Previously (Chapter 5) :

"Kita selamatkan sebanyak yang kita mampu selamatkan."jawab Tuan Andrew, yang kemudian menepuk pundak Nathan dan memacu kudanya menjauh.

Nathan menatap kepergian Tuan Andrew dengan kebingungan.

DUNG DUNG DUNG

Terdengar suara genderang dari kejauhan. Mereka semua terdiam. Genderang itu terdengar masih cukup jauh, namun suaranya sudah terdengar jelas–menandakan bahwa Saxon semakin mendekat.

"Ayo, kita pergi sekarang!"

.

-If You Could See Me Now-

.

.

Chapter 6

Kawanan itu pun mulai melangkah melewati pintu portcullis kerajaan Roma, melewati jalan-jalan setapak untuk mencapai Paris. Pasukan Paris mengawal para pengungsi itu, dengan keluarga kerajaan Roma yang berada di barisan depan.

Jongin memacu kudanya perlahan, mengawasi setiap pergerakan para pengungsinya. Ia melangkahkan kudanya hingga ke samping sebuah kereta kuda. Seorang yeoja menatapnya dari jendela kereta kuda tersebut, membuat Jongin membalas tatapannya.

"Kau tampak tidak kelelahan."ucap Kyungsoo, dikekehi Jongin.

"Tidak. Aku sudah cukup istirahat kemarin."ucap Jongin.

"Benarkah? Tapi aku paling sering melihat dirimu dalam pasukan. Kau yang paling sebentar istirahat, tetapi kau juga yang paling bersemangat."ucap Kyungsoo seraya menyandarkan kepalanya pada ambang jendela.

Jongin menoleh, kemudian menatap Kyungsoo dengan pandangan yang cukup rumit. Kyungsoo menatap Jongin, menyalurkan tatapan dalamnya yang kentara.

"Tidak. Aku sering istirahat. Mungkin kaunya saja yang tidak pernah melihat aku istirahat."ucap Jongin, diangguki Kyungsoo yang tampak tidak percaya.

"Baik. Aku percaya saja."ucap Kyungsoo.

Baik Jongin dan Kyungsoo terdiam. Jongin mengeratkan genggamannya pada tali kekang kudanya. Ia menatap ke depan, kemudian sedikit memicingkan matanya.

Sebuah pohon apel ada di depannya, beberapa meter.

Jongin menepuk leher kudanya sekali, dan kuda itu langsung berlari cepat. Jongin bersiap di atas kudanya. Ia menargetkan sebuah apel segar merah yang tergantung pada salah satu dahannya.

SREK!

BUGH!

Mendekati pohonnya, kuda tersebut melompat di udara, membiarkan Jongin merentangkan tangannya agar dapat meraih apel itu. Setelah meraih segenggam apel, ia memutar balik kudanya dan mendatangi kereta dimana Kyungsoo berada.

"Ini."

Jongin menyodorkan apel merah itu pada Kyungsoo. Kyungsoo menatap apel itu dalam diam, kemudian menatap Jongin. Jongin terkekeh, kemudian mendekatkan kudanya pada kereta kuda Kyungsoo dan meraih tangan kanan yeoja itu. Barulah ia menaruh apel itu di atas tangan kanan Kyungsoo.

"Makan. Baru dipetik dari pohon, masih segar."ucap Jongin.

Kyungsoo mengendus apel itu, merasakan wewangian buah-buahan khas yang menyergap penciumannya. Kyungsoo menatap Jongin, yang kemudian dibalas oleh anggukan oleh namja itu.

"Makan."ucap Jongin.

Perlahan, Kyungsoo memejamkan matanya dan menggigit apel itu. Ia mengecap rasa manis nikmat yang menyergap lidahnya perlahan-lahan, membuatnya merasa lebih hidup. Kyungsoo menatap Jongin, kemudian kembali mengunyah apel itu.

Ketika melihat Kyungsoo semangat memakan apel itu, di situlah Jongin merasakan kebahagiaan tersendiri–apalagi dengan fakta bahwa Jongin-lah yang memetik apel itu.

-XOXO-

Malam menyapa. Kawanan pengungsi itu masih bergerak perlahan, melintasi jalanan setapak yang akan membawa mereka menuju Paris. Pasukan pengaman Paris pun setia menjaga para pengungsi, sesekali membantu mereka melakukan sesuatu.

"Hey."

Sehun mengendarai kudanya hingga sampai di samping kereta kuda yang ditumpangi Kyungsoo. Kyungsoo ternyata belum tertidur. Ia menatap Sehun, yang kini memperlambat laju kudanya.

"Bagaimana tanganmu? Kudengar Jongin sudah membetulkan posisi sendi-sendinya."ucap Sehun, disenyumi Kyungsoo.

"Kau benar. Dia membantuku membenarkan tanganku."ucap Kyungsoo, kemudian mengangkat tangan kanannya.

Sehun terdiam, kemudian mengangguk. Ia menatap ke depan, sesekali menghela nafas pelan–menikmati udara segar yang menyergapnya. Sehun menatap Kyungsoo, kemudian dibalas tatap oleh Kyungsoo sendiri.

"Sudah malam. Tidurlah. Jongin akan benci jika tahu kau tidak tidur."ucap Sehun, membuat Kyungsoo mengernyit.

"Apa hak dia mengatur aktivitasku?"tanya Kyungsoo, dideliki Sehun.

"Entahlah. Hanya saja.. kau tak ingin membuatnya khawatir, kan?"tanya Sehun, kemudian tersenyum miring dan memutar arah kudanya–berbalik menuju kawanan di belakang.

Kyungsoo menatap kepergian Sehun, wajahnya menyiratkan keheranan. Kata-kata Sehun terngiang-ngiang dalam benaknya, perlahan membuat rona merah pada pipinya menyala temaram.

.

"Hanya saja.. kau tak ingin membuatnya khawatir, kan?"

-XOXO-

Jongin mengendarai kudanya perlahan, mengitari kawanan-kawanan pengungsi. Beberapa prajurit sudah mulai tertidur, entah di atas kuda mereka atau menumpang ke dalam gerobak penduduk. Jongin sendiri sudah menunjukkan tanda-tanda mengantuk, tetapi ia telan bulat-bulat kantuk itu.

"Kau tidak tidur?"

Jongin menoleh, mendapati Tuan Andrew yang menghampirinya dengan kudanya. Tuan Andrew memamerkan senyumnya, membuat sudut bibir Jongin berkedut ingin tersenyum juga.

"Aku tidak bisa tidur, tuan."ucap Jongin, dikekehi Tuan Andrew.

"Gejala insomnia. Sangat berbahaya bagi prajurit."ucap Tuan Andrew.

"Beberapa prajurit sudah mengantuk. Sebaiknya kita mencari tempat untuk istirahat. Kita lanjutkan perjalanan besok fajar."ucap Jongin, diangguki Tuan Andrew.

"Kau benar."

Jongin mengangguk, kemudian mengusap leher kudanya dan membisikkan sesuatu. Tuan Andrew mengernyit menatap apa yang Jongin lakukan. Rasa penasarannya terhadap pemuda itu semakin kuat.

"Apa yang kau lakukan, Jongin?"tanya Tuan Andrew, membuat Jongin menatapnya.

"Ah, hanya menghiburnya. Kudaku sudah sangat mengantuk sedari tadi. Aku kasihan dengannya."ucap Jongin.

"Bagaimana kau tahu itu?"tanya Tuan Andrew, membuat Jongin mendelik.

"Hanya feeling. Kami sudah seperti satu hati."ucap Jongin, dikekehi Tuan Andrew.

"Kau menarik, Jongin."

Jongin menatap Tuan Andrew, yang tersenyum padanya. Jongin menunduk, kemudian terkekeh dan menatap Tuan Andrew lagi. Kali ini, dengan senyuman hangatnya.

"Aku benar-benar penasaran seperti apa masa lalumu, Jongin. Kau mahir dalam berkuda, menggunakan senjata, membuat taktik, dan juga penuh pertimbangan. Kau pastilah bukan keturunan sembarangan."ucap Tuan Andrew, membuat Jongin terdiam.

Sehebat itukah diriku?; batin Jongin.

"Entahlah, tuan. Yang aku tahu saat ini adalah, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Biarkan saja waktu yang menjawab bagaimana masa laluku. Aku tahu bahwa suatu saat nanti, Tuhanku akan menjawab pertanyaan itu. Dia tidak akan ingkar janji, dan aku percaya pada-Nya."ucap Jongin, tegas namun polos.

Sekali lagi, Tuan Andrew terpana dengan jawaban Jongin. Jawaban itu benar-benar polos, namun ada keyakinan dan harapan di dalamnya. Jongin sama sekali tidak menyesali bagaimana masa lalunya. Dia begitu percaya pada Tuhan, dan dia tahu bahwa Tuhan tidak akan ingkar janji terhadap dirinya.

Untuk kesekian kalinya, Jongin, kau membuatku tidak bisa melupakan jawabanmu..

-XOXO-

Kawanan itu menemukan sebuah hutan dengan pepohonan rimbun, kemudian memilih untuk berkemah satu malam di situ. Beberapa warga dan prajurit yang masih bangun pun membangunkan warga lain, kemudian saling bekerja sama untuk membangun tempat berteduh. Tak terkecuali Jongin dan Sehun.

Jongin membangun tendanya sendiri, dan Sehun membangunnya juga tepat di sebelahnya. Jongin menaruh beberapa helai dedaunan besar sebagai alas, kemudian membagi beberapa kepada Sehun.

"Terimakasih, Jong."ucap Sehun.

Jongin menatap tendanya yang sudah selesai, kemudian berbalik dan berjalan ke sekitarnya. Ia menatap aktivitas warga yang mulai beristirahat dalam tempat istirahat mereka masing-masing, kemudian terdiam ketika melihat sesuatu.

Seorang Kyungsoo, yang tampak menidurkan beberapa anak kecil di bawah sebuah pohon.

Mereka bisa kedinginan di situ; batin Jongin.

Jongin pun mendekati mereka. Kyungsoo menyadari kehadiran Jongin, kemudian menatap namja itu dalam diam. Jongin berjalan hingga ke hadapan Kyungsoo, kemudian berjongkok di hadapannya.

"Tidak tidur?"tanya Jongin, lembut.

"Mereka harus tidur lebih dulu. Aku kasihan. Mereka tidak bisa tidur sedari tadi."ucap Kyungsoo, menatap beberapa anak kecil di sekitarnya.

"Jangan tidur di sini."ucap Jongin.

"Eh?"

Jongin menggendong dua orang anak sekaligus perlahan, kemudian membawanya pada tenda miliknya sendiri. Kyungsoo pun bangun, kemudian menggendong seorang anak kecil dan membawanya mengikuti Jongin.

Jongin menempatkan kedua anak kecil itu di dalam tendanya, kemudian mengambil alih anak kecil pada gendongan Kyungsoo dan memasukkannya ke dalam tendanya. Kyungsoo berjalan ke pohon tadi, kemudian menggendong anak kecil terakhir dan membawanya pada Jongin.

Jongin mengambil alih anak itu, kemudian memasukkannya ke dalam tenda.

"Mereka akan nyaman di sini."gumam Jongin, lirih.

"Bagaimana kau tidur?"tanya Kyungsoo, dikekehi Jongin.

"Melihat kalian tidur saja sudah lebih dari cukup."

Kyungsoo terdiam mendengar jawaban Jongin. Perlahan, pipinya mulai merona. Untung saja sudah gelap, sehingga Jongin tidak akan menyadari rona merah itu.

"Masuklah. Nyanyikan mereka lullaby agar tidur mereka nyenyak."ucap Jongin.

Kyungsoo menatap Jongin, kemudian mengangguk singkat. Ia menatap tenda itu, kemudian memasukinya dan menyesuaikan dirinya di dalam sana. Jongin meraih dua lembar daun pisang, kemudian menaruhnya di depan tendanya. Ia pun duduk di atasnya.

Kyungsoo mengusap kepala seorang anak kecil, kemudian menatap Jongin yang mulai membaringkan dirinya di atas daun pisang itu. Jongin menatap langit di atasnya, kemudian memejamkan matanya. Kepalanya bertumpu pada satu tangannya, satu tangannya lagi ia taruh di atas perutnya. Dalam hitungan menit, Jongin sudah terbuai ke alam mimpi.

Dalam diam, Kyungsoo hanya tersenyum samar melihat Jongin yang seperti itu.

Terimakasih atas tendanya, Jongin..

-XOXO-

TAK TOK TAK TOK

Fajar belum menyingsing, namun garis jingga sudah mewarnai ufuk timur. Suara tapak kaki kuda yang memburu terdengar begitu jelas, membuat Jongin dan beberapa orang terbangun.

"Bangun, semua! Saxon sedang menuju kemari!"terdengar pekikan seorang prajurit.

Secepat kilat, Jongin terbangun. Sehun keluar dari tendanya dengan cepat, kemudian menatap Jongin.

"Benarkah itu? Goddamn it!"pekik Sehun, kesal.

Jongin merangkak ke dalam tendanya, menyentuh perlahan-lahan lengan Kyungsoo. Kyungsoo membuka matanya, sedikit membiaskan cahaya yang memasuki matanya.

"Cepat bangun. Saxon menuju kemari."ucap Jongin, membuat Kyungsoo terbangun sepenuhnya.

"Anak-anak, ayo, bangun."ucap Kyungsoo seraya menyentuh anak-anak yang ada di tenda itu.

Jongin keluar dari tenda, kemudian membantu pasukannya mempersiapkan kereta-kereta kuda. Kyungsoo berhasil membangunkan anak-anak itu, kemudian dengan segera mereka keluar dari tenda. Jongin mendatangi tendanya, bermaksud untuk merobohkannya.

"Biar kubantu."ucap Kyungsoo.

Jongin meraih satu sisi tendanya, kemudian melipatnya. Kyungsoo ikut melipat tenda itu, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah karung. Jongin menatap Kyungsoo, kemudian tersenyum.

"Terimakasih."

Sebuah kereta kuda kosong muncul di depan Jongin, dan Jongin langsung menaikkan satu persatu anak-anak di sekitarnya ke dalam kereta kuda. Jongin menatap Kyungsoo yang ada di sampingnya, kemudian menyerahkan karung berisi tenda itu padanya.

"Naik ke dalam kereta. Anak-anak itu butuh orang dewasa bersama mereka, mendampingi mereka."ucap Jongin.

Kyungsoo seakan terhipnotis oleh tatapan dalam Jongin, kemudian mengangguk paham. Ia pun menaruh karung tenda itu di dalam kereta kuda, barulah ia menaikinya. Ia menutup pintu kereta kuda itu dari dalam.

"JONGIN!"

Jongin menoleh, mendapati Sehun yang sudah mengendarai kudanya, seraya menggiring kuda milik Jongin ke arahnya. Jongin tersenyum, kemudian segera mengambil alih tali kekang kudanya dan secepat kilat langsung menungganginya.

"Thanks, Hun."ucap Jongin.

"No problem!"

Kemudian, kelompok pengungsi Roma itu pun kembali bergerak. Mereka harus secepatnya sampai di Paris, jika mereka ingin selamat dari serangan Saxon.

-XOXO-

DUNG DUNG DUNG

Suara genderang Saxon terdengar hingga sampai pada kerumunan pengungsi itu. Seakan dikejar oleh bahaya, tak ada seorang pun yang berniat untuk berhenti menjalankan gerobak, kereta kuda, atau pun kuda mereka sendiri.

Jongin menatap ke belakangnya berkali-kali, berusaha meyakinkan bahwa kaum Saxon belum sampai mengejar mereka. Ia menatap pergerakan kawanan pengungsi di hadapannya. Lajunya lambat; batin Jongin.

Jongin pun menatap ke belakangnya sekali, barulah memacu kudanya secepat yang ia bisa ke depan–untuk menemui seseorang yang dia percaya.

Yang tak lain adalah Tuan Andrew.

"Tuan Andrew! Tuan Andrew!"

Tuan Andrew memelankan laju kudanya, kemudian berbalik dan menatap Jongin yang menghampirinya. Tuan Andrew memacu kudanya untuk mendekati Jongin. Jongin menatap Tuan Andrew, dan namja itu mengernyit bingung.

"Kurasa kita tidak akan bisa mencapainya."ucap Jongin, membuat Tuan Andrew semakin kebingungan.

"Apa maksudmu?"tanya Tuan Andrew.

"Jika kita terus menghindar seperti ini, lama kelamaan Saxon pun akan mencapai kita."ucap Jongin, membuat Tuan Andrew terdiam.

Tuan Andrew menatap kawanan pengungsi mereka. Jongin benar; batinnya. Mereka tidak akan sanggup melalui jalanan itu secepat perkiraan mereka. Tuan Andrew menatap ke jalanan setapak di belakang mereka.

Walau masih kosong, genderang perang Saxon telah lama mengintai mereka.

Tuan Andrew pun menatap Jongin. Ada–dan selalu ada–keyakinan di dalam tatapan itu. Tatapan yang seakan menghipnotis siapapun yang melihatnya. Tuan Andrew terdiam.

"Lalu, apa rencanamu?"tanya Tuan Andrew, membuat Jongin menghela nafas berat.

.

.

"We will fight."

-XOXO-

"Oh, man.."

Kawanan pengungsi itu menatap apa yang ada di hadapan mereka dengan gundah. Mereka saling berpandangan dengan cemas, dan Jongin menyadari perubahan wajah mereka.

"Seingatku, danau ini belum membeku saat terakhir kita melewatinya."

Jongin turun dari kudanya, kemudian berjalan menuju bongkahan es danau yang membeku. Ia menginjak bongkahan itu perlahan, kemudian berjalan pelan.

KRAK KRAK

Terdengar suara retakan. Jongin berhati-hati dalam setiap langkahnya. Ia kemudian berbalik, menatap kawanan pengungsi di belakangnya. Sehun dan Tuan Andrew saling berpandangan, kemudian menatap Jongin.

"Turun dari kuda kalian. Berpencar. Kita lewati bongkahan es ini."ucap Jongin.

Para pasukan Paris pun turun dari kuda mereka, kemudian membantu beberapa pengungsi. Mereka menggiring kereta kuda mereka perlahan, memasuki area es tersebut. Sehun berjalan agak cepat, berusaha menyusul Jongin.

"Es ini rapuh."gumam Sehun.

"Yah, tapi cukup kuat untuk sekali lewat."ucap Jongin, kemudian menatap Sehun.

"Kau ada rencana?"tanya Sehun, disenyumi Jongin.

"Belum. Tapi, selalu ada jalan dalam setiap permasalahan. Bukan begitu?"tanya Jongin, balik.

Sehun terdiam mendengar jawaban kawannya itu. Jongin kembali fokus pada setiap langkahnya, menuntun kuda cokelatnya perlahan. Sehun mengikuti Jongin, membawa kuda mereka perlahan-lahan.

DUNG DUNG DUNG

Genderang perang Saxon semakin terdengar. Jongin dan Sehun saling diam, mendengarnya dengan seksama. Mereka saling berpandangan, kemudian mempercepat langkah mereka untuk melintasi bongkahan es itu.

"Hampir sampai.."gumam Jongin.

CES CES CES

Setelah melalui bongkahan itu, akhirnya Jongin bisa merasakan tanah bersalju yang ia injak. Jongin sesekali membantu beberapa pengungsi melewati bongkahan es itu, memastikan bahwa keamanan mereka terjamin.

DUNG DUNG DUNG

Genderang Saxon semakin terdengar. Para pengungsi mempercepat langkah mereka. Jongin menatap Sehun, kemudian dibalas dengan senyuman miring khas Sehun. Sehun berjalan menuju kudanya, kemudian menurunkan dua buah karung besar berisi senjata-senjata miliknya.

"Pantatku gatal karena mereka terus berada di belakangku. Aku lelah menghindar."ucap Sehun, kemudian mengeluarkan satu set alat panahnya.

"Jongin."

Jongin menoleh, mendapati Tuan Andrew dan Kris menghampirinya. Tuan Andrew menyerahkan satu set alat panahan pada Jongin, dan Jongin pun menerimanya. Tuan Andrew dan Kris pun saling berpandangan, kemudian kembali menatap Jongin.

"Kau punya rencana?"tanya Kris.

Jongin menatap Kris, kemudian menatap ke seberang danau beku itu. Saxon akan berada di sana dalam waktu yang sangat dekat. Jongin berusaha mengumpulkan ide-ide untuk melawan Saxon. Jongin menatap Tuan Andrew dan Kris.

"Aku ada ide. Tapi, apa Jenderal Vincent akan setuju? Dialah orang yang memimpin kita."ucap Jongin.

"Aku pasti setuju."

Jongin menoleh ke belakang, mendapati Jenderal Vincent yang menghampirinya dengan alat-alat bertempurnya. Jenderal Vincent tersenyum ke arah Jongin, kemudian menepuk pundaknya.

"Jika itu adalah idemu, aku akan mengikutinya."ucap Jenderal Vincent.

"Jongin!"

Jongin menoleh kaget, ketika mendengar pekikan keras khas seorang yeoja. Ia menatap ke arah kawanan pengungsi yang sudah berjalan semakin jauh. Seorang yeoja tampak berlari ke arahnya, dengan satu set panahan di tangannya dan juga sebuah pedang.

"Aku akan bertempur. Aku ikut denganmu."ternyata, itu Kyungsoo.

Sekitar 20 pasukan mulai bersiap. Mereka menunggu perintah dari Jongin. Jongin menatap sekelilingnya, kemudian menatap Tuan Andrew. Tuan Andrew menatap Jongin dengan penuh keyakinan. Seluruh taktik dan ide Jongin, patut untuk dipertimbangkan.

"Jadi, apa rencanamu?"

-XOXO-

DUNG DUNG DUNG

Suara genderang perang terdengar. Sekumpulan pasukan dengan pakaian serba hitam dan serba kulit hewan tampak sampai di seberang danau beku itu. Mereka terdiam di sana, menatap pasukan Paris yang hanya sekitar 20-an orang.

Jongin berdiri, dengan Jenderal Vincent di samping kirinya dan Tuan Andrew di samping kanannya. Jongin menatap pasukan itu, menghitung kepala demi kepalanya untuk mendapat angka pasukan. Ia menatap danau es di hadapannya, berusaha membuat rencana.

"Apa kalian sudah lelah bermain kejar-kejaran, huh?"terdengar ejekan sang pemimpin kaum Saxon, yang disusul oleh tawa dari kawan-kawannya.

"Kita apakan mereka, Peter?"

Pemimpin para Saxon itu menatap penasihat pribadi di sampingnya. Penasihat pribadinya itu menggunakan kain yang menutupi wajahnya, sehingga hanya matanya yang terlihat. Pemimpin Saxon bernama Peter Park (read, merupakan nama Inggris dari Park Chanyeol) itu pun menatap ke depan dengan gaya angkuh.

"Habisi mereka."ucap Peter, dengan smirk yang kejam.

"MAJUUUU!"setelah mendapat komando itu, sang penasihat pribadi pun langsung berteriak keras seraya menodongkan pedangnya ke depan.

NGUUUNGG

Terompet perang terdengar, menggelegar.

Di sisi lain, pasukan penjaga Paris sudah siap dengan alat panah mereka.

"Bidik sasaran!"

Terdengar pekikan Jongin. 20-an pasukan Paris mulai mengangkat anak panahnya. Jongin menatap ke sekelilingnya. Mereka sudah bersiap dengan bidikan mereka.

"Buat mereka menjadi terkumpul dalam satu titik danau es."ucap Jongin, diangguki Tuan Andrew.

"Bidik sisi kiri!"pekik Tuan Andrew.

Para pasukan pun menyesuaikan bidikan mereka. Jongin mengangkat satu tangannya yang memegang pedang, menodongkannya ke atas. Ia menatap pasukan Saxon di hadapannya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Untuk sesaat, Jongin memejamkan matanya.

Dan ketika ia kembali membuka matanya, keyakinan telah meliputi jiwa raganya.

Setelahnya, Jongin mengubah posisi tangannya, menjadi menodongkan pedangnya ke depan.

SRET!

Bersamaan, 20-an anak panah itu pun terlempar dari busurnya, melayang di udara, dengan ujung mengkilat yang berkilau saking tajamnya.

CRASH! CRASH!

Anak panah-anak panah itu, berhasil menumbangkan pasukan sebelah kiri dari para Saxon.

TO BE CONTINUED

Note :

Helo, angel!

Well, untuk beberapa adegan dalam chapter ini, HAW ngambil khusus dari beberapa best scenes dalam film King Arthur yaaa. Jadi, kalo ada yang merasa familiar, itu karena HAW ngambil adegan bagusnya dari situ hehehe /peace

MAAF BANGET LATE UPDATE HUHUHU, KEMAREN SIBUK BERLEBARAN EAAAPSSS

So, gimana guys? Mind to REVIEW and FAVOURITE my FF?

HUANG AND WU