Previously (Chapter 2) :
"Welcome to the infantry, guys! Kalian telah menjadi infantryman!"
Sehun dan Jongin saling berpandangan, kemudian raut wajah mereka berubah. Sehun mulai berteriak-teriak tidak jelas seperti "goddamn it!" atau "hell yeah!", sedangkan Jongin hanya terduduk seraya mengapit kedua tangannya bersamaan–sangat berterimakasih.
Dari kejauhan, seorang namja berpakaian tentara tersenyum menatap Jongin yang tampak tengah berdoa pada Tuhan atas apa yang Dia berikan padanya saat itu. Namja itu menunggangi kuda cokelatnya, dengan sebuah helm di kepalanya yang dihiasi bulu berwarna kuning dan putih–perlambang letnan.
"Sampai ketemu di pasukan, Jongin."gumamnya, lirih.
Dan setelahnya, ia memutar balik kudanya, menjauhi kerumunan tentara yang menyalami dua tentara baru mereka.
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 3
TAK TOK TAK TOK
Terdengar suara langkah kaki kuda yang tegas, dengan penunggangnya yang mengenakan baju zirah yang terbuat dari besi. Beberapa orang berpakaian sama tampak berjalan beriringan, dengan tombak dan perisai pada masing-masing tangan mereka.
Di antara mereka, ada Jongin yang tengah mengasah tombak miliknya.
SLASH SLASH
Suara pisau tajam miliknya terdengar setiap kali ia mengiris satu bagian dari tombak kayunya–untuk membuatnya runcing. Wajah itu tampak tidak kenal lelah, dengan beberapa sisinya yang kotor akibat terus berlatih.
"Kau berlatih terus, wajahmu sampai kotor begitu."
Jongin mendongakkan kepalanya, kemudian terkekeh pada orang yang berbicara padanya terlebih dahulu.
Sehun duduk di tanah, di samping batu yang sedang Jongin duduki. Sehun menatap tepat pada pemandangan di hadapan mereka, kemudian menatap Jongin.
"Kau betah sekali duduk di sini."ucap Sehun, diangguki Jongin.
"Hanya ingin bersantai."sahut Jongin, yang kemudian mengambil sebuah kain dan menggosokkannya pada tombaknya–untuk memperhalus hasil goresannya.
"Bersantai? Hmm, kau tidak terlihat bersantai dari tadi."ucap Sehun, dikekehi Jongin.
"Entahlah. Aku tidak terlalu paham arti kata bersantai."jawab Jongin, kemudian menoleh pada Sehun.
Tidak ada perbincangan di antara keduanya. Jongin kembali memperhalus tombaknya, ketika hembusan angin menyapanya. Dia bisa merasakan angin yang membelai pipinya, memberi ketentraman padanya. Perlahan, dia tersenyum.
"Aku dari Britania Raya. Kau?"tanya Sehun, kemudian mengeluarkan pedangnya dari sarungnya dan membersihkannya dengan lengan bajunya.
Jongin terdiam. Dia menoleh pada Sehun yang tengah membersihkan sisi pedangnya. Jongin terpikir sejenak. Dia menatap pemandangan di hadapannya, dengan wajah kebingungan yang kentara.
"Hmm? Kau berasal darimana?"tanya Sehun, memperjelas pertanyaannya.
.
.
"Aku tidak tahu."
Gerakan tangan Sehun terhenti, kemudian ia menoleh pada Jongin yang diam. Namja itu berusaha mengingat-ingat, tetapi tak ada jawaban yang muncul dalam pikirannya. Sehun berdehem, kemudian menatap Sehun lagi.
"Kau yakin tidak ingat? Maksudku, tanah kelahiranmu?"tanya Sehun, digelengi Jongin.
"Aku tidak ingat."jawab Jongin, kemudian kembali fokus pada tombaknya yang hampir selesai.
"Lalu, bagaimana bisa kau sampai di Paris?"tanya Sehun, heran sekali.
"Entahlah. Aku hanya ingat saat aku masih setinggi tombak kecil, aku sudah berada di Paris. Sendirian, bertarung dengan anak-anak lain demi kehidupan. Aku hanya ingat kalau aku selalu sendirian di dunia ini."jelas Jongin, tidak tahu apalagi yang harus dia ucapkan.
.
.
"Orangtuamu? Bagaimana dengan mereka?"
Jongin terdiam, kemudian menatap Sehun lagi. Sehun tampak sekali sangat kebingungan dengan keadaan Jongin. Jongin menarik nafas dengan berat, kemudian menghembuskannya. Dia menatap tombak di tangannya yang telah selesai ditajamkan, kemudian menggeleng.
"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa-apa tentang mereka. Tidak ada gambaran, tidak ada kenangan wajah mereka. Apa aku punya orangtua?"tanya Jongin, diangguki Sehun dengan yakin.
"Tentu saja! Semua manusia yang lahir berasal dari orangtua. Memang darimana lagi?"tanya Sehun.
Jongin terdiam. Dia mengamati Sehun yang tengah sibuk mengelap pedangnya yang mengkilap. Jongin membersihkan pakaiannya dari serbuk-serbuk kayu–kotoran tombaknya tadi.
"Lalu, darimana kau punya semua kemampuan itu? Mengendalikan kuda, membunuh harimau, membangun taktik."ucap Sehun, dengan wajah heran sekaligus antusias pada Jongin.
Jongin menggeleng pasrah, kemudian dia bangkit dari duduknya. Sehun mengamati Jongin dengan heran, dan namja itu hanya memancarkan wajah kebingungan yang kentara.
"Bolehkah.. aku pergi? Aku tidak enak badan."ucap Jongin, diangguki Sehun.
"Sure. Istirahatlah."ucap Sehun.
Jongin menatap Sehun dengan berkaca-kaca, kemudian segera berjalan menjauhi namja itu. Sehun menatap kepergian sahabatnya itu dengan heran, kemudian hanya menggeleng-geleng dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Tidak menyadari airmata Jongin yang mengalir tanpa diminta.
-XOXO-
Jongin mendudukkan dirinya pada sebuah cabang pohon, di hutan dekat perkemahan para tentara. Jongin menatap perkemahan di hadapannya dengan wajah melas, kemudian menatap tombak yang baru saja dia tajamkan tadi.
"Siapa orangtuaku? Kenapa aku tidak mengenal mereka seperti kebanyakan orang?"tanya Jongin, lebih kepada dirinya sendiri.
Jongin menaruh tombak miliknya di samping tubuhnya, kemudian mengeluarkan sebuah pisau kecil dari kantungnya. Jongin menatap pisau itu. Pisau yang kecil, namun tajam–saking seringnya diasah.
"Kenapa pisau ini ada saat aku tiba di Paris? Pisau apa ini?"gumam Jongin, berusaha memperjelas semuanya.
Jongin menarik nafas berat, kemudian menatap langit jingga di atasnya. Jongin kembali menangis, kali ini lebih deras. Emosinya berkumpul, dan Jongin tidak tahu apalagi yang dapat membuat harinya jadi lebih buruk.
"Hey, kau!"
Jongin mengelap airmatanya dengan cepat, kemudian menoleh ke bawah. Seorang namja tampak berdiri di sana, dengan pakaian tentaranya yang sudah rapih.
"Pasukan akan pergi ke kerajaan! Turun dan ikut!"ucap namja itu.
"Baik!"sahut Jongin.
Jongin meraih tombak miliknya, dan dalam satu hitungan ia sudah melompati dahan pohon itu dan mendarat di atas tanah dengan kedua kaki kuatnya.
Siapa sebenarnya aku? Kenapa aku cuman mengingat namaku saja? Kenapa aku bisa mengendalikan kuda?
"Jangan melamun dan ayo bergegas!"
"Baik!"
-XOXO-
TAK TOK TAK TOK
Kuda-kuda itu melangkah dengan tegas, membawa penunggangnya menuju sebuah gerbang yang telah dibuka. Sebuah pintu portcullis terbuka, mempersilahkan mereka masuk. Beberapa tentara yang berjalan juga ada di sana, mengekori pasukan berkuda tadi. Jongin termasuk dalam pasukan berjalan di sana.
BAM!
Setelah mereka memasuki area istana, pintu portcullis pun ditutup kembali. Jongin menatap sekelilingnya, kemudian menatap baju zirah yang ada pada tubuhnya saat ini. Pikirannya melantur pada pertanyaan-pertanyaan Sehun.
.
"Hmm? Kau berasal darimana?"
.
"Orangtuamu? Bagaimana dengan mereka?"
.
Ini aneh. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Sehun. Ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa menjawabnya?; batin Jongin, nestapa.
"Seluruh pasukan bersiap untuk memberi hormat pada Raja Marseilles dan keluarganya di dalam!"terdengar pekikan jenderal.
Jongin menggelengkan kepalanya perlahan, berusaha menghilangkan isi pikirannya sedari tadi. Ia menarik nafas pelan, kemudian terfokus pada dirinya saat ini.
Dari kejauhan, Sehun mengamati Jongin yang tampak kebingungan, lalu hanya bisa terdiam.
Ada apa dengan Jongin?
-XOXO-
"BERI HORMAT, GRAK!"
BRAK!
Serentak, pasukan itu menegakkan senjata mereka dan menegakkan kepala mereka. Seorang namja berjalan menuju singgasananya, dengan sebuah baju besar berjubah yang panjang. Mahkota menghiasi kepalanya, menatap penuh wibawa pada seluruh pasukan di hadapannya.
"Bonjour, infantries!"pekiknya, dengan tangan terentang–menyambut mereka semua.
Seorang yeoja berpakaian anggun mendekatinya, kemudian menyerahkan semangkuk buah padanya. Namja itu tersenyum, kemudian mengambil sejumput anggur.
"Terimakasih, Sarah."sahutnya.
Seorang namja dari pasukan itu maju, kemudian memberi hormat padanya. Raja Marseilles mengangguk, mempersilahkan namja itu untuk kembali ke barisan.
"Kalian dipanggil kemari untuk menjalankan satu tugas mulia, dan untuk itulah aku memanggil kalian."ucap sang raja.
Beberapa prajurit saling berbisik, beberapa hanya diam memperhatikan. Jongin mengamati sekelilingnya, kemudian menatap Raja Marseilles yang masih duduk pada singgasananya.
"Theodore! Bawakan kertas penugasan mereka!"pekik Raja Marseilles.
Seorang namja berpakaian tentara lengkap dengan pangkat dan sebagainya berjalan menghampiri sang raja, kemudian menyerahkan sebuah kertas di tangannya dengan penuh hormat. Raja Marseilles menerimanya, kemudian menyerahkannya pada jenderal pasukannya.
"Bacakan, Vincent."ucap Raja Marseilles.
Jenderal Vincent (read, Vincent memiliki paras seperti Lee Sungmin) menerima kertas penugasan itu, kemudian mengangguk. Dengan tegas, ia berjalan ke hadapan pasukannya, kemudian membuka gulungan kertas itu. Jongin memperhatikan tugas yang akan diberikan pada mereka dengan seksama.
"Pasukan infanteri akan dikirim menuju Roma untuk menyelamatkan satu keluarga kerajaan di sana yang terancam serangan Saxon. Keluarga kerajaan tersebut sangat penting, dengan beberapa penjabat di sana yang juga harus dievakuasi. Raja Marseilles Yang Agung akan memberikan imbalan berupa dua kantung emas tiap prajurit bila keluarga kerajaan di Roma dapat dievakuasi penuh!"
Jongin terdiam. Beberapa tentara tampak kaget dengan keputusan itu, begitu juga dengan beberapa pembantu raja yang kebetulan ada di sana. Jongin menunduk, kemudian ia menarik nafas pelan untuk menghilangkan rasa kagetnya.
"Semoga Tuhan menyertai kalian."ucap Raja Marseilles.
Jenderal James berbalik, kemudian menatap Raja Marseilles dengan kaget. Wajahnya tampak speechless, namun yang ia lakukan hanyalah mengangguk dan berjalan kembali ke barisannya.
"Fajar esok, kalian bisa berangkat. Persiapkan perbekalan kalian hari ini, semoga Tuhan memberkati kalian."ucap Raja Marseilles.
Dan setelahnya, pasukan itu dibubarkan. Jongin menatap ke arah Raja Marseilles dengan heran, kemudian ia merasa sedang ditatap seseorang. Jongin mengendarkan pandangannya, mencari orang yang menatapnya. Kemudian, ia terdiam.
Itu Sehun, dengan wajah penuh tanda tanyanya.
-XOXO-
BRUK!
Jongin menaruh sebuah tas besar di atas kudanya, kemudian mengikatnya dengan kuat. Ia mengepak tangannya yang agak kotor, kemudian berjalan perlahan ke arah kepala kudanya.
"Hey."sapa Jongin, kemudian mengusap kepala kuda tersebut perlahan.
Kuda itu mendekat ke arah Jongin, mengusapkan kepala mereka berdua. Jongin terkekeh, kemudian menepuk kepala kuda itu beberapa kali.
"Huft, aku gugup. Apa kau juga gugup?"tanya Jongin, yang kemudian terkekeh sendiri.
KIKIKIK
Kuda itu hanya mengringkik.
"Besok tugas pertamaku. Aku jadi penasaran seperti apa, hehe. Apa kau sering diberi tugas oleh Raja Marseilles?"tanya Jongin.
Jongin menatap sekitarnya, kemudian meraih sebuah batu dan membawanya ke depan kuda itu. Agak berat memang, tapi dia tetap membawanya. Setelahnya, ia menaruhnya dan duduk di atas batu itu. Tangannya tak berhenti mengusap kuda cokelat di hadapannya.
"Aku sangat ingin menjadi seperti Letnan Andrew. Yah, beliau begitu hebat dan ramah. Aku ingin menjadi seperti dia. Menurutmu, aku bisa?"tanya Jongin–terlihat seperti dia berbicara sendiri dengan kuda tersebut.
Kuda itu hanya menatap Jongin, kemudian mengendus-endus tubuhnya perlahan. Jongin terkekeh, tangannya tak berhenti mengusap kepala kuda itu.
"Kau akan jadi kuda yang hebat."gumam Jongin.
Di saat bersamaan, tampak Sehun yang tengah berjalan melewati tenda, kemudian ia menatap sesuatu dari balik tenda itu. Sehun tersenyum miring.
Itu Jongin dan kudanya.
"Jongin!"panggil Sehun.
Jongin terdiam, kemudian menoleh dan tersenyum. Dia mengajak Sehun untuk mendekat, kemudian menggeser tempat duduknya. Sehun melewati beberapa semak belukar, kemudian duduk di samping Jongin.
"Berbicara dengan kuda, eoh?"tanya Sehun, diangguki Jongin dengan polos.
"Sedikit mengurangi rasa gugupku."ucap Jongin.
"Cara bertarungmu bagus, Jong. Tidak usah gugup seperti itu."ucap Sehun.
Sehun meraih segenggam semak di sekitarnya, kemudian menyodorkannya pada kuda itu. Kuda itu pun mengunyah semak yang diberikan Sehun. Sehun tersenyum miring lagi, kemudian menoleh pada Jongin yang tampak tengah memikirkan sesuatu.
"Ada yang mengganjal pikiranmu?"tanya Sehun, membuat Jongin menoleh.
"Ah, tidak. Aku hanya.. memikirkan beberapa hal untuk besok."jawab Jongin, diangguki Sehun.
Sehun mengeluarkan sebuah pisau dengan gagang yang dipahat dari balik pakaiannya, kemudian menancapkannya ke tanah. Jongin–masih sambil mengusap kepala kuda di hadapannya–menatap Sehun dengan heran.
"Pisau siapa itu?"tanya Jongin, membuat Sehun menatapnya.
"Punyaku."jawab Sehun.
Sehun melepas pisau itu dari tanah, kemudian kembali menancapkannya. Beberapa kali ia melakukan itu, membuat Jongin agak heran.
"Kau kenapa?"tanya Jongin.
"Jika aku ingin melepaskan rasa gugupku, maka ini yang aku sering lakukan."sahut Sehun, tanpa menoleh pada Jongin.
Jongin mengangguk mengerti, kemudian meraih segenggam semak dan menyerahkannya pada kuda cokelatnya. Kuda itu menerimanya dengan baik, dan langsung melahapnya dengan semangat.
"Tidak peduli darimana asalmu, kau adalah prajurit hebat, Jong."
Jongin menoleh, ketika tiba-tiba Sehun bergumam seperti itu. Sehun melepas tancapan pisaunya, kemudian menoleh pada Jongin dan tersenyum miring. Jongin mengerjap heran.
"Maksudmu?"tanya Jongin.
"Yah, jika kau memang tidak bisa menjawab beberapa pertanyaanku tadi siang, tidak usah berusaha untuk menjawabnya. Tidak peduli siapa kau, darimana asalmu, dan siapa orangtuamu, kau adalah prajurit yang hebat, Jong."jelas Sehun, terdengar sekali bahwa nadanya sangat penuh perhatian.
"Tapi.. itu sudah kodrat manusia. Aku ingin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu."ucap Jongin, mengelak.
"Well, jika sekarang kau belum bisa menjawabnya, tunggulah sampai waktu yang akan menjawab."ucap Sehun.
Jongin mengerjap, kemudian tersenyum. Dia agak terkejut mendengar ucapan bijaksana dari Sehun. Sehun tersenyum miring, kemudian membabat beberapa semak belukan di sekitarnya dengan pisaunya. Setelah itu, rumput-rumputnya ia berikan pada kuda cokelat Jongin.
"Beri kudamu makan. Besok akan jadi perjalanan yang panjang."ucap Sehun, diangguki Jongin.
"Terimakasih, Sehun."
Sehun menoleh, mendapat senyuman Jongin. Sehun tersenyum miring, kemudian tangannya menepuk pundak kiri datar Jongin.
"Sama-sama. Selamat tidur, brother."ucap Sehun, kemudian berdiri dan berjalan menjauhi mereka menuju tenda miliknya yang beberapa meter jauhnya dari tenda Jongin.
Tanpa Sehun sadari, ucapannya membuat Jongin terdiam. Ia mulai teringat sesuatu lagi. Sekilas, namun tampak nyata.
.
"Untunglah kau tidak apa-apa, brother!"
.
Suara itu.. terngiang-ngiang dalam benaknya, seperti potongan film-film dari kaset yang kusut.
-XOXO-
Cahaya matahari menyapa para tentara yang tengah beristirahat itu dengan hangat. Beberapa dari mereka tampak telah melakukan beberapa aktivitas, beberapa baru saja bangun dari alam mimpinya.
Jongin rajin bangun hari itu. Ia berjalan seraya membawa beberapa tumpuk rumput-rumput dan jerami, kemudian dibagikan satu persatu kepada kuda-kuda yang ada di belakang tenda masing-masing prajurit. Beberapa kali ia menyapa dan mengusap kepala kuda itu, senyum tak pernah hilang dari wajahnya.
"Jongin!"
Jongin menoleh, dan tersenyum ketika mendapati Sehun yang menghampirinya. Wajah itu tampak segar, pertanda bahwa dia sudah selesai mandi.
"Mau kubantu?"tanya Sehun, diangguki Jongin.
"Thanks, Hun."sahut Jongin.
Sehun meraih beberapa tumpuk rumput, kemudian ikut menaruh rumput-rumput itu di depan kuda-kuda mereka. Kuda-kuda itu tampak lahap memakannya–mereka lapar.
"Hey, apa yang kalian lakukan?"
Seorang namja berpakaian seperti letnan tampak berdiri di atas bukit, menatap kedua namja yang tengah membagikan rumput-rumput liar itu. Jongin dan Sehun terdiam, kemudian saling berpandangan.
"Memberi makan kuda, sir."sahut Sehun, tidak mampu memikirkan jawaban yang lain.
"Biarkan saja kuda itu makan sendiri."ucap sang letnan.
"Tapi, tuan, tidak ada waktu untuk membiarkan mereka makan sendiri. Sebentar lagi kita akan berangkat."sahut Jongin, menjelaskan.
"Jangan banyak bicara. Taruh rumput itu dan biarkan kuda-kuda itu makan rumput di sekitar mereka! Apa kalian tidak ada pekerjaan lain, huh?"tanya sang letnan, membuat Jongin dan Sehun mati kutu.
"Baik, sir."
Jongin dan Sehun menaruh rumput itu. Sehun menatap Jongin, kemudian sedikit membisikkan sesuatu.
"Bawa beberapa ke tendamu. Beri makan kudamu, Jong."ucap Sehun, diangguki Jongin.
"Oke."
Setelahnya, Sehun dan Jongin mengambil masing-masing satu tumpuk dan membawanya ke tenda masing-masing. Sekilas, Jongin menatap letnan yang barusan memerintah mereka dengan semena-mena.
"Letnan Kris!"
Seseorang memanggil, dan letnan itu menyahut. Tanpa letnan itu sadari, Jongin mengamati apa yang terjadi. Sekarang ia mengerti.
Ia akan mengingat nama itu. Kris.
"BAIK! SEMUA PASUKAN SEGERA BERSIAP!"
TO BE CONTINUED
Note :
Hmm, di chapter ini menerangkan lebih kepada hubungan kekerabatan Sehun dan Kai. FF ini menekankan pada brothership juga yaaa.
Ayo, REVIEW dan FAVOURITE dulu FF-nya yaaa, baru baca chapter selanjutnya hihihi!
#SpecialPost 3 Chapters A Day!
HUANG AND WU
