Previously (Chapter 3) :
"Bawa beberapa ke tendamu. Beri makan kudamu, Jong."ucap Sehun, diangguki Jongin.
"Oke."
Setelahnya, Sehun dan Jongin mengambil masing-masing satu tumpuk dan membawanya ke tenda masing-masing. Sekilas, Jongin menatap letnan yang barusan memerintah mereka dengan semena-mena.
"Letnan Kris!"
Seseorang memanggil, dan letnan itu menyahut. Tanpa letnan itu sadari, Jongin mengamati apa yang terjadi. Sekarang ia mengerti.
Ia akan mengingat nama itu. Kris.
"BAIK! SEMUA PASUKAN SEGERA BERSIAP!"
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 4
Kuda-kuda itu melangkah dengan tegas, bersamaan dengan beberapa prajurit yang menungganginya–kewaspadaan mengitari mereka. Beberapa di antara mereka membawa pedang dalam sarung sabuk mereka, beberapa lagi membawa panahan dan perisai.
Jongin dan Sehun mengendarai kuda mereka di barisan belakang. Sehun sedikit kesulitan ketika harus mengendarai kudanya–untunglah Jongin ada dan berhasil menenangkan kuda itu. Sampai sekarang, Sehun masih penasaran dengan asal usul Jongin dan kemampuannya itu.
"Sehun."
Sehun menoleh, mendapati Jongin yang menatapnya. Ia mengernyit, dan tampak sekali bahwa ada pertanyaan dalam benaknya.
"Seberapa lama perjalanan ini akan berlangsung?"tanya Jongin, dideliki Sehun.
"Entahlah. Satu hari? Dua hari? Italia tidak terlalu jauh dari Perancis, hanya saja sedikit menegangkan untuk pergi ke sana."jelas Sehun, diangguki Jongin.
"Kau tahu banyak soal pengalaman di luar, ya?"tanya Jongin, membuat Sehun hanya tersenyum miring.
"Aku tipe orang yang suka menjelajah. Untuk Eropa sendiri, aku sudah menjelajah banyak tempat. Beruntung aku berasal dari Britania Raya, jadi aku sudah tahu seluk-beluk kepulauan itu sejak masih kecil."jelas Sehun, membuat Jongin paham.
"Pernah ke Roma?"tanya Jongin, diangguki Sehun.
"Sekali, dua kali. Kota yang sarat akan seni."ucap Sehun, membuat Jongin menjadi semakin penasaran.
"Bagaimana bisa?"tanya Jongin, dikekehi Sehun.
"Pilar-pilarnya megah, mereka masih menganut paham dewa-dewi dan animisme. Belum modern, tapi termasuk peradaban maju. Artistik, tetapi tempat yang menyeramkan."ucap Sehun, membuat Jongin mengernyit.
"Seram? Kenapa?"tanya Jongin.
"Kau mau tahu?"tanya Sehun, diangguki Jongin.
Sehun mengendarai kudanya untuk mendekat ke arah Jongin. Jongin menatap Sehun dengan tatapan polosnya, membuat namja itu sedikit menghela nafas berat. Perasaanku saja, atau kawanku ini memang sangat polos?; batin Sehun.
Sehun mendekatkan mulutnya ke arah telinga Jongin, berbisik.
.
.
"Di sana, manusia dijual bebas dan dipajang di setiap halaman toko. Mereka semua hina, dan kerajaan di sana melegalkan perdagangan manusia."
-XOXO-
"KITA ISTIRAHAT DI SINI DULU!"terdengar pekikan Jenderal Vincent.
Sehun dan Jongin menuruni kuda mereka, kemudian menuntunnya ke sebuah tempat penuh dengan pepohonan dan rumput. Sehun membantu Jongin mengikat tali kekang kuda mereka pada batang pohon, kemudian duduk bersandar pada pohon itu.
"Ah, suasananya hangat."gumam Sehun, kemudian mengeluarkan sebuah kantung air dari tasnya dan meminumnya perlahan.
Jongin mengeluarkan sebuah kantung air juga, kemudian sedikit meminumnya. Ia mengikat kembali kantung air tersebut, kemudian menatap pemandangan tempat mereka istirahat itu.
"Tak heran Jenderal Vincent ingin istirahat di sini. Dia juga seorang penjelajah, pasti tahu banyak jalan dengan pemandangan yang bagus."ucap Sehun, membuat Jongin mengangguk setuju.
Jongin menatap Sehun, dengan pandangan heran. Sehun menangkap perubahan raut wajah Jongin, kemudian terkekeh pelan dan menatap sahabatnya itu.
"Kenapa? Masih ada yang mengganjal?"tanya Sehun, diangguki Jongin dengan polosnya.
"Apa Roma sebegitu jahatnya? Maksudku.. mereka hina terhadap manusia?"tanya Jongin, membuat Sehun menghela nafas berat.
"Kau bisa bilang begitu. Mereka menawarkan yeoja-yeoja dengan harga murah, memajang para budak di halaman toko seakan-akan mereka adalah barang, dan bahkan memperdagangkan anak kecil di dalam kotak-kotak kayu."jelas Sehun, kemudian kembali meneguk kantung airnya.
"Tidak ada yang menyenangkan di kota itu?"tanya Jongin, membuat Sehun terkekeh.
"Tidak. Tidak ada. Tidak ada harapan, kesenangan, bahkan berkah. Yang ada hanyalah manusia hina dan para pemuas nafsu."jelas Sehun.
Jongin menunduk sedih, membuat Sehun terdiam menatapnya. Sehun mengernyit, kemudian menepuk pundak sahabatnya sehingga Jongin mengangkat wajahnya. Sehun sedikit terperanjat.
Jongin menangis!
"Woah, woah. Kau kenapa, bro?"tanya Sehun, heran.
"Aku.. aku tidak pernah tahu bahwa ada hidup orang lain yang jauh lebih menyeramkan dari masa laluku."jelas Jongin, lirih.
"Kau sudah ingat masa lalumu?"tanya Sehun, digelengi Jongin.
"Aku hanya merasa.. masa laluku bahkan belum apa-apa jika dibanding penderitaan mereka. Para budak di Roma."sahut Jongin.
Sehun tersenyum miring, satu tangannya menyeka airmata Jongin. Jongin menatap Sehun, dibalas oleh senyuman lebar Sehun yang menawan. Sehun mengangguk pelan, kemudian menepuk kepala Jongin dengan bersahabat.
"Kau tahu? Aku belum pernah bertemu seseorang yang memiliki sifat kepedulian setinggi dirimu, Kim Jongin."ucap Sehun, membuat Jongin mengerjap.
"Kepedulian?"
"Yap. Kepedulian. Aku yakin itu. Dan kau memiliki sifat itu. Jangan disia-siakan."
-XOXO-
Pasukan itu pun memutuskan untuk beristirahat di padang itu. Jongin dan Sehun saling membantu dalam membangun tenda. Mereka membangun tenda agak berjauhan dari tenda lain. Tenda mereka pun cepat jadi karena kerjasama tim mereka yang baik.
"Cepat sekali mereka membangun tenda."
Seorang namja berwajah kebulean menatap mereka dari kejauhan. Baju zirahnya sudah terlepas, meninggalkan selembar-lembar pakaian di atas tubuhnya–piyama. Ia melipat tangannya di depan dada, mengamati tenda yang dibangun Jongin dan Sehun, serta melihat bagaimana kedua pemuda itu tertawa selagi membangunnya.
"Kau memperhatikan mereka terus, Kris."
Namja itu menoleh, mendapati seorang namja yang menghampirinya. Kris tersenyum miring, kemudian kembali memperhatikan cara Jongin dan Sehun membangun tenda.
"Sehun tampak nyaman sekali dengan namja asing itu."ucap Kris, dikekehi namja yang tadi mengajaknya mengobrol.
"Setidaknya dia nyaman, bung."sahutnya, membuat Kris menoleh.
"Bagaimana denganmu, Tuan Andrew? Teman Sehun. Apakah dia yang selama ini kau incar?"tanya Kris, membuat Tuan Andrew pun menoleh.
"Kau tahu, Kris. Semoga aku tidak salah dengan pilihanku. Namja itu.. dia punya riwayat yang sangat kelam dan aku ingin tahu. Kurasa dia tidak bisa mengingat masa lalunya."jelas Tuan Andrew.
"Kau akan mengangkatnya, huh?"tanya Kris, dikekehi Tuan Andrew.
"Aku ingin melihat sampai mana kemampuannya, barulah aku akan mengangkatnya."ucap Tuan Andrew.
"Good. Kalau mereka bisa membuktikan diri mereka, kita saling angkat saja mereka."ucap Kris, dikekehi Tuan Andrew.
"Kau benar."
-XOXO-
Malam sudah menyapa. Kerlap-kerlip bintang berenang di udara, menghiasi malam para pasukan yang terlelap ke alam mimpi. Pengecualian untuk our main lead, Kim Jongin.
Jongin berjalan di antara hamparan rumput, kemudian duduk di tepi bukit dekat tendanya. Ia menatap pemandangan di hadapannya, menikmati semilir angin malam yang menyapanya. Jongin duduk bersila, kembali tenggelam dalam pikirannya.
"Kejadian-kejadian itu bermunculan dalam benakku, tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi terhadapku di masa lalu? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?"gumam Jongin.
Jongin menunduk. Pikirannya tertuju pada penderitaan orang-orang Roma yang menyeramkan. Pundaknya kembali bergetar. Seakan-akan, ia merasakan penderitaan orang-orang itu.
"Kenapa Tuhan begitu jahat, membiarkan mereka menderita sementara aku bahagia bersama Sehun di sini?"gumam Jongin, lirih.
Setetes.
Dua tetes.
Hingga sebuah sungai tercipta di wajah Jongin. Airmata mengaliri wajahnya, merasakan setiap emosi dalam bayangannya dan bagaimana merasakan penderitaan orang-orang Roma.
"Ya Tuhan, kenapa aku tidak bisa mengingat masa laluku?"gumam Jongin.
Jongin meremas rambut kepalanya sendiri, menenggelamkan kepalanya di antara lipatan kakinya. Ia kembali menangis di sana, benar-benar menuntut Tuhan untuk menjawab setiap pertanyaannya.
"Jongin?"
Jongin terkaget, kemudian dengan kasar menyeka airmatanya. Ia menoleh, mendapati Sehun yang berjalan keluar dari tendanya. Ia menghampiri Jongin, kemudian duduk di sampingnya. Jongin menatap Sehun, kemudian menunduk dalam.
"Masih memikirkan hal tadi siang?"tanya Sehun pelan, diangguki Jongin dengan pelan.
Sehun mendekat ke arah Jongin, kemudian merangkul pundaknya. Ia mengusap pundak Jongin yang satu lagi, menatap wajah sahabatnya dengan prihatin. Jongin tengah menahan tangisnya, dan Sehun menyadarinya.
"Menangislah, Jong. Menangislah agar Tuhan menyadari bahwa kau terus menanti Dia menjawab setiap pertanyaan-pertanyaanmu."
"Hiks.."
Pertahanan Jongin runtuh. Ia melipat kakinya, kemudian menenggelamkan wajahnya di sana dan menangis deras. Sehun tak hentinya mengusap punggung Jongin dan juga menepuk-nepuk pelan kepalanya khas seorang sahabat. Sehun tidak bicara apa-apa. Dia membiarkan suara tangis Jongin mendominasi.
Sehun teringat sesuatu.
Flashback start
"Hiks.. hiks.."
Sehun kecil menangis di antara bunga-bunga taman, melipat kakinya dengan kekanak-kanakan dan menenggalamkan wajahnya di sana. Tidak ada orang yang peduli dengan tangisannya, dan Sehun kecil sendiri tidak mau orang lain kerepotan.
"Sehun.."
Sehun kecil mendongakkan kepalanya, mendapati seorang namja yang menatapnya prihatin. Namja dengan umur belasan itu mendekati Sehun kecil, kemudian mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di samping tubuh besarnya.
"Kau kenapa, hm?"tanyanya, dengan penuh perasaan.
"Se-Sehun rindu rumah.."ucap Sehun kecil, lirih.
"Kita tidak bisa pulang, Sehun. Kau tahu, orangtua kita tidak ingin kita pulang."ucap namja itu, membuat Sehun kecil menatapnya heran.
"Apa mereka tidak mencintai kita lagi, kak?"tanya Sehun kecil, disenyumi namja itu.
"Bukan begitu, Sehun. Tapi, mereka tahu bahwa ini yang terbaik bagi kita. Mereka tidak ingin kita terluka oleh para Saxon."ucap namja itu, kemudian merangkul Sehun kecil dengan lembut.
"Aku ingin membantu mereka melawan Saxon, kak."ucap Sehun kecil, dikekehi namja itu.
"Suatu saat nanti, kau akan mendapat kesempatan itu. Kita akan mendapat kesempatan untuk melawan mereka, Sehun. Percayalah pada kakak."ucap namja itu, disenyumi Sehun kecil.
Sehun kecil mendekap tubuh namja itu, dan namja itu mengusap tubuh Sehun dengan lembut. Sehun kecil senang jika ada yang memperhatikannya seperti ini.
"Terimakasih."
.
.
"Kak Kevin."
Flashback end
Sehun menyadari bahwa kejadian ini persis seperti apa yang pernah terjadi olehnya dulu. Jongin yang merindukan rumah. Sehun menatap Jongin yang sudah sedikit berhenti menangis. Namja itu sesenggukan, dan Sehun malah tertawa melihat ekspresinya.
"A-apa.. hiks! Apa yang lucu?"tanya Jongin, membuat Sehun berusaha melawan tawanya.
"Hahaha, tidak ada. Hidung besarmu yang memerah itu benar-benar membuatmu terlihat seperti badut, hahaha!"tawa Sehun meledak, lagi.
"Ish, dasar menyebalkan! Sudah tahu merah, kenapa diperhatikan?"tanya Jongin, sarkastik.
"Hahaha, bisa-bisanya kau marah setelah menangis. Hahaha, Ya Tuhan wajahmu hancur sekali!"ejek Sehun, membuat Jongin mendengus ke arahnya.
"Kau benar-benar tidak membantu, Oh Sehun."ucap Jongin, dikekehi Sehun.
"Sorry, sorry. No offense."ucap Sehun, kemudian menyeka airmatanya saking hebohnya tertawa.
Sehun mengamati Jongin, yang kini tengah menyeka jejak airmatanya. Sehun mengusap punggung gagah Jongin dengan bersahabat, membuat namja itu menoleh.
"Kenapa?"tanya Jongin, digelengi Sehun.
"Kau mengingatkanku pada diriku yang dulu. Dulu, aku juga pernah berada dalam posisimu. Dan ada seseorang ini, setia di sampingku. Dulu."ucap Sehun, membuat Jongin mengernyit.
"Kenapa dengan orang itu, Hun?"tanya Jongin, membuat Sehun menghela nafas berat.
"Tewas setelah menolongku dalam sebuah penyerangan kaum Saxon di pinggiran pantai Spanyol. Entahlah. Terakhir kulihat, sebuah panah menancap pada dada kanannya, dan dia ambruk. Tubuhnya penuh luka pedang. Saat itu, aku tidak punya kesempatan untuk membalas kaum Saxon karena terlalu lemah, akhirnya aku diangkut anggota pasukan lain."jelas Sehun.
Jongin menatap Sehun, merasa iba. Namja itu kini tengah menahan airmatanya, kemudian memalingkan muka untuk menyembunyikan airmatanya–manly sekali. Sehun menatap Jongin dengan pandangan berkaca-kaca, kemudian terkekeh miris.
"Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi setelah itu. Aku bersumpah, aku akan menghabisi para kaum Saxon itu."jelas Sehun, lirih.
"Siapa dia, Hun?"tanya Jongin.
.
.
"Dia adalah kakakku. My brother."
-XOXO-
Esok pagi menyapa. Para pasukan itu pun mulai merapikan barang-barang mereka dan mengepaknya di atas kuda mereka. Sehun dan Jongin membagi tugas. Sehun yang merapikan barang-barang mereka, sedangkan Jongin menyiapkan kuda mereka dengan sedikit melatihnya dan memberi mereka banyak makan.
TAK TOK TAK TOK
Jongin mengendarai kudanya, dengan satu tangannya menarik tali kekang kuda Sehun. Ia mengajak kuda-kuda itu berlari melintasi padang rumput sekitar mereka, setelah sebelumnya diberi makan. Setelah yakin mereka siap, ia pun membawanya kembali ke tenda.
"Hai, Jongin."
Jongin menoleh, mendapati seorang namja wajah blasteran bule menatapnya. Jongin turun dari kudanya, tak lupa menuntun tali kekangnya.
"Letnan Kris."gumam Jongin, mengingat-ingat nama itu.
"Kau ingat aku rupanya. Baguslah. Emm, Sehun.. sudah makan?"tanya Kris seraya menatap ke arah tenda mereka.
"Kami sudah makan dari tadi pagi, letnan."ucap Jongin, diangguki Kris.
Entah hanya perasaan Jongin saja atau bagaimana, tadi dia melihat secercah senyum pada wajah Kris.
"Baiklah. Jaga diri kalian. Di balik bukit-bukit sana adalah Roma. Sebentar lagi kita sampai."ucap Kris seraya menunjuk bukit-bukit yang ada di seberang pandangan.
Jongin mengangguk, kemudian membiarkan Kris pergi dari situ. Jongin agak heran. Namja tadi berlagak akrab dengannya, tapi Jongin tidak terlalu memikirkannya.
"Mungkin dia menanyakan hal yang sama kepada pasukan lain."ucap Jongin, kemudian kembali melangkah ke arah tendanya dengan membawa kuda-kudanya.
Tanpa ia sadari, Kris berhenti jauh dari tempatnya semula, kemudian berbalik dan menatap Jongin yang tampak akrab dengan Sehun. Kris tersenyum miring, menatap keakraban mereka.
"Kau sudah menemukan sahabat baru yang lebih baik, Hun."
-XOXO-
"AYO, KITA LANJUTKAN PERJALANAN!"
Terdengar pekikan Jenderal Vincent. Seluruh pasukan sudah siap dengan kuda mereka, kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Roma.
Jongin menatap jalur di depan mereka, kemudian teralih kepada Sehun yang tengah sibuk mengasah pisaunya. Jongin terdiam, tidak mau menginterupsi Sehun. Ia agak teringat ucapan dari Letnan Kris yang tadi pagi mengajaknya mengobrol.
.
"Emm, Sehun.. sudah makan?"
.
"Jongin?"
Jongin menoleh, ketika mendapati Sehun yang menatapnya sambil mengernyit. Jongin terkekeh, kemudian menggeleng tanda bahwa dia baik-baik saja. Sehun mengangkat sebelah alisnya, tetapi kemudian mengangguk mengerti dan kembali mengasah pisaunya. Jongin menatapnya, kemudian menghela nafas pelan. Dia bersyukur Sehun tidak mengetahui isi pikirannya.
Pandangan Jongin teralihkan pada punggung seorang namja tegap di pasukan depan yang tengah memimpin perjalanan. Namja itu sedang mengobrol dengan Jenderal Vincent, mendiskusikan jalur yang akan mereka lewati.
Sebenarnya, kenapa Letnan Kris bertanya seperti itu tadi pagi?; batin Jongin. Ia pun menoleh pada Sehun yang tengah meniup ujung pisaunya beberapa kali.
Siapa sebenarnya Letnan Kris?
-XOXO-
"Itu pintu portcullis kota Roma."
Kris menunjuk sebuah pintu besar yang berada di kungkungan dinding besar dan tebal yang seperti benteng. Tuan Andrew mengangguk di sampingnya, kemudian menatap pasukannya.
"Suruh mereka berhenti, Andrew. Aku akan mendatangi pintu itu."ucap Jenderal Vincent, diangguki Tuan Andrew.
"PASUKAN HARAP BERHENTI!"
Seluruh kuda yang dikendarai pengemudinya pun berhenti. Jenderal Vincent memacu kudanya untuk berlari ke arah pintu yang ada di depan pandangan mereka. Jenderal Vincent mendekati pintu itu, kemudian dicegat beberapa tentara.
Sementara itu, pasukan di belakang pun sama herannya.
"Ada apa?"tanya Jongin, dideliki Sehun.
"Mungkin pengecekan surat pengantar. Untuk memasuki kota-kota seperti Roma atau Venesia, kau harus punya surat pengantar dari pengembara-pengembara agar diizinkan masuk. Karena surat pengantar kita adalah dari Raja Marseilles, kurasa tidak ada masalah."ucap Sehun, diangguki Jongin.
"Lalu, bagaimana kau bisa mengembara, Hun? Kau juga punya surat pengantar?"tanya Jongin, diangguki Sehun.
"Aku berteman dengan beberapa pengembara yang bekerja dalam kerajaan. Seperti letnan, atau beberapa pemacu kuda. Aku mendapat surat pengantar untuk menjelajah Eropa dari mereka."jelas Sehun.
"Berarti, kau punya reputasi di antara para elit kerajaan?"tanya Jongin, dikekehi Sehun.
"Jika kau menyebutnya demikian, itu benar."
"LANJUTKAN JALAN!"terdengar pekikan Tuan Andrew lagi.
Kuda-kuda itu pun mulai berjalan lagi. Jongin menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. Setelah itu, barulah ia menyusul kuda Sehun dan kembali mengikuti pasukan itu.
"Kau pernah ke Roma?"tanya Sehun, digelengi Jongin.
"Belum. Ini yang pertama."ucap Jongin, dengan mata tak berhenti menatap sekeliling.
"Kau pasti benar-benar penasaran dengan keadaan kota Roma sampai sepenasaran itu."tebak Sehun, diangguki Jongin tanpa ragu.
"Aku penasaran tentang kebenaran ucapanmu."ucap Jongin, dikekehi Sehun.
"Kau tidak akan terkejut. Apa yang aku ucapkan itu seratus persen fakta yang aku lihat sendiri."ucap Sehun, enteng.
Satu persatu baris pasukan memasuki pintu portcullis kota Roma yang sudah diturunkan. Sehun melirik Jongin, terkekeh ketika melihat wajah antusias Jongin di sana. Sepertinya dia benar-benar masih polos. Kawan yang menarik sekali; batin Sehun.
Jongin menatap pintu portcullis kayu yang berada tepat di bawah tapak kaki kudanya. Ia tidak bisa menghilangkan rasa excited dalam dirinya untuk mengetahui kota Roma. Untuk pertama kalinya, ia keluar dari Paris.
"Well, Jongin, lihatlah ke depan."ucap Sehun, membuat Jongin menatap ke depannya.
Mata tajamnya terbelalak kaget. Mulutnya menganga, takjub dengan apa yang disajikan di depannya. Ia tidak menghentikan gerakan kudanya, tetapi ia tetap menatap sekeliling perlahan-lahan–tidak melewatkan satu sudut pun.
"I introduce you, Kim Jongin.."ucap Sehun, seraya merentangkan satu tangannya dan satu tangannya masih memegang tali kekang kuda.
.
.
"..to the famous Rome."
TO BE CONTINUED
Note :
HELLO GUYS!
KAISOO SHIPPER MANA SUARANYAA? SIAP-SIAP, YA! CHAPTER SELANJUTNYA KYUNGSOO MUNCUL YEAY! Adakah yang masih setia menunggu Kyungsoo muncul wkwkwk. Anggap saja FF ini seperti film-film yang memunculkan tokoh ceweknya di tengah-tengah film biar greget gitu hehehe
Well, kisah cinta akan dimulai di chap depan! Jadi, antisipasi please!
#SpecialPost 3 Chapters A Day!
Mind to REVIEW and FAVOURITE my FF?
HUANG AND WU
