THE SECREAT OF CAFÉ CANDY

.

.

.

Apa yang ku harapkan saat tahun berganti?

Hum...Tentu saja melihat kalian tetap sehat sentosa dan tetap penuh semangat :)

(Light)

.

.

.

Genre: Fantacy, family, friendship,comedy,mistery, ect.

Warning: alur gak jelas, typo mewarnai ff ini, dan masih banyak hal tak terduga dan dapat membuat mata kelilipan dan paru-paru kehabisan pasokan udara saat membaca.

.

.

.

HUH!? Apa yang inginku harapkan saat tahun berganti?

Kenapa masih tanya itu!? Tentu aku berharap kalian menjerit lebih keras lagi...

(Dark)

.

.

.

TSOCC

.

.

.

P.S

"Balasan Review menanti dibawah dan side story untuk bonusnya…"

Happy Read

.

.

.

* Break! And True Job Come

"Astaga apa yang harus kita lakukan? Tuan besar pasti marah besar nanti..." kata Gopal yang panik tak karuan bahkan memutari Air yang hanya santai melihat nya sambil meminum air dingin kesukaannya.

"Me-mereka akan mencari kita...bisa-bisa kita terpenggal...ci-cincang...kita daging...cincang..." Gumam Ying tak karuan karena panik dan Dia juga berjongkok di pojokan kafe.

"Rileks~kalian tenang dan santai saja...Gopal, Ochobot itu ahlinya mengobati orang jadi kau tak perlu cemas, Ying gak akan ada yang jadi daging cincang disini...semua masalah kan bisa kita bicarakan dengan kepala dingin dan...Um...Uhum! Yaya sampai kapan kau menatapi tangga? Dia tak akan turun dari situ loh??" Ujar Air akhirnya Dia angkat suara setelah puas melihat tingkah laku semua teman-temannya yang beragam menurutnya.

Mereka terdiam sejenak lalu Yaya menoleh menatap Air dengan ekspresi sedih dan Cemas.

"Tapi Gempa tadi -"

Set!

"Hei!...bantu Aku menulis yuk..." ujar Api yang muncul tiba-tiba dan menyerobot kata-kataYaya sambil menunjukan sebuah buku yang tampak tua namun menarik.

"Itukan..." mata Air sedikit terbelak melihat buku itu.

Melihat ekspresi Air yang jarang terlihat Yaya, Ying dan Gopal pun menjadi penasaran.

"Tenang saja Kak Hali yang menyuruh kita menuliskan ini buat nya..."ujar Api sambil terkekeh kecil melihat ekspresi Air yang menurutnya lucu.

Sementara itu di kamar Tamu.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Halilintar dengan wajah datarnya.

"Dia baik-baik saja...tak ada yang perlu kita cemaskan soal anak ini tapi yang perlu kita cemaskan saat ini adalah..." Ochobot menggantungkan kalimat nya.

Halilintar berdecih lalu ekspresinya berubah cemas.

"Aku akan memeriksanya..." ujar Halilintar pelan.

Ochobot hanya bisa mengangguk pelan dan menatap cemas kearah pintu seperginya Halilintar, lalu ia mengalihkan pengelihatan nya pada pemuda berambut ungu itu.

"Hum...entah kenapa wajah nya tak asing..." Gumam Ochobot sambil terus menatap wajah anak itu.

Sementara itu kekamar Atas tepat nya di kamar Gempa.

"Gempa bagaimana? Apa kepala mu masih pusing?" Tanya Taufan cemas setelah memberikan Gempa minum.

"Sudah agak baikan terima kasih kak Taufan..." ujar Gempa pelan sambil tersenyum ramah.

"Bagus...kalau begitu tidur lah oke...besok kau tak perlu datang kesekolah Aku akan bilang pada kak Hali agar menuliskan surat izin untuk mu..."ujar Taufan sambil tersenyum tipis penuh makna.

"Baik...um...tapi Kak Taufan aku belum menulis buku-"

Set!

"ini sudah aku tuliskan..." ujar Api yang tiba-tiba saja muncul disisi Taufan yang melompat kaget karenanya.

Gempa mengambil buku itu pelan dan ia melihat ada lima surat terselip disana dan saat akan di bukanya.

"Jangan di buka dulu Gempa...itu buat kamu besok..." ujar Api dengan wajah jahil nya.

"Hei...memang nya itu apa aku penasaran tau..." kata Taufan yang melihat Api heran.

"Udah lah kak Taufan itu hadiah dari yang lain buat Gempa...ayo kita turun aku mau pastikan siapa pemuda yang buat kak Gempa menangis itu..."kata Api dengan wajah kesal yang di buat-buat nya sambil menyeret Taufan keluar dari kamar Gempa.

Setelah semuanya terasa tenang dan Gempa baru saja akan meletakan buku itu disisinya selembar kertas memo terjatuh dari buku itu.

Gempa membacanya dan tampak wajah kagetnya berubah menjadi senyuman haru ternyata di selembar memo itu tertulis pesan dari semua orang yang ada di situ.

"Terima Kasih...kalian benar-benar anak baik...tapi sayang sekali...setelah matahari muncul besok aku tak akan mengingat kalian lagi...aku benar-benar minta maaf..." Gumam Gempa penuh penyesalan sambil melihat kearah jendela yang terbuka sedikit.

Tanpa di sadari Gempa ternyata Halilintar mendengar semua ucapan nya dari balik pintu tepat sebelum dia membuka pintu kamar Gempa.

Halilintar tampak menggengam erat ganggang pintu kamar Gempa.

"Hali? Kenapa kau berdiri disitu? Kau tak jadi melihat nya?" Tanya Ochobot yang tiba-tiba muncul sambil membawa beberapa barang dan sedikit membuat Halilintar kaget.

"Ah...Ochobot...Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk aku muncul..." Ujar Halilintar dengan wajah agak suram dan langsung berjalan pergi.

Tapi tepat sebelum dia melangkahkan kakinya untuk turun melewati tangga.

"Hali..sepertinya malam ini kau dan aku tak akan bisa tidur dulu..." Ujar Ochobot dengan suara yang agak berbeda.

Halilintar terdiam di tempat dan mengalihkan pandangan nya pada Ochobot yang sekarang melihat nya dengan ekspresi yang sulit di tebak.

"Ada apa?..." Tanya Halilintar singkat dengan ekspresi menyelidiki.

"Kita harus menyelesaikan sesuatu...sebelum pagi tiba...bersiaplah aku akan menemui mu di atap..." ujar Ochobot yang sudah berjalan masuk kekamar Gempa.

Halilintar menatap pintu kamar Gempa sejenak lalu berjalan menuruni tangga dan pergi memasuki kekamar nya.

Keesokan paginya.

"Eh!? Kenapa Kak Hali gak berangkat kesekolah juga??" tanya Taufan yang kaget dan Heran saat melihat Halilintar dengan wajah setengah mengantuk keluar dari kamar nya sambil memberikan surat izin Gempa yang sakit dan juga surat izin milik nya.

"Sudahlah jangan banyak tanya ini surat nya dan ini uang jajan kalian dan segera per-Hoooaaaamm-gi...kesekolah...aku masih ada yang harus ku urus..."kata Halilintar pelan sambil menguap lebar membuat Taufan terheran-heran melihat kakaknya yang tampak kacau dan bisa di bilang imagenya benar-benar berubah drastis.

"Huh! lagi-lagi...kakak melakukan sesuatu di belakang kami semua...dasar menyebalkan setidak nya ajak kami juga ngapa!? Bikin kesal saja..." ujar Taufan kesal setelah Halilintar masuk kekamar nya dan menutup pintu kamar nya rapat-rapat.

Setelah Taufan, Api dan Air berangkat sekolah Halilintar muncul dengan pakaian rapi lalu pergi kekamar Gempa dimana Ochobot ada disana tengah membicarakan sesuatu yang penting.

Tok!

Tok!

"Masuk saja kak Hali..."kata Gempa pelan.

Halilintar masuk dan duduk di sebelah Ochobot.

"Bagaimana kondisi mu?" tanya Halilintar pelan dan dengan wajah lebih ramah dari pada yang biasanya.

"Aku sudah jauh lebih baik...dan juga aku sudah membaca catatan ku...maaf ya kemarin aku merepotkan kalian..." Ujar Gempa pelan dan agak menyesal.

"Tak apa, yang penting kau baik-baik saja..." Ujar Halilintar dengan sebuah senyuman tulus terukir diwajahnya.

"Terima kasih..." Ujar Gempa dengan sangat.

"Dan baiklah...Ochobot sudah menjelaskan semuanya pada ku tadi...jadi kapan Dia akan datang??" Tanya Gempa dengan ekspresinya yang sudah berubah drastis di bandingkan tadi.

"Sebentar lagi aku akan menjemputnya sekarang dari bandara..."Ujar Halilintar serius.

"Oke, kalau begitu aku akan bersiap...Oh! Tunggu kak Hali! mungkin di jalan kakak akan sedikit kerepotan jadi karena itu aku meminta tolong pakai samaran ya dan tunjukan saja lambang elemen mu pada Dia..."Kata Gempa memberi kan penjelasan.

"Baiklah, kalau begitu aku berangkat..."Ujar Halilintar yang seketika hilang entah kemana.

"Lalu Ochobot aku serahkan pada mu semua persiapan yang lainnya..."Ujar Gempa dengan senyuman senang kali ini.

"Eh...begitu saja? Tak ada peringatan untuk ku?"Tanya Ochobot dengan wajah agak kecewa.

"Ochobot, Kau ini bicara apa sih? Sudah pasti disini kau yang paling aku percayakan?! Lagi pula kita sudah bersama cukup lama juga"Ujar Gempa polos.

"Huh~cukup lama ya...selama apa coba?" Gumam Ochobot dengan ekspresi kesal yang di buat-buat.

Gempa mengangkat sebelah alis nya lalu melihat langit-langit kamar nya sejenak lalu melihat Ochobot yang melihat nya dengan wajah berharap.

"Um...375 tahun mungkin..?" Jawab Gempa asal.

"HaH!?! Tega sekali kau bilang segitu!!" Kata Ochobot yang kaget dan tak percaya.

"Yah, maaf saja Aku tak ingat ya...sejak kita mendapatkan Kak Hali...Aku tak pernah menulis tanggal di dalam buku harian ku...bahkan aku tak ingat kejadian kemarin juga...bahkan di kota lain nya juga...karena saking senangnya berkumpul dengan yang lain nya tau..."Jelas Gempa panjang lebar dengan wajah malu dan kikuknya.

Ochobot hanya melongong melihat tingkah dan jawaban Gempa.

"Aduh, Kau ini...Gimana mau ketemu klien kita yang ini, Kau bahkan tak ingat sudah berapa tahun kau hidup dengan ku coba dan entah bagaimana yang kau katakan tadi itu sedikit menusuk untuk ku..."Ujar Ochobot dengan wajah datarnya.

"Ahaha...apa dia orang nya sedetil itu??" Ujar Gempa penasaran sambil bersiap-siap dengan pakaian nya.

"Detil sih tidak...tapi yg jelas saat kau melihat orang nya kau pasti kau akan mengerti maksud ku.."Ujar Ochobot serius.

Gempa terdiam sejenak dengan ekspresi bingung nya yang polos setelah melihat wajah serius Ochobot.

"Oh, baiklah, Lalu apa kau akan memberi tau ku sudah berapa lama aku hidup dan berapa lama sejak terakhir aku bertemu dengan klien kita ini?" Tanya Gempa sekali lagi.

Ochobot melihat nya datar lagi dan berjalan keluar kamar lalu berbalik menatap Gempa setelah menghela nafas dan sebelum Dia pergi melangkah keluar kamar.

"Kau dan Aku yang sudah hidup melampai logika ini sudah hidup selama 837 tahun tau dan terakhir kau bertemu dengan klien itu 200 tahun lalu...Itu saja, Kau harus cepat bersiap, Aku juga mau siapin jamuan dulu..."kata Ochobot yang langsung pergi meninggalkan Gempa yang tampak cukup syok mendengar umurnya sendiri(Taufan,Api,Daun: WOAAAH!!! SERIUS NIH!? BERARTI KAMI JUGA 837 TAHUN!?!?)(Author: yep, hadapilah kenyataan...).

Setelah semua itu beberapa menit kemudian tamu yang ditunggu pun datang.

"Selamat datang...tuan Kaizo silahkan masuk..."ujar Ochobot pelan.

"Hum, seperti biasa sapaan mu parah..."ujar Seorang pemuda yang juga sama-sama berambut ungu anggur seperti pemuda yang bernama Fang.

"Ah...Maafkan saya jika begitu sekarang mari saya antar tuan ketempat adik anda."ujar Ochobot sopan lalu berjalan pertama menunjukan jalan sementara Halilintar mengikuti dari belakang dengan pakaian tak biasa.

Sesampai nya di kamar hal yang cukup mengejutkan terjadi dan cukup membuat ketiganya kaget bukan main.

Pemandangan yang mereka lihat saat ini adalah Gempa yang tergantung di langit-langit dan dan berusaha melepaskan diri dari bayangan Hitam yang melingkari lehernya.

Dengan Cepat Ochobot dan Halilintar bertindak tapi sang tamu mendahului keduanya dengan kecepatan yang tak bisa di jelaskan dan sekarang menggendong Gempa yang terbatuk-batuk setelah lehernya cukup lama tercekik keras.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Kaizo lebih lembut kali ini pada Gempa yang memegang lehernya yang memerah memar dan berusaha mengumpulkan udara yang dapat ia hirup sebanyak mungkin.

"Ohok! Ohok!...ugh...kurang lebih begitu...dan maaf merepotkan..."Ujar Gempa yang berusaha meyakinkan Kaizo.

Kaizo pun mengangguk perlahan dan kembali memperhatikan seseorang pemuda yang tak lain adalah Fang yang berdiri dengan aura gelap mengelilinginya.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Ochobot yang menjaga Gempa yang baru saja dititipkan padanya.

"Sesaat setelah aku masuk kemari...uhuk...aura gelap mengelilinginya dan seseorang tadi berada disini..."Ujar Gempa yang berusaha tetap sadar.

"Halilintar kemungkinan orang itu tak jauh dari sini bisa kah kau menangkapnya?" Tanya Kaizo pelan.

"Tentu, itu memang tujuan ku berpakaian seperti ini"Kata Halilintar yang pergi setelah mengaktifkan sihirnya dan memakai jubah hitam berlis merah.

"Lalu bagaimana dengan Fang? Kaizo!?" Tanya Ochobot cemas.

"Dia aku yang akan mengurusnya..."Kata Kaizo dengan wajah datar.

Sementara itu disisi lain di sekolah Taufan, Api, dan Air tampak murung dan sedikit bicara.

Taufan dan Api yang biasanya sangat aktif kehilangan semangat bermain dan melakukan hal yang tak mereka sukai seperti belajar lebih giat dan malah membuat orang sontak kaget karena mereka saat ini benar-benar seperti renkarnasi ilmuan-ilmuan terkenal zaman dahulu kala, lalu Air tak mengeluarkan suara bahkan saat di jam pelajaran saat giliran ia di suruh membaca oleh sang guru ia tak membuka mulut akhirnya ia dihukum berdiri diluar kelas sampai jam pelajaran usai.

Lalu saat jam istirahat terakhir saat ketiganya di atap sekolah.

"kita pulang kah?" Ujar Air yang akhinya mengeluarkan suara.

"yah, aku juga maunya begitu...tapi..."Api menggantungkan kalimatnya.

" kita masih ada jam pelajaran terakhir..."Ujar Taufan menambahkan kalimat Api.

Ketiganya lalu menghela nafas berat secara bersamaan.

"Kalian mau pulang sekarang?" tanya seseorang yang tak mereka sadari berada di belakang mereka.

"Ya..."jawab Ketiganya serempak.

Lalu tiba-tiba suasana pun sunyi.

Perlahan namun pasti ketiganya menoleh dan mendapati kepala sekolah berdiri di belakang mereka bersama seseorang yang memakai jubah tertutup berwarna hitam berlis merah.

"Bapak izin kan kalian pulang...tapi hanya untuk hari ini..."Ujar sang pak kepala sekolah dengan wajah bijak nya.

"Kenapa? Memang nya ada masalah apa kak Hali?" tanya Air dengan wajah serius kali ini.

Halilintar membuka tudung nya dan terlihat kondisinya sangat kacau bahkan diwajahnya terdapat beberapa luka yang mengkhawatirkan dan membuat ketiganya kaget.

"Kak Hali babak belur?! siapa yang melakukan nya?" Ujar Api yang kaget bukan main.

"Aku akan jelaskan itu nanti sekarang Gempa memberikan misi khusus pada kita..."Ujar Halilintar yang merapikan topinya.

"Misi khusus?" Ulang Taufan menatap Halilintar dengan wajah heran.

"Menemukan Fang"ujar Halilintar yang meralat kata-katanya.

"Baik..."kata ketiganya serempak.

"pertama kalian harus pergi secara normal dari sekolah ini dan setelah itu temui aku di pantai dengan persiapan lengkap dan jangan sampai ada yang melihat kalian mengerti!?" Jelas Halilintar serius.

"Mengerti!" kata Ketiganya dan mereka pun bergegas pergi.

"Maaf, Sudah merepotkanmu"Ujar Halilintar pada kepala sekolah.

"Tak masalah...seharusnya saya yang berkata begitu, Lagi pula anda sekalian sudah menolong banyak hal untuk sekolah ini, Memberi izin untuk keluar sekolah tentu itu tak sebanding..."Ujar sang kepala sekolah pelan dan menunjukan wajah bijak nya.

"Baiklah...kalau begitu Saya permisi..."Ujar Halilintar pelan dan pergi setelah menutup tudung dikepalanya.

Kembali lagi ke cafe candy.

"Jadi benar dia adik anda..."ujar Gempa menegaskan informasi saat ini.

"Ya tak salah lagi, Mata merah di balik kacamata ungunya itu tak salah lagi itu dia..."Ujar Kaizo pelan.

Sunyi sesaat sampai Api dan Taufan masuk secara bersamaan disusul Air dari pintu depan dan kaget melihat Gempa yang melihat ketiganya juga kaget.

"Kak Gempa!! Gempa!" Panggil ketiganya serempak.

"Oh, akhinya sampai...cepat bersiap dan susul lah kak Hali..."Ujar Gempa serius tapi.

HUG!!!

BrUk!!

"Aduhhh!! Ka-kalian..."

Gempa mengeluh kesakitan saat ketiganya berlari memeluknya dan membuatnya terjatuh dari kursi.

"kak Gempa! Kakak bangun!"kata Api senang.

"Gempa kau ini bikin kami cemas saja..."Ujar Taufan yang juga tak kalah senang.

"Jangan tidur lagi..."Gumam Air pelan tapi ia juga tampak senang.

"Kalian...O,Oke aku paham!! Sekarang cepat bangun!! Aku gak bisa tahan lagi!!"ujar Gempa yang sudah mulai sesak napas.

Ketiganya pun bangun dengan wajah senang.

"Kalau gitu kami susul kak Hali dulu ya..."Ujar Api mewakili dan mereka pun pergi dengan wajah senang.

Gempa bangun dari posisinya sambil menghela nafas.

"Saat kalian menemukan adik ku apa ada masalah?" Tanya Kaizo sambil menikmati kopi buatan Ochobot.

"Ah...Yah, bagaimana ya..."Ujar Gempa Kikuk.

"Kalau kau tak bisa menjelaskan nya saat ini pasti kau memakai sihir diluar batas kemampuan mu lagikan..."Ujar Kaizo serius sambil meletakan perlahan cangkir kopinya.

Gempa mengangguk dan ekspresinya tampak sedih.

Kaizo menghela nafas berat.

"Coba kau jawab pertanyaan ku ini Gempa...jikalau Kau adalah anak yang sangat berbakat dan mendapat kepercayaan tinggi dari semua orang...tapi sayang nya dibalik semua itu kau tak bisa melakukan apapun untuk membantu rekan-rekan mu dimedan pertempuran selain memberi arahan dari jauh...apa itu membebani mu?" Tanya Kaizo pelan.

"Tentu saja...sangat..."Gumam Gempa pelan sambil menundukan kepalanya dalam.

"Lalu apa alasan mu berpikir begitu?"Tanya Kaizo lagi sambil memperhatikan gerak gerik Gempa dengan serius.

"Alasan ku? Sudah pasti bukan! Karena bisa saja arahan ku itu menuntun rekan ku menuju jurang kematian...nyawa seseorang tak bisa ku sandingkan dengan bidak catur dimana aku bisa mengorbankan salah satunya untuk kemenangan...tapi aku juga tau...tanpa pengorbanan kemenangan tidak akan tercapai...karena itu-"

"Karena itu lah...sebagai gantinya kau berpikir keras bagaimana caranya kau menggantikan posisi rekan mu atau pun menyelamatkan mereka walau pun kau tau kau tak bisa melakukan hal lain selain memberikan arahan..."Kata Kaizo yang memotong kata-kata Gempa yang terdiam masih dalam posisi menunduk.

Sunyi sesaat.

"Kau ini...apa kau tak pernah melihat kebenaran dibalik orang-orang yang mempercayai mu?"Tanya Kaizo pelan namun dengan suara yang dalam dan menghanyutkan.

"kebenaran dibalik orang yang mempercayaiku?" Gumam Gempa yang mengulangi kata-kata Kaizo.

Selagi keduanya berbicara Ochobot mendengarkan dari balik pintu dapur tempat itu dengan mata serius dan wajah yang sayup.

"Sayang sekali sepertinya dia juga melupakan kata-katanya sendiri..." Gumam Ochobot dengan pasrah sambil menghela nafas berat.

Sementara itu setelah Taufan, Api dan Air menemui Halilintar di pantai mereka kembali berpencar kesetiap sudut kota untuk menemukan Fang dan akhinya Air menemukan nya di lapangan terbuka setelah melewati hutan lebat.

Sesuai perintah Halilintar sebelum nya di pantai Air tak langsung menemui Fang ia hanya mengawasi Fang yang seperti mencari sesuatu disana.

Cukup penasaran akhinya Air mencoba mendekat tapi sesuatu yang tak disangka terjadi saat Fang menemukan apa yang ia cari dan ternyata itu adalah sebuah sangkar kecil yang berisikan kepingan kristal hijau.

Setelah melihat kepingan itu Air mendekat kedekat Fang tanpa ragu.

"Serahkan itu Bocah..."katanya dengan suara dingin.

Fang yang didalam lingkup aura gelap itu tersenyum lebar dan wajahnya tampak mengerikan.

"Serahkan kepingan ke-enam itu pada ku bocah..."Kata Air yang penuh intimidasi disetiap katanya walau ia mengucapkan nya dengan sangat pelan.

"Kau ingin ini? Maka ambillah danbunuh Aku!"

Tes!

Sring!

"Jika keinginan mu begitu aku akan mengabulkan nya..."

Baiklah sudah ku putuskan mulai saat ini Liz bakal liris cerita selanjutnya jika sudah ada mood dan ide yang menarik Oke dan oh ya di bawah ini ada side cerita sedikit mengenai masalalu mereka oke...

Gempa: Liz surat nya aku dah bawa kesini semua nih cepat di balas!

Oke sekarang balasan Review buat semuanya ya! Yang pertama dariGuestakan di jawab oleh Liz sendiri.

Tetangga ku!?Aduh maaf merepotkan ya tapi terima kasih udah dukung aku walau aku gak tau kamu siapa tapi makasih banget udah ngasih aku dukungan. Aku juga gak tahu maksud komentar kamu itu apa, dan anime yang di hastag di komentar kamu bagi aku gakseru banget. Maaf ya tapi aku jujur. Tapi bener kok kata-kata kamu bener. Seorang penulis tetaplah penulis dan bahkan ia menyalurkannya karena keinginan dari imajinasinya. Sepertinya kamu paham mengenai karakter penulisan aku. Hahaha! Kamu menarik sekali. Tapi tunggu kamu tetangga yang disebelah mana ya? Oh, iya, tahun baru cina jangan lupa main kerumah ya.

Daun: oke selanjutnya dariShidiq743Fang yang akan menjawab nya.

Fang: penasaran? Kalau gitu dukung terus kami dan Selanjutnya dariViaa56

Oke aku yang balas! Baiklah Via aku akan berjuang menulis kan kelanjutan nya XD. I will keep writing!!#penuh semangat 45

Halilintar: Oh, ini surat terakhir...

Gempa: Dari siapa?

Halilintar: #membalik suratnya. DariCutemuslimah...

#tiba-tiba datang.

Benarkah! Mana-mana...

Halilintar: Nih# lempar ke Liz yang menangkapnya dengan jurus ninja.

Soal kakek itu ya, Ahaha-ha...sebenarnya mereka muda tapi tiba-tiba jadi tua ahaha. Mungkin karena experimen kami gagal kemarin.

Taufan: why? Experimen apa lagi hah? Tahu diri bah jadi author!

#author pundung kepojok

Lalu..., yang soal Fang, dia itu sesuatu seperti yang tertera di chapter saat ini. Oke. Hiks...Hiks...Maafkan aku. Tapi aku senang kamu suka yang lain juga suka# tunjuk kearah Boboiboy's yang mengangguk membenarkan.

Api: Baiklah hanya itu saja dari kami Terima kasih!

Air: Dan jangan lupa lihat side cerita kami ya...

Side Story

Smile from the past

waktu membawa ku mengembara melewati dunia tanpa batas hingga kenangan yang harus nya menjadi pesan-pesan kehidupan itu hanya bagaikan iklan tak berbekas di benak ku namun ada satu kenangan yang ku pegang penuh hingga saat ini untuknya aku tetap tersenyum.

demi janji yang ia berikan pada ku.

inilah kenangan masa lalu ku tentang nya.

[flashback on]

seorang anak kecil yang memakaian yang tak biasa berlari dengan cepat melewati hujan nan gelap. Ia terus berlari menyusuri jalan setapak dari batu bata yang tersusun rapi itu di temani sebuah bola api kecil yang semakin lama semakin mengecil setiap detik nya.

matanya memandang cemas bola api yang mengikutinya sambil terus berlari hingga ke sebuah desa tersembunyi di sana.

melihat ia berhasil sampai ke desa itu anak itu tampak senang dan dengan cepat berlari ke ujung di balik desa itu dan menemukan sebuah rumah yang sudah menyatu dengan pohon raksaksa itu.

dari kejauhan ia melihat seseorang yang berwajah mirip dengan berdiri dengan cemas di depan pintu dan saat melihat nya ia tampak senang.

"Kak Gempa! Kak Gempa!" Panggil nya dengan wajah panik dan letih.

"Daun kau habis dari mana saja!? Astaga tangan mu terluka!" Kata sang kakak yang ternyata Gempa.

"Kak saat ini yang penting kak Api! kak! cepat tolong kak Api!" Ujar anak yang bernama daun itu sambil menolak luka di tangan nya untuk di lihat.

"Api!? ada apa dengan Api Daun?" tanya Gempa lembut tapi tampak cemas.

"tadi kami di serang WolfSleep saat akan pulang dari desa Sunny Sun. Kak Gempa Cepat tolong kak Api! kak Api menyuruh ku lari deluan dan dia memberi ku bola apinya..." Ujar Daun sambil menangis menunjuk bola api yang sejak tadi melayang mengikutinya.

Gempa yang melihat itu kaget.

"Daun masuk kedalam dan cepat minta tolong Air untuk menyembuhkan luka mu aku akan menjemput Api" Ujar Gempa serius dan Daun mengangguk perlahan.

"tunggu Gempa saat ini aku dan Air yang akan mengikuti mu" Ujar seseorang yang ternyata mendengar percakapan mereka. Halilintar.

"kak Hali tapi-"

Plok!

"tenang saja Gempa aku akan mengobati Daun lagi pula aku sudah mencapai tingkat yang dapat menyembuhkan luka seperti yang di alami oleh Daun saat ini" Ujar yang lain nya setelah menepuk pundak Gempa pelan. Taufan.

"Dan lagi pula aku akan sangat berguna untuk memadamkan kebakaran hutan..."Gumam seseorang yang lain nya dengan kalem. Air.

"Baiklah, Kita berangkat kak Taufan tolong Jaga Daun ya..."

dan akhinnya berangkat dengan mengikuti bola api yang tadinya selalu mengikuti Daun.

[skip time]

Api tertolong namun dengan luka yang sangat parah karena ia sudah sangat terpojok saat bala bantuan datang.

walau pun begitu setelah seminggu akhirnya kondisinya membaik tapi sayang bagaikan nasib yang egois bencana lain datang dan saat itu.

Daun tersenyum kecil sambil berkata.

"Untuk selama ini terima kasih kak Api bagi ku kakak adalah kakak yang terbaik karena itu kakak tak perlu bersedih, Aku berdiri disini hanya untuk membalas kebaikan kakak untuk saat ini aku masih belum cukup kuat karena itu kakak akan menjadi benteng terakhir bersama kakak yang lain nya...aku percayakan kak Gempa pada kak Api"Kata nya sambil tersenyum penuh makna.

"Tidak! Daun kau sudah janji membantu ku!!" Api hanya bisa menangis dan berusaha menggapai Daun yang tubuhnya perlahan mengkristal.

"UgH!-" Daun sedikit kesakitan saat kristal itu mulai membeku hingga ke dadanya.

"Daun!! lepaskan aku sihir bodoh!! lepaskan!! Daun!! Daun aku akan menolong mu!!" Kata Api yang berusaha lepas dari sihir element air yang mengikat nya.

Daun tersenyum lebih lebar kali ini dengan senyuman tulus.

"ehehe, saat ini maaf aku tak bisa menepati janji itu tapi bisa kah kakak berjanji pada ku satu hal?" Tanya Daun dengan sangat.

"Janji! baiklah Janji apa! apa pun akan aku tepati!!" kata Api yang mulai mendengarkan kali ini.

"berjanjilah pada ku di masa depan nanti kakak akan tetap tersenyum apapun yang terjadi ya?" Ujar Daun dengan senyuman polos di wajah nya.

"Ya! kakak janji! kakak janji! karena itu batalkan sihir itu! batak kan sihir itu Daun!!" kata Api dengan sangat dengan ekspresi penuh ketakutan.

Daun menggeleng pelan dan Api hanya bisa terdiam dengan air mata mengalir tanpa sadar di wajah nya.

"sampai waktunya tiba aku tak akan mengucapkan Selamat tinggal karena itu, Sampai jumpa lagi kak Api" kata Daun dan sepenuh nya tubuhnya mengkristal.

Api jelas sangat Syok dan bahkan tak peduli lagi dengan sihir elemen air yang mulai mengelilinginya.

"Aku gagal lagi..." Batin Api menangis.

[Flashback Off]

karena itu saat ini aku menepati janji ku untuk selalu tersenyum di hadapan orang lain dan bersikap seperti layak nya anak kecil.

End Side story