THE SECREAT OF CAFÉ CANDY
.
.
.
Mungkin kau tak tau saat ini atau bahkan mungkin saja...
Kau tak menyadarinya tapi kau itu sebenarnya...
Adalah yang terbaik!
(Light)
.
.
.
Genre: Fantacy, family, friendship,comedy,mistery, etc.
Warning: alur gak jelas, typo mewarnai ff ini, dan masih banyak hal tak terduga dan dapat membuat mata kelilipan dan paru-paru kehabisan pasokan udara saat membaca.
.
.
.
Jangan bercanda! Kalian bahkan hanya bisa diam!
Jangan pikir dirimu itu lebih baik dari orang lain...
Itu sebab nya aku kesal pada mu!
(Dark)
.
.
.
TSOCC
.
.
.
Di Editori Oleh : "KudaErotis"
P.S
"Balasan review menanti dibawah dan side story untuk bonusnya…"
Happy Read
.
.
.
*Time to Go! Safe Yaya!
Matanya yang berwarna biru layak nya kaca terbuka perlahan dan samar-samar ia mendengar beberapa orang berbicara dengan nada cemas dari arah luar kamar itu.
"Tapi jika kita lakukan itu mereka akan tau siapa kita sebenarnya,Kak Gempa..." Ujar Air pelan dan kembali meminum air dingin nya.
Sunyi sejenak sampai akhirnya Fang mengangkat suara.
"Biar aku saja yang lakukan..." Ujar Fang dengan wajah serius bangun dari posisi duduk nya.
"Maaf Fang, Kami tak bisa biarkan kau pergi sendirian, karena ada kemungkinan akan terjadi hal yang tak bisa kita predeksi kedepan nya..." Jelas Halilintar dengan wajah nya yang datar namun terdapat tatapan yang serius dari matanya.
"Tapi..."
"Fang, yang kak Hali katakan benar adanya, lagi pula saat ini kau di perintahkan oleh kakak mu untuk berada di bawah pengawasan kami...jadi kami tak bisa membiarkan mu melakukan pekerjaan berbahaya..." Tambah Gempa yang tampak serius sambil menatap teh hangat yang berada dihadapan nya.
Fang pun akhirnya duduk kembali dengan tenang sambil memikirkan kembali jalan keluar terbaik dalam situasi mereka saat ini dan ruangan itu pun kembali tenang tak ada satu pun yang berbicara hingga akhirnya.
"ADA! Kak! Ketemu! Aku menemukan nya!" Kata Api yang berlari menuruni tangga sambil membawa sebuah buku dan kaca pembesar di tangan nya.
"Api jangan lari-lari di tangga! Nanti kau jatuh lagi!" Kata Gempa yang memberi peringatan suasana serius di tempat itu pun mencair karena tak lama setelah Gempa memberi peringatan Api terjatuh hingga menabrak salah satu meja yang belum disusun ditempat itu.
"Whahaha! Bola boling! Hahaha!" Taufan tertawa lepas hingga berguling-guling di lantai melihat Api yang hanya bisa berhenti dalam posisi terbalik dengan mata yang berputar-putar.
"Ah, Api kau baik-baik saja?" Tanya Gempa yang langsung berlari menghampiri Api yang berusaha bangun dari posisi nya yang lucu itu.
Sementara Halilintar melemparkan nampan besi kepada Taufan dan Air juga melempaskan beberapa bola es pada Taufan, sedangkan Fang hanya bisa menggeleng-geleng bersama Ochobot yang hanya bisa terkekeh kecil.
"Aduhh...A-Aku baik-baik saja Kak Gempa, Lupakan itu dulu! Sekarang lihat ini! Aku sudah menemukan pelaku di balik penyerangan mereka!" Kata Api bangga dan lupa akan semua hal yang menimpanya tadi.
"Tapi kepala mu benjol itu Api..." Ujar Gempa yang masih cemas.
"Ah, Biar ku ambilkan P3K dulu..." Ujar Ochobot dan dia pun segera pergi mengambil kotak pertolongan pertama. Namun langkah nya terhenti di depan pintu tamu yang dipakai oleh Ying dan Gopal saat ini.
Tangan nya ingin meraih Ganggang pintu itu untuk memeriksa keduanya namun.
"Ochobot! P3K-nya udah ketemu kah!?" Tanya Gempa dari ruang tengah.
"O-Oh-Um! Akan segera aku bawakan..." Ujar Ochobot kikuk dan langsung pergi ketempat Gempa dan yang lain nya.
Tanpa Ochobot sadari sebuah cahaya biru kekuning-kuningan merembes keluar dari sela-sela dibawah pintu kamar itu.
"Hm, Jadi mahluk ini ya, Api kau hebat juga ya bisa tau kalau mahluk ini yang menyerang mereka..." Puji Fang kagum.
"Hehe, tentu saja ini adalah keahlian ku sebagai *Est Victor A Bestia" Kata Api bangga.
"Oh, benar-benar penjinak hewan sejati..." Kata Fang sambil bertepuk tangan dan Api makin bangga pada dirinya.
"Cih, Aku juga pasti bisa kok..."Ujar Taufan yang berde-cih kesal.
"Baiklah lupakan itu dulu, sekarang Api dan Air akan pergi ketempat mahluk itu dan menolong gadis cerewet itu sementara sisa nya menunggu disini sebagai bantuan...karena aku yakin mahluk itu hanya bisa bergerak atas perintah seseorang..." Ujar Halilintar yang menyusun strategi.
"Ada apa Ocho ? " Tanya Air pelan membuat semua nya terdiam dan memperhatikan Ochobot yang tampak tak tenang.
"Ah-Eh, thehe, ta-tak ada apa-apa kok..." Ujar Ochobot kikuk dan tampak bingung.
Melihat reaksi Ochobot mereka pun saling tatap lalu mengangguk walau pun Fang tampak nya juga tak paham situasi.
"Ochobot...Ayo kita balik tidur ke kamar, kita serahkan sisa nya pada kak Hali dan yang lain nya..."Ujar Gempa sambil menarik perlahan tangan Ochobot.
"Eh, Ta-tapi..."
"Ini adalah perintah..." Ujar Gempa pelan sambil tersenyum dan Ochobot pun hanya mengikuti Gempa.
"Baik lah kita selesaikan yang ini dulu Api dan Air kalian sudah bisa berangkat sekarang dan jangan lupa jangan biarkan siapapun tau siapa kalian dan jika kalian merasa terdesak segera hubungi kami..." Ujar Halilintar dan Api, Air pun berangkat setelah mengangguk paham.
"Fang dan Aku akan menjadi bala bantuan untuk Api dan Air, Lalu Taufan aku punya pekerjaan khusus untuk mu sebagai *Ad Perpetuam Circulo jadi bersiaplah..." Ujar Halilintar dan membuat Taufan kembali bersemangat setelah terpuruk dipojokan kafe itu.
Setelah pengarahan itu semuanya pun bergerak. Namun Fang datang ke dekat Halilintar dan Taufan yang sedang berbicara dengan serius bahkan Fang tak pernah melihat wajah serius Taufan sebelum nya. Taufan pun pergi.
"Oh, Fang kita juga harus bersiap...Ayo kemari akan ku tunjukan tempat yang biasanya kami gunakan untuk mengawasi kota ini..." Kata Halilintar datar namun tegas.
"Ba-baik!"
Sementara itu, dikamar Gempa.
"Jadi begitu...Seperti yang kak Taufan dengar dari Ochobot..." Ujar Gempa sambil membelai kucing yang adalah perwujudan dari Ochobot itu sendiri.
"Baiklah, Aku akan melakukan nya...karena itu aku mohon bantuan mu Ochobot, Aku yakin kali ini butuh banyak usaha..."Ujar Taufan serius.
"Ka-kalau begitu aku juga-!" Gempa yang ingin berdiri dari kursi nya langsung tertahan di tempat.
Taufan ternyata mendorong kembali tubuh Gempa pelan hingga ia terduduk kekursi empuk nya dan yang di dorong pun terdiam.
"Tolong jangan pergi dari kamar ini Gempa...Kumohon kali ini percayakan semuanya kepada kami..." Pinta Taufan dengan ekspresi memohon dengan sangat.
Gempa pun menunduk dan mengangkat kepalanya perlahan-lahan, lalu tersenyum hangat.
"Baiklah, kali ini aku akan mempercayakan semuanya pada kalian..." Ujar Gempa pelan namun dengan suara yang sangat berat.
"Terima kasih sudah ingin mempercayai kami Gempa...Ochobot! ayo kita harus bergegas! Gempa lihat lah kali ini aku tak akan membuat mu cemas! Kami akan melakukan nya dengan keren kali ini!" Kata taufan sambil menyeret Taufan dengan penuh semangat nya.
"Uaaa-Ge-gempa aku pergi dulu!" Kata Ochobot yang sudah berubah dalam mode manusia nya.
"Tetap awasi kami dari sana Gempa!" Kata Taufan dengan semangat 45-nya.
Gempa yang tersenyum pun perlahan menunjukan wajah sedih nya.
"Maaf Kak Taufan..."
Disisi lain Api dan Air sudah menemukan apa yang harus mereka cari.
"Benar disini kah?" Ujar Air dengan nada kalem nya namun dengan sangat waspada.
"Ya, Tempat nya disini karena dia itu dapat menyamar dan juga sangat menyukai tempat yang sangat tinggi..." Ujar Api dengan nada serius.
"Begitu kah...kalau tak salah tempat ini adalah tempat tertinggi di tengah kota ini...Mercusuar tua yang masih bisa berjalan dan sangat membantu masyarakat sekitar terutama kapal apalagi nelayan...namun mercusuar ini sudah tak di pakai beberapa bulan lalu karena ditakutkan akan terkikisnya pinggiran tebing yang mengelilinginya, itu sebab nya tak ada orang di sekitar sini..." Jelas Air dengan wajah kalem nya yang sangat serius.
"Air, anu, begini...sejujurnya kau menjelaskan itu pada siapa? Ng,kau tak perlu menjelaskan itu padaku loh..." Ujar Api kikuk sambil menatap air heran.
Air menoleh pada Api yang heran melihat nya.
"Aku tau Api tau, Aku hanya menjelaskan nya pada pembaca...karena author balik tidur lagi...di pojok sana" Kata Air sambil menunjuk kerah Cakrawala perbatasan air laut dan langit yang saling bersentuhan dan menciptakan suasana yang menakjubkan di tambah dengan bintang bersinar di temani beberapa komet yang kadang jatuh.
Api menatap datar Air.
"Siapa Author yang kau maksud?! Dan lagi bagaimana kau bisa melihat apa yang ada di balik cakrawala!?" Kata Api dengan wajah tak paham nya namun konyol.
"Aku juga tak tau, tapi itu yang ditangkap oleh pengelihatan masa depan ku..."Kata Air dengan wajah sok kerennya.
"Ugh, Aku tak paham sama sekali diri mu..." Gumam Api yang tak mengganggu saat Air memasang wajah sok keren nya.
Tiba-tiba keduanya di kagetkan oleh teriakan dengan suara yang nyaring dari langit malam yang mulai mendung. Keduanya langsung bersembunyi dibalik hutan-hutan yang berada di belakang mercusuar itu.
Mata keduanya terbuka lebar melihat mahluk besar bersayap berwarna abu-abu melintas diatas kepala mereka sendiri sambil membawa seseorang gadis muda yang terus menjerit ketakutan ditangan mahluk besar itu.
Setelah mahluk itu masuk ke mercusuar tua melalui tempat pemantau yang berada dipuncak mercusuar itu Api dan Air keluar.
"Woi, Woi, Woi, ini gawat Air sepertinya bukan hanya Yaya yang di culik!?" Ujar Api dengan suara kecil namun tampak kaget.
"Hum, sepertinya aku ingat sesuatu...kalau tak salah para gadis disekolah ada yang bercerita padaku kalau banyak anak-anak perempuan menghilang saat mereka berjalan diluar di waktu malam bahkan jika di temani oleh orang, orang-orang itu akan terserang dan menderita banyak luka serius dan lebih parah nya lagi orang-orang itu juga kehilangan ingatan nya..."Jelas Air dengan panjang lebar.
"kalau itu semua benar berarti gadis itu juga termasuk salah satu nya...Kita harus bagaimana? Mahluk itu benar-benar pintar loh, bahkan diberi sihir kepatuhan oleh penyihir bulan tiga saja tak bisa membuat nya tunduk..."Kata Api dengan wajah yang agak cemas.
"Lalu apa kau bisa membuat nya tunduk?" tanya Air pelan sambil menyiapkan senjatanya berupa pistol yang bersinar biru-kebiruan tenang.
"kalau hanya ada satu kita bisa menundukan nya, tapi mungkin akan sedikit sulit karena monster yang mirip patung goblin itu sudah memasuki level A lima..." Kata Api yang tampak mengeluarkan sesuatu juga yang bentuk nya seperti cakram mini namun seukuran dengan shuriken yang biasanya di pakai ninja-ninjaan.
"Jadi begitu, bukan kah itu benar-benar mirip dengan monster yang menyerang mu dan dia dulu..."Ujar Air pelan.
"Aku? Dia? Siapa?" Ujar Api bingung.
"Siapa lagi kalau bukan adik kita yang ceroboh?" Ujar Air sambil tersenyum penuh arti.
Api sedikit tertegun namun ia juga ikut tersenyum. Senyuman yang hangat dan penuh arti.
"Ah, dia kah...Aku sudah tak sabar untuk bertemu dia..."Kata Api tulus dan polos.
"Baiklah senjata sihir ku siap...bagaimana denganmu ?" tanya Air pelan setelah tersenyum tipis sebelum nya.
"Aku juga Okey! Ayo kita berburu!" Ujar Api dengan wajah gagah begitu pula Air yang memasang wajah kalem nya.
Kembali lagi ke cafe candy.
"UuuAAAaaaaaHHhhhh! Ying! Stttooopppp! Pleaseeee!" jerit Taufan yang terus memegang barang-barang di sekeliling nya agar tak tertarik oleh lajunya angin ribut yang berasal dari seorang gadis kecil berkacamata yang ketakutan dipojokan ruangan.
"Ini percuma Taufan! Cara lain! Cari cara lain!" Kata Ochobot yang malah memegang kaki Taufan dan sudah sangat jelas keduanya tak dapat menapakan kaki kelantai.
"Cara lain!? Maksud mu aku harus gunakan Gift?" Tanya Taufan tak yakin.
"Bukan kah Hali sudah mengatakan itu pada mu!?" Tanya balik Ochobot bingung.
"Tapi jika aku lakukan itu...Mereka akan lupa apa yang terjadi pada Yaya..."Gumam Taufan ragu.
"Tapi Hali menyuruh mu untuk melakukan itu bukan!? Bahkan kau sudah bilang pada Gempa untuk percaya pada mu kan!?" Tanya Ochobot yang tangan nya hampir tak sanggup lagi berpegangan pada Taufan.
Taufan diam sesaat dan tiba-tiba...
"Element Magig: Open The Gate windy!..." Kata Taufan yang matanya sudah berubah warna bagaikan warna langit biru yang cerah dan bahkan ekspresinya tampak sangat lembut dan menyejukan.
"Tenang lah..." Ujar Taufan lagi dan angin ribut di ruangan itu pun menghilang secara perlahan seakan mengikuti perintah Taufan.
Taufan dan Ochobot sendiri turun perlahan dengan angin lembut yang mengelilingi keduanya.
"Ta-Taufan? Kau gunakan kemampuan mu?" Ujar Ochobot dengan ekspresi kaget nya.
"Um, Karena itu tolong aku nanti ya Ochobot...dan sekarang coba kita lihat dulu..."Ujar Taufan sambil melihat Ying yang berada di pojok ruangan sementara Gopal belum sadar.
"pe-pergi...per-pergi...a-aku,aku,bukan aku...aku bukan peri, bukan..." Kata Ying ketakutan karena Taufan makin mendekati nya.
"Ying! Ini aku Taufan! Teman mu! Apa kau tak ingat?" Ujar Taufan yang menghampirinya dengan wajah cemas.
"te-teman? Pe-penyihir bukan teman! Bukan! Bukan! Jangan mendekat! JANGANNN!" Kata Ying sangat ketakutan dan tanpa sadar mengeluar kan sihir angin.
"Taufan!" kata Ochobot kaget saat wajah dan bajunya tersayat pisau angin.
Taufan tak berteriak atau mengeluh kesakitan seperti yang biasa ia lakukan jika ia terluka. Ia tetap melihat Ying cemas dan makin mendekati Ying secara perlahan.
Tap...
"Tenang lah Ying, ini Aku, Taufan! kau tak perlu cemas, Tak akan ada yang bisa menyakiti mu disini...kau aman...bukan kah kemarin kau bilang mau jadi teman ku? Bahkan kau memuji ku saat aku membuat bunga dari buah-buahan? Apa kau tak ingat?" Ujar Taufan yang mencoba menenangkan Ying dengan caranya sendiri.
"Ta-ufan?" Gumam Ying pelan yang tadi nya matanya menggelap mulai tampak kembali terang.
"Ya! Aku disini! Aku ada disini bersamamu...Jadi tenang lah...semuanya akan baik-baik saja aku janji..."Ujar Taufan yang mulai tersenyum senang melihat Ying mulai sadar dan ingat.
"Janji?" Gumam Ying lagi.
"Ya, aku janji, Aku tak akan biarkan teman baik ku terluka, jadi tenang saja...aku ada disini bersamamu...Aku ada disini..."Kata Taufan yang langsung merangkul Ying perlahan-lahan sambil mengelus rambut nya pelan.
"Ugh, Apa yang terjadi? Huh? Ochobot? Taufan? Dan Ying juga? Ada apa? Kenapa ruangan ini berantakan?" Tanya Gopal polos dan heran.
Taufan dan Ochobot menatap nya datar. Karena sebelum nya keduanya berusaha membangunkan Gopal karena tak tau harus bagaimana memperlakukan Ying yang sangat ketakutan di pojok ruangan hingga akhirnya Ying panik dan lepas kendali ketika keduanya mencoba menenangkan nya.
Sementara itu kembali disisi lain kafe itu tepat nya gudang perlengkapan.
"I-ini kan...!" Fang tampak sangat kaget melihat sebuah hologram berbentuk peta desa itu yang tampak seperti miniatur hidup.
"Sepertinya kita menemukan penyebab hilang nya gadis-gadis di desa ini...Fang sekarang aku punya tugas yang tepat untuk mu..." Ujar Halilintar serius.
"Eh? Tugas?" Kata Fang Kikuk.
"Ya, dan ini hanya kau yang bisa melakukan nya..." Ujar Halilintar sambil tersenyum tipis melihat Fang tampak merinding.
Disisi lain Pulau dimana Air dan Api tampak kesulitan dengan misi nya.
"Api...Tolong?" Pinta Air dengan wajah memelasnya.
"Ugh, Ma-maafkan aku,sepertinya aku juga...ingin minta tolong..."Ujar Api dengan wajah suramnya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Air yang tampak sudah pasrah.
"Kalau begitu...KAK TAUFANNN! HELLPPPP!" Jerit Api dengan air mata buaya nya.
Sedang kan Air menatap nya datar.
"Kenapa kau memanggil kak Taufan disaat seperti ini?" Ujar Air dengan datarnya.
"Kenapa? Bukan kah sudah jelas...Kalau kak Taufan menggunakan Gift nya disaat seperti ini sudah jelas semuanya akan baik-baik saja..."Jelas Api sambil mengeluh.
"Ah! Kau benar...Tapi jika dia kemari toko Kita bisa hancur..." Kata Air pelan.
"Huh!? Hancur?" Kata Api bingung.
"Ya, Ying yang melakukan nya...Dia sedang lepas kendali tapi tenang saja kak Hali sudah menyadari hal itu dengan Gift-nya yang selalu aktif setiap saat ketika kita berada dekat dengan sosok seperti mereka itu..." Ujar Air pelan.
"Ah, kau benar juga...Lalu bagaimana cara nya kita lolos dari tempat ini saat ini?" Tanya Api diakhir.
Keduanya ternyata tertangkap oleh mahluk itu dan ditambah lagi keduanya di bungkus seperti ulat didalam kepompong nya dan di kumpulkan bersamaan dengan kepompong lain nya yang berisikan para gadis yang telah di culik.
"Hm, sepertinya kita tak perlu mencemaskan itu...karena kita selalu diawasi setiap saat..." Kata Air sambil tersenyum dan disaat bersamaan.
"Elemental Magig! Silent Slash!"
Seketika kepompong-kepompong itu terpotong-potong dan keduanya terbebas bersamaan dengan para gadis-gadis yang di culik itu.
"Apa kalian Baik-baik saja?" Tanya Halilintar yang sudah berada dikehadapan keduanya yang tampak memandang nya dengan wajah kagum.
"Api Kak Hali seperti karakter Film yang aku lihat Akhir-akhir ini..."Ujar Air masih dengan memandang Halilintar.
"Ah, kau benar Air seperti Pahlawan sejati..." Kata Api yang menyahut Air.
"Apa yang sedang kalian bicarakan!? Fang! Cepat bawa para gadis ini pergi...Kau tau harus membawa mereka kemana?" Ujar Halilintar serius melihat kearah balik bayang-bayang gelap di tempat itu.
"Baik!" Ujar Fang yang muncul dari balik bayang-bayang dan membawa para gadis-gadis itu pergi dengan sihir bayang-nya.
"Api! Air! sekarang kalian bisa melakukannya bukan...?" Tanya Halilintar yang kalem.
"Oh! Serahkan pada kami!" Kata Api dengan semangat nya sambil memukul dadanya dengan tangan yang ber Api-api.
" Akan lebih mudah tanpa sandera sekarang..."Ujar Air sambil tersenyum menyiapkan alat sihirnya yang berbentuk seperti pistol.
"Bagus-mengamuklah dan hancurkan mereka ini termasuk dalam salah satu misi kelas 'Ss' yang sudah lama tak ada yang mengurusnya..." Ujar Halilintar keduanya pun langsung pergi setelah mengangguk pasti sambil merapikan jubah keduanya.
"Baiklah, Sekarang tinggal-"
DRrrttt!
DRrrttt!
Klik!
"Ada Apa Fang?" Tanya Halilintar yang mengangkat ponselnya yang bergetar di saku jaket nya.
"Gadis yang bernama Yaya itu tak ada!"
"Apa maksud mu tak ada?" Tanya Halilintar yang memastikan kalau ia tak salah dengar.
"Dia tak ada diantara para-"
"Fang! Ochobot! Apa Kalian lihat Gempa?!"
"Gempa!? Aku tak melihat nya, bukan nya dia pergi bersama mu Taufan?"
"Gempa..." Halilintar bergumam kecil dengan wajah tak senang setelah mendengar keributan lain yang terjadi di Cafe itu.
"Hali, Gempa Menghilang! Apa yang harus kita lakukan?"
"Tak ada..." Ujar Halilintar dengan wajah yang sudah tak tertebak lagi ekspresinya karena bayangan gelap gedung itu.
"Hah!?"
"Fang aku pinjam Hp mu sebentar, Hali apa kau mendengar kan ku...Kali ini biarkan Gempa yang melakukan nya dan setelah kalian selesai disana segera lah kembali...ini sudah melewati batas limit yang bisa kalian lakukan dengan tubuh seperti itu..."
"Baik..." Ujar Halilintar pelan dan terdengar sangat putus asa.
Halilintar melihat kearah Api dan Air yang tampak nya sudah berhasil menangkap mahluk-mahluk itu.
"Yey! Kita berhasil! Kak Hali lihat kami berhasil menangkap mereka..." Kata Api dengan wajah bahagia sambil melihat Halilintar yang mendekati mereka dengan berjalan perlahan.
"Kak Hali, Ada apa?" Tanya Air yang heran melihat Halilintar yang tak merespon omongan Api.
Crek!
"Kak...Hali?" Panggil pelan Air Yang tampak kaget saat Halilintar mengeluarkan senjatanya yang berupa pedang berbentuk aneh berwarna hitam dan tampak terselimuti dengan kilatan merah kecil yang tampak sangat berbahaya jika di dekati.
Halilintar terus melangkah perlahan dengan kepala menunduk membuat Api dan Air Terdiam memperhatikan gerak gerik nya.
"Tunggu, Kak Ha-!" Api tak sempat menghentikan Halilintar yang menusuk tanah tepat di hadapan wajah mahluk yang tertangkap itu.
"Katakan padaku...Siapa orang yang memerintah kalian?"
Para Mahluk itu tampak ketakutan.
Tap!
"Hosh, Hosh, Ying, Gopal...Hiks, Hiks...Kalian dimana?" Kata Yaya yang terus berlari di tempat yang sama di dalam kota itu sambil menangis berusaha keluar dari tempat itu.
Namun langkah nya terhenti ketika ia menyadari mahluk yang mengejar nya sudah menemukan nya.
Seketika itu juga kaki nya melemas dan akhirnya ia terduduk pelan di tempat.
"Ying,Gopal...Maafkan aku..." Ujar Yaya dengan suara kecil.
Mahluk itu makin mendekat dengan tangan nya yang besar beserta cakar yang tampak tajam dan keras seakan-akan itu adalah pisau yang siap pakai.
Tangan mahluk itu terangkat dan Yaya hanya bisa melihat dengan mata yang membulat syok.
"YAYA!"
Tubuh Yaya langsung terasa ringan dalam sekejab setelah namanya terpanggil oleh seseorang yang tak asing lagi.
"Gempa!" Kata Yaya yang tersadar kalau ia digendong ala putri oleh Gempa.
"Yaya, pegangan lah pada ku!"Kata Gempa Cepat dan Yaya pun menurut.
Yaya mengalungkan tangan nya ke leher Gempa dan berpegangan sangat erat. Gempa pun mulai kembali berlari dengan cepat nya sambil menghindari serangan yang di arahkan pada nya.
Saat Gempa melihat gang kecil dengan cepat ia membawa Yaya bersembunyi disana.
"Ya..Ya, Hosh,Hosh, Apa kau baik-baik saja?" Tanya Gempa yang menurunkan nya perlahan sambil mengisi paru-paru nya sendiri dengan udara sebanyak-banyaknya.
"Ung, Tapi kenapa kau ada disini? Ge-Ump!"
Gempa dengan cepat menutup mulut Yaya dan membuat keduanya merapat kedinding agar dapat bersembunyi di balik-bayang-bayang.
"Baiklah, Sudah aman..." Kata Gempa sambil memperhatikan sekeliling nya.
"Yaya...Ayo kita pergi!" Tambah Gempa yang tampak terburu-buru.
Namun saat akan menarik tangan Yaya, Yaya malah menarik tangan nya balik menolak ajakan Gempa. Merasa Yaya melepaskan tangan nya Gempa pun menoleh.
"Yaya, Ada apa? Cepat kita harus segera pergi dari sini..." Kata Gempa yang tampak sangat bingung melihat Yaya.
"Gempakah?" Kata Yaya pelan sambil masih bersembunyi di balik bayang-bayang gang gelap itu.
"Hah?" Gempa memiringkan kepala nya heran melihat Yaya.
"Kau, Apa kau ini Gempa?" Tanya Yaya lagi memperjelas pertanyaan nya sebelum nya.
"Apa maksud mu? Sudah jelas ini aku Gempa bukan? Memang nya siapa lagi?" Kata Gempa yang terheran-heran melihat Yaya bingung.
"Tapi matamu..."Gumam Yaya pelan.
"GGGRRRRUUUUAAAAaaaaa"
Belum sempat Yaya mengatakan apa yang ia pikirkan mahluk itu sudah menemukan keduanya.
"Gawat! Maaf Yaya! Bicara nya nanti saja, kita harus segera lari dari sini!" Kata Gempa sambil dengan cepat menarik tangan Yaya dan menggendong Yaya ala putri lagi.
Gempa berusaha melakukan yang terbaik melompati setiap atap rumah untuk pergi dari tempat itu. Namun Gerakan nya makin melambat di tambah membawa Yaya juga. Yaya pun mulai menyadari hal aneh.
"Gempa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Yaya pelan setelah menyadari suatu keanehan dari Gempa.
"Hosh, Hosh...Ha? A-Aku baik-baik saja! To-long bertahan lah sebentar lagi Yaya..." Ujar Gempa dengan nafas yang tak beraturan.
"Tapi..."
"Maaf! Aku tau kau tak suka begini tapi aku mohon bertahan lah sebentar lagi! Kita hampir sampai!" Kata Gempa yang sudah menambah laju larinya.
Yaya pun diam namun ia merasakan punggung Gempa yang basah bagaikan habis terkena hujan merasa aneh Yaya mengintip tangan nya yang menyentuh punggung gempa sedikit sebelum nya dan matanya pun terbelak kaget.
"Itu pintu keluar nya!" Kata Gempa senang dan ia pun kembali menambah kecepatan nya hingga maksimal.
Tapi sayang nya mahluk itu mendahului keduanya dan mengharuskan Gempa untuk mundur. Dengan nafas yang tak beraturan Gempa berusaha mencari jalan keluar dari tempat itu ditambah lagi kondisi nya tampak lebih buruk.
"Yaya, Apapun yang terjadi aku akan membawa mu ketempat Ying dan Gopal...Aku janji..." Ujar Gempa berusaha menenangkan Yaya tanpa melihat nya.
"Tapi Gempa Kau..."
"Elemental Magig! Shelld Wind!"
"Gempa!Cepat ikut aku!" Kata Ochobot yang tiba-tiba muncul dan berdiri dihadapan Gempa dan yaya.
Tanpa banyak berbicara lagi Gempa mengikuti Ochobot dan akhirnya mereka sampai ke Cafe dimana yang lain sedang menunggu.
"Yaya!" Kata Ying senang saat melihat sahabat nya kembali dan langsung ia peluk segera.
"Kak Hali! Bagaimana dengan gadis lain nya?" Tanya Gempa setelah melepaskan Yaya pada Ying yang menyambutnya.
"Tenang saja Fang sudah mengurusnya..." Ujar Halilintar dengan wajah datar nan serius nya.
"dan aku jamin mereka tak akan ingat apapun..."Tambah Fang semangat.
"Bagus, lalu mahluk-mahluk itu?" Tanya Gempa lagi.
Brak!
Pintu terbuka lebar.
" Sudah kami bereskan" Kata Api dan Taufan yang masuk bersamaan.
"Kami sudah melepaskan sihir yang mengendalikan mereka dan mengembalikan mereka kehabitat nya..." Tambah Gopal yang datang bersama Air.
Gempa tampak bernafas lega melihat mereka. Namun tiba-tiba Taufan menyambar kerah baju Gempa.
"Gempa Apa kau tak percaya pada kami! Kenapa kau lakukan itu!" Kata Taufan marah dan warna matanya masih sama dengan warna langit.
"Kak Taufan...A-Aku..."Gempa tampak tak bisa mengatakan apapun dan bahkan tempat itu tiba-tiba mendadak sepi.
"Apa kau masih belum percaya pada kami!? Aku sudah bilang bukan untuk melihat kami! Kenapa kau selalu membahayakan diri mu seperti itu!?" Kata Taufan lagi dengan perasaan yang sangat kecewa.
"Taufan! Cukup! Hentikan!" Kata Halilintar yang tampak marah.
"Hentikan kak Taufan!" Kata Api yang sudah ada disisi keduanya sambil berusaha melerai.
"Tolong tenang lah kak..." Ujar Air yang juga berada disisi yang lain.
Emosi Taufan tampak mereda sedikit dan tangan nya menurunkan Gempa perlahan dan melepaskan tangan nya dari kerah baju Gempa.
Gempa hanya bisa menundukan kepalanya tak berani menatap Taufan.
"Ma-Maafkan Aku...A-Aku...Hany-"
Bruk!
Semuanya tampak terdiam syok. Melihat Gempa terjatuh tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari punggung nya.
"Ge-GEMPAAAaaaaa!"
NOOOooo! Akhirnya kita sampai di penghujung ide cerita ini-#Plak# Adoh!
Halilintar : Ce-Pa-T! Minta maaf sana!
GYAAAAaaaa! Ma-maafkan aku! Tapi aku udah berjuang sih, humu! Aku juga sudah berusaha sih, Humu! aku juga sudah menulis cerita ini sih, Bahkan aku lupa waktu buat mikir beberapa kata sih, bahkan aku juga cari info-info menarik seputar dunia magig sih...lalu kenapa aku harus minta maaf?
Halilintar : Kau kelamaan sangat lah!#menyiapkan pedangnya.
Huaaaaa! Ampun mak! Maaaffffffffffffffffff!# sujud dikaki reader.
Daun: Isss! Sudah lah tuh, lebih baik Thor membalas Reviuw para Reader sekalian...
UnG! Akan ku lakukan...
Daun : Kalau gitu aku bacakan! Pertama dari Raisya Azzahra Silahkan Liz!
Ugh, terima kasih Raisya, Aku akan berjuang melakukan yang terbaik untuk selanjutnya tapi aku tak yakin untuk update kilat...hiks, gomen...gomenasai...aku akan berusaha mungkin...
Api : Hm, Iyee lah tuh...Mungkin toh...
Hiks Maaf dengan sangat lah...
Gempa : Sudah, Sudah, selanjutnya dari Review...
Ha-Halo juga, Apa kabar juga...Aku woh, sehat hanya sedikit banyak nyamuk disini dan berakhirlah diri ku dahku jatuh reviuw-kun...lalu bagaimana kabar mu? Semoga kamu sehat ya dimana pun kamu berada...hiks...
Ochobot : Lah, apa pasal pula dengan die ni? Lobet ke?
Taufan : Tak lah Ochobot, die memang macam tuh lah orang nya...
Ochobot : Iss, Iss, Kesian...#Semua hanya menghela nafas pasrah.
Fang : Dah, Dah, semua nya jangan lewatkan cerita tambahan nya ya...
Air : Eh!? Kalian ada liat editor-ku kah?#Semua menggeleng.
Air : Lah, ilang kemana mereka nih...#tepuk jidad
Oh, Bonus plus Kamus :
*Est Victor A Bestia =Penjinak Hewan/The Conqueror of a beast
*Ad Perpetuam Circulo = Pembalik Keadaan/The Ertenal Circle
Side Story
2. What your wish Air?
Seperti biasa aku mencoba bangun lebih awal dengan alarm tersayang ku. Tapi ternyata sekeras apapun alarm pingun ku berbunyi untuk membangun kan ku. Kasur tercinta ku yang empuk luar biasanya itu tak pernah gagal membuat ku tetap berbaring di atas nya yang hangat.
Tapi biarpun begitu panggilan hangat kakak ku yang paling baik sedunia selalu berhasil membuat mata ku terbuka lebar tiap paginya.
"Air! Ayo bangun! Udah pagi...Cepat mandi terus sarapan dengan yang lain...kakak ada buatkan nasi goreng kesukaanmu"
Itu lah yang biasanya ia katakan pada ku dengan suaranya yang ramah dan menenangkan setiap jiwa yang mendengarnya berbicara.
Aku pun segera bangun dan mengambil handuk ku.
Tapi seperti biasa aku bisa memperkirakan kamar mandi akan penuh dengan saudara-saudara ku yang mengantri bahkan anak dengan sihir gelap nya itu juga yang baru mulai tinggal disini beberapa hari ini.
[ Pov Air Off ]
Setelah selesai bersiap Air berkumpul bersama yang lain di meja makan yang ramai.
"Nah, Air ini sarapan mu, Nasi goreng spesial,Lalu buat Fang aku buat sup lobak merah loh, terus buat Api dan kak Taufan Telur goreng, dan buat Kak Hali sama Ochobot sama dengan ku..." Ujar Gempa yang membagikan makanan masing-masing kesukaan semua orang.
"Yey! Telur Goreng! Keju bubuk dimana kak Gempa?" Tanya Api semangat.
Tuk!
Air meletakan keju bubuk tepat disisi Api dan cabe bubuk di sebelah Taufan.
"OH, Terima kasih Air!" Kata Taufan senang melihat cabe bubuk disisi nya.
"Thanks Air!" Kata Api senang.
"Sama-sama..."Ujar Air pelan lalu kembali duduk di sisi Gempa.
"Terima kasih Air, tadi Api juga sudah membuatkan coklat panas bekal air mu jadi jangan lupa bilang terima kasih pada nya..."Bisik Gempa pada Air yang menganggu dan tampak senang mendengar kabar itu walau pun wajah nya masih tampak mengantuk.
Akhirnya setelah bersiap mereka pun berangkat kesekolah meninggalkan Ochobot yang menjaga toko.
Saat berangkat sekolah Air selalu berada disisi Gempa dan hanya memperhatikan dalam diam saudaranya yang lain lalu seulas senyuman terukir diwajahnya.
"Ah, andaikan kami lengkap...Aku rindu saat-saat itu..." Batin Air yang masih memperhatikan dalam diam.
Namun ia tak memperhatikan salah seorang dari mereka yang tertegun memperhatikan nya sejenak namun dengan cepat di alih kan.
Di sekolah Air membantu Gempa mempromosikan Cafe lagi dan disela-sela luang saat ingin sendirian ia bersantai di taman terlupakan di belakang sekolah.
Dirinya berbaring di bawah pohon tua besar yang ramah dan hangat yang tampak seperti menyambut siapapun yang mendekatinya.
Ia duduk dan memperhatikan taman itu sejenak setelah duduk lalu ia mengangkat tangan nya perlahan sebatas bahu dan-
"Elemental Magig! Sleppy Memories Rain..."
-Air mengeluarkan sihir kecil dimana bola-bola air tercipta dan turun perlahan dari pohon yang sedang menaunginya.
Seketika suasana suram ditaman itu berubah menjadi sangat hangat dan tentram. Apalagi dengan cahaya mentari yang tertutupi awan mendung muncul dan menambahkan kesan bersahabat.
"Tak biasanya kau mengeluarkan sihirmu hanya untuk melepaskan rasa lelah..."Ujar Halilintar yang ternyata sudah dari tadi tidur diatas pohon itu bahkan sebelum Air datang.
"Aku hanya ingin membuat taman ini lega saja...lagi pula setiap hari aku menyiramnya...Apa kah yang aku lakukan salah?"Ujar Air pelan masih berbaring santai dibawah pohon.
"Hum, itu bukan lah hal yang buruk lagi pula pemandangan yang seperti ini lah yang cocok untuk taman ini..."Kata Halilintar yang membuka mata nya dan menatap keatas nya dimana dedaunan menutupi cahaya mentari yang menyinari taman itu.
Air yang mendengar itu pun tersenyum namun senyuman itu pun menghilang.
"Kak Hali menurut mu apa yang akan terjadi jika kita kembali berkumpul bersama lagi? Apakah kita akan mati?" Tanya Air pelan.
"Memang ya kau berharap apa?"Tanya Halilintar balik.
"Tak ada...hanya jika bisa...Aku ingin kita diberi kesempatan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama lagi seperti dulu..." Jawab Air dan ia menurunkan sedikit topinya hingga wajahnya benar-benar tak tampak lagi.
Halilintar tampak tak memberikan komentar nya.
"Walau hanya sehari, sehari saja sudah cukup untuk ku...aku tak akan meminta lebih dari itu lagi...karena aku sangat menyukai suasana hangat saat kita berkumpul bersama, seperti saat Kak Hali yang memaikan kecapi dengan santai saat kita bersama, Kak Taufan yang banyak menunjukan hal baru padaku dan Kak Gempa yang juga mengajarkan ku banyak hal yang tak kuketahui dalam memberekan rumah dan masakan, Api yang tak pernah bosan mengajak ku bermain, Daun yang meracik obat demam untuk ku, Cahaya yang membuat ku nyaman tidur didekatnya yang senang membaca buku di waktu malam..."Kata Air yang perlahan demi perlahan suara yang mulai tercekat dan berat.
Halilintar bahkan turun dan duduk disisi Air yang masih terus berbicara panjang lebar dan merangkul pundak adik nya itu pelan.
"Aku hanya berharap...Aku hanya berharap kita bisa kembali bersama menghabiskan waktu seperti dulu lagi...hanya itu saja..." Ujar Air pelan dan tiba-tiba tempat itu langsung turun hujan deras.
"Maaf kan Aku, Menjadi kakak yang tak berguna Air..."Batin Halilintar yang merangkul erat adik nya yang menyembunyikan wajah nya dengan topi itu.
"Suatu saat nanti entah dimana dan kapan pun itu kita akan selalu bersama..."Bisik Halilintar pada Air yang sudah tak berkata-kata lagi.
Disisi lain Gempa yang berada di kelas bersama Fang disisinya.
"Ah, Hujan, aku tak membawa payung..."Gumam beberapa anak dikelas itu.
"Ada apa Gempa?" Tanya Fang heran melihat Gempa yang terus menatap hujan yang turun dari jendela kelas dengan wajah murung.
"Hu!? A-Ah...tidak ada apa-apa..."Ujar Gempa kikuk setelah sadar dari lamunan nya.
Tap!
"Nah, minuman hangat buat kalian..." Ujar Api yang datang dan menepuk pundak Gempa.
"Oh, Terima kasih Api, Hum? Tumben kau minum banyak Api?" Tanya Gempa yang melihat Api membawa satu botol lagi minuman hangat.
"Ini buat dia..."Ujar Api sambil menoleh kearah lain.
Gempa terdiam dan Fang menatap bingung keduanya.
"Maaf ya..."Ujar Gempa pelan sambil tersenyum penuh arti.
"Ha-Ah! Itu bukan hanya beban kak Gempa sendiri kami juga ada bersama mu...selalu..." Ujar Api dengan wajah agak kesal namun malu setelah menghela nafas berat.
"Hum! Terima kasih..."Kata Gempa dengan senyuman tulus.
Fang yang memperhatikan sejak tadi hanya bisa terdiam bisu dan tampaknya mulai paham apa yang mereka bicarakan.
"Ternyata mereka benar-benar kesulitan ya..." Batin Fang.
Lalu disisi lain Ochobot sedang mengelap gelas dengan wajah berat dan tampak penuh rasa bersalah.
"Maaf kan aku...pahlawan Boboiboy, aku membuat anak-anak mu menderita karena permintaan egois ku sebagai pangeran bodoh...Aku benar-benar sudah membuat kesalahan fatal yang tak termaafkan..." Ujar Ochobot pelan sambil menatap gelas kaca yang di lap nya.
End Side Story
