Previously (Chapter 6) :

Dan ketika ia kembali membuka matanya, keyakinan telah meliputi jiwa raganya.

Setelahnya, Jongin mengubah posisi tangannya, menjadi menodongkan pedangnya ke depan.

SRET!

Bersamaan, 20-an anak panah itu pun terlempar dari busurnya, melayang di udara, dengan ujung mengkilat yang berkilau saking tajamnya.

CRASH! CRASH!

Anak panah-anak panah itu, berhasil menumbangkan pasukan sebelah kiri dari para Saxon.

.

-If You Could See Me Now-

.

.

Chapter 7

"ARGHHHHH!"terdengar pekikan menyakitkan dari kaum Saxon.

Jongin menatap pasukan di seberangnya dengan sengit. Sisi kiri dari pasukan itu mulai merapat kepada pasukan utama, menambah beban tapak kaki mereka di atas bongkahan es.

"Berhasil, Jong."gumam Tuan Andrew.

Jongin mengangkat pedangnya lagi, memberi isyarat untuk kembali mempersiapkan anak panah. Pasukan Paris segera mengangkat busur panah mereka, membidik udara dengan cermat. Jongin menatap sisi kanan dari pasukan tersebut.

"Bidik sisi kanan!"pekik Jongin.

Pasukan Paris pun membidik sisi kanan dari pasukan Saxon.

Kemudian, Jongin pun mengubah posisi tangannya, menjadi menodongkan pedangnya ke depan.

WUSH!

Anak panah-anak panah itu pun kembali terlepas, melambung di udara. Seluruh anak panah itu membidik sisi kanan dari pasukan Saxon.

CRASH!

"ARGHHHHHHH TIDAAKKKK!"terdengar pekikan kesakitan dari pasukan di sana.

Mereka yang lolos dari anak panah itu pun segera merapat kepada pasukan utama. Mereka masih belum menyadari bahaya jika mereka merapat seperti itu, mereka akan berada dalam masalah besar.

KRAK! KRAK!

Terdengar suara retak es yang menggelegar.

"Hold your position!"terdengar komando dari Peter, pemimpin para Saxon.

Pasukan Saxon tampaknya terlalu ketakutan dengan pasukan Paris, yang bahkan hanya seperempat dari total pasukan mereka. Jongin menatap pasukan itu. Pasukan Saxon masih bisa bertahan di atas bongkahan es.

"Esnya tidak akan hancur!"pekik Jenderal Vincent.

Jongin mengepal tangannya. Ia pun segera berlari ke arah karung persenjataannya, kemudian mengeluarkan sesuatu. Ia mengangkat benda itu, menatapnya dengan yakin. Aku harus melakukannya; batin Jongin, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

TAP TAP TAP

Dan setelahnya, Jongin berlari ke arah pasukan Saxon, dengan membawa sebuah kapak.

"JONGINN!"pekik Kyungsoo, panik.

"Cover him!"pekik Kris.

Pasukan Paris segera membidikkan anak panah mereka, kemudian melepaskannya dengan brutal. Jongin berlari ke tengah danau es itu, kemudian menatap pasukan Saxon.

Sekali, dia melakukan eye-contact dengan Peter Park.

"HIYAAAAAHHHH!"

BRAK! BRAK!

Jongin memukulkan kapak itu ke arah danau es tersebut. Ia memukulkannya berkali-kali, berusaha agar danau es itu bisa hancur dan menenggelamkan para pasukan Saxon.

"JONGIN!"

Sehun segera berlari ke arah Jongin, dengan membawa sebuah tameng besi. Ia berdiri di samping Jongin, kemudian meng-cover sahabatnya itu dengan perisai tersebut.

"HABISI MEREKAA!"pekik Peter, kemudian mengacungkan pedangnya ke depan.

"HIYAAAHHHHH!"

Pasukan Saxon segera berlari, membawa pedang mereka di udara, ke arah Sehun dan Jongin. Pasukan Paris tidak mau diam saja. Mereka pun membidik para pasukan yang berlari ke arah Jongin.

"COME ON!"pekik Jenderal Vincent.

"HIYAAAHHHHH!"

BRAK!

KRAK! KRAK!

Jongin berteriak sangat keras, kemudian menghantamkan kapak itu sekali lagi pada bongkahan es di bawahnya. Setelahnya, mereka bisa mendengar suara retakan besar yang membahana. Retakan itu merambat ke segala arah.

KRAK! KRAK!

CRASH!

"JONGIN, LARIIIII!"terdengar pekikan Kyungsoo.

Jongin menatap Kyungsoo, kemudian beralih pada pasukan Saxon di belakang mereka. Pasukan itu menatap es tempat mereka berpijak, beberapa sudah berlari menjauh untuk menyelamatkan diri.

CRASH! CRASH!

Dan es itu pun hancur lebur.

"ARGHHHHHHHHH!"pekikan menggelegar memenuhi pasukan Saxon, panik sekaligus kesakitan.

"Jongin, ayo!"

Sehun menarik tangan kanan Jongin, kemudian menariknya menjauh dari tengah danau. Sehun terus melindungi mereka dengan perisai besi, sedangkan Jongin berlari secepatnya ke arah pasukan Paris yang berada di seberang danau.

"AYO, CEPATT!"pekik Tuan Andrew.

Jenderal Vincent menatap pasukan Saxon yang kocar-kacir. Jongin mempercepat larinya, tak peduli apakah dadanya sesak karena terlalu banyak berlari. Sehun setia menemaninya di sampingnya.

BRUK!

Dan akhirnya, tubuh Jongin ambruk di atas tanah bersalju.

"Hosh, hosh, hosh!"

Jongin dan Sehun sama-sama berusaha mengambil nafas. Jongin berusaha bangun dari atas tanah, dan Sehun menyodorkan tangan kanannya. Jongin menyambut tangan itu, dan Sehun pun membantunya berdiri.

"Lihat."ucap Sehun, seraya menunjuk ke arah seberang danau.

"ARGHHHHHH!"pekikan para kaum Saxon masih terdengar jelas oleh mereka.

Jongin menatap ke seberangnya, kemudian tatapannya bertemu dengan Peter Park, sang pemimpin. Peter sudah sampai di seberang danau, jadi dia tidak akan tenggelam ke dalam danau es. Tatapannya menyiratkan bahwa ia akan membalas semuanya. Jongin hanya diam.

Mata Jongin beralih ke samping Peter Park. Seorang namja, dengan balutan kain yang menutupi wajahnya hingga ke hidung. Matanya menyiratkan kebrutalan dan kebengisan. Namja itu membuka penutup kain wajahnya, kemudian berbicara pada Peter–sepertinya ia tidak menyadari jika ia sedang ditatap.

Setelah namja itu melepas kain penutup wajahnya, Jongin terkaget bukan main.

"Ayo, kita susul pengungsi lain!"titah Jenderal Vincent.

Sehun berlari ke arah kudanya dengan kuda Jongin, kemudian menaiki kudanya. Ia memacunya ke arah Jongin, mendekatinya.

"Jongin, ayo."ucap Sehun.

Jongin menatap pasukan Saxon dengan perasaan campur aduk. Matanya tak lepas dari sosok pasukan Saxon yang barusan melepas penutup wajahnya. Airmata menggenangi matanya, dan ia speechless luar biasa.

"Jongin!"pekik Sehun.

Sehun turun dari kudanya, kemudian berjalan cepat ke arah Jongin dan menyentuh pundak sahabatnya. Jongin menoleh, matanya menyiratkan sesuatu yang lain. Sehun mengernyit, kemudian dia menatap pasukan Saxon di seberang. Ia meraih tangan Jongin, kemudian menyerahkan tali kekang kudanya.

"Ayo."ucap Sehun.

Sehun menarik tangan Jongin. Jongin menatap sisa pasukan Saxon di seberang sana dengan gundah. Sosok berpenutup wajah tadi benar-benar tidak bisa hilang dari ingatannya.

Sehun menaiki kudanya, dan Jongin pun menaiki kudanya juga. Sehun memacu kudanya, kemudian segera menyusul pasukan Paris yang telah berjalan lebih dahulu sebelumnya. Jongin menatap pasukan Saxon di seberangnya–masih kepada sosok yang sama.

Dan kemudian, sosok berpenutup wajah itu pun menatap Jongin. Mereka melakukan eye-contact.

"Tidak mungkin.."gumam Jongin.

Maka, sebelum airmatanya mengalir tanpa dikomando, Jongin segera mengakhiri eye-contact tersebut dan memacu kudanya secepat mungkin, menjauh dari arena pertarungan tadi.

Bersamaan dengan setiap tapak kaki kudanya di atas es, airmata Jongin mengalir, meninggalkan jejak-jejak airmata di udara.

-XOXO-

Pasukan Paris tiba di Paris sehari kemudian.

Kedatangan mereka beserta para pengungsi disambut hangat oleh warga Paris. Raja Marseilles begitu bangga dengan tentara-tentara pilihannya. Beberapa dari tentara itu mendatangi keluarga dan sanak saudara mereka, saling melepas rindu dengan haru.

Meski kebahagiaan menguasai sekelilingnya, Jongin sama sekali tidak tersenyum semenjak penyerangan di atas danau es kemarin.

Kyungsoo turun dari salah seekor kuda milik prajurit, kemudian berjalan menghampiri kuda Jongin. Jongin menatap setiap langkah kudanya dengan kosong–ada sesuatu yang pasti mengganjal pikirannya. Kyungsoo mengangkat gaun kusamnya, kemudian berhenti di depan kuda Jongin.

"Turunlah."ucap Kyungsoo.

Jongin menatap Kyungsoo. Kyungsoo terkaget bukan main.

Mata itu basah oleh airmata.

Sehun mendatangi mereka, kemudian menghampiri Kyungsoo. Sehun menatap raut wajah khawatir Kyungsoo, kemudian beralih pada Jongin. Ia kaget bukan main, ketika melihat mata Jongin yang basah.

"Kau kenapa, bro?"tanya Sehun, ikut cemas.

Mendengar panggilan Sehun, membuat Jongin menatap Sehun. Genggamannya pada tali kekang kudanya mengencang, seiring dengan airmata yang mengalir deras.

"Jangan ganggu aku."ucap Jongin, lirih.

TAK TOK TAK TOK

Jongin langsung memutar balik kudanya, kemudian memacunya cepat dan berlari menjauh dari kerumunan warga Paris itu. Kyungsoo dan Sehun kaget dengan apa yang Jongin lakukan. Kyungsoo mengangkat gaunnya, kemudian berlari ke arah seekor kuda yang terikat di salah satu tiang. Ia meraih tali kekang kuda itu, dan secepat kilat langsung menaikinya.

"Biar aku yang urus dia."ucap Kyungsoo.

Sehun menatap Kyungsoo dengan sama khawatirnya.

"Hati-hati."

"HAP!"

TAK TOK TAK TOK

Setelah Sehun mengucapkan itu, Kyungsoo segera memacu kudanya cepat, membawanya berlari menyusul Jongin yang tampak telah jauh dari pandangan.

-XOXO-

TAK TOK TAK TOK

Suara tapak kaki kuda terdengar keras. Setelahnya, seekor kuda dengan penunggangnya tampak terlihat dari sudut hutan yang rimbun, di atas bukit kota Paris.

Jongin mengendarai kudanya cepat, dengan satu tangannya yang menyeka airmatanya kasar. Perasaannya kacau saat ini, dengan pikiran yang melantur kemana-mana. Seakan mengerti dengan perasaan tuannya, kuda cokelat itu membawanya ke puncak bukit kota Paris.

TAK TOK TAK TOK

Kuda itu memelankan lajunya, begitu ia sampai di puncak bukit. Jongin turun dari kudanya, kemudian mengikatkannya pada sebuah batang pohon. Jongin mengusap leher kudanya, kemudian berjalan menjauhi kuda tersebut, memasuki lebatnya hutan.

TAK TOK TAK TOK

Terdengar suara tapak kaki kuda lain, dengan seorang yeoja yang menungganginya. Gaun cokelat kusam yeoja itu ikut terbang mengikuti angin, seiring dengan gerakan kuda yang ia tunggangi.

Kyungsoo menatap kuda milik Jongin yang tampak diikat di salah satu batang pohon. Ia pun turun dari kudanya, kemudian mengikatnya juga di batang pohon lain. Kyungsoo menatap sekelilingnya dengan khawatir. Ia mengangkat gaunnya, kemudian berjalan melintasi dedaunan-dedaunan yang gugur.

"Jongin?"panggilnya.

Kyungsoo melintasi pepohonan yang rimbun, menatap sekelilingnya dengan cemas. Dimana Jongin? Kemana arah ia berjalan? Kyungsoo berusaha menghilangkan rasa khawatirnya, tetapi tentu tak mudah untuk melakukannya.

"Jongin?"panggil Kyungsoo lagi.

"Kyungsoo?"

Terdengar sebuah suara, kemudian Kyungsoo berbalik. Ia menemukan Jongin, yang berdiri beberapa meter di depannya. Namja itu terlihat kacau, dengan airmata yang sudah menghiasi wajah tirusnya.

"Hey, kau kenapa?"

Kyungsoo mengangkat gaunnya, kemudian berjalan cepat ke arah Jongin. Jongin menatap Kyungsoo nanar. Mata itu tampak sudah sangat lelah menangis, jadi yang ia bisa lakukan hanyalah berduka dalam kesunyian.

Kyungsoo berhenti tepat di depan Jongin, kemudian kedua tangan lentiknya ia letakkan pada kedua pipi Jongin yang lebih tinggi darinya. Ia menyeka airmata itu, menatap Jongin dengan cemas.

"Bodoh. Kau membuatku cemas."ucap Kyungsoo, lirih.

Jongin menunduk, setetes airmata kembali mengalir. Ia mengangkat tangannya, kemudian menyekanya kasar. Kyungsoo menggenggam tangan Jongin yang menyeka airmatanya tadi, kemudian satu tangannya menyeka airmata Jongin.

"Kau kenapa? Ada yang mengganjal pikiranmu, hmm?"tanya Kyungsoo, lembut.

Jongin menatap Kyungsoo. Saat ini, ia benar-benar butuh pelampias kesedihan. Jongin tidak ingin bercerita pada Sehun–permasalahan yang ia lalui tadi terlalu pelik, dan Jongin tidak ingin merepotkan Sehun. Jongin menatap yeoja di hadapannya.

Kyungsoo hadir secara kebetulan dalam hidupnya, dan sekarang Jongin mulai menaruh kepercayaan pada Kyungsoo.

"Aku.."gumam Jongin, dengan nada tidak yakin pada awalnya.

"Kau bisa mempercayaiku. Ceritalah."ucap Kyungsoo, seakan mengerti keraguan Jongin.

Jongin menatap tepat ke dalam mata bulat Kyungsoo. Yeoja itu tersenyum hangat ke arahnya. Jongin mengeratkan genggamannya pada tangan Kyungsoo, dan satu tangan yeoja itu tidak berhenti mengusap pipi Jongin. Jongin memejamkan mata, mengumpulkan keyakinannya untuk bercerita.

Setelahnya, ia membuka matanya, menatap tepat ke dalam mata Kyungsoo.

Ia sudah mantap ingin bercerita pada yeoja itu.

.

.

"Aku.. aku melihat kakakku sendiri di pasukan Saxon. Kakak yang selama ini aku pikir telah tewas."

-XOXO-

Tuan Andrew dan Kris mendapat beberapa ucapan selamat dari sesama perwira ketentaraan. Istana Paris sekarang penuh oleh kebahagiaan warga-warganya, begitu juga dengan para tentara yang berhasil mengemban tugas mereka.

"Letnan Kris."

Entah sejak kapan, yang ada di pikiran Sehun pertama kali ketika mengingat wajah muram Jongin adalah Kris.

Kris menoleh, mendapati Sehun yang berdiri agak jauh darinya. Kris menatap sekelilingnya, kemudian berjalan menghampiri Sehun. Sehun tampak gundah dan cemas, membuat Kris perlahan ikut merasa cemas–padahal dia belum tahu sebabnya.

"Ada apa, Hun?"tanya Kris, heran.

"Ini soal Jongin."

Mendengar nama Jongin, membuat Tuan Andrew menoleh. Ia mendapati Sehun dan Kris yang sedang berbicara, kemudian menghampiri mereka.

"Aku mendengar nama Jongin. Ada apa?"tanya Tuan Andrew.

Sehun menatap kedua perwira tinggi pasukan itu, kemudian menghela nafas berat. Sehun tampak sangat khawatir, dan itu wajar jika ia merasa khawatir berat–Jongin adalah sahabatnya, teman seperjuangannya.

"Ada yang salah dengan Jongin."

-XOXO-

"Setelah aku melihat sosok itu, aku mulai ingat semuanya. Aku ingat bahwa selama ini, dialah yang menghantui pikiranku. Aku tidak mengenal wajahnya, tetapi aku tahu bahwa sebenarnya aku mengenalnya. Aku hanya masih ragu."

Saat ini, Jongin dan Kyungsoo tengah duduk di dekat kuda mereka. Kyungsoo mendengarkan penuturan Jongin dengan seksama. Namja itu tampak sangat kacau, dan yang ia butuhkan adalah seorang pendengar yang baik.

"Saat aku melihat wajahnya, memori yang hilang dalam kepalaku mulai kembali. Saat kita melakukan eye-contact, tubuhku serasa beku. Aku kesulitan bernafas. Dialah yang selama ini menghantui pikiranku, dan semua memori kilas balik itu langsung berputar-putar dalam kepalaku."

Jongin mengusap wajahnya kasar, kemudian menarik nafas pelan. Kyungsoo menatap Jongin prihatin, kemudian mengusap pundak datar namja itu dengan lembut. Jongin merasakan lembutnya usapan Kyungsoo, mengingatkannya pada sesuatu.

"Aku akan memberitahukanmu masa laluku yang mulai muncul. Tidak semuanya muncul, tetapi sebagian besar telah kembali ke dalam memoriku. Aku ingin melepasnya, melepas belenggu emosi yang menghantuiku selama ini."ucap Jongin, lirih.

"Keluarkan semua isi hatimu, Jongin. Bebaskan dirimu. Aku siap membantu."ucap Kyungsoo, lirih.

.

.

"Aku adalah Jongin, seorang keturunan Penunggang Kuda Celtic yang memiliki seorang ayah otoriter dan seorang kakak pemberani bernama Jongdae. Kak Jongdae menyelamatkanku dari kobaran api saat aku berumur 7 tahun, dan kemudian aku terhempas dan dia tenggelam dalam api. Seorang yeoja menyelamatkanku. Dialah ibuku."ucap Jongin, memulai kisah masa lalunya yang kembali dalam ingatannya.

"Kau bisa membaca seperti apa raut wajah ibumu?"tanya Kyungsoo, digelengi Jongin.

"Gambaran tentangnya selalu kabur. Aku tidak mau memaksakan diri untuk mengingatnya."ucap Jongin.

"Tadi kau bilang, kau adalah keturunan Penunggang Kuda Celtic. Bukan begitu?"tanya Kyungsoo, diangguki Jongin.

"Aku adalah keturunan Penunggang Kuda Celtic. Itu yang aku ingat."ucap Jongin, membuat Kyungsoo terdiam.

Yeoja itu menatap Jongin dengan pandangan campur aduk, membuat Jongin menatapnya. Jongin mengernyit melihat ekspresi Kyungsoo.

"Ada apa?"tanya Jongin.

"Kau adalah keturunan Penunggang Kuda Celtic."gumam Kyungsoo, lirih.

"Me-memangnya kenapa dengan semua itu?"tanya Jongin.

.

.

"Kau adalah keturunan terakhirnya."

Jongin terdiam mendengar ucapan Kyungsoo. Kyungsoo menatap Jongin, kemudian menggenggam tangannya. Jongin menatap tangan Kyungsoo yang menggenggamnya, kemudian menatap yeoja itu lagi.

"Dari apa yang kau ceritakan, kobaran api itu adalah masa dimana para Saxon membantai kaum Penunggang Kuda Celtic. Aku bisa meyakinkanmu tentang hal ini."ucap Kyungsoo, membuat Jongin kaget.

"Kau.. tahu kejadian itu? Bagaimana?"kaget Jongin.

.

.

"Karena, aku juga ada di sana saat kejadian berlangsung. Semuanya berlalu begitu cepat, membuatku tidak ingat segala hal yang menyelamatkanku dan membawaku ke Roma. Sama sepertimu, aku juga punya memori yang terkubur, yang sampai sekarang tidak bisa aku ingat."

Jongin kaget mendengar penuturan Kyungsoo. Kyungsoo menatap Jongin dengan lembut, kemudian tersenyum. Ia mengusap tangan besar Jongin, menenangkannya.

"Kau sudah mendapat sebagian besar memorimu. Itu bagus untukmu."ucap Kyungsoo, diangguki Jongin.

Jongin terkekeh, kemudian menatap Kyungsoo. Yeoja di hadapannya benar-benar dewasa. Setiap ucapannya mampu menggetarkan Jongin, dan ada rasa nyaman ketika Jongin bersama Kyungsoo.

"Terimakasih, Kyung."

Jongin mendekap Kyungsoo, membuat yeoja itu agak kaget. Yeoja itu membalas dekapan Jongin, mengusap kepala Jongin. Tapi kemudian–tanpa Jongin sadari–Kyungsoo mengernyit.

Tangan Kyungsoo yang mendekap Jongin bisa merasakan kulit kepala Jongin yang terasa kasar pada bagian belakang.

Sepertinya aku familiar dengan hal ini. Ah, sepertinya ini bekas benturan yang Jongin alami saat kecil; batin Kyungsoo.

Dan akhirnya, Kyungsoo lebih memilih untuk melupakan pikirannya, dan memfokuskan dirinya pada kenyamanan dan kehangatan yang diberikan Jongin lewat dekapannya.

"Terimakasih, Kyung."ucap Jongin, lirih.

Kyungsoo tersenyum, kemudian mengangguk dalam dekapannya.

TO BE CONTINUED

Note :

Haloha guys! LONG TIME NO SEE UGH! SORRY FOR THIS GODDAMN WRITER'S BLOCK T_T

Hahaha, kayaknya makin kesini ceritanya makin rumit yaa? Wkwkwkwk, readers sekalian harus jeli dalam membaca cerita ini yaa!

Well, twist demi twist akan mendatangi kalian seiring dengan chapter yang berdatangan! So, siapkan diri kalian dengan kejutan-kejutan yang HAW berikan lewat cerita ini yaa!

Biar HAW makin semangat nulisnya, yuk di REVIEW dan FAVOURITE!

HUANG AND WU