Previously (Chapter 4) :
"Well, Jongin, lihatlah ke depan."ucap Sehun, membuat Jongin menatap ke depannya.
Mata tajamnya terbelalak kaget. Mulutnya menganga, takjub dengan apa yang disajikan di depannya. Ia tidak menghentikan gerakan kudanya, tetapi ia tetap menatap sekeliling perlahan-lahan–tidak melewatkan satu sudut pun.
"I introduce you, Kim Jongin.."ucap Sehun, seraya merentangkan satu tangannya dan satu tangannya masih memegang tali kekang kuda.
.
.
"..to the famous Rome."
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 5
Pasukan itu memasuki kota tersebut perlahan-lahan. Penduduk Roma melihat iring-iringan pasukan itu, beberapa anak kecil antusias berlari mengikuti pasukan itu.
"Kota ini jadi lebih sepi dari terakhir kulihat."gumam Sehun, membuat Jongin menoleh.
"Memangnya, seramai apa sebelumnya?"tanya Jongin, dikekehi Sehun.
"Ramai sekali. Banyak pedagang, banyak pencuri, banyak pelacur. Tapi, semuanya membangun tatanan sosial yang saling bersatu padu membentuk kehidupan sosial Roma. Dulu, Roma itu seramai Paris."jelas Sehun, diangguki Jongin.
"Kenapa jadi sepi?"tanya Jongin, dideliki Sehun.
"Jika aku tidak salah, beberapa penduduk sudah diungsikan lebih dahulu ke daerah kosong di Konstantinopel. Ini penduduk yang tersisa. Itu.. yang kudapat dari kabar burung."jelas Sehun, diangguki Jongin.
"Kenapa mereka belum semuanya mengungsi?"tanya Jongin.
"Entahlah. Ada beberapa kasus dimana penduduk mau bergabung dengan para Saxon. Mungkin di sini juga ada."ucap Sehun.
Tak lama, pasukan itu sampai di sebuah halaman kastil khas kerajaan yang bersih dan asri. Sehun dan Jongin menahan pergerakan kuda mereka.
"Hanya beberapa pasukan saja yang masuk!"titah Tuan Andrew.
"Kami akan berkeliling! Ayo, Jongin!"pekik Sehun dari belakang, kemudian beralih pada Jongin.
Jongin menatap Tuan Andrew yang mengangguk padanya, kemudian beralih pada Sehun dan mengikuti pergerakan kudanya. Di samping Tuan Andrew, Kris menatap mereka.
"Aku akan ikut dengannya. Kau menghadap Raja Santos saja bersama Jenderal Vincent dan yang lain. Untuk pasukan lain, berpencar!"titah Kris, diangguki mereka semua.
Maka, sekitar 20 ekor kuda pun berpencar, dan Kris mulai mengikuti pergerakan Sehun dan Jongin yang menuju salah satu sudut kota.
"Perwakilan Kekaisaran Paris, silahkan mengikuti kami kemari."terdengar ucapan salah seorang pasukan dari penjaga gerbang kastil.
"Baik."sahut Tuan Andrew.
Tuan Andrew menatap kepergian Kris dengan kudanya, kemudian masuk ke dalam kastil bersama beberapa pasukannya.
-XOXO-
"Hey, kalian!"
Sehun dan Jongin menoleh, ketika mendengar ucapan seseorang. Tampak Kris berada di belakangnya, mengendarai kudanya perlahan-lahan. Jongin dan Sehun mengangguk hormat, kemudian kembali beralih ke depan.
"Aku tidak melihatnya, Sehun. Apa benar Roma sejahat itu?"tanya Jongin, diangguki Sehun.
"Percayalah, Roma bukanlah kota yang tepat untuk pencari kedamaian seperti kita."sahut Sehun.
Perbincangan mereka pun terdengar oleh Kris yang masih setia mengekori mereka. Kris menatap kedua namja pengendara kuda di hadapannya bergantian, barulah mengerti maksud perbincangan itu.
"Kau baru pertama ke Roma, Jongin?"tanya Kris, membuat Jongin menoleh.
"Ah, iya. Aku belum pernah keluar Paris sebelumnya."ucap Jongin, diangguki Kris.
"Tidak heran jika kau bertanya-tanya. Roma memang bukan kota yang baik."ucap Kris, membuat Jongin menoleh ke arahnya.
"Anda juga tahu, letnan?"tanya Jongin, dikekehi Kris.
"Jangan terlalu formal. Kris saja sudah cukup."ucap Kris, diangguki mereka.
"Kau juga tahu banyak soal Roma, Kris."ucap Sehun, diangguki Kris dan dihadiahi senyuman miringnya.
"Lumayan. Aku berkali-kali kemari. Mengantar jemput utusan kerajaan, mengambil beberapa barang pesanan kerajaan, atau bahkan mengambil surat balasan kerajaan. Beragam kegiatan."ucap Kris.
"Apa kau pernah melihat Roma yang asli? Sehun bilang, di pinggir-pinggir jalanan akan banyak ditemui perdagangan budak."ucap Jongin dengan sangat polosnya, membuat Sehun agak menghela nafas pelan.
"Owh, jadi itu yang diucapkan kawanmu?"tanya Kris, kemudian menatap Sehun dengan satu alis terangkat.
Sehun menatap Kris dan Jongin bergantian, kemudian mendelikkan bahunya. Ia menghela nafas berat, kemudian menatap jalanan di depannya.
"Aku hanya mengucapkan kebenaran yang ada di depan mataku."jelas Sehun.
"Sehun benar. Roma memang seperti itu."ucap Kris, memperjelas ucapan Sehun.
"Lalu, kenapa dari tadi aku tidak melihat sesuatu yang aneh?"tanya Jongin, dikekehi Kris.
"Sejumlah besar penduduk sudah diungsikan untuk pergi sebelum para Saxon datang kemari. Mungkin, mereka yang melakukan perdagangan budak telah pergi lebih dulu."ucap Kris, diangguki Jongin.
"Sepi sekali sudut-sudut kota ini."ucap Jongin, disenyumi Kris.
"Kau suka mengamati sesuatu, bukan?"tanya Kris, membuat Jongin menunduk salah tingkah.
"Yah, aku suka mengamati sesuatu yang baru pertama aku lihat."ucap Jongin, disenyumi Kris.
"Sikap yang baik. Tapi hati-hati, jangan mengamati sesuatu yang salah."ucap Kris, membuat Sehun tertawa dan menatap Jongin yang tampak salah tingkah–namja satu ini benar-benar polos.
"Sesuatu yang salah? Apa itu?"tanya Jongin, kemudian menatap Kris dan Sehun bergantian.
Sehun dan Kris saling berpandangan, kemudian menghela nafas berat. Jongin justru menatap keduanya bergantian. Entah dia memang polos, atau ilmu yang disampaikan Kris dan Sehun belum sampai level otaknya, hanya Tuhan yang tahu.
"Lupakan saja. Lelucon bodoh."gumam Sehun, kemudian tersenyum ke arah Kris.
"Dasar."desis Kris.
"LETNAN KRIS!"
Kris, Sehun, dan Jongin menoleh, mendapati seorang anak jalanan berlari ke arahnya. Anak itu mengenakan pakaian khas anak jalanan berandal White Chapel, London. Ternyata Roma tidak berbeda jauh dengan London; batin Sehun.
Kris menatap anak itu dengan tidak berkedip. Jongin menatap pemandangan itu, kemudian mengernyit heran. Kris kenapa?; batin Jongin.
"Letnan Kris!"pekik anak itu, lagi.
"Oh, ada apa?"tanya Kris, setelah sadar dari lamunannya.
"Anda dipanggil oleh perwakilan kerajaan. Aku dibayar beberapa franc untuk memanggilmu ke sana."ucap anak itu, diangguki Kris.
"Baiklah."sahut Kris, kemudian memutar haluan kudanya dan langsung memacu kudanya cepat menuju istana.
Meninggalkan Sehun dan Jongin yang menatap kepergiannya. Jongin menatap anak jalanan yang kini sudah berlari menjauh itu dengan penasaran. Apa yang membuat Kris menatapnya sebegitu dalam?; batin Jongin.
Untuk saat ini, pertanyaan itu masih jadi misteri bagi Jongin.
"Jongin?"
Jongin menoleh, mendapati Sehun yang menatapnya dengan satu alis terangkat. Jongin merasa familiar dengan cara Sehun menatapnya saat ini. Jongin menatap jalanan yang dilalui Kris tadi.
"Ada masalah?"tanya Sehun, digelengi Jongin.
"Tidak ada. Ayo, kembali berkeliling."ucap Jongin, kemudian menatap Sehun sekilas dan memacu kudanya perlahan.
"Hey! Jangan tinggalkan aku!"pekik Sehun, kemudian ikut memacu kudanya.
Selagi Sehun menyamakan langkahnya dengan Jongin, Jongin tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Genggamannya pada tali kekang kudanya mengerat, kemudian ia menatap Sehun yang tengah sibuk merapikan topi prajuritnya. Satu hal mengganjal dalam pikirannya.
Cara Sehun mengangkat satu alisnya tadi, terlihat sama persis dengan bagaimana Kris mengangkat satu alisnya.
-XOXO-
Jongin dan Sehun berjalan-jalan mengelilingi Roma, menatap setiap sudut kota itu dengan banyak perbincangan. Jongin banyak bertanya, dan Sehun banyak menjawab. Sesekali, Sehun terkekeh melihat ekspresi Jongin, dan berakhir dengan Jongin yang menepuk kepala sahabatnya karena dia tidak berhenti tertawa.
"Hey, ada orang-orang berkumpul di sana."ucap Jongin, seraya menunjuk orang-orang yang berkumpul di satu sudut.
"Mau ke sana?"tanya Sehun, diangguki Jongin.
"Ayo."
Jongin dan Sehun turun dari kuda mereka, kemudian mengikatnya ke sebuah tiang. Sehun membayar seorang anak jalanan beberapa franc agar mau menjaga kuda mereka. Keduanya saling berpandangan, kemudian berjalan ke arah kerumunan itu.
TAK! TAK!
Terdengar suara benda tegas yang saling berbenturan. Entah kenapa, Jongin mempercepat langkahnya. Sehun merasa ada yang aneh dalam kerumunan itu, jadi dia terus mengikuti langkah Jongin.
"Maaf, permisi. Saya mau lewat."ucap Jongin, berusaha berbicara secara halus.
Sehun mengikuti Jongin di belakangnya, melewati warga-warga yang balas menatap mereka. Tubuh tinggi Jongin dan Sehun memudahkan mereka melihat ke dalam kerumunan itu. Selanjutnya, mereka hanya kaget bukan main.
Seorang yeoja yang lesu dan berdarah-darah terikat pada sebuah tiang. Seorang namja berdiri di dekatnya, dengan sebuah cambuk pada tangannya. Pakaian yeoja itu sudah sangat koyak akibat cambuk yang diterimanya.
"Apa-apaan ini?"pekik Sehun, menatap sekelilingnya dengan kaget.
Orang-orang itu menatap Jongin dan Sehun. Jongin berjalan ke arah sang algojo, menatapnya dengan sengit.
"Apa yang sudah kau lakukan? Kau tahu, ini melanggar aturan!"tegas Jongin.
"Wanita ini berusaha mencuri seekor domba dalam salah satu peternakan. Kami hanya menjalankan hukuman yang setimpal padanya."ucap sang algojo, berkelit.
"Sehun, lepaskan dia."ucap Jongin seraya menatap Sehun.
Sehun mengangguk, kemudian berjalan ke arah yeoja yang sudah lemas itu dan meraih pedang pada sabuknya. Jongin menatap algojo di hadapannya dengan pandangan kesal.
"Kau tidak tahu apa yang sudah kau lakukan!"pekik salah seorang warga, kemudian berjalan ke arah Jongin dengan kesal.
SRING!
"Tutup mulutmu, atau aku yang akan menutupnya secara paksa."
Mereka semua terdiam, begitupun Sehun yang kaget dengan apa yang baru saja Jongin lakukan.
Namja itu menarik pedang dari sabuknya, kemudian menodongkannya pada warga yang tadi melawannya dan menatapnya dengan pandangan dingin tak berbelas kasihan.
Warga yang tadi berdebat dengan Jongin pun hanya diam, menelan ludahnya kasar. Jongin menatap warga itu dengan sengit, kemudian menurunkan pedangnya dan menghampiri Sehun yang sudah melepas tali dari yeoja itu.
"Dia terluka parah."ucap Sehun.
"Kita harus membawanya kepada Tuan Andrew. Ambil kuda. Kita pergi dari sini."ucap Jongin, diangguki Sehun.
Sehun berdiri, kemudian berlari cepat ke arah kuda mereka yang terikat. Jongin menatap sosok yeoja di hadapannya, mengusap wajahnya perlahan. Yeoja itu menatapnya dengan lemas dan tanpa harapan. Jongin memposisikan kedua tangannya pada leher belakang dan lutut yeoja itu.
Ia kemudian mengangkatnya ala bridal style.
TAK TOK TAK TOK
Sehun membawa kedua kuda mereka mendekat. Sehun mengambil alih yeoja itu, dan Jongin mendatangi sang algojo yang masih menatapnya dengan kesal.
"Berapa harga domba yang berusaha dia curi?"tanya Jongin.
"20 franc."jawab namja itu.
SREK
Jongin merogoh kantungnya, kemudian mengeluarkan dua jumput uang logam perak dan menyerahkannya pada namja itu. Ia meraih tangan kanan namja itu, kemudian menaruh uang tersebut di sana.
"Jika kau berani menghukum yeoja atau siapapun lagi dengan cara seperti ini, aku bersumpah takkan membiarkanmu bernafas."ucap Jongin, lirih dan tegas.
"Ba-baik."sahut namja itu, mulai ketakutan.
Jongin menatap orang-orang di sekelilingnya dengan sengit, kemudian berjalan ke arah kudanya. Yeoja itu sudah berada di atas kuda milik Sehun. Sehun menatap Jongin dengan pandangan intens.
Sehun tidak pernah melihat Jongin yang setegas itu.
"Ayo."ucap Jongin.
TAK TOK TAK TOK
Mereka pun meninggalkan kerumunan itu, menuju kastil kerajaan Roma.
-XOXO-
"Terimakasih karena sudah menolongnya, Tuan Andrew."
Jongin menatap Tuan Andrew, kemudian membungkuk singkat. Tuan Andrew tersenyum menatap Jongin dan Sehun, kemudian mengangguk.
"Tadi, dia bilang dia ingin bicara denganmu, Jongin. Sehun, kau ikut aku menemui Letnan Kris. Kita bicarakan masalah evakuasi keluarga kerajaan."ucap Tuan Andrew, membuat Sehun menatap Jongin.
"Tapi, Jongin.."ucap Sehun, lirih.
"Aku baik-baik saja. Kabari aku kalau ada berita penting."ucap Jongin.
Tuan Andrew menatap Sehun, mempersilahkannya berjalan bersama. Sehun menatap Jongin sekilas, kemudian mengangguk. Ia menatap Tuan Andrew, kemudian berjalan bersama namja tersebut menyusuri lorong istana tersebut.
Jongin menatap kepergian Sehun, kemudian menatap pintu cokelat di hadapannya. Ia menarik nafasnya pelan, kemudian melangkah masuk ke dalam.
CKLEK
"Halo?"panggil Jongin.
Jongin menutup pintu itu, kemudian berjalan ke satu kasur yang sudah diisi oleh sesosok yeoja kurus dan rapuh. Jongin duduk di samping kasur itu, menatap yeoja yang tertidur itu.
Merasa ada kehadiran seseorang, yeoja itu membuka matanya perlahan.
"Hai."sapa Jongin, dengan senyuman ramahnya.
Yeoja itu menatap tepat pada mata Jongin. Jongin mengerjap, kemudian tersenyum lagi. Ia menyingkap selimut yeoja itu perlahan, menatap setiap luka yang sudah dibalut dengan campuran madu dan minyak ikan oleh Tuan Andrew.
"Kau sudah baikan?"tanya Jongin.
Jongin ingin mendengar suara yeoja itu, tetapi yeoja itu tidak menjawab sama sekali. Jongin menarik nafas pelan, kemudian tersenyum. Ia merapatkan selimut yeoja itu hingga sebatas leher, kemudian tatapannya beralih pada tangan kanan yeoja itu.
Tangan itu rapuh, dengan beberapa sendinya yang dislokasi.
Jongin menggenggam tangan itu perlahan, membuat yeoja itu agak meringis. Jongin menatap wajah yeoja itu, kemudian ia menggeser bangkunya agar lebih dekat dengannya.
"Beberapa sendimu tidak pada tempatnya. Aku akan mengembalikannya ke posisi awal. Bisa kau tahan?"tanya Jongin, menatap yeoja itu dengan tatapan prihatin.
Yeoja itu menatap Jongin dalam, sejurus kemudian mengangguk. Jongin memposisikan tangannya, menatap tangan kanan yeoja itu. Ia memegang tangan itu dengan hati-hati, tak ingin yeoja itu terluka.
KRAK!
"ARGH!"pekik yeoja itu, ketika dirasa perubahan sendi tangannya yang menyakitkan.
KRAK!
"ARGHHH!"pekik yeoja itu, jauh lebih keras.
KRAK!
"ARGHHHHH!"
Jongin menatap tangan itu, mengusapnya lembut. Ia menatap yeoja itu yang bernafas tersengal-sengal, dengan airmata menuruni pipinya. Jongin menyeka airmata itu, menatapnya dengan pandangan teduh.
"Kau sudah melaluinya. Kau akan baik-baik saja."ucap Jongin.
Yeoja itu menatap Jongin, kemudian menarik tangan Jongin agar Jongin mau mendekatkan wajahnya. Jongin menatapnya dengan heran, tetapi ia tetap menuruti yeoja itu. Kepala Jongin pun berada di samping kepala yeoja itu.
"Kyungsoo. Do Kyungsoo."
Jongin menatap wajah yeoja itu, yang masih menatapnya dalam. Jongin berpikir sesaat, kemudian tersenyum dan mengangguk. Ia pun berdiri, kemudian merapikan selimut yeoja itu.
"Istirahatlah.."
.
.
"..Kyungsoo."
Dan kemudian, Jongin pun meninggalkan Kyungsoo untuk beristirahat di dalam ruangan itu.
-XOXO-
"Kita akan mengungsikan seluruh keluarga kerajaan Roma ke Paris."
Sehun mendengarkan instruksi Jenderal Vincent dengan serius. Ia juga mendengarkan beberapa pertanyaan dari Kris dan Tuan Andrew dengan serius. Ia juga berusaha mencerna informasi-informasi itu.
CKLEK
"Ah, itu kau, Jongin."
Jongin muncul dari balik pintu, kemudian memamerkan senyumnya. Ia pun berjalan ke dekat Sehun, kemudian duduk di sampingnya.
"Bagaimana kabar yeoja itu?"tanya Sehun, disenyumi Jongin.
"Dia akan bertahan."jawab Jongin.
Jongin dan Sehun pun kembali fokus pada papan instruksi di depan mereka. Jenderal Vincent masih berbicara soal taktik evakuasi keluarga kerajaan.
Dan setelah beberapa kali mendengarkan, Jongin mengangkat tangannya.
"Apa kita hanya mengevakuasi keluarga kerajaan?"tanya Jongin, diangguki Jenderal Vincent.
"Tentu saja. Memang, siapa lagi yang akan kita evakuasi?"tanya Jenderal Vincent, membuat Jongin berpikir keras.
"Bagaimana dengan warga Paris yang belum dievakuasi sepenuhnya?"tanya Jongin, membuat Tuan Andrew dan Kris saling bertatapan heran.
"Mereka bahkan tidak mau dievakuasi sebelumnya."ucap Jenderal Vincent, membuat Jongin mengernyit.
"Kurasa mereka belum mau dievakuasi karena mereka belum tahu bahaya yang menyerang mereka. Kita juga harus mengevakuasi mereka! Kita harus bisa mengevakuasi sebanyak mungkin nyawa yang kita bisa bawa."ucap Jongin dengan nada menggebu-gebu.
"Itu akan memperlambat langkah evakuasi kita, Jongin. Terlalu banyak penduduk yang belum dievakuasi. Seperlima warga Roma! Kau mau bertanggung jawab terhadap seperlima nyawa warga Roma ini?"tanya Kris, berusaha agar Jongin mengerti situasinya.
Tuan Andrew menatap Jongin dalam diam. Ia menunggu Jongin menjawab pertanyaan itu. Sehun menatap Jongin dengan pandangan tak bisa diartikan, begitupun Kris dan Jenderal Vincent.
.
.
"Jika aku memang harus bertanggung jawab demi keselamatan mereka, aku bersedia."
Mereka yang mendengar jawaban Jongin, tak bisa lagi berkutik.
-XOXO-
TAK TOK TAK TOK
"Seluruh warga Roma, berkumpullah di alun-alun sekarang!"terdengar pekikan di segala sudut kota.
Warga Roma berjalan menuju alun-alun. Beberapa anak kecil juga berkumpul di sana, berlari-larian dengan riang. Pasukan pengaman dari kerajaan Paris berdiri di altar, dengan Jenderal Vincent yang akan memberikan satu pengumuman.
Jenderal Vincent menatap Tuan Andrew, meminta persetujuannya. Tuan Andrew mengangguk, memberikan keyakinannya pada Jenderal Vincent.
"Kaum Saxon yang keji sedang menuju kemari! Mereka tidak akan membiarkan siapapun hidup dan akan membantai setiap tubuh bernyawa yang mereka lewati! Mereka akan membakar rumah-rumah kalian, mencuri ternak kalian, membunuh kalian dengan keji! Jika kalian mau ikut kami dan dievakuasi ke Paris, kami yakin kalian akan punya kesempatan hidup lebih baik di sana!"pekik Jenderal Vincent, memberi pengumuman singkat.
Tuan Andrew menatap Jenderal Vincent, kemudian mendengar seseorang berbicara. Ia menoleh, dan mendapati Jongin yang tengah berjongkok dan berbicara dengan beberapa anak kecil.
"Mana orangtua kalian?"tanya Jongin, digelengi mereka.
"Kami tidak punya orangtua."jawab mereka semua, disenyumi Jongin.
"Kalian punya pakaian dan barang-barang sendiri, kan? Nah, sekarang kalian berkemas dan berkumpul lagi di sini secepatnya. Aku akan menunggu. Mengerti?"tanya Jongin, berusaha memberi pengertian pada mereka.
"Kita mau kemana?"tanya salah seorang anak kecil, gadis mungil berambut ikat kuda.
Jongin mengusap kepala gadis itu, kemudian tersenyum. Ia menatap anak-anak itu dengan perhatian.
"Kita akan menuju tempat dimana kalian bisa menikmati buah-buahan sepuas kalian!"pekik Jongin, membuat wajah anak-anak itu ceria.
"Benarkah? Hebat!"
Setelah mendapat jawaban itu, anak-anak itu pun mulai berlarian menuju rumah singgah mereka masing-masing, bersiap untuk pergi. Jongin pun berdiri, menatap kepergian anak-anak itu dengan pandangan teduh dan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Tanpa ia sadari, Tuan Andrew memperhatikan Jongin terus. Ia tersenyum menatap namja itu, tak mampu menghilangkan rasa senang tak beralasan dalam hatinya.
Akhirnya ia berhasil bangkit dari keterpurukannya...
-XOXO-
Seluruh pasukan Paris bersiap di alun-alun Roma. Para keluarga kerajaan Roma menaiki kereta kuda mereka, dengan beberapa penduduk yang juga memasok kereta kuda. Sebagian besar para pengungsi berjalan kaki, dan pasukan Paris pun berkeliling dengan kuda mereka, menatap persiapan mereka semua.
TAK TOK TAK TOK
Terdengar suara kuda. Seorang prajurit Paris memacu kudanya mendekat, menuju Tuan Andrew dan Jongin yang ada di dekatnya.
"Aku mendengar mereka. Saxon. The whole army, dengan genderang perang dan bendera yang berkibar. Mereka sudah sampai di bukit seberang."ucap prajurit itu, diangguki Tuan Andrew.
"Baik, Nathan. Kembalilah ke pasukan."ucap Tuan Andrew, membuat prajurit bernama Nathan itu heran.
"Mereka semua akan dievakuasi juga?"tanya Nathan.
"Yap."
Tuan Andrew dan Nathan menoleh, mendapati Jongin yang menjawab pertanyaan Nathan seraya menaikkan salah seorang anak kecil ke dalam kereta yang dipasoknya tadi. Namja itu sedang fokus menaikkan anak-anak ke atas kereta kuda.
"Letnan, kau harus memikirkan ulang keputusan ini. Saxon menuju kemari dengan cepat. Mereka hanya akan memperlambat kita."ucap Nathan.
Tuan Andrew menyadari bahwa Nathan akan berbicara seperti itu. Tuan Andrew menatap Jongin yang tengah bermain dengan seorang anak kecil, menghibur anak itu. Namja itu tersenyum–memamerkan lesung pipitnya–kemudian mendekatkan kudanya ke arah kuda Nathan.
"Kita selamatkan sebanyak yang kita mampu selamatkan."jawab Tuan Andrew, yang kemudian menepuk pundak Nathan dan memacu kudanya menjauh.
Nathan menatap kepergian Tuan Andrew dengan kebingungan.
DUNG DUNG DUNG
Terdengar suara genderang dari kejauhan. Mereka semua terdiam. Genderang itu terdengar masih cukup jauh, namun suaranya sudah terdengar jelas–menandakan bahwa Saxon semakin mendekat.
"Ayo, kita pergi sekarang!"
TO BE CONTINUED
Note :
Haloha guys!
Well, akhirnya Jongin udah ketemu Kyungsoo yess!
Oiya.. Adakah yang pergi mudikk? HAW gak pergi mudik hiks! Stay at home.. /kok malah jadi curhat gini wkwkwk
#SpecialPost 3 Chapters A Day!
REVIEW dan FAVOURITE masing2 tiga chapters yang sudah HAW post yaaa! Special untuk merayakan hari brojol HAW, HAW harap dengan 3 chapters ini readers bakal ikut senang! HAW pengen membagi kesenangan ini bareng kalian, readers-deul!
REVIEW dan FAVOURITE yaaa! Ditunggu!
HUANG AND WU
