Disclaimer : Attack on Titan milik Hajime Isayama
fanfic ini milik saya, tidak ada maksud tertentu dibalik penulisan fiksi ini hanya untuk kesenangan semata.
enjoy ()
*
Perlu diketahui, hari Sabtu adalah satu dari ke tujuh hari dimana SEHARUSNYA kita bisa bernafas dengan lega dan beristirahat dari kesibukan hari lainnya. Jeda seperti itu diperlukan agar otak manusia tidak meledak karena padatnya aktifitas yang dijalani.
Lantas bagaimana jika satu hari yang amat precious itu ternyata masih saja diganggu oleh kehadiran para dedemit cilik di rumahmu yang tidak bisa dirapatkan mulutnya. Ekhem, mungkin yang satu itu hanya diperuntukkan untuk satu-satunya bocah perempuan berkacamata maniak Titan disebelah sana yang astaga, sejak tadi tak hentinya dia bertanya pada Eren tentang hal-hal yang absurd.
Pertama kali Eren maklum. Wajar karena anak-anak memang selalu penasaran akan sesuatu. Terkadang dirinya begitu juga kok. Tapi, makin lama pertanyaannya semakin emejing.
"Kak, kenapa Titan itu telanjang?"
Nah kan mulai lagi..
"Kak, besar nanti aku ingin menikahi Titan!"
Setelah itu si bocah tertawa terbahak bahak.
Sekarepmu!
"Kak.."
Si bocah klimis memanggil
"Hmmm.."
Eren menyahut malas.
Mereka semua tengah berada di halaman belakang rumah keluarga Jaeger. Ternyata ruang tengah adalah opsi terburuk untuk tempat bermain para bocah ini. Eren tidak bisa membiarkan vas bunga kesayangan ibunya terus di endus oleh si bocah Mike itu dengan alasan dia suka dengan wangi bunganya. Dan buku ayahnya yang amat berharga harus dijauhkan dari tangan si Erwin, bocah klimis yang hobi menggerataki seluruh isi rumah dengan rasa penasaran yang kelewat tinggi. Atau juga sofa yang tiba-tiba jebol karena di salah gunakan sebagai mainan trampolin oleh si bocah Titan, namanya Hanji kalau tidak salah. Tapi diluar dugaan, Levi yang Eren kita akan menjadi bocah paling nakal ternyata lebih memilih untuk duduk anteng dan menonton televisi.
Ini mah apanya yang main. Orang pada sibuk sendiri kayak gitu
Dan pada akhirnya halaman belakang menjadi pilihan terbaik. Setidaknya Eren bisa mengawasi mereka semua dari satu sudut. Tunggu sebentar, tadi ada yang memanggilnya kan? Eren menoleh, oh si klimis memanggilnya toh.
"Kak Eren, liat ini deh.."
Bola mata Eren bergulir pada objek yang tengah disodorkan Erwin padanya.
"Apa sih GYAAAAAA... CEPAT SINGKIRKAN ITU..."
Teriakan membahana Eren menggema di halaman belakang karena benda yang disodorkan Erwin itu ternyata ulat daun yang alamak, itu besar sekali dan Erwin hanya memegangnya dengan tangan kosong! Eren hampir kejang kejang.
"Ini lucu loh kak, coba pegang deh.."
Entah ingin mengerjai Eren atau apa, Erwin makin menyodorkan ulat itu pada Eren yang sudah berdiri di atas kursinya.
"Tidak-tidak Erwin jangan nakal, cepat buang itu ya?"
Mata biru Erwin mengerjap polos
"Hm? Kak Eren takut sama ulat ya?"
Tanyanya.
"Duh, bukan takut tapi geli.."
Eren makin merinding melihat ulat itu yang menggeliat di tangan Erwin.
"Tapi aku gak geli tuh?" Ucap Erwin.
"Itu sih kak Eren nya aja yang payah. Udah gede masa takut sama ulat."
Levi di sebelah berujar, dia bersama Hanji sedang bermain menyusun balok. Hanji tertawa terbahak-bahak sedangkan yang satu lagi si Mike, entahlah Eren lihat dia lagi sibuk mengendus bunga-bunga di kebun milik ibunya.
Sebagai satu-satunya yang sudah 'gede' Eren merasa di permalukan. Tapi bodo amatlah kan dia emang geli dengan ulat itu.
"Ya, ya terserah kalau aku payah, makanya cepat SINGKIRKAN ULATNYA.." teriak Eren lagi.
"Tapi coba deh kak pegang sekaliii aja ya..." Erwin memaksa dan menyodorkan ulat itu semakin dekat. Eren semakin jejeritan.
"TIDAK...
GYAA..."
BRUK...
"..."
"..."
"..."
karena saking paniknya, Eren yang berdiri diatas kursi terjatuh dan jidat yang belum sembuh karena tadi pagi kembali berciuman dengan lantai rumahnya. Kali ini di sisi yang satunya.
"Awww.."
Satu lagi plester tanda silang menempel manis di jidatnya. Erwin menatapnya dengan mata biru yang berkaca-kaca. Eh? Dia merasa bersalah kah?
Levi dan Mike juga ikut mengerubunginya seakan kejadian barusan menjadi hal yang amat menarik bagi mereka. Hanji? Dia udah nemplok di punggung Eren sejak tadi.
"Kak Eren, sakit ya?" Tanya Erwin yang bibirnya sudah bergetar.
"Eh? Tidak kok tidak sakit."
Jangan nangis pliss..
"Tapi sampe di plester gitu, pasti sakit ya kan? HUEEE.. INI SALAH AKU..."
erwin menangis kencang karena merasa bersalah, tuh kan Eren kelabakan. Dia tidak tahan mendengar tangisan bocah. Aduh gimana ini? Batinnya.
"Eh, jangan nangis dong.. enggak kok gak sakit liat nih.."
Eren memencet-mencet plester silangnya dengan tersenyum seakan tidak terasa sakit.
"Tuh, ga sakit kan?"
Sakit banget gila!
"Sudah, jangan nangis lagi ya."
Eren mengelus helaian pirang itu, diluar dugaan ternyata rambut klimisnya lembut. Ok abaikan.
Tapi cara tadi efektif, Erwin tidak lagi menangis. Levi di sebelah mengerjap takjub, entah apa yang tengah dia kagumi.
"Masa sih? Coba.."
Gyut
"GYAAAAAA."
Hanji yang nemplok di punggung Eren malah memencet-mencet jidatnya dengan keras.
"Tuh sakit kan?"
"Di pencet pake kekuatan gajah ya sakit lah Bambang.." ujar Eren pada Hanji..
"HUAAAAA.."
Ups,
Erwin yang sudah agak tenang kembali menangis.
Eren menghela nafas lelah, sekarang malah giliran dia yang pengen mewek.
Tapi di saat itu, Eren melihat sesuatu yang langka. Levi, si bocah yang Eren kira paling cuek, pendiam serta nakal, mendekati Erwin dan memeluknya. Dia mengusap-usap punggung Erwin dan menenangkan bocah itu. Secara ajaib Erwin berhenti menangis dan hanya menyisakan sesenggukan kecil.
"Wew, apa Levi memang selalu seperti itu?" Eren merasa takjub pada bocah itu.
Eren, Hanji dan Mike melihat adegan itu. Bagi Eren itu tidak biasa tapi bagi dua bocah yang lain itu sudah biasa.
"Dia memang baik om.."
Ujar Mike yang duduk dipangkuan Eren.
"Jangan panggil aku om! Maksudku, ternyata Levi memiliki sifat yang diluar dugaan."
"Dia itu perhatian kak Eren, tapi ya gitu.. muka nya galak sih jadi ga kelihatan."
Hanji memeluk leher Eren.
Eren tersenyum sekaligus terharu melihatnya. Yah bagaimanapun mereka masih bocah. Sifat polosnya murni berisi ketulusan.
Setelah Erwin benar-benar berhenti menangis, Levi duduk lagi seperti biasa dan memasang tampang cuek andalan miliknya. Eren tersenyum.
"Terimakasih Levi.."
Rona kemerahan tercetak di pipinya sesaat setelah Eren memuji Levi, dia memalingkan wajahnya. Malu.
Eren terkekeh.
"Nah, sekarang apa mau melanjutkan main.."
Kruyuukk
Eh loh? Eren melirik Hanji di belakangnya, dimana suara itu berasal.
"Hehe, kak Eren aku lapar.."
Kruyuukk
Suara lain menyusul, tepatnya berasal dari ketiga bocah lainnya. Mereka memandang Eren dengan mata memohon.
"Pffttt.. iya baiklah, aku akan memasak sesuatu untuk kalian. Ayo sekarang semuanya ke ruang makan."
Tanpa disuruh dua kali mereka beranjak dari halaman belakang dan menuju dapur.
Eren menyuruh mereka berempat menunggu di meja makan sementara dirinya memasak. Sekarang rasanya dia bukan terlihat sedang belajar menjadi kakak lagi, tapi bapak rumah tangga sekaligus. Ah, tak apa toh Eren menikmatinya. Entah kenapa rasa kesalnya pada bocah-bocah itu hilang setelah kejadian tadi. Sesingkat itu, ya pada awalnya memang dia tidak kesal-kesal amat sih. Sekarang dia sadar kalau dirinya berfikiran terlalu lebay, ya oke Eren akui itu. Dirinya anak tunggal jadi wajar kalau belum pernah merasakan berinteraksi dengan anak kecil akan se-merepotkan sekaligus se-menyenangkan ini. Di lingkungan dekat rumah Eren jarang ada anak kecil BTW.
Eren memakai apronnya. Mengambil bahan makanan di lemari es, sebaiknya dia memasak yang sederhana saja yang penting cepat karena bocah-bocah itu sudah kelaparan.
Saat dia menutup kembali lemari esnya, seseorang menarik apron Eren. Itu Levi
"Ada apa Levi?"
"Aku tidak ingin makanannya tidak enak, jadi aku akan membantu."
Ini dia, bocah kesukaan Eren, dia memang selalu mengejutkan Eren dengan sifatnya yang tidak mudah ditebak itu. Eren tersenyum.
"Kau mau membantuku? Baiklah, tapi meja dapurnya terlalu tinggi kau tidak sampai.."
Memotong ucapan Eren, Levi langsung menarik kursi dan dirinya menaiki kursi tersebut. Kalimat Eren menggantung, dia tersenyum kikuk. Bocah ini pintar juga. Batin Eren.
"Tapi, aku tidak akan mengizinkan mu memegang pisau atau mendekati kompor jadi sebaiknya bantu persiapkan alat makan di meja saja ya? Biar aku yang memasak tenang saja aku jamin pasti enak." Eren kembali tersenyum. Sejuta Watt.
Levi menatap senyum itu agak lama sebelum akhirnya mengangguk dan menuruti perkataan Eren.
Eren memutuskan untuk memasak omelette. Selain cepat, makanan itu mudah untuk dibuat dan Eren jago membuat nya BTW jadi ya, dalam sepuluh menit lima porsi omelette sudah tersaji di masing-masing piring. Levi menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, saat Eren membawa makanan itu ke meja, dia terlihat sedang menuangkan minuman ke masing-masing gelas.
"Wah, terimakasih ya Levi, sekarang duduklah makanannya sudah siap!"
"Hore... Aku sudah lapar kak Eren."
"Hmm baunya enak."
Makanan sudah tersaji ,Eren ikutan duduk di samping Levi. Sebelum makan dia memimpin doa. Hanji yang sudah kelaparan langsung menyerbu omelet itu hingga mulutnya penuh.
"Hei, hati-hati nanti tersedak." Eren memperingati dan dibalas cengiran oleh Hanji.
Eren ingin sweatdrop melihat Mike yang mengendus makanannya dulu sebelum di makan, ampun deh ni bocah, penciumannya setajam apa sih. Dia kira dirinya anjing herder?
Bocah Erwin itu makan dengan elegan, matanya masih agak bengkak karena menangis. Kasihan juga Eren melihat bocah itu.
Sedangkan Levi menatap makanannya tanpa ada niat untuk menyantapnya. Kenapa dia?
"Kenapa tidak dimakan? Tidak suka ya?" Tanya Eren, Levi balik menatapnya.
"Aku alergi telur."
Ucapnya bosan.
"HEEEHH.. kenapa tidak bilang, kalau begitu jangan makan itu." Eren mengambil piring Levi.
"Aku tidak berniat memakannya."
"Kenapa tidak mengatakannya dari awal, kau pasti sudah lapar kan? Hmm sepertinya tadi pagi masih ada sup, mau kuhangatkan? Kau tidak alergi sup kan?" Eren bertanya konyol.
"Tidak."
"Tunggu sebentar ya.."
"Um."
Eren beranjak untuk memanaskan sup buatan ibunya. Dia menyalakan kompor dan menunggu agar sup nya sedikit mendidih.
Ting tong..
Bel rumahnya berbunyi. Siapa yang bertamu?
"Levi, tunggu sebentar ya? Aku mau membukakan pintu dulu."
Eren beranjak meninggalkan bocah-bocah itu di ruang makan. Dia mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum pergi.
Ting tong..
"Sebentar.."
Cklekk
"Sia.. pa? Kuda? Ngapain Lo?"
Ya, sudah bisa di tebak, siapa orang yang Eren panggil kuda itu.
"Yo! Err ren, Lo lagi belajar jadi bapak rumah tangga atau apa?" Jean menunjuk apron yang dipakai Eren. Sial, dia lupa mencopotnya.
Eren berniat menutup pintu kembali namun kaki Jean menahannya.
"Eits, sori bro, bukan maksud gue ngeledek."
Muka Eren yang udah asem makin asem kalau udah sama si kuda. Bawaannya pengen ngejitak palanya terus.
"Gue tadi pagi udah bilang mau balik lagi kan? Nah sekarang gue udah disini."
"Masa sih? Setelah dengan tidak sopannya lu pergi meninggalkan segala penderitaan di kamar gue, ngapain lu balik lagi." Eren bersidekap masih gedek sama Jean karena ulahnya tadi pagi. Si kud.. eh maksudnya Jean cuma nyengir menampilkan deretan giginya yang dimana hal itu membuat dirinya terlihat semakin mirip sama sodaranya, ya kuda itu.
"Hehe, ye maap, tadi pagi gue buru-buru. Lagian ni tugas belum selesai bantuin gue ya plissss."
"Lagian tadi malem bukannya ngerjain tugas malah main game."
"Iya iya gue salah oke, gue udah mohon sama Lo gue harus ngapain lagi supaya Lo mau bantuin gue."
Eren menyeringai.
"Sembah dulu kaki gue."
"Najis."
Eren terbahak melihat muka gedek Jean.
"Ya udah cepet masuk, tapi lu jangan kaget kalau di dalem ada.. ASTAGA LEVI.."
Eren berlari menghampiri Levi yang tengah menaiki kursi dan sedang mengaduk sup yang sedang dihangatkan meninggalkan Jean yang kebingungan.
"Cepat turun, aduh, kan sudah kubilang untuk tidak mendekati kompor." Eren menegurnya, sudah macam emak-emak.
"Kau lama, aku sudah lapar." Ucap Levi. Eren mengangkat tubuh mungil itu dan menurunkannya dari kursi.
"Iya maaf kalau kelamaan sekarang kembali lagi ke kursimu sup nya sudah matang nih."
Mengangguk, Levi duduk kembali. Kemudian Eren menyajikan sup itu dan kali ini Levi makan dengan lahap.
"Err. Ren sejak kapan Lo punya anak?"
Tanya Jean setelah melihat dapur Eren yang diisi oleh keempat bocah yang masih kecil-kecil.
"Loh, Hanji? Ngapain disini." Setelah Jean melihat bocah perempuan berkacamata tengah makan dengan lahap.
"Lo kenal sama dia Jean?"
"Anak tetangga gue."
"Hai om kuda..." Sapa Hanji ceria pada Jean.
"Pffttt, Lo di panggil om kuda tuh, cocok banget hahahaha."
"Puas Lo. Hanji jangan panggil om dengan nama itu ok, panggil om Jean."
"Ok om.." Hanji mengacungkan jempolnya.
"Lu mau aja di panggil om, gue sih ogah."
"Gapapa, asal jangan panggil Tante aja."
"Serah lu dah. Jean gua punya pertanyaan penting."
Eren menatap Jean serius.
"Paan?"
Mau tidak mau Jean merasa tegang juga karena tatapan Eren itu.
" Lo minta bantuan gue buat ngerjain tugas kan? Tapi gue harus jagain mereka juga? Gimana dong?" Tanya Eren.
"Ya ga gimana-gimana, biarin aja bocah-bocah itu main sendiri kagak bakal ilang juga."
"No, no, no.. ga bisa Jean, mereka harus tetep gua awasin, kalau engga nanti akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.."
Jean melirik ke jidat Eren yang dihiasi plester di kanan kiri. Oh dia paham.
"Terus gimana dong? Besok nih dikumpulkannya? Lo tega ngeliat gua dihukum gitu, jahat banget sih lu."
"Ck, gua belum selesai ngomong kampret! Iya, gua ga bisa bantu Lu ngerjain tugas, maka dari itu lu bisa nyalin punya gue yang udah selesai, puas lo?" Jawab Eren, seketika muka si kuda terlihat cerah sekali, dia merasa terharu kepada sahabat nya itu.
"Eren.. terimakasih, kau menyelamatkan hidupku..."
Refleks Jean meluk si Eren sampe yang di peluk sesak nafas, saking senengnya dia..
"Ekhem.. om-kak kalau mau pacaran jangan di depan anak kecil dong.."
Doeng..
Secara otomatis Eren melepaskan pelukan Jean yang membuat si kuda sukses terjengkang.
"Eh, bukan Hanji, jangan salah paham, dia bukan pacar kakak, lagian kakak bukan homo ya! Enak aja. Sudah sekarang makan lagi."
"Sudah habis kak." Erwin menjawab. Eren memeriksa piring mereka semua dan memang benar, makanannya sudah tandas tak bersisa. Mereka benar-benar kelaparan.
"Oh? Bagus deh, kalian semua pintar."
Eren beranjak, berniat membereskan meja makan meninggalkan si kuda yang masih tergeletak di lantai. Nanti juga bangun sendiri.
.
.
.
.
Setelah makan siang, bocah-bocah itu meneruskan main mereka, kali ini benar-benar main bersama bukan main sendiri-sendiri seperti tadi. Main kejar-kejaran tepatnya. Ya masih di belakang rumah, mereka semua bersemangat. Kadang Eren lebih kasihan ke Levi, karena bocah itu yang memiliki postur tubuh lebih kecil dari yang lainnya, tapi yang ia heran kenapa selalu Hanji yang kalah?
Eren cekikikan sendiri melihat mereka semua bermain, sumpah rasanya seperti sudah punya anak saja.
Jean yang sedang menyalin tugas di buku Eren diam-diam memperhatikan si Brunette. Eren tidak mengizinkan Jean untuk membawa bukunya dan menyalinnya di rumahnya sendiri, jadi mau tidak mau Jean harus menyalinnya di sini.
"Awas, nanti kesurupan.. cekikikan sendiri."
Celetuk Jean.
"Apaan sih, gue cekikikan ada alasannya kali." Eren duduk di teras belakang rumah sedangkan Jean menyalin tugas itu di sampingnya sambil tengkurap.
"Bener deh ren, kalau di lihat-lihat lu udah pantes punya anak, jadi bapak rumah tangga udah pantes tuh."
Jean menghentikan sejenak kegiatan menulisnya dan memperhatikan Eren yang duduk di sampingnya.
Eren hanya melirik sebentar lalu kembali memperhatikan bocah-bocah itu.
"Ya udah si."
"Eh? Lu kagak marah di katakan bapak rumah tangga?" Bagi Jean ini akan menarik.
"Gak."
"Idih jutek, gak biasanya nih, ada apa sih, ada apa?" Jean jadi kepo, sahabatnya ini Eren Jaeger loh, si bocah tukang marah-marah suka ngegas dan rival adu urat Jean. Mendadak kalem begini? Ada apa dengan dunia?
"Lebay amat sih lu Jean, biasa aja lah."
Sangkal Eren.
"Yee, justru lu yang kayak begini ga biasa tau. Apa yang membuat seorang Eren Jaeger jadi kalem begini, setau gue cuma satu hal, humberger. Udah itu doang." Jean merubah posisinya jadi duduk di samping Eren dan ikut memperhatikan si bocah-bocah bermain.
"Gue juga gak tau Jean, tadi pagi gua minta sesuatu ke mama gue.."
"Huh? Apaan?"
"Gue pengen Adek baru.."
Doeng..
"Serius lu pengen punya Adek?"
"Cuma isenga aja sih minta itu, tapi mungkin mama gue nganggepnya serius. Nah pas banget setelah itu mama dapet telepon dari temannya, dia di ajak jalan-jalan, tapi temannya itu sekaligus minta tolong nitipin anaknya yang masih kecil ke gue, lu liat anak yang rambutnya item yang paling kecil tuh." Eren menunjuk Levi.
"Hooh dia toh?"
"Iya"
"Tapi kalau yang dititipin cuma dia, anak yang lainnya itu kok bisa ada di sini." Tanya Jean
"Nah, itu lah dia bawa temen dan lu tau sendiri kejadian berikutnya kayak gimana."
Eren terdiam, Jean masih memperhatikan, dia kira Eren akan melanjutkan ucapannya, ternyata tidak.
"Udah gitu aja? Lo tau, jawaban lu ga ngejawab pertanyaan gua."
"Hah? Lu emang nanya apaan si?"
Eren lemot. Jean tepuk jidat.
"Itu loh, kenapa lu ga marah saat tadi gua panggil mirip bapak rumah tangga." Dengan sabar Jean mengulang pertanyaannya.
"Oh itu, bilang dong.."
Gua udah bilang dari awal Bambang..
"Gua juga gak tau Jean, mungkin gua sedikit terkesima sama sifat bocah-bocah itu. Yah mereka semua unik sih, terutama si Levi itu. Lu liat mukanya yang jutek, gua awalnya ngira dia anak yang paling nakal dan bandel, ternyata enggak. Dia baik banget bahkan Dimata teman-temannya. Gua jadi ngerasa.. yahh."
Eren kehilangan kata-kata.
"Lu jadi sayang sama mereka."Jean meneruskan. Wajah Eren jadi merona dia salah tingkah.
"Mu-mungkin."
Jean nyengir liat sobatnya itu merona hebat.
"Udahlah akuin aja kalo lu sayang, toh anak-anak memang unik. Mereka masih polos dan murni."
Jean menumpu tubuhnya pada tangan.
"Itu juga yang gua pikirin karena mungkin gua anak tunggal jadi perasaan seperti ini jarang gue rasain Jean." Eren tersenyum.
"Jadi.. lu masih pengen punya Adek ga?"
"Malah sekarang gue pengen punya anak Jean." Eren nyengir.
"Buset, nikah dulu baru punya anak."
"Gue tau elah,"
"Ohh jadi begitu alasan lu ga marah.. hmm menarik." Jean berlagak mengusap-usap dagunya.
"Kenapa?" Eren merasa curiga.
"Ya itu tanda kalau lu udah dewasa."
"Iyalah gue kan udah gede."
Tiba-tiba Jean berdiri membuat Eren keheranan.
"Mau ngapain lu Jean boy?"
"Main sama mereka, jarang-jarang gue main sama anak-anak, ayo.."
Jean menarik tangan Eren dan bergabung bersama bocah-bocah itu untuk bermain.
"Yeey om kuda ikutan main.." Hanji kesenangan melihat om kuda kesayangannya.
"Kak Eren sini jadi kuda, aku dan Levi naik di punggung kakak ya.."
Ujar Erwin. Mau tidak mau Eren jadi kuda dadakan dan merelakan punggungnya di naiki Erwin dan Levi. Sedangkan Jean jadi kuda (emang udah mirip sih) Hanji dan Mike naik ke punggungnya.
Bocah-bocah itu tertawa dan Levi, tak di sangka bocah itu juga bisa tertawa seriang ini.
.
.
.
.
Sore menjelang, Eren membuka matanya. Dia, Jean dan keempat bocah itu ketiduran di teras belakang rumah setelah tadi mereka semua kecapean bermain. Disisi kiri kanannya ada Levi dan Erwin. Hanji tertidur memeluk tubuh Jean dan Mike menggunakan tangan Jean sebagai bantal.
Eren mencuri lihat ke arah jam dinding di dapur. Sudah pukul setengah lima. Mamanya sebentar lagi pulang bersama Tante Kuchel. Eren membangunkan Jean.
"Bangun kuda, sudah sore.."
Jean membuka matanya. Dia tidak bisa bergerak karena pelukan Hanji.
"Ren, bantuin lepasin ni bocah."
"Sekalian bangunin aja, ini sudah sore mereka harus pulang."
Jean dan Eren membangunkan bocah-bocah yang masih pulas itu. Eren tidak tega sih tapi kalau dibiarkan sampe malam kasihan orang tua mereka pasti akan khawatir.
Setelah mencuci muka dan mereka semua merasa segar kembali, Erwin Hanji dan Mike serta Jean pamit pulang. Jean mengantar ketiga bocah itu kerumahnya tidak mungkin dia membiarkan mereka pulang sendiri-sendiri. Terutama Hanji, dia kan anak tetangganya jadi sekalian saja Jean antar semua. Kali ini Eren harus berterima kasih pada Jean karena telah mengantar anak-anak itu. Sebelum pergi, Hanji, Erwin dan Mike sempat memeluknya bergantian, oohh Eren jadi terharu dan tidak ingin berpisah.
"Udah ren jangan malu-maluin, nanti juga ketemu lagi."
Ucap Jean yang melihat temannya itu jadi berubah melankolis sekarang.
Eren dan Levi melambaikan tangan pada mereka semua hingga mereka keluar gerbang.
Setelah itu Eren mengajak Levi masuk dan menunggu mamanya pulang.
"Kak Eren.." panggil Levi.
Eren yang berjalan di depan menghentikan langkahnya dan menghadap Levi.
"Ada apa Levi?"
Levi tidak langsung berbicara, matanya melirik-lirik ke segala arah, Eren yang sedikit heran akan kelakuannya menghampiri Levi lebih dekat dan mensejajarkan tingginya dengan Levi.
"Kenapa hm? Kau ingin mengatakan sesuatu?"
Levi masih diam, tapi beberapa saat kemudian dia mulai berbicara.
"Kak Eren, Kaka adalah kakak yang terhebat.."
Levi memeluk lehernya setelah berkata sepeti itu.
"Eh? L-levi?"
"Terima kasih kak."
Eren masih tidak percaya dengan bocah ini. Benar-benar penuh kejutan. Eren balas memeluk Levi.
"Sama-sama."
Eren tidak tahu saja, kalau ini adalah pertama kalinya bagi Levi merasakan kasih sayang dari seorang kakak. Ya karena Levi itu anak yang sedikit 'spesial'. Hanji, Erwin dan Mike adalah teman-teman yang Levi punya, selain itu dia tidak dekat dengan siapapun. Dan Eren adalah sosok yang sempurna bagi Levi untuk di jadikan kakak. Itulah alasan mengapa dia sejak tadi terlihat kedapatan menatap Eren dengan kagum.
Tin..tin
Suara klakson mobil terdengar. Mamanya dan Tante Kuchel pasti sudah pulang. Levi melepas pelukan dan berlari ke pintu depan. Benar saja, disana mamanya dan Tante Kuchel sedang turun dari mobil, Tante Kuchel sedikit tersentak melihat Levi yang berlari ke arahnya dengan pipi yang bersemu merah. Rupanya sejak memeluk Eren, anak itu merona dan tidak ingin Eren melihatnya. Levi di gendong Kuchel dan masih menyembunyikan rona merah itu di ceruk leher sang ibu.
"Loh, ada apa Levi?"
"Eren kamu tidak menjahili Levi kan?" Carla salah mengartikan sikap Levi, dia kira Levi ingin segera pulang karena Eren menakalinya.
"Eh engga ma, aku gak tau tadi dia langsung lari pas Tante Kuchel pulang.." Eren membela diri.
"Ah, bukan Carla, Levi seperti ini itu artinya dia sedang bahagia. Terima kasih ya nak Eren sudah menjaga Levi hari ini."
"Sama-sama Tante." Eren tersenyum.
"Kalau begitu aku pamit, Levi pamit sama Kak Eren."
Levi sedikit mengangkat wajahnya yang masih memerah.
"Sampai jumpa.." kemudian dia menyembunyikan wajahnya lagi. Eren tidak tahan untuk tidak mengacak Surai hitamnya.
"Sampai jumpa juga Levi.."
Kuchel berjalan pulang sambil menggendong Levi yang melambaikan tangannya pada Eren, Eren juga membalas lambaian itu, dia sedikit tidak rela berpisah dengan Levi.
"Nah, nah.. sepertinya telah terjadi sesuatu nih. Bagaimana? Setelah sehari menjadi kakak apa kamu masih ingin punya adik?" Tanya Carla.
"Aku tidak ingin punya adik.." jawab Eren.
"Loh?"
"Aku ingin punya anak ma.."
entah kenapa Eren dan pembaca merasa Deja vu dengan jawabannya yang barusan itu.
Selesai...
A.n.
Huaaaaaa.. maafkan aku Erwin danchou, dirimu saya jadikan secengeng itu. Dan apaan si Levi itu, kok jadi tsundere malu-malu kucing gak jelas wwkkw. Hanji dan Mike mah kayaknya masih normal deh ye kan? Ah sudahlah jadiin mereka semua ooc sesekali ga papa kan?
Thanks for reading Minna..
