banyak ya Gopal…"ujar Ying sambil menatap jahil Gopal.

"tentu saja…ini demi pertumbuhan ku…"ujar Gopal dengan semangat empat lima.

"Baiklah…kalau begitu silahkan tunggu sebentar ya…" Kata Taufan ramah tapi sebelum pergi dia sedikit membungkukan badan nya dihadapan semuanya seperti ingin berbisik tapi dengan cepat dia mengurungkan niat nya.

Saat Taufan kembali kedapur dia hanya biasa menghela nafas melihat saudara yang lain menjelaskan tentang Yaya, Ying dan Gopal pada Gempa yang hanya biasa kebingungan.

"aku tak ingat jika kita mengenal mereka…"kata Gempa pelan dan merasa sedikit bersalah.

"Gempa…apa kemarin kau menulis sesuatu di catatan mu?"Tanya Taufan yang sudah berdiri dibelakangnya.

"Entah lah aku belum memeriksanya pagi ini…"ujar Gempa pelan.

Semuanya pun hanya biasa diam dan menghela nafas dalam hati.

"Tapi biarpun aku lupa…kalian tetap ingat mereka bukan dan mereka juga mengingat ku jadi…kalian tak perlu cemas soal ku…um…kalau begitu aku akan beristirahat deluan tak apa kan jika kalian mengurus sisanya…"ujar Gempa pelan sambil tersenyum.

"yah…tak masalah serahkan sisanya pada kami!" kata Api dengan semangatnya.

"kalau begitu segera istirahatlah…"ujar Halilintar pelan pada Gempa.

Gempa pun akhirnya pergi menuju kelantai dua dimana Yaya tak sengaja melihat nya dari tempat duduknya.

Yaya ingin memanggilnya tapi dengan cepat dia mengurungkan niat nya setelah melihat ekspresi sedih Gempa.

"Ada apa Yaya?" Tanya Ying yang memperhatikan sahabatnya bingung.

"Ah…tidak ada apa-apa…"ujar Yaya kikuk.

"hum…Yaya kau jadi aneh…"ujar Gopal setelah selesai dia memperhatikan buku menu.

Sementara itu disisi lain.

Gempa tampak berkemas dikamarnya tanpa ada satu pun saudaranya yang mengetahuinya dan melompat keluar dari jendela lantai tiga dan mendarat dengan mulusnya dengan lingkaran sihir yang muncul dibawah kakinya.

Setelah itu dengan cepat ia berlari menyusuri gang sempit dan berlari terus hingga akhirnya ia sampai ke tempat terbuka yang tak disangka adalah pesisir pantai yang dimiliki kota terpencil itu.

Gempa berjalan perlahan kearah pantai yang dihiasi malam penuh bintang yang cerah.

"kenapa…Kenapa harus ingatan ku…"kata Gempa dengan suara kecil dan hanya biasa menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangan nya sekarang.

Kembali lagi ke Café Candy dimana saudaranya yang lain tengah sibuk bekerja.

"Hai-hai…maaf membuat kalian lama menunggu ya…"ujar Api yang ternyata membawa pesanan bersama Air.

"ini pesanan kalian dan ini nota pembayaran nya…setelah itu kalian biasa bayar kekasir disana…"ujar Air dengan kalem nya.

"seperti biasa candaan mu mengerikan air…hahaha…tapi aku suka itu…benar-benar mengerikan…"ujar Gopal dengan polosnya.

"terima kasih juga Gopal…aku akan memperbaiki permainan kata ku…"ujar Air yang menanggapinya santai.

"uah…seperti biasa Gopal juga tak berpikir dua kali sebelum menyampaikan pendapatnya…" ujar Api dengan wajah kagum.

"Haha…dia memang seperti itu…"ujar Ying yang juga terhibur melihat tingkah ke dua temannya.

"hum…Yaya kenapa wajah mu murung begitu?" Tanya Api heran pada Yaya yang hanya memakan kue coklat nya pelan.

"Ah…apa yang kau bicarakan Api…aku biasa-biasa saja kok…"elak Yaya cepat dan memakan kuenya cepat lalu selagi dia minum.

"hum…begitu ya…jadi kau tak cemas pada Gempa ya…"ujar Api pelan sambil menoleh kearah lain dengan wajah lega(?).

CURRRRR!

Api hanya biasa terdiam mengangga lebar dengan wajahnya yang basah kuyup setelah mendapat semburan pencerahan dari Yaya.

"Ohok..Ohok…Waaaahh…A-Api maaf…maaf…ohuk…maaf…"kata Yaya yang terbatuk-batuk kecil dan kaget melihat Api yang basah kuyup karenanya.

"Ah…A-Aku baik-baik saja…tenang saja…kalau begitu aku ganti baju dulu ya…"ujar Api yang bergegas pergi ke lantai dua tapi sempat terhenti karena Taufan yang menertawakan nya sebelum dia menaiki tangga.

"Hahaha…bagus Yaya…berkat mu sekarang Api sudah mendapat pencerahan dari mu Hahahahahahaha…"kata Taufan yang menghampiri sambil tertawa lepas.

Plak!

"Aduhhh! Sakit! Kenapa sih kak Hali…"kata Taufan yang kepalanya terkena pukulan telak dari belakang.

"Diamlah…kau berisik sekali…"ujar Halilintar yang kembali menyerahkan nanpan yang dipakainya untuk memukul Taufan pada Air.

"kak Hali mau pergi kemana?" Tanya Air yang melihat Halilintar memakai pakaian lengkap rapi.

"Aku akan pergi keluar sebentar…mencari dia…"ujar Halilintar dan dia pun pergi keluar.

Tap!

Tap!

Tap!

"GAWAT! GAWAT!" Tiba-tiba Api turun dengan panik dengan pakaian rapi menemui Air dan Taufan.

"Gawat? Apanya yang gawat?" Tanya Taufan bingung.

"Kak Gempa dia tak ada dikamarnya…"kata Api panik.

"Eh!? Kalau begitu ayo kita cari!"kata Taufan yang baru saja akan bersiap.

Tapi tangan nya tertahan oleh Air.

"jangan cemas…bukan kah kak Hali bilang kalau dia ingin mencarinya…dibandingkan kita dia akan lebih cepat menemukan Gempa…"ujar Air membuat Taufan dan Api diam.

Tiba-tiba suasana pun menjadi sunyi.

"anu…maaf mengganggu…tapi sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi pada Gempa?"Tanya Yaya tak yakin tapi Ying dan Gopal pun menatap ke tiganya dengan tatapan meminta penjelasan atas sikap mereka.

"Aku bisa menjawab itu untuk kalian…"ujar Ochobot yang akhinya muncul.

"Ochobot…"gumam ketiga kembaran itu serius.

Sementara itu akhirnya Halilintar menemukan Gempa.

"Ada apa Kak Hali?" Tanya Gempa saat Halilintar sudah berdiri di belakangnya.

"Harusnya aku yang bertanya begitu…"ujar Halilintar dengan wajah datarnya yang biasa.

Sunyi sesaat dan hanya ada suara deburan ombak.

"aku tidak apa-apa kok…aku hanya ingin menikmati malam ini saja…habisnya malam ini cerah sekali…"ujar Gempa dengan suara sedikit tercekat.

Halilintar berjalan mendekati Gempa dan duduk disebelah nya sambil memandangi bulan yang bersinar indah diatas laut yang memantulkan cahayanya.

"dari dulu kau tak pandai berbohong, mengelak, apa lagi membuat alasan saat kau menunjukan wajah mu yang seperti itu…" kata Halilintar tanpa melihat adiknya yang berusaha menutupi wajah nya itu.

"tenang saja…aku tak akan mengatakan pada siapapun tentang pembicaraan kita malam ini jadi kau bisa tenang…"kata Halilintar sambil menepuk pelan kepala adiknya yang tertutupi topi.

"kak Hali memang hebat seperti biasanya ya…hehehe…"ujar Gempa yang sudah menghapus air matanya yang tadi nya sulit berhenti mengalir.

Gempa mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan sampai dia merasa lega.

"Sebenarnya aku merasa tak enak dengan Yaya, Ying, dan Gopal…aku merasa bersalah dengan mudahnya melupakan mereka…padahal mereka anak-anak yang baik…aku ini benar-benar kakek yang jahat ya…"kata Gempa dengan penuh penyesalan.

Gempa lalu mengeluarkan sebuah buku yang memiliki sampul yang cukup tua.

"Aku sudah membaca catatan ku…tapi aku tetap tak ingat siapa mereka…dan terlebih lagi ternyata aku mengeluarkan Sihir yang berlebihan ya…"kata Gempa yang tampak hampa sambil menyerahkan buku catatanya pada Halilintar yang melihat halaman terakhir kali Gempa menulisnya.

Suasana kembali sunyi dan hanya deburan ombak yang memecah karang yang terdengar.

Tup!

Halilintar menutup bukunya dan menghela nafas berat.

"Apa kau tau Gempa…Kemarin jika kau tak mengeluarkan Sihir mu Api dan Taufan akan tertimbun hidup-hidup di dalam tambang tua yang berada di tengah hutan itu…ditambah lagi aku tak jamin kita akan mendapatkan kepingan Kristal hijau yang selama ini kita cari…"jelas Halilintar panjang lebar sambil menunjukan letak hutan itu.

Plok!

"Jadi tak perlu menyalahkan dirimu sendiri…"kata Halilintar sambil tersenyum hangat kearah Gempa yang sedikit kaget melihat senyuman menghiasi wajah datar Halilintar yang bagaikan item berharga saat ini.

tapi sayang nya disaat tak terduga ini seseorang menyerang ke duanya dan untungnya mereka dapat menghindarinya.

"Gempa!" Panggi Halilintar panik saat melihat adiknya terduduk di tanah tak jauh darinya.

"Aku baik-baik saja…tapi apa itu?" kata Gempa Bingung sambil melihat kepulan asap di tempat asal mereka berdiri tadi.

"Hahahaha…tak kusangka kalian dapat menghindarinya…"kata seseorang yang muncul dari bayang-bayang gelap di Antara pepohonan kelapa dipantai.

"kau yang waktu itu…"kata Halilintar serius dengan sikap siaga.

"Ah…ternyata kau masih ingat pada ku…hum…ternyata kau masih memiliki kembaran lain nya ya…sebenarnya kalian itu ada berapa banyak sih…"ujar pemuda berambut ungu yang menyerang mereka beberapa minggu sebelum nya.

"Kali ini apa mau mu!? Menghabisi kami kah!?"kata Halilintar dengan wajah serius masih memperhatikan situasi.

"kalau bukan itu memang nya mau apa lagi…Harimau bayang habisi dia!" perintah pemuda itu dan Harimau bayang yang sudah bersiaga berlari dengan cepat kearah Gempa yang masih belum bersiap menghindar.

"Element Magic: Open The Gate Thunder"

Sring!

BOOM!

Semuanya terjadi dengan cepat membuat pemuda berambut ungu dan Gempa kaget.

Harimau bayang musnah bersamaan dengan Halilintar yang berdiri di depan Gempa sambil memegang sebuah pedang yang memiliki bentuk yang unik seperti kilatan petir kuning.

"kak…Hali…"kata Gempa yang masih kaget.

"Apa ini jadi kau penyihir…Hahaha…"kata Pemuda itu makin bersemangat.

"Berisik…kau sudah menghabiskan kantung kesabaran ku…sekarang ini peringatan terakhir…kalau kau tak pergi dan berhenti menggangu kami…kubunuh kau…"kata Halilintar dengan suara yang dingin melebihi dingin es terdingin.

"Coba saja kalau kau bisa! Harimau bayang! Serang!"kata pemuda itu yang tadinya mundur selangkah karena gertakan Halilintar dan sudah memanggil Harimau bayang yang tadinya sudah musnah.

"tu-tunggu! Kak Hali jangan-" Gempa ingin mencegah Halilintar yang ingin bergerak maju tapi terlambat.

"aku sudah memperingatkan mu…"gumam Halilintar dengan suara yang sangat kecil lalu maju menyerang dengan kecepatan luar biasa.

Sring!

Boom!

Crek!

"kenapa kau menghalangi ku Gempa?" Tanya Halilintar yang sudah memotong-motong Harimau bayang hingga dia hancur dan pedang nya terhenti tepat di leher Gempa.

"Jangan bunuh dia…dia mempunyai kepingan keristal Hijau…"kata Gempa serius dimana mata nya berwarna Gold sekarang Halilintar terdiam sejenak melihatnya.

Tapi Pemuda itu menyiapkan belatin dan berniat menusuk Gempa.

Halilintar dengan Cepat mendorong Gempa kesamping dan menangkis belatin itu dan-

Sring!

Pedang bagaikan kilat itu menebas pemuda itu.

"KAK HALIII!" Teriakan histeris Gempa yang berusaha menghentikan kejadian itu di depan matanya.

Ternyata teriakan Gempa terdengar oleh yang lain nya yang ternyata ikut mencarinya.

"Gempa! Kau baik-baik saja!?" kata Taufan yang ternyata sampai ketempatnya deluan.

Gempa hanya biasa menatap syok Halilintar yang sudah berdiri tegap dihadapan nya dan menghilangkan sihirnya bersamaan dengan itu pemuda itu terjatuh ke tanah.

"Apa yang-Hiiee…" Tanufan hanya bias terkejut melihat pemuda itu terjatuh di tambah lagi Halilintar menatap pemuda itu dengan ekspresi yang tak mengenakan (Taufan:yah…benar-benar menakutkan sampai-sampai aku meneguk ludah…).

"Kak Hali…ke-kenapa kau…"Gempa menghampiri pemuda itu dengan linglung dan akhirnya memangku kepalanya.

"Gempa…"Taufan yang tak tau apa-apa hanya biasa bergumam dan melihat situasi.

Set!

"Ah…kepingan Kristal Hijau…"kata Taufan tersentak saat Halilintar menunjukan sesuatu yang ada di tangan pada Gempa yang masih menatap nya takut dan tak percaya.

"Lihat baik-baik dia…"kata Halilintar kali ini wajahnya kembali datar tapi tampak sekali Dia menyesal menampakan wajah seram nya tadi.

Suara nafas terdengar dan bahkan dada pemuda berambut ungu itu naik dan turun.

"masih hidup…Ah! Ini kan…"Gempa melihat sebuah sangkar kecil yang di kalungkan pada pemuda itu dan sangkar kecil itu langsung menghilang menjadi debu.

"Dia memang menyebalkan…tapi aku tak akan membunuh sesuai janji ku pada mu…" kata Halilintar sambil tersenyum tipis.

"kak Hali…"gumam Gempa.

Tes!

"O-Oi…Gempa?" Taufan hanya biasa kaget melihat Gempa meneteskan air matanya bersamaan dengan berubahnya matanya kembali ke normal.

"Maaf ya aku sudah membuat mu kaget…Gempa…"kata Halilintar sambil mengelus-elus kepala Gempa yang sesegukan menghapus airmatanya.

"tidak harusnya…hiks…aku yang minta maaf…aku kehilangan kepercayaan ku pada kak Hali tadi…hiks…harusnya aku percaya pada kakak…maaf kan aku…hiks…maaf…"kata Gempa sambil menundukan kepalanya yang masih di elus-elus oleh halilintar.

"Oi! Kalian baik-baik saja?" Tanya Api yang langsung menghampiri bersama.

Air, Ochobot, Yaya, Ying dan Gopal yang melihat mereka cemas.

"Gempa kau baik-baik saja?" Tanya Yaya dan Ying langsung menghampiri saat melihat Halilintar masih menghibur Gempa yang masih terisak.

"A-aku baik-baik saja…"kata Gempa yang sudah menghapus airmata nya.

"Eh!? Tunggu dulu orang itu-" Gopal tampak kaget melihat pemuda yang ada di pangkuan Gempa.

"ung…Ah…a-aku menemukan nya tadi…tergeletak disini…"kata Gempa sambil melihat nya ragu.

"Tuan muda Fang!?" kata Yaya dan Ying langsung menjauh dan bersembunyi di belakang Halilintar.

"Tuan muda? Dia siapa?" Tanya Taufan polos bin ajaib.

.

.

.

Ha-Hai…lama tak jumpa ya…thehe akhirnya biasa liris juga…maaf buat yang nunggu update nya cerita Liz...

Halilintar: (tiba-tiba muncul dibelakang) katakan dengan jelas apa yang ingin kau katakan!

HIIIEEE…IYA…AKU MINTA MAAF…banyak kejadian yang membuat ku hiatus kelamaan dari insiden terbesar hingga terkecil…maaf ya semuanya(sujud di kaki reader) tapi kali ini aku akan menebusnya dengan cerita yang baru aja jadi ini jadi semoga kalian biasa senang…

Taufan:Nah sekarang balasan buat buat Reader sekalian ya…

Iya…

Taufan: Nah, yang pertama dari Khairul743 silahkan…

Um...Oke…sepertinya udah ketahuan ya mereka jadi apa…ehehe…ia mereka penyihir tapi yang jelas mereka bukan penyihir biasa karena ada rahasia di baliknya…

Api: Oi! Liz jangan bocorin isi cerita dong…

Eh..ahaha…aku ke coplosan baiklah selanjutnya Api yang lanjutin jawab nya…selanjutnya dari EruCute03…

Api: Eh!? Aku…uhum…Oke Eru ceritanya bakal di panjangi lagi sama Liz…

Taufan: kalau gitu selanjutnya dari Shidiq743 Fang yang akan menjawab nya.

Fang: Entahlah…itu akan terjawab di cerita selanjutnya…aku musuh atau teman…

Eh? Fang muncul dari mana? Sudah lah…selanjutnya dari Nur785

Air: sebenarnya umurku masih 15 tahun sih…tapi kalau untuk kisah ini aku gak teralu tau soal nya entah di paragrap yang mana umur kami jadi gak ke sebut di karenakan Api memotong dialog.

Api: Eh!? Itu salah ku? Baiklah selanjutnya dari Vanilla Blue12 hum…namanya ingetin aku sama Vanilichoco deh~ Ah…Sorry tolong lanjutin ya kak Hali.

Halilintar: Ya, Aku mengutuknya kemarin-

Ochobot: Huaaa…serem banget…jangan bilang gitu dong…

Halilintar: kalau gitu…Ya, rahasia, Ya.

Singkat banget…Ehehe Vanilla jawaban nya mungkin ada di chapter depan ya…etoh…selanjutnya dari Cutemuslimah N Alf…siapa selanjutnya yang akan menjawab?

Daun: kalau gitu aku yang jawab! Ahahaha…kalian Lucu aku suka…yah soal Yaya dia memang bakal suka kecoplosan disini ahaha…menarikan? itu ide ku…lalu memang benar Liz melakukan kesalahan dia itu memang begitu kalau lagi buru-buru…oh dia gak akan ambil hati kok jadi kalian tenang aja…soalnya dia juga sebenarnya mengharapkan nya…nah sekian.

Taufan: hari ini kau kalem sekali ya Daun aku jadi merinding melihat nya…oke selanjutnya dari Rampaging Snow Daun lagi.

Daun: Eh? aku lagi ya udah…bener kami penyihir yang dating dari antah berantah hahaha…tapi kalau soal Yaya, Ying dan Gopal itu masih misteri…hihi…sebenarnya aku juga bingung soal alurnya…oke ku serahkan sama Liz…tapi Taufan kejam amat sih sama saudara sendiri.

Ahaha…soal Alurnya ya…ahaha…ukh…maaf akan segera ku perbaiki…selanjutnya dari Almond37

Taufan: tenang aja kami akan berusaha lanjut…ehehe…tapi maafkan aku Daun.

Kalau Gitu selanjutnya dari Gempa nahito uzumaki…Gempa aku serahkan pada mu :)

Gempa: Oke, kami akan usahakan yang terbaik buat kelanjutan nya…Ah~ aku jadi malu...tapi terima kasih ya…kalau begitu dukung kami terus :) salam mu aku terima…tapi kamu hebat ya biasa nulis di wattpad kalau Liz sih pasti gak berani nulis disitu…bahkan buat Update cerita kelanjutan ini saja dia sudah gemetan gak jelas buat tekan tombol Kirim…kalau Gitu akan ku serahkan sama Liz lagi.

Ah…sebenarnya aku memang pengemar Gempa juga dan yang lain nya juga hehehe…tapi aku bakal berjuang buat nulis cerita selanjutnya.

Halilintar: oh…ini dari Reader terakhir namanya ayunf3 kalau gitu-

Taufan: kak Hali yang jawab yeeee…

Halilintar: baiklah, terima kasih atas saran dan pujian nya kami akan berusaha mempersembahkan yang terbaik buat kamu…

Oke kalau gitu sampai jumpa lagi di Chapter selanjutnya sayonara~