THE SECREAT OF CAFÉ CANDY

.

.

.

Hm? Apa yang akan kulakukan saat bosan?

Um, membantumu mengerjakan sesuatu...

Atau

Mungkin memikirkan dirimu~

(Light)

.

.

.

Genre: Fantasy, family, friendship, comedy, mistery, etc.

Warning: Alur gak jelas, typo mewarnai ff ini, dan masih banyak hal tak terduga yang dapat membuat mata kelilipan dan paru-paru kehabisan pasokan udara saat membaca.

.

.

.

Hah!? Apa yang aku lakukan jika bosan?!

Yah, tentu saja membuatmu berteriak meminta tolong... Hahahaha!

(Dark)

.

.

.

TSOCC

.

.

.

Di Editori Oleh : "KudaErotis"

P.S

"Balasan review menanti dibawah dan side story untuk bonusnya…"

Happy Read

.

.

.

*A Little Sweet Surprise~

"Baiklah, anak-anak. Ibu akan memperkenalkan seorang murid baru...," kata sang wali kelas XI IPA, Anggelia Renny, yang dipanggil Ibu Reni.

Seorang pemuda masuk dengan wajah datar. Semua orang dikelas itu hanya terdiam sampai,

"Perkenalkan namaku Fang. Mulai hari ini aku akan menjadi anggota XI IPA. Karena itu, mohon kerja samanya...," kata Fang yang memperkenalkan dirinya sambil sedikit tersenyum ramah.

Tiba - tiba kelas menjadi riuh dan Fang pun sedikit terkejut melihat reaksi anak-anak di kelas itu. Ia tampak menatap Gempa dengan tatapan tanda tanya dan Gempa hanya tersenyum.

Sementara itu, saudaranya yang lain memasang wajah yang beragam saat melihat Fang.

Seperti Halilintar yang hanya melihat sekilas ke arahnya dan langsung mengalihkan kepalanya ke arah jendela. Lalu, Taufan dan Api hanya bisa memasang sebuah senyuman paksa dan bisa dengan mudah dibaca oleh Fang, yang notabenya dapat membaca ekspresi seseorang dengan mudah.

Namun, mata Fang terhenti pada sebuah kursi kosong disisi Api. Walaupun tak ada yang memberi tahunya siapa yang duduk disana, ia masih bisa melihat sisa-sisa aliran sihir yang tertinggal disana. Aliran sihir yang lembut dan menenangkan yang tak lain adalah milik Air.

[Flashback On]

"Serahkan kepingan keenam itu padaku, bocah...," kata Air yang penuh intimidasi di setiap katanya, walaupun ia mengucapkannya dengan sangat pelan.

"Kau ingin ini? Maka ambillah dan bunuh aku!"

Tes!

Sring!

"Jika keinginanmu begitu, aku akan mengabulkannya...," kata Air dan seketika tetesan embun di sekitar tempat itu menguap menjadi kristal-kristal es yang kita kenal dengan salju.

Air mengangkat kepalanya perlahan dan sebuah senyuman mengerikan tersungging di wajahnya. Fang yang melihat itu entah bagaimana mundur selangkah mengikuti nalurinya saat merasakan bahaya, tetapi ternyata itu tak cukup untuk membuatnya mundur.

Udara di sekitar keduanya mendadak turun dan tampak mulai memutih tertutupi oleh salju. Suasana pun menjadi sangat berat. Fang yang melihat situasi sudah mulai di ambang batas ingin bergegas menyingkir dari tempat itu, tapi—

Krak!

Tuk!

"Apa yang—!"

Fang terdiam dalam keadaan yang sangat syok saat melihat kakinya sudah membeku, retak, dan putus begitu saja hingga ke bagian lututnya.

"Ini kesempatan terakhirmu, bocah. Menyerahlah atau..."

Fang yang sudah sangat syok itu tak bisa berkata apa-apa lagi apa lagi karena tubuhnya sudah membeku separuh dalam sekejap sampai,

"AAAAIIIIIIRRRRRRRR!"

Api datang dengan cara tak terduga sambil membawakan sesuatu untuk Air.

"Minuman hangat cocoa terbaru asli buatan kakakmu ini sudah selesai, silakan dicicipi~ " kata Api sambil bersujud seperti memberikan cincin pada pasangan di acara kawinan.

Sunyi sesaat sampai Taufan juga ikut datang dengan cara yang lebih parah dari Api, yang sebelumnya datang dari udara dan mendarat dengan kaki yang salah dan berakhir dengan wajahnya mencium mesra tanah yang sudah membeku di tempat itu.

"AIIIRRRRR! Lihatlah, ini adalah minuman favoritmu yang kubuat khusus dengan 80 rasa buah-buahan dari negara sub tropis...," kata Taufan yang datang dengan baju ala bartender dan menggunakan sepatu skinya. Minuman khusus itu masih diraciknya sambil berjalan menuju kearah Air.

Keduanya menunggu reaksi Air yang masih diam dalam hening memperhatikan keduanya yang sudah keringat dingin melihat nya.

Air tetap diam. Namun, kakinya berjalan melangkah ke arah keduanya yang tampak senang dan sudah bersiap mempersembahkan minuman yang dibuat oleh keduanya pada Air.

Tetapi sepertinya Taufan dan Api salah sangka, karena Air bukan menuju ke arah keduanya tapi ke arah Fang yang ada di belakang keduanya.

Tap!

Langkah kaki Air terhenti tepat di hadapan Fang yang tampak sudah sangat ketakutan.

"Kau, bocah-bocah yang ada di dalam tubuh Nak Fang— ah, bukan, apa harus aku panggil Circle? Apapun itu pergilah dari tubuhnya atau aku akan menyiksamu dengan sihir yang lebih menyakitkan lagi," kata Air dengan tatapan yang sangat mengintimidasi. Bahkan Api dan Taufan yang tadinya murung langsung mengigil ketakutan dan saling memeluk satu sama lainnya.

"Hehehe... kau memang menang kali ini, tapi lihat saja! Kalian pasti akan kami dapatkan!" kata Fang dengan senyuman jahat. Lalu, bayangan hitam meninggalkan Fang dengan sangat cepat.

Fang pun langsung tak sadarkan diri di tempat. Kemudian, Air langsung mematahkan sihirnya dan tempat yang membeku itu mulai mencair.

"A-air?" panggil Api pelan dengan takut-takut setelah melihat Air kembali terdiam di tempat.

"Minuman itu...," gumam Air menggantung.

"EH?!" Taufan dan Api pun terheran sambil masih memperhatikan punggung Air yang kecil.

"Minuman itu... maafkan aku ya, kakak... sepertinya aku tak akan bisa meminumnya untuk beberapa waktu kedepan...," ujar Air sambil menoleh dan tersenyum dengan hangatnya pada Taufan dan Api yang reflek berlari ke arah Air yang akan tumbang menyentuh tanah.

Pluk!

"Oh, Kak Hali... maaf merepotkanmu... sepertinya kakak harus menggendongku lagi sampai ke rumah kali ini...," ujar Air yang sudah setengah sadar dan berakhir dengan kesadarannya yang hilang begitu saja.

"Untuk apa kau meminta maaf sekarang? Dari dulu kau selalu saja tidur di sembarang tempat 'kan...," ujar Halilintar dengan wajah sendu melihat Air yang ada di pelukannya.

"A-Air... apa dia baik-baik saja, Kak Hali?" tanya Api cemas saat sampai ke dekat keduanya.

"Apa dia terluka? Apa dia... dia...," tanya Taufan khawatir sampai—

Plok!

"Tenang saja dia baik-baik saja..."

Halilintar menepuk pelan kepala Api dan Taufan yang panik melihat Air.

"Sekarang aku perlu kalian membantuku untuk membawa Fang...," ujar Halilintar pelan.

"Hm! Serahkan Fang pada kami!" kata Taufan dan Api dengan semangat 45.

[flashback Off]

"Fa-"

"Ng-"

"Fan-"

"Fang! Oi!"

Fang tersentak dari lamunannya setelah Api menepuk pundak Fang sedikit lebih keras.

"Fang, kamu ikut makan ga? Tuh! Gempa bawakan jatah bekal untukmu!" kata Api sambil menunjuk ke arah para elemental yang lain.

Fang pun mengikuti mereka sampai ke taman belakang sekolah yang sudah terlupakan.

Saat mereka memakan bekal mereka, "Ini, Fang. Cobalah, kudengar kau suka ini kan?" ujar Gempa sambil menyerahkan sebuah kotak bekal berisikan...

"Uwaaahhhh! Donat lobak merah!" kata Fang dengan mata berkilauan melihat beberapa donat di dalam kotak bekal itu.

"Ehehe... sepertinya kau memang suka ini ya...," kata Gempa yang ikut senang melihat reaksi Fang.

Fang yang masih memasang wajah berbinar-binar perlahan sedikit teringat kembali akan kejadian kemarin dan tangannya yang sedang memegang kotak bekal itu perlahan turun dengan wajah tak semangat.

"Ada apa, Fang? Apa ada yang salah dengan donat lobak merahnya?" tanya Gempa cemas saat ia memperhatikan Fang sekilas dan semuanya pun memperhatikan dirinya yang menunduk dalam diam menatap isi kotak bekal itu.

"Tidak, tidak ada yang salah. Hanya..."

"Hanya?"

Fang mengangkat kepalanya sambil menatap satu per satu wajah Elemental yang ada.

"Ma-maafkan aku! Aku membuat banyak masalah untuk kalian... bahkan membuat dia...," Fang tak bisa melanjutkan kata-katanya. Bibirnya terasa kelu dan bahkan tak berani mengangkat kepalanya lagi.

Para Elemental saling bertatapan dan berakhir dengan Halilintar yang menghela nafas setelah mereka melakukan komunikasi batin hanya dengan saling bertatapan.

"Kau tak perlu meminta maaf seperti itu...," ujar Halilintar dengan wajah datar, namun bersahabat.

"Tapi, aku sudah—!"

Plok!

"Yang Kak Hali katakan itu benar... kau tak perlu mencemaskan kami seperti itu...," ujar Gempa yang ikut menyakinkan Fang.

Set!

"Na-nah! Aku juga diberi donat oleh Kak Gempa. Ambil ini dan lupakan hal yang kemarin... a-aku tak suka melihat seseorang berwajah begitu...," ujar Api yang malu-malu, tetapi ingin ikut menghibur dengan caranya.

"Woah, Fang beruntung amat! Jarang-jarang loh Api bisa menghibur seseorang... Fang ambil lah itu... kau suka donat itu kan?" bisik Taufan pada Fang selagi keduanya memperhatikan Halilintar yang ternyata sedikit usil pada adiknya itu dan berakhir dengan Gempa yang berusaha melerai mereka yang hampir bertengkar.

Fang terdiam sejenak memperhatikan mereka, lalu matanya melihat kearah kotak bekal milik Api yang sebelumnya di letakan di hadapannya. Tangannya perlahan mengambil donat di dalamnya dan memakannya dengan lahap dilanjutkan dengan bekal yang sebelumnya diberikan Gempa padanya.

Para Elemental terdiam melihat Fang. Mereka bukan terdiam dengan wajah datar melainkan wajah lega yang penuh senyuman. Walaupun Halilintar terlihat datar, dia juga menampakkan wajah lega.

Fang berulang kali mengucapkan kata "Terima kasih" sambil memakan donat-donat kesukaannya dengan air mata yang tak berhenti mengalir.

[Skip Time]

Setelah beberapa hari tutup, Cafe Candy pun kembali dibuka. Semua orang ternyata sangat menanti - nantikan cafe itu kembali buka sejak mereka libur untuk pertama kalinya. Saat ini, cafe itu pun menjadi sangat ramai daripada hari biasanya. Untunglah saat ini mereka mendapatkan seorang pekerja tambahan yang tak terduga. Ya! Benar! Seperti yang kalian duga, Fang bekerja di cafe itu sebagai seorang pelayan dan koki tambahan.

Ternyata Fang dihukum oleh kakaknya untuk bekerja di tempat itu sebagai ganti rugi untuk berbagai hal yang telah ia lakukan pada para elemental dan Fang tampak tak keberatan dengan itu. Malah Fang tampak senang melakukan pekerjaannya saat ini dengan bimbingan dari Halilintar yang keras dan Gempa yang lembut. Tak sekali pun dia membantah perkataan keduanya.

"Hm, boleh juga ternyata dia ya~" kata Api yang berdiri di sisi Gempa.

"Fang sebelumnya pernah bekerja di salah satu restoran mewah di dunia sihir milik kakaknya, Kaizo. Bisa dibilang dia adalah kepala pelayan di restoran itu... tapi sayangnya entah bagaimana dia diculik sejak 3 tahun lalu dan sejak saat itu kakaknya terus mencarinya...," jelas Gempa dengan wajah berbinar-binar, masih memperhatikan Fang di sela jam istirahatnya.

"Ah... kalau tak salah ingat kita pernah berkunjung kesana, kan? Dan kalau tidak salah, Kak Gempa mencoba merekrut Fang sebagai salah satu karyawan di cafe ini setelah melihat caranya melayani pelanggan di restoran mewah itu...," kata Api yang kebetulan mengingat masa lalu.

"Eh!? Serius? Aku melakukan itu?" tanya Gempa yang kaget.

"Ng, kalau aku tak salah ingat sih... tapi untunglah kakak bisa mendapatkannya karena kejadian yang tak terduga ya...," ujar Api sambil tersenyum layaknya anak-anak yang polos.

"Ya, kau benar... setidaknya mimpi kecil kita sedikit terwujud...," ujar Gempa senang.

Keduanya pun asik bercerita seputar masa lalu sampai Halilintar datang memarahi mereka karena lupa waktu dan meninggalkan pekerjaan mereka.

Tak lama Cafe Candy pun mulai berangsur sepi dan bulan pun sudah naik semakin tinggi. Sudah saatnya toko itu tutup.

"Fang! Fang! Kamu dipanggil Gempa tuh di belakang!" kata Api yang muncul dari dapur.

"Okey, sehabis menutup jendela aku kesitu...," ujar Fang sambil menutup jendela terakhir, sementara Api kembali lagi ke dapur.

"Yosh! Jendela ini sudah dan meja juga sudah bersih... sekarang saatnya menemui manajer...," ujar Fang yang masih tampak senang walau sangat lelah saat ini.

"Manajer, ada perlu apa dengan sa... ya?" kata Fang yang sedikit terkejut melihat semua elemental berkumpul, yah, walau tak semuanya. Mereka membentuk lingkaran mengelilingi kue coklat kecil yang diberi tulisan "Selamat" dan lilin megah di atas nya.

"Selamat datang di Cafe Candy, Fang!" kata semuanya yang berkumpul di tempat itu.

"H-hah?" Fang masih tampak bingung.

"Kenapa kau berwajah seperti itu, Fang? Ini semua pesta kecil-kecilan untuk mu...," ujar Taufan dengan wajah usil sambil menepuk pundak Fang berkali-kali agar tersadar dari syoknya.

"Selamat ya, Fang. Mulai saat ini kau akan menjadi anggota keluarga di tempat ini...," ujar seseorang yang datang dari tempat pembuatan makanan dingin.

Fang tampak terdiam sejenak, sampai ia sadar orang yang berdiri di hadapannya adalah Air.

"Maaf ya, membuatmu khawatir. Yang lain sudah menceritakan semuanya padaku dan juga maafkan karena aku menunjukkan ilusi yang begitu mengerikan padamu. Tapi, setidaknya semuanya impas saat ini... Nah, Fang. Ini sedikit hadiah untukmu... yang lain juga punya hadiah untukmu... kuharap mulai saat ini kau betah bersama kami, ya...," kata Air pelan sambil memberikan segelas kecil ice cream yang dibentuk sedemikian rupa dengan berbagai bahan di dalamnya.

"Hm! Terima kasih sudah menerimaku!" kata Fang dengan senyuman yang tak akan terlupakan dan mereka pun memulai pesta penyambutan karyawan baru di tempat itu.

Tetapi, semuanya terhenti saat seseorang menggedor-gedor keras pintu Cafe dengan panik.

"Hm, siapa ya?" kata Ochobot Heran.

"Biar aku yang buka pintunya...," ujar Gempa.

"Oh! Aku ikut!" kata Api yang mengekori Gempa dari belakang.

Keduanya pun pergi mengecek pintu depan.

"Iya, siapa ya?" tanya Gempa sebelum membuka pintunya.

"Gempa! Ini aku Ying! Gempa, tolong!" kata Ying dengan suara panik.

Saat Gempa membuka pintu, ia dan Api terkejut bukan main saat melihat keadaan Ying yang terbilang mengenaskan sambil merangkul Gopal disisinya yang juga bernasib lebih parah darinya.

"YING! GOPAL! Apa yang sudah terjadi pada kalian!?" kata Gempa yang langsung keluar dan bertindak. Begitu juga Api yang langsung membantu menggotong Gopal yang akan terlepas dari rangkulan Ying.

"Gempa... uhuk! Tolong, selamatkan... Ya-ya...," kata Ying yang akhinya tak sadarkan diri.

"Ying! Ying! Bertahanlah!" kata Gempa dengan wajah panik dan syok.

Plok!

"Jangan panik! Cepat kita bawa mereka ke dalam!" kata Halilintar yang sudah keluar bersama yang lainnya dan ikut menolong.

"Ng! Baiklah!" jawab Gempa.

Mereka pun kembali ke dalam Cafe dan Halilintar menutup pintu Cafe itu dengan tatapan waspada.

Hai! Hai! Semua pada rindu gak sama Liz~

#PLak!

Adowwww! Huaaaa...sakit...

Halilintar : Mana Ada yang rindu sama mu coba, Hiatus selalu setahun-setahun gitu!

Hiks, Hiks, Kali aku sungguh menyesal maaf...tapi kali ini tak perlu risau seorang pahlawan sedang membantu kita di balik layar saat ini!

Blaze : Pahlawan?

Taufan : Siapa?

Hehehe dia adalah...

#Musik dimain kan membahana.

Kita sambut KudaErotis! Dia adalah Editor ku yang menyenangkan!

All Elemental bertepuk tangan dengan wajah kagum.

Gempa : Lalu dimana dia saat ini?

Hum? Ah, dia sedang mencari Wi Fi saat ini karena dia kehabisan paket malam ini tapi karena itu lah kita akan membuat kan pesta meriah untuk menyambutnya seperti kita menyambut Fang Tadi! #Semangat 45.

Yaya : Oke aku yang masak!

#Syok semua kecuali-

YAya! DAun! SOlar! Cepat kalian pergi dan cari barang-barang didaftar ini dan jangan sampai ada yang terlupakan! atau kalian tak akan muncul dalam chapter selanjutnya!

Yaya, Daun, Solar : SI-SIAAAPPPppp! #mereka bergegas pergi sementara semua bernafas lega.

Sukur ya...

Blaze : save...#elus dada.

Oke semua nya bersiap lah okey.

Taufan : Ohya jangan lupa ya itu balas review okey!

sip...

Blaze : Nah, pertama dari BlueMoon2207! #semangat 45

Oke! Oh! maafkan aku princess BlueMoon2207 (cry) maafkan aku (sujud) aku sangat payah sampai tak berani update lagi maaf kan aku tapi berkat edithor ku saat ini aku akan lakukan yang terbaik untuk menuntaskan nya setajam silet...dan (terisak) terima kasih sudah menunggu aku sungguh terharu...terima kasih...

Taufan : Udah jangan nangis nih lanjukan dari go AUTHOR wah dari namanya dia semangat sekali nih buka surat nya sendiri...

#buka surat nya dan terdiam syok.

Hiks, Hiks, Hiks, Maaf kan aku aku akan segera lanjut...

Ice : Okey, sekarang untuk side story selamat menikmati!

Side Story

1. Behind Of Power

Setelah tinggal cukup lama bersama para penyihir abadi para elemental, Fang mengetahui sesuatu yang sudah bisa dikatakan lumrah oleh para penghuni Cafe Candy yang penuh misteri itu.

Yaitu, kelemahan setiap para elemental yang cukup mengejutkan.

Contoh pertama adalah Gempa. Fang mengetahui kelemahan Gempa setelah kejadian tak terduga saat mencari "kepingan kristal" yang mengharuskannya mengeluarkan kekuatan secara berlebihan. Gempa kehilangan ingatannya tentang berbagai hal dalam jangka hitung mundur satu bulan ke belakang dan itu benar-benar membuatnya cukup tertekan.

Sejak saat itu, Fang menyadari bahwa sekuat apapun kekuatan yang dimiliki para elemental, mereka akan mendapakan hukuman yang sangat menyakitkan untuk setiap kemampuan dasyat tersebut jika digunakan berlebihan.

Entah karena apa, ia akhirnya mencari tahu lebih lanjut lagi tentang kekuatan para elemental agar dapat membantu mereka kedepannya.

Kebetulan Fang sudah mengetahui kelemahan Air\Ice ketika ia memakai kekuatannya, yaitu tertidur dengan jangka waktu yang cukup lama. Misalnya, jika ia mengeluarkan kemampuannya selama satu menit, maka dia akan tertidur dalam jangka waktu satu hari full.

"Heh... kau memperhatikan kami sampai sedetil itu ya?" ujar Api tiba-tiba di belakang Fang yang sedang menulis di buku catatannya tentang para elemental.

Fang yang kaget tentu saja reflek menyembunyikan buku catatan tersebut itu di balik punggungnya.

"I-ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku... aku hanya—"

"Sini biar kubantu!" ujar Api dengan wajah kalem dan membuat Fang terdiam.

"Hah?" gumam Fang yang masih tak percaya apa yang dia dengar dari mulut Api.

"Kau tak perlu melihatku seperti itu. Dulu, ada karyawan kami di kantor cabang yang juga membuat hal seperti itu agar bisa dekat dengan kami...," jelas Api yang sudah bersiap dengan perlengkapannya.

Sebelumnya, Api dan Fang sebenarnya sedang ditugaskan bersama mencari tumbuhan ajaib untuk "Sang Putri" yang sedang sakit parah dan keduanya sedang beristirahat dalam perjalanan mereka saat ini.

"Lalu, tentang siapa yang ingin kau ketahui? Kalau tak salah lihat di catatanmu tadi, kau sudah tahu kelemahan kak Gempa dan Air, ya?" ujar Api yang mulai berjalan lagi. Diikuti Fang yang tergesa - gesa mengambil tasnya, mengikuti Api yang sudah lebih dulu berjalan kembali.

"Iya. Hanya tersisa kalian bertiga saja yang belum aku ketahui...," ujar Fang yang sudah bisa menyesuaikan langkahnya dengan Api.

"Hm... kalau begitu aku beritahu secara berurutan saja ya. Pertama kak Taufan...," kata Api dan Fang bersiap mencatat di buku catatannya.

"Jika Kak Taufan terlalu memaksakan diri, dia akan menjadi seperti orang lain...," ujar Api sambil geleng-geleng kepala.

"Orang lain? Apa maksudmu?" tanya Fang tak mengerti walaupun dia berusaha membaca raut wajah Api.

"Ng... kau tahu kan, Kak Taufan itu sangat usil?" ujar Api kikuk dan Fang cukup jarang melihat Api berwajah seperti itu.

"Tentu saja... Lalu, apa yang salah dari itu?" tanya balik Fang yang masih tak paham.

"Nah, itu! Itu dia! Dia akan menjadi kebalikan dari itu. Dia akan kehilangan semangatnya dan murung berhari – hari. Bahkan efek samping dari kelemahannya itu dia akan menjadi sangat menyebalkan...," keluh Api pada Fang yang tak mengerti.

"Intinya Kak Taufan yang usil akan berubah menjadi orang yang kehilangan semangat hidup nya...," tambah Api setelah melihat wajah bingung Fang.

"Oke sudah! Selanjutnya?" tanya Fang lagi dengan semangat.

"Sekarang giliran ku... kelemahanku setelah menggunakan kekuatanku... aku akan menjadi seorang penakut...," ujar Api pelan.

"Penakut?" ulang Fang tak paham.

"Ya, takut... kau kan tau aku selaju maju yang pertama jika bertarung?" ujar Api kikuk.

"Iya. Oh, lalu separah apa itu?" tanya Fang lagi.

"Cukup parah kurasa..." ujar Api yang tampak tak ingin membahasnya lebih lanjut. Melihat Itu Fang mengangguk paham.

"Baiklah... Taufan akan murung, Api menjadi penakut... tunggu dulu! Lalu, bagaimana dengan Halilintar? Katanya tadi kau ingin bilang secara berurutan?" ujar Fang bingung.

"Er... kalau Kak Halilintar... aku tak tau kelemahan nya...," ujar Api sambil melihat ke arah lain dengan tatapan waspada walaupun hanya sekilas dan segera kembali seperti semula.

"Apa maksudmu tak tahu? Bukankah kalian selalu bersama?" tanya Fang heran.

"Um... hanya Kak Gempa yang tahu soal itu. Aku tak pernah melihat kak Halilintar memakai kekuatan penuhnya di hadapan kami... dan lagi Kak Hali itu selalu bertarung menggunakan senjata sihir hanya jika terdesak saja. Lagipula dia cepatnya bukan main...," curhat Api sambil memaikan tangannya.

"Benar juga, dengan kecepatan seperi itu dia tak akan masalah bertarung tanpa mengeluarkan banyak tenaga ya...," ujar Fang yang paham. Tertulislah di buku catatan Fang, Halilintar adalah misteri yang belum terpecahkan.

Sementara itu di rumah, Halilintar sedikit terbatuk dan membuat Ochobot kaget.

"Ada apa Hali? Apa kau sakit?" tanya Ochobot cemas.

"Hm? Tidak, hanya aku merasakan seseorang sedang membicarakanku...," ujar Halilintar yang menjawab dengan kalem.

End Side story