Previously (Chapter 1) :

Jongin terdiam. Tuan Andrew tersenyum, kemudian menatap wajah Jongin dengan pandangan teduh. Jongin agak memikirkan jawaban itu, menatap ke arah manik hazelnut dari letnan yang perlahan memotivasinya.

"Bebaskan dirimu. Jadilah bebas, Jongin. Tidak ada yang berhak melawanmu di sini. Jika mereka melawan, lawan mereka balik dengan kekuatan dalam dirimu. Jadilah kuat, perkasa, selayaknya namja lain. Kau punya kesempatan yang sama dengan semua namja di luar sana."jelas Tuan Andrew.

"Mengapa kau begitu percaya bahwa aku bisa, Tuan Andrew?"tanya Jongin, meminta penjelasan Tuan Andrew.

.

.

"Wajahmu mengingatkanku pada salah seorang kawanku di infanteri yang berkhianat pada kerajaan ini. Aku ingin ada seseorang yang menggantikan posisinya dalam pasukan, dan aku percaya itu adalah kau."

.

-If You Could See Me Now-

.

.

Chapter 2

"Minggir! Minggir!"

Orang-orang berebut untuk memasuki gerbang lapangan kerajaan. Mereka membawa pakaian-pakaian bertempur masing-masing, dengan banyak persenjataan di sana. Beberapa orang bahkan mendorong orang lain agar bisa masuk.

Jongin berjalan di belakang kerumunan. Dia tidak mau mengambil resiko untuk terinjak-injak oleh orang-orang di sana. Ia menatap interior lapangan kerajaan yang luas dan megah. Lapangan ini bisa jadi tempat orang-orang tinggal; batin Jongin.

Jongin berjalan perlahan, mengikuti kerumunan itu.

"Woahh! Ini arena seleksinya!"

TAK TOK TAK TOK

Terdengar suara tapak kaki kuda. Mereka menoleh, kemudian mendapati sekelompok tentara dengan kuda tunggangan mereka. Salah seorang dari mereka memimpin pasukan itu, dengan helm besi yang dihiasi bulu burung berwarna merah dan biru.

"Welcome, para ksatria Paris!"pekiknya.

Jongin menatap wajah namja yang terlindungi dengan helm itu, memperhatikan ucapannya.

"Kali ini, kita akan lakukan seleksi sederhana. Tidak semua orang bisa melalui seleksi ini. Kalian akan melalui beberapa tahap seleksi yang agak tertutup, dan semoga Tuhan memberkati kalian."ucap pimpinan itu, kemudian ia menunggangi kudanya menjauh dari mereka.

KRIET

Gerbang lapis dua kerajaan terbuka, mempersilahkan mereka masuk. Kerumunan namja itu pun segera merangsek masuk ke dalam gerbang yang terbuka, tak terkecuali Jongin.

Sesuatu yang mengerikan tentang seleksi pun sudah menunggu mereka.

-XOXO-

Seleksi pertama.

"Kalian akan bekerja dalam tim. Kami membutuhkan prajurit yang bisa bekerja dalam tim."jelas salah seorang tentara yang menjaga tempat seleksi pertama.

Jongin menatap sekeliling, lantas agak meringis. Tidak ada yang dia kenali di situ, dan dia ragu dia bisa bekerja sama dengan baik.

"Bentuk satu tim yang terdiri dari dua orang!"

Orang-orang mulai bergerak, mencari kawan-kawan yang mereka kenali untuk menjadi anggota tim. Bahkan ada beberapa orang yang saling berebut orang lain agar bisa satu tim. Jongin sendiri tidak tahu harus bagaimana.

"Hey."

Jongin menoleh, ketika seorang namja berdiri di depannya. Jongin agak tergagap, ketika tahu bahwa orang di hadapannya sangatlah asing baginya.

"Aku Sehun. Kau..?"tanya namja bermata tajam itu.

"Jong-Jongin."jawab Jongin dengan gugup.

"Ah, Jongin. Salam kenal. Kau.. terlihat gugup."ucap Sehun, dikekehi Jongin yang perlahan bisa menyesuaikan dengan Sehun.

"Aku tidak yakin bisa melewati seleksi ini."ucap Jongin, yang kemudian diberi senyum miring oleh Sehun.

"Oh, kau harus bisa melewatinya."

"Maksudmu?"

Jongin menoleh pada Sehun yang tengah menatap pintu di hadapannya dengan pandangan tertantang. Dia menatap Jongin, kemudian tersenyum miring lagi–Jongin berani bertaruh bahwa senyum itu pasti sudah menaklukan banyak yeoja di luar sana.

"Dari yang aku tahu, seleksi kerajaan ini sangatlah rahasia. Tidak boleh ada yang keluar dari kerajaan ini sekali dia memasuki areanya."ucap Sehun, membuat Jongin terbelalak.

"Tahu darimana?"tanya Jongin, dideliki Sehun.

"Aku punya beberapa kenalan orang dalam, asal kau tahu."ucap Sehun.

Jongin agak berpikir, kemudian tercekat. Jika area kerajaan itu memang sangat tertutup dari keluar, lalu bagaimana dengan para peserta seleksi yang memasuki area kerajaan?

"Jika ada yang tidak lolos?"tanya Jongin, dideliki Sehun lagi.

"Aku tidak tahu nasibnya. Tetapi, kerajaan ini memang tidak pernah membiarkan orang lain tahu isinya. Pasukan kerajaan ini bahkan bersumpah di bawah Al-Kitab bahwa mereka tidak akan membocorkan isi kerajaan ini pada siapapun."ucap Sehun, membuat Jongin berpikir lagi.

"Ada yang pernah lolos?"tanya Jongin, diangguki Sehun.

"Satu orang. Dia berkhianat pada kerajaan ini, dan mengabdi ke kerajaan di seberang lautan sana."ucap Sehun.

Tunggu dulu; batin Jongin, berusaha mengumpulkan ingatan-ingatannya.

.

"Wajahmu mengingatkanku pada salah seorang kawanku di infanteri yang berkhianat pada kerajaan ini. Aku ingin ada seseorang yang menggantikan posisinya dalam pasukan, dan aku percaya itu adalah kau."

.

"Apa dia salah seorang letnan di kerajaan ini?"tanya Jongin, dideliki Sehun.

"Aku tidak tahu. Aku hanya mendengar kabar burung."jawab Sehun.

"Selanjutnya!"

Sehun menoleh pada Jongin yang tampak gugup. Sehun tersenyum miring, membuat Jongin menoleh dan bibirnya ikut berkedut untuk tersenyum.

"Kau siap, partner?"tanya Sehun.

Dan anggukan Jongin pun mantap.

"Tentu saja."

Dan mereka pun mulai melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

-XOXO-

"Welcome, kepada kalian berdua."

Seorang tentara menyambut mereka. Sehun dan Jongin mengangguk. Tentara itu menyerahkan sebuah borgol dan sebuah kapak pada mereka, dan Sehun bertanya untuk apa.

"Kalian akan dites untuk kemampuan melepaskan diri dari posisi sandera."jawab tentara itu.

Jongin menatap kedua benda itu.

Seketika dia teringat sesuatu. Sesuatu yang berlalu begitu saja dalam pikirannya, tidak dapat dia ingat dengan baik.

.

"Rentangkan rantaimu, biar aku putuskan!"

.

"JONGIN!"

"Hah!?"

Jongin terkaget bukan main, ketika mendengar pekikan Sehun. Jongin menoleh, kemudian terkekeh salah tingkah dan membungkuk maaf. Sehun mengamatinya dengan seksama, tetapi dia hanya diam.

"Kau yang diborgol. Biar aku yang memegang kapaknya."ucap Sehun.

Sehun memasangkan borgol itu pada Jongin yang sudah siap. Jongin mengamati wajah tentara yang ada di hadapannya. Dingin sedingin es.

"Sekarang apa?"tanya Sehun.

"Kalian berdua akan melalui tes berbeda. Kedua benda itu adalah senjata kalian. Bagi yang mendapat borgol silahkan masuk ke ruangan di kiri saya. Bagi yang mendapat kapak silahkan masuk ke ruangan di kanan saya."ucap tentara itu.

"Woah, woah, hold on. Jadi maksudmu.. kita berbeda ruangan?"tanya Sehun, berusaha mengklarifikasi.

"Ya. Apa masih kurang jelas?"tanya tentara itu balik.

"Bukankah ini kerja sama tim?"tanya Jongin, dengan wajah mulai panik.

"Kalian akan bertemu lagi di ujung tantangan kalian. Di sanalah baru kalian akan bekerja sama tim. Tetapi tentu, tergantung apa kalian bisa melalui tantangan yang kami berikan atau tidak. Jika kalian kalah di tengah jalan, maka terpaksa kawan kalian bertarung di akhir hanya sendirian. Itu peraturannya."jelas tentara itu.

Jongin menatap Sehun, dan Sehun hanya mengangguk. Ia mendekati Jongin, kemudian menepuk pundaknya.

"Kau bisa melaluinya. Akan aku tunggu di ujung sana. Jaga dirimu, kawan."ucap Sehun, diangguki Jongin.

"Kau juga."ucap Jongin.

Sehun tersenyum miring, kemudian mengangguk pada tentara di hadapannya. Tentara itu mengangguk, kemudian menarik sebuah rantai yang berakhir menuju dua tuas di sampingnya.

CLANG CLANG

Dan pintu di hadapan mereka pun terbuka.

Jongin menatap pintu di hadapannya dengan gugup, kemudian menoleh pada Sehun. Sehun menggenggam kapaknya dengan erat. Jongin sendiri bingung apa yang harus dia lakukan dengan borgol di tangannya.

"God bless you."ucap tentara itu.

BLAM!

Dan perlahan, pintu itu pun menutup, meninggalkan Jongin dan Sehun dalam ruangannya masing-masing.

-XOXO-

Jongin menatap sekelilingnya dengan waspada sekaligus agak takut. Ruangan itu seperti sebuah kandang hewan, dengan jerami-jerami yang berserakan di sekitarnya. Jongin mengamati setiap detail ruangan itu.

Berdarah, dengan banyak pakaian robek di setiap sisi.

"Apa mereka tentara sebelumnya?"gumam Jongin.

Jongin mulai agak ketakutan. Apa yang menantinya di dalam ruangan berdarah itu? Dia tidak dapat membayangkannya.

GRRR

Terdengar suara geraman. Jongin menoleh ke arah sumber suara, yaitu sebuah ruangan kecil gelap di ujung. Jongin mendekati ruangan kecil itu perlahan, dengan tangan yang masih terborgol di sana.

"Ha-halo?"panggil Jongin, lirih.

Jongin semakin mendekati ruangan kecil itu, sekedar melihat ke dalamnya.

GRRR!

"HAH!"

Jongin terpekik, kemudian melangkah mundur seketika. Dia menatap ruangan kecil itu dengan mata yang bergetar akibat ketakutan.

Jika Jongin tidak salah lihat, di dalam ruangan itu ada seekor hewan sebangsa kucing.

GRRR

Hewan itu merangkak keluar, dengan gigi tajam yang dipamerkan pada Jongin. Jongin bergetar ketakutan. Dia menatap hewan itu dengan ketakutan, tidak bisa mengira bahwa dia akan menghadapi hewan itu.

Seekor harimau belang hitam yang masih muda.

GRRR

Harimau itu menggeram, dari raut wajahnya tampak sekali bahwa dia lapar. Harimau itu menghampiri Jongin yang semakin berjalan mundur, dengan gerakan waspada yang kentara. Jongin menatap tepat pada manik harimau itu.

Mengancam, dan juga liar.

BUK

Punggung Jongin terantuk dinding, berarti dia terjebak antara dinding dan harimau itu. Jongin menatap harimau itu dengan gemetar. Harimau itu semakin mendekat dan mendekat, mengeliminiasi jarak antara dia dengan Jongin.

"GRAAAAAWWW!"

BUGH!

Harimau itu mengaum, kemudian berlari beberapa langkah dan melompat ke arah Jongin–bermaksud untuk menyergap Jongin. Jongin terkaget, dan secepat kilat ia langsung berjongkok dan memutar tubuhnya ke depan–rolling. Harimau itu pun membentur dinding batu di hadapannya.

Jongin segera bangun, kemudian menatap harimau itu dengan ketakutan. Harimau itu menggeleng beberapa kali, kemudian menggeram semakin marah pada Jongin. Jongin mundur, berusaha menghindarinya.

"GRAAAAAWWW!"

Jongin menatap borgol di tangannya, berusaha mengetahui bagaimana dia memanfaatkan borgol itu untuk melawan harimaunya.

"GRAAAAAWWW!"

SREK!

Tiba-tiba, harimau itu berlari dan melompat lagi ke arah Jongin. Jongin menghindar ke kanan, berlari secepatnya. Harimau itu pun agak terseret di atas tumpukan jerami yang sudah hancur berantakan.

"Borgol.. borgol.."gumam Jongin, berusaha memikirkan ide untuk melawannya.

Seketika, dia mendapat satu ide.

Jongin mendekati harimau itu, kali ini dengan otaknya yang terus melancarkan idenya agar terlaksana. Harimau itu menggeram, kemudian berlari ke arah Jongin dengan ganas.

"GRAAAAAWWWW!"

WUSH!

Harimau itu melompat ke arah Jongin, namun Jongin merendahkan dirinya dan membiarkan dirinya meluncur menggunakan kakinya di atas tanah–hanya berbeda beberapa sentimeter dari harimau yang melayang di atasnya. Jongin bisa merasakan bahwa celananya terbakar akibat sliding- nya.

Harimau itu mendarat di tanah, kemudian segera berbalik ke arah Jongin. Jongin menatap harimau itu, mempersiapkan rencananya dengan semakin matang.

"GRAAAAAWWWW!"

BRAK!

"ARGH!"

Tiba-tiba, harimau itu melompat ke atas tubuh Jongin yang berbaring di atas tanah, dengan mulut yang siap untuk mengunyah kepala Jongin. Jongin menghalangi mulut harimau itu dengan borgolnya yang digigit harimau itu.

"ARGH!"pekik Jongin.

BRAK!

Jongin menendang perut harimau itu beberapa kali, kemudian menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuh Jongin. Harimau itu terjatuh di samping, berusaha mengembalikan keseimbangannya.

BUK!

Jongin berdiri di belakang harimau itu, kemudian ia membiarkan kedua tangannya ke depan dengan rantai borgol yang terentang.

"GRAAAAAWWW!"

Dan kemudian, ia mencekik harimau itu dengan borgol di tangannya.

"ARRRGHHHHHH!"pekik Jongin, berusaha mengumpulkan kekuatannya lagi.

"GRAAAAWWW!"aum harimau itu, berusaha melepaskan diri dari cekikan Jongin.

"MATI KAUUUUUU!"pekik Jongin, semakin emosional.

BUGH!

Setelah berusaha sekuat tenaga untuk mencekik harimau itu, Jongin merasakan tubuh harimau itu melemas. Ia pun menguatkan cekikan borgolnya, tidak membiarkan harimau itu untuk hidup.

Wajah Jongin tampak sangat seram.

Dan kemudian, terdengar suara sebuah tubuh yang terjerembab ke tanah. Jongin menatap tubuh itu, kemudian ia terduduk di atas lututnya, menatapnya dengan lemas.

Harimau itu berhasil dia kalahkan, dengan tangan yang diborgol.

-XOXO-

BRAK!

Jongin membuka pintu selanjutnya, kemudian terlihat bahwa dia berada di sebuah ruangan dengan sebuah pagar yang membagi kedua ruangan itu. Dia melihat ke seberang.

Dimana Sehun?

BRAK!

Kemudian, pintu di seberang itu pun terbuka. Jongin mengamati pintu yang terbuka tersebut, terbelalak karena melihat sosok yang keluar dari sana.

Sehun, dengan tangan kirinya yang berdarah-darah.

"SEHUN!"pekik Jongin, kemudian berlari menghampiri pagar yang memisahkan mereka.

"Aku tidak apa-apa, Jongin. Sungguh."ucap Sehun, berusaha menghalangi pandangan Jongin dari tangannya yang mengucurkan darah.

"Tidak! Kau harus diobati! Sehun!"pekik Jongin, dengan nada panik yang kentara.

"KUBILANG DIAM!"

Sehun memekik ke arah Jongin, berusaha menghentikan teriakan Jongin walau harus dengan cara kasar. Jongin terdiam. Nafas Sehun tersengal-sengal, kemudian mencengkram sumber luka dari tangannya dengan kuat. Kapak yang dia bawa sudah berdarah-darah.

"Kau.. tantangan apa yang kau lalui tadi?"tanya Jongin.

"Singa. Singa jantan yang kelaparan. Aku berusaha membunuhnya dengan cara mengkampaknya, tetapi kemudian mulutnya merangsek maju dan menggigit setengah lenganku. Aku meninju kepalanya dengan keras, kemudian menarik keluar kapakku dari mulutnya. Barulah aku mengkampak lehernya."jelas Sehun, membuat Jongin mengerti.

"Kau yakin kau baik-baik saja?"tanya Jongin, khawatir.

"Sudah kubilang, jangan khawatir! Kita selesaikan saja tantangan ini untuk menjadi prajurit!"pekik Sehun.

KLANG! KLANG!

Terdengar suara besi. Sehun dan Jongin menatap sekelilingnya dengan panik, kemudian saling memunggungi. Jongin menatap tangannya yang masih diborgol, kemudian menatap ke arah Sehun yang berhenti mencengkram tangannya dan sudah memegang kapaknya.

Dinding ruangan itu terbuka perlahan-lahan, menampakkan banyak patung Bunda Maria dengan sebuah busur panah pada tangannya. Sehun dan Jongin terkaget bukan main.

SLASH!

Salah satu patung Bunda Maria melepas tali pengikat panah itu, membuat anak panahnya melayang dan nyaris mengenai Sehun.

"YA TUHAN!"pekik Jongin.

SLASH! SLASH!

Satu persatu patung Bunda Maria itu melepaskan anak panah mereka, menghujani ruangan itu. Sehun dan Jongin berusaha untuk meloloskan diri, yaitu dengan berlari ke sana ke mari tanpa rencana apa-apa.

"Bagaimana kita mengalahkan mereka!?"pekik Jongin, panik.

"Aku tidak tahu!"pekik Sehun.

SLASH!

Sebuah anak panah nyaris mengenai Jongin–untung saja dia berhasil mengelak dengan membungkukkan badannya. Jongin menatap seluruh patung Bunda Maria itu satu persatu. Dia mengamatinya dengan cermat.

Setiap patung memiliki nomor masing-masing, dengan urutan pelepasan anak panah yang berbeda-beda. Jongin menghindari beberapa anak panah, sambil mengikuti urutan-urutan anak panah yang dilepaskan.

"SEHUN, AKU TAHU!"pekik Jongin, seketika mendapat sebuah ide.

"APA!?"pekik Sehun, masih berusaha menghindari anak panah yang mengarah pada dirinya.

"3, 5, 2, 8, 1, 9, 4, 6, 7! Itu urutan patung yang melepaskan anak panah!"pekik Jongin, kemudian membungkuk untuk menghindari satu anak panah yang mengarah pada kepalanya.

Sehun mengikuti petunjuk pertama Jongin. Dia mengamati setiap patung Bunda Maria di hadapannya, kemudian mengangguk mantap.

"KAU BENAR!"pekik Sehun.

Sekarang apa!?; batin Jongin, berapi-api.

SRING

Kemudian, mata Jongin terpaku pada sebuah kristal merah yang berada tepat pada depan kaki patung Bunda Maria di sampingnya. Jongin menghampirinya selagi menghindari beberapa anak panah, kemudian mengamatinya. Ia mengamati setiap patung Bunda Maria di sekelilingnya.

"SEHUN, AKU TAHU!"pekik Jongin, kemudian berlari untuk mengitari setiap patung Bunda Maria di hadapannya.

"APALAGI!?"pekik Sehun, meminta jawaban.

"KRISTAL! Kristal merah yang ada di hadapan setiap patung! Kita harus menghancurkannya satu persatu!"pekik Jongin, diangguki Sehun.

"Bagaimana caranyaaa!?"pekik Sehun, masih mengelak dari beberapa anak panah.

Jongin mengingat setiap urutan patung yang melepaskan anak panah. 3, 5, 2, 8, 1, 9, 4, 6, 7. Jika patung ke-3 melepaskan anak panah, maka anak panah itu akan tepat mengenai patung ke-3 yang ada di bagian Sehun! Itu dia! Ini yang dinamakan kerja sama!; batin Jongin, baru saja mendapat pencerahan.

"Sehun, kita buat rencana! Dengarkan aku!"pekik Jongin.

"APA!?"sahut Sehun, yang kemudian berguling di atas tanah untuk menghindari satu anak panah.

"Berdirilah di depan patung sesuai urutan yang aku beritahukan tadi! Kita sama-sama berdiri! Setelah anak panah lepas, secepat mungkin kau harus menghindar!"pekik Jongin, diangguki Sehun.

"Baiklah!"

Jongin dan Sehun saling berlari menuju patung urutan saat itu. Bagus! Patung ke-3!; batin Jongin. Jongin segera memposisikan dirinya di depan patung ke-3, begitupun Sehun.

SLASH! SLASH!

Masing-masing patung melepaskan anak panah secara bersamaan, yang kemudian mengarah ke ruangan seberang. Sehun dan Jongin segera menghindari serangan itu.

PRANK!

Kemudian, kedua kristal merah dari patung ke-3 mereka pun hancur berkeping-keping terkena anak panah. Sehun menatap Jongin, yang mengangguk mantap ke arahnya.

"PATUNG KE-5!"pekik Jongin.

SLASH! SLASH!

Kedua patung itu saling melepaskan anak panah, yang kemudian dapat dihindari oleh Sehun dan Jongin.

PRANK!

Kedua kristal itu pun hancur berkeping-keping.

"2!"

.

"8!"

.

"1!"

.

"9!"

.

"4!"

.

"6!"

.

"7!"

PRANK!

Kristal terakhir yang berada di patung ke-7 pun hancur berkeping-keping. Jongin dan Sehun mengambil nafas bersamaan, berusaha mengontrol diri mereka.

CLANK! CLANK!

Terdengar suara pintu yang terbuka. Jongin dan Sehun saling bertatapan, kemudian terfokus pada pagar yang membagi dua ruangan itu.

Pagar itu pun mulai turun perlahan, tidak lagi memisahkan ruangan itu.

"SEHUN!"

Jongin segera melewati pagar itu, kemudian menghampiri Sehun yang terduduk kelelahan. Nafas Sehun tersengal-sengal, seiring dengan darah yang mengalir deras dari tangan kirinya. Jongin mengusap kedua pundak Sehun, kemudian meraih pakaiannya sendiri dan merobek bagian bawahnya.

"Apa yang kau lakukan?"tanya Sehun, lirih.

"Tenang saja."ucap Jongin.

Jongin merentangkan tangan kiri Sehun yang berdarah-darah, kemudian menaruh kain sobekan itu di sana. Sehun sedikit meringis nyeri, tetapi kemudian ia tahan. Wajahnya kotor, sama seperti wajah Jongin saat ini. Sehun menatap wajah fokus Jongin, menatapnya dengan pandangan campur aduk.

.

.

"Belum pernah ada orang yang begitu peduli padaku seperti ini."

Jongin terdiam, kemudian menatap Sehun. Sehun tersenyum miring, kemudian menatap ke arah lukanya yang sudah dibaluti kain milik Jongin. Jongin terkekeh, kemudian mengangguk.

"Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak peduli pada orang."jelas Jongin, diangguki Sehun.

"Masuk akal mengapa Letnan Andrew sangat ingin kamu terdaftar dalam pasukan."

Jongin menatap Sehun dengan kaget, kemudian Sehun tersenyum. Dia mengangguk, mengambil nafas pelan, kemudian mulai berbicara.

"Letnan Andrew adalah kawan dari kawanku, Letnan Victor. Aku dengar banyak hal tentang Letnan Andrew. Dia sangat ingin orang yang berhasil menaklukan kuda pada pengumuman dua hari lalu menjadi anggota pasukan."jelas Sehun, membuat Jongin agak terdiam.

"Aku beruntung. Itu saja."ucap Jongin, mengelak penjelasan Sehun.

"Well, kita lihat saja nanti."

KLANG! KLANG!

Terdengar suara tuas yang ditarik. Jongin dan Sehun menatap tepat pada pintu di hadapan mereka. Jongin membantu Sehun untuk berdiri, kemudian membopoh tubuh itu perlahan.

"Terimakasih, Jongin."

Jongin menoleh, disenyumi Sehun. Jongin terkekeh, kemudian mengangguk.

"Sama-sama."

Tubuh mereka pun ditelan oleh cahaya yang memancar terang dari pintu terbuka tersebut.

-XOXO-

"Tak heran kalau kalian berhasil keluar dari tantangan yang kami berikan."

Jongin dan Sehun saling berpandangan, kemudian mengangguk. Seorang letnan berdiri di hadapan mereka, kemudian tersenyum. Dia menatap kedua namja di hadapannya, kemudian menepuk tangannya sekali.

.

.

"Welcome to the infantry, guys! Kalian telah menjadi infantryman!"

Sehun dan Jongin saling berpandangan, kemudian raut wajah mereka berubah. Sehun mulai berteriak-teriak tidak jelas seperti "goddamn it!" atau "hell yeah!", sedangkan Jongin hanya terduduk seraya mengapit kedua tangannya bersamaan–sangat berterimakasih.

Dari kejauhan, seorang namja berpakaian tentara tersenyum menatap Jongin yang tampak tengah berdoa pada Tuhan atas apa yang Dia berikan padanya saat itu. Namja itu menunggangi kuda cokelatnya, dengan sebuah helm di kepalanya yang dihiasi bulu berwarna kuning dan putih–perlambang letnan.

"Sampai ketemu di pasukan, Jongin."gumamnya, lirih.

Dan setelahnya, ia memutar balik kudanya, menjauhi kerumunan tentara yang menyalami dua tentara baru mereka.

TO BE CONTINUE

Note :

HALO GUYS!

Hmm, kayaknya FF ini bakal bergenre EPIC deh hahaha, soalnya klasik banget dan HAW sukaaa hehehe. Kalo menurut kalian gimana?

Well, kalo ada yang masih belum ngerti background cerita FF ini, bisa nonton film King Arthur guys! Backgroundnya persis kayak gitu, jadi ya bayangin aja Paris pas lagi zaman-zaman Saxon menginvasi Eropa hehe (untuk penggambaran gimana zaman pas Paris once upon a time itu, bisa tonton film Perfume; The Story of Murderer. Tapi, filmnya unrated! Hati-hati, wkwkwk)

Untuk kemunculan Kyungsoo, bakal bener2 dibikin se-spesial mungkin dan semengagetkan mungkin. Jadi, untuk KAISOO shipper, nantikan ya! HAW juga gak tega lah kalo Kai nggak dikasih Kyungsoo wkwkwk. Setidaknya belum

Gak usah banyak omong deh hehe. Mind to REVIEW and FAVOURITE my FF?

HUANG AND WU